25 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 14063

Tak Terganggu Ambil-alih, Tetap Maksimalkan Produksi

Jalan-jalan ke Pabrik Peleburan Aluminum PT Inalum di Kuala Tanjung Batubara

Menjelang berakhirnya kontrak PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) di Tanjung Gading, Batubara pada Oktober 2013, disebut-sebut perusahaan tersebut akan diambil alih Pemerintah Indonesia. Di tengah isu itu, perusahaan tetap berproduksi.

Syaifullah/Triadi, BATUBARA

Ditemani Staf Humas, Julian Faisal, Sumut Pos menuju pabrik yang jaraknya sekitar 17 Km dari Komplek Perumahan Karyawan PT Inalum di Tanjung Gading. Tepat, Selasa (10/1) Pukul 09.00 WIB berangkat. Di pabrik, Sumut Pos disambut Senior Manager Humas Ir H Subagiyo Ibnoe dan Manager Humas Moranta Simanjuntak.

Dari keduanya mengalir sejumlah kisah. Bahwa 12 perusahaan yang mendirikan PT Inalum bersama pihak Indonesia sepakat membentuk usaha bersama di Jakarta. Nama usaha itu adalah Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd (NAA) yang berkedudukan di Tokyo, yang sah berdiri pada 25 November 1975.
Setahun kemudian, tepatnya 6 Januari 1976 NAA bersama Indonesia sepakat mendirikan PT Inalum.  Pada pendiriannya mayoritas saham PT Inalum sebesar 90 persen dipegang Jepanng. Tapi, pada akhirnya saham berevolusi pada 1998, pembagian saham menjadi 58,88 persen (Jepang) dan 41,12 persen (Indonesia).

Tak lama di ruangan bidang Humas PT Inalum, Sumut Pos diajak keliling oleh Julian Faisal. Helm dan kemeja lengan panjang wajib dikenakan. Saftey Firts. Darinya didapat ‘wisata pabrik aluminium’ yang dilakoni dengan antusias. Awalnya Sumut Pos menjelejah bagian luar pabrik. Yang mayoritas terlihat disana adalah instalasi listrik. Ada juga tabung-tabung berukuran besar.

Pabrik yang dibangun menghadap Selat Malaka. Sumut Pos berkeliling menumpangi mobil, karena luas area mencapai 200 hektar. Itupun tak semua dijelajahi. Bahkan ada titik-titik yang kurang bersahabat dengan barang elektronik, bahkan Sumut Pos enggan turun di titik tersebut.

Dalam paparannya, pabrik yang berdiri sejak 36 tahyun lalu mampu  menghasilkan rata-rata 225.000 ton aluminium per tahun. Jadi, tugas utama pabrik adalah mereduksi alumina (serbuk aluminium) menjadi aluminium dengan menggunakan alumina, karbon, dan listrik.

Pabrik ini memiliki tiga pabrik utama yakni pabrik karbon, pabrik reduksi dan pabrik penuangan.

Yang ingin Sumut Pos lihat tentu saja proses pembuatan hingga tercipta ingot aluminium. Ditemani Rahmad salah satu pengawas peleburan, Sumut Pos berkesempatan melihat-lihat ingot aluminium yang siap diekspor.  Adapun berap ingot per batang mencapai 22,7 kg.

Ngomong-ngomong, perusahaan ini bakal ‘free’ pada 2013. Kontrak jangka panjang pihak Jepang dan Indonesia tadi bakal berakhir tahun depan. Proses ambil-alih tadilah yang kini jadi isu nasional. Semua pihak, apalagi karyawan pasti tahu soal ini meskipun pada kenyataannya mereka tak begitu terganggu. Geber hasil produksi maksimal; hanya itulah yang ada di benak karyawan. (habis)

Ban Mobil Kabid Humas Poldasu pun Disikat

Kawanan Pencuri Makin Menjadi-jadi

MEDAN-Kawanan pencuri tampaknya sudah tak pilih-pilih mangsa. Buktinya, empat ban mobil Toyota Avanza BK 1111 RR milik Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso juga disikat kawanan pencuri, di depan rumahnya Komplek Perumahan Taman Johor Indah Permai Blok VIII No16, Kecamatan Medan Johor, Kamis (12/1) dini hari.

