Home Blog Page 15311

Pengunjung Pakai Topeng Nunun

Jakarta-Sekitar 15 orang pengunjung sidang Panda Nababan dan kawan-kawan, memakai topeng bergambar Nunun Nurbaeti dan membuat suasana riuh sembari meneriaki jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menyikapi hal ini, KPK menyerahkan sepenuhnya kepada majelis hakim.

“Karena itu di persidangan, maka kami serahkan sepenuhnya kepada majelis hakim,” tutur Pimpinan KPK, Haryono Umar saat dihubungi, Rabu (4/5).

Haryono mengatakan, majelis persidangan merupakan tempat yang terhormat. Oleh karena itu dia berharap segala persidangan dapat berjalan tertib.

“Namanya juga pengadilan kan tempat terhormat contohnya di pengadilan MK, itu kan sangat tertib sekali. Ya mestinya pengadilan yang lain seluruh pengadilan di Indonesia seperti itu,” tutur Haryono.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor kemarin, orang-orang ini berdiri di belakang ruang sidang, selama mengikuti persidangan, mereka terus memakai topeng gambar Nunun. Istri Adang Daradjatun memang menjadi saksi kunci perkara ini.

Bukan hanya memakai topeng Nunun, mereka juga terus bertepuk tangan atau mengomentari jalannya persidangan. Tidak jarang mereka juga sering nyeletuk saat hakim berbicara.

Jaksa M Rum sempat mengajukan keberatan terkait ketidaktertiban jalannya persidangan kepada majelis hakim yang diketuai oleh Eka Budhi Prijatna. Namun Eka cenderung membiarkan tindakan itu.
“Sidang memang terbuka untuk umum, tapi saya tidak tahu apa arti poster itu,” kata Eka.
“Supaya jaksa tidak lupa, supaya dikejar yang aslinya,” pekik pengunjung sidang.

“Jaksa, apakah lupa dengan muka itu?” tanya Eka kepada jaksa. “Tidak,” jawab M Rum.
Tidak hanya sekali ini saja, para pengunjung sidang juga sering meneriaki jaksa saat berbicara. Mereka terus bertepuk tangan dan berisik hingga sidang berakhir. (net/jpnn)

Lagi, Warga dan Petugas Bentrok

BINJAI- Masalah tanah eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 Sei Semayang terus memanas. Rabu (4/5), warga dengan petugas nyaris bentrok, gara-gara tanaman warga dicabut petugas.

Tanaman yang dicabut itu berada di Tunggurono, Kecamatan Binjai Timur. Akibatnya petugas PTPN 2 dan warga nyaris bentrok dan bahkan tangan kanan salah seorang petugas PTPN 2 sempat terkena pukulan oleh warga. Sebab, kedua belah pihak sudah ingin saling serang.

Tak sampai di situ, saat kedua belah pihak berada di lapangan, senjata tajam (sajam) yang sudah masing-masing mereka bawa, juga sempat dikeluarkan guna menghalau satu sama lainnya. Untung saja, aksi saling serang dapat dilerai petugas Polsek Binjai Timur dan Polres Binjai yang turun ke lokasi kejadian.

Mahmud Karim, Ketua Kelompok Tani Kota Binjai, mengatakan, ia akan tetap memperjuangan hak-hak rakyat sampai menemukan titik terang. “Kalau sudah begini, kami akan cari jalan lain, sampai perjuangan kami berhasil,”tegas Mahmud Karim.

Kepala Rayon C, PTPN 2 Sei Semayang, P Samosir, mengatakan, lahan yang digarap warga masih tanggung jawab PTPN 2. “Sudah saya katakan berulang kali, baik HGU yang diparpanjang maupun tidak diperpanjang, itu masih tanggung jawab PTPN 2. Sebab, belum ada penyerahan resmi dari menteri terkait kepada pemerintah. Kalau sudah ada penyerahannya, kita juga tidak mau seperti ini,” ujar P Samosir. (dan)

Orang Dekat Bupati Diduga Terlibat

Soal Pemotongan Insentif Bidan Desa

LANGKAT- Pemotongan dana insentif Bidan Desa (Bides) Pegawai Tidak Tetap (PTT) di  lingkungan Dinas Kesehatan Langkat, makin berkembang. Selain melibatkan instansi kesehatan, pemotong dana insentif juga disebut-sebut  melibatkan orang dekat bupati.

