30 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 14277

Rika Loretta, Sembilan Tahun Divonis Positif HIV/AIDS

Bangkit Setelah Terjaring Razia Badan Narkotika Nasional

Mengingat tahun 2002 membuat Rika Loretta miskin kata-kata. Ya, pada tahun itulah dia divonis positif HIV/AIDS. Di saat bersamaan, dia pun harus kehilangan pekerjaannya di Malaysia.

Kesuma Ramadhan, Medan

Rika duduk setengah jongkok di samping toilet Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, di Jalan  Brigjend Katamso, Selasa (30/11) lalu. Saat itu di gedung milik pemerintah tersebut memang sedang ada acara peluncuran buku, artikel, dan kisah penderita HIV/AIDS, buah karya dr Umar Zein dan Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes). “Jangan jauhi penderita HIV, tapi jauhilah penyakitnya,” buka Rika.

Kalimat pendek sarat makna ini dikeluarkannya ketika Sumut Pos mencari tahu latar belakang yang menjadikan Rika positif HIV/AIDS. Sesaat Sumut Pos merasa Rika akan menutup diri. Ternyata tidak. Buktinya, dia mulai bercerita tentang kisahnya.

Awalnya, wanita kelahiran 1976 ini mengaku memiliki kehidupan wajar. Namun, pada 1990-an ketika usia Rika genap 17 tahun, perkenalannya dengan narkoba dimulai. Saat itu, di hari jadinya, sang kakak (seorang pecandu narkoba jenis jarum suntik) menawarkan dirinya untuk mengadakan pesta narkoba. Layaknya lupa akan dunia dan akal sehat, tiga hari berturut-turut Erika terus menggunakan narkoba jarum suntik.

Setelah itu, hidup sebagai pecandu pun terbentuk. Cukup beruntung, Rika memiliki keluarga yang mapan, jadi untuk mendapatkan barang haram itu bukanlah sesuatu yang sulit. “Kalau dulunya ayah saya terbilang memiliki kemampauan finansial yang lumayan sehingga kami tidak terlalu sulit untuk mendapatkan uang buat membeli putaw,” sebutnya.

Hingga pada 1999, Rika mengakui menambatkan hatinya kepada seorang pria setelah berpacaran lima lima tahun. Keduanya melangsungkan pernikahan dengan status sebagai pecandu narkoba. Namun, baru setahun menjalin bahtera rumah tangga, Rrika memutuskan untuk berpisah dengan sang suami karena tak ingin terlarut dalam jurang kehancuran. Dari pernikahan ini, Rika mendapat seorang anak. Sayang, sang pencipta mengambil sang buah hati saat berumur satu hari.

Setelah bercerai, Rika kembali berupaya hidup normal dan kembali ke tengah kehidupan berkeluarga yang selama ini tak pernah dihiraukannya. “Aku memilih bercerai dengan suamiku karena aku gak mau terus terjerumus dalam dunia narkoba. Saat itu yang aku pikirkan bagaimana bisa hidup normal dan diterima kembali oleh keluarga meskipun harus menahankan sakit yang luar biasa akibat sakaw,” ungkapnya.

Ingin mengakhiri penderitaan dari kejamnya dampak narkoba, Rika berusa mengalihkan perhatian dengan memutuskan untuk bekerja sebagai TKW di Malaysia pada 2002, lewat travel milik pamannya. Namun baru beberapa bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, penyakit kulit yang tak kunjung sembuh hadir di tengah-tengah kehidupannya.

Saat itu sang majikan memutuskan untuk membawa dirinya menjalani pemeriksaan di sebuah rumah sakit.
Dari pemeriksaan itu, sang majikan mengetahui kalau Rika positif HIV. Tak pelak, Rika langsung dipulangkan tanpa dijelaskan alasannya. Hal ini membuat Rika bingung. Sesampainya di kediaman kedua orangtuanya di Jakarta, Rika baru tersadar jika dirinya dinyatakan positif HIV. Hal ini diketahui setelah ada faks yang sampai ke kantor ayahnya.
Awal mengetahui vonis penyakit yang dideritanya, tak ada kesan takut yang berlebih. Bahkan, Rika hanya bersikap tak acuh, mengingat itu merupakan sebuah konsekuensi yang harus diterimanya. Namun, guncangan psikologis baru dirasakan Rika dua minggu setelah dijatuhi vonis sebagai seorang penderita HIV positif.