Keterangan yang dihimpun, kejadian tersebut diketahui sekitar pukul 06.00 WIB, saat Heru akan menyalakan mesin mobil yang biasa digunakan istrinya, sebelum berangkat ke kantornya di Mapolda Sumut Jalan Medan-Tanjung Morawa km 5,5 Medan.

Begitu hendak menghidupakn mesin, Heru melihat empat ban mobil berwarna silver yang terparkir di pinggir jalan depan rumahnya sudah tidak ada lagi. Mobil tersebut diganjal pelaku dengan menggunakan batu batako. Heru kemudian melaporkan kejadian itu ke Mapolsekta Delitua. Polisi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso yang dikonfirmasi Sumut Pos mengaku, mobilnya memang di parkir di depan pagar rumah.
“Namanya juga maling tidak tahu mana polisi mana warga biasa. Ada dilihatnya mobil parkir, ada kesempatan, ya dicurinya,” ungkapnya.
Heru memperkirakan, kawanan pencuri beraksi sekitar antara pukul 03.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.

Menurut Heru, pelaku hanya mencuri bannya saja sedangkan isi di dalam mobil tidak ada yang diambil atau pun dirusak.
“Mungkin pelaku hanya membutuhkan ban mobil itu, ya sudah lah,” ucapnya.

Dari cara kerjanya, perwira berpangkat melati tiga itu yakin pelaku lebih dari dua orang dan spesialis pencurian ban mobil yang sedang parkir. Diakuinya, kejadian ini bukan pertama kali terjadi di lingkungannya. Sebelumnya warga yang tinggal di Komplek Perumahan Citra Wisata juga menjadi korban dengan modus yang sama.

“Jadi tolong diungkap agar tidak terulang lagi dan masyarakat tidak resah,” ungkapnya.(gus/jon/mag-5)

Pelaku juga Bawa Mobil Avanza

Setelah berhasi menggondol ban kawanan yang diperkirakan lebih dari dua orang itu langsung keluar dari Komplek Johor Permai Indah Satu menuju Jalan Karya Wisata.

Asep (32), warga yang saat itu sedang melintas hendak pulang ke rumahnya yang tak jauh dari kediaman Kombes Pol Raden Heru Prakoso, sempat melihatn
“Salah seorang dari pelaku berperawakan tinggi besar dan tegap membawa mobil Avanza warna silver. Saat itu saya tak curiga dan masuk ke dalam rumah sehingga tak memperhatikan nomor polisi mobil para pencuri ban mobil itu,” kata Asep.

Seorang petugas sekuriti Komplek Johor Permai Indah Satu yang namanya tak mau disebutkan mengatakan, sekuriti di komplek perumahan bekerja 3 sift dan dalam 1 sift ada 4 orang menjaga 100 rumah lebih.

“Kalau kita disalahkan karena kelalaian kita itu wajar. Tapi bagaimana kita buat karena kita cuma empat orang yang harus patroli di setiap blok di komplek ini,” ujar pria berbadan tegap dan berpakaian safari itu.

Ketika disinggung tentang cara pengawasan tamu yang masuk di atas pukul 22.00 WIB, petugas sekuriti ini pun langsung bergegas pergi. (gus/jon/mag-5)

Kronologis Kejadian

  1. Sekitar pukul 06.00 WIB, Heru hendak menyalakan mesin mobil Toyota Avanza BK 1111 RR yang biasa digunakan istrinya, di depan rumahnya Komplek Perumahan Taman Johor Indah Permai Blok VIII No16, Kecamatan Medan Johor.
  2. Begitu hendak menghidupakan mesin, Heru melihat empat ban mobil berwarna silver yang terparkir di pinggir jalan depan rumahnya sudah tidak ada lagi.
  3. Mobil tersebut diganjal pelaku dengan menggunakan batu batako. Heru kemudian melaporkan kejadian itu ke Mapolsekta  Delitua.
  4. Polisi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara.

