Home Blog Page 15253

Tempat Hiburan Terbakar

DOLOKSANGGUL- Tempat hiburan Casanova Pub milik R Manullang (40)  di Jalan lintas menuju Desa Matiti, Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Hum bang Hasundutan, Senin (17/5) dini hari, sekitar pukul 05.00 WIB ludes terbakar.
Sesaat sebelum api menyulut seluruh bagunan permanen tersebut, karyawan Cassanova Pub diketahui masih tertidur pulas. Sehingga, sejumlah karyawati di tempat hiburan itu mengaku baru mengetahui terjadinya kebakaran saat lidah api mulai membesar.

“Kami baru tahu kebakaran tadi setelah kami merasa kepanasan. Sehingga kami berhamburan lari lewat pintu belakang. Saat itu, kami semua masih tidur,” ungkap salah seorang karyawan Cassanova Pub yang enggan disebutkan identitasnya, kepada sejumlah wartawan, pasca peristiwa tersebut.

Sementara itu, salah seorang warga sekitar, Liap Manullang mengatakan, titik api bermula dari bagunan dinding papan bagian depan bangunan tersebut. Sehingga, api dengan mudah merambat ke bagian belakang Pub.
Pemilik Cassanova Pub, R Manullang berharap, aparat kepolisian menyelidiki penyebab peristiwa ini. “Saya tidak mencurigai seseorang. Tapi, saya berharap polisi dapat mengungkap penyebab peristiwa ini,” katanya.(hsl/smg)

Jalan Sepi, Stasiun Ramai

Kota Medan Kala Libur Panjang Waisak

Kota Medan identik dengan dengan kemacetan, apalagi di jam sibuk. Kesemrawutan lalu lintas pun bukan barang baru lagi. Lalu, bagaimana dengan cuti bersama yang ditetapkan Pemerintah Pusat? Adakah pengaruhnya dengan lalu lintas Medan?

Jawabnya, pada perayaan Waisak, Selasa (17/5) kemarin, jalanan di Kota Medan sangat lengang. Ditengarai, selain ada kebijakan cuti bersama, turunnya hujan juga menjadi penyebab malasnya warga untuk keluar. “Lebih enak ngumpul dengan keluarga. Mau keluar malas, hujan terus,” aku Noli (31) seorang warga Jalan Karya Bakti, Pangkalan Masyur, Medan.

Tampaknya, apa yang diungkapkan Noli tak berbeda dengan warga Medan lainnya. Buktinya beberapa jalan protokol sepi seperti di Jalan Pandu, Jalan Bridjen Katamso, Jalan Ir Juanda, Jalan Setia Budi, Jalan Dr Mansyur dan lainnya. Menariknya, Jalan Jamin Ginting, hingga pukul 18.00 WIB, lalu lintas ini belum terlihat macet, bahkan kendaraan bermotor juga tidak terlalu padat. Padahal, kemarin merupakan puncak arus balik dari daerah wisata Berastagi menuju Kota Medan.

Berbeda dengan jalanan, stasiun kereta api malah padat. Ya, cuti bersama ini tampaknya tak mau disia-siakan warga untuk liburan. Terlihat di hari terakhir libur, Stasiun Kereta Medan dipadati penumpang dari berbagai daerah yang liburan ke Medan.

Malah, menurut pihak PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), volume penumpang di Stasiun Kereta Api naik 20 persen daripada hari biasanya. Sehingga, PT KAI menambah 2 lokomotif untuk mengatasi lonjakan arus penumpang tersebut. Tercatat hingga pukul 16.00 WIB, Selasa (17/5)  sebanyak 13.122 penumpang berangkat dari Stasiun Kerata Api Medan. Diperkira volume penumpang terus bertambah hingga keberangkatan kereta api terakhir pada pukul 22.00 WIB malam ini.

Penumpang berangkat dengan menggunakan Kereta Api kebanyakkan dengan tujuan Medan-Kisaran dan Medan-Tajung Balai. “Puncaknya hari ini (kemarin, Red) karena besok (hari ini, Red) sudah mulai aktivitas kantoran,” kata Manajer Humas PT KAI Sumut & NAD Irwan.