Terkesan terasing di keluarga yang masih menganggap tabu penyakit HIV sempat membuat Rika semakin terjerembab dalam lubang kehinaan dan kenistaan. “Saat itu aku seakan terasing, bahkan ayah memilih untuk pindah dari rumah yang biasa mereka tempati. Aku merasa saat itu ayah malu jika tetangga dan masyarakat akan mengetahui penyakitku. Hal itu membuat mentalku semakin jatuh dan mengambil jalan pintas dengan memutuskan kembali untuk menggunakan narkoba,” ucapnya.

Namun seakan mendapatkan sebuah ilham dari Yang Maha Kuasa, pada 2003 Rika terjaring razia yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional. Saat, itu Erika harus menjalani rehabilitasi fisik, mental, dan spiritual lebih kurang dua tahun lamanya.

Di saat-saat masa rehabilitasi, anak ketiga dari empat bersaudara tersebut seakan menemukan kembali dunianya, setelah menjalani rehabilitasi psikologi yang terus mencoba mengembalikan alam sadarnya.
Kesadaran yang semakin tumbuh, menambah kepercayaan Rika untuk bertahan hidup dan mencoba kembali normal dengan memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan swasta. Hal ini tak lain untuk memenuhi kebutuhan obat ARV yang terbilang cukup mahal.

Mengambil hikmah dari pengalamannya, pada 2005 Erika memutuskan untuk  bergabung dalam sebuah lembaga peduli HIV  Medan Plus, yang dikenalkan oleh sang kakak yang juga memiliki riwayat positif HIV. Bahkan, lewat keseriusannya membantu para penderita yang senasib dengannya, pada 2006 Erika bersama sang kakak, memutuskan untuk ke Aceh dan membangun sebuah LSM peduli HIV,  yakni Medan Aceh Partnership selama empat tahun lamanya sesuai masa kontrak.

Begitulah, hari-hari yang memiliki makna dalam hidupnya terus tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Bahkan pada 2006, Rika seakan mendapatkan kebahagian yang tak ternilai harganya. Dia dipertemukan dengan Sandi, seorang pria yang notabenenya sehat dan tidak berstatus HIV. Sandi memutuskan siap merajut hidup dengan Rika, meskipun harus mengambil resiko yang cukup riskan; tertular HIV.

“Suami saya juga orang yang aktif di beberapa LSM, jadi dia sudah paham akan hal ini. Kendala saya saat itu meyakni kedua orangtua Sandi, namun dengan pendekatan yang cukup lama akhirnya saya diterima dan hidup layaknya orang normal bersama suami,” tutur Rika.

Bahkan di usia pernikahannya yang memasuki lima tahun, sang suami masih dengan status awalnya yakni negatif HIV meskipun telah melakukan berbagai kegiatan bersama hingga kepada hubungan suami isteri. Namun untuk melalui hidup agar tetap terjaga kondisi kesehatannya, Rika membatasi sang suami untuk mendekatinya ketika dirinya sakit maupun sebaliknya.

“Saya rasa saling memahami di antara keduanya adalah kunci hubungan ini tetap bertahan. Karena untuk diketahui HIV tidak mudah ditularkan, bahkan ketika dalam masa subur dan kondisi saya fit kami bahkan pernah melakukan hubungan tanpa alat pengaman (kondom). Alhamdulillah suamiku aman, mengingat penularan HIV dari perempuan ke laki-laki lewat hubungan intim risikonya cukup kecil. Tapi apapun yang terjadi kondom selalu tersedia di rumahku,” ujarnya sembari tersenyum.

