27 C
Medan
Tuesday, January 13, 2026
Home Blog Page 14954

Saling Klaim, Pengurus GTDI Nyaris Bentrok

MEDAN- Dua kubu yang mengkalim sebagai pimpinan Gereja Tuhan di Indonesia (GTDI) Jalan Bambu Runcing Medan, nyaris bentrok, Sabtu (2/7) pukul 11.45 WIB. Peristiwa ini berawal saat kubu Pendeta P Zebua didampingi Pendeta Selamat Siagian dan Pimpinan Departemen Kepemimpina GTDI Pendeta Fasa Aru ingin memasuki GTDI Jalan Bambu Runcing Medan.

Kehadiran meraka ditolak pendukung Bishop Sorta Lumban Toruan, yang juga mengaku sebagai pimpinan GTDI Bambu Runcing. Sempat terjadi ketegangan saat pendukung Pendeta Zebua memaksa masuk dan menerobos pagar gereja hingga rusak. Adu mulut pun tidak terhindarkan lagi.

Bentrokan berhasil dihindari berkat kesigapan personel Polsekta Medan Timur mengamankan situasi. Para pendukung Pendeta Zebua akhirnya berhasil masuk dan menguasai gereja.

Sementara, kuasa hukum Sorta Lumban Toruan, Emi Sihombing SH, saat dikonfirmasi di luar gereja mengatakan, pihaknya merasa masih berhak untuk menangani gereja karena Pendeta Selamat Siagian telah dipecat oleh almarhum Pendeta RS Simarmata yang merupakan suami Sorta Lumban Toruan dan pimpinan GTDI Bambu Runcing terdahulu.
“Mereka tidak sah, kami yang memiliki surat izin domisili di GTDI Bambu Runcing ini, izin mereka dikeluarkan di Medan, bukan di Bambu Runcing ini,” ungkap Emi.

Di tempat terpisah, Pendeta Fasa Aru, yang merupakan Pimpinan dari Departemen Kepemimpinan GPDI mengatakan, aksi yang dilakukan pihaknya untuk masuk ke gereja secara paksa, dilakukan karena sebenarnya pihak Sorta Lumban Toruan tidak berhak untuk menjadi pemimpin gereja, apalagi mengadakan musyawarah besar GTDI. “Ini bukan kerajaan, dia saja yang mengklaim dirinya sebagai pimpinan GTDI Bambu Runcing setelah suaminya meninggal,” ujar Fasa.(mag-7)

Tawarkan Hunian Nyaman dan Asri

Perumahan Puri Arena Lestari 3

Memilih rumah bisa dikatakan gampang-gampang susah. Karena, biasanya rumah akan digunakan seumur hidup, sehingga diperlukan pertimbangan matang sebelum kita menjatuhkan pilihan kepada salah satu proyek perumahan yang kita incar.

Perumahan Puri Arena Lestari 3 mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi Anda yang sedang mencari rumah untuk tempat tinggal bersama keluarga. Pasalnya, perumahan ini menawarkan kenyamanan dan lingkungan yang asri. Karenanya, perumahan yang berlokasi di Jalan Pembangunan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang ini, sangat cocok bagi Anda yang merindukan udara yang sejuk nan nyaman.

“Lingkungan di Perumahan Puri Arena Lestari 3 ini memang udaranya masih bersih, karena jauh polusi udara. Apalagi, di kompleks perumahan ini banyak ditumbuhi pepohonan,” ujar Rahmad Hidayat Siregar SE, Direktur PT Ruang Inspirasi Lestari di lokasi perumahan, Senin (27/6) lalu.

Dikatakannya, selain memiliki hunian yang nyaman dan asri, perumahan tersebut juga memiliki fasilitas penerangan lampu jalan, air bersih, jalan yang lebar dan listrik menggunakan daya 1.300 Watt.

“Dijamin fasilitas yang disediakan di perumahan kita sangat cocok bagi siapa saja,” terangnya.
Rahmat juga mengatakan, Perumahan Puri Arena Lestari 3 yang dibangun sebanyak 40 unit ini ditawarkan dengan berbagai tipe dan harga yang sangat terjangkau. Untuk tipe 45 dengan ukuran luas tanah 7,5×16,5 meter dan luas bangunan 7,5×6 meter ditawarkan dengan harga Rp146.500.000.

Lalu, untuk tipe 50 dengan luas tanah 7,5×16,5 meter dan luas bangunan 7,5×6,6 meter dibanderol seharga Rp160 juta per unit. Namun tipe Rumah Tinggal Tempat Usaha dengan ukuran luas tanah 4,2×24 meter dan luas bangunan 4,2×10,7 meter dibanderol seharga Rp150 juta.