Sementara itu, kawasan yang terlihat ramai lainnya adalah areal yang memiliki rumah ibadah seperti Jalan Imam Bonjol yang terlihat padat walau tidak menyebabkan macet. Hal ini disebabkan ada vihara yang terletak di daerah tersebut.  Persis dengan kawasan Imam Bonjol, suasana di Kapel Maria Annai Velangkanni, Tanjung Selamat, Medan Sunggal malah ramai. Feby Cristin (21), mengatakan, dia datang ke Kapel Maria Annai Velangkanni sehubungan dengan hari libur. “Sehabis berdoa, saya foto-foto dulu, Bang, karena gaya bangunannya unik. Memang tempat ini untuk beribadah Nasrani khususnya Katolik, tapi kalau untuk berdoa di lantai II-nya Bang,” tukas wanita berambut panjang dan menggunakan baju putih ini.

Hal senada juga diucapkan Ellfrita Situmorang (30). Diakui wanita berambut panjang ini, Kapel Maria Annai Velangkanni ini merupakan rumah ibadah Kristen Katolik tetapi tidak tertutup bagi yang lain untuk beribadah dan berdoa ke tempat ini. “Tempat ini memang khusus untuk berdoa dan Abang sendiri sudah lihat kan banyak yang datang ke tempat ini. Habis berdoa, mereka berfoto-foto termasuk saya karena bangunan ini bergaya India gitu Bang,” tukasnya. Pantuan Sumut Pos, para pengunjung ada juga yang membawa air suci untuk diminum dan dibawa pulang.

Lalu, bagaimana dengan pusat perbelanjaan di Medan, adakah pengaruhnya dengan cuti bersama? Ternyata, libur panjang sejak Sabtu hingga Selasa kemarin tidak banyak berdampak terhadap plaza yang ada di kota Medan. Hal ini dapat dilihat di dua plaza di Kota Medan, Sun Plaza dan Plaza Medan Fair.

Humas Sun Plaza, Ang Fu Sen mengatakan bahwa selama liburan ini pengunjung plaza tetap stabil, hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah parkiran yang terdata dari pihak Sun. Hal senda juga dikatakan Promotion Officer Plaza Medan Fair, Tri Wahyudi. Malah, dia mengatakan ada sedikit penambahan. “Mungkin ada penambahan sekitar 20 persen,” ujar Yudi. (mag-9/mag-7/jon)

Berkerumun di Kebun Binatang

Hujan mengguyur ternyata tak mengurungkan keinginan masyarakat untuk menikmati hari libur panjang. Tempat-tempat wisata dan rekreasi pun memperlihatkan kerumunan.

Seperti pantauan Sumut Pos di Kebun Binatang Medan (KBM) di Jalan Bunga Rampai IV Kelurahan Simalingkar B, Medan Tuntungan.

Siang mulai pukul 12.00 WIB, pengunjung mulai berdatangan. Seolah redanya hujan yang turun sejak pagi sudah dinantinantikan. Koridor yang mengelilingi kebun binatang itupun mulai dilalui pengunjung yang ingin mengelilingi KBM. Begitu juga dengan halaman rumput yang kian dipenuhi pengunjung dengan beralaskan tikar yang dapat disewa dengan harga yang cukup terjangkau.

Pada umumnya mereka adalah pengunjung yang datang bersama anggota keluarga. Sembari bersantap dibarengi dengan canda riang dari masing-masing anggota. “Ini kan hari terakhir liburan, sementara besok sudah masuk kerja lagi,” ucap salah seorang pengunjung, Edward (41) warga Pancur Batu yang datang bersama istri, tiga anak, dan beberapa anggota keluarga.

