24 C
Medan
Thursday, January 1, 2026
Home Blog Page 14180

Indonesia Ancam Keluar dari IMT-GT

MEDAN- Melalui rapat koordinasi yang dilakukan oleh IMT-GT (Indonesia Malaysia Thailand-Growth Triagle) di JW Marriot, 5 hingga 7 Desember 2011, perwakilan Indonesia mengancam akan keluar dari program kerjasama ini.

Alasannya, karena tidak adanya perhatian pemerintah akan joint business council (JBC), sehingga JBC bekerja sendiri. “Kita bukan hanya tidak diperhatikan, tetapi tidak dianggap, dan ini yang membuat kita bertekad untuk keluar,” ujar Chairman HRD JBC IMT-GT, Viator Butar-butar.

Menurutnya, ketidakpedualian pemerintah akan JBC Indonesia dapat dilihat dari mangkirnya pemerintah akan kewajibannya sebagai fasilitator dan regulator. “Seharusnya, dalam rapat seperti ini pemerintah yang mendanai, tetapi pada kenyataannya, bagi nasional sekretari harus membiayai sendiri,” ujarnya.

Seperti diketahui, kerjasama antara 3 negara ini membangun dunia usaha yang relevan dalam pembangunan tiap negara, seperti tourism, ekspor impor dan lainnya. Dan untuk Indonesia, IMT-GT ini masuk pada kawasan Sumatera.

Berbagai kinerja yang telah dihasilkan, seperti perdagangan luar negeri Sumatera Malaysia, infrastruktur Roro Malaka-Dumai, pemberian beasiswa bagi mahasiswa, training program dan join pendidikan.   “Tetapi apa yang kita lakukan tidak dianggap sama sekali, bahkan proyek untuk kita tidak ada, jangan kita kasih ide, setelah itu disia-siakan, kapan kita akan maju?” tambah Viator.

Menurutnya, sebagai Private Sektor End, pemerintah harus bertindak bijak, antara swasta dan pemerintah. “Tetapi pada kenyataanya, tidak ada yang kita dapatkan, malah kita harus mengeluarkan kocek sendiri untuk ini,” ungkap Viator.

Sementara itu, ADB (Asian Developmen Bank), telah menyiapkan dana sebesar US$5,3 miliar. Dan 60 persen dari dana tersebut akan dikucurkan untuk pembangunan Sumatera. (ram)

Tanda Kurung Siku ([ ])

Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Ia memberikan uang [kepada] anaknya.
Ulang tahun [hari kemerdekaan] Republik Indonesia jatuh pada hari Selasa.

Di Tuntut Bisa Melucu

Zivanna letisha siregar

Zivanna Letisha Siregar mengaku tengah menikmati karier di dunia presenter. Tak hanya itu, Puteri Indonesia 2008 itu ternyata punya bakat lain yakni berakting apik dalam pementasan drama.

Baru saja, Zivanna bermain dalam pementasan komedi Teater Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) berjudul A Midsummer Night’s Summer. Judul itu diambil dari karya William Shakespeare.

“Wah kayak mimpi! Itulah tema besar yang diangkat pada pementasan kali ini. Jujur ini pengalaman aku bermain drama apalagi bawa nama almamater,” ujarnya Dalam pementasan, juara Elite Model Look Indonesia 2006 itu dituntut bisa melucu. Dia mengaku termasuk pribadi cukup serius, walaupun suka bercanda. Selain itu akting terberat lainnya yaitu harus ditandemkan dengan idolanya, Faisal Basri.

“Awalnya takut terima peran ini, bawa nama kampusku sendiri lagi. Apalagi aku dituntut sutradara bisa melawak. Terus baca script-nya, adu akting sama Pak Faisal, duh berat banget. Apalagi aku nge-fans dia juga. Jalani saja, alhamdulillah berjalan baik,” terang Zivanna.

Pagelaran drama komedi ini mengisahkan peristiwa pernikahan Duke of Athena, Theseus, dan Ratu dari Amazon, Hippolyta. Termasuk kisah petualangan cinta empat pemuda Athena dan sekelompok aktor amatir, yang dimanipulasi oleh peri yang mendiami hutan.

