32 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 14887

Distanla Sidak Daging di 10 Pasar Tradisional

MEDAN- Dua tim petugas keurmaster (juru periksa daging) dari Dinas Pertanian dan Kelautan (Distanla) Kota Medan melakukan pengujian organoleptik terhadap para pedagang daging musiman di pasar-pasar tradisional Kota Medan, Minggu (31/7) pukul 05.00 WIBn Pasalnya, kebanyakan para pedagang daging musiman ini membawa dagingnya dari luar daerah untuk dijual di pasar-pasar tradisional di Kota Medan. Pengujian tersebut merupakan pemeriksaan ulang terhadap daging untuk diketahui, apakah daging dari luar daerah Kota Medan mengandung penyakit atau daging tersebut tidak sehat.

“Kita akan lakukan pemeriksaan fisik daging, kalau ada yang mencurigakan disayat dan diambil sampelnya untuk dilakukan pengujian di laboratorium. Biasanya, sumber penyakit dari daging ada di hati, kelenjar, usus, limpa dan paru-paru. Yang terpenting organ dalam yang difokuskan pemeriksaannya. Sedangkan untuk bagian luar, kita melihat apakah ada memar dan pembusukan terhadap daging. Bila ada kecurigaan, akan kita sayat,” ujar Kadistanla Kota Medan Ir Wahid melalui Kabid Keswan dan Kesmaved Dewi Naiken.

Kedua tim yang membagi tugas di dua wilayah yakni Medan Selatan dan Medan Utara lebih mengutamakan daging yang masuk dari luar Kota Medan. Karena, dikhawatirkan, daging-daging tersebut tidak sehat. “Jadi kalau ada daging yang dicurigai akan digunakan PH Meter untuk mengukur kadar keasamannya serta uji tes formalin. Sampai saat ini belum ada temuan, karena daging musiman yang dibawa baru dipotong dan masih segar. Itu terlihat dari warna, bau dan kosistensi daging,” ucap Dewi.

Dikatakan Dewi, petugas keurmaster secara rutin sudah melakukan pengawasan di beberapa pasar tradisional dan swalayan. Disebutkannya, Pasar Simpang Limun, Sei Sikambing dan Kampung Lalang merupakan pintu masuk daging dari luar daerah, karenanya tim melakukan pengawasan di pasar-pasar tersebut, khususnya saat pedagang musiman ramai seperti Ramadan dan Idul Fitri. “Para pedagang musiman melakukan pemotongan hewan sendiri di rumah, karenanya perlu petugas mengawasi daging mereka sehat atau tidak. Kalau pedagang daging yang di dalam, kita sudah tahu sumber dagingnya dari mana, kebanyakan dari Tani Asli RPH Deli Serdang, sedangkan lainnya dari RPH milik Pemko Medan,” bebernya seraya menambahkan, kalau tim akan melakukan pengawasan ke 10 pasar di Kota Medan.
Selain itu, dia juga mengungkapkan, stok daging di Kota Medan pada Juli hingga Agustus masih aman. Pasalnya, diperkirakan kebutuhan daging mencapai 354 ton sementara stok yang ada sebanyak 805 ton atau 3.800 ekor sapi.
“Berarti stok daging kita belebih untuk lebaran. Itu semua bersumber dari PD RPH Medan dengan stok 100 ekor, PT Lembu Andalas Langkat 2.400 ekor, PT Juang Jaya Abdi Alam Tanjung Morawa 1.000 ekor dan Medan sekitarnya 300 ekor. Kalau untuk perkiraan harga berkisar mencapai Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilonya.

Sementara di wilayah Utara, pengawasan terhadap pedagang musiman di pasar-pasar tradisional dilakukan untuk mengetahui asal muasal daging. Dari hasil pengawasan yang dilakukan, asal muasal dan kualitas daging yang beredar di pasar aman konsumsi. Namun, mengenai harga yang naik Rp10 ribu per kilogram, dari harga awal Rp75 ribu per kilogram, Dewi mengaku pihaknya tak mampu mengontrol harga  di pasar. “Kalau harga, kita agak susah mengontrolnya. Karena mereka dari awal memang sudah mengambil barang dengan harga tinggi, khususnya pedagang musiman. Harga di pasar tradisional di Medan Utara ini jauh lebih mahal dibanding dengan harga daging di Pasar Sei Sekambing. Jika di Medan Utara daging seharga Rp85 ribu per kilo, di Pasar Sei Sekambing berkisar Rp75 ribu per kilo. Walau begitu, tidak ada daging yang mencurigakan,” ungkapnya.(adl)

Minibus Terjungkal di Depan Mapoldasu

MEDAN- Minibus CV Karya Agung BK 7652 TL yang membawa puluhan penumpang jurusan Medan-Rantauprapat, terjungkal tepat di depan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapoldasu), Minggu (31/7) siang pukul 14.00 WIB.

