26 C
Medan
Saturday, April 4, 2026
Home Blog Page 14344

Ditemukan Tabung Gas Bocor

LANGKAT- Pemkab Langkat perketat pengawasan pangkalan LPG tabung ukuran 3 Kg berkaitan pembinaan, meliputi pengawasan dan pendistribusian. Sekaligus memperingatkan penyalur yang tidak mengantongi izin, agar segera mengurus sebelum ditindak.

“Bupati menginstruksikan, hal-hal terkait kebijakan pemerintah dalam mensubsidi kebutuhan masyarakat termasuk LPG tabung 3 Kg perlu tetap dilakukan pembinaan dan pengawasan,” kata Asisten Adm Ekbangsos Indra Salahuddin.

Berdasarkan evaluasi pihak Pemkab, sebut Indra, didampingi Kabag Perekonomian Basrah Pardomuan dan Kabag Humas Syahrizal, Jumat (18/11), beberapa hal menjadi perhatian antara lain masih adanya agent mendistribusikan LPG langsung ke pengecer, tabung bocor, karet rusak maupun kondisi tabung berkarat, mengakibatkan masyarakat dihantui kecemasan membeli.
Selain itu, disebutkan Indra, juga mengemuka upaya menghindari masuknya agent dari luar Langkat yang berakibat kepada persaingan tidak sehat dan dapat melumpuhkan tata niaga jalur distribusi.

Horas Sirait staf Gasdom mewakili PT Pertamina mengakui, karet rusak, tabung rusak ataupun berkarat dan sudah menjadi perhatian pihaknya, walaupun ketersediaan tabung juga terbatas. Karenanya, agent diharapkan tidak menerima kondisi seperti dimaksud.(mag-4)

Pasibor Dukung Toba Go Green

Panitia Natal Audiensi ke Wakapoldasu

MEDAN- Parsadaan Siallagan Dohot Boruna (Pasibor) se-Indonesia harus ikut dan berperan aktif dalam berbagai program pembangunan baik di tingkat Sumut maupun nasional. Terkait isu lingkungan, misalnya, Pasibor harus ikut mendukung program Toba Go Green.

Hal itu diungkapkan Wakapoldasu Brigjen Pol Drs Sahala Siallagan saat menerima audiensi Panitia Perayaan Natal Pasibor se-Indonesia bersama Panitia Natal Pasibor Kota Medan, Rabu (16/11). Menurut Sahala, Pasibor harus tampil melakukan berbagai kegiatan positif untuk mendukung pembangunan Sumut ke depan, termasuk melakukan kegiatan bernilai sosial. Namun salam perayaan Natal Pasibor tahun 2011, Sahala menekankan dilakukan aksi sosial.

Dalam audiensi tersebut, hadir panitia Natal Pasibor se-Indonesia yaitu Timbul P Siallagan SH (ketua) dan Esron Siallagan SH (sekretaris) didampingi ketua dan sekretaris DPD Pasibor Kota Pematangsiantar, Laurentius Siallagan SH dan Juli Siallagan BBA. Sementara, dari panitia perayaan Natal DPD Pasibor Kota Medan hadir Hotben Siallagan (ketua), Hotman Siallagan ST  (sekretaris), ketua DPD Pasibor Medan St SL Siallagan SE, Ketua Umum DPP Pasibor DR Haposan Siallagan SH, MH dan sekretaris umum Edward HS Siallagan.

Ketua panitia Natal Pasibor se-Indonesia Timbul P Siallagan SH melaporkan, kegiatan perayaan Natal Pasibor se-Indonesia akan diadakan di Gereja HKBP Dame Jalan Asahan Pematangsiantar, Rabu 28 Desember 2011 mulai pukul 10.00 WIB.