“Dari 40 rumah yang sedang dibangun, telah terjual 12 unit rumah, sisanya 28 unit lagi,” terang Rahmat. Untuk itu, Rahamat menyampaikan pada konsumen yang hendak memiliki Perumahan Puri Arena Lestari 3 bisa langsung datang ke kantor pemasaran di Jalan Ir H Juanda Nomor 52, telpon 061 4155561.(omi)

Perlengkapan Sekolah Mulai Diserbu

MEDAN- Masa libur sekolah dimanfaatkan sejumlah produsen alat kebutuhan sekolah untuk meraup untung. Tidak terkecuali tahun ini, berbagai perlengkapan sekolah dipajang di sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Medan dengan berbagai penawaran menarik.

Seperti di Plaza Medan Fair yang terletak di Jalan Gatot Subroto Medan. Sejumlah pengunjung memadati sejumlah stan yang menjual perlengkapan sekolah, seperti buku tulis, sepatu, seragam sekolah, tas dan sebagainya.
Sebut saja toko sepatu Bata di lantai 2 Plaza Medan Fair. Toko sepatu ini diserbu pengunjung yang ingin membeli sepatu sekolah untuk anaknya.

“Ada 10 model sepatu yang kita sediakan dengan jumlah hampir seribu pasang, dan stok ini pun akan kita tambah karena masih diminta,” ujar Rahma, karyawan toko sepatu tersebut.

Dia juga menyebutkan, permintaan terhadap sepatu sekolah sangat tinggi. Karena umumnya, setiap memasuki tahun ajaran baru, siswa akan lebih percaya diri jika menggunakan sepatu baru.

Hal ini diamini Ibu Rita, pengunjung yang sedang mencari sepatu untuk anaknya. “Anak saya Rizki, setiap tahun harus beli sepatu, karena dia mau sepatu baru. Lagian, setiap tahun sepatunya terus kesempitan,” ujarnya.

Selain sepatu, buku tulis juga merupakan perlengkapan sekolah yang paling dicari. “Biasanya pembeli tidak seramai ini, bahkan omzet kita naik untuk hari ini (Sabtu (2/7), Red),” ujar Kartini, Customer Relation Officer PT Sinar Mas.
Meledaknya penjualan sepatu dan buku tulis tak diikuti penjualan tas sekolah. Seorang karyawan toko tas sekolah mengaku penjualannya tidak mengalami lonjakan. “Mungkin karena tas tahan lama dan harganya juga relatif lebih mahal dari pada sepatu dan buku tulis,” ujar Ibnu, karyawan toko tas yang berada di Lantai 2 Plaza Medan Fair. (mag-9)

Terperosok ke Parit, Bocah 7 Tahun Tewas

MEDAN- Feri Sumardi, bocah berusia 7 tahun yang terperosok ke parit di depan SPBU Jalan Krakatau simpang Jalan Cemara Medan pada Jumat (1/7) sore, ditemukan tewas di parit depan Swalayan Maju Bersama, Jalan Krakatau, Sabtu (2/7) dini hari pukul 03.00 WIB. Jasad Feri ditemukan Hendrik (33), ayahnya sendiri yang sejak Jumat (1/7) sore terus melakukan pencarian.

Jenazah bocah malang ini langsung dibawa pulang untuk dibersihkan. Setelah itu, jenazahnya dibawa ke rumah neneknya di Jalan Tangguk Bongkar 10, Tegal Sari Mandala II, Medan Denai.

Marni (31), ibu kandung korban yang sedang menjalani masa tahanan karena terlibat kasus trafficking juga hadir saat jenazah disemayamkan. Bahkan, Marni juga ikut mengantarkan jenazah putranya ke pemakaman.
Komel (40), paman korban menjelaskan, jasad keponakannya itu ditemukan Hendrik ketika mereka melakukan pencarian di depan Swalayan Maju Bersama. Kaki Hendrik seperti menyenggol sesuatu. Setelah dilihat, ternyata kaki Feri.

Diketahui, Feri terperosok ke parit di SPBU Krakatau Simpang Cemara saat dia hendak membeli jajan, Jumat (1/7) sore. Menurut Angel, tetangga korban, dia sempat melihat Feri berjalan di atas trotoar dan tiba-tiba bocah malang ini terperosok ke dalam selokan dan hilang dalam genangan air yang saat itu setinggi lutut karena hujan lebat.

“Aku terkejut, dia terjatuh, tiba-tiba hilang. Aku menjerit minta tolong kepada orang lain dan pengguna jalan dan aku kejar ke dekat lobang itu. Tapi aku nggak bisa apa-apa, aku bawa bayi. Nggak lama, orang-orang berdatangan,” ungkapnya.(mag-7)

Tak Sanggup Mendaki, Mundur dan Langsung Kabur

Oleh: Ramadhan Batubara

Lalu, bus itu menurun. Dakian berlumpur yang harusnya menghambat laju ban pun tak mampu menahan. Bus itu semakin tak terkendali; mengantarkan sembilan belas penumpangnya ke pemakaman.

