29 C
Medan
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 14042

Tiga Hari Disekap tanpa Makan

Kisah Warga Deli Serdang yang Disandera di Aceh

Aceh seperti tidak pernah diam. Bumi Rencong itu terus bergolak. Ujung-ujung, mereka yang tidak berkepentingan pun menjadi korban, beberapa di antaranya adalah warga Deli Serdang.  Bahkan, ada yang sempat disekap.

Ari Siworo,  Medan

Cerita ini berdasarkan penuturan salah seorang warga Deli Serdang sebut saja namanya, Galung, berusia sekitar 60 tahun, yang bertemu Sumut Pos, Sabtu (14/1) malam. Menurut pria berkulit hitam ini, sekitar beberapa hari lalu lebih tepatnya setelah 1 Januari 2012, salah seorang putranya sebut saja, AK (26) sempat disandera dan disekap oleh kelompok bersenjata di Aceh selama tiga hari. “Oalah, buktinya, anakku disekap kelompok bersenjata. Kalau nggak salah, selama tiga hari dan lokasinya di hutan. Berarti kelompok bersenjata masih ada. Udahlah, jangan ke Aceh lagi,” ungkap Galung.

Tak terlihat rona wajah Galung yang ketakutan atau cemas dan sebagainya. Wajahnya terlihat tenang, begitu pula saat menceritakan kisah anak kelima dari enam putra-putrinya tersebut. Sembari menyulut sebatang rokok, Galung kembali menuturkan, kelompok bersenjata yang menyandera putranya tersebut, secara tiba-tiba mendatangi barak. Di tempat itulah putranya serta 13 orang pekerja bangunan lainnya menginap. Kelompok itu datang dengan menenteng senjata dan melakukan perusakan terhadap barak yang ditempati para pekerja yang keseluruhannya berasal dari Medan dan Deli Serdang.
“Memang katanya, orang-orang bersenjata itu mencari orang Jawa. Entahlah, kenapa orang itu benci sama orang Jawa ya?” keluhnya.

Dari sekelumit perbincangan itu, Minggu (15/1), Sumut Pos menyambangi kediaman Galung. Terlihat Galung mengenakan kemeja putih, dan celana panjang warna krem serta mengenakan sebuah topi Lelaki itu duduk di sebuah kursi plastik di halaman depan rumahnya, tepatnya di bawah sebuah Pohon Seri. Rumah itu terlihat rentah, terbuat dari kayu yang sudah tua.

Halaman rumah yang ditempati Galung, istrinya serta kelima putra-putrinya (anak keduanya tinggal di luar kota) masih tanah. Istrinya sebut saja, Har (57), terlihat tengah menggendong salah seorang cucunya yang tertidur lelap. Sedangkan cucu-cucu Galung dan Har lainnya, tengah asyik bermain di seputaran halaman.

Anak ketiga pasangan Galung dan Har yakni, sebut saja Dan, serta salah seorang menantunya sebut saja Jul, juga tengah duduk-duduk bersama di bawah Pohon Seri di sebuah bangku kayu.

Sayang, Galung tidak memiliki waktu panjang menemani Sumut Pos. Dia harus kembali bekerja. Beruntung, Har, bsai menjadi pecerita yang baik. Dia menuturkan, Ak baru pulang ke rumah mereka lagi pada tanggal 9 Januari 2012 lalu, sekira pukul 20.00 WIB. Ak beserta tiga rekannya menggunakan sebuah mobil rental yang konon merupakan bantuan dari seorang aparat TNI asal Jawa Timur. “Tak bawa apa-apa dia (Ak), gaji pun tidak. Tidak usah bawa gaji, yang penting dia bisa kembali ke rumah sudah syukur Alhamdullillah daripada disandera kelompok bersenjata di Aceh,” ceritanya.

Karena tidak membawa gaji, saat Ak tiba di kediaman mereka, Ak meminta uang untuk membayar ongkos mobil yang mereka tumpangi dari Tapaktuan. “Jadi kami harus jual ayam untuk bayar ongkos mobil itu. Ongkosnya satu orang Rp150 ribu. Sedangkan ketiga teman Ak diantarkan ke rumah mereka masing-masing dengan ongkos yang sama. Untunglah, ada bapak tentara itu yang menolong dan sempat diberi makan di rumahnya di Aceh sana. Anak saya bilang, memang tidak merokok waktu diberi makan di rumah bapak tentara itu. Tapi, nggak apa-apa yang penting sudah selamat,” urai Har.
Tidak itu saja, Har menuturkan kalau perjuangan Ak dan kawan-kawan cukup keras. “Ak dan teman-temannya tidak makan selama tiga hari waktu disekap di hutan. Dari hutan ke Tapaktuan itu, Ak dan teman-temannya jalan kaki. Awalnya mereka 14 orang, saat sudah dibebaskan dari penyenderaan itu, mereka pisah. Ak dengan tiga kawannya dan yang 10 orang lainnya masing-masing,” urainya.

