27 C
Medan
Monday, January 12, 2026
Home Blog Page 14142

Muhasabah di Bulan Muharam

Perputaran waktu terus bergulir seiring dengan perputaran matahari. Dari hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan, tanpa terasa kita sampai pada suatu putaran bulan Muharam yang merupakan permulaan dari putaran bulan dalam kalender hijriyah. Banyak dari saudara kita yang menjadikan bulan Muharram ini sebagai momentum, sehingga memperingatinya merupakan suatu hal yang menjadi keharusan bahkan terkadang sampai keluar dari syari’at Islam. Padahah Rasul Shalallaahu Alaihiwassalam dan para sahabatnya serta ulama pendahulu umat tidak pernah melakukan hal tersebut.

Mestinya kita banyak bertafakur untuk bermuhasabah atas bertambahnya umur, karena sesungguhnya dengan bertambah-nya umur berarti hakekatnya berkurang kesempatan untuk hidup di dunia ini. Allah menciptakan kita hidup di muka bumi ini bukan untuk sia-sia. Tanpa tujuan yang jelas. Sebagaimana kita tahu bersama bahwa Allah menciptakan makhluk bernama manusia tiada lain hanya untuk beribadah kepadaNya. Allah berfirman di dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 sebagai berikut:

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu (beribadah kepadaKu).”

Hidup di dunia ini sementara bukan kehidupan yang abadi atau kekal, dan dunia ini hanya merupakan persinggahan, yang tujuannya adalah kehidupan yang kekal abadi yaitu kehidupan akhirat. Berkenaan dengan ini Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya: “Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al-A’la: 17).
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kebaikan dan kekekalan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Maka seorang yang beriman kepada Allah, dia harus lebih memanfaatkan kehidupan dunia ini dengan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan kehidupan yang abadi tersebut. Dan menjadikan dunia ini sebagai sarana menuju kehidupan akhirat yang lebih baik. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hasyr: Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat) dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr: 18).

Lalu bekal apa yang akan kita bawa menuju kehidupan yang penuh dengan kebaikan tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah yang kita banggakan? Atau keturunankah? Saya keturunan raja, bangsawan atau kyai. Ternyata bukan itu semua, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa dan Maha Suci tidak memandang yang lain dari hambaNya kecuali taqwa hambaNya. Sebagaimana Allah ingatkan dalam firmanNya:

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”.

Jelas bagi kita bahwa bekal yang harus kita persiapkan tiada lain hanyalah taqwa, karena taqwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Allah berfirman dan mengingatkan kita semua dalam surat Al-Baqarah:
Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal”. (QS. Al. Baqarah: 197).

Sering kita mendengar kata takwa dari ustad, mubaligh dan para penceramah, namun bagi kebanyakan kita antara perbuatan dengan apa yang didengar tentang takwa jauh dari semestinya. Mengapa demikian? Di antara sebabnya mereka belum tahu hakekat takwa, tingkatan dan buah dari takwa tersebut. Sehingga hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri tanpa adanya perhatian penuh terhadap pentingnya bertakwa yang merupakan sebaik-baik bekal bagi kehidupan dunia ini terlebih kehidupan akhirat nanti.

Ar-Rafi’i menyatakan dalam Al-Mishbahul Munir Fi Gharibisy Syahril Kabir, “Waqahullahu Su’a” artinya Allah menjaga dari kejahatan. Dan kata Al-Wiqa’ yaitu segala sesuatu yang digunakan sebagai pelindung. Itulah arti takwa secara bahasa. Sedangkan takwa menurut syariat para ulama berbeda pendapat, namun semuanya bermuara pada satu pengertian, yaitu seorang hamba melindungi dirinya dari kemurkaan Allah, dan juga siksaNya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangNya. Ibnu Qayyim menyatakan, hakikat takwa adalah mentaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan ataupun perkara yang dilarang. Maka dia melakukan perintah itu karena imannya terhadap apa yang diperintahkanNya disertai dengan pembenaran terhadap janjiNya, dengan imannya itu pula ia meninggalkan yang dilarangNya dan takut terhadap ancamanNya.

At-Takwa dalam Al-Qur’an mencakup tiga makna yaitu: pertama: takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah. Hal itu seperti firmanNya:

Artinya: “Dan hanya kepadaKulah kamu harus bertakwa.” (Al-Baqarah: 41).
Kedua: Bermakna taat dan beribadah, sebagaimana firmanNya:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa”. (Ali Imran: 102).

Ibnu Abas Radhiallaahu anhu berkata, “Taatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketaatan.”
Mujahid berkata, “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Ketiga, dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Maka inilah hakikat takwa dari makna takwa, selain pertama dan kedua. Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang mentaati Allah dan rasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka itulah orang yang beruntung”. (An-Nur: 52).
Para mufassir juga berkata, bahwa takwa mempunyai tiga kedudukan:

  1. Memelihara dan menjaga dari perbuatan syirik
  2. Memelihara dan menjaga dari perbuatan bid’ah
  3. Memelihara dan menjaga dari perbuatan maksiat.

Sehingga seorang disebut muttaqin, selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam keadaan taat secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib, nawafil (sunnah), meninggalkan kemaksiatan berupa dosa besar dan kecil. Serta meninggalkan yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa, itulah cakupan takwa sebagaimana dimengerti oleh salafush shalih.

Apa yang kita dapatkan bila bertakwa kepada Allah?

Allah Ta’ala menjanjikan kepada kita, akan berada dalam kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Di antara janji Allah yang merupakan buah dari takwa adalah memberikan jalan keluar dan mendatangkan rizki. Allah Ta’ala berfirman:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-Thalaq: 2-3).

