26 C
Medan
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 14350

Irak Eksekusi 11 Pelaku Terorisme

BAGHDAD – Pemerintah Irak mengeksekusi mati seorang warga Tunisia, Yusri al-Tariki (27) dalam kasus pengeboman Masjid Al-Askari pada 2006 lalu. Tidak hanya al-Tariki, Irak juga mengeksekusi 10 orang lainnya dalam kasus terorisme.
“Kementerian mengeksekusi 11 orang, termasuk seorang warga Tunisia yang terbukti melakukan pengeboman di Masjid Al-Askar, pada tahun 2006,” ujar juru bicara dari pemerintah seperti dikutip dari AFP, Kamis (17/11).

Kesebelas orang tersebut merupakan warga negara Mesir dan sembilan lainnya adalah warga Irak, termasuk seorang wanita yang terlibat dalam kasus terorisme. Al-Tariki ditahan di Irak sejak tahun 2006, setelah tahun 2003 bergabung dengan milisi untuk melawan tentara AS.

Menurut sang ayah, Al-Tariki Fakher, anaknya terlibat dalam pembunuhan ratusan orang di Amerika dan Irak, termasuk seorang wartawan dalam serangan di kota Samarra.  Presiden Tunisia, Fouad Mebazaa, beberapa kali meminta Presiden Irak Jalal Talabani untuk mengampuni Al-Tariki. Namun, permintaan itu diabaikan. (net/jpnn)

Penembak Gedung Putih Tertangkap

WASHINGTON – Sekitar 24 jam setelah ditemukannya dua peluru di Gedung Putih, satu di antaranya mengenai kaca pelindung jendela Yellow Oval Room, Oscar Ortega-Hernandez, pria yang diduga kuat terlibat insiden tersebut, tertangkap. Pria 21 tahun itu ditangkap di sebuah hotel di Indiana, Pennsylvania, Rabu sore waktu setempat (Kamis pagi WIB).

“Ortega-Hernandez saat ini ditahan Kepolisian Negara Bagian Pennsylvania,” kata Edwin Donocan, seorang agen Secret Service, institusi yang bertugas melindungi presiden Amerika Serikat dan keluarga, seperti dikutip AFP kemarin (17/11).

Hernandez ditangkap setelah aparat keamanan mendapat laporan dari sejumlah warga menyusul dipublikasikannya foto pria Hispanik tersebut. Pria yang tubuhnya penuh tato dan punya catatan kriminal panjang itu ditangkap tanpa melawan.

Pria Idaho itu mengaku sengaja menembak Gedung Putih karena sangat membenci Presiden Barack Obama. Pria yang diduga mengalami gangguan mental itu juga mengaku mendapat restu dari Tuhan untuk menyerang pusat pemerintahan Negeri Paman Sam tersebut. (c2/ttg/jpnn)

Kecewa Putusan Sidang, Pria Bakar Diri di Lapangan

BEIJING- Putusan sidang mengecewakan, seorang pria Cina nekat membakar dirinya di Lapangan Tiananmen, Cina pada 21 Oktober lalu. Penyebabnya adalah kekecewaan terhadap hasil persidangan lokal.

Peritiwa tersebut ramai diberitakan media Cina pada hari ini. Demikian diberitakan Telegraph.co.uk, Kamis (17/11). Pada peristiwa yang terjadi pada bulan lalu itu, polisi Cina sempat mencoba memadamkan api di tubuh pria tersebut.
“Pria itu membakar dirinya tepat di depan saya. Dia melompati pagar dan melewati gambar Mao dan dia hanya berjarak dua sampai tiga meter dari saya,” ujar seorang saksi mata Alan Brown.  Dia bercerita kejadiannya sangat cepat dan membuat seorang polisi, yang berada di dekatnya merasa gelisah. Sambil mengeluarkan pemantik, dia mulai membakar dirinya dan sambil menatap ke arah warga.