Korban Pencurian Ban Mobil

  1. Ban mobil Suzuki Vitara warna silver milik dr Asrul Simangungsong (45), Kepala IGD RSUP H Adam Malik Medan disiakt maling di depan rumahnya di Komplek Perumahan Bukit Johor Mas Blok J Nomor 9, Jumat (6/1) dini hari 03.30WIB.
  2. Empat ban mobil Toyota Avanza BK 1111 RR yang biasa digunakan istri Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso SIK, di depan rumahnya Komplek Perumahan Taman Johor Indah Permai Blok VIII No16, Kecamatan Medan Johor, Kamis (12/1).

 

Pasar Tradisonal Mulai Ditata

Pasar Induk Marelan Akan Dibangun

MEDAN- PD Pasar mulai menertibkan pedagang informal yang berjualan di sepanjang halaman dan trotoar. Penertiban dimulai dari Pasar Petisah. Penertiban dilakukan pukul 09.00 WIB tanpa ada perlawanan dari pedagang karena sudah ada pemberitahuan.  Untuk tahap awal ini, PD Pasar hanya melakukan pembongkaran lapak-lapak yang tidak dibongkar sendiri oleh pedagang.

“Kalau tidak ada orangnya (pedagang) tertibkan saja, jangan sampai muncul lagi,” kata Direktur Utama PD Pasar, Benny Sihotang disela-sela penertiban di Pasar Petisah, Kamis (12/1).

Dikatakan Benny, penertiban merupakan bagian dari menjaga wilayah agar tidak dibuat menjadi tempat berdagang lagin

“Sebagai bentuk antisipasi kami, bagian penertiban diminta untuk mengawasi setiap hari agar pedagang tidak kembali lagi berjualan. Kalau ternyata ada yang kembali, jabatannya akan saya evaluasi,” tegasnya.

Penertiban pedagang, lanjut Benny, menjadi barometer kepemimpinan seluruh Direksi PD Pasar. Karenanya apabila kepala bagian tidak mampu melaksanakan tugas, posisi jabatannya akan dievaluasi.

“Pasar ini akan jadi pasar percontohan. Jadi semua kepala bagian di PD Pasar ini harus bertindak tegas,” ujarnya.

Selain bagian penertiban, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk membantu pengawasan termasuk juga Persatuan Pedagang Pasar Tradisional Sumatera Utara (P3TSU). “Asosiasi pedagang juga kami ajak kerjasama karena ini juga bagian dari pedagang,” ucapnya.

Sedikitnya, ada 170 pedagang informal yang beroperasi di halaman dan trotoar Pasar Petisah tanpa dipungut biaya kebersihan dan keamanan. Hal ini menimbulkan kecemburuan dari pedagang yang berada di dalam yang sudah membayar retribusi setiap harinya. Sementara pedagang formal berjumlah 3.700 orang.

Ketua Umum P3TSU, Harmon Habib mendukung penertiban karena selama ini pedagang yang ada di lantai dua tidak laku jualannya, karena ada pedagang di halaman dan trotoar pasar. Dijelaskannya, pedagang tidak bersedia berjualan di lantai dua karena dianggap tidak representatif sehingga penjualan menurun.

“Padahal banyak pedagang lain yang bertahan di atas. Ada yang seminggu tidak buka dasar tapi tetap bertahan jadi kenapa ke bawah lagi. Pasti karena ada kesempatan untuk turun berjualan ke bawah,” cetusnya.

Menurutnya, penyebab pedagang enggan berjualan di atas karena tidak adanya sarana dan prasarana menuju ke atas seperti eskalator dan lift. Total ada tujuh eskavator di bangun tapi hanya dua yang aktif sedangkan lift tidak pernah hidup.

Diharapkan, PD Pasar bisa membenahi pasar agar konsumen tidak lari apalagi semakin banyaknya pasar modern.
“Pasar tradisional adalah jantung ekonomi karena tempat home industri memasarkan barangnya. Pedagang ekonomi kecil ini hendaknya ditingkatkan untuk mengangkat harkat pedagang menjadi kelas menengah,” katanya.