Mengadakan jalan keluar artinya menyelamatkannya dari setiap kesulitan di dunia dan akherat. Ibnu ‘Uyainah berkata itu artinya, ia mendapat keberkahan dalam rizkinya. Dan Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Barangsiapa berlepas dari kuatnya kesulitan dengan kembali kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dari beban yang ia pikul. “ (Jami Ahkamiil Qur’an, VIII: 6638-3369, secara ringkas) Dan balasan bagi mereka di akhirat yang jelas adalah akan mewarisi tempat yang merupakan dambaan setiap insan yaitu Surga dengan segala kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman:

“Itulah Surga yang akan kami wariskan kepada hamba-hamba kami yang selalu bertakwa” (Maryam: 63).
Demikianlah kita sebagai hamba Allah, sudah semestinya dalam menghadapi bulan Muharam ini dengan bertafakkur, sudah sejauh mana persiapan kita menghadapi kehidupan yang abadi tersebut. Yang terkadang kita begitu bersemangat dan penuh antusias menggapai kehidupan yang fana ini. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Oleh Faqihuddin (alsofwah.or.id)

Indonesia Setara Negara Maju

Masuk Investment Grade, Pertama Sejak Krismon

Perekonomian Indonesia mendapat kado yang ditunggu-tunggu di akhir tahun. Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings kemarin menaikkan rating Long-Term Foreign- dan Local-Currency Issuer Default Ratings (IDR) Indonesia menjadi BBB- dari semula BB+.

Fitch memberi outlook Stabil atas kedua peringkat tersebut. Dengan demikian, untuk kali pertama sejak krisis moneter 1997, Indonesia masuk jajaran investment grade (negara yang masuk dalam pantuan radar investor global) sebagaimana disandang negara-negara maju.

“Kenaikan peringkat ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, rasio utang publik yang rendah dan terus menurun, likuiditas eksternal yang menguat, dan kerangka kebijakan makro yang hati-hati,” kata Director Group Fitch’s Asia-Pacific Sovereign Ratings Philip McNicholas dalam keterangan resminya kemarin.

Menanggapi itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan, upgrade peringkat utang membuktikan keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi makro sekaligus mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi. “Dengan memasuki investment grade level ini, diharapkan penguatan fundamental ekonomi dan reformasi struktural terus berlanjut,” sebut Darmin.

Pasca krisis moneter, Indonesia sempat terjerembab dalam rating selective default karena pernah meminta penundaan pembayaran utang melalui Paris Club. Kini, Indonesia kembali menyandang predikat investment grade. Fitch memproyeksikan pertumbuhan PDB rata-rata lebih dari 6,0 persen per tahun selama periode proyeksi atau hingga 2013. Hebatnya, proyeksi optimistis itu disematkan ketika kondisi ekonomi global yang kurang kondusif. Ekonomi Indonesia berorientasi domestik dan keberhasilan menciptakan pertumbuhah ekonomi yang relatif kuat tanpa menimbulkan ketidakseimbangan eksternal.

Indonesia juga tidak bergantung pada pendanaan eksternal jangka pendek.
Menurut Fitch, ini memperlihatkan prospek pertumbuhan ekonomi akan tahan terhadap guncangan eksternal sebagaimana terjadi pada 2008. Utang publik yang rendah dan suku bunga riil yang positif, bakal menyediakan fleksibilitas kebijakan untuk merespons pelambatan ekonomi.

Tingkat kepercayaan yang lebih tinggi atas kerangka kebijakan makro merupakan kunci dari kenaikan peringkat RI. Toleransi terhadap penguatan mata uang nominal dalam kerangka kebijakan moneter, dan kesediaan untuk mengetatkan kebijakan jika inflasi mencapai single digit yang tinggi, serta kebijakan fiskal yang hati-hati memperkuat dasar kenaikan peringkat.

Rasio utang pemerintah bruto terhadap PDB diperkirakan akan turun dari 26 persen pada akhir 2010 menjadi 25 persen pada akhir 2011. Ini jauh dibawah median BBB yaitu 36 persen.

Meski demikian, Fitch mengingatkan, perlu perbaikan kelemahan struktural yang sudah berlangsung lama. Seperti, pendapatan rata-rata yang rendah. Rata-rata pendapatan kini adalah USD 3.600, jauh dari rata-rata peringkat -BBB- USD 9.800 pada 2011. Masalah lain adalah yang mempengaruhi iklim bisnis, termasuk infrastuktur yang lemah dan masih adanya masalah korupsi. Fitch berpendapat kondisi politik telah menjadi kurang kondusif terhadap reformasi. Ini membuat profil kredit sovereign Indonesia kemungkinan akan tetap berada pada kisaran -BBB- yang lemah untuk sementara waktu. Sehingga, ditetapkan Outlook Stabil pada peringkat ini.(sof/kim/jpnn)

Bangun Kesehatan Untuk Kesejahteraan Rakyat

Wali Kota Buka Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Kota Medan

Pembangunan di bidang kesehatan merupakan satu tujuan penting dalam melahirkan kesejahteraan rakyat di era globalisasi.

Apalagi, bidang kesehatan termasuk satu bidang yang tercantum dalam kesepakatan millenium development goals  (MDG’S).

Demikian dikatakan Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM dalam acara pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Kota Medan 2011, Kamis (15/12) di Emerald Garden. Dalam kegiatan itu, dihadiri Wakil Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi dan narasumber dari Jakarta seperti drg  M Kamrul Zaman, serta sejumlah peserta dari jajaran Dinas Kesehatan Kota Medan, seperti Kepala Puskesmas se-Kota Medan, kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan pemerhati kesehatan.

Rahudman mengatakan, pemerintah daerah melalui sistem desentralisasi dan otonomi daerah diberikan wewenang dalam menyelenggarakan dan mengelola kesehatan. Dengan adanya sistem itu, hampir di seluruh sektor termasuk kesehatan, diharapkan mampu melakukan percepatan pembangunan di bidang kesehatan. Sedangkan Kota Medan terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, meliputi isu penurunan angka kematian ibu dan anak, gizi buruk, pelayanan  dan pelayanan rumah sakit, penyakit menular dan lainnya.

Orang nomor satu di Kota Medan ini mengharapkan, melalui Rakerkesda mampu meformulasikan program yang menjawab tantangan isu kesehatan dan bisa menjadi bagian dalam peningkatan derajat kesehatan serta terjalinnya kerja sama dengan berbagai sektor dan institusi yang memiliki komitmen tinggi terhadap masalah kesehatan di Kota Medan.