Edward mengaku memilih KBM sebagai ajang liburan sekaligus sebagai wadah edukasi bagi ketiga anaknya. Sembari mengajak berkeliling, Edward turut memberi penjelasan mengenai nama-nama satwa yang ada. Meskipun beberapa kali dirinya dibuat pusing dengan pertanyaan sang anak yang terlihat aktif. Dan, Edward terlihat begitu senang dengan kenyataan tadi.

Demikian halnya dengan Rahmad (32) yang sering memanfaatkan KBM untuk acara kumpul sembari liburan bersama keluarga. Selain tidak memerlukan waktu lama, juga lebih efisien dari sisi pendanaan. “Sebagai pegawai biasa kan tidak mungkin saya bisa bawa keluarga refreshing dengan fasilitas mewah. Lagi pula fasilitas di sini juga sudah lebih baik kok,” akunya.

Ucapan Rahmad tidak berlebihan, terlihat rambu jalan di beberapa bagian koridor tertata baik. Begitu juga masing-masing kandang yang dilengkapi dengan nama dan jenis satwa dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa latin. Tak lupa fasilitas permainan turut mengalami penambahan. Seperti Flying Fox yang kini berjumlah tiga unit. Dua di antaranya terdapat di halaman tengah sementara baru dibuka satu unit di bagian belakang. Flying Fox ini merupakan permainan yang paling diminati pengunjung. Bahkan menjadi langganan kegiatan outbond masyarakat.
“Ke depan rencananya akan dibuat juga wahana untuk paintball, danau buatan, dan pentas hiburan,” ucap staf Humas KBM, Rudianto Sembiring kepada Sumut Pos.

KBM lanjutnya juga mengalami penambahan pada satwa dimana saat ini tercatat 165 satwa dalam tiga spesies yaitu reptil, mamalia, dan unggas. Salah satunya adalah Kucing Emas yang sudah menjadi penghuni KBM sejak tiga bulan lalu. Kucing Emas ini diletakkan di sebelang kandang ular di sebelah selatan. “Kucing Emas tadi merupakan sitaan dari BKSDA,” tambahnya. (jul)

Bantah Selingkuhi Pacar Teman

Shannon Brown

LOS ANGELES – Sejak tersingkir di babak playoff NBA, rumor tak sedap muncul terus di kubu Los Angeles Lakers. Terakhir, Shannon Brown dikabarkan telah selingkuh dengan pacar Pau Gasol.

Ya, musim ini sepertinya bukan milik Lakers. Bagaimana tidak, secara memalukan skuad besutan Phil Jackson ini dihabisi Dallas Mavericks pada babak semifinal Wilayah Barat dengan skor 4-0, sekaligus meraih tiket ke babak final Wilayah Barat.

Praktis, kekalahan itu membuat muncul sebuah rumor yang tidak sedap. Pertama, pergantian posisi pelatih Jackson. Kedua, rumor di luar lapangan yang terjadi pada kubu Lakers. Hubungan Gasol dengan sang pacar Silvia Lopez Castro yang dikabarkan sudah kandas di tengah jalan.

Kabarnya, hubungan itu kandas setelah Silvia Lopez dikabarkan berselingkuh dengan Shanon Brown, rekan setim Gasol di Lakers. Tentu, hal ini yang menganggu performa center asal Spanyol itu selama babak playoff NBA. Hasilnya Lakers kalah. Tapi Brown tidak suka dengan pemberitaan itu, Forward Lakers ini membantah telah selingkuh dengan Silvia Lopez. “Oke, biar saya akhiri rumor ini sekarang juga sebelum melebar. Saya tidak tidur dengan pacar @paugasol. Ini pertama dan terakhir saya mengatakannya,” aku Brown dalam akun twitternya, Senin (16/5).

Brown kemudian mempertegas masalah ini. “Bahkan, saya tidak pernah berjumpa dengan pacarnya gasol,” tandasnya.(net/jpnn)

Dibekuk Korbannya Sendiri

Curanmor

Pencuri sepeda motor dibekuk korbannya sendiri saat menjalankan aksinya. Akibatnya, si pelaku babak belur dan harus berurusan dengan aparat kepolisian.