Sementara itu, Pemko Medan akan membangun pasar tradisional induk di Kecamatan Medan Marelan tahun anggaran 2012. Pembangunannya sudah memasuki tahap penentuan lahan lokasi pasar yang akan dibangun dengan anggaran Rp15 miliar.

“Pembangunannya sedang diproses, saat ini sudah melewati tahap kelayakan (DED) bangunan dan lokasi. Itu sudah selesai dikerjakan, lalu masuk tahap persiapan penentuan lahan lokasi bangunannya. Ada empat alternatif lahan, namun akan ditentukan satu lahan saja yang akan digunakan,” kata Sekda Kota Medan, Ir Syaiful Bahri Lubis disela-sela acara perencanaan program 2012 Kota Medan oleh Bappeda Kota Medan di Grand Aston, Kamis (12/1).
Sementara Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan, Zulkarnain menjelaskan dari perencanaan tersebut satu dari empat lahan itu akan dilakukan oleh Dinas Perkim Kota Medan dengan anggaran Rp10 miliar.

“Kalau pembangunannya Rp10 miliar. Tapi kalau untuk pembebasan lahannya Rp5 miliar, itu untuk lahannya. Saya lupa lokasinya dimana, tapi dari empat lahan itu sudah ada satu lahan yang disetujui dan dinilai layak sesuai kajian kelayakan (DED). Pembangunannya akan dimulai tahun ini juga melalui proses tender,” ujarnya.

Dijelaskannya, pembangunan pasar induk sendiri akan diperuntukkan bagi pedagang kaki lima (PKL) sayur mayur yang sering berdagang di Jalan Kapten Rahmad Buddin, tepatnya didepan Lapangan Rengas Pulau Marelan. Selama ini, keberadaan pedagang sayur itu mengganggu arus lalulintas di jalan lintas masuk dari Simpang Pasar 5 Marelan.

“Pedagang sayur mayur di Marelan yang biasanya tumpah di pinggir jalan akan direlokasi ke pasar induk ini. Sekaligus, Pasar Tradisional Marelan di simpang Pasar 5 Marelan juga akan direlokasi ke pasar induk. Jadi, pasar induk akan diperuntukan bagi petani sayur yang mau menjualkan hasil pertaniannya dan pasar tradisional,” ungkapnya.

Ditegaskannya, jika pedagang sayur dan pasar tradisional sudah direlokasi ke lokasi lahan yang baru. Maka diharapkan tingkat kemacetan yang cukup parah di persimpangan Pasar 5 Jalan Marelan Raya Medan Marelan dapat diatasi.

Camat Medan Marelan Pulungan Harahap mengaku untuk penetapan lahan lokasi pembangunan pasar induk dan tradisional terpadu masih dibahas. Penetapannya masih belum keluar dan surat keputusan (SK) lahan yang dimaksud juga belum ditandatangani.
“Memang sudah final. Tapi sedang proses penetapan lahan mana yang digunakan dari empat lahan alternatif yang diusulkan tersebut. SK belum keluar, sedang ditetapkan,” tegasnya.
Dijelaskan Pulungan, dari empat lokasi lahan alternatif yang akan dibangun  yakni Jalan Marelan Raya Pasar V, lahan kosong dekat Rumah Sakit Wulan Windi. Selanjutnya, lahan kosong di belakang SPBU Pasar IV Jalan Marelan Raya dan lahan kosong dekat pergudangan BGR Paya Pasir Jalan Titi Pahlawan Pasar 5 Marelan.(adl)

Pasar Tradisional Tak Cukup hanya Bersih

Komisi C DPRD Kota Medan mengingatkan Direksi Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Medan supaya memberikan perhatian serius terhadap penyelesaian pasar tradisional.

“Sampai sekarang belum ada penyelesaian. Begitu juga pembenahan pasar-pasar yang rusak,” kata Ketua Komisi C DPRD Medan, Jumadi.

