Home Blog Page 15262

Rencanakan Serang Polri

Tiga Tewas Baku Tembak di Sukoharjo

SUKOHARJO-Polisi menggerebek terduga teroris di Kampung Dukuh, Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, Sabtu (14/5) dini hari. Tiga orang tewas setelah terjadi baku tembak. 2 orang terduga teroris dan 1 orang pedagang. 2 orang terduga teroris, Sigit Qurdowi dan Hendro. Sedangkan korban warga sipil, Nur Iman, yang sehari-hari berjualan hik (makanan khas Solo).

Menurut polisi, keduanya melakukan perlawanan dengan melepaskan tembakan saat hendak ditangkap. Sigit yang menjadi Amir Tim Hisbah diduga kuat tengah merencanakan penyerangan kepada pihak kepolisiann
“Mereka merencanakan pembalasan terhadap Polri pada bulan Mei 2011,” kata Kabag Penum Mabes Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar dalam siaran pers, Sabtu (14/5).

Tim Densus 88 menembak mati keduanya dalam penggerebekan di Jalan Pelajar Pejuang, Cemani Sukoharjo, sekitar pukul 01.15 WIB. Keduanya ditengarai terlibat sejumlah aksi teror. “Catatan keterlibatan 2 orang pelaku tersebut merupakan DPO bom gereja dan Mapolsek Pasar Kliwon pada bulan Desember 2010 dan juga terlibat jaringan terorisme di Cirebon,” terang Boy.

Polisi menyita sejumlah barang bukti dari 2 pelaku yang tewas itu. 2 Pucuk senjata api FN, 1 pucuk senjata api Baretta, 1 buah granat manggis, dan sekitar 100 butir peluru senjata api FN.

Kadiv Humas Polda Metro Jaya, Brigjen Polisi Anton Bahrul Alam dalam keterangan pers di Mabes Polri menambahkan, keduanya juga ditengarai berkaitan dengan 4 orang tersangka lain yang sebelumnya ditangkap di Solo yaitu Edi Tri Wiyanto, Hari Budiarto, Ari Budi Santoso dan Arifin Nur Haryono.

“Jadi sekitar pukul 01.00 dua orang pelaku Sigit Qurdowi dan pengawalnya Hendro berboncengan sepeda motor keluar dari rumah daerah Cemani, Sukoharjo. Kedua pelaku ini melihat dua anggota kepolisian,” tutur Anton mengisahkan peristiwa baku tembak polisi dengan Sigit dan Hendro.

Kedua pria itu lalu menyerang anggota polisi menggunakan senjata api yang langsung dibalas polisi. Nur Iman, pedagang angkringan di lokasi kejadian, tewas terkena peluru nyasar.

“Ketika terdengar suara tembakan, masyarakat lalu keluar dan menonton peristiwa tersebut. Sigit Qurdowi yang menyerang anggota kepolisian dengan menembak membabi buta sehingga mengenai Nur Iman,” jelas Anton.
Setelah melumpuhkan keduanya, pihak kepolisian menggeledah rumah Sigit dan Hendro. Dari rumah itu, polisi mengamankan barang bukti berupa 3 pucuk pistol, 1 granat manggis yang masih aktif dan 100 butir amunisi campuran untuk senjata api pendek.

Tiga mayat korban baku tembak dalam penyergapan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Polda Jateng di Cemani, Sukoharjo, kemarin (14/5) diotopsi di RS Bhayangkara. Tiga jenazah tersebut diangkut dengan menggunakan ambulans yang berbeda. Dua jenazah yang diduga jaringan teroris diangkut dengan menggunakan satu ambulans dan satu korban tewas salah sasaran tembak (Nur Iman) dibawa dengan menggunakan ambulans yang berbeda.
Jenazah tiba di RS Bhayangkara kemarin sekitar pukul 12.30 dengan iring-iringan ambulans milik DVI Dokpol RS Bhayangkara Jogjakarta. Tiga mayat itu langsung diotopsi petugas DVI RS Bhayangkara Semarang. Otopsi di RS Bhayangkara dijaga ketat polisi bersenjata lengkap. Wartawan tidak diperbolehkan masuk ke rumah sakit. Setelah menjalani otopsi, tiga mayat itu dilarikan ke rumah duka di Klaten dan Sukoharjo.

Menurut Kabid Humas Polda Jateng, Kombespol Djihartono, otopsi tersebut sengaja dilakukan di Semarang untuk mempermudah koordinasi dengan keluarga Nur Iman maupun dua terduga teroris lainnya. Selain itu, lokasi tewasnya para korban berada di Jawa Tengah.

“Untuk mempermudah koordinasi saja, lagi pula TKP-nya kan ada di Jawa Tengah,” ujar Djihartono kemarin.
Disinggung soal tertembaknya Nur Iman yang diduga salah sasaran, Djihartono memastikan bahwa Nur Iman tertembak bukan oleh peluru anggota kepolisian, melainkan senjata yang ditembakkan para teroris yang disergap.
Sebab, saat disergap, para pelaku terduga teroris tersebut melawan dengan cara menembakkan senjata ke arah petugas secara membabi buta. “Saat para pelaku menembakkan senjatanya ke arah petugas, satu peluru mengenai korban Nur Iman ini dan peluru tersebut mengenai dadanya,” tambah Djihartono.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Edward Aritonang kemarin langsung menggelar jumpa pers soal kematian warga sipil Nur Iman dalam insiden baku tembak antara Densus 88 dan terduga teroris. Dia menegaskan, Iman tewas karena terkena peluru yang ditembakkan secara membabi buta oleh pelaku.