“Kejadiannya sekitar pukul 14.00 WIB tadi. Ada yang luka, dan sekarang dirawat di Dokkes Polda Sumut. Korban meninggal tidak ada,” ungkap Aiptu H Napitupulu petugas Lantas Polresta Medan yang ditemui Sumut Pos di lokasi.
Menurut keterangan saksi korban, Nuri, warga Simalingkar, kejadian bermula saat dirinya hendak masuk ke area Polda Sumut untuk menjenguk suaminya, tepatnya di pintu 2 Mapolda Sumut. Namun, ketika hendak berbelok tiba-tiba minibus naas tersebut nyelonong dari arah belakangnya dengan kecepatan tinggi. Akhirnya, untuk menghindari kecelakaan yang lebih parah, supir pembawa minibus itu membanting setirnya ke kanan dan minibus itu pun oleng dan langsung jatuh serta sempat tergelincing beberapa meter, hingga dekat pintu 1 Mapolda Sumut. Nah, sembari tergelincir itu minibus itu juga sempat bertabrakan dengan sebuah sepeda motor Vega ZR BK 6631 AAT yang dikendarai Aripai (18) dan kekasihnya yang berniat ke Binjai.

“Aku dari Simalingkar mau ke sini jenguk suami ku. Jadi, aku mau belok kanan dan lampu tangan ku pun sudah kuhidupkan. Tiba-tiba, mobil itu dari belakang masuk saja ke sebelah kanan ku. Untung yang dihantamnya cuma knalpot sepeda ku dan mobil itu langsung terbalik. Aku jatuh juga, untungnya nggak ada kendaraan lainnya di belakang. Kalau ada, mungkin kena tabrak juga aku. Mobil itu juga sempat tabrakan sama sepeda motor lain,” ungkap Nuri yang mengendarai Sepeda Motor Vega ZR BK 6823 IF.

Sementara itu, seorang korban yang mengalami luka ringan, Ratna Dewi (24), PNS di Pemkab Labuhan Batu dan berniat pulang ke kampungnya di Aek Nabara terlihat keluar dari Dokkes Polda Sumut, kepada personel Sat Lantas Polresta Medan Aiptu Asram Nasution menuturkan, tidak ada korban jiwa.

“Saya mau ke rumah orang tua. Ternyata kejadian seperti ini. Memang tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.
Dari kejadian itu, sepeda motor miliknya mengalami kerusakan di bagian knalpotnya, sedangkan sepeda motor milik Aripai mengalami kerusakan di ban bagian depan.

Mengenai keberadaan supir minibus naas itu, baik petugas Polda Sumut maupun Petugas Sat Lantas Polresta Medan tidak bersedia memberitahukan supir minibus tersebut. Aiptu Asram Nasution yang tengah yang ditemui Sumut Pos mengaku, pihaknya belum mengetahui keberadaan supir dari minibus naas tersebut. (ari)

Disdukcapil Tunggu Instruksi Pusat

Penerapan e-KTP Rawan Gagal

MEDAN- Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Medan tak menerima kalau dikatakan lunching pelaksanaan program Elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) di Kota Medan terancam gagal bulan ini. Pasalnya, yang menetukan lounching e-KTP adalah pemerintah pusat sebagai penunjang pelaksana program tersebut.
“Kita belum bisa mengatakan kalau lounching e-KTP di Medan terancam gagal, karena yang menentukan launching tersebut dari pusat. Kalau kata mereka (pusat) tanggal 1, ya tanggal 1. Tapi kalau kata mereka tanggal 2, ya kita laksanakan tanggal 2,” ujar Kadisdukcapil Kota Medan, Darusalam Pohan, akhir pekan lalu.

Dikatakannya, Disdukcapil Kota Medan mengaku belum menerima perangkat apapun dari Pemerintah pusat sebagai penunjang pelaksanaan program e-KTP tersebut. “Selain itu, jaringan jaringan e-KTP hingga saat ini belum ada yang terpasang dari 21 kecamatan yang ada di Medan. Dengan begitu, kita menunggu perintah dari pemerintah pusat,” ucapnya.

Dijelaskan Darusalam, untuk Sumber Daya Manusia dan tenaga di Kota Medan sudah siap. “Kita sudah siap, tapi pemerintah pusat belum juga mengirimkannya. Jadi kita hannya menunggu keptusan dari pusat, karena kita sudah siap dengan segala tenaga,” ungkapnya.

Sementara Sahat, warga Jalan Garu I, Medan Amplas mengatakan kalau tertundanya lounching e-KTP karena Kota Medan kurang gencar untuk melobi ke atas. Dimana, wilayah lain saja sudah siap dan sudah dikirimkan jaringan penujang untuk lounching di bulan Agustus ini. “Dengan adanya e-KTP yang prosesnya hanya sebentar, berbeda dengan KTP lama yang memakan waktu untuk proses dari Kepling, lurah hingga ke Camat. Jadi pemerintah Kota Medan kurang lobi ke pusat, “ ketanya.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi A, HM Faisal mengatakan, kalau dari hasil dalam Rapat pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahun Anggaran 2010 yang dilaksanakan di ruang Komisi A DPRD Medan, Kamis (28/7) lalu. Alat pendukung dari pemerintah pusat belum tiba ke Medan.
“Kita minta kepada Dinas terkait untuk menyikapi dengan serius. Kita belum tahu bagaimana hasil alat pendukung tersebut apa sudah sampai ke Medan atau tidak. Sesuai janji dari pusat kalau alatnya masuk hari Sabtu, (30/7). Kita berharap jangan samapi tidak terlaksana e-KTP,” ungkapnya.(adl)

Polisi Tersangka Penembak CS BRI Bebas Berkeliaran

Ditangkap Warga Saat Main Game Online

MEDAN-Briptu Vico Panjaitan tersangka pelaku penembak Dermawan Muhammad (21), cleaning service (CS) Bank BRI Jalan Putri Hijau hingga tewas, Selasa (31/5) lalu, ternyata bebas berkeliaran meskipun masih menjalani proses hukum.
Sialnya, personel Sabhara Polresta Medan bahagian Ba Sat Pam Objek Vital di BRI Jalan Putri Hijau depan Capital Building itu kepergok keluarga korban main game online di Warnet Super Net Jalan AR Hakim Medan
(Kompleks  Asia Mega Mas), Sabtu (30/7) sekitar pukul 14.30 WIB.