Nasib naas ini dialami Muhammad Ridho (21) warga Jalan Sukasari, Kecamatan Medan Tembung, Senin (16/5) malam lalu. Saat itu, Ridho melintas di Jalan Beringin, Pasar VII, Percut Sei Tuan, tepatnya di depan rumah Iswandi (30).

Tanpa sengaja, dia melihat sepeda motor milik Iswandi dalam keadaan mesin menyala. Mendapat peluang emas tersebut, Ridho pun tak menyia-nyiakannya.

Dia mendekati sepeda motor tersebut dan langsung menaikinya. Namun belum lagi sempat menarik gas, tiba-tiba Iswandi muncul dan menangkapnya sambil berteriak maling. Mendengar teriakan Iswandi, warga sekitar berdatangan dan langsung menghadiahi Ridho dengan pukulan. Selanjutnya warga menghubungi polisi dan menyerahkan Ridho ke penegak hukum agar diberikan hukuman setimpal atas perbuatannya.

“Saya tidak tahu kalau aksi saya dilihat korban. Pas saya menaiki sepeda motor itu, korban langsung menangkap saya,” jelas Ridho kepada petugas di Mapolsekta Percut Sei Tuan.(jon)

Kadishub Medan Terancam Dicopot

MEDAN- Dinilai kurang maksimal dalam menjalankan kinerjanya, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Medan Syarif Armansyah Lubis alias Bob terancam dicopot. Selain Syarif, ada tiga pejabat lainnya yang bakal dicopot yakni Kepala Badan Ketahanan Panganan (BKP) Pemko Medan Eka Rezeki YD, Assisten Umum Pemko Medan Sulaiman dan Pelaksana Tugas Kepala Bagian (Plt Kabag) Humas Pemko Medan Khairul Bukhori.

“Kabarnya seperti itu. Kita lihat saja nanti, tiga minggu sampai satu bulan ke depan,” ungkap sumber di Pemko Medan kepada Sumut Pos, beberapa hari lalu. Sementara itu, seorang dari empat pejabat yang masuk nominasi akan diganti tersebut yang enggan ditulis namanya saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut mengaku pasrah. Dikatakannya mutasi, pergantian atau apa pun namanya adalah hak prerogratif Wali Kota Medan Rahudman Harahap.

“Kita inikan bawahan. Semua keputusan ada di tangan wali kota. Kalau memang saya diberhentikan, saya terima. Karena itu keputusan pimpinan,” ungkapnya.

Saat kabar mutasi empat pejabat Pemko Medan tersebut ditanyakan kepada Wakil Wali Kota Medan T Dzulmi Eldin yang ditemui Sumut Pos di sela-sela acara Youth and Bikers DPD KNPI Kota Medan di Tapian Daya Medan, Jalan Gatot Subroto Medan, Selasa (17/5) mengaku tidak tahu serta menanggapinya dengan santai. “Saya belum tahu itu. Benar ya memang bakal ada pergantian,” jawabnya sembari tersenyum dan tertawa.(ari)

Jangan Membodohi dengan Label SBI

Sekolah negeri maupun swasta baik tingkat SD, SMP hingga SMA Sederajat banyak yang mengaku Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Berdasarkan data dari Disdik Sumut, hingga saat ini belum satu pun sekolah yang memiliki predikatn tersebut. Lantas apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal ini? Berikut wawancara wartawan koran ini Rahmat Sazaly dengan Pengamat Pendidikan Prof Selamat Triono Ahmad, Selasa (17/5).

Menurut Anda apa yang membuat sekolah mengaku bertaraf internasional?
Di Sumut tak sedikit sekolah yang mengaku SBI, mereka meyakinkan masyrakat dengan mengadopsi kurikulum dari luar negeri dan menghadirkan guru yang keynote speaker atau penutur asli dari luar negeri.

Apa tanggapan dengan hal itu?