Setelah pagelaran tuntas, dara kelahiran Jakarta, 16 Februari 1989 itu mengaku puas. “Aku nggak pernah main drama, jadi maaf masih banyak salah. Syukurlah penonton suka. Susah yah jadi artis drama, mesti pintar mengeksplorasi peran dan naskah. Enakan jadi presenter, semua sudah ada di teleprompter,” tuturnya. (rm/jpnn)

Siswa Membayar Perbaikan Listrik Rp198 Juta

MEDAN- Perbaikan instalasi listrik di SMAN7 Medan menghabiskan biaya senilai Rp198 juta, yang seluruh biayanya dibebankan kepada seluruh siswa.

Tingginya anggaran perbaikan instlasai tersebut,  mengharuskan setiap siswa  membayar Rp165 ribu.
Hal ini diakui kepala SMN7 Muhammad Daud, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/12).

Menurutnya, pengutipan dilakukan berdasarkan hasil musyawarah komite sekolah dan pihak wali murid yang diketahui pihak sekolah. “Besaran nilai yang diminta terhadap siswa sebesar 165 ribu, merupakan kebijakan komite sekolah dan wali murid sesuai besaran nilai perbaikan instalasi listrik,” ungkap Daud.

Menurut Daud, tahun sebelumnya, pihak komite juga telah meminta sumbangan terhadap siswa yang telah tamat, dan terkumpul biaya sebesar Rp30 juta.

Untuk kekurangan dsekitar Rp165 juta lebih, maka pihak komite sekolah mengambil kebijakan dengan mengutip setiap siswa sebesar Rp165 ribu.

“Selain sumbangan dari siswa yang telah tamat, sejauh ini sekitar 940 siswa yang telah membayar, dari 1000 lebih jumlah siswa SMN7 yang aktif. Diperkirakan kekurangan sekitar 25 juta lagi. Akan tetapi sejak Senin (5/12) telah dimulai untuk pengerjaan listrik baru dan diharapkan dua minggu kedepan bisa selesai,”terangnya.

Menurut pengakuan Daud, instlasi listrik tidak ada yang berfungsi(kadaluwarsa) akibat  banyaknya kabel yg terbakar, sejak 2009 lalu. Untuk alternatif, lanjutnya, dibuat jaringan darurat,  untuk penerangan ruang kepala sekolah, tata usaha, dan sebahagian ruang kelas.

Daud juga mengaku jika pihaknya telah mengajukan proposal ke Pemko Medan melalui Disdik sejak lima bulan lalu, namun belum juga ditanggapi. “Melihat kondisi itu, pengurus komite memutuskan melakukan musyawarah dengan wali murid yang diketahui pihak sekolah. Dalam pertemuan tersebut, dihasilkan nilai pembayaran yang harus disediakan siswa untuk perbaikan instalasi, dan kekurangan lainnya, dengan mencari stakeholder,” terangnya.

Namun Daud membantah terkait adanya bentuk paksaan yang dilakukan pihak sekolah yang tidak mengizinkan siswa mengikuti ujian mid semester, bagi yang tidak membayar uang perbaikan listrik.

Namun hal ini dibantah wali murid, Ismed Lubis,  yang anaknya tidak diperbolehkan mengikuti ujian sebelum melunasi uang iuran listrik tersebut. “Memang anak saya kemarin (bulan Mei) diperbolehkan ujian mid semester, tapi harus membuat perjanjian terlebih dahulu untuk melunasinya pada bulan Oktober.

Penegasan ini dilakukan agar anak saya bisa mengikuti ujian semester yang berlangsung pada hari kamis (8/12) nanti. Makanya saya datang kesekolah ini untuk memastikan apakah anak saya bisa ujian karena belum membayar iuran listrik tersebut,” ucap Ismed, yang turut  hadir di ruang kepala SMAN7.(uma)

Bantuan Dikucur US$100 Juta

Tambang Emas Batangtoru

Jakarta-G-Resources Group Ltd melalui anak usahanya PT Agincourt Resources menerima komitmen fasilitas pinjaman (standby loan) sebesar US$ 100 juta dalam bentuk Revolving Credit Facility Agreement dari BNP Paribas, Hang Seng Bank Limited and Sumitomo Mitsui Banking Corporation.  Fasilitas ini akan digunakan jika dibutuhkan untuk membiayai penyelesaian proyek tambang emas perak dan aktivitas perusahaan selanjutnya.

Ketiga bank adalah Mandated Lead Arrangers. BNP sebagai Technical Bank, Hang Seng Bank sebagai Account Bank and Sumitomo sebagai Facility dan Security Agent.