Sebelum perayaan Natal, panitia mengadakan bakti sosial berupa pemberian bantuan berupa Sembako ke beberapa panti asuhan di Pematangsiantar dan Simalungun.(pms)

Penderita HIV/AIDS Tinggi, Pemerintah Disalahkan

18 RS Rujukan untuk Pengidap HIV/AIDS di Sumut

Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat keterangan (SK) tentang 18 rumah sakit (RS) pemerintah di Sumatera Utara menjadi rumah sakit rujukan orang dengan HIV/Aids (ODHA).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, dr Candra Syafei SpOG, Jumat (18/11) kembarin kembali mempertegaskan bahwa dalam SK Menteri Kemenkes No. 782/Menkes/SK/IV/2011 disebutkan, bahwa diantara 18 rumah sakit itu, lima diantaranya rumah sakit pemerintah di Kota Medan, seperti RSUP H Adam Malik Medan, RSUD dr Pirngadi Medan, RS Bhayangkara, RS Kesdam, dan RS Haji Medan.

“Secara keseluruhan ada 278 rumah sakit pemerintah di-Indonesia, 18 rumah sakit diantaranya di Sumut yang telah di SK kan menjadi rumah rujukan untuk ODHA,” papar Chandra Syafei
Dengan jumlah lima rumah sakit untuk ODHA di Medan, kata Chandra, berarti ada 13 rumah sakit yang tersisa di berbagai kabupaten/kota di Sumut.

Diantaranya, RS HKBP Balige, RSU Lubukpakam Deli Serdang, RS Kabanjahe Kabupaten Karo, RS Pematangsiantar, RS Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi, RS Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang Badagai.

“Kemudian RSUD dr Djoelham Binjai, RSUD Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu, RS Adrianus Sinaga Kabupaten Samosir, RS dr Ferdinan L Tobing Kabupaten Sibolga, RSUD Padangsidimpuan, RS Tarutung di Kabupaten Tapanuli Utara dan RS dr H Abdul Manan Simatupang Asahan,” imbuhnya.

Ditambahkannya, sejauh ini, diantara 33 Kabupaten/Kota di Sumut, hanya 26 kabupaten/kota saja yang melaporkan adanya kasus HIV/AIDS.
“Data yang kita peroleh di Dinkes Sumut, hingga Oktober 2011, jumlah kumulatif pengidap HIV positif sebanyak 1.220 dan penderita Aids sebanyak 1.949 orang serta 380 orang meninggal dunia akibat virus mematikan itu,” paparnya.

Sedangkan penyebab tertinggi penularan virus ini, heteroseksual masih merupakan tempat teratas dengan jumlah 1.921 kasus, penggunaan jarum suntik (penasun) dengan jumlah 937 penderita serta penderita yang merupakan hetero dan merupakan IDU’s juga ada 119 kasus.

Terpisah, Sekretaris Komisi B DPRD Kota Medan, Khairuddin Salim mengatakan meskipun hal tersebut sebagai langkah positif yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi HIV/Aids, namun pemerintah dinilai lamban dalam meng-SK-kan 18 rumah sakit pemerintah sebagai rumah rujukan bagi ODHA.

“Kenapa tidak dari dulu? Padahal angka pengidap HIV/Aids inikan jumlah nya sangat tinggi. Apalagi, obat yang betul-betul untuk menyembuhkan ODHA belum ada. Pemerintah sangat lamban menetapkan 18 rumah sakit sebagai rujukan ODHA. Ini merupakan tanggungjawab pemerintah,” katanya.

Menurutnya, tingginya angka pengidap HIV/Aids dikarenakan keputusasaan ODHA sendiri dalam mendapatkan pengobatan atau pelayanan kesehatan secara maksimal dirumah sakit. “Misalnya begini, ada pengidap HIV/Aids yang tidak mendapat pengobatan yang maksimal, karena putus asa mereka sengaja menularkannya kepada orang lain. Makanya, pemerintah sangat berperan dalam memberikan pemahaman pada ODHA ini,” ucapnya.