Istri Alan, Pamela menambahkan, ketika pria yang tidak dikenal itu mulai membakar dirinya, polisi tidak berada jauh dari korban dengan sigap berlari membawa alat pemadam kebakaran sambil menyemprotkannya ke tubuh pria tersebut.
Meski kejadian tersebut disaksikan oleh ratusan orang, namun peristiwa tersebut tidak dapat dipublikasikan ke media karena ketatnya sensor media dari pemerintah Cina. Baru setelah foto-foto kejadian tersebut ditunjukkan kepada Departemen Pers di bagian Biro Keamanan Umum, pihak Cina mengkonfirmasi kejadian itu.

“Sekitar pukul 11.00 pada 21 Oktober 2011, seorang pria bernama Wang berjalan ke dekat jembatan Jinshui dan tiba-tiba membakar pakaian yang dikenakannya. Polisi yang berada di lokasi memadamkan api dalam waktu sepuluh detik. Dan mengirim orang ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan,” kata pihak Departemen Pers lewat pernyataannya ke media. (net/jpnn)

Dijajah Mafia Tanah, Veteran Melawan

MEDAN-Belasan veteran perang yang bernaung di Serikat Tolong Menolong Mempertahankan Hak (STMMH) Veteran/Purnawirawan menyatakan bosan mendengar janji manis yang diberikan kepada mereka. Mereka menegaskan siap berperang melawan mafia dan penjajah tanah.

Hal itu diungkapkan belasan veteran perang STMMH  bersama pengacara mereka Djusman Aritonang SH saat mendatangi Mapolda Sumut, kemarin (17/11). Djusman Aritonang yang juga veteran, atas nama teman-temannya, mempertanyakan kepastian hukum atas pengaduan mereka di Mapolresta Medan atas pemagaran sepihak yang dilakukan pengusaha bernama Alwi, pemilik PT Orta Berjaya. Alwi mengklaim memiliki hak atas lahan yang ditempati para veteran di  Komplek Veteran Blok A Pasar IV, Dusun Medan Estate Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang.

“Kami mempertanyakan perkembangan surat pengaduan kami tanggal 25 Oktober 2011. kami bertemu langsung Kompol Sugiono. Katanya Polda berjanji mempertanyakan  ke Polresta Medan,” ujar Djusman,
Ditegaskannya, atas keputusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 125/PDTG/2010/PN.LP tanggal 13 Juni 2011, dinyatakan bahwa HGB 232 yang dikeluarkan oleh BPN Deliserdang 1 Maret 1989 atas tanah seluas 114.232 m2 yang menjadi obyek perkara sudah berakhir masa berlakunya pada 2007. Sehingga tidak boleh diperjual-belikan dan tidak boleh diperpanjang. Dengan begitu HGB 232 tersebut hapus demi hukum.

Pihaknyasudah melayangkan surat kepada Presiden RI dengan nomor B-31/STM-MH/VET-PUR/2011, berisi permohonan perlindungan keamanan. Mereka sebagai warga Vet/Pur Blok A Medan Eastate resah atas tindakan oknum-oknum tidak bertanggung jawab. “Dalam surat itu juga diterangkan, empat rumah warga sempat dibakar. Mereka telah melaporkan ke Polresta Medan tetapi belum diproses,” terang para veteran tersebut.
Mawardi (85), salah satu Veteran yang ditemui di Mapolda mengungkapkan kekecewaanya terhadap pemerintah yang tak mampu memperjuangkan nasib mereka.

“Saya kecewa, kenapa pejabat, penegak hukum, anggota dewan selaku  wakil rakyat tidak berpihak pada yang benar. Mirip antek-antek penjajah yang menerima duit dari penjajah untuk menghancurkan negara dan bangsanya  sendiri,” ketus veteran perang zaman Jepang yang ikut sebagai aksi solidaritas.

“Tanah itu, pemerintah yang memberikan kepada kami, maka disebut komplek veteran. Tapi apa nyatanya, tanah tersebut diklaim milik PT Orta Berjaya. Pemerintah tutup mata atas penderitaan kami,” terangnya dengan suara menahan amarah kekesalan.