Fasilitas pinjaman tersebut berlaku selama 2,5 tahun, jatuh tempo  per 30 Juni 2014, tanpa kewajiban hedging.  Bunga awal berada di angka LIBOR plus 4.5%, yang akan turun menjadi LIBOR plus 4% setelah proyek Martabe selesai dan memenuhi uji penyelesaian seperti yang telah disetujui oleh ketiga bank tersebut.

G-Resources mengatur agar komitmen fasilitas pinjaman ini menjadi cadangan modal jika diperlukan dan akan dialokasikan untuk biaya operasional dan kebutuhan umum lainnya.  Pada akhir Oktober 2011, perusahaan memiliki dana kas sebesar US$ 242 juta serta aset-aset likuid lainnya, dan ini diprediksi cukup untuk membiayai proyek tambang emas dan perak Martabe hingga memasuki masa produksi dan memiliki arus kas. G-Resources  menjadi perusahaan pemimpin pertambangan emas multinasional yang berfokus di Asia. Proyek Martabe terletak di sisi barat pulau Sumatera, Kecamatan Batang Toru, Propinsi Sumatera Utara.

Proyek ini didirikan di bawah Kontrak Karya generasi keenam (“COW”) yang ditandatangani April 1997.  Aset awal utama G-Resources saat ini adalah Martabe yang memiliki sumberdaya 7,86 juta oz emas dan 73,48 juta oz perak.

Sedang dalam proses konstruksi, Martabe ditargetkan memulai produksi di kuartal pertama tahun 2012 dengan kapasitas per tahun sebesar 250.000 oz emas dan 2-3 juta oz perak berbiaya rendah senilai kurang dari US$ 250 per oz emas. Lebih dari seribu limaratus orang saat ini bekerja di proyek Martabe, 70% nya direkrut dari masyarakat di sepuluh desa di lingkar tambang. (tms)

Beri Pendidikan HAM Pada Jurnalis

Unimed Gelar Diskusi Publik Sambut Hari HAM Sedunia ke-63

MEDAN- Media memiliki hubungan yang erat dengan Hak Azasi Manusia (HAM). Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya dilapangan, masih saja ditemukan sejumlah jurnalis yang menjadi korban kekerasan dan tidak jarang diantaranya menemui ajal. Berdasarkan pantauan yang dilakukan Komnas HAM, sepanjang 2010, sedikitnya ditemukan 46 kasus kekerasan terhadap jurnalis.

“Mayoritas tindak kekerasan terhadap jurnalis justru dilakukan oleh warga sipil biasa, aparat negara serta oknum polisi seperti tindak intimidasi dan penganiayaan,” kata Kepala Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Negeri Medan (Unimed), Majda El Muhtaj, Selasa (6/12), dalam diskusi Publik Menyambut Hari HAM sedunia ke-63 dengan tema “Jurnalisme berbasis HAM Membangun Pendidikan dan Kesadaran HAM melalui Media.

Menurutnya, berdasarkan realitas tersebut, jurnalis semakin terang sebagai kelompok yang rentan terhadap pelanggaran HAM. “Karena terkadang isi dan pemberitaan jurnalis menyinggung aspek-aspek kepentingan banyak pihak. Risiko inilah yang harus ditanggung para jurnalis,” ujarnya.

Lebih lanjut, sebagai bagian penting dari pembela HAM, jurnalis harus dilindungi secara maksimal. “Peran strategis media dalam pendidikan HAM bagi publik sangat berperan penting. Maka seorang jurnalis yang menjalankan profesinya dan sesuai Kode Etik Jurnalistik harus dilindungi,” jelasnya.

Ditambahkannya, dengan pendidikan HAM yang terinternalisasi dengan baik bagi jurnalis, maka jurnalis dalam menjalankan profesinya akan menemukan ruang aktualisasi yang protektif dalam pengembangan jati diri dan perilaku insane pers yang professional. “Kepedulian terhadap isu-isu HAM akan mendekatkan pers dengan masyarakat sehingga dirasakan media mempunyai peran strategis dan berkontribusi dalam pemajuan HAM,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PWI Cabang Sumut Drs Muhammad Syahrir menyampaikan perkembangan pers di Sumut tergolong cukup pesat. Namun harus diakui, pendidikan berbasis HAM terhadap jurnalis sangat minim.