Fiuh. Merinding bulu kuduk saya membaca kabar dari Aek Latong tersebut. Bukan untuk pura-pura bersimpati, namun beberapa bulan yang lalu, saya pun nyaris merasakan hal yang sama dengan kesembilan belas korban. Saat itu, ompung saya di Sipirok meninggal. Maka, saya dan ibu saya berangkat ke tanah kelahiran bapak saya tersebut. Nah, ke Sipirok pastinya melewati Aek Latong.

Kami tiba di Aek Latong ketika pagi menjemput. Setelah turunan tajam, bus Sipirok Nauli yang kami tumpangi berhenti. “Turunlah, tunggu di atas, tak sanggup kita mendaki,” kata sang supir.

Saya dan ibu pun langsung turun. Kami dan penumpang lainnya menjinjing alas kaki. Saat itu, dakian di Aek Latong memang sedang becek dan licin. Ibu saya yang berumur enam puluh tujuh tahun tampak kepayahan. Tapi, dia terus berjuang, tanpa ingin dibantu oleh tangan saya yang begitu ingin menggandengnya. Mungkin, bayangan jika mendaki dakian Aek Latong yang curam dan licin di dalam bus telah menambah kekuatannya.

Tak lama kemudian kami tiba di puncak. Ada mimik puas dari kami semua. Kami pun asyik menyaksikan bus yang kami tumpangi itu mendaki. Sementara dua kernetnya sibuk memegang kayu; bersiap mengganjal ban jika tiba-tiba tergelincir. Fiuh, tak terbayang jika saya berada dalam bus itu. Bayangkan saja, bus yang kosong itu saja nyaris tak sanggup mendaki. Apalagi, jalan itu tak begitu lebar, ada dua truk yang tersangkut di dua sisi jalan tersebut.

Tapi, sudahlah, kisah itu memang semakin berarti ketika ada kejadian yang lebih mengerikan. Ya, saya pun bangga menceritakan hal ini, seakan baru selamat dari medan perang saja. Yang jelas, saya berterima kasih pada supir yang tega menyuruh kami (tentunya ibu saya yang tua) untuk mendaki di jalan yang becek dan mendaki.

Memang, soal ajal, itu urusan Yang Maha Kuasa. Namun, seandainya saja supir ALS menyuruh penumpangnya turun sejak awal, mungkin kejadiannya akan lain. Kabarnya, penumpang baru diturunkan ketika bus tak yakin bisa mendaki dan itu setelah pendakian dilakukan. Pertanyaanya, kenapa tak sejak awal, ya, bukankah antara turunan dan dakian itu ada tanah yang datar? Hm, untuk mencari jawab dari pertanyaan itu tampaknya sulit, sang supir belum juga ditemukan setelah berhasil lari sejenak sebelum busnya masuk dalam kubangan.

Terlepas dari kisah menyedihkan tersebut, saya malah tergoda dengan sang supir. Begini, ketika kita menaiki sebuah bus, tentunya nasib kita serahkan pada supir. Ya, dialah sang pemegang kendali. Di tangannya nyawa kita berada (bukan mengecilkan arti Tuhan). Dan, saya rasa setiap supir menyadari hal itu. Maka, adalah wajar jika seorang supir bak raja dalam busnya itu. Siapa saja cenderung mengikuti perintah; dalam artian untuk keselamatan. Nah, pemikiran ini terbantahkan segera dengan supir ALS tersebut, ke mana tanggung jawab atau kode etik profesinya sebagai supir. Ukh, seandainya ada janji supir (seperti janji dokter), tentunya dia telah melanggar atau membuat kesalahan besar.

Penggambaran ini berkaitan dengan kepercayaan. Bagaimana pelanggan atau pengguna jasa bus bisa percaya dengan supir jika berkaca pada kasus di atas. Seandainya dia supir yang baik, tentunya dia tak akan melompat dari bus tersebut; apalagi sampai lari. Seorang supir tentunya paham dengan kekuatan bus yang sudah seperti dirinya sendiri, jadi kenapa harus berani bertaruh? Ayolah, apa yang dilakukan oleh supir ALS itu adalah sebuah perjudian. Dia berani naik, sementara kekuatan bus dan kondisi jalan tidak memungkinkan! Fiuh.

Kepercayaan yang telah diberikan orang yang percaya padanya hancur. Seperti pemimpin yang tetap saja tak melakukan hal terbaik untuk orang yang mempercayainya. Ah, saya teringat para TKI yang bangga menjadi warga Indonesia di luar negeri sana. Ah, saya teringat soal ketidakadilan yang masih diterima para pembayar pajak, sementara mereka yang tak bayar pajak malah bergelimang harta.

