28 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 15433

Petinggi Aparat Keamanan Terindikasi Terlibat

Kasus Penembakan Awie dan Istri

MEDAN-Hingga saat ini polisi belum mampu menangkap eksekutor penembak A Wie (38) dan Dora Halim (36). Menurut informasi di kepolisian, para DPO sangat professional dan terindikasi melibatkan oknum petinggi aparat keamanan.

“Indikasi itu dilihat dari cara kerja pelakunya yang sangat rapi dan terencana matang. Sangat profesisional, terlatih dan terbiasa dengan aksi seperti itu. Tidak mungkin dilakukan masyarakat sipil,” ujar sumber di Mapolresta Medan.

Sumber lain menyebutkan, senjata yang digunakan belum ditemukan. Rekaman dan gambar CCTV belum memberikan petunjuk. “CCTV itu tidak jaminan. Soalnya semuanya tidak saling kenal. Para eksekutor ada 5 Tim, Tim A, Tim B, Tim C, Tim D dan Tim E. Kelima tim ini tidak saling kenal, bahkan sesama anggota tim. Terlebih ada dugaan keterlibatan petinggi aparat,” katanya.
Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga membantah keras dugaan keterlibatan oknum aparat dalam perencanaan dan instruktur penembakan. “Gak mungkin ada itu, apalagi dari polisi. Alaaahhh…, jangan mengada-ada. Semalam sudah dijelaskan Pak Kapolda, jadi sudah terang. Mending kita bahas yang lainya aja,” ujarnya.

Melindo Thai Terancam Bangkrut

Rekan bisnis Toh Ce Wie alias A Wie yang bernama Acui kini sedang dikejar sebagai tersangka otak pembunuhan. Dampaknya, usaha ikannya, UD Melindo Thai terancam gulung tikar.  Gudang tersebut bangkrut akibat ikan impor yang sudah dibeli, namun setelah sampai Indonesia tidak diperbolehkan beredar.  Nama Acui pun ikut dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Dari penelusuran di sekitar UD Melindo Thai di Pelabuhan Perikanan Samudera Gabion Belawan, gudang tersebut sepi. Pagar gudang berwarna biru bertuliskan MLT (Melindo Thai)/PT ASSA dan mobil truk colt diesel parkir didekat pagar tersebut.

“Kalau mau tanya soal gudang ini langsung ke pimpinan saja, saya tidak berani komentar. Tapi pimpinan sudah pulang,” ujar seorang wanita yang berjaga di gudang itu.

Menurut seorang sumber di sekitar, gudang itu terancam gulung tikar karena merugi setelah memesan ikan impor. “Rugi banyak dia karena udah kasih uang kepada impotir ikan, namun sampai di sini ikan impor dilarang beredar sama menteri kelautan dan perikanan,” ujarnya.(mag-8/mag-11)

Penembakan Brutal, 12 Tewas

Rio de Janeiro-Kejadian mengenaskan menimpa Brasil. Setidaknya 12 sekolah tewas setelah seorang pria menembak secara brutal. Kejadian di suatu sekolah di Kota Rio de Janeiro, pada Kamis waktu setempat itu, juga melukai sedikitnya 20 orang. Setelah itu, melakukan aksinya, sang pelaku langsung bunuh diri.

Menurut Departemen Kesehatan dan Pertahanan Sipil, seperti dikutip kantor berita Associated Press, murid sekolah yang dibunuh itu terdiri dari sepuluh perempuan dan dua laki-laki. Mereka tampaknya merupakan target acak dan rata-rata berusia antara 12 hingga 15 tahun.

Penembak diketahui bernama Wellington Oliveira. Kini berusia 23 tahun, Oliveira pernah bersekolah di Tasso da Silveira, yang menjadi lokasi penembakan. Polisi masih menyelidiki motif penembakan brutal itu. Di dekat pelaku ditemukan secarik kertas, yang tampaknya merupakan tulisan dia.