Dikatakannya, jajaran Direksi PD Pasar yang baru dilantik harus memperhatikan masalah kenyamanan konsumen yang ingin berbelanja ke pasar tradisional. Selama ini, kenyamanan masih menjadi masalah utama sehingga masyarakat enggan berbelanja ke pasar tradisional. Dijelaskannya, kenyamanan yang dimaksu bukan soal kebersihan tetapi juga berkaitan dengan keamanan pasar.

Untuk melaksanakannya, PD Pasar harus melakukan konsolidasi terlebih dahulu baik secara internal maupun dengan organisasi pedagang yang ada pada tiap pasar. Dengan begitu PD Pasar akan menerima masukan dan aspirasi dari pedagang langsung untuk pengembangan pasar. (adl)

Meski Cacat, tak Mau Minta-minta

Syahiran Syukri Hidayat, Penjual Parfum dan Sabun Cuci Muka

Syahiran Syukri Hidayat (34), warga Jalan Utama Pekan, Batang Kuis terlahir dengan kondisi cacat. Tapi, pria yang masih melajang itu tetap menjalani hidup dengan tulus dan tak pernah menyerah.

 Jhonson P Siahaan, Medan

Saat ditemui wartawan Sumut Pos, anak bontot dari delapan bersaudara ini terlihat sedang menjajakan parfum botol kecil dan sabun pencuci wajah  pada pengunjung warung kopi (warkop).

Dengan menggunakan sepatu bot warna hitam, celana hitam dan baju biru garis-garis Syahiran berjalan menemui para pengunjung warkop satu per satu.
Syahiran mengaku mulai menjajakan parfum botol kecil dan sabun pencuci wajah sejak bulan September 2011 lalu. Dia menuturkan, penghasilannya dari berjualan parfum tak menentu. Sebelum berjualan parfum dia bekerja sebagai tukang urut.

Sambil menghisap sebatang rokok, Syahiran mengaku, ayahnya sudah dua tahun lalu meninggal dunia dan kini dian
tinggal bersama dengan ibunya, dua orang kakaknya, satu abang iparnya dan lima keponakannya.

Diterangkannya, meskipun tinggal bersama dengan orangtuanya dia tidak pernah meminta-meinta. Syahiran menuturkan, dirinya tidak menginginkan seperti sekarang ini tapi sudah ditakdirkan oleh Allah SWT harus diterima dengan ikhlas.

“Waktu ibu saya mengandung, ibu saya bermimpi dua ekor naga saling bertarung dan salah satu naga kalah dan ekornya putus. Ibu saya bermimpi tiga hari sebelum kelahiran saya dan saya lahir dengan keadaan seperti ini ,” ucapnya.

Syahiran menjelaskan, sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar dirinya sering diolok-olok teman-temannya sekelasnya.
“Sewaktu kelas 5 SD, saya diejek teman dan saya juga ditelanjangi oleh mereka secara beramai-ramai. Tidak hanya itu, saya juga diejek mereka dengan kata-kata yang menyinggung hati dan perasaan saya,” bebernya.

Syahiran mengaku, uang hasil jualan  parfum dan sabun cuci disimpankan kepada ibunya.

“Uang hasil jualan yang saya simpan sama ibu sudah Rp1.665.000. Barang yang saya jajakan ini milik kakak saya,” jelasnya.
Syahiran menerangkan, dia dulunya sudah punya pacar, namun, orang tua sang pacarnya menolak dirinya.

“Pas saya ke rumah pacar saya, orangtuanya langsung menolak saya karena keadaan saya. Padahal, saya tidak menginginkan hal ini tapi sudah nasib begini dan saya akan tetap menjalaninya dengan sepenuh hati dan tidak berpangku tangan serta tidak meminta kepada siapa pun,” ujarnya.
Saat ditanyai apakah dia berniat untuk menikah, Syahiran mengaku mempunyai niat tapi tidak tahu kapan. Namun, untuk saat ini niatnya yang utama adalah membuat hati ibunya senang dan merencanakan berusaha sendiri setelah mempunyai uang yang cukup.