Soal ketidakadilan pun semakin mengganggu saya. Yang terbaru adalah usaha MUI untuk membuat sebuah keadilan di negeri ini. Atas nama subsidi yang disalahgunakan, MUI pun berencana membuat fatwa haram untuk orang kaya yang menikmati subsidi. Ah, usaha ini menjadi bumerang. Polemik merebak. Mereka yang percaya pada MUI pun terganggu.  Padahal, seandainya MUI mau lebih bijak, kenapa harus turut campur dengan urusan pemerintah tersebut. Ayolah, pemerintah di negeri demokrasi kan terbagi atas tiga elemen saja. Yakni, eksekutif, legislatif, dan yudikatif. MUI dimana?

Jika begitu, jangan terlalu terlibatlah. Imbauan itu seharusnya ditujukan untuk pemerintah yang mengatur negara, jangan pada rakyat yang tak tahu kepelikan itu secara detai. Tiba-tiba saya terpikir, hm, soal subsidi, sebagai orang yang tak kaya, saya lebih suka menyumbang untuk orang kaya asal bahan bakar minyak dan bahan lainnya tak naik daripada orang kaya tak disubsidi tapi harga melonjak. Bukankah begitu?

Sekali lagi sudahlah, semua ini kan masalah sesuatu yang ingin naik tapi tak berhasil dan terpaksa harus mundur. Masalahnya, sang supir terlalu percaya diri, hingga dia tidak memperhatikan efek dari keberaniannya itu. Ujungnya, orang lain pun jadi korban. Entahlah, jika supir saja sudah tak bisa dipercaya, mau percaya pada siapa kita? (*)
1 Juli 2011

The Blues Juga Minati Nasri

LONDON – Sinyal kepergian Samir Nasri dari Arsenal semakin kencang. Gelandang serang timnas Prancis itu menolak tawaran kontrak baru The Gunners, julukan Arsenal. Padahal, kontraknya tinggal setahun lagi di Emirates Stadium, markas Arsenal.

Situasi itu membuat duo Manchester, yakni Manchester United dan Manchester City terus memantaunya. Belakangan, bursa transfer semakin dipanaskan dengan bergabungnya Chelsea ke dalam daftar peminat mantan pemain Olympique Marseille itu.

Sulitnya mendapatkan tenaga Luka Modric dan Alexis Sanchez membuat Chelsea ikut mengantre mendapatkan tenaga Nasri. Memang, manajer Arsenal Arsene Wenger telah menyatakan tidak akan melepas Nasri ke United atau pun klub lainnya.

Namun, penolakan Nasri atas tawaran kontrak lima tahun dengan bayaran 90 ribu pounds atau setara Rp 1,2 miliar perpekan dari Arsenal membuat para peminat punya harapan besar. United siap menawarkan kontrak 110 ribu pounds atau setara Rp 1,5 miliar perpekan.

Kalau terus gagal meyakinkan Nasri meneken kontrak baru, maka Arsenal terancam kehilangan Nasri tanpa uang transfer sepeser pun pada tengah musim depan. Makanya, lebih menguntungkan bila menjual Nasri, setidaknya bisa menghasilkan 20 juta pounds atau setara Rp 274 miliar.

Apalagi, dalam beberapa kesempatan Nasri mengisyaratkan siap angkat kaki dari Emirates. Mengingat, reputasi Wenger yang tidak pernah ragu menjual bintang Arsenal apabila ada tawaran menarik, mungkin saja Nasri akan dilepas.

Wenger pernah menjual Emmanuel Adebayor dan Kolo Toure ke City dua musim lalu. Itu bukti bahwa bila ada tawaran menggiurkan meski dari klub rival, tactician asal Prancis itu tidak akan ragu melepasnya.
“Chelsea terus memantau, bila ada perkembangan situasi, mereka akan segera mengajukan tawaran. Nasri merupakan sosok yang cocok dengan gaya bermain Chelsea,” ujar sumber dari dalam Chelsea, seperti dikutip Telegraph.

Hanya, yang menjadi masalah, Wenger sekarang belum memiliki pengganti yang sepadan. Apalagi, pada bursa transfer musim panas ini, banyak pemain andalan Wenger yang dibidik klub-klub elite, seperti Cesc Fabregas dan Andrey Arshavin.