Kemungkinan Oliveira saat itu sudah berniat untuk melakukan pembantaian dan bunuh diri. “Bila dimungkinkan, saya ingin dikubur di sebelah makam ibu. Seorang pengikut Tuhan harus mengunjungi makam saya, paling tidak sekali. Dia harus berdoa di depan makam saya dan meminta ampun kepada Tuhan atas apa yang telah saya lakukan,” demikian tulisan itu. (bbs/jpnn)

Libya Akui Tahan 4 Jurnalis

TRIPOLI-Pemerintah Libya mengakui telah menahan empat jurnalis asing. Keempat jurnalis yang hilang sejak Senin lalu berada dalam tahanan militer Libya, dan akan segera dibebaskan.
Hal ini diungkapkan saluran televisi Spanyol TVE1, Jumat (8/4).

Televisi tersebut mengatakan sebuah mobil yang membawa seorang wartawan foto asal Spanyol, seorang wartawan Afrika Selatan dan dua wartawan Amerika Serikat, dihentikan tentara Libya di jalan raya yang menghubungkan Kota Ajdabiya yang dikuasai pemberontak dengan kota pelabuhan, Marsa-el-Brega. Mobil tersebut kemudian dibakar dan keempat wartawan dibawa ke suatu tempat rahasia.

Insiden tersebut disaksikan oleh seorang pengawal keamanan yang menyertai wartawan New York Times dalam penugasan, yang mengendarai mobilnya di jalan itu. Informasi tentang hilangnya wartawan kemudian dikonfirmasi oleh organisasi Reporters Without Borders.

Sementara itu, proses diplomatik antara pemerintah Libya dan pihak sekutu masih berjalan. Pihak Libya juga siap melakukan gencatan senjata.

Pemerintah Libya mencoba melakukan diplomasi dengan sejumlah sekutu seperti Inggris, Amerika Serikat dan negara sekutu lainnya. Namun yang menjadi masalah, menurut sejumlah sekutu dan pemberontak, mereka menginginkan Moammar Khadafi keluar. Tapi di sisi lainnya posisi Moammar Khadafi sebagai pemimpin Libya adalah harga mati.

“Harus ada gencatan senjata. Pasukan Khadafi harus menarik diri dari kota-kota yang mereka rebut paksa dengan kekerasan. Perlu ada keputusan tentang pengunduran diri Khadafi dan kepergiannya dari Libya,” tegas Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton.

Menteri Luar Negeri Libya baru Abdullati Al-Obeidi mengemban tugas untuk menyampaikan ke dunia tentang apa yang terjadi di Libya. Menurutnya apa yang terjadi di Libya bertolak belakang dari pemberitaan media. Pihak Libya juga akan membuka diri ke tim pencari fakta internasional. (bbs/jpnn)

Komisi HAM PBB Temukan 100 Mayat di Pantai Gading

Kepung Istana Kepresidenan

ABIDJAN-Ketegangan masih menyelimuti Pantai Gading. Kemarin (8/4), pasukan Alassane Ouattara mengepung istana kepresidenan yang menjadi benteng pertahanan terakhir Laurent Gbagbo dan keluarga, serta pasukan yang loyal padanya. Bersamaan dengan itu, komisi HAM PBB menemukan sedikitnya 100 mayat di wilayah barat.

Dentum meriam dan desing peluru terus bersahutan di Kota Abidjan. Penduduk pun terpaksa mengurung diri di dalam rumah demi menghindari celaka. Padahal, persediaan makanan dan air minum sudah semakin tipis.

Pasokan listrik dan keamanan di permukiman warga pun mengalami penurunan. Tapi, pasukan Ouattara masih belum meninggalkan kompleks istana kepresidenan. Sebab, Gbagbo masih bertahan di sana.