“Niat saya, mengumpulkan uang dan membeli sepeda motor roda tiga dan membuka usaha menjual sembako ke kampung-kampung di wilayah Pantai Labu, Batang Kuis,” harapnya.

Ditambah Syahiran, dirinya setiap malam menjajakan parfum tanpa alkohol ini sebanyak tiga kotak dengan satu kotaknya masing-masing berisi 15 botol kecil parfum dan paling banyak terjual hanya dua kotak. “Kalau sedang laris, saya bisa menjual dua kotak. Tapi kalau nasib sedang tidak beruntung, paling habis satu kotak. Yang penting dalam hidupnya ini dijalani apa adanya dan jangan menyerah dengan keadaan. Tetap semangat dalam menjalani hidup,” ungkapnya. (*)

Penjambret Nabrak Angkot

Sial dialami Said Fauzi (29). Warga Jalan Cengkeh Simalingkar itu digebuki warga dan diboyong ke Mapolsekta Medan Baru, Kamis (12/1) petang, karena terjatuh dari sepeda motornya, usai menjambret Yanti  (28) yang berboncengan bersaman suaminya Hendri (30), warga Desa Sunggal Kanan, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang mengendarai sepeda motor Suzuki Smash, di Jalan Abdul Lubis Medan.

Keterangan yang dihimpun, petang itu Yanti dan suaminya berniat untuk membeli pisang goreng. Wanita yang sedang hamil muda anak keduanya itu meluncur di jalanan. Namun usai membeli pisang goreng tiba-tiba pasangan suami istri beranak satu itu dipepet oleh Said Fauzi yang mengendarai sepeda motor jenis Yamaha Vega R.

Said langsung merampas kalung emas seberat 8 gram milik Yanti dari lehernya.

Hendri suami korban kaget langsung berusaha mengejar pelaku hingga akhirnya pelaku menabrak angkot yang sedang melintas, tepat di simpang  Jalan Abdulah Lubis, persisinya di Jalan  Iskandar Muda,  sehingga terjatuh di badan jalan.

Tak mau membuang kesempatan Hendri kemudian langsung meneriaki pelaku yang sedang terkapar dengan sepedamotornya. Warga yang mendengar jeritan Hendri spontan menghakimi sebelum diserahkan ke Mapolsekta Medan Baru

Kapolsekta Medan Baru, Kompol Dony Alexander SiK melalui Kanit Reskrim AKP Andik Eko saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya telah mengamankan seorang pelaku penjambretan dan masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku. (gus)

Developer Disuruh Bongkar Tembok

Kisruh Pembongkaran Masjid Al- Ikhlas Berlanjut

MEDAN- Tuntutan 35 ormas Islam menuntut agar tembok yang dibangun di lahan Masjid Al-Ikhlas, Jalan Timor Medan dipenuhi. Pemko Medan sudah menyurati pengembang agar membongkar sendiri tembok yang sudah dibangun.

“Kita sudah minta agar pengembang membongkarnya sendiri. Sudah kita tegur pengembangnya. Tapi semua kan ada aturan mainnya,” kata Wali Kota Medan, Rahudman Harahap.

Dijelaskan Rahudman, Pemko Medan sudah menyurati dan menegur pengembang untuk membongkarn
sendiri tembok yang sudah dibangun di atas lahan Masjid Al Ikhlas.

Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri juga berjanji akan segera membongkar tembok Masjid Al Ikhlas karena memang terbukti tidak memiliki izin.
“Pembangunan pagar sudah dicek oleh Dinas TRTB sepanjang 100 meter dan tinggi 2 meter. Memang tidak ada izinnya kita akan menyurati pengembang untuk meminta pembokaran. Kalau tidak ada respon maka Pemko yang akan membongkar,” kata Syaiful Bahri.
Sekadar mengingatkan, massa menuntut pembangunan ulang Masjid Al-Ikhlas di Jalan Timor dikembalikan di lokasi awal, yakni lahan yang saat ini sudah dikuasai pihak ketiga.