Tak pelak, tersangka pun ditangkap keluarga korban bersama dengan warga sekitar.
Informasi yang dihimpun wartawan Sumut Pos, Briptu Viko Panjaitan masuk ke Warnet Super Net sekira pukul 14.30 WIB. Tanpa sengaja kedatangannya ke warnet tersebut terlihat salah satu keluarga korban yang kenal dengan tersangka bernama Wahyu (24), yang juga sebagai juru parkir di warnet tersebut. Wahyu kemudian melaporkan hal tersebut kepada Budi Darli (41), abang kandung korban.

Mendapat laporan, sekira pukul 15.15 WIB keluarga korban langsung datang ke warnet tersebut. Keluarga korban langsung menangkap Viko yang lagi main game online dan memboyong Vico masuk ke dalam mobil Suzuki Panther berwarna silver. Saat hendak diboyong Viko sempat memberikan perlawanan, namun keluarga korban berhasil mengamankannya. Viko kemudian diboyong keluarga korban ke rumah korban yang berada Jalan Pasar V, Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Viko diboyong dengan posisi tangan diikat pakai tali jemuran.
“Saat kita datang melihat Viko asyik bermain game online, kami jadi geram kok bisa seorang yang sedang menjalani hukum  bebas berkeliaran,” ujar Budi Darli, abang kandung korban kepada wartawan.

Keberadaan Briptu Viko Panjaitan di rumah korban sempat menjadi tontonan warga sekitar. Seorang anggota keluarga sempat pingsan melihat Viko yang dikelilingi warga. Selanjutnya seorang polisi berpakaian preman langsung mengamankan Viko dari kerumunan warga. Viko pun dibawa ke Mapolsek Percut Sei Tuan dan selanjutnya diboyong  ke Mapolresta Medan.

Kuasa hukum Dermawan Muhammad, A Surya Alasali saat dikonfirmasi menyesalkan tindakan kejaksaan yang melepaskan tersangka tanpa diketahui oleh pihak keluarga. “Tapi secara hukum, pelaku pembunuhan tidak bisa menjadi tahanan kota,” ujarnya.

Meski demikian, Surya juga menyayangkan tindakan keluarga korban Dermawan Muhammad melakukan tindakkan penangkapan terhadap tersangka. “Untuk selanjutya lusa (Senin, Red) kitaakan menanyakan hal ini kepada kejaksaan. Sebab, dua hari yang lalu tepatnya Rabu (28/7), kita sudah memberikan sejumlah barang bukti untuk memperkuat di persidangan,” paparnya.  Briptu Viko Panjaitan saat ditanyai Sumut Pos hanya diam. “Saya main game online karena saya mendapatkan penangguhan tahan kota,” ujar Viko.

Kasat Reskrim Polresta Medan AKP M Yoris Marzuki mengatakan, kasus Briptu Viko Panjaitan sudah P 21. Berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Medan serta sudah dilakukan mediasi antara keluarga korban dan keluarga Viko oleh Komnas HAM.

Sementara Kejari Medan mengaku tersangka Vico Panjaitan memang tidak ditahan oleh penyidik polisi. “Yang bersangkutan tahanan kota. Makanya dia tidak ditahan, kita hanya menyesuaikan dari penyidik kepolisian,” ujar Kepala Kejaksaan Negeri Medan Radja Nofrizal, Sabtu (30/7).

Radja juga mengungkap, tidak ditahannya Vico Panjaitan atas kebijakan dari penyidik kepolisian.
“Dari penyidik polisi juga dia tidak ditahan. Kalau masalah alasan, mungkin dia koperatif, pihak kejaksaan hanya menyamakan statusnya, hingga sampai ada putusan dari persidangan,” tegas Radja.

Sekadar mengingatkan, peristiwa yang dialami Muhammad Dermawan (21), warga Pasar VII, Tembung, Medan tertembak senjata laras panjang jenis SSI V2 milik Briptu Vico Panjaitan, personel
Sabhara Polresta Medan bahagian Ba Sat Pam Objek Vital di BRI Jalan Putri Hijau depan Capital Building, Selasa (31/5) lalu.

Awalnya Dermawan yang baru lima bulan bekerja sebagai cleanic service, sedang mencuci
sepeda motornya, Yamaha Vega hitam BK 2806 CH, di basement Kantor BRI Cabang Putri Hijau. Usai mencuci, Dermawan kemudian melapnya dengan kain kering ditemani personel polisi yang ngepam di lokasi tersebut, sambil duduk sekitar parkiran sepeda motor.