“Kami telah memblokir seluruh akses di sekeliling istana kepresidenan, demi keamanan warga sipil,” kata Ouattara dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi nasional.
Blokade sengaja dilakukan untuk meminimalkan korban salah sasaran. Pasalnya, meski tersudut, pasukan Gbagbo masih memiliki cadangan senjata yang cukup banyak untuk membalas serangan pasukan Ouattara.

Dalam pidato pertamanya pasca pemilihan presiden (pilpres) Oktober lalu itu, Ouattara mengimbau rakyat untuk bersatu. Dengan diisolasinya istana kepresidenan dan wilayah sekitarnya, presiden terpilih yang kemenangannya diakui masyarakat internasional dan PBB itu berharap rakyat bisa kembali menjalankan aktivitas ekonominya. “Secara bertahap, jam malam akan diperlonggar,” ujarnya.

Sementara itu, Komisi HAM PBB menemukan sedikitnya 100 mayat di kawasan barat Pantai Gading. Sebagian besar diantaranya adalah mayat warga sipil. Mereka diyakini sebagai korban pembantaian.

“Tim kami yang berada di lapangan menemukan mayat-mayat itu dalam penyisiran 24 jam di tiga lokasi. Sepertinya, pembantaian ini direncanakan,” ujar Rupert Colville, jubir Komisi HAM PBB di Kota Jenewa, Swiss.

Terkait temuan itu, Ouattara berjanji akan bekerja sama dengan tim PBB untuk menyelidiki dugaan pembantaian tersebut. Meskipun, dugaan mengarah pada pasukan Ouattara. Sebab, merekalah yang sekitar sepekan terakhir melintasi jalur tersebut untuk memburu pasukan Gbagbo.  “Siapapun yang terbukti bersalah akan menerima hukuman setimpal,” serunya. (hep/rm/jpnn)

2011, Stop APBD untuk Klub Sepak Bola

JAKARTA- Niat Mendagri Gamawan Fauzi untuk menyetop pasokan dana APBD ke klub-klub sepak bola mulai 2011, sudah bulat. Dalam Pedoman Penyusunan APBD 2012 yang saat ini tengah disiapkan, larangan penggunaan APBD untuk klub sepak bola itu akan dituangkan.

Hanya saja, dalam aturan itu nantinya tidak spesifik menyebut klub sepak bola. “Pokoknya, untuk semua cabang olahraga yang profesional, tidak boleh ada dana dari APBD,” cetus Gamawan Fauzi kepada wartawan di ruang Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek, Jumat (8/4).

Seperti dipaparkan oleh Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M Jasin di gedung KPK, Jakarta, Selasa (5/4) lallu, pengucuran dana APBD untuk klub sepak bola melanggar aturan. Jika dianggap hibah, mestinya tidak dikucurkan terus-menerus. Persija, Persib, dan Persema misalnya, dari 2007, 2008, 2009, terus menerima kucuran APBD.

Faktanya, meski mendapat kucuran dari APBD, gaji para pemain di sejumlah klub sempat ngadat. Tidaklah takut disalahkan jika dana APBD distop berdampak pada amburadulnya nasib persepakbolaan di tanah air? Gamawan menjawab, tidak. Malah, dia yakin, dengan distopnya bantuan APBD, persepakbolaan akan semakin bergairah. Alasannya, dengan dihentikannya dana APBD ke klub, maka otomatis penggalian dana dari sponsor bisa lebih digenjot.

Dia membandingkan dengan Semen Padang, yang bisa hidup tanpa pasokan APBD. Padahal, lanjut mantan gubernur Sumbar itu, PT Semen Padang kalah besar dibanding perusahaan Semen Gresik.  (sam)

Video Diduga Polisi Nyabu Beredar di YouTube

BANDUNG- Aksi lipsync dan joged ala India yang dilakukan Briptu Norman Kamaru, anggota Sat Brimob Polda Gorontalo, mendapat pujian dari petinggi Polri. Tapi, saat Norman semakin populer video seorang pria yang diduga sedang mengonsumsi narkotik jenis sabu beredar di YouTube. Pengupload dalam keterangan tulisan videonya menyebut kalau pria nyabu itu polisi yang bertugas di Polres Bandung, Jawa Barat.