“Peluru yang mengenai Nur Iman, pedagang angkringan, berasal dari tembakan yang dilepaskan oleh tersangka dengan membabi buta. Tidak berasal dari petugas kepolisian,” kata Edward. “Untuk membuktikannya, akan diperiksa secara scientific crime identification melalui pemeriksaan lab (laboratorium, Red) dan sidik jari,” tambahnya.
Kapolda mengatakan, kecil kemungkinan peluru tersebut berasal dari senapan petugas. Sebab, tim Densus 88 dan Polda Jawa Tengah (Jateng) baru melepaskan tembakan setelah ada warga sipil yang terjatuh.

“Dua tersangka yang merasa terdesak langsung mengeluarkan tembakan membabi buta. Ada warga yang keluar untuk melihat dan terkena tembakan. Setelah tahu ada yang jatuh, pemimpin penangkapan menginstruksikan tim melepaskan tembakan untuk melumpuhkan dua tersangka,” imbuhnya.

Jajaran Mabes Polri turut berduka cita atas tewasnya seorang pedagang angkringan, Nur Iman, yang tewas dalam baku tembak antara Densus 88 dan pelaku teror di Sukoharjo. Keluarga Nur Iman akan diberi santunan.
“Kita turut prihatin dan belasungkawa. Insya Allah akan kita beri santunan,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam. Anton enggan membocorkan jumlah santunan yang akan diberikan. “Nominalnya tidak perlu disebutkan,” elaknya.

Menurut dia, Nur Iman tewas ditembak oleh terduga teroris, Sigit Qurdowi. “Iya (bukan ditembak polisi) karena pelaku Sigit Qurdowi yang menembak duluan dan kondisi di sana banyak warga yang menonton,” kata Anton.
Aparat kepolisian juga tidak sempat melakukan sterilisasi lokasi. “Karena dia nembak duluan,” ujarnya. Namun demikian, kata Anton, sesuai prosedur tetap terduga teroris harus dilumpuhkan karena telah mengorbankan sipil.

Komnas HAM Turun Tangan

Komnas HAM Persoalkan Penggerebekan Teroris di Sukoharjo
Penggerebekan terduga teroris yang menewaskan seorang pedagang, Nur Iman, menyedot perhatian Komnas HAM. Komnas HAM akan turun tangan memonitoring prosedur penangkapan dan penindakan teroris.
“Kami akan melakukan monitoring peristiwa operasi Densus 88 yang terjadi beberapa bulan, termasuk penggerebekan yang terakhir di Sukoharjo dan Klaten,” kata Ketua Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ifdhal Kasim, Sabtu (14/5).

Ifdhal mengatakan, Komnas HAM akan mendalami konteks prosedur penindakan, penahanan, dan penangkapan terduga teroris apakah sudah sesuai dengan UU Antiteroris atau seperti apa. Ini akan didalami dan kita akan ke lapangan,” ujarnya.

Menurut dia, penggerebekan di Sukoharjo dan Klaten telah ada proses pengintaian orang yang diduga teroris sebelumnya. “Dalam penangkapan orang yang diduga teroris, kami lihat sebagian operasi ini menyimpangi hukum acara pidana yang mengatur penangkapan. Misal Klaten, dan Sukoharjo menangkap keluarga, istri anak-anak dari terduga teroris,” paparnya.

Ifdhal berpendapat, hal tersebut dari sudut pandang HAM dipertanyakan keperluan dan proporsional ikut mengamankan dan menangkap keluarga, istri bahkan anak-anak terduga teroris.

“Polisi seharusnya mengedepankan nilai HAM apakah anak, istri dan keluarga proporsional diamankan, ditahan untuk mendapat informasi terkait aktivitas suami mereka sebagai pelaku teroris,” kata Ifdhal.
Ifdhal menambahkan penegak hukum juga diberikan pengecualian untuk menggunakan kekerasan seperti penembakan dalam upaya pengamanan dan
mencegah kerugian masyarakat secara lebih luas dari ancaman teroris, misalnya pelaku teroris membawa bom, dan senjata.

“Absah, dibenarkan jika polisi melakukan penembakan atau melumpuhkan teroris ini jika membahayakan keamanan. Jadi tidak bisa dibilang melanggar HAM. Yang menjadi soal adalah yang di luar keperluan itu, apakah proporsional menangkap istri dan anaknya. Ini masih daerah abu-abu yang dipersoalkan dalam perlindungan hak warga negara dari teroris,” kata Ifdhal.
(vj/c11/zal/isk/c6/kum/jpnn)

Gerobak Penuh Darah Ditinggal Polisi

Nur Iman, Korban Salah Sasaran yang Tewas saat Baku Tembak Densus 88 dan Teroris

Baku tembak antara Densus 88 dan dua orang yang terduga teroris dini hari kemarin memakan korban warga sipil. Nur Iman, yang sehari-hari berjualan hik (makanan khas Solo), tewas dalam baku tembak itu. Benarkah dia hanya korban salah sasaran? Bagaimana kesaksian warga di tempat kejadian?