Tak berapa lama, Vico turun dari lantai I menuju Basement sambil memegang senpi. Sambil bercanda, Vico mengarahkan senjatanya ke tubuh Dermawan. Dalam jarak tiga meter, senjata
Vico yang ternyata tidak terkunci meledak tiba-tiba dan mengenai tubuh Dermawan hingga terjatuh
bersimbah darah dan tewas. (mag-7/rud)

Kronologis Briptu Viko Kepergok Main Game Online

  1. Briptu Viko Panjaitan masuk ke Warnet Super Net sekira pukul 14.30 WIB.
  2. Tanpa sengaja kedatangannya ke warnet tersebut terlihat salah satu keluarga korban yang kenal dengan tersangka bernama Wahyu (24), yang juga sebagai juru parkir di warnet tersebut.
  3. Wahyu kemudian melaporkan hal tersebut kepada Budi Darli (41), abang kandung korban.
  4. Mendapat laporan, sekira pukul 15.15 WIB keluarga korban langsung datang ke warnet tersebut. Keluarga korban langsung menangkap Viko yang lagi main game online dan memboyong Vico masuk ke dalam mobil Suzuki Panther berwarna silver.
  5. Saat hendak diboyong Viko sempat memberikan perlawanan, namun keluarga korban berhasil mengamankannya.
  6. Viko kemudian diboyong keluarga korban ke rumah korban yang berada Jalan Pasar V, Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Viko diboyong dengan posisi tangan diikat pakai tali jemuran.
  7.  Polisi berpakaian preman langsung mengamankan Viko dari kerumunan warga. Viko pun dibawa ke Mapolsek Percut Sei Tuan dan selanjutnya diboyong  ke Mapolresta Medan.

Sumber: Saksi Mata

Senin Awal Ramadan

MALANG-Awal Ramadan 1432 H kemungkinan besar antara yang menggunakan hisab (perhitungan falak) dan rukyat (melihat bulan baru) akan sama. Sesuai dengan hasil perhitungan falak, tinggi hilal sudah cukup tinggi untuk dapat dilihat atau sekitar lima derajat lebih. Jika hilal sudah dapat terlihat pada Minggu sore ini, maka Senin (1/8) besok sudah ditetapkan sebagai awal Ramadan.

Selain Muhammadiyah, Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Gading Pesantren Kota Malang, juga telah menetapkan awal Ramadan jatuh pada Senin (1/8) besok.

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan Lajnah Falakiyah  PPMH Gading Pesantren yang ditashih Kepala PPMH, KH Baidlowi Muslich, 1 Ramadan jatuh pada Senin 1 Agustus 2011.

Ijtimaul hilal terjadi pada Ahad Kliwon (31/7) jam 00.39 WIB. Tinggi hilal dilihat pada Ahad malam Senin delapan derajat, letak hilal disebelah utara titik barat dengan keadaan hilal miring ke selatan. Lama hilal di atas ufuk 33 menit 45 detik.

‘’Berdasarkan istikhroj di atas, keluarga besar PP Miftahul Huda mengawali ibadah puasa Ramadan 1432 H pada Senin (1/8). Jamaah dan masyarakat dipersilakan mengikuti atau menunggu pengumuman pemerintah,” kata Kepala PPMH, KH Baidlowi Muslich dalam selebaran yang diterbitkan Lajnah Falakiyah PPMH Gading Pesantren Malang.

Meski Muhammadiyah dan PPMH sudah menetapkan awal Ramadan pada Senin besok, pemerintah baru akan menetapkan awal Ramadan pada sore hari ini, dalam sidang isbat yang digelar Kementrian Agama RI setelah menerima laporan hasil rukyat yang dilakukan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) seluruh Indonesia.

Melihat hasil hisab tentang ketinggian hilan yang sudah cukup dilihat, Sekretaris MUI Kota Malang, A Baroni memiliki keyakinan penetapan awal Ramadan yang dilakukan pemerintah akan sama dengan hasil hisab yang sudah dilakukan berberapa organisasi keagamaan.

‘’Ketinggian hilal sudah lima derajat, kemungkinan sama pada awal Ramadan akan sangat besar. Kecuali pada saat Syawal mendatang, kemungkinan berbeda sangat terbuka. Dari hasil perhitungan hisab, tinggi hilal tidak sampai dua derajat,” ujar Baroni.

Jika ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, umat Islam sudah dewasa dalam menyikapi perbedaan yang ada. Antar umat Islam dapat saling menghargai dan toleransi yang sangat tinggi terhadap pengunaan metode yang digunakan.
“Menghargai dan saling toleran sebagai kunci utama untuk menyikapi perbedaan yang terjadi dalam hal ini,” tambahnya.

Universitas Islam Eropa (UIE), Rotterdam, menyerukan agar umat mengaplikasikan hisaab (metode perhitungan, Red) untuk menentukan bulan baru. Atas dasar ini Ramadan 1432H (2011) dimulai Senin 1 Agustus 2011.
“Berdasarkan perhitungan dapat dikatakan bahwa istimaa (konjungsi, Red) akan terjadi 30 Juli 2011 atau 29 Sya’baan 1432 di Makkah pada pukul 21:40.02 dan di Negeri Belanda pada pukul 18:40.02,” demikian Dewan Ifta UIE melalui siaran persnya, Jumat (29/7).