Di akhir perbincangan, Rika berpesan kepada masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi kepada para penderita HIV baik lewat media apapun maupu secara langsung. (*)

WNI di Yaman dan Suriah Diminta Pulang

JAKARTA-Pemerintah memberikan warning (peringatan) untuk warga negara Indonesia yang berada di Yaman dan Suriah agar kembali ke tanah air. Langkah itu menyusul tewasnya dua pelajar asal Indonesia di Yaman akibat terkena hantaman roket.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa mengungkapkan, warning diberikan sekaligus karena situasi dalam negeri dua negara tersebut. “Keadaan di Yaman dan Suriah sesuatu yang berkembang dengan penuh ketidakpastian,”n
kata Marty usai mengikuti kunjungan Presiden Republik Federal Jerman Christian Wulff di Istana Merdeka, kemarin (1/12).

Sama saat peristiwa yang terjadi di Mesir, lanjut dia, WNI di Yaman dan Suriah diminta selalu berkomunikasi dengan KBRI untuk memastikan bahwa mereka aman atau mendapat perlindungan. Bahkan, atas instruksi presiden, dubes RI di Damaskus, Suriah, sudah dipanggil untuk melakukan konsultasi. “Ini sebagai wujud keprihatinan kita atas apa yang terjadi di Suriah,” terang Marty.

Menurutnya, jatuhnya pelajar Indonesia sebagai korban tewas di Yaman membuat pemerintah menganjurkan WNI untuk pulang. “Kami akan memberikan bantuan,” katanya. Meski begitu, lanjut Marty, pemulangannya dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi terkini.

Mantan dubes RI untuk PBB itu menuturkan, KBRI di Yaman sudah memberikan imbauan untuk kembali ke Indonesia. Kantor perwakilan juga memfasilitasi untuk proses pemulangan. Namun, kata Marty, kadang para pelajar tersebut juga mengikuti arahan dari pimpinan kampus atau lembaga pendidikan tempat mereka menempuh studi.
“Jumlahnya saya tidak hafal (yang sudah dipulangkan), tapi sudah lebih dari puluhan orang yang kembali ke tanah air. Itu dilakukan secara bertahap,” urai Marty.

Seperti diberitakan, dua pelajar asal Indonesia yang menuntut ilmu di Pesantren Darrul Hadist di Provinsi Sa’dah yang berbatasan dengan Arab Saudi tewas di Yaman. Mereka terkena hantaman roket milik kelompok pemberontak berpaham Syiah Zaidiyyah.

Pesantren memang salah satu target militan karena banyak santri yang berasal dari berbagai negara. Akibatnya, sekitar 10.000 santri yang masih terjebak di pesantren tersebut tidak bisa leluasa keluar. Termasuk 100an santri asal Indonesia. (fal/jpnn)

WNI di Yaman dan Suriah Diminta Pulang

JAKARTA-Pemerintah memberikan warning (peringatan) untuk warga negara Indonesia yang berada di Yaman dan Suriah agar kembali ke tanah air. Langkah itu menyusul tewasnya dua pelajar asal Indonesia di Yaman akibat terkena hantaman roket.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa mengungkapkan, warning diberikan sekaligus karena situasi dalam negeri dua negara tersebut. “Keadaan di Yaman dan Suriah sesuatu yang berkembang dengan penuh ketidakpastian,”n
kata Marty usai mengikuti kunjungan Presiden Republik Federal Jerman Christian Wulff di Istana Merdeka, kemarin (1/12).

Sama saat peristiwa yang terjadi di Mesir, lanjut dia, WNI di Yaman dan Suriah diminta selalu berkomunikasi dengan KBRI untuk memastikan bahwa mereka aman atau mendapat perlindungan. Bahkan, atas instruksi presiden, dubes RI di Damaskus, Suriah, sudah dipanggil untuk melakukan konsultasi. “Ini sebagai wujud keprihatinan kita atas apa yang terjadi di Suriah,” terang Marty.