Dalam penanggulangannya sendiri, diharapkan Departemen Kesehatan khususnya Dinas Kesehatan Sumut lebih pro aktif dengan terjun kelapangan. Selain itu, penetapan Ranperda HIV/Aids menjadi Perda juga berperan penting dalam meminimalisir tingginya angka pengidap HIV/Aids.

“Saat ini Ranperda HIV/Aids masih dalam pembahasan, namun akan segera ditetapkan menjadi Perda. Ini sangat penting ya, karena didalam Perda itu, ada kewajiban dan hak ODHA dalam memperoleh pengobatan. Selain itu, ada sanksi tegas bagi instansi jika tidak memberikan pengobatan yang baik kepada pengidap HIV/Aids,” urainya.

Sebagai lembaga pengawasan, sambungnya, pihaknya mengharapkan peran instansi terkait, khususnya Dinas Kesehatan dalam memaksimalkan kinerjanya.

“Kita harap, tingginya angka pengidap HIV/Aids ini dapat ditekan penularannya. Kita harus optimis, HIV/Aids ini bisa ditanggulangi asalkan ada keseriusan dari pemerintah serta instansi terkait,” bebernya. (mag-11)

Kemerindag Kucurkan Rp37 M untuk Industri Sei Mangke

MEDAN-Kawasan industri Sei Mangke di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara merupakan salah satu proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I). Rencananya, kawasan ini akan dijadikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sesuai hasil rapat Dewan Nasional KEK pada tanggal 28 Oktober 2011 yang lalu. Saat ini kawasan ini sudah dilirik oleh berbagai investor besar internasional, seperti Unilever, PNG, dan lainnya.

“Ada 6 investor besar yang sudah setuju untuk menanamkan modal di Sei Mangke, seperti Unilever, PNG dan lainnya,” kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN 3, Khairul Muluk, Jumat (18/11).

Walaupun telah dilirik oleh investor besar baik dari dalam maupun luar negeri, tetapi masih ada kendala untuk proyek KEK Sumut ini, salah satunya adalah peralihan dari Hak Guna Usaha (HGU) ke Hak Pengolahan Lahan (HPL).

“Kita telah menyiapkan lahan seluas 2.000 ha, tetapi belum mendapatkan izin dari BPN, sementara investor sudah mendesak dengan proyek ini,” tambah Khairul Muluk.
Perpindahan dari HGU ke HPL ini belum mendapatkan izin dari BPN, atau tepatnya pada permasalah RTRW tetapi hal ini bukan hanya terjadi di Sumut, sebagian daerah seperti Kalimantan, Riau dan lainnya juga mengalami masalah.

“Kalau dari persyaratan BPN, kita sudah mencukupi, karena kita sudah memiliki lebih dari 10 persen hutan, dan kita juga sudah menyurati sebanyak 2 kali secara periodik BPN terkait masalah ini,” ucap Plt Gubsu, Gatot Pudjo Nugroho.

Selain peralihan dari HGU ke HPL, permasalah lain yang dihadapi dalam proyek Sei Mangke adalah pelabuhan atau dermaga, kereta api, dan amdal. “Untuk saat ini ada yang sudah mendapat izin amdal hanya lahan seluas 104 ha, sedangkan sisanya belum menanti untuk mendapatkan izin,” ujar Direktur Utama PTPN III, Amri Siregar.

Menurutnya, untuk mendapatkan izin seperti amdal, pembangunan dermaga dan kereta api, bisa berjalan dengan waktu, sedangkan untuk izin perpindahan izin tidak bisa. “Ini yang sedang di tunggu, mengingat para investor juga sudah mulai bertanya terkait proyek Sei Mangke,” tambah Amri.

Sementara itu, kemerindag akan mengucurkan dana Rp37 miliar melalui APBN. Dana ini akan digunakan untuk pembangunan pusat layanan, motivasi, SDM, laboratorium dan pendidikan kejuruan profesi di daerah Sei Mangke, sehingga nantinya para investor tidak perlu keluar dari Sei Mangke untuk melakukan penelitian.