“Hidup mati kami memperjuangkan dan mempertahankan NKRI. Cuma sebidang tanah yang dihibahkan pemerintah sama kami, ini pun di sudah dijajah. Kalau memang tidak ada lagi tempat untuk mengadu, mati pun kami mau untuk memperjuangkan tanah kami. Kami siap perang yang ketiga kalinya. Mereka kami anggap mereka penjajah tanah. Kami siap perang….,”  teriak para veteran  sembil  mengangkat tangan dengan kepalan tinju. (mag-5)

139 Sepeda Motor Diamankan di Mapolresta

MEDAN-Sedikitnya 139 sepeda motor diduga hasil pencurian dan penggelapan, ditemukan Satuan Reskrim Polresta Medan di Jalan Perjuangan Gang Sepatu Burung Desa Sidorame Timur Kecamatan Medan Perjuangan, Kamis (17/11). Penggrebekan dilakukan di rumah milik Junjungan Simajuntak (65), ketua Koperasi Serba Usaha Ade Artha No.518.503/BH/D/KUK/2007, pukul 15.30 WIB.

Junjungan Simajuntak di hadapan petugas mengatakan dirinya menerima gandaian sepeda motor orang lain dengan harga Rp2 Juta. Syaratnya harus membawa sepeda motor yang dilengkapi STNK, foto kopi KTP untuk sepeda motor kredit, namun sepeda motor bukan kredit syaratnya sepeda motor, STNK, foto kopi KTP dan foto kopi BPKB. Untuk satu sepeda motor dirinya mendapatkan keuntungan dari penggandai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu saat sepeda motor ditebus pada tenggat waktu yang disekapati.

Pengadaian Sepeda motor yang digeluti selama 2 tahun belakangi ini sangat menguntungkan dirinya, namun dirinya tidak mengetahui sepeda motor tersebut curian atau tidak, selama ada STNK dirinya akan memberikan pinjam uang dengan jaminan Sepeda motor. “Saya tidak tahu (sepeda motor curian digadaikan). Yang penting ada sepeda motor,  STNK dan foto kopi KTP,  saya kasih uang Rp2 juta,” ungkapnya. Junjungan Simanjuntak dan seluruh sepeda motor lalu diboyong ke Mapolresta Medan. Kasat  Reskrim Polresta Medan AKP M Yoris Marzuki meminta warga yang kehilangan sepeda motor untuk mendatangi Mapolresta Medan dengan membawa surat-surat kendaraan bermotor. (gus)

Merasa Korban Budaya Korupsi

Busyro Muqoddas

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas dianggap melakukan manuver politik dengan mengimbau agar politisi DPR tidak hidup bermewah-mewahan. Apalagi, saat ini masih banyak warga negara kita yang masih kesusahan.

Namun, Busyro membantah kalau dirinya bermanuver. Ia kemudian menceritakan soal pidato kebudayaan yang ia bacakan di Taman Ismail Marzuki beberapa saat lalu.

“Itu sebenarnya itu bukan manuver saya. (Ceritanya) kemarin itu kejadiannya saya didaulat jadi membacakan pidato kebudayaan. Awalnya saya sempat menolak, karena saya sendiri bukan budayawan. Yang ada saya malah jadi korban budaya korupsi,” katanya saat ditemui di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (17/11).
Tapi, akhirnya, Busyro menuruti undangan tersebut dengan membuat orasi kebudayaan. “Saya tetap disuruh pidato, ya sudah saya bikin dan jadinya seperti itu,” demikian Busyro. (arp/jpnn)

Jalan Rusak, Inflasi Tinggi

MEDAN- Data Bank Indonesia memperlihatkan performa kinerja perekonomian Sumatera Utara pada triwulan ketiga 2011 terbilang baik. Pertumbuhan ekonomi 6,78 persen, masih berada di atas pertumbuhan nasional sebesar 6,5 persen.

Namun yang perlu mendapat perhatian adalah angka inflasi yang tinggi, 5,78 persen pada Oktober, melampaui inflasi nasional 4,43 persen pada periode yang sama.

Terkait tingginya inflasi, Pelaksana Tugas Gubernur (Plt) Gatot Pujo Nugroho punya alasan. Dalam Rapat Koordinasi Wilayah Tim Penanggulangan Investasi Daerah (TIPD) Sumatera Bagian Utara di Kantor BI Medan, Kamis (17/11), Gatot menyebut kondisi jalan menjadi salah satu penyebab tingginya inflasi.