Begitu kencangnya rumor hengkang sejumlah bintang itu membuat gelandang muda Arsenal Jack Wilshere angkat suara. “Kami menginginkan mereka tetap di sini, menjadi bagian dari Arsenal. Mereka adalah bintang di klub ini,” pinta Wilshere, seperti dikutip Gaurdian.
Ketika para pemainnya diincar klub lain, Arsenal juga berhasil mengamankan buruannya. Mereka telah menggaet Gervinho dari juara Ligue 1 Prancis Lille dan sedang berburu gelandang Queens Park Rangers Adel Taarabt.
Nah, untuk mendapatkan Taarabt, Arsenal harus bersaing dengan Chelsea. Namun, belakangan, klub Prancis Paris Saint-Germain dikabarkan menjadi yang terdepan dalam perburuan Taarabt. Mereka siap dengan tawaran 13,5 juta pounds atau setara Rp 184,9 miliar. (ham/ko/jpnn)

Diperkosa Majikan, Ancam Bunuh Diri

TKI di Arab Saudi

BANYUWANGI- Lagi – lagi tenaga kerja Indonesia (TKI)  di Arab Saudi mengalami perlakuan yang tidak layak oleh majikannya. Siti Ratih Purnamasari namanya. Perempuan remaja berusia 19 tahun asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini acap menerima siksaan dan ancaman perkosaan dari majikannya. Makanya, Siti terus mengancam akan bunuh diri andai dirinya tak segera dipulangkan.

Siti adalah anak kedua dari pasangan Irianto dan Desak Siti Asiah. Tepatnya, ia adalah warga Lingkungan Kampung Baru, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Menurut pihak keluarga, ancaman tersebut disampaikan  Siti kepada orang tuanya empat hari yang lalu lewat telepon.

Sampai kini, Siti bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di keluarga Abu Kholid, seorang purnawirawan polisi  di Kota Riyadh Arab Saudi. Ia mengaku sering kali dipukul dan dicekik oleh majikannya.

Tak hanya berlaku kasar, sang majikan juga sering melakukan tindakan tidak senonoh. Selain menggerayangi tubuh Siti, sang majikan juga sering masuk ke kamar dan berusaha memerkosanya.

Karena sering mengalami pelecehan seksual macam itu, saat ini, setiap hariSiti selalu membawa pisau untuk melindungi dirinya. Rencananya pisau tersebut akan digunakan untuk mengakhiri hidupnya jika sang majikan tetap nekat memerkosanya.

Siti juga pernah meminta ke majikannya untuk dipulangkan. Tapi naas, sang majikan malah minta uang ganti rugi sebesar Rp 11 juta kalau sang pembantu nekat ingin pulang.

Ihwal perlakuan tak layak tersebut,  kedua orang tuanya pun kebingungan. Bahkan, lantaran kabar tersebut, sang ibu, Desak Siti Asiah langsung jatuh sakit. Bahkan, karena terlalu khawatir, ibunda Siti saat ini mengalami gangguan jiwa.
Sementara, setelah menerima telepon dari anaknya, Irianto langsung mendatangi Kantor Dinas Tenaga Kerja Banyuwangi. Bapak tiga anak ini  mengadukan nasib anaknya ke salah satu staf kantor tersebut.

Bukannya menaruh peduli dan membantu memecahkan persoalan, salah satu staf kantor itu, Yazid namanya, malah mengatakan kalau Siti berangkat melalui penyalur tenaga kerja yang tidak terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Banyuwangi. Padahal menurut Irianto, anaknya waktu itu berangkat melalui PT. Rajasa yang beralamat di Jalan Batu Ampar, Jakarta Timur. “Wong saya pernah menjenguk anak saya di sana kok, waktu itu anak saya masih didalam penampungan PT,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

Sementara itu Iriyanto hanya bisa berharap supaya anaknya cepat dipulangkan. “Saya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anak saya. Saya berharap Pemerintah Indonesia bisa secepatnya menangani permasalahan ini. Bapak Presiden harus bisa melindungi warga Negara Indonesia yang bekerja di Arab Saudi” ungkapnya.(net/jpnn)

Imogen Thomas Sindir Giggs Lewat Tato

Meski kasus perselingkuhan Ryan Giggs dengan Imogen Thomas mulai reda, namun nyatanya Imogen tampak masih sakit hati dengan legenda hidup Manchester United itu. rasa sakit hatinya itu dituangkan dalam bentuk tato.
Imogen Thomas yang  saat ini sedang menikmati liburannya di Los Angeles dengan mengenakan bikini terlihat memamerkan tato barunya, yang seolah menyindir patner selingkuhannya di masa lalu, Ryan Giggs.

Wanita cantik dengan tubuh seksi tersebut membubuhkan tato di lekukan pinggangnya yang bertuliskan “Liars and cheats will never have my heart”. Atau dalam bahasa Indonesia berarti “Pembohong dan hidung belang tak akan pernah memiliki hatiku”.

Tato baru Imogen tersebut terlihat ketika dirinya sedang berada di sebuah spa bersama dengan salah seorang rekannya. Imogen melalui akun twitter miliknya telah berencana untuk pindah permanen dari Inggris ke LA.
“Saya sangat bahagia berada di LA. Tidak ingin pulang dan menerima segala gangguan. Saya akan berada disini selamanya,” tulis Imogen di akun Twitter pribadinya.