“Dana ini seutuhnya untuk pusat layanan umum, sedangkan lahan yang kita sebut pinjam pakai ini akan digunakan 70 persen untuk industri sedangkan sisanya untuk layanan umum,” tambah Khairul Muluk. Dan layanan umum ini yang nantinya akan menjadi kelebihan KEK dibandingkan dengan KEK negara tetangga.

“Fasilitas umum ini tidak semua yang memiliki, bahkan negara tetangga (Malaysia) tidak memiliki di daerah industri mereka,” tambah Khairul.

PTPN III bersedia untuk mengadakan pinjam pakai ini dikarenakan, PTPN III memiliki bahan dan baku dan lahan kosong yang dapat digunakan dan dialihfungsikan. “Kita memiliki bahan baku dan lahan, jadi kita akan menarik investor yang utama adalah oil chemical dan bio diesel,” tambah Khairul. (ram)

Komjen Pol Oegroseno Siap Pimpin Pujakesuma

MEDAN- Mantan Kapolda Sumut Komjen Pol H Oegroseno menyatakan kesiapannya memimpin Pujakesuma jika warga paguyuban ini memang menginginkan keberadaannya untuk bersama-sama lebih membesarkan paguyuban warga Jawa paling tua di Sumatera Utara ini.

“Kalau Pujakesuma menghendaki, saya siap!” ujar Oegroseno, kepada wartawan di kantornya, kemarin. Jenderal Polisi bintang tiga yang kini menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan Markas Besar Polri (Kalemdiklat Polri) itu, ditanyai kesiapannya mengingat kedekatannya dengan warga Pujakesuma selama menjabat Kapolda Sumut sejak Februari 2010 hingga Maret 2011. DPP Pujakesuma sendiri akan melaksanakan Mubes III/Musywil III Pujakesuma Sumut pada 19-20 November 2011 di Hotel Candi Jalan Darussalam Medan.

Nama Oegroseno muncul menjelang Mubes III Pujakesuma setelah DPW Pujakesuma Jakarta, Kepri dan Lampung memasukan namanya sebagai calon Ketua Umum DPP kepada Panitia Mubes, kemarin, untuk menggantikan Drs H Kasim Siyo MSi yang tidak bersedia lagi dicalonkan.

Lebih lanjut Oegroseno mengakui, selama bertugas di Sumatera Utara dirinya banyak bergaul dengan warga Pujakesuma dan mengenal lebih dekat Paguyuban Keluarga Besar Pujakesuma sebagai organisasi masyarakat Jawa tertua dan terbesar di Sumatera.

“Banyak nilai-nilai luhur di Pujakesuma yang harus dipertahankan, untuk menjadi benteng moral harkat dan martabat bangsa,” kata Oegroseno, yang juga pernah menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah itu.

Pati Polri yang dikenal dengan slogan ‘Jangan Ada Lagi Darah dan Air Mata di Kantor Polisi’ itu mencontohkan seperti nilai guyub maupun semangat rukun, reket, regeng dan rumekso yang menjadi roh-nya Pujakesuma. “Saya kagumi warga Pujakesuma, karena dengan mengaplikasikan nilai dan semangat tersebut mereka mampu luwes dalam pergaulan lintas etnis dimanapun berada,” ujarnya.

Sebelum bertugas di Polda Sumut, pria kelahiran 17 Pebruari 1956 ini, pernah menjabat sebagai Waka Polda Kepulauan Bangka Belitung, menjadi Direktur Samapta Polda Sulawesi Tenggara, Dir Pam Obvit Polda Metro Jaya, Karo Ops Polda Metro Jaya, Kadiv Propam Mabes Polri dan beberapa jabatan lainnya.