Jul istri Ak, yang saat itu memegangi putri keduanya Andini (1) berulang-ulang mengucapkan syukur. “Syukur bisa selamat Bang. Waktu pulang itu, Bang Ak untung masih bawa pakaian. Karena waktu kelompok-kelompok bersenjata itu mengobrak-abrik barak mereka, Ak langsung menyelamatkan pakaiannya. Syukurnya pun handphone Bang Ak masih ada. Kalau yang lain, semua Hpnya diambil sama kelompok bersenjata itu,” papar ibu dari Amelia (4) dan Andini (1).

Ak sendiri, masih sempat menghubungi pihak keluarga melalui ponselnya, pada tanggal 2 Januari 2012, sekitar pukul 20.00 WIB. “Tapi setelah tanggal 2 itu, tidak ada kontak lagi,” katanya.

Lalu, kemana Ak? Jul sang istri sedikit tersenyum. Ak sudah tidak di rumah lagi karena pergi merantau ke Labuhan batu Selatan. Akhirnya, Sumut Pos meminta nomor ponsel Ak yang bisa dihubungi.

Saat Ak dikonfirmasi, Ak membenarkan hal itu. Mereka disekap oleh puluhan orang yang membawa senjata. “Wah, orangnya banyak gitu dan bawa senjata. Mana berani kami melawan. Tapi kalau misalnya cuma tiga orang, kami nggak takut. Pasti kami lawan. Kawanku saja, ada yang dipukul pakai pistol. Kami nggak berani melihat, saat kawanku itu dihajar salah seorang kelompok bersenjata itu. Setelah itu, kami dibawa dengan berjalan kaki ke hutan. Nggak tahu entah dimana,” akunya.

Ak juga membenarkan, dia dan ke-14 temannya tidak diberi makan selama tiga hari. “Nggak makan kami selama disekap itu,” katanya.
Bagaimana mereka bisa lolos? Ak menuturkan, pihak kelompok bersenjata meminta tebusan kepada pemborong yang membawa Ak dan teman-temannya ke Meulaboh.

“Kami membuat rumah milik adm PTPN. Pemborongnya etnis Tionghoa. Kelompok bersenjata itu, minta tebusan. Nggak tahu berapa. Setelah itu lah kami dilepaskan dari hutan. Kami belum nyampe ke Kota Meulabohnya. Kami di  Kampung Nelayan. Sudah masuk wilayah Meulaboh memang,” cerita pria kelahiran 17 Mei 2985 tersebut.

Sayang, belum sempat berbincang panjang, hubungan harus terputus karena ponsel Ak kehabisan daya. “Lowbat batere Hpku,” katanya. Tak berapa lama terdengar suara tut, tut, tut…. (*)

Dewan: Ada yang Tidak Dapat Jatah

Tentang Diskotek di Rutan Tanjung Gusta Medan

MEDAN-Keberadaan diskotek di Rumah Tahanan (Rutan) Tanjung Gusta mengundang komentar tak sedap. Bahkan, fungsi Rutan sebagai tempat pembinaan mulai dipertanyakan.

“Hah, memang seperti itu? Aduh, gawat kali sudah. Harusnya Rutan atau Lapas itu, jadi tempat pembinaan, tapi malah seperti itu. Ini karena kuat adanya permainan antara petugas Rutan atau Lapas dengan para tahanan itu,” cetus Anggota Komisi A DPRD Sumut Syamsul Hilal kepada Sumut Pos, Minggu (15/1).

Keberadaan diskotek diketahui setelah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sumut melakukan penggeledahan pada Jumat (13/1) malam lalu. Saat itu, ditemukan alat hisap sabu-sabu dan kamar-kamar yang disinyalir, telah sudah disulap menjadi tempat hiburan ala dunia malam layaknya bar, pub ataupun tempat karaoke di Rutan Tanjung Gusta.

Meski begitu, Syamsul Hilal, tidak sekadar menyalahkan para tahanan. Politisi gaek asal Fraksi PDI P Sumut ini menyatakan dengan tegas, ada kemungkinan orang atau oknum yang membocorkan hal itu adalah orang-orang yang tidak mendapat ‘jatah’. “Birokrat kita ini korup, pejabat korup, semuanya korup.

Ya, bisa jadi ada orang yang membocorkan sehingga dilakukan razia itu. Orang itu kemungkinan besar adalah orang yang tidak dapat jatah. Atau malah pimpinan-pimpinan perwakilan Kemenkumham di Sumut itu sendiri tidak dapat jatah, jadinya dilakukan penggeledahan,” tegasnya. Apakah ada sinyalemen keterlibatan dari pihak Kemenkumham Sumut, dalam peredaran narkoba, penyediaan kamar-kamar yang dijadikan tempat hiburan dan sebagainya?