FERI ARDI SUSANTO, Solo

TAK sulit mencari rumah Nur Iman. Lokasinya tak jauh dari TKP (tempat kejadian perkara) baku tembak antara tim Densus 88 dan terduga teroris. Yakni, di Kampung Dukuh, Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Menuju rumah Nur harus melewati gang sempit yang hanya cukup dilalui satu motor. Rumah itu sangat sederhana, kira-kira berukuran 8×10 meter. Di depan rumah tampak gerobak hik bercat biru yang biasa digunakan Nur untuk berjualan. Menurut Muhono, 42, kakak ipar Nur, setiap hari adiknya berjualan hik mulai pukul 17.00.

Ketika Radar Solo (Group Sumut Pos) datang kemarin siang, rumah Nur tak berpenghuni. Di dalam rumah tampak beberapa perabot, seperti kulkas, sebuah televisi, dan seperangkat kursi tamu. Istri dan dua anak Nur tak berada di rumah. Menurut warga, mereka dibawa polisi setelah baku tembak reda.

Nur menikah dengan Waliyem, 37. Mereka dikaruniai dua anak, Rizky, 9, dan Ririn, 3. Menurut Muhono, sebelum berjualan hik, Nur bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik tekstil di Sukoharjo. Selain berjualan hik, Nur bekerja secara serabutan di siang hari. Pekerjaan itu ditekuni pria asal Desa Besole, Kecamatan Wonosari, Klaten, tersebut sejak enam tahun lalu.
“Kalau siang biasanya kerja serabutan. Kadang buruh tukang bangunan, kadang juga ikut tetangga menjual besi rongsokan,” terang Muhono kepada Radar Solo.

Selain dengan istri dan dua buah hatinya, Nur tinggal bersama ibu mertuanya, Ny Harso Mulyono. Bagi keluarga dan warga masyarakat sekitar, Nur dikenal berperilaku baik, rajin, dan aktif dalam kegiatan masyarakat. Karena jiwa sosialnya yang cukup tinggi, dia dipercaya menjadi salah satu pengurus di RT setempat untuk mengurusi bidang penerangan dan perlengkapan.

Tanggung jawab Nur terhadap jabatan ini juga cukup tinggi. Muhono menyebut, setiap kali ada lampu penerangan jalan yang mati di sekitar RT-nya Nur langsung menggantinya. Inilah yang membuat para tetangga begitu kehilangan setelah Nur tewas dalam baku tembak tersebut.

Meski Nur disebut korban salah sasaran, kemarin sempat muncul selentingan kabar bahwa dia dianggap terlibat dalam jaringan organisasi Islam radikal. Terhadap kabar itu, keluarga dan sejumlah warga yang mengenalnya membantah keras.

“Dia (Nur) hanya korban salah sasaran. Nggak mungkin dia terlibat teroris,” kata Tarso Wiyono, 80, paman Nur, kepada Radar Solo.

Pernyataan tersebut dikuatkan salah seorang perempuan yang mengaku pernah mengontrak rumah selama beberapa tahun di sebelah rumah Nur. Menurut wanita warga Telukan, Grogol, Sukoharjo, yang namanya enggan dikorankan itu, Nur tidak pernah terlibat aksi terorisme. “Aku ngerti Nur suwe (saya tahu Nur lama). Wong neng mesjid wae ratau, opo meneh melu organisasi teroris sing koyo ngono. Aku sing dudu apa-apane ratrimo nek Nur dicap teroris (Wong ke masjid saja tak pernah, apalagi ikut organisasi teroris seperti itu. Saya yang bukan apa-apanya tidak terima kalau Nur dicap teroris),” beber wanita tersebut.

Aksi baku tembak antara Densus 88 dan teroris dini hari kemarin membuat warga di Kampung Dukuh, RT 2/RW III, Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, mendadak gempar. Rentetan tembakan terdengar beberapa kali di kawasan tersebut. Sriyono, perangkat Desa Sanggrahan, yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari TKP, sontak bangun dari tidur nyenyaknya saat baku tembak terjadi. Merasa ada sesuatu yang janggal, dia memberanikan diri untuk keluar rumah. Setelah keluar, dia dihampiri dua anggota Densus 88 dari arah selatan yang mengendarai sepeda motor. Aparat Densus itu menyuruhnya masuk rumah kembali.

Setelah situasi dirasa aman, Sriyono beserta belasan tetangganya mulai keluar rumah untuk mengecek situasi sekitar. Sasarannya gerobak hik Nur Iman yang berjarak hanya beberapa meter sebelah selatan TKP. Setelah sampai di lokasi, Sriyono beserta warga lain tidak menemukan sosok Nur. Mereka hanya mendapati gerobak hik yang sudah berlumur darah. Ketika Nur dicari di rumahnya, justru rumah tersebut kosong melompong dan tidak ada penghuninya.

“Kami bahkan belum mengetahui kondisi Nur dan keluarga yang kabarnya dibawa oleh Densus 88, entah ke mana,” kata Sriyono.