Saya meminta agar sekolah yang mengaku mengelola sekolah seperti ini harus jujur kepada masyarakat, jangan hanya mengedepankan satu promosi institusi pendidikan saja. Masyarakat harus tahu, mana sekolah yang bertaraf internasional dan mana yang tidak. Jika termakan promosi, mereka bisa kecewa.

Biasanya sekolah yang mengklaim diri sebagai SBI biasanya hanya untuk mempromosikan diri. Namun, masalah mutu belum tentu baik meski dikenakan biaya pendidikan yang tinggi.

Pemerintah juga akan menertibkan institusi pendidikan berlabel SBI ini. Kebijakan ini untuk melindungi anak didik dalam bidang pendidikan menyusul diterbitkannya PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Bukankah SBI merupakan satu program peningkatan mutu pendidikan?
Memang, salah satu program peningkatan mutu pendidikan adalah menciptakan SBI. Namun, untuk menuju hal tersebut, di Sumut saat ini sudah menerapkan institusi pendidikan dengan preddikat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).
Dari data yang ada tercatat 22 sekolah semacam ini yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Sumut. 22 sekolah tersebut terdiri dari sekolah negeri maupun swasta yang memenuhi syarat, baik sarana, metode pembelajaran hingga mutu pendidiknya.

Apakah ada efek bagi siswa yang bersekolah di SBI ini?
Secara psikologi dan berdasarkan penelitian menunjukkan sebagian besar pelajar SBI memiliki aspek kognitif ke-Indonesiaan yang sangat rendah.

SBI tak mendorong tumbuhnya identitas sebagai orang Indonesia, akibatnya membentuk ketimpangan pendidikan antara mereka dari keluarga kaya dan keluarga miskin.

SBI maupun kelas internasional yang bermunculan sekarang merupakan tempat pendidikan yang tak nasionalis dan lebih menjurus pada korporasi atau komersialisasi pendidikan.

Dengan label Internasional, menurut Anda bukan satu penipuan?
Bukan penipuan, tapi melakukan pembodohan dengan mengklaim dirinya dengan label dan kualitas Internasional. Untuk pendirian SBI, harus melalui berbagai proses dan memenuhi kriteria. Meski pada proses berjalannya sekolah itu bisa saja mengalami penurunan, karena itu akreditasi sangat diperlukan.

Dengan adanya label Internasional diyakini peminatnya akan banyak. Namun mestinya dalam proses pengawasan, seharusnya dapat dibuktikan apakah sekolah tersebut benar berstatus sekolah berstandar Internasional atau tidak.
SBI bukanlah satu institusi pendidikan yang bertujuan meningkatkan status predikat dengan gengsi yang tinggi. Tapi, SBI juga harus mampu menjadi institusi pendidikan di tanah air yang berbasis Internasional. Bahkan bila perlu siswa luar negeri bisa sekolah di sekolah yang menerapkan strandar nasional. (*)

Proyek Drainase Rugikan Negara Rp2,4 M

Poldasu Segera Tetapkan Tersangka Korupsi di Bina Marga Medan

MEDAN- Hasil penyelidikan kasus dugaan korupsi di Dinas Bina Marga Medan dengan pagu P-APBD 2009 sebesar Rp38,8 miliar sudah menemukan titik terang. Pasalnya, hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang sudah setahun ditunggu mengungkapkan, kerugian negara total Rp2,4 Miliar atas proyek Drainase Dinas Bina Marga.

Modus dugaan korupsinya dengan memecah proyek miliaran rupiah menjadi paket kecil untuk menghindari tender. “Hasil audit dari BPKP sudah keluar, untuk  kerugian negaranya mencapai Rp2,4 miliar,” ujar Kabid Humas Poldasu, AKBP Raden Heru Prakoso, Selasa (17/5).

Dijelaskan Heru, kasus yang ditangani Satuan III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Dit Reskrimsus Polda Sumut sudah meningkatkan penyelidikannya untuk mendudukkan tersangkanya. “Dalam kasus korupsi pasti ada pelapor dan terlapor. Sampai saat ini kita masih mendalami penyelidikan terhadap terlapor,” ucapnya.