Mengenai hal itu, Syamsul Hilal menyatakan, tidak tertutup kemungkinan ke arah sana. Karena pola koruptif yang berkembang dan menjadi tren adalah setoran harus sampai ke pimpinan. “Saya bilang tadi, tidak mungkin petugas tidak tahu, pimpinan Rutan, Lapas atau pihak Kemenkumham Sumut tidak tahu. Dugaannya salah satu pihak itu, ada yang tidak dapat jatah. Jadi dibocorkan,” terangnya.

Apa sanksi yang harus diberikan, agar masalah ini tidak terulang? Menurutnya, tidak lain dan tidak bukan adalah sanksi pemecatan yang kemudian juga dikenakan sanksi pidana. “Dipecatlah. Proses hukumnya juga harus berjalan,” imbuhnya.

Sedangkan itu, pengamat hukum asal Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Farid Wajdi menilai, apa yang terjadi di Rutan dan Lapas Tanjung Gusta itu, merupakan isu seksi yang sebaiknya dijadikan bahan masukkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Pria yang juga Dekan Fakultas Hukum (FH) UMSU ini menyatakan, faktor yang membuat hal-hal seperti itu terjadi, pada prinsipnya dikarenakan adanya disorientasi pengelolaan Lapas dan Tanjung Gusta. “Disorientasinya, terlihat lebih dominannya uang dalam proses pengelolaan Lapas dan Rutan. Jadi, Lapas atau Rutan tidak lagi menjadi tempat yang ditakuti, melainkan menjadi tempat yang disenangi. Harusnya Lapas atau Rutan menjadi tempat rehabilitasi sosial dan rekonstruksi mental, saat ini telah berubah menjadi tempat yang sangat mudah digunakan untuk melakukan tindak kriminal lainnya atau disebut sekolah kejahatan,” ulasnya.

Lanjutnya, dari semua itu, orang-orang yang ada didalamnya saat ini sudah tidak lagi merasa dikucilkan, dan malah merasa lebih aman untuk melakukan tindak kejahatan.

“Rutan atau Lapas sekarang sudah menjadi kerajaan di dalam negara. Salah satu buktinya, pihak kepolisian saja sulit masuk ke sana,” pungkasnya. (ari)

Dewan: Ada yang Tidak Dapat Jatah

Tentang Diskotek di Rutan Tanjung Gusta Medan

MEDAN-Keberadaan diskotek di Rumah Tahanan (Rutan) Tanjung Gusta mengundang komentar tak sedap. Bahkan, fungsi Rutan sebagai tempat pembinaan mulai dipertanyakan.

“Hah, memang seperti itu? Aduh, gawat kali sudah. Harusnya Rutan atau Lapas itu, jadi tempat pembinaan, tapi malah seperti itu. Ini karena kuat adanya permainan antara petugas Rutan atau Lapas dengan para tahanan itu,” cetus Anggota Komisi A DPRD Sumut Syamsul Hilal kepada Sumut Pos, Minggu (15/1).

Keberadaan diskotek diketahui setelah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sumut melakukan penggeledahan pada Jumat (13/1) malam lalu. Saat itu, ditemukan alat hisap sabu-sabu dan kamar-kamar yang disinyalir, telah sudah disulap menjadi tempat hiburan ala dunia malam layaknya bar, pub ataupun tempat karaoke di Rutan Tanjung Gusta.

Meski begitu, Syamsul Hilal, tidak sekadar menyalahkan para tahanan. Politisi gaek asal Fraksi PDI P Sumut ini menyatakan dengan tegas, ada kemungkinan orang atau oknum yang membocorkan hal itu adalah orang-orang yang tidak mendapat ‘jatah’. “Birokrat kita ini korup, pejabat korup, semuanya korup. Ya, bisa jadi ada orang yang membocorkan sehingga dilakukan razia itu. Orang itu kemungkinan besar adalah orang yang tidak dapat jatah. Atau malah pimpinan-pimpinan perwakilan Kemenkumham di Sumut itu sendiri tidak dapat jatah, jadinya dilakukan penggeledahan,” tegasnya. Apakah ada sinyalemen keterlibatan dari pihak Kemenkumham Sumut, dalam peredaran narkoba, penyediaan kamar-kamar yang dijadikan tempat hiburan dan sebagainya?

Mengenai hal itu, Syamsul Hilal menyatakan, tidak tertutup kemungkinan ke arah sana. Karena pola koruptif yang berkembang dan menjadi tren adalah setoran harus sampai ke pimpinan. “Saya bilang tadi, tidak mungkin petugas tidak tahu, pimpinan Rutan, Lapas atau pihak Kemenkumham Sumut tidak tahu. Dugaannya salah satu pihak itu, ada yang tidak dapat jatah. Jadi dibocorkan,” terangnya.

Apa sanksi yang harus diberikan, agar masalah ini tidak terulang? Menurutnya, tidak lain dan tidak bukan adalah sanksi pemecatan yang kemudian juga dikenakan sanksi pidana. “Dipecatlah. Proses hukumnya juga harus berjalan,” imbuhnya.