Nama Imogen menjadi topik panas di Inggris setelah perselingkuhannya dengan bintang Manchester United, Ryan Giggs terkuak di media. Tapi bukan hanya dengan Imogen, pesepakbola berusia 37 tahun tersebut ternyata juga berselingkuh dengan adik iparnya. (net/jpnn)

Cangkang

Cerpen:  DADANG ARI MURTONO

TIDAK ada satu pun penduduk kampung itu yang tahu dari mana cangkang tersebut berasal. Dan, bagaimana cangkang itu tiba-tiba ada di balai dusun. Cangkang tersebut ada tiba-tiba. Teronggok di balai dusun pada suatu pagi setelah malam harinya hujan turun dengan deras.

Tak pernah ada hujan sederas itu sebelumnya. Hujan yang membawa banyak petir. Hujan yang disertai angin. Dan, semua orang memilih berdiam di rumah. Warungwarung tutup. ”Alangkah singun ini malam,” kata Bayan kepada istrinya. ”Pasti akan terjadi sesuatu,” lanjutnya.

Dan, benarlah. Pagi harinya, Bayan yang rajin itu, yang selalu sampai paling awal di balai dusun, mendapati cangkang itu tergeletak begitu saja. Cangkang berwarna putih burek. Cangkang seperti cangkang telur ayam.

Hanya lebih besar. Cangkang yang misterius itu pastilah akan dibuang begitu saja dan tak menimbulkan banyak pertanyaan andai saja bukan Bayan yang kali pertama menemukannya. Bukankah Bayan itu yang berpikir akan terjadi sesuatu di kampung ini? Dan, perkiraan Bayan tersebut seperti mendapat pembenaran ketika ia menemukan cangkang itu.

”Alangkah aneh cangkang ini. Pastilah cangkang ini yang dibawa hujan semalam. Hujan yang tak terkira derasnya itu,” kata Bayan. Bayan pula yang kemudian memukul kentong an. Mengundang semua warga untuk berkumpul dan meninggalkan pekerjaan mereka di sawah atau kebun.

”Ah, itu pasti telur angsa. Tidak ada yang aneh dengan itu,” kata salah seorang penduduk yang merasa jengkel karena mesti meninggalkan tanaman padi yang butuh diairi itu.
”Bukan, bukan,” jawab Bayan. ”Semalam hujan turun deras sekali. Pasti itu bukan hujan yang biasa. Hujan itu pertanda akan ada sesuatu di kampung ini. Dan inilah yang dimaksud hujan itu. Cangkang ini. Ini pasti bukan cangkang biasa. Lihatlah, bila ini telur, pasti tidak sekeras ini. Ada sesuatu dalam cangkang ini. Itu pastinya akan berhubungan dengan kampung ini,” tambah Bayan dengan sengit.
”Lalu, bagaimana? Apakah kita pecahkan saja cangkang ini biar jelas apa isinya?” ta nya kepala kampung. ”Jangan gegabah. Kita belum tahu apa-apa tentang cangkang ini. Saya takut bila ternyata cangkang ini menyimpan bubuk bencana. Bubuk yang bisa menyebar dengan cepat dan menimbulkan banyak kerusakan pada
kampung kita,” jawab Bayan.

”Lalu, bagaimana? Apakah kita buang saja ini cangkang?” tanya kepala kampung.

”Itu juga bukan pilihan yang bijak. Saya juga takut bila ternyata cangkang ini menyimpan berkah. Semacam jimat. Bila kita membuangnya, si pemberi jimat akan marah dan menurunkan bencana untuk kita. Dan bisa0 pula bila cangkang ini adalah penanda lain yang akan membuat hasil panen kita berlimpah,” jawab Bayan.
Maka akhirnya, diputuskan agar cangkang itu disimpan sementara waktu. Disimpan di balai dusun sampai ada yang bisa menjelaskan apa sebenarnya cangkang itu. Bayan yang pertama menemukan cangkang tersebut ditugaskan untuk mencari orang pintar guna mengetahui cangkang sebenarnya.

Seorang dukun perempuan dari lereng gunung yang jauh kemudian menjelaskan perihal cangkang itu. ”Jadi, pada malam itu.” Si dukun memulai cerita, ”Celeng Sarenggi turun dari perta paannya. Celeng itu merasa lapar karena sudah bertahun-tahun bertapa tanpa makan tanpa minum. Tanaman yang paling di sukai Celeng
Sarenggi adalah padi-padi yang sudah hampir tua dan bernas. Tidak ada ta naman padi dalam radius puluhan kilometer dari pertapaannya yang lebih bagus daripada tanaman padi di kampung ini. Maka, dia memutuskan turun ke kampung ini. Turun untuk memangsa padi-padi kalian.”