Ada empat video yang terpampang di YouTube. Semua gambar video dalam suasana yang sama, hanya berbeda durasinya. Masing-masing video diberi judul ‘Oknum Polisi Pecandu’ dengan dibumbui keterangan bagian 1 hingga 4. Video part 1 berdurasi 1 menit 23 detik. Terlihat pria berkaus kerah motif garis yang disebut-sebut oknum polisi ini berada di sebuah ruangan mirip kamar. Ia duduk bersila pada kasur yang direbahkan di lantai. Jendela kamar tertutup rapat, sementara sorot matahari terhalang gordyn.

Tangan kiri pria itu tampak cekatan sambil memegang benda mirip alumunium foil. Sementara tangan kanannya menggenggam botol ukuran kecil yang dilengkapi dua sedotan. Mulut pria itu meyedot sedotan ukuran panjang, sementara sedotan kecil diarahkan ke alumunium foil.

Ia hisap, lalu sesekali menghembuskan asapnya. Video itu kemungkinan diambil dari kamera handphone, pengambil gambar diduga seorang wanita. Sebab, setiap arah kamera itu bergerak terdengar suara wanita yang sedang berdialog via telepon menggunakan bahasa Sunda. Pengambil gambar terus menyorotkan kameranya ke arah pria itu. Padahal, pada awal video part 1, ada seorang pria lagi yang berada di kamar itu.

Seluruh video tersebut diunggah ke YouTube sejak 9 Oktober 2010 oleh netralish. Belum jelas kepastiannya apakah pria itu benar-benar anggota polisi. Motifnya apa juga belum diketahui. Pengunggah juga menyampaikan kalau pria itu pernah tersandung kasus perampokan. Si penggunggah dalam tulisannya berkomentar, oknum polisi tampak dalam videoa masih di pertahankan.

Kenapa pimpinan kepolisian Polres Bandung (Soreang) masih membela oknum tersebut dalam perkara perampokan/pemerasan? Bagaimana oknum tersebut tidak melakukan perampokan/pemerasan karena gajinya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya dalam mengatasi kecanduan narkotika jenis sabu-sabu. Oknum dalam video ini sebut saja ZM anggota Polrestabes Bandung (Soreang).

Kapolres Bandung, AKBP Hendro Pandowo belum mengetahui beredarnya video diduga oknum polisi Polres Bandung yang sedang menghisap sabu di YouTube. “Saya belum tahu kabar itu. Juga belum melihat videonya,” ujar Hendro. (zul/bbs/jpnn)

Rapat Senat Penjaringan Calon Rektor Unimed Ricuh

Medan – Rapat senat penjaringan calon Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) ricuh. Pengujuk rasa yang tergabung Gerakan Civitas Akademika Unimed, menerobos blokade petugas keamanan kampus dan masuk ke tempat berlangsungnya rapat senat. Aksi saling dorong tak terelakkan saat massa terus berusaha masuk ke dalam ruangan rapat untuk membubarkan pembahasan penjaringan calon rektor yang dituding cacat hukum, Jumat (8/4). Nyaris terjadi adu jotos antara pengunjuk rasa dengan petugas keamanan kampus.

Kericuhan akhirnya mereda setelah terjadi negosiasi antara kedua belah pihak. Hasil rapat senat memutuskan dilakukan penjaringan tahap kedua, setelah penjaringan tahap pertama dibatalkan. Pada penjaringan tahap pertama nama Syawal Gultom kembali muncul sebagai calon rektor Unimed periode berikutnya.