Sedangkan itu, pengamat hukum asal Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Farid Wajdi menilai, apa yang terjadi di Rutan dan Lapas Tanjung Gusta itu, merupakan isu seksi yang sebaiknya dijadikan bahan masukkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Pria yang juga Dekan Fakultas Hukum (FH) UMSU ini menyatakan, faktor yang membuat hal-hal seperti itu terjadi, pada prinsipnya dikarenakan adanya disorientasi pengelolaan Lapas dan Tanjung Gusta. “Disorientasinya, terlihat lebih dominannya uang dalam proses pengelolaan Lapas dan Rutan. Jadi, Lapas atau Rutan tidak lagi menjadi tempat yang ditakuti, melainkan menjadi tempat yang disenangi. Harusnya Lapas atau Rutan menjadi tempat rehabilitasi sosial dan rekonstruksi mental, saat ini telah berubah menjadi tempat yang sangat mudah digunakan untuk melakukan tindak kriminal lainnya atau disebut sekolah kejahatan,” ulasnya.

Lanjutnya, dari semua itu, orang-orang yang ada didalamnya saat ini sudah tidak lagi merasa dikucilkan, dan malah merasa lebih aman untuk melakukan tindak kejahatan.

“Rutan atau Lapas sekarang sudah menjadi kerajaan di dalam negara. Salah satu buktinya, pihak kepolisian saja sulit masuk ke sana,” pungkasnya. (ari)

Mahasiswa Malaysia Tewas di Sibolangit

SIBOLANGIT-Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Universitas Sumatera Utara (USU) warga negara Malaysia, Sethu Bathi Rao (20), tewas di Air Terjun Dua Warna Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Minggu (15/1) sekitar pukul 12.30 WIB.

Informasi yang diperoleh Sumut Pos di lapangan, korban meninggal  dengan posisi terjepit di antara batu, di bawah air terjun yang terletak di kaki Gunung Sibayak itu.

Menurut Koordinator Posko Pencaharian asal SOBT (Sibolangit Outbond Trainer), Hendi Maratua Sagala, peristiwa naas kemarin diketahui, setelah seorang pengunjung lainnya melaporkan kejadian kePosko Ranger  Pintu Rimba, Bumi Perkemahan Sibolangit.

Tidak lama berselang, 26 orang anggota Ranger,  melakukan penyusuran ke lokasi. Menempuh perjalanan  sekitar 2-3 jam, tim awal ini berhasil berjumpa dengan rombongan korban di air terjun yang berada di ketinggian 1.500 dpl.

Tidak lama berselang, Tim Penyelamat dan Kantor SAR Medan langsung menggelar proses evakuasi. Tetapi, angin kencang memperngaruhi kondisi air sekaligus mempersulit evakuasi. Tekanan air dari dalam, khusunya arah hulu air terjun,  merupakan faktor utama penghambat penyelaman telaga seluas 1.000 meter persegi itu.

Sekitar pukul 15.00 WIB, setelah angin mereda,  jasad pria asal Malaysia itu dapat di bawa ke darat. Usai magrib, jasad korban tiba di Pintu Rimba Sibalongit dan dimasukkan ke mobil ambulans untuk dibawa ke RSUP H Adam Malik Medan.

Keterangan tambahan  yang diperoleh dari Tim Pencari, Hendi Maratua Sagala dan Ipul, Sethu dan 10 orang lainnya asal FKG USU yang kesemuanya warga Negara Malaysia, berangkat menuju Telaga Dua Warna sekitar pukul 09.00 WIB, Minggu ( 15/1).  “Setelah mendaftar ke Posko Ranger, mereka naik dengan dipandu 20 orang anggota Pemandu Wisata yang ditunjuk,” kata Hendi.

Setelah lelah berjalan kaki, di antara hutan kaki Gunung Sibayak, rombongan sampai di Telaga Air Terjun Dua Warna. Panorama alam dari Air Terjun, setinggi 70 m itu, membuat wisatawan ini  berhasrat, langsung mandi. Kabar yang diperoleh dari saksi mata, Sethu yang melihat temannya dalam keadaan bahaya, mencoba melakukan pertolongan.

Tetapi malang tidak dapat ditolak, usaha menolong teman yang diduga kuat tidak dapat berenang itu, ternyata membuat Sethu, masuk semakin dalam ke dasar telaga. Hingga, kaki korban terjepit di antara batu batu air yang berada di dasar telaga yang ditaksir sedalam 2,5 meter.

Sementara kondisi Sethu  yang berada di ujung maut, teman yang sebelumnya hendak ditolong berhasil selamat dari maut. Sethu tercatat menjadi korban pertama, wisatawan yang meninggal di Telaga Air Terjun Dua Warna. Namun demikian, informasi latar belakang tewasnya Sethu masih akan ditelusuri, pihak Kantor SAR Medan dan Tim Ranger Sibolangit .