Saat disinggung dengan keluarnya hasil audit dari BPKP yang sudah dapat membuktikan kerugian negara, dan Poldasu sudah bisa menetapkan tersangkanya harus tanpa mendalami penyelidikannya. “Untuk menetapkan tersangka, kita masih mendalami penyelidikannya dengan mencari bukti lain yang dapat menjerat tersangkanya. Poldasu tidak main-main dengan kasus dugaan korupsi ini,” ungkap Heru.

Sebelumnya, untuk mengungkap kasus dugaan korupsi Dinas Bina Marga Medan senilai Rp39 miliar dari P-APBD 2009. Polda Sumut terpaksa menyita barang bukti dokumen dari sembilan perusahaan (rekanan) terkait pelaksanaan proyek. Sebab diketahui, proyek tersebut dibagi menjadi 495 paket yang terletak di 21 kecamatan dengan pagu sebesar Rp38.810.760.150 atau bila dibulatkan menjadi Rp38,8 miliar. Penyidik juga telah mengumpulkan sejumlah dokumen seperti fotokopi surat perjanjian kontrak, surat pengangkatan KPA (Kuasa Pengguna Anggaran, Red), PPTK (Pejabat Pembuat Teknis Kegiatan, Red), dan Panitia Pengadaan Barang dan Jasa.

Dalam pengerjaan proyek yang dilakukan secara penunjukan langsung (PL), penyidik menemukan adanya keterlibatan sembilan perusahaan dalam pengerjaan proyek tersebut. Kesembilannya adalah, CV Rahmat Abadi, CV Mustika Cemerlang, CV Rifki Faldo Abadi, CV Surya Gemilang, CV Mitra Anugrah, CV Rahmat, CV Wiraspati Kencana, CV Sumber Rezeki dan UD Perdana.

Tujuh terperiksa yang telah diwawancarai secara tertulis oleh penyidik adalah Dr Ir Gindo Maraganti Hasibuan, MM selaku Kadis Bina Marga (sekarang mantan, Red), Ahmad Buhari Siregar ST selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Ir Utuh Januar Sitompul, Mardian Habibi Gultom ST, Suwito, Gindo Purba, ketiganya selaku pejabat pembuat teknis kegiatan (PPTK), dan Eddy Zalman Saputra ST MT selaku Ketua Panitia Pemilihan Langsung (PL).

Dengan titik terang ini, penetapan tersangka segera dilakukan. Namun siapa yang bakal dijadikan tersangka, tak ada satupun pejabat di Polda yang mau menyebutkannya. Namun sumber wartawan koran ini mengatakan, penyidik fokus kepada pejabat yang paling tinggi di dinas tersebut. “Hasil audit kasus dugaan korupsi Dinas Bina Marga Medan sudah dikeluarkan pihak BPKP. Karena itu, dalam waktu dekat, penyidik akan menetapkan tersangkanya,” tambahnya. (adl)

DPRD Sumut Harus Bawa Hasil

Sengketa Tanah Sari Rejo

MEDAN- Niatan Komisi A DPRD Sumut memperjuangkan tanah Sari Rejo ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu), disambut antusias oleh masyarakat. Mereka berharap, upaya yang dilakukan para wakil rakyat tersebut membuahkan hasil.

“Kami tidak ingin terus bersengketa. Ini tanah kami, dan kami sudah lama tinggal di sini. Jadi, yang kami harapkan hanya satu yaitu sertifikat tanah. Selama ini, tidak ada perkembangan signifikan atas sengketa yang telah terjadi puluhan tahun ini. Maka dari itu, kami mengharapkan kunjungan para wakil rakyat itu bisa membuahkan hasil dan memberi kebahagiaan kepada kami secepatnya,” ungkap Maya, seorang warga Jalan Antariksa Kelurahan Karang Sari Kecamatan Medan Polonia kepada Sumut Pos, Selasa (17/5).

Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Sari Rejo Riwayat Pakpahan juga menuturkan hal senada. Riwayat juga mengungkapkan jauh hari sebelum anggota Komisi A DPRD Sumut berniat menemui pihak Kementerian Keuangan RI, pihak Formas juga pernah bertemu dengan pihak Kemenkeu pada 28 September 2009 lalu, yang diawali dengan surat Formas ke Kemenkeu No.089/Formas/2009 Tanggal 6 Januari 2009.

“Kami sudah pernah berkunjung secara langsung ke Kemenkeu. Jadi, kami harapkan pertemuan Komisi A DPRD Sumut ini nantinya ada hasil yang diperoleh. Jangan hanya cerita saja. Dan bila perlu, Komisi A DPRD Sumut juga ke Sari Rejo. Biar dijelaskannya semua. Benar apa yang dikatakan anggota Komisi A DPRD Sumut itu, dimana semua sengketa tanah di Indonesia kalau sudah ada korban baru terselesaikan. Apa persoalan Sari Rejo ini nunggu ada korban baru bisa diselesaikan?” tegasnya.

Dijelaskannya, Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Pangkalan Udara Medan atas Tanah Sari Rejo sebenarnya telah dicabut pada 8 September 1982 oleh pihak Kemendagri melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) Agraria atas nama Abdur Rahman S.

“Sertifikat TNI AU No. 1 Tanggal 13 Juni 1997 seluas 35,52 Ha dan Sertifikat No 2 Tanggal 25 Juni Tahun 1997 seluas 267,53 Ha tidak menyangkut area pemukiman warga seluas 260 Ha. Jadi, kami yakin area yang kami tempati ini bukan aset TNI AU. Jadi ini adalah tanah kami, bukan milik TNI AU. Karena tanah seluas 260 Ha ini tidak ada sertifikatnya. Jadi, benar lah ini tanah kami dan layak kami mendapatkan sertifikat atas hak kami,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Riwayat juga menegaskan, SKPT yang dimiliki TNI AU yang ditandatangani Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Medan atas nama Husnan Situmorang No.630:2518/PKN/1993 Tanggal 26 Maret 1993 bukan lah bukti kepemilikan. “SKPT itu bukan bukti kepemilikan,” tandasnya lagi.(ari)

Bikers Anti Geng Motor

Guyuran hujan tak menyurutkan semangat 82 peserta kontes modifikasi sepeda motor dalam ajang Youth and Expo 2011 yang digelar DPD KNPI Kota Medan di Tapian Daya, Jalan Gatot Subroto
Medan, Selasa (17/5).

Ke-82 peserta yang berasal dari 30 komunitas bikers se Kota Medan tersebut, akan memperebutkan Piala DPD KNPI Kota Medan dalam dua kelas yang diperlombakan yakni, Kelas Harian dan Kelas Modifikasi.

Beberapa komunitas yang memeriahkan perhelatan tersebut antara lain, MAC, VOC, Rafi Motor, M37, Graha Motorn Xmac serta puluhan komunitas lainnya. Acara yang berlangsung hanya satu hari itu, dibuka Wakil Wali Kota Medan T Dzulmi Eldin dan dimeriahkan dengan beberapa hiburan lainnya yakni, seksi dancer dan peragaan model.
Sebelumnya, pada pembukaan gelaran tersebut, Ketua Panitia acara tersebut Nasrullah menyatakan, keberadaan komunitas motor yang mengikuti acara tersebut bukanlah geng motor yang meresahkan warga dan masyarakat. Tapi, sebuah komunitas yang baik dan selalu bersikap positif dengan jalan menyalurkan bakat dan minat mereka pada even-even resmi yang mengangkat nama komunitas bikers itu sendiri.