“Rapat kerja ini dalam rangka lebih meningkatkan sinergitas bagi seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kota Medan dan steakholder seperti PKK, lembaga swadaya masyarakat (LSM), pemerhati kesehatan dan rumah sakit agare bisa bebar-benar menjadikan masyarakat terlayani dengan berbagai kemudahannnya,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan upaya meningkatkan derajat kesehatan ini tergantung bagaimana komitmen semua pihak, sehingga yang terpenting adalah agar seluruh jajaran kesehatan Kota Medan termasuk, PKK, kader-kadernya mampu bersinergi membangun perbaikan pelayanan yang semakin dirasakan dan dinikmati masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Medan dr Edwin Effendi MSc melaporkan, tujuan dari Rakerkesda untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Medan, menetapkan arah strategi, memfokuskan kinerja masalah kesehatan, terjalinnya kerja sama dengan berbagai sektor di bidang kesehatan, dan sebagai persiapan program kerja kesehatan dengan skala prioritas yang objektif di tahun mendatang.

“Kegiatan Rakerdakes ini berlangsung selama dua hari kerja dengan peserta sebanyak 150 orang, sasaran yang diharapkan bisa tercapainya komitmen dan kesepakatan dari peserta agar tercapainya MDG’S,” cetusnya.(adl)

Sertifikasi Guru Agama Swasta Belum Dibayar

082168059xxx

Uang sertifikasi guru agama swasta SLTA se-Kota Medan 2011-2012 belum dibayar Kemenag Kota Medan. Kepada Yth Bapak Kakan Kemenag Kota Medan. Kami atas nama guru Agama Swasta se-Kota Medan menanyakan kepada Bapak mengapa sampai hari ini kami belum juga menerima hak kami? Sedangkan pemberkasan kedua pun kami sudah kirim beberapa bulan yang lalu. Ada apa sebenarnya Pak? Mohon jangan sampai kami melakukan demo yang pada gilirannya akan mengganggu KBM dan merugikan anak murid. Demikian kami sampaikan, terimakasih dan mohon perhatian Bapak DPRD Kota Medan dan thanks kepada Sumut Pos, semoga jaya terus.

Harap Bersabar

Terima kasih atas informasi dan pertanyaan yang disampaikan kepada kami. Dapat saya jelaskan, tidak serta merta semua guru yang sudah tersertifikasi langsung dapat dana sertifikasi tersebut. Namun, guru-guru yang menerima dana sertifikasi tersebut adalah guru-guru yang sudah memiliki Nomor Register Guru (NRG). Nah, jika sudah ada NRG baru dananya bisa diamparah. Selain itu, ada lagi revisi anggaran dari pusat. Inilah kendala-kendala yang sering kita hadapi dalam penyaluran dana sertifikasi tersebut.

Sedangkan mengenai adanya guru-guru yang sudah menerima dan ada yang belum, mungkin ada yang mendahulukan, atau bisa juga guru-guru tersebut memang sudah punya NRG. Karenanya, saya mengimbau agar guru-guru tersebut bersabar. Jika belum ada NRG-nya, maka tunggulah NRG tersebut keluar, baru dana sertifikasi tersebut bisa dicairkan.

Syariful Mahya Bandar
Kepala Kanwil Kemenag Sumut

Kemenag Harus Transparan

Berdasarkan laporan dan jawaban mengenai keluhan guru-guru agama ini, saya menilai masalah sertifikasi ini dikelola secara tidak transparan. Buktinya, masih ada guru-guru yang mempertanyakannya, karena mereka merasa berhak menerimanya. Saya juga melihat, komunikasi dan informasi yang terjalin antara Kemenag dengan guru-guru tidak transparan. Untuk itu, kita meminta Kemenag harus mempublikasikannya kepada guru-guru secara transparan sehingga mereka mengetahui apakah mereka sudah berhak atau belum menerima dana sertifkasi tersebut. Guru-guru juga harus proaktif mencari informasi ke Kemenag seperti apa prosedurnya dan segera lengkapi persyaratannya, sehingga tak terjadi lagi keterlambatan pencairan dana sertifikasi tersebut.

H Salman Alfarisi Lc MA
Anggota Komisi B DPRD Kota Medan

Medan, Metropolitan dengan Udara Terbersih

Raih Penghargaan Langit Biru dari Menteri Lingkungan Hidup

JAKARTA-Wajah Wali Kota Medan Rahudman Harahap sumringah. Rabu (14/12), dia kembali menerima Penghargaan Langit Biru untuk kategori Kota Metropolitan dari Menteri Lingkungan Hidup (LH) Balthazar Kambuaya.

Kota Medan selevel dengan Kota Surabaya dan Kota Jakarta Timur, yang juga meraih penghargaan serupa. Tiga Kota ini dinilai berhasil menekan konsumsi bahan bakar minyak dan menurunkan emisi gas.

Hanya skor nilai yang berbeda yakni Surabaya dengan nilai 7,21, Kota Medan dengan nilai 6,72, dan Kota Jakarta Timur 6,57.

Menteri LH Balthazar Kambuaya menjelaskan, penghargaan ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi masalah pemanasan global dan perubahan iklim, yang sudah menjadi isu dunia.

“Kami berharap program Langit Biru bisa mendorong upaya menurunkan konsumsi bahan bakar minyak dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujar Balthazar Kambuaya saat acara penyerahan hadiah simbolis berupa sepeda kepada pemenang, di Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan, kemarin.

Menurut Kambuaya, kualitas udara penting karena bisa mendukung pembentukan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah, mulai dari tingkat pusat, provinsi, sampai kabupaten dan kota, wajib menyediakan udara yang bersih dan segar. “Kewajiban tadi merupakan amanah yang diberikan bangsa kepada pemerintah,” tegas mantan rektor Universitas Cendrawasih itu.
Kambuaya menjelaskan, selain harus menyediakan udara berkualitas bagus, pemerintah juga wajib menyediakan air yang layak minum. Tidak ketinggalan juga menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat. Khusus untuk kondisi udara, menteri pengganti Gusti Muhammad Hatta itu mengatakan sulit sekali dipantau. “Jika air gampang. Jika dilihat keruh berarti tidak layak,” terangnya.

Untuk itu, program Langit Biru ini cukup penting karena membantu pemerintah setempat mengetahui kondisi kualitas udara. Bagi daerah yang kualitas udaranya masih buruk, diharapkan bisa segera meningkat dengan cepat.