“Apakah peristiwa naas kemarin ada hubungannya dengan human error atau hal lain, baru akan kita temukan setelah evaluasi beberapa hari ke depan. Kita tidak mau membuat kesimpulan secara premature, tadinya kami hanya fokus pada proses evakuasi korban,”  kata Hendi.

Menurut keterangan Kapolsek Pancur Batu Kompol Ruruh Wicaksono Sik SH MH, dari hasil keterangan 10 rekan-rekan korban yang dimintai keterangan, korban dkk memang sedang berlibur. “Saat dilakukan olah tempat kejadian perkara dan kondisi tubuh korban tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan,” ujar Ruruh.

Ruruh juga mengatakan, pihaknya telah berkordinasi dengan konjen Malaysia. “Korban berwarga negara Malaysia, untuk itu kita telah berkordinasi dengan pihak konjen Malaysia,” ujar Ruruh. (wan/mag-5)

Wanita Hamil Tewas Telanjang di Kebun Tebu

Diduga Bernama Sri yang Mengandung saat Suami di Kalimantan

BINJAI-Heboh melanda warga Kampung Lama, Tanjung Anom, Tandem Hilir I, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang. Pasalnya, sesosok mayat wanita hamil ditemukan di lahan perkebunan tebu milik PTPN II Tanjung Morawa, Tandem Hilir, Minggu (15/1) sore sekira pukul 15.00 Wib. Mayat ditemukan dalam kondisi telanjang dan telah dipenuhi belatung.

Keterangan dihimpun Sumut Pos, jasad wanita muda yang diperkirakan berumur 35 tahun itu diduga bernama Sri, warga Kota Datar, Dusun 10, Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang.

Mayat korban pertama kali ditemukan seorang bocah penggembala kambing. “Kami lagi menggembala kambing, Bang. Tiba-tiba tercium bau bangkai. Setelah kami dekati, rupanya mayat. Kami pun langsung lari,” kata Sari (14), seorang penggembala.

Kabar penemuan mayat tersebut langsung menyebar hingga ratusan masyrakat berbondong-bondong mendatangi TKP (tempat kejadian perkara).
Aparat Polsek Binjai bersama Polres Binjai langsung turun ke lokasi untuk melakukan identifikasi dan olah TKP. Selanjutnya petugas membawa jasad korban dengan menggunakan ambulans ke rumah sakit Pirngadi Medan.

Setelah jasad dibawa ke RSUP Medan, Polsek Binjai didatangi tiga wanita, yang menduga sosok mayat tersebut adalah anggota keluarga mereka. Ketiga wanita itu masing-masing Yatmi (36), Jamila (46), serta Pina (15). Pina adalah putri Sri.

“Pak Polisi, itu (korban, Red) mungkin adikku bernama Sri, yang pergi meninggalkan rumah habis lebaran kemarin. Ciri-cirinya mirip. Tapi kami berharap bukan dia. Adikku itu pergi karena hamil lagi, sementara suaminya sedang berada di Kalimantan,” kata Jamila, sambil menangis.

Pina sendiri masih ragu apakah wanita yang ditemukan tewas itu adalah ibunya. “Saya enggak berani lihat, Pak. Tapi mungkin saja itu mamak,” ucap Pina, sambil menangis sesenggukan.

Aparat Sat Reskrim Polres Binjai masih berupaya memastikan identitas korban, karena pihak keluarga tidak berani melihat langsung jasadnya.
KBO Sat Reskrim Polres Binjai, Ipda S Harahap ketika dikonfirmasi Sumut Pos di TKP, mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas keterangan warga yang mengaku keluarga korban. “Dugaan sementara, korban tewas dibunuh karena hamil,” ucap Harahap. (dan)

Pelajar SMP Cabuli Murid Kelas 2 SD

Dipukuli Warga, Ngadu ke Polisi

MEDAN-Seorang pelajar kelas dua SMP, berinisial RS (15), dituduh mencabuli tetangganya, seorang murid kelas 2 SD, sebut saja namanya Bunga, Jumat (13/1) sekira pukul 11.00 Wib. Kejadian berlangsung di rumah orangtua RS, di Jalan Benteng Hilir, Bandar Klippa, Deliserdang. Buntutnya, RS dipukuli warga. Kasusnya bergulir ke polisi.

Kejadian bermula pada Jumat siang. Saat itu Bunga mendatangi rumah sekaligus warung orangtua RS, yang jaraknya berkisar 20 meter dari rumah orangtua Bunga.

Niat gadis cilik berusia 8 tahun itu, untuk menjumpai adik perempuan RS, yang kebetulan satu sekolah dengannya. Tujuannya, hendak menanyakan jam berapa mereka masuk sekolah. Saat itu, kedua orangtua RS tidak berada di rumah.