Untuk mencari kejelasan nasib Nur dan keluarganya, kerabat dekat maupun perangkat desa mendatangi Mapolsek Grogol untuk meminta kejelasan polisi. “Pagi tadi (kemarin) setelah kejadian, kami mendatangi Polsek Grogol untuk minta kejelasan terkait dengan keadaan Nur dan keluarganya. Kami tidak terima Nur dan kampung kami dianggap sarang teroris. Kalau memang Nur dianggap teroris, seharusnya ada bukti. Kalau tidak, mengapa bisa jadi korban salah sasaran?” kata Sriyono.(jpnn/nan/c2/kum)

466 Siswa SMA Sederajat tak Lulus UN

Jumlah Tertinggi di Kota Medan

MEDAN-Seluruh siswa tingkat SMA sederajat yang mengikuti Ujian Nasional (UN) di Sumut sudah bisa mengetahui kelulusannya di masing-masing sekolah, Senin (16/5) besok. Kepala Disdik Sumut diwakili Sekretaris Disdik Sumut Bahauddin Manik didampingi Ketua UN Sumut 2011 Ilyas Sitorus, Bendahara UN Sumut 2011 FD Asian Hutasoit dan Kabid Mapenda Kanwil Kemenag Sumut H Yulizar, telah membagikan berkas data kelulusan UN siswa tingkat SMA sederajat kepada seluruh Kepala Disdik kabupaten/kota, Sabtu (14/5) di Kantor Disdik Sumut, Jalan Cik Ditiro Medan.

Ketua UN Sumut 2011 Ilyas Sitorus menjelaskan, tingkat kelulusan siswa pada UN 2011 ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 99,28 persen. “Pada tahun ini tingkat kelulusan siswa meningkat hingga 99,67 persen. Dan persentase kelulusan ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan persentase kelulusan siswa secara nasional yang mencapai 99,51 persen, dan ini merupakan satu prestasi,” katanya.

Ilyas memaparkan, dari 116.918 peserta UN tingkat SMA/MA di Sumut yang tak lulus hanya 0,21 persen atau sebanyak 242 orang. Sedangkan dari 67.202 peserta UN tingkat SMK di Sumut yang tak lulus hanya 0,33 persen atau sebanyak 224 orang. Jadi, jumlah siswa yang tak lulus di Sumut untuk SMA sederajat 466 orang.
Lebih lanjut Ilyas menjabarkan, dari 116.918 peserta UN tingkat SMA/MA di Sumut untuk Jurusan Bahasa jumlah peserta 116 orang dan lulus 100 persen. Jurusan IPA jumlah peserta 62.331 orang dengan 74 orang tak lulus. Jurusan IPS jumlah peserta 54.309 orang dengan 168 orang tak lulus. Dan Jurusan Keagamaan jumlah peserta 162 orang dan lulus 100 persen.

Dari data yang diperoleh wartawan, jumlah siswa tak lulus terbanyak berada di Kota Medan dengan jumlah 43 orang, di urutan kedua Kabupaten Tapanuli Utara dengan jumlah 41 orang dan di urutan ketiga kabupaten Deli Serdang dengan jumlah 33 orang.

Tapi, jika dilihat dari persentase ketidak lulusan, yang paling tinggi berada di Kabupaten Samosir dengan 2,79 persen (23 orang), di urutan kedua Kabupaten Tapanuli Utara dengan 1,90 persen (41 orang) dan di urutan ketiga Kota Pematangsiantar dengan 0,74 persen (29 orang).

Bendahara UN Sumut 2011 FD Asian Hutasoit mengatakan, saat dia berada di Jakarta untuk mendapatkan data kelulusan siswa tingkat SMA sederajat Sumut, ia sempat khawatir. Pasalnya, ia sempat membaca running teks resmi dari Kemendiknas di TV One yang menyebutkan terdapat 5 sekolah yang siswanya 100 persen tak lulus. Dan setelah mendapatkan data tersebut, ternyata tak satu pun sekolah di Sumut yang siswanya tak lulus 100 persen. “Saya sempat was-was, tapi ternyata Sumut bukan satu daerah yang terdapat di dalamnya sekolah yang siswanya tak lulus 100 persen, Sumut aman,” kata Doli, panggilan akrabnya.

Disdik Sumut telah mencetak data tersebut untuk masing-masing sekolah di masing-masing kabupaten/kota di Sumut. “Hingga saat ini, data yang sudah selesai dicetak mencapai enam kabupaten/kota, dan diutamakan kabupaten/kota terjauh. Hal ini untuk mengantisipasi agar pengumuman kelulusan dapat dilakukan sesuai jadwal. Pencetakan dilakukan di percetakan Disdik Sumut yang berada di Jalan Bilal Medan,” papar Doli.
Selama dua hari di Jakarta, Doli juga mendapatkan informasi ada nilai kritis atau nilai nol untuk satu mata pelajaran yang didapat beberapa siswa. Doli mengimbau kepada Kepala Disdik kabupaten/kota menginformasikan hal tesebut kepada kepala-kepala sekolah. Jadi, kepala sekolah diimbau untuk memeriksa dengan seksama hasil UN para siswanya.

“Harus dipastikan apakah siswa memang benar absen pada ujian mata pelajaran tersebut hingga mendapatkan nilai nol. Pihak sekolah ditenggat waktu selama sebulan untuk melaporkan hal tersebut, dan komplain diajukan ke Unimed dengan membuat surat secara resmi,” jelasnya.