Dari perspektif Fiqh, untuk kemungkinan mengamati hilal (bulan baru, Red) harus dipenuhi syurut (syarat-syarat) sebagai berikut, konjungsi harus dapat diamati minimal kira-kira 8 jam sebelum maghrib, matahari harus terlebih dulu tenggelam di ufuk (horizon, Red) dan kemudian hilal harus tenggelam. Situasi sebaliknya yakni hilal tenggelam terlebih dulu disusul tenggelamnya matahari adalah tidak valid,  posisi ketinggian hilal harus sekitar 4 derajat dari horizon dan permukaannya minimal harus 4 persen (pendapat lain: ketinggian hilal harus 8 derajat dari horizon).
Kesimpulannya, konjungsi setelah maghrib tidak valid untuk menetapkan bahwa hari berikutnya adalah hari pertama Ramadan. Jadi, hari berikutnya adalah 30 Sya’baan bertepatan dengan 31 Juli. Ini berarti 1 Ramadan 1432 jatuh pada 1 Agustus 2011.

Penetapan awal Ramadan di Negeri Belanda sudah 30 tahun terakhir selalu bermasalah. Setiap tahun orientasi pada ru’yah (metode pengamatan, Red) selalu menimbulkan situasi di mana umat muslim di Negeri Belanda memulai puasa pada hari berbeda-beda. Negeri Belanda termasuk negeri rendah secara geografi. Konsekuensinya, mengamati hilal dengan mata telanjang tidak dimungkinkan.

Selanjutnya berdasarkan tradisi juga terdeteksi bahwa ritualisasi ru’yah dalam konteks di Negeri Belanda memiliki dampak negatif terhadap umat. Oleh sebab itu disimpulkan bahwa penerapan hisab adalah metode terbaik untuk menetapkan 1 Ramadan.

Jaga Suasana Kondusif

Menyambut Ramadan 1432 H, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kota Medan mengimbau seluruh umat Muslim Kota Medan agar mempertahankan suasana kondusif dengan menjaga kemanan, ketertiban dan ketentraman.

Ketum DP MUI Kota Medan Prof H Mohammad Hatta menjelaskan, suasana kondusif bisa dibentuk dengan saling menghargainya antara muslim maupun nonmuslim. “Seperti pengusaha restoran, rumah makan dan kantin yang karena sesuatu hal menjual makanan pada siang hari, diharapkan bisa menghormati orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa,” katanya, Rabu (27/7).

Hatta juga mengimbau kepada pengusaha hiburan malam seperti pub, bar, diskotek, rumah biliar dan sebagainya untuk menutup usahanya selama bulan Ramadan.

Dalam hal pemberitaan, ia juga mengimbau media massa menyediakan informasi atau hiburan yang dapat menambah kualitas ibadah umat Muslim. “Sebaiknya media massa jangan menayangkan segala sesuatu yang bertentangan dengan kesucian Ramadan,” tutur Hatta.

Para muballigh/muballighah dai/daiyah juga diharapkan menyampaikan materi ceramah tentang keutamaan Ramadan. Sementara para nazir masjid dan musala diimbau agar mempersiapkan tempat ibadah yang baik, bersih sekaligus nyaman. “Demikian juga masjid dan musala yang ada di lingkungan perhotelan, rumah sakit, mall atau plaza dan tempat umum lainnya. Diharapkan juga penggunaan pengeras suara masjid dan musala agar disesuaikan dengan kebutuhan dan tak mengganggu ketertiban pihak lain,” tegasnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Sumut Syariful Mahya Bandar menjelang datangnya Bulan Ramadan juga mengimbau agar pemilik rumah makan, pengusaha hiburan dan sejenisnya bisa menyesuaikan diri dan toleran terhadap suasana yang dijalankan umat Islam.

Syariful juga mengharapkan organisasi kemasyarakat agar mampu mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan Ramadan untuk meningkatkan silaturahmi, kesatuan dan persatuan umat. (ari/omi/net/bbs/jpnn)

Perpaduan Tradisi dan Agama

Berbagai Cara Umat Muslim Sambut Bulan Suci Ramadan

MEDAN-Senin (1/8) besok, umat Muslim di berbagai penjuru dunia akan melakukan ibadah puasa, berjuang melawan hawa nafsu selama Ramadan. Untuk menyambut bulan suci itu, masyarakat melakukan rangkaian tradisi dan ritual keagamaan.

Di Sumatera Utara, salah satu tradisi yang selalu dilakukan adalah punggahan. Ketua MUI Sumut Hasbullah Syah menjelaskan, kebiasaan ‘punggahan’ menyambut Ramadan kurang lebih sama artinya dengan kenduri.
“Ini masalah istilah saja, umat Islam bersuku Jawa menamakannya ‘punggahan,’ suku lain menyebutnya kenduri. Kenduri ini merupakan kegiatan amal yakni bersedekah dengan memanggil tetangga, fakir miskin dan sebagainya. Di Islam sendiri ini hal ini malah sangat dianjurkan,” katanya, Jumat (29/7).

Hanya saja, kata Hasbullah, makna punggahan kini mengalami degradasi makna, sehingga cenderung dilakukan secara berlebihan dan berfoya-foya.

“Penyambutan Ramadan ini hendaknya jangan disalahtafsirkan. Umat Islam harus merayakannya dengan menggelar amal, bukan perayaan yang mubajir dan foya-foya. Kegiatan ini dilakukan dengan harapan mendapat rida dari Allah SWT,” ujarnya.

Menurutnya, punggahan idealnya dilakukan bukan hanya saat menyambut Ramadan saja. “Karena ini merupakan sedekah, kapan pun dan dimana pun seharusnya umat Islam bisa melakukannya. Punggahan menjelang Ramadan ini tentu memiliki nilai lebih karena umat Islam saat itu memiliki waktu dan kesempatan yang cukup untuk melakukannya,” tutur Hasbullah.