Bagaimana mekanisme penilaiannya? Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Karliansyah, menjelaskan, aspek yang dinilai meliputi aspek  fisik dan nonfisik.

Untuk aspek fisik, tim penilai melakukan uji emisi kendaraan bermotor selama tiga hari di masing-masing kota. Penelitian ini dilakukan serentak di tiga ruas jalan raya yang sudah ditetapkan. Hal-hal yang dipantau adalah kondisi SO2, CO, NO2, HC, dan PM10. Setiap harinya, uji emisi dilakukan terhadap 500 kendaraan pribadi.

Tim penilai juga melakukan pengukuran kualitas udara di jalan raya utama masing-masing kota. Kerapatan kendaraan yang melaju di jalan raya juga menjadi bagian penilaian.

Karliansyah menjelaskan, untuk aspek nonfisik, tim penilai mengkaji upaya Pemko dalam pengurangan polusi. Kebijakan masalah transportasi yang ramah lingkungan juga menjadi aspek penilaian nonfisik. “Tim melakukan penilaian pada Maret hingga September 2011,” terang Karliansyah.

Sayang, Karliansyah tidak menjelaskan tiga ruas yang dinilai oleh tim penilai. Namun, jika mengarah pada program car free day yang digelar Pemko Medan maka tersebutlah beberapa ruas jalan yang dimaksud seperti Jalan Suprapto, Multatuli, Haji Misbah, Saman Hudi, Sudirman, Imam Bonjol, Cut Nyak Din, A Rivai, Agus Salim, Sam Ratulangi, Selamat Riadi, Linggar Jati, Suryo, Juanda, Walikota, S Parman, Uskup Agung, DR Cipto, Cit Dik Tiro, Hang Kesturi, dan Gatot Subroto.

Selain kategori Kota Metropolitan, KLH juga membuat penilaian untuk kategori kota besar. Untuk kategori ini, Kota Surakarta mendapatkan nilai tertinggi dengan nilai 8,42, disusul Kota Batam (8,31) dan Kota Malang (7,53).

Program langit biru ini sendiri diikuti 26 kota metropolitan. Antara lain, lima kota di DKI Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, Tangerang, Makassar, Palembang, dan Bekasi. Kemudian, untuk kota besar, ada 12 kota yang bersaing. Antara lain, Surakarta, Batam, Malang, Bogor, Yogyakarta, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, dan Padang.

Terkait dengan penghargaan ini, Rahudman Harahap berujar keberhasilan tersebut tak lain adalah hasil dari kerja sama segala lini. “Jadi mari kita terus menjalin kebersamaan dengan masyarakat dengan membulatkan tekad, hanya dengan kebersamaan kota ini dapat kita bangun,” kata Rahudman ketika membuka Jambore Posyandu Kota Medan 2011 di Jalan Karya Wisata, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Selasa (13/12) lalu.

Sebelumnya Medan meraih penghargaan Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaaan Umum Kategori Kota Metropolitan dari Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan penghargaan ICT Pura Tahun 2011 dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Tifatul Sembiring.

Menariknya tidak hanya Medan yang mendulang prestasi. Langkat dan Deliserdang juga mendapat penghargaan dari pemerintah pusat belum lama ini. Kabupaten Langkat menerima penghargaan dalam hal peningkatan produksi beras nasional. Penghargaan berlabel Atyalancana Wirakarya yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu diserahkan langsung oleh Menteri Pertanian Suswono di Ruang Auditorium Kementerian Pertanian Jakarta Selatan kepada Bupati Langkat Ngogesa Sitepu. Sedangkan Deliserdang meraih Adhikarya Pangan Nusantara.

Bupati Deliserdang Amri Tambunan bersama 15 kepala daerah lain meraih penghargaan ini di kategori pembina ketahanan pangan. (sam/adl)

Kota dengan Udara Terbersih

Kota Metropolitan

  1. Surabaya (7,21)
  2. Medan  (6,72)
  3. Jakarta Timur (6,67)

Kategori Kota Besar

  1. Kota Surakarta (8,42)
  2. Kota Batam (8,11)
  3. Kota Malang (7,53)

Aspek Penilaian Fisik

  1. Uji emisi kendaraan bermotor selama tiga hari di masing-masing kota. Setiap harinya, uji emisi dilakukan terhadap 500 kendaraan pribadi
  2. Pengukuran kualitas udara di jalan raya utama masing-masing kota
  3. Kerapatan kendaraan yang melaju di jalan raya

Nonfisik

  1. Mengkaji upaya Pemko dalam pengurangan polusi
  2. Kebijakan masalah transportasi yang ramah lingkungan

Waktu Penilaian

  • Maret hingga September 2011

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup

Bos BUMN Dilarang Gunakan Staf Ahli

SBY Instruksikan Laporan Tahunan Melibatkan Media Massa

JAKARTA-Terobosan demi terobosan terus bergulir di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kali ini, kebijakan menyentuh aspek efisiensi pada struktur dewan komisaris atau dewan pengawas, maupun dewan direksi BUMN.

Wakil Menteri BUMN Mahmuddin Yasin mengatakan, saat ini Direksi, pejabat di bawah Direksi serta Dewan Komisaris/Pengawas BUMN dilarang untuk mengangkat staf ahli atau staf khusus, atau nama lain yang sejenis. “Selain itu, staf ahli atau staf khusus yang telah ada, agar ditiadakan paling lambat 1 Januari 2012,” ujarnya melalui surat Menteri BUMN bernomor S-375/MBU.Wk/2011 yang dikutip Jawa Pos (grup Sumut Pos) Rabu, (14/12).

Selama ini, sebagian direksi maupun komisaris BUMN memang gemar menggunakan staf ahli atau staf khusus. Alasannya, untuk membantu kinerja direksi/komisaris. Namun, kenyataannya, justru menimbulkan inefisiensi dan memperpanjang birokrasi.