Menurut sumber terpercaya di Dinas Kesehatan Langkat,Rabu (4/5) menuturkan, otak pelaku pemotongan dana insentif dilakukan oleh oknum Bides PTT berinisial T yang bertugas di bawah naungan Puskesmas Tanjung Langkat, Kecamatan Salapian.

T dikenal sebagai kerabat atau orang dekat Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, sehingga aksi pemotongan dana insentif terhadap ratusan Bides PTT berjalan mulus. Bahkan, Dinkes sendiri harus meminta izin kepada Bupati untuk memanggil bersangkutan terkait persoalan dimaksud.

“Saya sebetulnya merasa terzalimi dengan persoalan ini, karena nama saya dan Dinkes dibawa-bawa pelaku untuk memuluskan aksinya, padahal, sedikitpun saya tidak pernah menyebut atau meminta imbalan kepada Bides itu,”ungkap sumber.

Dia juga menyebutkan, kalau pelaku termasuk kerabat Bupati, sehingga dirinya enggan untuk mempertanyakan prihal pemotongan dilakukan T.  “Gimana saya mau bertindak, dia termasuk dekat dengan Bupati, tapi ya sudahlah, biar dia makan uang potongan itu,” kesalnya.

Kabar kedekatan pelaku dengan Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, tampaknya sangat beralasan. Soalnya, pihak Dinkes sendiri, harus terlebih dahulu melapor ke Bupati Langkat untuk melakukan tindakan kepada pelaku terkait pemotongan tersebut. “Kita  lapor dulu ke Bupati, baru kita surati bersangkutan,” kata Kasubag Umum Dinkes Langkat Dimpu Sianturi.

Ketika ditanya lebih lanjut kabar kedekatan itu, Dimpu enggan mengomentari dan mengalihkan  pembicaraan. “Alah,  kalau itu saya nggak ngerti kali, tapi Kadis (Kepala Dinas,red) sudah berangkat menemui Bupati,” ungkapnya.
Dimpu juga membantah keterlibatannya dalam pemotongan dana insentif  tersebut. Untuk itu, dirinya berjanji akan memanggil bersangkutan (T) untuk dimintai keterangan dan memberikan keterangan sebenarnya kepada wartawan. “Besok (hari ini,red), kita surati secara resmi yang bersangkutan untuk dimintai keterangannya. Agar lebih jelas, wartawan dapat langsung meminta keterangannya bila dia datang ke Dinkes,” janjinya.(ndi)

Rusak Sekolah, 4 Pelajar Diamankan

PERDAGANGAN- Empat pelajar SMK yang diduga melakukan pengerusakan serta pencurian di Komplek Perguruan SMK Abdi Sejati Kelurahan Kerasaan Kecamatan Pematang Bandar, Senin (2/5) sekira pukul 23.00 WIB diamankan Polsek Perdagangan.

Keempatnya adalah NS (18) warga Sidaludalu Riau, DFG (18) warga Sei Bejangkar Batubara, RFP (17) warga Tanjung Balai, JP (18) warga Balam Pekan Baru.

Dari keterangan yang diperoleh di Mapolsek Perdagangan, ke-4 siswa ini sebelumnya ditangkap perguruan SMK Abdi Sejati, setelah mengetahui adanya pengerusakan dan pencurian yang dilakukan ke- 4 nya, baru mereka diamankan.
Sebelumnya ke-4 pelajar yang tinggal di asrama itu mencuri pakaian dan gitar milik pelajar lainnya dengan terlebih dahulu merusak pintu asrama, dinding kamar dan lemari.

Aksi ke-4  siswa ini ternyata diketahui pula dua orang temannya yang kemudian melaporkannya ke pihak perguruan dan selanjutnya memberiathukan kepada orangtua masing-masing untuk dilakukan pembinaan. Tapi ternyata tidak ada yang datang sehingga atas perintah yayasan perguruan k-e 4 siswa diserahkan kepada pihak yang berwajib guna pemeriksaan lebih lanjut.(bim/smg)

Sengketa Tanah, Satu Tewas

SAMOSIR- Warga Siduma-duma Desa Parbaba Dolok Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tiba-tiba heboh. Soalnya, Mangumbang Sihaloho (37) tewas di tempat, Mak Sentia/Esra Br Simbolon (40) kritis dan Manaek Sihaloho dirujuk ke rumah sakit di Medan guna mendapatkan perawatan, kemarin (4/5).