Saat ditanya, jika ada siswa di satu sekolah yang memiliki permasalahan seperti hal tersebut, apakah pengumuman kelulusan siswa ditunda? Doli menjawab, “Ya, harus ditunda hingga semua masalah telah selesai,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Disdik Sumut Bahauddin Manik mengatakan, dalam pelaksanaan UN 2011 ini, ia mengaku salut kepada jajaran di Disdik kabupaten/kota yang mampu melaksanakan UN dengan sukses. Penghargaan tersebut diberikan karena jajaran Disdik kabupaten/kota bisa sukses menjalankan UN menggunakan dana sendiri terlebih dahulu. “Karena pada pelaksanaan UN 2011 ini dana operasionalnya sedikit tersendat dari pusat. Saya kagum karena jiwa patriotik atau daya juang para pelaku pendidikan di Sumut ini masih tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan UN merupakan pesta besar dalam dunia pendidikan. “Diibaratkan pesta, tentunya, selalu ada saja piring yang pecah atau sendok yang hilang. Namun, itu yang menjadi tugas utama bagi seluruh pelaku pendidikan untuk memaksimalkan kinerja di lininya masing-masing,” kata Bahauddin.

Kabid Mapenda Kanwil Kemenag Sumut H Yulizar menuturkan, persentase kelulusan siswa tingkat MA pada UN 2011 ini meningkat dari tahun sebelumnya. Pada 2010 lalu persentase kelulusan mencapai 99 persen. “Tahun ini persentase kelulusan siswa meningkat. Namun, saya belum melakukan kalkulasi, peningkatannya mencapai nol koma beberapa persen,” jelasnya.

Yulizar menjabarkan, untuk Jurusan IPA dari jumlah peserta 8.370 siswa, hanya 10 orang yang tak lulus. Jurusan IPS dari 10.095 siswa hanya 30 orang yang tak lulus. Jurusan Bahasa dari 85 siswa kesemuanya lulus. Begitu pula Jurusan Keagamaan dari 162 siswa kesemuanya lulus. (saz)

Mencari Pijakan

PSMS vs Mitra Kukar

TENGGARONG-Hasil imbang yang diraih PSMS di laga perdana Babak 8 Besar Divisi Utama menjadikan langkah ke semifinal tersendat. Hari ini, saat melawan Mitra Kukar, kemenangan wajib diraih. Bukan hanya sekadar menang, namun juga harus dengan skor besar.

Dua syarat itu wajib dipenuhi, karena bukan tidak mungkin untuk menentukan siapa juara Grup B nantinya akan ditentukan dari koleksi gol. Maklum, dengan hasil imbang yang diraih keempat tim, peluang melaju ke babak berikutnya masih sama besar. Meski hal itu sulit diwujudkann
namun asa itu masih ada.

Asisten Pelatih PSMS, Edi Saputra mengaku, sudah menyiapkan taktik jitu menahan serangan kubu lawan. Berbeda saat bertemu PSAP Sigli, dia sudah menyiapkan sedikit perubahan taktik di laga kedua ini.

“Kami ubah sedikit. Pemain Mitra Kukar punya pengalaman, tapi kami tidak gentar,” tuturnya, saat disambangi Kaltim Post (grup Sumut Pos), di Hotel Fatma, tempat  kesebelasan PSMS Medan menginap.

Ketiadaan Luis Vagner memang membuatnya khawatir. Meski demikian, Edi menganggap absennya Vagner di pos pertahanan dipastikan tak mengurangi kekokohan lini belakang. Bahkan, ia menegaskan pengganti Vagner sama kuatnya mampu menahan laju gempuran penyerang lawan.

“Saya sebenarnya agak kecewa Vagner terkena kartu merah. Tapi itulah pertandingan kami harus siap berbagai kemungkinan,” paparnya.

Peluang itu tentu saja akan dimanfaatkan Mitra Kukar untuk menghabisi Ayam Kinantan, julukan PSMS Medan.
“Penyempurnaan permainan harus terus kami asah. Banyak sejumlah peluang sewaktu bentrok Persiba Bantul belum berbuah gol. Pemantapan penyelesaian akhir jadi tugas utama,” kata Asisten Pelatih Mitra Kukar, Assegaf Razak.
Dikatakan Assegaf, kekuatan ke-4 tim yang tergabung di Grup B cukup merata. “Peluang semua tim saya kira seimbang. Tinggal siapa yang lebih siap, itu yang berpeluang besar meraih kemenangan,” paparnya.
Mitra sendiri, kemarin, tidak berlatih di lapangan rumput, padahal panitia penyelenggara (Panpel) sudah menyiapkan tempat. Pagi harinya mereka hanya jogging, sekadar mengembalikan kondisi kebugaran. Maklum, dengan hanya beristirahat sehari,  fisik pemain bisa terkuras jika terus-terusan digenjot.  (ede/obi/jpnn)

Hot OK, Free Sex No

Uli Auliani kembali memamerkan kemolekan tubuhnya di film terbarunya, Akibat Pergaulan Bebas. Namun, Uli mengaku tak khawatir mendapat imej negatif karena penampilannya di film yang selalu hot.
“Nggak khawatir. Biarkan orang menilai akting aku dalam film ini,” bilang Uli, saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Meski sering tampil seksi, Uli selalu menjaga pergaulan. Ia mengaku tak pernah terlibat free sex (seks bebas) seperti di film yang dibintanginya.