Sedangkan untuk staf ahli atau staf khusus yang diangkat oleh pejabat di bawah direksi, lanjut Yasin, harus ditiadakan paling lambat tanggal 1 Juli 2012. “Dewan Komisaris/Pengawas juga hanya boleh memiliki komite audit dan dapat memiliki satu komite lainnya dengan keanggotaan masing-masing komite sebanyak dua orang,” katanya.
Selain perampingan struktur dewan direksi dan dewan komisaris/pengawas, kebijakan penting lain yang sudah resmi menjadi keputusan Kementerian BUMN adalah larangan rangkap jabatan.

“Anggota Dewan Komisaris/Dewan Pengawas BUMN hanya diperkenankan menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris/Dewan Pengawas pada satu BUMN. Selanjutnya, Kementerian BUMN akan melakukan penataan sesuai kebijakan tersebut,” terangnya.

Terkait ketentuan rapat pimpinan tiap hari Selasa, Yasin menyebut bahwa Direksi dan Dewan Komisaris/Pengawas agar melakukan rapat gabungan minimal satu kali setiap bulan. “Rapat tersebut hanya dihadiri anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris/Pengawas, Sekretaris Perusahaan, dan Sekretaris Dewan Komisaris/Pengawas,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, selama ini banyak rapat direksi dan komisaris yang berlangsung tidak efektif akibat banyaknya pihak lain yang ikut dalam rapat. “Biasanya, komisaris membawa anggota komite dan direksi juga membawa staf,” katanya.

Namun, lanjut Dahlan, dalam rapat, justru anggota komite dewan komisarislah yang banyak bertanya dan bahkan tidak jarang hanya menyalah-nyalahkan direksi. “Direksi akhirnya enggan menjawab, sehingga yang menjawab adalah pejabat di bawah direksi. Jadi, dalam rapat itu yang banyak diskusi dan debat malah yang duduk di belakang komisaris dan direksi. Karena itu, kondisi semacam ini harus diubah,” tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Dahlan Iskan menginstruksikan kepada perusahaan-perusahaan BUMN besar agar membuat laporan tahunan kepada publik.

“Saya tiga menit yang lalu ditelepon oleh Presiden untuk menginstruksikan kepada perusahaan BUMN agar membuat laporan tahunan kepada publik,” kata Dahlan Iskan, di sela Rapat Koordinasi BUMN di Jakarta, Senin (12/12) lalu.
Di hadapan seluruh direksi dan komisaris BUMN, Dahlan menyarankan agar membuat laporan tahunan secara menarik, yakni dengan menonjolkan prestasi-prestasi yang dicapai perusahaan BUMN masing-masing.

Selama ini, lanjutnya, laporan tahunan dipaparkan secara telanjang sehingga tidak menarik. Ada juga laporan tahunan BUMN yang dipaparkan secara kaku dan membosankan.

“Saya usul agar bekerja sama dengan media massa. Undang redaksi media massa, diskusi, ceritakan secara umum. Nanti, biarkan media massa yang memilih dan meliput,” katanya.

Dahlan juga meminta, agar direksi BUMN tidak menentukan materi peliputan prestasi kinerja perseroan. “Kalau semau kita, belum tentu cocok oleh masyarakat. Tetapi, kalau dari kacamata media sudah tentu menarik bagi masyarakat,”ujarnya.

Dengan adanya publikasi oleh media massa ini, lanjut Dahlan, Presiden SBY dapat memantau prestasi BUMN tersebut secara langsung. Untuk itu, ia meminta agar para perusahaan BUMN menonjolkan prestasinya sebaik mungkin di media massa. (owi/bbs/jpnn)

Sempat tak Boleh Audisi karena Cacat

Muhammad Bangun Harahap, Peserta Indonesia Idol yang Gagal ke Jakarta

Karena banyak yang mengatakan suaranya bagus dan berkualitas, menjadi pengamen dipilihnya untuk menyambung hidup. Dengan keadaan terbatas (cacat), Muhammad Bangun Harahap (25) mencoba peruntungan dalam kontes menyanyi. Melihat dan menyaksikan kesuksesan yang diraih para pemenang, membuat semangatnya terus berkobar untuk tetap mengikuti kontes Indonesia Idol.

Juli Ramadhani Rambe, Medan

Walau tak sampai melangkah ke Jakarta, tetapi kegagalan tersebut bukan membuat dirinya lemah dan hilang semangat. “Saya sadar dengan keadaaan saya yang kekurangan, tetapi saya bangga dengan diri saya, pengamen, cacat, tetapi sudah ketemu langsung dengan Anang Hermansyah, salaman, dan berpelukan,” ungkap Bangun.

Baginya, tidak semua orang dapat ketemu dan salaman langsung dengan artis sekelas Anang. Apalagi, dirinya cacat dan bekerja sebagai pengamen. “Orang normal saja mungkin agak sulit, mungkin karena mereka tidak mau atau apalah. Tetapi saya yang orang biasa yang sehari-harinya di jalan, merasa senang dan bangga,” tambahnya.
Tahun 2010 yang lalu, Bangun yang lahir normal ini sudah mencoba untuk mengikuti pemilihan Indonesia Idol, tetapi belum memasuki registrasi, Bangun sudah disuruh pulang. “Panitia kasihan dengan saya, cacat dan tinggi badan yang tidak memadai, sehingga mereka nyuruh pulang,” tambahnya.

Pengalaman pertama yang tidak menyenangkan tersebut tidak membuatnya berkecil hati. Malah sebaliknya, melihat kesuksesan yang diraih pemenang Indonesia Idol terdahulu membuat semangatnya kembali berkobar. Bahkan, menurutnya, manajemen dari Indonesia Idol terjun langsung untuk menjaga eksistensi pemenang. “Kelihatannya mereka profesional menjaga artis yang diorbitkannya, biar tetap eksis, jadi semangat. Siapa tahu, jadi pemenang,” ungkapnya di Unimed, akhir pekan lalu.

Semangat yang terus dijaganya, kembali dituangkannya dalam audisi Indonesia Idol 2011 di Medan Selasa (13/12) lalu. Walau mengantre berjam-jam, berdesakan dan haus, tidak membuatnya lelah dan berhenti bermimpi. Terbukti, semangat dan mimpi tersebut membuatnya dapat bertemu dengan Anang Hermansyah, anggota juri Indonesian Idol. Tahap demi tahap seleksi Indonesia Idol dijalaninya dengan semangat. Walau mimpi untuk menjadi sukses untuk sementara terhenti, tetapi bukan berarti mimpinya harus berhenti. “Aku sudah nyanyi di depan Anang, Dhani, dan Nina Taman. Itu saja sudah menjadi kebanggaan kok. Walau ada rasa sedih karena tidak bisa ke Jakarta,” tambah lelaki kelahiran Medan 23 Juli 1986 ini.