Menurutnya, jatuhnya pelajar Indonesia sebagai korban tewas di Yaman membuat pemerintah menganjurkan WNI untuk pulang. “Kami akan memberikan bantuan,” katanya. Meski begitu, lanjut Marty, pemulangannya dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi terkini.

Mantan dubes RI untuk PBB itu menuturkan, KBRI di Yaman sudah memberikan imbauan untuk kembali ke Indonesia. Kantor perwakilan juga memfasilitasi untuk proses pemulangan. Namun, kata Marty, kadang para pelajar tersebut juga mengikuti arahan dari pimpinan kampus atau lembaga pendidikan tempat mereka menempuh studi.
“Jumlahnya saya tidak hafal (yang sudah dipulangkan), tapi sudah lebih dari puluhan orang yang kembali ke tanah air. Itu dilakukan secara bertahap,” urai Marty.

Seperti diberitakan, dua pelajar asal Indonesia yang menuntut ilmu di Pesantren Darrul Hadist di Provinsi Sa’dah yang berbatasan dengan Arab Saudi tewas di Yaman. Mereka terkena hantaman roket milik kelompok pemberontak berpaham Syiah Zaidiyyah.

Pesantren memang salah satu target militan karena banyak santri yang berasal dari berbagai negara. Akibatnya, sekitar 10.000 santri yang masih terjebak di pesantren tersebut tidak bisa leluasa keluar. Termasuk 100an santri asal Indonesia. (fal/jpnn)

Tewas Setelah Menolong Paman Kebanjiran

Lima Jenazah Korban Bencana Nias Selatan Ditemukan

TELUK DALAM- Akhirnya Adrian Hulu (23), seorang mahasiswa, ditemukan tak bernyawa. Sebelumnya, diketahui Adrian hanyut saat melintas di atas jembatan di Desa Siofa Banua Kecamatan Mazo, Nias Selatan, Rabu malam.

Ya, pagi kemarin tim Basarnas bersama keluarga bergerak mencari korban yang terhanyut bersama sepeda motor yang ia tumpangi. “Kemarin siang, ia datang menolong pamannya yang menjadi korban banjir, malam setelah selesai ia bermaksud pulang,” ujar Telo Telaumbanua, salah seorang rekan korban, kepada media di lokasi pencarian.

Selain Adrian pihak terkait juga telah menemukan empat korban lainnya. Meski begitu, hingga tadi malam jumlah korban akibat longsor dan banjir di Nias Selatan, Sumatera Utara, memang masih simpang siur. Namun, sampai sejauh ini sebanyak lima orang dalam kondisi meninggal dunia telah ditemukan.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat, Syamsul Maarif, saat ditemui Sumut Pos di VIP Room Bandara Polonia Medan, Kamis (1/12) siang, korban tewas dalam musibah longsor di Kampung Barije, Desa Hilimbaruzo, Kecamatan Mazo berjumlah tujuh orang. Dari ketujuh yang tewas, lima di antaranya tewas tertimbun longsor dan dua lainnya hanyut di sungai saat melintas. Sementara 30 orang lagi masih dalam pencarian petugas SAR.
“Korban yang meninggal akibat longsor di Nias Selatan ada tujuh orang, 30 orang yang hilang masih dalam pencarian tim yang ada di lapangan. Kita sudah berkoordinasi dengan semua pihak dalam hal ini termasuk itu dari TNI/POLRI dan lain-lainnya,” katanya.

Sementara, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Raden Heru Prakoso melalui selularnya, kemarin sore, mengatakan korban tewas di Kampung Barije empat jiwa dan luka-luka satu orang. “Di sini korban meninggal dunia empat orang, satu orang luka-luka. Kerugian material satu unit rumah penduduk, kurang lebih sekitar Rp85 juta,” kata Heru.
Kemudian,  pada hari yang sama, sekitar pukul 18.30 WIB jembatan di Desa Siofa Banua, Kecamatan Mazo, putus. Pada kejadian ini, lanjut Heru, korban meninggal dunia akibat hanyut ditemukan satu orang. “Kerugian materialnya kurang lebih Rp500 juta,” ujarnya.