“Aku selalu menghindari yang nggak jelas. Untuk menghindarinya, aku selektif saja dalam pergaulan. Jadi aku bertemen sama temen yang baik-baik saja. Kalau mulai ada teman menyimpang, lebih baik menjauh,” terangnya.
Uli juga berusaha menjaga iman dalam pergaulan. “Mau hidup dalam pergaulan sebebas apapun kalau kita punya pondasi iman yang kuat, aku rasa sih rintangannya bisa dihadapi. Nggak bakalan terjerumus sampai ke seks bebas,” ujarnya.

“Dalam hidup, aku lebih baik nggak punya temen daripada punya temen yang ke arah nggak bener,” cetus Uli.(rm/ald/jpnn)

Tiga Wanita Mau Dijual ke Malaysia

Polisi Gulung Tersangka Sindikat Trafficking di Jalan Medan-Binjai

MEDAN- Personel Polsekta Medan Sunggal bersama TNI AD berhasil menggagalkan sindikat perdagangan manusia (trafficking) ke Malaysia saat melakukan razia di Jalan Medan-Binjai Km 16, Sabtu (14/5) dinihari. Petugas berhasil mengamankan tiga wanita dan menangkap seorang koordinatornya.

Ketiga korban masing-masing Harni (31) dan Sutani (38), warga Nganjuk, Jawa Timur, Sri Wanti (18), warga Pangkalan Brandan, Sumut. Sedangkan koordinatornya, Irwan Lubis (40), warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Binjai.
Ketiga wanita yang nyaris menjadi korban mengaku, akan diberangkatkan dari Belawan dengan menggunakan Kapal Feri, Sabtu (14/5) pukul 06.00 WIB. Namun, saat berangkat dari Binjai menuju Belawan dengan menumpangi mobil Phanter berplat polisi BK 1035 EW ditangkap petugas saat menggelar razia di Jalan Medan-Binjai Km 16. “Kami mau mencari kerja di Malaysia sebagai pelayan di restoran, Mas,” aku Sri Wanti, yang mengaku hanya tamat SMA.
Korban lainnya, Harni mengaku, dia dan temannya Sutani diajak oleh Suci (25), warga Medan yang kuliah di Surabaya. Dari Surabaya mereka dibawa ke Medan dan tinggal di rumah rekan Suci, bernama Ratna (36) di kawasan Helvetia Medan.

“Selama di rumah Ibu Ratna kami nggak boleh keluar, dan kami hampir satu bulan di rumahnya,” beber Harnin
Menjelang berangkat, Harni dan Sutani dijemput Irwan dengan mobil Panther. Kemudian mereka ke Binjai untuk menjemput Sri bersama-sama berangkat menuju Belawan. “Saat berangkat kami kena razia,” imbuh Harni.

Sementara Irwan Lubis saat ditangkap petugas terlihat gugup. Pasalnya, saat diperiksa telepon genggam berisikan SMS yang berisikan kata-kata, “Mas, ada tuh cewek asli 18 tahun tapi saya buat dia pasport 21 tahun cantik dan masih mungil harganya 4.000 (tak ditulis mata uangnya) ya, karena masih ada dua lagi yang cantik dan mungil siap kirim.”
SMS itu ditujukan kepada seorang wanita untuk merekrut para korbannya. Meskipun demikian, Irwan membantah kalau ketiga wanita itu akan dijualnya ke Malaysia.
“Saya tidak tahu itu,” jawab Irwan singkat.

Setelah ditunjukkan isi SMS dari telepon genggamnya, Irwan tampak semakin gugup. Pria berkulit hitam itu kemudian beralasan bahwa ia punya kakak yang menikah dengan polisi Malaysia. Rencananya, ketiga wanita itu akan dibawanya ke tempat kakaknya.

Selain Irwan, dan ketiga korbannya, petugas juga mengamankan dua supirnya Andy Surya (31) dan Yudi (26). Keduanya abang beradik tinggal di Jalan Sudirman Tanjung Balai. Keduanya mengaku hanya sebagai supir mobil yang dirental Irwan.

“Kami tidak tahu bang, kami hanya supir saja. Kami disuruh menjemput ketiga wanita itu dari tempat yang berbeda dan kami dikasih imbalan Rp50 ribu untuk tiap kali mengantar, cuma kami tidak kenal mereka itu,” aku Andi Surya.
Kapolsekta Medan Sunggal, Kompol Sony Marisi Nugroho saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, jaringan para penjual wanita ini masuk dalam jaringan penjualan wanita antarnegara tidak hanya ke Malaysia tetapi ke negara Asia lainnya.

“Bukan hanya Indonesia tetapi juga ke negara-negara lainnya termasuk Pakistan dan India. Permainanya cukup rapi seperti supirnya tidak mengetahui siapa yang dijemputnya dan koordinatornya tidak mengetahui supirnya, jaringannya cukup rapilah ,”ujar Sony.