Dalam penampilannya di depan dewan juri Indonesian Idol, Bangun tampil seperti biasa dirinya mengamen, dengan membawa ‘perlengkapan perang’ nya berupa gitar kecil (ukulele) dan harmonika, 2 lagu berhasil diperdegarkan ke hadapan dewan juri. “Awalnya grogi, tetapi ketika sudah mulai menyentuh gitar, seperti main biasa, aku anggap dewan juri seperti pelanggan yang sering dengar aku nyanyi,” ungkap anak pertama dari 5 bersaudara ini.

Awalnya, niat mengikuti audisi ini untuk menyenangkan orangtua, terutama sang bunda yang mengharapkan dirinya untuk mencoba. Tetapi setengah perjalanan, mimpi untuk dapat memberikan yang terbaik kepada orangtua menjadi niatnya. “Kami sekeluarga syukur diberi rezeki, belum banyak tapi ada. Aku ingin memberikan yang lebih, biar orangtua dapat merasakan hidup yang lebih enak,” tambahnya.

Semangat sang bunda juga terlihat dalam antusias sang ibu yang mengantar dan menemani Bangun ke lokasi audisi, baik saat audisi terbuka hingga ketemu juri. “Mamak terus menemani aku, bahkan dibawakan makanan untuk makan siang, jadi aku tetap semangat,” ujarnya.

Diakuinya, kegagalan ini bukan hanya dirinya yang sedih, tetapi sang bunda dan teman seperjuangannya dalam mengamen juga ikut sedih, karena mereka yakin bahwa suara Bangun berkualitas. Bahkan, sang teman yang bernama Hendrik rela tidak mengamen untuk mendukung Bangun dengan membawakan gendang. “Bukan hanya lagu pop yang aku bisa, terkadang dan sering aku nyanyikan lagu dangdut, ni baca tulisan di gitar aku, Kpj dut,” ujarnya sambil menunjukkan gitar kesayangannya.

Keahliannya dalam menyanyi didapatkannya secara otodidak, tidak ada les musik atau belajar secara khusus. Karena sering bernyanyi di depan umum, mengingat kerjanya sebagai pengamen, secara tidak langsung melatih dirinya. Bahkan untuk saat ini, ada sekitar ratusan lagu yang sudah dihapal. “Karena mengamen aku jadi pintar nyanyi, kalau les atau sekolah musik tidak mungkin karena tidak ada biaya,” tambahnya.

Selain mengamen kegiatn lain yang dilakoninya adalah sebagai penjual koran, Posmetro Medan (grup Sumut Pos). Menjual koran dilakoninya dari pagi hingga siang hari di lampu merah Pulo Brayan. Saat matahari sudah tenggelam, mengamen menjadi kerjaan lanjutannya, tidak hanya di simpang lampu merah Pulo Brayan, tetapi juga di warkop Elizabeth di Jalan H Misbah, Jalan Pandu dan tempat lainnya. Bahkan dengan mengamen bisa membawa dirinya ke Aceh. “Ikut bus ke Aceh untuk mengamen, gratis, jalan-jalan dan dapat uang,” ungkapnya sambil tertawa.

Cacat kaki pada dirinya, disadarinya akan membuatnya tidak dapat bergerak seperti orang normal pada umumnya. “Aku berguru di jalan, sehingga aku menyadari keadaan aku. Kekurangan aku ini juga yang membuat aku menghargai setiap orang dan tetes keringat yang aku keluarkan,” tambahnya.

Kecelakaan yang merenggut kesempurnaan pada dirinya dianggap sebagai cobaan dan tanggung jawab sebagai seorang abang, yang harus menjaga adik. “Kecelakaan ini terjadi saat aku kelas 4 SD, waktu menyeberang, adikku ketinggalan di belakang. Jadi aku balik untuk jemput adikku, saat itu ada mobil yang nabrak, hingga aku sakit panas. Awalnya orangtua anggap sakit panas karena kecelakaan, tetapi lama kelamaan, kakiku sebelah kiri jadi mengecil, sehingga membuat aku sulit untuk berjalan,” ungkapnya.

Menyadari perekonomian keluarga yang tidak memadai, Bangun bersikeras bangkit. Walau awalnya sulit untuk berjalan, tetapi melalui bantuan tongkat, akhirnya dia bisa berjalan. “Sejak 2005 yang lalu aku sudah lepas tongkat, tetapi jalannya jadi sedikit lebih timpang,” tambahnya.

Lebih dari 10 tahun, Bangun sudah menjalani hidup sebagai pengamen. Dan dari mengamen, Bangun bisa membantu kedua orangtuanya untuk menyekolahkan adik-adiknya. (*)

Jangan Suka-suka Usir Orang Miskin…

Sengketa Tanah, Seribuan Warga Belawan Blokir Jalan Raya Pelabuhan

BELAWAN-Seribuan warga Belawan dari lingkungan VII, X dan XIV, Kelurahan Bagan Deli, mengamuk begitu tahu rencana seorang pengusaha mau menggusur rumah mereka. Mereka pun memblokir Jalan Raya Pelabuhan, Belawan, Rabu (14/12). Ujungnya, aksi pemblokiran jalan ini diwarnai bentrokan antara warga dan polisi.

Tiga warga masing-masing bermarga Nainggolan, Malau, dan Purba serta dua personel polisi AKP Antoni Rajagukguk dan seorang bintara luka-luka dalam kejadian ini.

“Kami tidak mau angkat kaki di rumah kami. Tanah yang kami tempati adalah milik kami dengan surat-surat yang jelas,” teriak sejumlah warga yang melakukan protes di badan Jalan Raya Pelabuhan, Belawan.

Aksi protes warga awalnya berlangsung damai, tiba-tiba berubah mencekam. Pasalnya, seribuan warga yang memblokir akses jalan menuju Pelabuhan Belawan coba dibubarkan paksa oleh ratusan polisi gabungan dari Polres Belawan.