Secara terpisah, Ketua DPW Pujakesuma Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), DR Ir Joko Endang Gunawan MSc mengatakan, pihaknya mencalonkan Oegroseno sebagai calon Ketua Umum DPP Pujakesuma priode 2011-2016 karena menilai figurnya mampu memenej warga Jawa Sumatera untuk dapat berperan lebih besar dalam pembangunan bangsa.
“Kami menilai, Pak Oegroseno figur yang tepat saat ini untuk membesarkan dan memenej potensi warga Pujakesuma,” ujar Joko.

Secara terpisah Ketua Umum DPP Pujakesuma Drs H Kasim Siyo MSi menyambut baik kesiapan Oegroseno menggantikan dirinya sebagai Ketua Umum DPP Pujakesuma.
“Saya ya tidak punya titipan ‘putra mahkota’. Yang penting, pengganti saya harus lebih muda, mempunyai loyalitas dan integritas tinggi, berpengaruh luas serta bertekad membangun Pujakesuma menjadi lebih baik lagi,” ujar Kasim Siyo.

Sampai saat ini, kata Kasim Siyo, Pujakesuma sebagai sebuah organisasi yang berlandaskan nilai-nilai guyub yang dibentuk di Sumatera Utara 31 tahun lalu, telah tumbuh dan berkembang di sembilan provinsi. Yakni di Aceh, Riau, Kepri, Sumbar, Sumsel, Jambi, Lampung dan Jabotabek. “Pujakesuma terbentuk atas inisiatif warga Pujakesuma di daerah tersebut,” ujarnya.

Menyangkut Mubes III Pujakesuma/Musywil III DPW Pujakesuma Sumut, Kasim menegaskan mubes/musywil mengambil tema “Meneguhkan Nilai Guyub Sebagai Moral Berorganisasi dalam Era Reformasi”. Masalah guyub, katanya, menjadi konsentrasi utama dalam mubes tahun ini, karena ada indikasi nilai guyub telah mulai ditinggalkan warga Pujakesuma di dalam mengelola organisasi Pujakesuma.

Mubes/Musywil Pujakesuma selama dua hari itu akan memilih kepengurusan baru DPP, DPW Pujakesuma Sumut, DPW Wanita Pujakesuma Sumut dan DPW Generasi Muda Pujakesuma Sumut. Ketua Panitia Mubes/Musywil, Drs H Joko Susilo menyatakan kesiapan panitia untuk penyelenggaraan acara ini.(ade)

Singer Untuk Beragam Jahitan

MEDAN- Bagi Anda yang menyukai dunia jahit menjahit, atau telah membuka usaha menjahit, kini telah hadir mesin jahit Singer, yang dapat digunakan dengan mudah dan nyaman.

Mesin jahit Singer, keluaran Inggris ini, memiliki kualitas handal dan terjamin, bahkan bisa dikatakan dapat digunakan seumur hidup. “Kualitas dan teknologi dalam mesin jahit Singer sangat terjamin, kalaupun ada kerusakan, kita bersedia untuk dipanggil dan memperbaikinya,” ujar Manager Area Singer, Chandra Muriawan.

Mesin jahit ini dapat dipergunakan untuk semua kegiatan menjahit, seperti, jahit pinggir, jahit bordir, lubang kancing, ngesum, nyisip atau nambal dan aplikasi lainnya.  “Nambal atau jahit pinggir, paling sering dilakukan seorang penjahit untuk merenovasi baju,” tambah Candra.
Selain itu, mesin jahit Singer juga dapat digunakan untuk menjahit 7 pola jahitan dengan 4 langkah potong dan pemutar benang lebih mudah digunakan karena sudah otomatis.

Untuk mesin jahit Singer yang paling diminati kaum hawa adalah type 8280 dan 2250. Harga untuk mesin jahit ini berkisar diatas Rp3 jutaan. Berat mesin jahit juga tidak terlalu berat, hanya sekitar 7 kg dengan panjang 35 cm. “Sangat praktis, bisa dibawa kebagian rumah mana saja untuk menjahit, karena tidak banyak memakan tempat. Untuk perawatan, bagian mesin tidak perlu diolesi dengan minyak lagi,” tambahnya.