Purba, keluarga korban mengatakan, awal mulanya ada saling klaim kepemilikan tanah di Desa Parbaba antara keluarga Sentia/Jonata Sihaloho dengan Jabaru Sitindaon. Purba mengaku, Lae Simangumbang selain bertani dia membuka usaha kedai tuak untuk menambah penghasilan menghidupi keenam anaknya yang masih kecil-kecil. Kemudian terjadi pertengkaran sehingga membuat nyawa melayang.

Manurut Sitindaon Kepala Desa Parbaba Dolok membenarkan ada pembunuhan di Parbaba Dolok tepatnya di Dusun III Siduma-duma, dan motif pertikaian sampai sekarang belum jelas diketahui dari aparat pemerintah desa.
Kapolres Samosir AKBP Edward.Sirait membenarkan kejadian itu, akan tetapi pihaknya belum dapat memberikan penjelasan yang detail, karena para pelaku masih dilakukan pemeriksaan. “Mungkin Kamis, (hari ini red) akan kita berikan keterangan,’’ ujar Burju.

Burju menambahkan, Esra Simbolon (40) dan Naek Sihaloho (23) saat ini dalam kondisi kritis dan sudah dilarikan  ke RSU Adam Malik Medan untuk mendapatkan perawatan.(nsi/smg)

Kelainan Seks, Suami Pukul Istri

TEBING TINGGI- SH (32), warga Jalan Abadi, Dusun II, Desa Paya Lombang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (3/5) sekira pukul 22.30 WIB memukul istrinya, NR (28) hingga babak belur. Diduga penyebab ketidakharmonikasi pasangan suami istri itu dikarenakan persoalan seksual.

Akibat pemukulan ini, NR membuat pengaduan ke Mapolres Tebing Tinggi, Rabu (4/5). Laporan itu diterima petugas Mapolres Tebing Tinggi dan langsung mengecek ke tempat kejadian perkara.

Pengakuan NR ketika membuat laporan, dia dipukul di bagian bibir satu kali, muka dicakar dan menjambak rambut. Akibatnya, bibir atas pecah, pelipis luka gores serta bagian kepala mengalami luka memar.

Ibu dua anak ini mengaku, diduga penyebab penganiayaan tersebut karena suaminya SH mengalami kelainan seks. “Setiap mengajak berhubungan, suami saya selalu main pukul. Saya sudah tidak tahan terus disiksanya, hampir setiap hari mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” kata NR yang mengaku akan meminta cerai dengan suaminya.
Kasat Reskrim Polres Tebing Tinggi, AKP Lili Astono mengaku sudah menurunkan tim untuk mengungkap kasus penganiayaan tersebut. “Kita perintahkan anggota untuk melakukan penangkapan terhadap SH. Sayang pelaku sudah keburu melarikan diri, sementara kini, pelaku (suami-red) masih dalam pengejaran petugas,” tegas Lili.(mag-3)

Ulat Bulu Serang Pohon Sotul

SIDAMANIK- Ribuan ekor ulat bulu berwarna coklat menghabisi daun pohon Sotul, milik A Siburian di persawahan Dusun Manik Siantar, Nagori Bahal Gajah, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Rabu (4/5).
Menurut Siburian kejadian itu sudah berlangsung selama satu minggu. Pertama melihat ulat bulu tersebut, Siburian menyebut jumlahnya masih sedikit, yakni sekitar lima puluh sampai seratus ekor. “Pas kami lihat, kami langsung membakarnya,” ujar dia sembari mengatakan dirinya heran melihat ulat bulu itu semakin bertambah dengan jumlah yang lebih banyak.

Kata dia, bulu ulat bulu berukuran kurang lebih enam centi meter itu, mampu menembus telapak kaki bila terpijak. “Ditembusnya telapak kita. Kalau kena kebadan, gatalnya minta ampun,” ujarnya. Kata dia, melihat warnanya coklat ke abu-abuan, warga tidak mengetahui keberadaan ulat bulu tersebut bila tidak diperhatikan dengan teliti.
Sementara itu, Asido Simaremare, warga setempat meminta agar pihak-pihak terkait segera melihat keberadaan ulat bulu itu, dan memusnahkannya. “Cemana tidak cemas, dalam waktu seminggu ulat itu bisa menghabiskan daun Sotul hingga botak,” ujarnya sembari memperlihatkan ulat bulu itu sudah menyerang pohon coklat yang berdekatan dengan pohon Sotul yang sudah gundul itu.

Ditegaskan Asido, melalui pemberitaan dikoran, dirinya berharap Pemkab Simalungun melalui instansi teknis dapat berkunjung ke daerah mereka.