Selanjutnya sekitar pukul 19.00 WIB terjadi lagi bencana susulan ketiga, yakni tanah longsor di Desa Lawa-lawa Luo, Kecamatan Gomo. “Tapi pada kejadian ini korban nihil. Kerugian material juga nihil,” sebut Heru.
Sementara itu, mengingat lokasi yang sulit ditembus, Syamsul Maarif, mengatakan akan mengirimkan bantuan logistik kepada korban melalui jalur udara. “Proses evakuasi masih terus diupayakan, seperti pembangunan jembatan darurat di sungai menuju lokasi bencana. Tim telah mengirimkan sejumlah bantuan logistik dengan menggunakan jalur udara karena akses ke lokasi terputus. Tidak hanya itu, komunikasi juga terputus ke daerah lokasi bencana,” katanya.
Ya, saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan yang hidup. Karena masyarakat Kampung Barije  sangat membutuhkan makanan, tenda dan dapur umum. “Saat ini kebutuhan mendesak untuk masyarakat adalah makanan, tenda dan pembuatan dapur umum,” kata Harefa seorang warga, kemarin.

Selain itu dibutuhkan pula kantong mayat untuk mengangkut mayat-mayat yang ditemukan di dalam timbunan longsor. Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi, mengatakan pihaknya mengalami kendala dalam menyalurkan distribusi bantuan kepada warga karena lokasi bencana yang berjarak sekitar 40 km dari Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan. Selain itu lokasi berada di kawasan perbukitan dengan medan yang cukup terjal dan hujan deras mengguyur kawasan tersebut.  (net/jon/ala/smg)

BNI BUMN Paling Inovatif

JAKARTA- Untuk  mendorong inovasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus dilakukan. Salah satunya melalui penghargaan BUMN Inovasi Terbaik.

PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk berhasil terpilih sebagai best of the best atau BUMN Inovatif Terbaik. Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, inovasi sangat dibutuhkan untuk membuat BUMN bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. “Jangan kalah dengan swasta,” ujarnya dalam acara penghargaan di Hotel Four Seasons Jakarta tadi malam (1/12).

Ketua Dewan Juri M. Said Didu mengatakan, BUMN Award ini diberikan untuk mendorong inovasi dalam tubuh BUMN. Selain Said, dewan juri lainnya adalah Tanri Abeng, Pandu Djajanto, Wahyu Hidayat, Bagus Rumbogo, Ilham Habibie, Mas Ahmad Daniri, Avanti Fontana, Aviliani, A. Fauzi, Syamsuddin Ch Haesy, Mahmud Husen, dan Hadi M Djuraid.
Selain penghargaan best of the best atau BUMN inovatif terbaik, total ada 12 kategori penghargaan yang diperebutkan oleh 69 BUMN yang berpartisipasi. Uniknya, pembacaan nominasi dan pemenang dilakukan seluruhnya oleh para srikandi BUMN, yakni para perempuan yang duduk di jajaran direksi BUMN.

11 penghargaan lainnya adalah Chief Executive Officer (CEO) atau Direktur Utama BUMN Inovatif Terbaik. Penghargaan untuk bos BUMN ini jatuh ke tangan Dirut PT Pelindo II R.J Lino. Posisi ke dua ditempati Dirut PT Angkasa Pura (AP) II Tommy Soetomo dan ke tiga Dirut PT Kereta Api Ingasius Jonan.

Selanjutnya, Inovasi Manajemen BUMN Terbaik yang jatuh ke tangan PT Pertamina. Lalu, Inovasi good corporate governance (GCG) BUMN Terbuka Terbaik kepada PT Bank Mandiri Tbk. Kemudian, penghargaan Inovasi Produk Manufaktur BUMN Terbaik berhasil disabet oleh PT Pindad. Lalu, Inovasi Produk Agrikultur BUMN Terbaik berhasil diraih PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV.