Untuk mendapatkan mesin jahit ini, cukup dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp3 juta. Mesin jahit Singer dapat ditemui di Showroom Medan yang terletak di Jalan Merak Jingga No.128. “Setiap pembelian, kita juga akan mengadakan pelatihan, untuk mempermudah pelanggan,” tutup Candra.(ram)

82 Pool Angkutan Ditertibkan

Senin, Polresta dan Dishub Medan Gelar Razia

MEDAN- Polresta Medan dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan akan melakukan penindakan terhadap 82 pool angkutan yang menyalahi SK Wali Kota No.551.21/059/2008 atau sering disebut sebagai terminal liar. Penindakan dalam rangka penertiban lalulintas ini dilakukan mulai Senin (21/11) depan hingga 20 hari ke depan.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Medan, Armansyah, dalam SK Wali Kotan
No.551.21/059/2008 tersebut, pool angkutan hanya diperbolehkan menjual tiket, bukan menurunkan atau menaikkan penumpang apalagi meletakkan kendaraannya di terminal tersebut.

“Jadi kalau perusahaan tersebut menaikkan atau menurunkan penumpang juga, akan langsung ditindak. Karena kendaraan yang diletakkan di terminal tersebut menyebabkan kemacetan,” kata Armansyah dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi D DPRD Medan, Jumat (18/11).

Dijelaskan Armansyah, berdasarkan data Dishub Medan untuk lokasi terminal liar di Medan terdapat di sekitar Jalan Jamin Ginting ada 14 jasa angkutan, Jalan Sisingamangaraja ada 49 jasa angkutan, Jalan Asia ada 10 jasa angkutan dan Jalan Laksana ada 13 jasa angkutan. “Jenis kendaraannya berupa L-300. Taksi dan mini bus dan bus,” cetusnya.

Sedangkan ntuk penindakan, lanjut Arman, akan dilakukan dengan preventif. Dimana, Dishub berharap kepada Keluarga Besar Pengemudi dan Pemilik Kendaraan (Kesper) Medan bisa bekerjasama dengan mengingatkan seluruh perusahaan angkutan mengenai peraturan dari wali kota tersebut.

“Kami juga minta data perusahaan yang menyalahi aturan dari Kesper sehingga penindakan tepat sasaran. Kesper juga diharapkan bisa membantu sosialisasi aturan kepada seluruh perusahaan pengangkutan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga mengatakan, penertiban dilakukan hanya dalam waktu 20 hari karena fokus untuk persiapan pengamanan Natal dan Tahun Baru. Sebelumnya pihaknya sudah melakukan sosialisasi sejak 13 Agustus hingga 24 September 2011.

“Sosialisasi sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Kami sudah mengimbau para angkutan untuk tidak mengangkut penumpang di lokasi larangan masuk angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) serta angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Begitu juga kepada penjual tiket untuk tidak mengangkut penumpang di area lokasi penjualan tiket,” jelasnya.

Dikatakan Tagam, pihaknya langsung melakukan penindakan setelah melakukan sosialisasi. Hasilnya, 65 barang bukti berhasil diamankan yang terdiri dari 55 unit kendaraan dan 10 lembar Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). “Ke depan diharapkan penindakan bisa maksimal. Rencana ini juga sudah disampaikan saat sosialisasi kembali yang kami lakukan,” pintanya.

Selain pool angkutan yang tidak sesuai aturan, tambah Tagam, pihaknya juga akan menertibkan terhadap pengendara kendaraan roda dua yang tidak menghidupkan lampu pada siang hari dan tidak mengenakan helm Standart Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, angkutan kota (angkot) dan becak yang memakai plat hitam juga akan ditindak.