, untuk memusnahkan ulat bulu tersebut. Kata dia, bila ulat bulu tersebut tidak segera diatasi, mungking seluruh tanaman yang ada di daerah mereka akan habis diserang.

“Uniknya, siang hari ulat bulu ini tidak beraktifitas dan hanya berkumpul-kumpul,” sambung Siburian menunjukkan kumpulan ulat bulu yang ada di batang pohon Sotul tersebut. Kata dia, ulat bulu itu menghabiskan daun Sotul tersebut dimungkinkan pada malam hari.(mag-01/smg)

Pemuda Tiga Ras Tenggelam

NAGORI TIGA RAS- Hendro Edwart Sinaga (26) warga Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, tenggelam di dasar Danau Toba, Nagori Tiga Ras. Hendro tenggelam,  saat hendak mengambil ikan untuk dijual ke pasar, Rabu (4/5) sekira pukul 04.30 WIB.

Sitio (35), warga setempat, yang mengaku satu profesi dengan Hendro sebagai petani doton (jaring penangkap ikan yang dipasang didalam danau), menduga korban tenggelam saat hendak menaiki pukat.

“Pagi itu ombak kencang, mungkin pas mau mengikatkan solu-nya di dapur-dapur pukatnya. Dia (korban red) tergelincir dan terpental kedanau,” ujarnya menyebut pukat korban mengalami kerusakan. Kata dia, korban sudah berencana untuk memperbaiki pukat itu, sebab, kejadian yang sama sudah dua kali terjadi.

Dimungkinkan karena tidak tahan berenang ke tepi danau, Sitio mengatakan, korban sempat menjerit minta tolong. “Ibunya (Sinde boru Turnip) yang mendengar teriakan itu,” ujarnya menyebut ibu korban kemudian memberitahukan teriakan yang datangnya dari pukat korban kepada warga lain, sembari turun kedanau memastikan teriakan itu. (mag-1/smg)

Warnet Terbakar

LUBUK PAKAM– Satu unit rumah toko (ruko) milik Darma Putra Sembiring (33) Jalan KH Ahmad Dahlan Kota Lubuk Pakam, terbakar Rabu (4/5) pukul 05.45 WIB. Ruko yang digunakan untuk usaha warung internet itu, dikontrak  kepada pasangan suami istri Ismail (29) dan Sri Wahyuni (35).

Ketika kebakaran terjadi pasutri itu tengah tertidur pulas di lantai dua. Gumpalan asap yang datang dari arah lantai bawah, membangunkan Ismail dan Sri Wahyuni. Tanpa sempat menyelamatkan barang berharga miliknya, Ismail langsung mengevakuasi keluarganya lewat lantai dua, melompat ke timbunan pasir yang berada di toko material bangunan yang berada di sampingnya.

Warga yang mengetahui peristiwa itu, langsung menghubungi pemadam kebakaran Pemkab Deli Serdang. Selang beberapa menit, api berhasil.

Kapolsek Lubuk Pakam, AKP Muhammad Ikhwan Khalik mengatakan untuk sementara, dugaan penyebab kebakaran itu akibat hubungan arus pendek pada jaringan listrik yang berada di lantai satu.(btr)

Warga Ancam Ikut Merambah

Terkait Pengalihfungsian Hutan Negara di Langkat

Perambahan Hutan Negara Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat terus berlanjut. Ditengarai perambahan itu dilakukan oleh pengusaha ‘nakal’ yang dilindungai oknum pemerintah kabupaten (Pemkab).

Ya, perambahan hutan di Kabupaten Langkat, tampaknya belum bisa diatasi oleh Pemerintah Kabupaten dibawah pimpinan H Ngogesa Sitepu dan Budiono. Pasalnya, perambahan terus saja terjadi di kawasan seluas hampir 50 hektar tersebut tanpa ada tindakan keras dari aparat pemerintahan setempat. Bahkan, Pemkab Langkat seperti “dipecundangi” oleh pengusaha karena tidak mengindahkan surat teguran Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Langkat, Nomor: 522.4-/HUTBUN/2011, untuk menghentikan aktivitas perambahan. Buktinya, sebuah alat berat (excavator) masih tetap beroprasi di kawasan tersebut.