Hasbullah mengatakan, punggahan sebaiknya diimplementasi dengan cara memberi makan dan menyantuni anak yatim, fakir miskin dan tetangga terdekat. Dalam hadists dan riwayat sangat banyak dianjurkan kegiatan bersedekah secara umum. “Namun, memang tak ada keistimewaan di satu hari yang khusus, karena kapan pun bisa dilakukan, tanpa paksaan,” katanya lagi.

Selain punggahan, tradisi yang juga dilakukan menyambut Ramadan adalah ziarah kubur.  Meskipun ziarah kubur hanya tradisi, akan tetapi ada dua hal yang perlu diketahui dari kegiatan itu. Pertama, mengingatkan setiap umat bahwa setiap orang akan mati. Dan kedua, memanjatkan doa kepada orang yang telah meninggal agar ditempatkan di sisi Allah SWT, agar diampuni dosa-dosa orang telah meninggal.

“Ziarah kubur di dalam hadis dan Alquran memang tidak ada, itu hanya suatu tradisi bagi umat Islam,” kata Ketua MUI Medan Prof Mohammad Hatta kepada Sumut Pos, Kamis (28/7).

Dia mengatakan, ziarah  merupakan bentuk mensucikan diri dan memohon berkat dari Allah SWT atas apa yang dilakukan. “Jadi, bukan pada sang di dalam kubur kita memohon ampunan, melainkan pada Allah SWT,” katanya.
Hatta menceritakan, saat Nabi Muhammad SAW melintas di makan, beliau melihat pelepah batang kurma. Pelepah batang kurma tersebut diletakkan ke makam kuburan yang dilintasi Nabi saat itu, kemudian menyiramkan air di atas kuburan itu. Itulah alasan mengapa pada ziarah kubur umat Islam menabur bunga dan menyiram air saat berziarah.
Yang terpenting, katanya, umat muslim harus senantiasa menyambut Ramadan dengan gembira dan melaksanakan ibadah. “Allah mengatakan setiap setahun sekali, ada bulan istimewa yang penuh makna dan ampunan, yaitu Ramadan di malam Lailatur Qadar,” katanya.

Tradisi lain yang tak ketinggalan dilakukan adalah mandi pangir atau marpangir.  Tradisi ini bertujuan melakukan pembersihan diri dan biasanya dilakukan sehari sebelum puasa, dan itu sore hari sebelum maghrib. Bahan-bahan untuk ritual marpangir antara lain akar rusa, serai wangi, bunga pinang, daun pandan, daun nilam, buah dan daun jeruk purut serta batang kapelon yang mengandung unsur wewangian. Bahan-bahannya bisa dibeli di tempat-tempat jual bunga harganya sekitar Rp2 ribu atau Rp3 ribu. Tradisi mandi pangir merupakan adat atau kebiasaan yang telah berjalan sejak puluhan dan bahkan ratusan tahun. Dan itu tidak bertentangan dengan syariat Islam, makanya banyak umat Islam yang melakukan tradisi itu. (omi/saz)

Siapkan Sahur Suami

Novita Angie

Meskipun bukan muslim presenter kondang Novita Angie menghargai dan menghormati suaminya, Sapto Haryo Rajasa, yang menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Novita Angie tetap mengurusi dan menemani suaminya itu saat buka puasa dan sahur. “Di bulan Ramadan, yang pasti saya mengurusi suami saya yang puasa. Yah, saya menyiapkan bukaan dan sahur,” ujarnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya Novita menyiapkan menu makanan yang manis-manis saat berbuka puasa. Misalnya, menyiapkan teh manis karena menurutnya lebih enak. Namun, mengaku jarang memasak di rumah.
“Suami kayaknya nggak mau saya masak. Bukan saya nggak bisa masak, tapi sepertinya suami saya nggak tertarik. Untung suami aku nggak banyak nuntut, paling dia ngajak makan di luar,” ucapnya sembari ketawa.

Karena itu, Novita, suami, dan kedua anaknya makan makanan yang dimasak oleh asisten rumah tangganya. Atau, paling tidak mereka makan di restoran. (net/jpnn)

Rachman Kalah, Siap Revans

JAKARTA– Dunia tinju tanah air kembali kehilangan juara dunia. Itu setelah gelar juara kelas terbang mini (47,6 kg) WBA milik Muhammad Rachman melayang ke tangan  petinju Thailand Pornsawan Porpramook setelah kalah angka pertarungan tadi malam (30/7) di Studio 5 Indosiar. Juri I Silvestres Abiyansa (Filipina) memberikan nilai 114-114. Juri II Takeshi Samakawa (Jepang) 113-115 untuk Pornsawan. Sedangkan juri III Yu Hwan Soo (Korsel) 114-115, juga untuk Pornsawan.

Menangggapi kekalahannya itu, Rachman menyatakan sakit hati dengan penilaian para juri. “Saya sangat kecewa malam ini (kemarin, red.). Masyarakat jelas melihat bagaimana pukulan saya selalu masuk dan mengenai lawan. Saya sangat terpukul dengan hasil penjurian,” kata Rachman dengan mata berkaca-kaca.
Yang membuat petinju kelahiran Merauke, Papua, itu semakin dongkol adalah minimnya perhatian pemerintah terhadap atlet. “Saya makin kecewa karena pihak pemerintah tak ada yang datang pada pertarungan saya. Padahal, saya bertarung demi nama Indonesia,” ujar Rachman. Dalam daftar undangan kemarin memang hanya pihak BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) yang hadir.