Dijelaskannya, mata rantai sindikat penjualan manusia ini dilakukan oleh orang-orang yang cukup profesional. “Kasih waktu bagi kita untuk mengungkapnya,” jelasnya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) mengatakan kasus trafficking (perdagangan manusia di bawah umur) dengan korban remaja putri di Sumatera Utara (Sumut) belakangan kian marak. KPAID Sumut mengakui ada peningkatan jumlah kasus pada 2010 ini dibanding 2009 lalu.

Komisioner KPAID Sumut, Elvi Hadriany mengatakan meningkatnya kasus trafficking semakin menunjukkan keberadaan ABG saat ini sangat rawan dari tindakan kejahatan perdagangan seksual.

“Saya melihat saat ini kondisinya sudah cukup rawan anak-anak remaja sekarang sudah banyak menjadi korban gaya hidup dan juga pergaulan. Jadi bukan hanya dari faktor ekonomi saja,” tutur Elvi kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Meski kasus ini meningkat, KPAID Sumut tidak memiliki data persis jumlah korban kasus trafficking di Sumut. Elvi hanya menyebutkan, sepanjang 2010 ada peningkatan dibanding 2009, itu yang terungkap di sejumlah daerah yang KPAID monitoring melalui pemberitaan media.

“Belum ada yang mengadu secara langsung kepada kita,” ungkap Hadriany.

Terkait dengan Sumut sebagai salah satu jalur trafficking yang sangat strategis, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP & PA), Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, Sumut bukan sebagai tempat perekrutan trafficking tetapi hanya sebagai tempat persinggahan untuk keluar, “Jadi salah satu yang mesti perlu diperhatikan adalah koordinasi pengamanan di antara sesama gugus tugas apakah dari provinsi pengirim dalam artian tempat perekrutan, dengan pihak keamanan yang ada di Sumut guna memberantas kasus trafficking ini,” ujarnya. (mag-8/net/jpnn)

Gantikan Suami Nulis Togel, Ditangkap

Medan- Seorang ibu rumah tangga, A br Simbolon (55), warga Cinta Damai, Percut Sei Tuan dibekuk petugas di rumahnya. Dia tertangkap tangan sedang menulis togel, Sabtu (14/5) sore pukul 16.00 WIB.

Menurut A br Simbolon, dia menulis togel karena suaminya sedang pergi ke pesta. “Saya hanya menulis sementara saja karena suami saya sedang pergi ke pesta. Sebenarnya yang menulis togel itu suami saya, bukan saya,” jelasnya.
Diceritakannya, suaminya memintanya untuk menggantikan menulis togel hingga pulang pesta. “Saya dititipkan suami karena pembeli sudah banyak. Padahal saya bilang kepada pembeli nanti saja tunggu suami saya pulang. Tapi karena pembeli memaksa ingin memasang nomor terus, maka saya tulis. Saat petugas tiba, pembeli pada lari semua,” tambahnya.

Kapolsekta Percut Seituan, Kompol Maringan Simanjuntak SH MH mengaku, kasus tersebut sedang ditangani karena tersangka baru saja dibekuk. Diterangkan Maringan, barang bukti yang diamankan, dua kertas rekapan togel, uang tunai dan  pulpen.(jon)

Utang tak Dibayar, Teman Dibunuh

KUTALIMBARU- Pembunuhan di areal perkebunan sawit di Desa Sukarende, Kutalimbaru akhirnya terungkap. Pelakunya, Dana Ferdiansyah alias Dana (18) yang diringkus petugas Polsekta Kutalimbaru di rumahnya, Jalan TB Simatupang, tepatnya di belakang Rumah Sakit Umum Bina Kasih, Jumat (23/5) malam pukul 23.00 WIB.

Kanit Reskrim Kutalimbaru Iptu Manis Sembiring saat dikonfirmasi Posmetro Medan (grup Sumut Pos) mengatakan, tersaangka nekat menghabisi Junaidi Asri yang merupakan temannya sendiri karena korban mengutang chip poker yang tak kunjung dibayar. Akhirnya, tersangka yang bekerja sebagai tukang kayu mengajak korban ke perkebunan sawit tersebut, lalu menikaminya hingga tewas dan membawa kabur sepeda motornya.

“Pengakuannya, karena korban hutang cip poker” kata Manis. Namun mengenai sepeda motor korban, Dana mengaku sudah menjualnya dan kini penadahnya masih dalam pencarian polisi. “Sepeda motornya masih kita cari, karena telah dijualnya” sambungnya.(eza/smg)

Pulang Undangan, Dititipi Ganja

Medan- Ahmad Rahmadan (21), warga Jalan Denai Gang Usaha, Medan Denai, dibekuk petugas Polsekta Medan Area di simpang Jalan Denai, Jumat (13/5)  malam. Ahmad dibekuk petugas usai dititipi ganja oleh seorang pemuda yang baru dikenalnya.

Diceritakan Ahmad, dia tidak tahu kalau yang dititip kepadanya adalah ganja. Ahmad menuturkan, dia tidak kenal betul dengan pria itu karena kenalnya di Tembung.