Selanjutnya, penghargaan Inovasi Produk Jasa BUMN Terbaik jatuh kepada PT PLN. Lalu, Inovasi Pemasaran BUMN Terbaik berhasil disabet PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk. Setelah itu, penghargaan Inovasi SDM BUMN Terbaik berhasil diraih PT Pupuk Kaltim. Lalu, penghargaan Inovasi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN Terbaik disabet oleh PT BNI Tbk.

Kemudian, penghargaan Inovasi Pelayanan Publik BUMN Terbaik diraih oleh PT PLN. Lalu, penghargaan Inovasi Strategi Bisnis Global BUMN Terbaik jatuh ke PT Biofarma. Selanjutnya, penghargaan Inovasi Teknologi BUMN Terbaik berhasil disabet oleh PT Biofarma. (owi/jpnn)

Syamsul Utus Istri Jenguk Marahalim

MEDAN-Datok Seri H Syamsul Arifin mengutus istrinya Sri Hj Fatimah Habibie untuk membesuk mantan Gubsu Marahalim Harahap yang kini sedang dirawat di Rumah Sakit Permata Bunda Medan, Rabu (30/11).

“Abang (Syamsul Arifin, Red) menceritakan kepada saya, Pak Marahalim Harahap sudah dianggap sebagai gurunya adalah tokoh besar, seorang pejuang yang sudah banyak berbuat untuk masyarakat khususnya di Sumatera Utara,” tutur Fatimah Habibie, usai membesuk Marahalim Harahap, Rabu (30/11).

Menurutnya, H Syamsul Arifin juga mengajak semua masyarakat agar senantiasa menghormati dan menghargai tokoh-tokoh yang telah berjuang dan berbuat untuk kesejahteraan masyarakat, seperti Marahalim. “Kita harus bisa menghormati dan menghargai jasa-jasa para tokoh, agar kita menjadi pribadi yang bermarwah pula,” ujarnya. (ila)

Granat Menyalak, Tiga Luka

BANDA ACEH- Granat kembali menyalak di Banda Aceh, Kamis (1/12). Kali ini sasarannya adalah Wisma Lampriet, Jalan T Nyak Arief, Banda Aceh.

Granat yang dilempar orang tak dikenal itu meledak sekitar pukul 20.00 WIB dan memakan tiga korban masing-masing, Ina (23), warga Prada Banda Aceh terkena di betis kiri, Lia (22), juga warga Prada, dan Ardeman (20), warga Lamgugop, Banda Aceh. Akibat ledakan itu, lalulintas sempat macet.

Tim Gegana dari Polda Aceh saat ini sedang menyisir lokasi untuk mencari jejak pelaku. Sementara Kepala Polda Aceh, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan mengatakan, akan membentuk tim khusus untuk mengejar si pelaku sampai ditangkap.
“Ini orang-orang yang tak punya rasa kemanusiaan. Perbuatan biadab. Telah menelan korban yang tak berdosa. Rakyat Aceh harus bersatu melawan segala bentuk perbuatan-perbuatan yang merusak perdamaian seperti ini,” kata Iskandar.
Dua hari lalu, ledakan serupa juga terjadi di kantor (Seuramo) Tim Sukses Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Irwandi Yusuf -Muhyan Yunan. Tapi tak ada korban jiwa. Letupan granat Wisma Lamprit yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Seuramo Irwandi-Muhyan. Aksi teror, Rabu (30/11) dinihari kemarin masih dalam penyelidikan intensif petugas. Dari hasil penelusuran langsung Metro Aceh (grup Sumut Pos) ke TKP di Jalan Tgk Nyak Arief, Kamis (1/12), terungkap sedikit keanehan. Sumber di lokasi mengungkap lampu sebuah toko di depan kantornya sempat padam, sedangkan di hari biasa tidak. Bahkan setelah meledak, lampu itu kembali menyala. Hal ini ditengarai seperti sebuah isyarat (kode) atas peristiwa tersebut.