“Masjid yang dirobohkan harus dibangun kembali ke tempat semula. Kami juga meminta Wali Kota Medan Rahudman Harahap untuk membongkar tembok yang berdiri di masjid kami,” ujar Kordinator Aksi Aliansi Ormas Islam, Hendra Hidayat.

Sekretaris Presedium Aliansi Ormas Islam Pembela Masjid Al Ikhlas, Syahbana juga menyatakan, pihaknya akan menagih janji Pemko untuk membongkar tembok yang sudah dibangun developer, serta meminta agar Masjid Al-Ikhlas tetap harus dibangun kembali di tempat asal.
Pantauan wartawan hingga saat ini tembok di areal Masjid Al Ikhlas di Jalan Timor Medan masih berdiri. Tembok berwarna hijau itu masih terlihat mengelilingi areal lahan Masjid Al Ikhlas yang telah dirobohkan.

Gang Ditembok

Sementara itu, Suri Lestari (46), warga Jalan Jati, Pulo Brayan Bengkel, Medan Timur mengadu ke polisi, karena dianiaya oleh pekerja penembokan Gang Prima di Jalan Jati, Rabu (11/1). Suri mengaku dianiaya saat melakukan protes bersama warga terhadap penembokan gang. Suri mengalami luka di bagian tangan sebelah kanan dan di bagian bibir.

Sesui dengan laporan ke Mapolresta Medan dengan no Pol :LP/78/I/2012/SU/Resta Medan, saat itu Suri baru tiba di depan gang dengan menggunakan mobil pick up. Melihat para pekerja melakukan penembokkan terhadap gang yang menjadi akses warga, Suri turun dari mobilnya dan melakukan protes kepada para pekerja.

Tapi, pekerja itu melawan dan terjadi adu mulut dan berbuntut pemukulan.
“Aku diseret dan dipukul oleh 10 orang. Mereka marah karena aku  meamrkirkan mobil pick up ku di jalan,” kata Suri.
Menurutnya, penembokan tersebut tidak memiliki surat izin mendirikan bangunan (IMB) dari Dinas TRTB. (gus/adl)

Farmasi Terindikasi tak Setor Uang

Dugaan Korupsi Hasil Penjualan Obat di RSU dr Pirngadi Medan

MEDAN-Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejatisu masih menunggu hasil investigasi BPKP terhadap dugaan korupsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan.

“Kita masih menunggu hasil laporan investigasi BPKP. Karena mereka yang melakukan audit itu. Memang audit investigasi memakan waktu lama. Kita tidak tahu kapan pastinya selesai,” ujar Kepala Seksi Penyidikan Bidang Tindak Pidana Khusus, Jufri Nasution SH, Kamis (12/1).
Menurut Jufri, masalah obat melibatkan ribuan orang yang berobat ke Rumah Sakit dr Pirngadi.

“Indikasi penyelewengan dari hasil penjualan obat itu yang dilakukan pihak farmasi tidak disetorkan ke rumah sakit. Dana itu mereka kelola sendiri, ini kan tidak boleh karena ini bagian operasional rumah sakit yang dananya dari APBD Kota Medan,” tegas Jufri. Akibatnya, katanya, anggaran tidak bisa dipakai secara umum di rumah sakit.

Menurut Jufri, sejauh ini piahknya belum bisa mengatakan apakah ada kerugian negara atau tidak, karena hasil investigas belum juga selesai. Pihaknya juga harus mencocokkan bon yang dikeluarkan Askes, sama dengan obat yang dipakai dan dikeluarkan oleh pihak Farmasi.

“Jadi dalam penelusuran memakan waktu yang panjang. Karena kasus ini rentetan mulai obat sampai dengan penggunaannya,” ucapnya. (rud)

Perguruan Tinggi Lokal Terancam Tergilas

Rencana Undang-undang Perguruan Tinggi

MEDAN-Universitas Sumatera Utara (USU) menilai jika rencana pembentukan Rencana Undang-undang Perguruan Tinggi (RUU PT), yang  saat ini sedang digodok oleh DPR adalah sebuah peraturan yang diberlakukan untuk diikuti semua perguruan tinggi. Karena bagi kampus tertua di Sumatera Utara itu, terbentuknya Undang-undang PT diharapkan bisa meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di Sumatera Utara.