Rasa kesal juga menghinggapi promotor pertarungan, Erick Purna Irawan. Erick menyatakan bahwa kualitas pukulan Rachman jauh lebih apik dibandingkan Pornsawan. “Saya akan mengajukan protes kepada WBA. Masak kami dikerjai dikandang sendiri,” tutur Erick.

Kalau protes itu tak digubris WBA, Erick sudah punya opsi lain. Yakni, menggelar pertarungan ulang antara Rachman versus Pornsawan. “Pokoknya kami akan mengusahakan revans. Apapun jalannya akan kami tempuh demi gelar juara kemabali pada Rachman,” tegas Erick.

Ketua KTI (Komisi Tinju Indonesia) Anton Sihombing juga memberikan dukungan untuk memprotes hasil pertarungan kemarin. Sebagai supervisor pertarungan, KTI merasa curiga dengan kualitas stamina yang diperlihatkan Pornsawan kemarin. “Seingat saya waktu timbang badan Pornsawan kondisinya tak fit. Tapi, hari ini (kemarin, red.) penampilannya berbeda sekali,” tutur Anton.

Di sisi lain, usai pertarungan kemarin sempat terjadi insiden di sekitar ring. Karena merasa petinjunya dikerjai juri, para pendukung Rachman pun berang. Beberapa pendukung petinju berusia 39 tahun itu melempari para juri dengan berbagai benda. Mulai botol plastik air mineral hingga triplek.

Melihat kejadian itu, Pornsawan juga takut. Petinju berusia 32 itu pun lari meninggalkan arena pertarungan dengan kawalan aparat keamanan. Ketika hendak diwawancarai Jawa Pos (grup Jawa Pos), aparat tak memberikan izin.
Sementara itu, dalam pertarungan tadi malam Rachman memang terlihat tampil apik di empat ronde awal. Kombinasi hook kiri dan upper cut kanan Rachman sempat membombardir Pornsawan.

Sayangnya serangan itu tak bertahan lama. Memasuki ronde keenam, kualitas stamina Rachman menurun dan pukulannya tak segarang ronde-ronde sebelumnya.

Hingga ronde kedelapan Rachman lebih banyak bertahan dan sibuk menghindari pukulan Pornsawan. Baru dironde kesembilan sampai dua belas Rachman kembali melancarkan pukulan balasan dan agresif menekan Pornsawan. (aam/dra/ttg/jpnn)

KPK Hanya Urusi Recehan, Koruptor Kakap Tertawa

JAKARTA- Sorotan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) makin tajam. Tanggapan publik tak lagi sekadar soal nyanyian Nazaruddin yang menyebut pernah bertemu Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah, Deputi Penindakan Ade Rahardja dan Jubir KPK Johan Budi. Kinerja KPK pun diblejeti.

Wakil Ketua Komisi III DPR Tjatur Sapto Edi menyebut KPK tidak punya strategi yang jelas dalam memberantas korupsi. KPK disebutnya tidak punya pemetaan perkara korupsi yang mesti ditangani. Bahkan, cenderung hanya mengurusi perkara korupsi kelas teri, yang nilai kerugian negaranya tak seberapa alias recehan.
“Jangan hanya mengurusi yang recehan. Harapan saya, selamatkan uang negara yang jumlahnya besar. KPK belum pernah mengusut yang triliunan,” ujar Tjatur Sapto Edi dalam diskusi bertema ‘KPK, Nasibmu Kini’, di Warung Daun, Cikini, Sabtu (30/7).

KPK juga diingatkan jangan melulu menuruti laporan dari masyarakat, yang hingga kini sudah mencapai sekitar 55 ribu pengaduan. Kalau semua dituruti, jelas tidak tertangani oleh KPK yang hanya punya 600-an pegawai dan 70-an penyidik. “Sampai kiamat pun tak akan selesai, karena yang kalah tender itu rata-rata lapor,” ujar politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

“Yang ditangani harus orang besar, yang uang kerugian negaranya besar. Harus ada yang diprioritaskan. Jangan recehan. Koruptor yang betul-betul, kumpul di Singapura, main casino, tertawa karena yang ditangkapi yang kecil-kecil,” cetus Tjatur.

Meski demikian, Tjatur mengaku tidak setuju dengan pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie yang mendorong perlunya KPK dibubarkan saja jika dianggap tidak ada pimpinan KPK yang kredibel.

Sementara, Direktur Pusat Antikorupsi (Pukat) UGM, Zainal Arifin Mochtar, habis-habisan membela pimpinan KPK. Menurutnya, tidak adil jika nyanyian Nazaruddin lantas dijadikan amunisi untuk menyerang pimpinan KPK. Menurutnya, omongan Nazar yang tidak konsisten, tidak bisa dipercaya.

Dia lantas membeberkan argumentasinya. Menurutnya, sumber penyakit KPK bukan pada pimpinannya. Pertama, yang terkait dengan struktur kelembagaan KPK. Dari 55 ribuan laporan kasus korupsi yang masuk ke KPK, hanya 10 persennya saja yang diverifkasi, lantaran keterbatasan pegawai dan penyidik. “Jadi, omong kosong jika semua laporan bisa tertangani,” ujarnya.