“Saya tidak kenal dengan pria itu. Saya dititipkannya bungkusan dan saya tidak tahu isinya apa. Tidak lama kemudian polisi yang sedang lewat memeriksa saya karena bawa bungkusan dan setelah diperiksa ternyata isinya ganja,” akunya.
Tambah Ahmad, dia baru pulang dari Tembung karena menghadiri pesta temannya. “Sumpah, saya tidak kenal dengan pria itu dan kami kenalnya saat saya baru pulang pesta teman saya. Kenalnya saja baru itu,” tambahnya.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Area, AKP Jonser Banjarnahor SH menuturkan, tersangka masih diperiksa intensif guna membekuk bandarnya. “Tersangka dibekuk anggota ketika melintas dan melihat gerak-gerik yang mencurigakan dan setelah diperiksa ditemukan ganja didalam bungkusan,” ungkapnya.(jon)

Pendaftaran SNMPTN Diperpanjang

MEDAN- Masa pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2011 diperpanjang hinga 25 Mei mendatang. Perpanjangan pendaftaran ini disediakan khusus bagi lulusan SMA/MA/SMK 2009 dan 2010.
Ketua Panitia Lokal (Panlok) SNMPTN USU Prof Zulkifli Nasution dan Penanggung Jawab Sosialisasi Prof Ningrum Natsya Sirait melalui Kabag Humas USU Bisru Hafi mengatakan, perpanjangan masa pendaftaran tersebut yakni untuk masa pembayaran di Bank Mandiri. “Ini diperpanjang hingga 24 Mei 2011 pukul 12.00 WIB yang juga sama bagi lulusan 2011. Untuk masa pendaftaran online pada website www.snmptn.ac.id juga diperpanjang hingga 25 Mei 2011,” jelasnya, Sabtu (14/5).

Lebih lanjut Bisru menjelaskan, seharusnya masa pendaftaran untuk lulusan 2009 dan 2010 berakhir pada 10 Mei 2011 lalu. “Namun berdasarkan surat Panitia SNMPTN 2011 dengan Nomor 098/SNMPTN/2011 yang ditandatangani Prof Herry Suhardiyanto selaku Ketua Panitia Pusat SNMPTN 2011 telah memutuskan memperpanjang masa pendaftaran bagi lulusan SMA sederajat 2009 dan 2010 hingga 25 Mei 2011. Dan masa pembayaran di Bank Mandiri ditutup pada 24 Mei pukul 12.00 WIB,” jelasnya.

Bisru juga menyampaikan, hingga Jumat (13/5) jumlah peserta yang telah membayar biaya ujian SNMPTN sudah mencapai 10.284 orang. Adapun rincian peserta yang telah mendaftar tersebut yakni, 5.997 peserta sudah melakukan pendaftaran secara online dan 4.287 lainnya masih akan melakukan pendaftaran.

Ketua Panlok USU juga memberitahukan, hasil ujian SNMPTN 2011 jalur undangan dijadwalkan akan diumumkan pada Rabu (18/5), yag juga dapat diakses di website www.snmptn.ac.id.

Rincian jumlah peserta yang telah melakukan pendafataran online pada situs www.snm ptn.ac.id untuk Panlok USU berdasarkan kelompok ujiannya yakni, untuk kelompok IPA 1.564 orang (lulusan 2009 dan 2010) dan 454 orang (lulusan 2011), dengan jumlah total pendaftar untuk kelompok IPA sebanyak 2.018 orang.
Untuk kelompok IPS jumlah pendaftar sebanyak 1.559 orang (lulusan 2009 dan 2010), 380 orang (lulusan 2011), dengan jumlah total pendafatar untuk kelompok IPS sebanyak 1.939 orang.

Sedangkan jumlah total pendaftar untuk kelompok IPC sebanyak 1.609 dengan rincian,  1.218 orang (lulusan 2009 dan 2010), dan 391 orang (lulusan 2011).

Ketua Panlok USU Prof Zukifli Nasution melalui Bisru juga menyampaikan imbaunnya agar para calon peserta SNMPTN untuk lebih cepat melakukan pembayaran dan pendaftaran. “Jangan menunggu pada hari terakhir pendaftaran karena berdasarkan pengalaman sebelumnya dikhawatirkan bila terjadi penumpukan pendaftar menjelang hari terakhir akan dapat menganggu server di pusat data,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Panlok USU juga menyampaikan pemberitahuannya, hasil ujian SNMPTN 2011 jalur undangan dijadwalkan akan diumumkan pada Rabu (18/5). Pengumuman tersebut dapat diakses atau dilihat di website www.snmptn.ac.id.

Bagi para peserta SNMPTN jalur undangan yang dinyatakan lulus atau diterima di USU diwajibkan untuk melakukan pelaporan pada 31 Mei dan 1 Juni 2011 di Gelanggang Mahasiswa Jalan Universitas Kampus USU, mulai pukul 08.00 WIB.

Kelengkapan yang harus dibawa saat melakukan pelaporan adalah Kartu SNMPTN 2011 jalur undangan asli, rapor asli dan fotokopi dilegalisir rangkap dua, ijazah asli dan fotokopi dilegalisir (lulusan 2009/2010) atau SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) asli dilengkapi foto ukuran 3×4 cm (bagi yang belum keluar ijazah), dan surat ganti nama bagi yang pernah ganti nama. Untuk informasi lebih lengkap tentang pelaporan ini dapat dilihat di website www.usu.ac.id.(saz)