“Salah satu pemicu inflasi yang tinggi di Sumatera Utara adalah kondisi infrastruktur jalan yang kurang mendukung,” ujar Gatot.

Saat ini, dari sekitar 2.700 km jalan nasional di Sumut, 700 km diantaranya berada dalam kondisi rusak sedang hingga rusak berat. Dana untuk perbaikan jalan nasional di Sumut pada tahun anggaran yang lalu, hanya mampu memperbaiki 180 km saja. “Sementara itu, kondisi jalan raya yang rusak terus bertambah,” ujar Gatot.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, DR Hartadi A Sarwono mengatakan, inflasi tinggi harus menjadi perhatian daerah agar tidak memberi implikasi buruk terhadap stabilitas perekonomian daerah. “Inflasi yang tinggi menyebakan daya saing ekonomi dan daya beli masyarakat menurun,” kata Sarwono.

Menurutnya jika inflasi Sumut berada di atas rata-rata nasional maka akan menyebabkan ekspor produk asal Sumut akan sulit bersaing dengan daerah lain maupun negara lain. Dampak lain adalah, inflasi akan cenderung menyebabkan penduduk miskin bertambah karena daya beli yang semakin menurun.

Dari kota-kota di Indonesia yang diukur nilai inflasinya oleh BI, maka Kota Pematang Siantar dan Kota Lhoksumawe menduduki pringkat teratas angka inflasi. Pematang Siantar pada Oktober 2011 mencapai angka inflasi 8,47 persen disusul Lhoksumawe 8,44 persen, sementara angka inflasi nasional pada periode yang sama hanya 4,42 persen. Kota lain di Sumut juga cukup tinggi inflasinya antara lain Kota Medan 5,33 persen, Sibolga 7,27 persen dan Padang Sidempuan 6,88 persen.

Pemimpin BI Medan, Nasser Atorf mengatakan angka inflasi Sumut tinggi karena penyumbang utama kenaikan inflasi adalah kenaikan harga bahan makanan (volatile food). Diakuinya salah satu yang menenggarai persoalan tersebut adalah infrastruktur jalan yang tidak mendukung distribusi bahan pangan hasil pertanian.  “Melalui forum Rakorwil dan keberadaan TPID, kita mencoba menjalin kerjasama antar daerah dan menjembatani berbagai persoalan yang ada sehingga dapat dicarikan solusi yang optimal,” katanya.(ari/ram)

Kualanamu Kelar Akhir 2012

Pembebasan Lahan Tol Medan-Kualanamu Proses Teken Kontrak

MEDAN- Pembangunan Bandara Kualanamu saat ini tengah dikebut. Saat ini proyek mengalami keterlambatan, salah satunya akibat adanya regulasi perda baru yang diberlakukan Pemerintah Deliserdang, dengan menetapkan retribusi galian C yang merupakan raw material dalam penyelesaian run way. Hal ini diungkap Plt Gubernur, Gatot Pujo Nugroho.

“Komunikasi dengan pemerintah kabupaten telah kita lakukan, saat itu dihadiri Sekda Deliserdang. Dalam pertemuan itu, kita minta agar perda tersebut kembali dievaluasi,” kata Gatot di Tiara Convention Center Medan, Kamis (17/11).
Dikatakan Gatot, dengan harapan, retribusi galian C yang diberlakukan untuk proyek, tetap seperti retribusi saat desain Kualanamu. Sekda saat itu, kata Gatot, diminta untuk mengkomunikasikan kepada bupati dan DPRD. “Agar dikomunikasikan kepada BPK dan BPKP, sehingga harga jual untuk proyek sesuai dengan harga desain Kualanamu. Jika tidak demikian, raw material tidak akan tersedia untuk penyelesaian runway,” tambahnya.

Pemprovsu terus melakukan penekanan agar Bandar Udara Kualanamu yang bertaraf internasional segera selesai akhir 2012.