Salah seorang anggota Timses Seuramo, Sabarudin alias Alam (40) mengaku, mereka sedang berada di ruang tamu ketika lemparan granat terjadi. (net/bbs/jpnn)

Antar Istri ke Pasar

Adnan Pandu Pradja

Calon pimpinan KPK Adnan Pandu Pradja termasuk kelompok suami yang cinta istri. Tak sungkan-sungkan, ia kerap mengantar pasangannya belanja ke pasar tradisional.

Hal itu terungkap saat uji kelayakan dan kepatutan hari ketiga capim KPK di Komisi Hukum DPR. Adnan yang tinggal di wilayah Depok, Jawa Barat ini mengakui termasuk golongan suami cinta istri. “Jadi istri saya usaha catering, nah saya sering antar istri ke pasar tradisional,” katanya di hadapan Komisi Hukum DPR, Jakarta, Rabu (30/11).

Adnan yang juga menjadi Ketua RT di lingkungan rumahnya itu mengakui saat mendaftar capim KPK sudah berembuk dengan keluarganya, termasuk istrinya. Meski demikian, Adnan bukan termasuk kelompok Ikatan Suami Takut Istri (ISTI). “Takut istri, tidak,” tepisnya.(net/bbs)

Boy Hermansyah Masih Buron

Tersangka Kredit Tanpa SOP BNI

MEDAN-Selain mencari aset PT Bahari Dwi Kencana Lestari, Kejaksaan  Tinggi Sumatera Utara juga masih memburu Boy Hermansyah yang sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), selaku direktur perusahaan perkebunan kelapa sawit milik swasta itu.

‘’Saat ini direktur PT Bahari Dwi Kencana Lestari (Boy Hermansyah, Red) masih kita cari. Yang bersangkutan sendiri belum ada etika baik untuk memenuhi panggilan penyidik untuk dimintai keterangan. Status yang bersangkutan sendiri sudah dijadikan tersangka bersama dengan pejabat BNI Cabang Medan lainnya,’’ ujar Kasi Pidsus Kejatisu Jufri Nasution SH, Kamis (31/12).

Ketika disinggung mengenai status BAP 4 tersangka kredit macat tanpa Standar Operasional Prosedur (SOP), Jufri Nasution mengatakan bahwa mereka sudah menerima hasil audit BPKP. Dari hasil audit tersebut nantinya akan dijadikan alat bukti di BAP. ‘’Berkas sudah lengkap kita tinggal melimpahkan ke Pengadilan Negeri Medan. Karena semua bukti dan saksi sudah lengkap. Namun demikian kita akan tetap mengoreksi berkas tersebut agar tidak punya celah di pengadilan nantinya,’’ tegasnya.(rud)

Niat Mundur Gamawan Sudah Matang

Jika Proyek E-KTP Gagal

JAKARTA- Entah sudah berapa kali Mendagri Gamawan Fauzi mengungkapkan niatnya untuk mengundurkan diri jika target pembuatan 170 juta Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) hingga akhir 2012 tidak tercapai.

Gamawan lagi-lagi menyatakan janjinya itu. “Kalau tidak sampai 170 juta, saya akan mundur,” ujar Gamawan di depan forum yang menghadiri acara Forum Kehumasan Pusat dan Daerah Tahun 2011 di Jakarta, Kamis (1/12).

Gamawan mengaku ada pihak yang mencemooh niatnya itu. Menurutnya, hal itu mengherankan dirinya. Dulu kerap muncul desakan agar para pejabat yang gagal mundur saja, tapi begitu dia mau mundur jika gagal proyek e-KTP, malah ada yang menyebut itu bentuk kesombongan. “Maju salah mundur salah,” ujar Gamawan.

Dia mengatakan, pilihan sikap mundur jika e-KTP gagal semata-mata ingin menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap tugas. Sekaligus untuk menunjukkan bahwa tidak semua orang haus kekuasaan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa tidak semua orang haus kekuasaan. Kalau gagal, ya mundur,” terangnya. Dengan lugas, mantan gubernur Sumbar ini siap menjadi rakyat biasa. (sam)