Dukun perempuan itu diam sejenak. Meng hirup kopi hitam suguhannya. ”Namun, di mana ada Celeng Sarenggi, di situ pula ada Sedana. Tahukah kalian siapa Sedana itu? Sedana itu saudara laki-laki Sri, si dewi padi yang menumbuhkan padi-padi yang kalian tanam. Sedana itu pelindung Sri. Sedangkan Celeng Sarenggi adalah musuh abadi Sri. Sebab itu, pada suatu ketika, Sedana0 bilang, ’Akan kulindungi Sri dari Celeng Sarenggi. Di mana0 pun dan kapan pun Celeng Sarenggi hendak menyakiti Sri, menyakiti padi-padi yang ditumbuhkan Sri, aku akan datang. Datang untuk mengusir Celeng itu’.

Pada malam itu Sedana juga muncul. Muncul bersamaan dengan Celeng Sarenggi. Mereka bertarung dengan hebat. Suara tarung mereka itulah yang kalian dengar sebagai petir yang tak habis-habisnya semalam suntuk itu.
Angin kencang tersebut adalah angin yang ditimbulkan dari udara yang terkebas di sekitaran medan tempur mereka itu. Sedangkan hujan tersebut adalah peluh dari sepasang petarung itu.
Celeng Sarenggi teramat sakti. Ia sudah bertahun-tahun bertapa. Dari hasil pertapaannya itu, ia memperoleh ajiaji0 yang membuatnya tak bisa mati. Berapa kali pun Sedana memenggal kepalanya, Celeng Sarenggi akan tetap hidup. Kepalanya akan kembali me nempel di lehernya yang pendek dan hitam.

Tapi, Sedana juga sakti. Lebih sakti daripada Celeng Sarenggi. Sedana juga pertapa yang baik. Juga, jauh lebih khusyuk daripada Celeng Sarenggi yang dalam tapanya masih tergo da untuk makan dan minum. Sedana pun tahu bahwa Celeng Sarenggi tidak bisa mati. Sebab itu, kemudian ia menangkap Celeng Sarenggi dan memasukkannya ke cangkang ini. Cangkang yang diciptakan Sedana dari seruas tulangnya sendiri.”
Orang-orang melongo. Antara percaya dan tidak. Dukun perempuan itu menghirup kopi sekali lagi. Lalu, meneruskan bercerita.

”Simpanlah baik-baik cangkang ini. Jangan sampai hilang atau pecah. Simpan baik-baik. Sebab, dalam cangkang ini meringkuk Celeng Sarenggi yang lapar. Sekali cangkang ini pecah, Celeng Sarenggi akan keluar dan menghabiskan seluruh padi kalian. Tidak akan ada hasil panen lagi. Sebab, Sedana sedang memulih kan diri. Sedana tidak bisa tiba-tiba datang saat ini. Dia mengalami banyak luka karena serudukan Celeng Sarenggi. Butuh bertahun-tahun lagi agar dia bisa benar-benar pulih.”

Orang-orang kampung pun percaya itu. Bayan ditugaskan untuk menjaga cangkang tersebut. Menjaga agar tidak hilang, apalagi pecah. Selama bertahun-tahun kemudian, hasil panen padi di kampung senantiasa melimpah.
Lebih melimpah daripada tahun-tahun sebelumnya. Tak ada hama. Tak ada wabah di kampung.
***
”Itu hanya dongeng lama. Dongeng yang tak masukakal. Cerita itu hanya cocok untuk mengantar bocah tidur.
Tidak ada itu Sedana. Tidak ada itu Sri. Tidak ada itu Celeng Sarenggi. Bila ingin tanaman padi bagus, ya harus dirawat dengan baik. Diairi dengan baik. Di pupuk dengan baik. Jangan lagi percaya dengan cangkang itu.

Itu hanya cangkang. Tidak ada Celeng Sarenggi di dalam cangkang itu,” kata seorang pemuda yang baru pulang dari kota yang jauh. Pulang setelah menyelesaikan kuliah pada jurusan pertanian di universitas besar. Pemuda itu cucu Bayan yang ditugaskan menjaga cangkang tersebut bertahun-tahun.