Akibat lemahnya pengawalan Pemkab Langkat terhadap hutan negara di pesisir, membuat Rukun Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Desa Suka Maju, Akhyar, kepada wartawan beberapa waktu lalu, mengancam akan merambah hutan negara, apabila persoalan ini tidak disikapi. “Apabila perambahan hutan di kawasan Suka Maju tidak ditindaklanjuti, berarti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat, ikut terlibat secara langsung mapun tidak dengan cara melakukan pembiaran atas perambahan tersebut. Kalau memang Pemerintah Kabupaten Langkat membiarkannya, maka kami juga akan turut serta melakukan perambahan hutan di kawasan,” ancamnya.

Kekesalan Akhyar, terkait hancurnya ekosistem laut di pesisir, akibat rusaknya kawasan hutan mangrove, yang merupakan lahan pokok bagi masyarakat nelayan di daerah pesisir. Atas dasar  inilah, HNSI melayangkan surat benomor 01/RKN/SKM/04/2011 mengenai ketegasan hukum terhadap para perambah hutan yang masih berlanjut, kepada intansi Pemerintah Kabupaten Langkat, termasuk kepada Bupati Langkat, DPRD Langkat Dinas Kehutanan Langkat, Kapolres Langkat dan Dinas terkait lainnya, agar persolan perambahan hutan di Kabupaten Langkat, khususnya di Desa Suka Maju, segera diberangus.

Indikasi keterlibatan Pemkab Langkat, seperti diutarakan Akhyar, juga sempat mencuat di Desa Suka Maju dengan menyebut salah seorang pimpinan Pemkab Langkat berinisial BD. Informasi yang beredar di kawasan tersebut, cepat-cepat dibantah oleh Wakil Bupati Langkat Budiono saat dihubungi Koran ini, Minggu (1/5) lalu. “Memang saya kenal dengan pengusaha itu, kan kami pernah sama-sama menjadi anggota dewan, mungkin kedekatan itulah yang dimanfaatkan dengan menyebut-nyebut nama saya, saya rasa itu hal wajar, tapi untuk memberikan izin, saya tidak ada hak,” bantahnya.

Demikian pula dengan Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, kepada wartawan, Ngogesa mengaku, kalau dirinya tidak pernah akan memberikan izin terkait perambahan hutan dikawasan pesisir Langkat.  “Perambahan hutan negara di kabupaten Langkat, khususnya yang berada di wilayah pesisir pantai, seperti di Desa Karya Maju, Tapak Kuda dan desa pesisir pantai lainnya itu, tetap tidak akan saya izinkan,”katanya.

Ngogesa juga mengatakan, bahwa pihaknya akan segera membuat laporan ke intansi terkait perihal alat berat (eskavator-red) yang sampai saat ini terus merambah hutan. (ndi)

Kami Sudah Capek Bekerja…

Aksi perambahan hutan yang kerab terjadi di kawasan hutan pesisir Langkat, menjadi tanggung jawab besar bagi Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Langkat. Dinas ini diharapkan untuk menghentikan atau meminimalisir aksi perambahan hutan di wilayah tersebut.

Ketika ditemui di kantornya, Rabu (4/5) kemarin, Kadis  Hutbun Langkat Supandi Tarigan mengaku, pihaknya telah maksimal melakukan tindakan perspektif terhadap sejumlah pengusaha “nakal” yang membuka lahan di kawasan hutan Negara di Langkat.

Namun yang menjadi persoalan, kata dia, pihaknya tidak ada wewenang untuk melakukan tindakan perspektif seperti yang diinginkan masyarakat banyak.

Pasalnya, ada instansi yang lebih berwenang menangani persoalan itu. “Dan kita telah melakukan koordinasi kepada pihak-pihak dimaksud,”ujarnya.

Mengenai seringnya perambahan dan pengalihfungsian hutan di Kabupaten Langkat, Supandi ditemani sejumlah stafnya mengaku, kalau dirinya siap turun ke lapangan bila ada laporan masyarakat terkait perambahan hutan di wilayah kerjanya. “Kita nggak mungkin kuasai semua lapangan yang begitu luas, makanya kita menunggu laporan warga dan akan kita tindak lanjuti segera sesuai kewenangan kita,”sebutnya.

Ketika dinyatakan Dishutbun Langkat lemah dalam hal pengawasan hutan, Supandi langsung tensi dan membantah tudingan tersebut.

“Jangan sesekali mengatakan Hutbun lemah dalam pengawasan hutan, karena kami sudah capek bekerja di lapangan,” ucapnya bernada tinggi sembari menunjuk staf-stafnya. (ndi)