Menurut cerita Bunga kepada ibunya, ia telah dicabuli RS yang selama ini dipanggilnya abang. “Ini awak dijolok-joloknya, Mak,” kata Bunga, sambil menunjukkan kemaluannya kepada sang bunda.

Mendengar hal tersebut, kontan sang bunda berang. Ia pun menceritakan kejadian itu kepada para tetangga. “Di tempat kami itu rata-rata masih famili. Orangtua RS dengan kami juga masih ada hubungan famili, tapi famili jauh,” tutur ibu Bunga di kantor polisi.

Bersama sejumlah tetangga, ia pun mencari RS ke rumahnya. Setelah menemukan RS, sejumlah tetangga memukul remaja tersebut. Ayah RS ikut memukul anaknya, setelah mendengar anaknya mencabuli Bunga. Ibu Bunga mengaku, dirinya tidak ikut memukul RS.

Keesokan harinya, Sabtu sekira pukul 21.00 WIB, RS ditemani orangtuanya mengadukan kasus pemukulan itu ke Mapolsek Percut Sei Tuan.
Satu jam kemudian, Bunga dan kedua orangtuanya balik mengadukan kasus percabulan itu ke Polsek yang sama. Ia membawa hasil pemeriksaan Bunga dari sebuah klinik, yang menyatakan pada bagian kemaluan Bunga ada yang rusak. “Saya tak menyangka, anak saya yang dirusak, malah kami yang diadukan memukuli RS. Tapi biarlah hukum yang menentukan siapa yang salah,” tutur ibu Bunga, sedih.

Terpisah, kedua orangtua RS, Rubina dan Sabran yang membuat laporan pemukulan ke polisi, meyakini anaknya tidak berbuat cabul kepada Bunga.
“Kami tidak yakin anak saya berbuat seperti itu. Dia (RS) mengaku hanya memegang tangannya (Bunga), waktu mau jajan ke warung saya,” kata Sabrina.
Tak terima anaknya dipukuli, mereka pun memilih mengadu ke polisi.

“Anak saya mengaku dipukuli 6 orang. Selain dipukuli, badan anakku juga ditembaki dengan pintol mainan,” kata Sabina.
Pantauan Sumut Pos di Mapolsek Percut Sei Tuan, RS tidak diperbolehkan pulang dan ia terpaksa tidur di ruang penyidik, ditemani ayahnya.
Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Maringan Simanjuntak yang dikonfirmasi melalui Kanit Reskrim AKP Faidir Chan, membenarkan pengaduan keduanya. “Kedua belah pihak sudah sepakat berdamai,” katanya. (gus)

Korban Dipukuli, Motor Dibawa Kabur

PERCUT SEITUAN-Aksi brutal geng motor kembali mengambil korban. Kali ini, mereka menyerang dan memukuli seorang mahasiswa Budi Darma, Bahagia (23), hingga korban pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit Haji. Selain dipukuli, sepeda motor Honda Revo warna putih milik korban juga dibawa kabur anggota geng.

Penyerangan itu berlangsung di atas jembatan tol di Jalan Haji Anif, Desa Sampali, Percut Sei Tuan, Sabtu (15/1) tengah malam. Atas kejadian ini, teman-teman korban membuat laporan ke Mapolsek Percut Sei Tuan.

Keterangan dari Saifuddin, malam itu dirinya bersama sejumlah temannya asal Aceh, yang kuliah di Kampus Budi Darma, yakni Bahagia (korban), Amri, dan Sahali, berkeliling Kota Medan naik sepeda motor. Akhirnya, mereka tiba di atas jembatan tol Jalan Haji Anif, dan beristirahat menikmati angin malam .

Berselang 10 menit, tiba-tiba muncul segerombolan pengendara sepeda motor yang membawa linggis, kelewang, dan batang bambu. Geng motor itu langsung menghampiri Saifuddin Cs dan langsung memukuli para mahasiswa tersebut.

Naas dialami Bahagia. Dia dipukul hingga tak sadarkan diri saat hendak melarikan diri. Setelah geng motor itu kabur membawa motor korban, teman-temannya kembali ke lokasi dan membawa korban ke rumah sakit. Selanjutnya, membuat pengaduan ke Mapolsek Percut Sei Tuan.

Informasi diperoleh wartawan, malam itu juga ada 2 aksi perampokan sepeda motor yang diduga dilakukan geng motor. Selain Bahagia, korban lainnya adalah seorang warga Dusun II Desa Sei Rotan Percut Sei Tuan. Sepeda motor Mio warna hijau miliknya dilarikan geng motor, saat korban berhenti di depan Toko Baja Utama di Dusun I Sei Rotan.

Terpisah, di daerah Sukaramai pada dinihari yang sama sekira pukul 4, sepeda motor Honda Beat BK 4502 ACG , yang dikendarai seorang warga yang melintas, juga dicuri anggota geng motor.

Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, AKP Faidir Chan mengatakan, malam itu pihaknya sudah melakukan razia rutin di wilayah hukumnya. “Kita minta kepada seluruh masyarakat, setiap kali ada geng motor yang berakli ugal-ugalan, agar segera melapor ke pihak kepolisian terdekat,” katanya. (gus/smg)

Dua IRT jadi Sindikat Curanmor

LUBUK PAKAM-Mengejutkan. Dua dari enam orang anggota sindikat pencuri sepedamotor spesialis saat parkir di depan rumah, ternyata ibu rumah tangga. Keduanya diciduk Tim Buser Polsek Batang Kuis bersama 4 anggota lainnya, dari tempat berbeda, Sabtu (14/1) malam.

Keenam tersangka masing-masing Dodi Ramadan (20), warga Dusun VII Desa Tanjung Sari, Batang Kuis; Rahmad Syahputra Daulay alias Amek (34), warga Pasar X Desa Bandar Klippa, Percut Sei Tuan, Rikot Nainggolan (39), warga Pasar VII Beringin Desa Sei Rotan, Konces (28), warga Pasar VI Desa Sei Rotan.

Sedangkan kedua ibu rumah tangga yang menjadi anggota sindikat yakni Inem (45) dan Ase (42), keduanya warga Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan. Dari tangan keduanya, polisi mengamankan 2 sepedamotor yang biasa digunakan untuk mencuri, yakni Suzuki Smash BK 4512 UV, dan Yamaha Mio tanpa plat polisi. Polisi juga mengamankan 1 unit sepedamotor curian Yamaha Mio BK 5112 AAD. Adapun tersangka ke-7 yakni Ok (18), warga Batang Kuis, kini masih diburon.

Penangkapan sindikat curanmor tersebut berawal dari pengaduan Marno, ke Polsek Batangkuis, Rabu (11/1) lalu. Polisi pun melakukan penyelidikan dan meringkus Dodi Ramadan. Selanjutnya polisi meringkus Amek. Dari kedua tersangka ini terungkap, motor curian itu diserahkan ke Inem dan Ase, untuk dijual seharga Rp 2,3 juta.(btr)

Oknum Polantas Ngotot Tilang Sopir Pengangkut Ayam

Meski Surat Lengkap, Muatan Standar

LUBUKPAKAM-Sorang oknum polisi lalu-lintas (Polantas) dari Kepolisian Resort (Polres) Deliserdang bersikap kurang terpuji terhadap seorang sopir pengangkut ayam. Ia ngotot memberi surat tilang, meski surat-surat lengkap dan muatan standar.

Kejadian bermula saat mobil pengangkut ayam jenis Carry dengan nomor polisi BK 9469 CK, melintas di depan Kantor Bupati Deli Serdang, Lubuk Pakam, Sabtu (14/1) pagi pukul 06.30 WIB. Mobil dikemudikan Lishartoyo, warga Desa Bakaran Batu, Kecamatan Batang Kuis, Deliserdang. Ia didampingi dua kernetnya, Pian dan Toyo.

Saat melintas, tiba-tiba mobil disuruh berhenti oleh aparat Polantas bernamanya Brigadir Hendrik.

Selanjutnya, Brigadir Hendrik menanyakan kelengkapan surat-surat kendaraan, seperti SIM, dan STNK.
Lishartoyo pun menunjukkan surat-surat yang diminta Brigadir Hendrik. “Semua surat ada. Lampu hidup, saya pakai sabuk pengaman. Pokoknya semua beres,” ungkapnya, kepada Sumut Pos, kemarin.

Melihat semua beres, Brigadir Hendrik kemudian berdalih, mobil itu kelebihan muatan. Ia pun berniat menilang STNK mobil yang tercatat atas nama Heri, warga Tanjungrejo, Percut Sei Tuan, Deliserdang itu.

Merasa dirinya tidak bersalah, Lishartoyo pun menolak menandatangani surat tilang yang dibuat Brigadir Hendrik. “Loh, kok bisa ditilang? Sementara tidak ada pelanggaran yang saya lakukan. Kalau kelebihan muatan, banyak mobil pengangkut ayam yang lebih banyak muatannya, kok nggak ditilang? Kami masih sesuai standar. Jadi, saya tidak mau menandatangani,” ungkapnya.

Karena Lishartoyo menolak menandatangani surat tilang, Brigadir Hendrik menjadi berang dan mencorat-coret surat tilang itu dengan tanda silang dan membuangnya.

Saat itu, kernetnya bernama Pian melarang Lishartoyo mengutip surat tilang yang dibuang ke tanah itu. Pian mengatakan, polisi seharusnya tak bersikap seperti itu.

Mendengar perkataan Pian, Brigadir Hendrik semakin berang. Ia balik membalas dengan kata-kata arogan dan menantang. “Kita lihat siapa nanti yang kalah di pengadilan,” katanya.

“Masak polisi sikapnya kayak gitu? Harusnya pengayom,” kisah Lishartoyo.