Gerakan Civitas Akademika Universitas Negeri Medan (Gertak-Unimed) menuntut agar Mendiknas menunjuk pengganti Rektor Unimed, Syawal Gultom. Pasalnya, saat ini Syawal Gultom telah diangkat oleh Mendiknas sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP PMP) Kemendiknas.

Permintaan itu disampaikan puluhan civitas akademika Universitas Negeri Medan (Unimed) yang tergabung dalam Gertak-Unimed dalam aksi damai di Depan Gedung Biro Rektor Unimed, Jumat (8/4). Saat gelaran aksi tersebut, berlangsung pula Rapat Senat Unimed di gedung tersebut dengan agenda penjadwalan pemilihan rektor.

Koordinator aksi, Safwin Rambe menegaskan, sesuai dengan peraturan maka seharusnya Mendiknas mengangkat Plt Rektor demi menjalankan tugas rektor sebelumnya yang dipromosikan menduduki jabatan lainnya. “Namun belum ada penunjukan Plt dari Mendiknas, justru yang terjadi adalah rektor lama membentuk panitia pemilihan rektor baru. Ini jelas menyalahi aturan, seharusnya diangkat dulu Plt rektor dan selanjutnya Plt tersebutlah yang membentuk panitia pemilihan rektor,” ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, diharapkan kepada Senat Unimed meminta kepada Mendiknas untuk segera mengangkat Plt Rektor beserta surat penugasan resmi kepada seluruh senat universitas untuk melaksanakan tahapan penjaringan dan penyaringan calon rektor sesuai dengan peraturan Mendiknas.

“Kita (mahasiswa) harus menolak calon rektor karbitan yang muncul hanya untuk kepentingan kelompok tertentu. Dan kita juga harus menentang segala bentuk intervensi dalam proses pemilihan rektor dari pihak manapun,” kata Safwin.

Sementara itu, Pembantu Rektor II Unimed Chairul Azmi mengatakan, meski sudah diangkat sebagai Kepala BPSDM PMP Kemendiknas, Prof Syawal Gultom masih Rektor Unimed menjelang berakhirnya masa jabatan 12 April 2011 mendatang. (saz)

Rindu Tepukan Tangan

Dalam rapat paripurna, mengenai Reformasi Imigrasi Melalui Pengesahan RUU Keimigrasian di gedung Nusantara II kompleks DPR RI, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso bertindak sebagai pemimpin sidang. Ketika sidang menyatakan menyetujui untuk mengesahkan RUU Keimigrasian itu menjadi Undang-undang. Ini merupakan momen penting karena pemberlakuan UU baru itu akan memunculkan terobosan baru.

Namun, Priyo heran karena hanya dia yang berekspresi seperti itu. Rupanya momen penting ini tidak disambut oleh anggota Dewan lainnya. Mereka masih sibuk dengan kesenangannya masing-masing.

Biasanya, begitu sebuah RUU disahkan menjadi UU, ketika itu pula tepuk tangan bergemuruh. Kali ini suasananya lain, jangankan gemuruh, suara tepuk tangan pun tidak terdengar. Tak ada sambutan tepuk tangan dari anggota Dewan. Priyo pun penasaran dan berujar, “Kok nggak ada yang tepuk tangan sih,” kata Priyo lewat microfonnya.

Kontan, anggota Dewan terperanjat oleh pernyataan Priyo itu.  Tentu saja suasana berubah menjadi meriah. Priyo pun senang, dan tugasnya memimpin sidang pun selesai. (net/jpnn)

Amrun Daulay Jadi Tersangka

Dugaan Korupsi Bansos Rp25 Miliar

JAKARTA-Anggota Komisi II DPR periode 2009-2014, Amrun Daulay akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Politisi Partai Demokrat itu saat masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Bantuan Jaminan Sosial (Dirjen Banjamsos) Depatemen Sosial. Dia diduga terlibat dalam korupsi pengadaan mesin jahit dan sarung.