Kasatlantas Polresta Medan Kompol Made Ary Pradana menambahkan tiga tim telah disiapkan untuk memaksimalkan penindakan. Pada hari pertama akan dilakukan secara gabungan untuk perusahaan angkutan yang menyalahi aturan. Selanjutnya pada hari kedua akan difokuskan ke kendaraan roda dua begitu seterusnya hingga angkot dan becak.

“Untuk tiga hari pertama, kami akan melakukan penertiban secara serentak. Hari pertama semua jenis kendaraan, kemudian hari kedua khusus roda dua dan terakhir angkot serta becak. Selebihnya akan dilakukan penertiban secara acak agar target penindakan tercapai,” paparnya.

Ketua Komisi D DPRD Medan Parlaungan Simangunsong mengatakan mendukung penindakan ini dalam rangka menertibkan lalu lintas. Diharapkan program ini bisa tepat sasaran sehingga selanjutnya perusahaan angkutan dan masyarakat lebih disiplin dalam berlalulintas. “Kedisiplinan itu yang perlu ditumbuhkan. Penindakan itu bisa menjadi langkah awal untuk mendisplinkan pengguna jalan raya,” beber Parlaungan.(adl)

Indonesia Usul Program Kewirausahaan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, Pemerintah Indonesia mengusulkan sekaligus mencetuskan suatu program, yakni Entrepreneurship and Enterprise Development (EED) atau Program Kewirausahaan dan Pengembangan Usaha dalam KTT ke-19 ASEAN.

“Program ini diusulkan dalam rangka memberdayakan masyarakat miskin dan membantu usaha kecil dan menengah,” kata Hatta, kemarin.

Ia menginformasikan, dalam rapat ASEAN Community Economic Council, telah disepakati sejumlah pilar penting untuk menyatukan masyarakat ekonomi ASEAN pada 2015. Salah satunya adalah mengurangi kesenjangan ekonomi dan kemiskinan di kawasan Asia Tenggara melalui penyediaan fasilitas pendanaan untuk pemberdayaan masyarakat miskin dan kelompok usaha kecil dan menengah (UKM).

Selain itu, dalam program EED diusulkan ada semacam fasilitas kredit bagi masyarakat miskin serta pengusaha kecil dan menengah yang menyerupai kredit usaha rakyat (KUR), sehingga kelompok UKM menjadi bagian dari rantai suplai ekonomi kawasan ASEAN.
“Intinya, mempercepat peningkatan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan pembangunan di antara negara-negara ASEAN,” ujar Hatta. (net/jpnn)

Kompor Meledak, Ibu dan Anak Terbakar

MEDAN- Ajeng Hapijah Sari (2), harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD dr Pirngadi Medan. Pasalnya, bocah malang anak dari pasangan suami istri, Pahroji (31) dan Ani (29), warga Jalan Mesjid Taufik, Medan Perjuangan ini mengalami luka bakar pada bagian wajah dan badannya akibat ledakan kompor, Kamis (17/11) sore 15.30 WIB.

Tidak hanya itu, akibat kompor yang meledak itu, Ani juga mengalami luka bakar ringan. Ani menuturkan, saat itu dirinya sedang memasak air. Setelah ditunggu berapa jam, akhirnya air itu pun mendidih dan Ani pun bergegas mengangkat panci yang berisi air panas tersebut sambil menggendong Ajeng. Namun, lanjutnya, kompor yang dipakai untuk memasak air tersebut meledak dan mengenai mereka berdua.

“Kompornya tiba-tiba saja meledak dan apinya melambung ke atas menyambar saya dan anak saya. Saat itu saya berusaha mengoyak baju yang dikenakan Ajeng agar apinya tidak merambat. Lalu Ajeng pun saya larikan ke klinik terdekat,” katanya di ruang instalansi gawat darurat (IGD) RSU Pirngadi Medan, Jumat (18/11) siang.