Tapi, penyelesaian bandara yang memiliki luas sekitar 1.300 ha ini tidak dijamin akan selesai bersamaan dengan sarana pendukung. “Bandara dan jalan nontol dan arteri dipastikan bisa selesai. Kalau penyelesaian jalan tol belum bisa kita pastikan,” kata dia lagi.

Gatot menjelaskan, pembebasan lahan tol Medan-Kualanamu dalam proses penandatanganan kontrak. Sementara jalur Kualanamu-Tebing Tinggi belum bisa ditenderkan karena belum 100 persen pembebasan lahan. Meski demikian, saat ini persentasenya sudah 67 persen.

“Kalau jalan tol, klaster pertama sedang tender. Kualanamu tebing, masih belum 100 persen. Kita harapkan akan lebih cepat lagi,” papar Gatot.

Sementara itu, Ir Samsul Bahri MT, Dosen Arsitek FT USU menyamapaikan, penyelesaian Bandara Kualanamu bukan hal kecil yang bisa dikesampingkan. Karena peran Bandara Kualanamu akan sangat berpengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Sumut.

Terutama Kota Medan, dengan jarak sekitar 20 km merupakan jarak ideal. Jangkauan ke depan bukan saja bandara ini merupakan bandara besar. Melainkan konsep yang masih kecil dengan luasan yang dimiliki. Samsul Bahri memiliki alasan mengatakan hal tersebut.(ila)

Senpi dan Kendaraan Polisi Diperiksa

BINJAI- Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat, serta senjata api milik anggota kepolisian di jajaran Polres Binjai, diperiksa oleh Kapolres Binjai AKBP Musa Tampubolon, Kamis (17/11) sekitar pukul 10.00 WIB.
Hal ini dilakukan agar setiap anggota yang memagang senjata api, tidak menyalah gunakannya.

Bila ada anggota yang menyalahi aturan, kata Kapolres, maka dirinya akan menarik senjata api yang dimiliki oknum polisi dimaksud.

Sehabis melakukan pemeriksaan terhadap seluruh kendaraan bermotor dan senjata api anggotanya, Kapolres Binjai kepada Sumut Pos mengatakan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan secara berkesinambungan.
“Pemeriksaan kelengkapan surat senjata api dan kendaraan bermotor ini, akan dilakukan dalam satu bulan atau dua bulan sekali. Ini dilakukan untuk mengetahui seberapa lengkap adminitrasi kendaraan maupun senjata api yang digunakan oleh anggota kita,” kata AKBP Musa Tampubolon.

Sejauh ini dikatakannya, pihaknya belum menemukan senjata api maupun kendaraan yang tidak memiliki kelengkapan surat-menyurat. Pun begitu, pihaknya akan terus berupaya melakukan pemeriksaan secara rutin. (dan)

Imigran Afghanistan Kabur

Terjadi Saat Rekreasi di Pantai Cermin

PANTAICERMIN- Sedikitnya 11 pria imigran gelap asal Afghanistan, yang dibawa dari kantor Imigrasi Belawan, Medan, menggunakan 4 unit bus pariwisata melarikan diri saat berekreasi ke obyek wisata Pantai Cermin, Themepark, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupten Serdang Bedagai, Kamis (17/11) sekira pukul 10.00 WIB.

Menurut Kepala Rumah Ditensi Imigrasi Medan Muhartono, peristiwa itu terjadi sekira pukul 11.30 WIB, ketika 97 pria imigran gelap didominasi asal Afghanistan rekreasi di Pantai Cermin Themepark. Begitu didata pada saat akan makan siang, 11 pria imigran gelap masing-masing bernama M Riza, Abul Fazal, M Ali, Husain, Hajujulah, Amanullah, M Zaman, Yassin, Rajabib, Abdul Rahman dan Kadim Ali melarikan diri.

“Kebanyakan imigran berusia diatas 20 tahun berassal dari penampungan imigrasi Tanjung Balai, Bandara Polonia dan Lampung yang sudah setahun lebih berada di penampungan imigrasi Belawan, Medan. Mereka melarikan diri dengan memanjat pagar kawat setinggi 2 meter lebih pembatas lokasi obyek wisata Pantai Cermin Themepark, yang berada disamping resort hotel,” kata Muhartono.