Kedua, dia menduga, level di bawah pimpinan KPK lah yang nakal, baik itu tingkat deputi ataupun penyidik. Masalah ini sumbernya juga di UU KPK, dimana disebutkan, penyidik KPK berasal dari kepolisian dan kejaksaan. Menurut Zainal, ini aneh, lantaran KPK didirikan dengan niat mendorong kejaksaan dan kepolisian bisa lebih baik dalam memberantas korupsi. “Yang mau diperbaiki polisi dan jaksa, tapi penyidiknya polisi dan jaksa,” ujarnya.

Hal ini, lanjutnya, menghambat KPK dalam melakukan proses supervisi kasus korupsi yang ditangani kepolisian dan kejaksaan di daerah. Penyidik KPK yang paling banter berpangkat mayor, harus bertemu dengan Kapolda yang sudah perwira tinggi. “Mereka pasti juga berpikir, begitu tugasnya di KPK selesai, ya baik lagi ke korpsnya, di kepolisian dan kejaksaan,” kata Zainal.

Berbeda dengan Zainal, praktisi hukum Juniver Girsang yang juga hadir sebagai pembicara diskusi menilai, saat ini memang sudah tidak ada pimpinan KPK yang kredibel. “Apa yang kita rindukan mengenai pimpinan KPK yang kredibel, jauh panggang dari api,” ujar Juniver. Dikatakan, pelanggaran kode etik sudah banyak dilakukan pimpinan KPK. Pengaduan Ade Rahardja bahwa memang pernah bertemu Nazar, sudah cukup sebagai dasar untuk menyebut telah terjadi pelanggaran kode etik.

Dia sepakat dengan Tjatur, bahwa KPK mestinya bisa mengembalikan kerugian negara dalam jumlah besar dari para koruptor. “Tapi yang ditangani malah recehan. Tertangkap tangan Rp1 juta, atau Rp1 miliar. Kalau kewenangan KPK yang besar itu diberikan kejaksaan dan kepolisian, saya yakin tujuan pengembalian uang negara bisa tercapai,” kata pengacara senior itu.

Sedang mantan anggota Panja RUU KPK, Firman Jaya Daeli mengatakan, faktor pelemah KPK teletak pada orang-orangnya. “Titik lemah KPK ada pada orangnya. Publik sedang melihat itu,” ujar politisi dari PDI Perjuangan itu. (sam)

Polisi Periksa Dua Saksi

Perampokan Gubernur LIRA Sumut

BELAWAN- Guna mengusut kasus perampokan yang dialami Rizaldi Mavi yang kini menjabat Gubernur LIRA Sumut, Polres Pelabuhan Belawan sudah memeriksa dua orang saksi. Namun, polisi belum bisa mampu menangkap para pelaku.

“Kami sudah periksa dua orang saksi. Saat ini, kami masih melakukan proses penyelidikan untuk pengembangan. Namun, korban belum dapat diperiksa karena masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit,” kata Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Hamam W Sik, Sabtu (30/7). Hamam juga mengatakan, pihaknya belum dapat menangkap pelaku, namun begitu, dia berjanji akan menangkap pelaku secepatnya.

Saat ditanya, apakah kemungkinan pelaku perampokan tersebut oknum polisi seperti yang disampaikan korban, Hamam menampiknya. “Itukan masih kata korban, kemungkinan itu hanya motif yang dilakukan kawanan perampok dengan menyaru sebagai polisi untuk memberhentikan mobilnya,” kilahnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan, pihaknya akan melakukan pengecekan ke tempat kejadian perkara (TKP). “Kami masih dalami kasus ini dulu, apakah kasus ini ada unsur lain seperti dendam atau memang murni perampokan,” tandasnya.
Sementara, Wali Kota LIRA Kota Medan Ganda Manurung mendesak agar Kapoldasu segera mengusut tuntas pelaku perampokan yang menyaru sebagai petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan tersebut. “Dalam peristiwa ini polisi benar-benar kecolongan. Jadi, kami selaku masyarakat Kota Medan, meminta pada Kapoldasu untuk menciptakan rasa aman di Sumut,” kata Ganda Manurung dampingi unsur pengurus LIRA Medan seperti Wakil Wali Kota Hartono Ekowadi, Sekda Ibeng Syafruddin Rani, Asisten III Gandi Manurung, Hasler Marbun, dan Dharma Putra saat mengunjungi Rizaldi Mavi di RS Permata Bunda, Sabtu (30/7).

Sementara, Rizaldi Mavi dengan kondisi tubuh penuh luka lembam akibat penganiayaan yang dialaminya, masih intensif di Rumah Sakit Permata Bunda. Di Kamar Zamrud 103, Rizaldi masih bisa menerima tamu yang membesuk.
Kepada wartawan koran ini dia mengungkapkan, pelaku sekitar lima orang, satu di antaranya wanita yang mengaku Polwan. “Saat itu mereka melakukan razia. Mereka memaksa saya masuk ke mobil yang katanya akan dibawa ke Polresta Medan,” ungkap Rizal.

Namun di dalam mobil,  dia ditodong pistol. “Tangan saya diborgol, mata dan mulut dilakban. Untungnya mata saya tak sepenuhnya dilakban. Makanya saya tahu dibawa ke mana. Seorang pelaku mengatakan, saya akan dibawa ke Binjai. Ternyata, saya dibawa ke Asahan,” ungkapnya. (mag-11/rud)