Lebih lanjut, diterangkan Ani, karena di klinik itu tidak ada dokternya, selanjutnya Ajeng dilarikan ke RSU Pirngadi Medan. “Ajeng mengalami luka bakar di wajah, punggung, bahu dan kedua lengan nya. Kalau saya mengalami luka bakar ringan di dada. Ajeng terbakar saat saya gendong” terangnya.

Ajeng pun selanjutnya dibawa ke IGD RSU Pirngadi untuk mendapatkan perawatan intensif dan berdasarkan keterangan seorang petugas medis, Ajeng mengalami luka bakar 15 persen.
“Luka bakarnya hanya 15 persen saja dan harus dirawat paling cepat tiga hari,” ungkap petugas yang enggan namanya disebutkan tersebut. (jon)

Usaha Kuliner Harus Kreatif

MEDAN- Memiliki usaha yang sukses, merupakan impian setiap orang, karena dengan usaha, selain menghasilkan uang, juga dapat menyalurkan ide dan kreatifitas. Selain itu, dengan usaha dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Untuk saat ini, usaha kuliner atau makanan sangat booming di dilakoni pengusaha. Bagaimana tidak, dengan modal kecil, dapat memberikan keuntungan besar, bahkan berlipat ganda. “Usaha kuliner besar untungnya, tetapi besar juga kerugiannya, karena bahan bakunya tidak tahan lama,” ujar Hadid, Manager Resto Gardenia yang terletak di Jalan Dr Mansor, Medan.
Karena bahan baku tidak tahan lama, pemilik resto harus kreatif untuk mengolah dan menyajikan makanan bagi pengunjung resto.

Untuk itu, bagi pengusaha resto harus kreatif dalam mengelola usaha satu ini. Apalagi,  saat ini usaha kuliner kian menjamur di Kota Medan, dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan.
“Standarisaasi produk sangat penting. Bila makanan enak, pasti dikejar. Karena saat ini banyak saingan, berarti harus bermain di suasana resto yang lain dari yang lain,” tambah Hadid.

Selama 5 tahun menggeluti usaha resto di Kota Medan, Hadid tetap fokus mengelola suasana resto agar tetap menarik pengunjung ke restonya. “Selain makanan, suasana resto yang mengusung konsep kebun, menjadi daya tarik di Gardenia Resto,” tambah Hadid.

Dengan mengusung konsep kebun, Hadid berharap, pengunjung dapat menikmati makanan dengan nyaman di resto miliknya. Dan terbukti, Gardenia Resto miliknya, selalu ramai di kunjungi, terutama di hari-hari libur.

Modal awal pembukaan resto, sebut Hadid, sebesar Rp500 juta. Tiap bulan, belanja bahan makanan menghabiskan dana sekitar Rp80 juta, dan keuntungan yang didapat mencapai ratusan juta dengan harga minimal Rp15 ribu per menu masakan. “Yang pasti dapat menutupi gaji 30 karyawan, biaya listrik, air, perawatan, dan biaya Wi-Fi,” ujar Hadid.

Masih Hadid, bila hanya membuka sistem dagang, maka untung sebesar itu tak dapat tercapai. Karena biasanya, orang yang singgah untuk makan dan minum tidak memenuhi target. Tetapi, untuk mendapatkan lebih banyak pemasukkan, Hadid melakukan taktik dengan menawarkan paket. Seperti paket ulang tahun, arisan, gathering dan lainnya. “Kalau paket lebih banyak untungnya, karena hanya dengan beberapa jam, kita sudah mendapat keuntungan,” tambahnya.

Hal kreatif lain yang dilakukannya, melalui penampilan makanan yang lengkap, mulai dari makanan pembuka berupa sup, main menu, dan dessert berupa buah-buahan atau kue. “Makanan dengan tampilan ini lebih disukai, selain karena lengkap juga hemat,” tutupnya.(ram)