Aksi para imigran itu, tambah Muhartono didampingi Kaur Umum Rudinem Belawan, Medan, Poniran dan Kasi Keamanan Rudinem, Belawan, Medan, Yusuf Umar Dani, ber jalan mulus tidak diketahui 8 personel dari kantor imgrasi Medan yang mengawasinya. Namun, diakuinya terekam CCTV milik Pantai Cermin Themepark.

“Ke sebelasnya terekam CCTV, lalu kami berkordinasi dengan Polsek Pantai Cermin dan Pol Air Polres Sergai guna mencarinya menyisir sekitar obyek wisata Pantai Cermin Themepark. Namun belum hingga kini ditemukan,” pungkas ketiganya sembari menjelaskan, bahwa kunjungan ini yang kedua kalinya ke Themepark.

Sementara itu, Kapolres Sergai, AKBP Arif Budiman Sik MH didampingi Kasat Pol Air Polres  Sergai, Iptu Bakhdaruddin dan Kapolsek Pantai Cermin, AKP E Sirait yang turut serta menerunkan personilnya membantu pencarian menjelaskan, sedikit ada sekitar 20-an personil dari Polsek Pantai Cermin dan Pol Air Polres Sergai turut serta diperbantukan guna mencari puluhan imigran yang melarikan tersebut.

“Personel dari kepolisian sudah diturunkan guna melakukan penyisiran didaerah rawa-rawa dan pemukiman penduduk sekitar lokasi obyek wisata Pantai Cermin Themepark, namun belum ditemukan. Dari laporan warga puluhan imigran lari kearah kota menumpangi kendaraan roda tiga (becak-red),” kata Kapolres Sergai.

Disinggung kurangnya koordinasi pihak Imigrasi Medan dengan pihak kepolisian, sehingga menyebabkan larinya imigran gelap tersebut, diakui Kapolres Sergai, AKBP Arif Budiman Sik MH. “Kedatangan mereka (imigrasi Medan-red) tidak ada pemberitahuan dan koordinasi guna melakukan pengamanan.  Namun, kami sebagai aparat negara tetap melakukan upaya pencarian dengan berkordinasi dengan pihak lainnya,” tegas Arif Budiman.

Sekira pukul 19.00 wib dua dari sebelas imigran gelap Warga Negara Asing (WNA) asal Afghanistan yang berhasil   ditangkap aparat Sat Reskrim Polsek Pantai Cermin dari kawasan hutan nangrove tepatnya diareal bekas tambak udang.
Keduanya bernama M. Reza (24)  dan Rachman (27), sebelum ditangkap  kabur dengan cara melompat pagar melalui lewat pintu samping lokasi objek wisata tersebut setelah itu  keduanya  berlari kearah timur pinggir pantai Sedangkan 9 orang lainnya  berhasil melarikan diri dengan menumpang becak motor menuju arah kota perbaungan.

Keterangan yang dihimpun kru koran ini menyebutkan diduga para imigran gelap tersebut bisa meloloskan diri karena lemahnya  pengamanan saat  berkunjung ke theme park pantai cermin tanpa pengawalan pihak kepolisian dan hanya hanya dikawal sejumlah petugas Kantor Imigrasi Klas I Belawan.

Mendapat laporan itu sejumlah petugas Posek pantai cermin langsung mendatangi lokasi kejadian dan melakukan penyisiran. Selang beberapa waktu kemudian, petugas berhasil menangkap dua imigran yang kabur tersebut.dan mengmankannya ke Mapolsek Pantai cermin untuk dibawa kembali kepada piohak imigrasi belawan.
“Setelah mendapat laporan dari imigrasi kita langsung ke TKP dan menyisir jalan kepinggir pantai, saat melakukan penyisiran kita melihat keduanya saat itu anggota berhasil menangkapnya setelah sebelumnya kejar kejaran,” ujar Kapolsek AKP Efendi sirait.  Kapolsek menambahkan, saat ini pihaknya masih tengah memburu 9 orang lainnnya yang melarikan diri. (lik)