”Di kampus, saya telah diajari bagaimana menanam padi yang baik. Dan dengan senang hati akan saya ajarkan kepada kali an semua. Sungguh, ternyata dalam pelajaran yang saya terima itu, tidak ada Celeng Sarenggi atau Sedana.
Semua bergantung dari pengolahan tanah, pemilihan bibit, penga iran, dan hal-hal semacam itu. Tapi, tidak ada Celeng Sarenggi dan Sedana. Lagi pula, bukankah kalian adalah orang-orang yang beragama. Jangan menjadi musyrik dan menyekutukan Tuhan dengan percaya pada cangkang itu,” lanjutnya berapi-api. Karena hanya pemuda itu di kampung yang pernah kuliah dan dianggap paling pintar, orang-orang percaya dengan ucapan pemuda tersebut. Orang-orang pun akhirnya menyetujui juga ketika pemuda itu hendak
memecahkan cangkang. Beberapa orang tua –termasuk Bayan– yang awalnya tidak setuju akhirnya juga tidak menolak ketika pemuda itu menuduh mereka musyrik bila terus-terusan memercayai cangkang.
”Tidak akan masuk surga mereka yang musyrik!” tegas sang pemuda.

”Lihatlah! Lihatlah! Tidak ada apa-apa dalam cangkang ini. Kosong. Tidak ada apa-apa. Tidak ada Celeng hitam besar bertaring panjang dan tajam dalam cangkang ini.
Kosong! Benar-benar kosong!” seru pemuda itu setelah0 memecahkan cangkang itu dengan palu besar di hadapan orang-orang.

”Jangan percaya lagi dengan hal-hal tidak masuk akal seperti bualan tentang cangkang itu. Akan kuajari kalian cara menanam padi yang baik hingga hasil panen kalian bisa berlipat-lipat jumlahnya,” pungkas pemuda itu.
***
Pemuda itu pergi pada suatu pagi. Kepada Bayan, kakeknya itu, dia berkata, ”Saya akan kembali ke kampus.
Menanyakan masalah ini kepada dosen saya dulu.” Bayan itu tidak melarang. Bayan itu hanya tepekur sedih. Sama sedihnya dengan orang-orang kampung yang lain.

Orang-orang kampung yang sudah mengikuti semua yang diajarkan pemuda sarjana pertanian itu dalam menanam padi. Namun, tetap saja padi-padi tersebut tidak bisa dipanen. Padi-padi itu memang tumbuh dengan bagus pada awalnya. Namun, selalu rusak beberapa hari sebelum dipanen. Pemuda itu tidak mengerti apa yang salah dengan teori yang didapatnya semasa kuliah dahulu. Orang-orang kampung kemudian menyesal telah setuju untuk memecah cangkang itu. (*)

Bus Khitan Masal Masuk Jurang

Tiga Orang Tewas, Belasan Luka

GUNUNGKIDUL-  Kecelakaan tragis terjadi di Dusun Bundelan, Tancep, Ngawen, Gunungkidul, Jogjakarta. Sebuah bus yang ditumpangi rombongan peserta khitanan masal masuk jurang sekitar pukul 10.00 kemarin (2/7). Hingga berita ini diturunkan, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka serius.

Diduga, kecelakaan tunggal itu disebabkan oleh persneling bus yang los dan sopir yang kurang menguasai medan. Sebelum terjadi kecelakaan, bus Antar Anda bernopol AB 7043 CD tersebut melaju dari arah Cawas, Klaten, menuju Wonosari. Sesampainya di lokasi kejadian, lantaran jalan menanjak, sopir bermaksud memindah gigi supaya bus mampu menaiki tanjakan. Tetapi, sebelum sopir berhasil memindah ke gigi yang lebih kecil, bus meluncur mundur ke dalam jurang dengan kedalaman kurang lebih 55 meter.

“Bus tidak mampu melewati tanjakan dan tiba-tiba terperosok ke dalam jurang. Untung saja, bus tidak menimpa rumah warga yang berada di bawah tebing ini,” ucap Kasyati, salah seorang saksi mata.
Kasatlantas Polres Gunungkidul AKP Suryo Hutomo menyatakan, korban meninggal dunia di lokasi berjumlah satu orang. Dua korban lain meninggal dalam perjalanan ke RS Islam Cawas, Klaten. Korban luka berat juga dibawa di RS Islam Cawas, sedangkan penderita luka ringan dibawa ke Puskesmas Ngawen.
“Data sementara, ada tiga orang yang meninggal. Tidak tertutup kemungkinan korban meninggal bertambah karena ada beberapa penumpang yang mengalami luka cukup parah,”kata Suryo saat menjenguk korban di RSI Cawas kemarin.

“Diduga kuat, kecelakaan itu disebabkan sopir yang belum menguasai medan. Saat ini, sopir bus bernama Sugeng alias Kipli masih dalam pengejaran petugas. Sebab, saat mengetahui ada penumpangnya yang meninggal, dia langsung melarikan diri,” sambungnya.
Korban meninggal adalah Satimin (40), Deni Cahyono (14), dan Sugeng, 50. Ketiganya warga Tegalrejo, Gedangsari, Ngawen. (dit/jpnn/c6/nw/jpnn)