Selain Amrun, KPK juga menaikkan status mantan Kepala Sub Bidang Kemitraan Usaha Departemen Sosial, Yusrizal sebagai tersangka dalam kasus pengadaan sejumlah barang di Depsos tersebut.

“Setelah melakukan pengembangan penyidikan terhadap kasus sapi impor dan mesin jahit di Departemen Sosial tahun 2004-2009, KPK menaikkan status sebagai tersangka yang pertama AD (Amrun Daulay) mantan Dirjen Banjamsos dan Y (Yusrizal) Kasubdit Kemitraan Usaha,” kata juru bicara KPK, Johan Budi dalam keterangan persnya di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (8/4).

Ia menjelaskan, saat menjadi Dirjen Banjamsos, Amrun diduga telah melakukan penyalahgunaan kewenangan sehingga menguntungkan diri sendiri dan orang lain yang akhirnya menimbulkan kerugaian negara. Sedangkan Yusrizal disebut turut membantu dilaksanakannya penunjukan langsung rekanan Depsos dalam pengadan sapi impor dan mesin jahit.

Johan menambahkan kerugian negara yang ditimbulkan atas penunjukan langsung dalam pengadaan mesin jahit dan sarung ini mencapai sekitar Rp25 miliar. Namun, menurutnya jumlah ini masih dalam perkembangan penyidikan masih bisa berubah-ubah.

Kedua tersangka ini akan dijerat dengan pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 dan atau pasa 11 UU No 31 tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
Sebelumnya nama Amrun dan Yusrizal juga telah disebut dalam dakwaan Musfar Aziz selaku Direktur PT Ladang Sutera Indonesia (PT Lasindo).

Keduanya disebut bekerja sama dengan mantan Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah dalam penunjukan perusahaan tersebut untuk pengadaan mesin jahit di Depsostahun 2004-2006.  “Kami sudah ada tim advokasi hukum, jadi Demokrat akan mengirim tim advokasi untuk mendampingi beliau, karena Demokrat selalu mengirim pengacara untuk mendampingi kadernya yang bermasalah,” kata Sekretaris Fraksi Partai Demokrat, Saan Mustopa, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/4). (net/bbs/jpnn)

Rumah Pembuat Kosmetik Palsu Digerebek

Apa-apaan Ini, Macam Nyimpan Teroris Aja…

MEDAN-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Medan menggerebek rumah pembuat kosmetik palsu di Kompleks Villa Malina milik PT Lautan Rejeki Abadi di Jalan Ring Road, Sunggal, Jumat (8/4). Daru rumah bercat biru BPOM menyita puluhan botol berbagai merek produk kecantikan yang telah dikemas dan siap untuk dipasarkan di Sumut, khususnya Medan.

Keterangan seorang petugas BPOM yang ikut menggerebek, rumah tersebut milik Johan (39). Menurutnya, petugas sudah 2 bulan memantau rumah tersebut.

Pantauan wartawan, penggerebekan berlangsung 4 jam dilakukan 8 orang petugas BPOM Medan. Seorang sekuriti Perumahan Villa Malina mengaku, rumah itu sering masuk mobil box jenis L-300. “Tiap hari bang. Kadang 3 mobil satu hari,” ujarnya.

Sayangnya, saat penggerebekan, petugas BPOM Medan tidak mengizinkan wartawan masuk ke dalam rumah yang dijadikan sebagai tempat pembuat kosmetik palsu.

Pemilik rumah, Johan juga tidak mau memberikan komentar. “Apa-apaan ini, ngapain foto-foto, macam penyimpanan teroris aja rumah ku ini,” ujarnya. Anehnya, Kasi Penindakan dan Penyidikan BPOM Medan, Gita malah mengaku tak ada melakukan penyitaan ataupun penggerebekan. “Kita tidak ada melakukan penggerebekan, apalagi menyita,” kata Gita.(fit/smg)