“Sejumlah kasus delik sebenarnya bersinggungan dengan HAM, karena terkena pencemaran nama baik atau hak privasi. Jadi, jurnalis harus memperbanyak aktifitas yang terkait dengan pendidikan HAM,” terangnya. (mag-11)

Bea Keluar Fluktuatif, Harga CPO tak Stabil

MEDAN-Bea Keluar  CPO yang dibebankan pemerintah masih memberatkan petani dan pengusaha sawit, terutama bagi petani. Karena itu, petani mengharapkan pemerintah dapat merenovasi peraturan terkait kebijakan tersebut.

“Bea keluar dianggap pengusaha sebagai biaya produksi. Jadi harga beli ke kita yang dikurangi karena bea keluar tersebut.  Harga CPO tergantung lelang di Rotterdam. Pajak yang ditentukan disesuaikan harga CPO. Kalau harga 15 ribu dolar per metrik, maka beanya sekitar 15 persen. Ini membuat harga tak stabil,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasiasi Petani Kelapa Sawit (Aspekindo) Sumut, Taswin Kiflan.

Dengan beban harga bea keluar tersebut, lanjutnya, tak membuat petani merasa untung, melainkan sebaliknya, harga sawit mereka berimbas menurun. Ini karena secara langsung biaya produksi pengusaha yang bertambah dan dimasukkan ke harga beli petani. “Pajak naik, harga pembelian kita murah, CPO naik, pajak jadi naik,” tambah Taswin.

Sedangkan Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut Laksamana Adiyaksa mengatakan, bea keluar yang fluktuatif tersebut memberatkan pengusaha  karena harganya turun naik. (ram)

Penghentian Ekspor Rotan Harus Dikaji

MEDAN- Sejak dikeluarkannya kebijakan pemerintah menghentikan ekspor rotan awal Desember kemarin, pengusaha dan petani rotan Sumut sudah mulai menghentikan produksinya. Untuk saat ini, pengusaha rotan hanya produksi untuk memenuhi kontrak.

Sedangkan pengusaha rotan di Sumut sudah hanya tinggal 2 saja. Demikian dikatakan Penasehat Asosiasi Mebel Industri (Asmindo) Sumut Baharuddin Rajagukguk.  “Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, kita hanya berharap agar pemerintah dapat meninjau atau menghpus peraturan ekspor, kasihanilah kami,” ujar Burhanuddin.

Kata dia, kebijakan yang dibuat pemerintah hanya mendukung satu pihak saja, tidak mendukung hulu, hilir dan pengusaha rotan. Buktinya, dengan kebijakan tersebut sudah banyak pengusaha rotan 1/2 jadi yang gulung tikar. “Lihat saja sudah berapa banyak yang gulung tikar. Dari tahun 70-an ada sekitar 20-an perusahaan, sekarang hanya tinggal 2, ” ungkap Burhanuddin.

Seharusnya, lanjut dia, sebelum membuat keputusan, harus diberi waktu sekitar 6 hingga 12 bulan agar ada persiapan dari pengusaha dan petani. Karena itu, untuk menghadpai peraturan dari menteri harus ada keputusan presiden, agar menteri tidak mudah.  “Larangan ekspor rotan tidak efisien, karena pabrik yang produktif hanya ada di Jawa, tepatnya di Cirebon,” pungkasnya. (ram)

4 Sekolah Dapat Bantuan 12 Komputer

MEDAN- PT XL Axiata Tbk (XL) melalui program tanggung jawab sosial (CSR) Komputer untuk Sekolah (KuS) kembali mendonasikan sejumlah perangkat komputer. Pada KuS 2011 ini, XL bermitra dengan PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat) menyerahkan perangkat komputer kepada empat sekolah yang berada di Kabupaten Deli Serdang. Penyerahan ini dilakukan di SLTPN 1 Tanjung Morawa, Selasa (6/12) kemarin.

Manager Management Service XL Regional West, Firman AJ saat menyerahkan secara simbolis di SLTPN 1 Tanjung Morawa, Deli Serdang dalam sambutannya mengatakan, sudah menjadi tanggung jawab XL mendukung program pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan khususnya di Sumatera.

“Program Komputer untuk Sekolah adalah program tanggung jawab sosial dari XL yang bertujuan untuk mendukung program pemerintah di bidang pendidikan dan mensosialisasikan perkembangan teknologi terutama komputer dan internet bagi masyarakat kurang mampu yang sulit mendapatkan akses ke sarana teknologi,” papar Firman.