Upaya polisi membubarkan paksa aksi massa, diwarnai dengan pengamanan 3 warga, serta spanduk yang dibawa pendemo dirobek-robek. Akibatnya, emosi warga semakin tersulut. Mereka memaksa polisi memulangkan 3 warga yang diamankan.

Situasi yang memanas memaksa polisi mengembalikan ketiga warga. Saat pemulangan 3 orang itu, warga melakukan perlawanan hingga terjadilah bentrok fisik dengan polisi. Bentrokan mengakibatkan 2 oknum polisi terkena pukulan. Polisi yang kalang kabut tak mau tinggal diam dan melakukan perlawanan fisik.

Situasi yang terus memanas diwarnai warga dengan melakukan pembakaran ban di badan Jalan Raya Pelabuhan, hingga membuat akses jalan menuju Pelabuhan Belawan lumpuh total lebih dari 3 jam. Akibatnya akses keluar masuknya barang dari Pelabuhan BICT Belawan terhenti.

“Kami tak mau angkat kaki dari sini. Jangan suka-suka usir orang miskin. Emangnya ini negara kalian!” amuk seorang ibu-ibu di hadapan polisi.

“Apapun ceritanya kami tak mau pindah atau digusur dari lahan ini. Kalau mau ganti rugi jangan Rp7 juta. Untuk bangun kandang babi aaja tidak cukup. Jangan kalian pikir kami ini numpang. Kami ini punya hak di tanah ini karena kami punya surat tanah ini,” kata seorang ibu-ibu mengaku boru Purba.

Polisi yang semula panas akhirnya mengubah strategi dengan pendekatan yang lebih santun kepada ribuan warga, agar membuka akses jalan. Camat Belawan Andi Harahap pun melakukan musyawarah dengan masyarakat. Andi menyampaikan pada warga, bila belum ada keputusan atas ganti rugi maka tidak ada yang bisa menggusur warga keluar dari lahan yang mereka tempati.

Hasil musyawarah akhirnya membuat warga agak lega dan memilih membubarkan diri. Akses jalan yang sempat terblokir kembali normal.

Menyikapi masalah lahan tanah tersebut, Andi Harahap mengaku sudah berulang kali menerima musyawarah dari masyarakat tentang ganti rugi tersebut. Namun, belum ada kesepakatan antara pengusaha dengan masyarakat. “Kita belum bisa menjelaskan masalah ini karena pengusaha mengaku itu adalah lahannya. Sedangkan masyarakat mengaku mereka memiliki surat atas tanah yang mereka tempati. Jadi, kita masih menunggu musyawarah berikutnya,” kata Andi.

Pelabuhan Rugi Ratusan Juta

Dampak dari aksi warga memblokir Jalan Raya Pelabuhan Belawan sebagai pintu masuk menuju Belawan International Container Terminal (BICT), membuat akses keluar masuk barang dari dermaga kontainer lumpuh selama 3 jam. Akibatnya, BICT menderita kerugian mencapai ratusan juta.

Hal itu diungkapkan Humas BICT, Suratman, yang dikonfirmasi melalui via telepon oleh Posmetro Medan (grup Sumut Pos). Ia mengatakan, akibat pemblokiran jalan, sejumlah kontainer tidak dapat diangkut. Kegiatan di BICT pun sempat terhenti selama 3 jam. “Bayangkan saja, 3 jam kita tidak melakukan kegiatan, sudah rugi ratusan juta rupiah dari proses ekspor-impor barang,” kata Suratman.

Kekecewaan juga dialami seorang sopir kontainer, Sumardi, yang tak bisa memasukkan kontainer ke BICT. Akibatnya, trayek yang mereka tempuh tak sesuai harapan. “Biasanya sehari 4 trip, tapi karena aksi ini jadi 2 trip aja. Mau makan apa kami? Sekali trip cuma Rp50 ribu kami dapat. Abang kalikan sajalah,” keluhnya dari dalam mobilnya. (ril/bud/smg)

Gatot Curhat dengan Warga Sumut di Jakarta

JAKARTA-Entah berapa kali tepuk tangan sekitar 400-warga Sumut bergemuruh di sebuah ruangan luas, di Hotel Borobudur, Selasa (13/12) malam. Tepuk tangan muncul setiap kali nama Gatot Pujo Nugroho disebut oleh pembaca acara. Kehadiran Plt Gubernur Sumut di acara itu disebut oleh pembawa acara, sebagai sesuatu yang luar biasa.

“Bapak Plt Gubernur, tengah hadir di tengah kita,” teriak pembawa acara, memancing tepuk tangan pertama hadirin.
Acara silaturahmi Gatot dengan warga Sumut di Jakarta itu, cukup meriah, terlebih diselingi usik perkusi tradisi dan rampak tetabuhan. Gatot dalam pidatonya membeber kondisi Sumut kekinian, yang diklaim baik-baik saja. “Alhamdulillah, sampai dengan hari ini suasana keberagaman tetap terjaga, karena warga Sumut yang multietnis tidak menonjolkan perbedaan, tapi kebersamaan,” kata Gatot, lagi-lagi disambut tepuk tangan.

Politisi dari PKS itu lagi-lagi mengutarakan ambisinya untuk mewujudkan Sumut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera. Mirip-mirip kampanye, obral impian. Tapi kata Gatot, dia hanya ingin menyampaikan apa yang telah dan akan dilakukan, serta menunggu masukan warga. “Kami ingin curhat, minta masukan agar Sumut ke depan makin maju, makin mandiri,” ujarnya.

Dia pun menyatakan siap untuk ditegur warga, “Kami siap dijewer, disentil, jika kami tidak menjalankan amanah dengan baik.”

Gatot mengucapkan kalimat itu dua kali. Gatot mengajak hadirin menunduk sejenak, mengirim kalimat doa untuk mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), Sondang Hutagalung, yang akhirnya tewas akibat aksi bakar diri di depan Istana, beberapa waktu lalu.