Suasana mulai mereda setelah seorang polisi lainnya menghampiri mereka, dan menyatakan, sebaiknya Lishartoyo membuat laporan ke Polresta Deliserdang. “Ada polisi yang datang, dan orangnya baik. Kami disuruh membuat laporan ke Polres,” kata Pian.

Kernet lainnya, Agus mengatakan, muatan yang mereka bawa dari Tebing Tinggi tersebut sebanyak 60 kotak tempat ayam. Jumlah ayamnya sebanyak 800 ekor, dengan berat per ekornya antara 1,6 kilogram sampai 1,7 kilogram.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso, yang dikonfirmasi menyatakan, sebaiknya oknum Polantas tersebut dilaporkan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Poldasu. “Silahkan dilaporkan ke Propam,” jawabnya.(ari)

Dua Bocah Nyaris Terpanggang

Bensin Tersulut Api, Empat Rumah Terbakar

BRANDAN-Empat unit rumah di Jalan Besitang Lingkungan Tangkahanlagan Kelurahan Alurdua Baru Kecamatan Seilepan, Langkat, Minggu(15/1) sekitar pukul 14:30 WIB, terbakar. Dua bocah penghuni rumah itu, Ilham Aidil Fitra (13) dan Fadilah (3) nyaris terpanggang. Kedunya dibawa ke rumah sakit Pertamina Pangkalan Brandan untuk perawatan akibat luka bakar yang mereka derita.

Penyebab sumber asal kebakaran belum diketahui secara pasti dan masih simpang siur. Ada yang mengatakan api berasal dari pemilik rumah pasutri Abubakar-Nurlia yang menjual bensin eceran dan pedagang mie sop di depan rumahnya. Ketika itu anaknya sedang bermain mancis. Karena berdekatan dengan bensin api cepat menyambar ke bensin lalu menjilati rumah. Kedua anak tersebut nyaris terpanggang dan mengalami luka bakar akibat jilatan api.
Warga bersama petugas pemadam kebakaran yang menurunkan tiga unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) milik PT Pertamina UP-I Pangkalan Brandan berhasil menjinakkan api.

Perabotan berupa kursi, lemari, tempat tidur, dan perhiasan serta beberapa barang milik korban tak sempat terselamatkan. Terutama milik, Abubakar (31), Imran (36), dan Nurlia (35).

Abubakar dan istrinya Nurlia, tidak berbicara banyak usai kejadian itu. Wajahnya terlihat lusuh. Menurut Abubakar semua perabotan isi rumah tidak dapat diselamatkan hanya pakaian di badan saja yang bisa dibawa karena api begitu cepat menyambar. “Cuma pakaian ini yang bisa diselamatkan,” kata pegawai kantor Camat Seilepan.

Untuk sementara, kata lanjut Abu Bakar, mereka terpaksa tinggal di rumah tetangga.

Sementara rumah Imran nyaris rata akibat jilatan api yang begitu cepat hanguskan rumahnya serta isinya.

Sayangnya, saat kejadian yang menghabisi empat rumah warga, kepala kecamatan Seilepan, Drs Wagito  tidak ada ditempat kejadian itu.

“Akibat peristiwa tersebut, kerugian belum dapat ditaksir, namun dua orang korban yang terkena jilatan api tersebut, Ilham Aidil Fitra (13) dan Fadilah (3) masih mendapat perawatan intensif di RS Pertamina Pangkalan Brandan,” kata Kapolsek Pangkalanbrandan AKP H. Kosim S kepada POSMETRO (Group Sumut Pos).

Keganasan si jago merah masih berlanjut. Kali ini di Pakpak Bharat. Empat rumah juga di Desa Tanjung Mulia Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe (STTUJ) Kabupaten Pakpak Bharat, terbakar, Sabtu (14/10) sekitar pukul 23.45 WIB.

Diduga kebakaran akibat korsleting listrik dari salah satu rumah warga yang ikut terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa naas tersebut, tapi kerugian materi diperkirakan puluhan juta rupiah.

Penghuni rumah yang terbakar itu adalah Rasmi Kesogihen, Pardamean Tumangger, Firman Berutu dan seorang lagi Abet Nego Tumangger Kapala Desa di desa tersebut.

Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 01.30 WIB setelah mobil pemadam kebakaran yang didatangkan dari Pemko Sebulusalam tiba dilokasi kebakaran, karna lokasi kebakaran berdekatan dengan perbatasan Aceh dan Sumut sehingga jarak tempuh lebih dekat dari Pemko Subulussalam.

Sabar Berutu Camat Sitelu Tali Urang Jehe mengakui penyebab terjadinya kebakaran akibat hubungan arus pendek listrik (korsleting listrik).”Terjadinya kebakaran tersebut diduga akibat korseleting listrik yang terjadi di salah satu rumah warga yang mengakibatkan cepatnya api
menyebar ke rumah lainya, karena rumah terbuat dari kayu” kata Sabar.(mag14/jok/smg)