Untuk tahun ini, sambung Firman, XL Regional West telah menyalurkan donasi KuS kepada 12 sekolah dengan total komputer sebanyak 36 unit baik di tingkat SD, SLTP, maupun SMU.”Program KuS XL ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Disini nanti kita dan PKPU akan melakukan pelatihan terhadap guru cara berinternet sehat, sehingga guru-guru ini nantinya akan menyampaikan palatihan tersebut kepada siswa-siswanya,” jelas Firman.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Deli Serdang, Dwi Andy Syahputra Lubis, yang juga hadir dalam penyerahan komputer tersebut menyambut baik pemberian komputer yang di lakukan XL dalam program KuS.

“Saya sangat berterima kasih kepada XL atas partisipasinya dalam kemajuan dunia Pendidikan di kabupaten Deli Serdang. Saat ini teknologi sudah semakin maju, dunia pendidikan internet sangat penting dalam sekolah, termasuk pemanfaatannya sendiri. Tugas kita adalah memberikan pemahaman kepada anak-anak untuk tetap berinternet secara sehat dan memanfaatkan informasi yang benar dari dunia internet,” katanya.

Senada dengan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, M Nurdin menuturkan terima kasihnya atas bantuan komputer dari XL yang di berikan kepada sekolah-sekolah. “Mudah-mudahan pemberian komputer ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pihak sekolah. Karena saat ini begitu pentingnya internet ini untuk membangun dunia pendidikan di Indonesia,” tandasnya. (ila)

HM Yuswin Ramadhan Lubis SH dan Rizki Nadilah Nasution SE Naik Pelaminan

Meriah Disertai Adat Mandailing

Pernikahan HM Yuswin Ramadhan Lubis SH yang merupakan putra sulung Kadis Pertamanan Kota Medan H Erwin Lubis, SH MM dan berlangsung meriah, dan penuh kekeluargaan. Diiringi acara adat Mandailing, mulai dari marpokat, marhobar  manortor dan banyak adat lainnya, pernikahan Yuswin dengan Rizki Nadilah Nasution SE itu kian terasa sakral.

Pernikahan HM Yuswin Ramadhan Lubis SH dan Rizki Nadilah Nasution SE yang dilaksanakan di kediaman keluarga di Jalan Tuamang Medan, Jumat- Sabtu 2-3 Desember lalu, dimulai dengan acara marpokat sekaligus marhobar.

Pada acara itu diikuti anggota-anggota keluarga kedua mempelai juga raja-raja serta hatobangon dari marga-marga. Seperti Raja Panusunan, kahanggi, mora, anak boru dan lainnya.

Acara ini dimaksudkan agar semua masyarakat Mandailing terus melestarikan adat serupa dalam setiap acara pernikahan. “Dalam acara marpokat dan marhobar ini setiap perwakilan menyampaikan prakata dan berbagai pembicaraan lainnya. Seperti tentang syarat-syarat pernikahan, silaturahim dan lainnya,” kata Erwin menerangkan. Acara itu, menurutnya diikuti mereka-mereka para pembesar suku yang turut mendukung dan mengakbarkan acara dalam misi melestarikan adat seperti ini.

Acara ini memiliki tema ‘Horas, tondi madingin, pir tondi matogu, sayur matua bulung, horas.’ Yang artinya semangat yang menyatu, kuat dan direstui dalam keselamatan lindungan Allah SWT.

Pada acara itu marpokat dan marhobar juga diikuti berbagai ritual seperti makan ketan dan inti kelapa. “Pada ritual makan ketan ini memiliki makna agar persatuan dalam persaudaraan dan keluarga sulit dipisahkan. Dan makan inti kelapa bermakna menjalani hidup yang manis atau baik layaknya manisnya inti kelapa itu,” jelas Erwin.

Usai acara marpokat dan marhobar ini dilanjutkan dengan manortor dan sejumlah adat lainnya yang digelar sehari berikutnya Sabtu (3/12) lalu.

Resepsi pernikahan juga dilanjutkan di Ball Room Grand Aston Hotel pada Minggu (4/12) lalu, yang dihadiri sejumlah pejabat daerah dan  tokoh masyarakat ternama di Sumatera Utara.  (*)