Setelah diselingi tarian-tarian adat, giliran Kepala Bappeda Sumut, Riadil Akhir Lubis, diberi kesempatan membeberkan wajah Sumut saat ini dan ke depan. Diawali dengan paparan-paparan normatif, soal potensi-potensi yang ada di Sumut, Riadil pun bicara mirip juru kampanye.

“Kami punya mimpi, Sumut mampu menggoyang dunia,” ujarnya semangat. Yang dia maksud, mimpi mengenai Sumut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Tepuk tangan lagi-lagi terdengar.

Disampaikan juga mengenai upaya mendapatkan jatah Dana Bagi Hasil (DBH) Perkebunan. “Pak Gatot menyebut cukup lima persen dari pajak ekspor CPO (yang menjadi jatah Sumut, Red),” ujar Riadil, yang menyebut nama bosnya itu.
Pengamatan Sumut Pos, politisi senior Partai Golkar, Leo Nababan, yang hadir di acara itu, sama sekali tidak bereaksi. Juga tak bertepuk tangan ketika hadirin bertepuk tangan. Bahkan, dia kerap memejamkam mata sembari menyandar di kursi. “Saya hadir untuk menghormati undangan dari Plt gubernur,” ujar Leo, saat didekati. Dia duduk di pinggir, tidak menyatu dengan tokoh yang lain.

Selain Leo, hadir juga anggota DPR asal Sumut yakni Buyung Saragih, Abdul Wahab Dalimunthe, dan Sutan Batoegana. Dari DPD hadir Rahmat Shah. Dari tokoh masyarakat, hadir Cornel Simbolon, Anton Medan, Andi Hakim, Adi Kusuma, dan Bungaran Saragih.

Sedang Gatot memboyong sejumlah anak buahnya, antara lain Sekdaprov Nurdin Lubis, Asisten I Bidang Pemerintahan Hasiholan Silaen, Asisten IV Asrin Naim, dan para staf khusus Plt Gubsu, termasuk Kadis Infokom Asren Nasution.

Dibandingkan dengan acara serupa usai lebaran 2011 beberapa waktu lalu, para anggota DPR dan DPD yang hadir di acara kali ini, jauh lebih sedikit. (sam)

Wings Air Buka Rute Aek Godang-Polonia

Pemkab Tapsel Subsidi Rp400 juta per Tahun

JAKARTA- Wings Air, yang merupakan anak perusahaan Lion Air, mulai Februari 2012 akan membuka rute penerbangan Bandara Aek Godang-Polonia.

“Januari 2012 pesawat kita datangkan dari Perancis, 22 Januari sampai ke Indonesia. Kita target Februari terwujud,” ujar Direktur Keuangan Wings Air, Edward Sirait usai pertemuan tertutup dengan Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu mewakili lima bupati/walikota di kawasan Tabagsel, di Jakarta, kemarin malam. Pertemuan dimediasi  anggota Komisi V DPR asal Sumut, Ali Wongso Sinaga.

Pertemuan merupakan tindak lanjut surat yang dikirimkan Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu, Bupati Madina Hidayat Batubara, Bupati Padang Lawas Utara Bachrum Harahap, Walikota Padangsidempuan Zulkarnain Nasution, dan Bupati Padang Lawas Basyrah Lubis, kepada pihak Lion Air, induk perusahaan Wings Air.

Wings Air akan menggunakan pesawat ATR 72-600, dengan penerbangan dua kali sehari, untuk rute terbaru itu. Untuk tahap awal, nantinya akan digunakan sistem blok seat, dimana lima pemkab/pemko yang ada di kawasan Tabagsel, menawarkan masing-masing akan mengganti biaya tiket dua seat jika pesawat Wings Air dengan kapasitas 72 penumpang itu tidak full seat.

“Kami berani menawarkan dua seat per kabupaten,” ujar Syahrul Pasaribu.

Jadi, total ada 10 seat yang akan ditanggung lima pemkab/pemko. Syahrul memperkirakan, untuk blok seat ini diperkirakan APBD Tapsel harus menyediakan Rp400 juta per tahun, yang tidak tentu habis, tergantung jumlah seat yang kosong.  Sedang pihak Wing Airs masih mengkaji khusus mengenai tawaran soal blok seat itu.

Syahrul menjelaskan, rute Aek Godang-Polonia penting, guna mengatasi masalah rentang jarak Tabagsel-Medan, yang jika ditempuh lewat darat minimal butuh 8 jam. Dia yakin, bagi Wings Air rute ini prospektif. Alasannya, mobilitas penduduk Tabagsel yang jumlahnya mendekati 1,3 juta, sangat tinggi. Apalagi, perjalanan dinas para pejabat SKPD ke Medan juga diperbolehkan dengan pesawat.

Belum lagi mobilitas kalangan pengusaha, yang diprediksi kian meningkat. Keyakinan Syahrul, karena banyak potensi di Tabagsel yang siap digarap, baik tambang emas, batu bara maupun perkebunan, maka hilir-mudik pengusaha Tabagsel-Medan juga kian padat.

Ali Wongso Sinaga menambahkan, potensi-potensi itu tidak akan bisa digarap jika infrastruktur transportasi tidak diperbaiki.  “Aek Godang-Medan perlu penerbangan dengan kapasitas memadai. Ini semua untuk kepentingan rakyat Sumut,” ujar Ali Wongso.

Terkait maskapai Susi Air, yang terbang tiga kali sehari dengan kapasitas 12 seat, menurut Ali, biarkan saja tetap ada. “Kalau terjadi persaingan, bagus lah,” imbuhnya.

Ditanya berapa harga tiket Wing Air, Aek Godang-Polonia, Edward Sirait belum memberikan kepastian. Hal itu masih dikaji. Misal harga tiket Wing Air Aek Godang-Medan Rp400 ribu, dia yakin masyarakat tidak keberatan.
Dia berharap, Pemda dan semua pihak terutama kalangan usaha, ikut menyosialisasikan rencana ini. Termasuk, hotel-hotel yang ada di Tabagsel, ikut membantu.  “Kami menantang bupati untuk promosi, kami juga promosi, hotel-hotel di sana juga teriak (ikut promosi, Red). Membuka isolasi harus dilakukan bersama. Berat jika kami sendirian,” ujar Edward, yang juga Direktur Umum Lion Air itu. (sam)