“Para bikers bukanlah geng motor. Bikers yang ada di Medan ini malah anti dengan geng motor,” ungkapnya.
Sementara, Wakil Wali Kota Medan Dzulmi Eldin yang hadir mewakili Wali Kota Medan Rahudman Harahap menyatakan, dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, even-even seperti itu menjadi sarana dan prasarana untuk memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat, khususnya dalam bidang otomotif dan kedisiplinan dalam berlalu lintas.
“Even-even seperti ini merupakan even yang harus terus diapresiasi dan dipacu, untuk memberi pendidikan kepada masyarakat,” katanya.(ari)

Ongkos Berharap dari Uang Scanning

Hari Ini, Bayi Hydrocephalus Dibawa Pulang

MEDAN- Kedua orangtua Destia, bayi penderita hydrocephalus, Sohiruddin (34) dan Siti Aminah (27) sangat berharap Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan secepatnya mengembalikan uang scanning yang dijanjikan. Pasalnya, mereka sudah tak punya biaya lagi untuk membawa pulang anaknya ke Tanjung Ale, Kecamatan Huta Raja Tinggi, Kabupaten Padang Lawas.

“Untuk ongkos pulang, kami berharap dari uang scanningn yang dijanjikan pihak RSU Pirngadi Medan. Kami berharap, uang tersebut dikembalikan utuh, karena kami tak punya uang lagi,” ungkap Siti Aminah yang ditemani suaminya kepada wartawan Sumut Pos, saat ditemui di Lantai IV Ruang Bedah Anak RSU Pirngadi Medan, Selasa (17/5).

Dijelaskannya, biaya transpotasi kerumahnya menelan biaya Rp120 ribu per orang. Berarti dua orang sudah kena biaya Rp240 ribu. Sementara untuk biaya makan selama menjaga dan merawat Destia, mereka sudah tak punya uang lagi. “Selama menjaga dan merawat Destia di rumah sakit ini, kami hanya makan sekali hingga dua kali dalam sehari. Kami sudah tak punya uang lagi, makanya besok (hari ini, Red) kami akan pulang. Apalagi saya sudah beberapa hari tidak masuk kerja. Lebih cepat pulang lebih baik,” ungkap ayah Destia, Sohiruddin.

Lalu, bagaimana dengan perawatan Destia? “Nanti bawa berobat jalan sajalah. Kalau dibawa ke rumah sakit juga percuma dan mengecewakan saja. Kami hanya orang miskin, saya sangat berharap anak saya sembuh. Tapi setelah mendengar keterangan pihak rumah sakit, saya pasrah saja,” ujar Sohiruddin dengan nada sedih.

Sementara, Destia tidur lelap dengan posisi kepala yang sudah tidak seimbang dengan badan. Tangan dan kaki bayi ini sudah mulai mengecil akibat cairan yang ada di kepala bayi tersebut. Dengan penyakit yang dialaminya saat ini membuat Destia susah tidur malam, sehingga pada siang harinya baru bisa tertidur.

Sang ibu, Siti Aminah menceritakan, hydrochepalus dialami anaknya saat usia satu bulan. Bayi yang dilahirkan secara normal itu sempat mengalami kecelakaan di saat masih dalam kandungan delapan bulan. “Saat usia kandungan saya delapan bulan memang saya pernah jatuh dari jembatan dengan ketinggian empat meter dengan posisi terduduk. Tapi setelah itu saya langsung periksakan janin saya ke bidan, katanya nggak ada masalah sama kandungan saya,” terangnya.

Destia yang terlahir saat usia kandungan ibunya sepuluh bulan itu, tidak menampakkan keanehan, hanya saja bagian kaki kirinya yang mengalami cacat akibat kecelakaan yang pernah dialami Aminah.

Namun seiring berjalannya waktu, memasuki usia satu bulan kedua orangtua Destia melihat keanehan yang dilami anak bungsu dari dua bersadudara itu. “Kepalanya semakin lama semakin membesar, bahkn dia sering merengek saat malam hari,” ungkap Aminah.

Karena khawatir dengan kondisi putrinya, Aminah lantas membawa anaknya berobat ke RSU Siburuan yang tak jauh dari kediaman mereka. Namun karena keterbatasan alat selanjutnya Destia harus di rujuk ke RSUD dr Pirngadi Medan untuk menjalani operasi bedah pengangkatan cairan yang ada di kepala sang bocah.(mag-7)