“Kita mengikuti apa saja peraturan yang sudah diberlakukan nantinya. Undang-undang tersebut juga masih dibahas oleh anggota dewan. Bagi USU yang terpenting terbentuknya undag-undang itu bisa meningkatkan kualitas pendidikan,” ujar Kabag Humas USU, Bisru saat dikonfirmasi, Kamis (12/1).
Bisru mengaku, dalam pembahasan rancangan UU PT tersebut, USU tetap menyuarakan masalah anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Pasalnya, masih banyak kebutuhan di bidang pendidikan semisal soal gaji guru, dosen, sertifikasi dan penelitian yang menyangkut persoalan pendidikan.
Sementara itu, Fajri Nursyamsi, dari lembaga peneliti hukum dan kebijakan Indonesia mengatakan RUU PT memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan wajah pendidikan tinggi Indonesia di masa depan, terutama dalam hal pengelolaan perguruan tinggi.

Pemimpin Umum Suara USU, Wan Ulfa Nur Zuhra, malah menilai beberapa pasal dalam RUU PT membuka lebar pintu untuk komersialisasi dan kapitalisasi dalam dunia pendidikan, seperti pasal yang mengklasifikasikan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.

“Hal ini menyebabkan kastanisasi dalam dunia pendidikan. RUU PT juga membuka kesempatan bagi perguruan tinggi asing untuk membuka cabang di Indonesia yang mengakibatkan universitas lokal akan tutup dan kalah bersaing,”ujar Wan Ulfa, di sela-sela acara seminar.
Sehingga seharusnya USU bisa mengambil sikap dalam perencanaan RUU PT. Namun, bilangnya, USU seakan tidak peduli untuk membahasa hal tersebut. (uma)

Was-was Menunggu Hasil

BAGI kubu PSMS, kemenangan atas PTPN 3 tak serta merta membawa mereka ke semi final. Itu karena di laga awal mereka kandas cukup telak 3-0 atas PON Sumut. Artinya, kepastian lolos tidaknya Kinantan Muda, masih menunggu laga terakhir Pool A antara PON Sumut kontra PTPN 3.

PSMS  harus menanti laga itu dimenangi PON Sumut, atau minimal imbang saja. Karena saat ini PSMS sudah kantongi tiga angka sama dengan yang dicapai PON Sumut. Sedangkan bagi PTPN 3, mereka harus menang minimal 1-0 atas PON Sumut untuk menjamin langkah ke semi final.

“Saat ini memang kami dalam posisi yang relatif aman. Kami masih berharap agar PON Sumut berhasil menang atas PTPN 3. Dengan begitu kami bisa lolos ke babak semi final,” kata Jefri  Zal pelatih PSMS.

Namun begitu, PSMS tetap akan menyiapkan tim menyongsong babak semi final. Berbagai perubahan akan disiapkan tim pelatih.
“Apa yang diterapkan anak-anak sudah cukup bagus. Tapi kita tak bisa berpuas diri, karena gol kemenangan memang sangat beruntung,” lanjut Jefri Zal.
Sementara bagi PTPN 3, kemenangan atas PON Sumut yang merupakan favorit juara di ajang ini wajib dicanangkan. Tak ada yang tak mungkin dalam sepak bola. Dan itu yang coba diusung skuad asuhan Syaiful Amri tersebut.

“Mau tak mau kami memang harus menang melawan PON Sumut. Berat memang, tapi kami harus memberikan hasil maksimal. Kami butuh kemenangan, meski dengan skor tipis. Minimal 1-0,” kata Syaiful.

Sementara di pihak PON Sumut juga didapat optimisme. Mereka akan tetap menarget kemenangan agar menjaga sportivitas.
“Kami tentu mau main untuk menang bukan imbang apalagi kalah,” kata pelatih PON Sumut, Rudi Saari. (ful)