32 C
Medan
Friday, April 3, 2026
Home Blog Page 15638

Umat Katolik Meningkat 15 Juta Jiwa

JUMLAH umat Katolik di dunia terus meningkat. Menurut data statistik resmi terbaru yang dikeluarkan Gereja Katolik, meski jumlah umat Katolik yang dibaptis meningkat, namun ini pengecualian untuk wilayah Asia dan Afrika, seperti dilaporkan Catholic News Agency.

Data tersebut adalah salah satu isi dari laporan tahunan “The 2011 Pontifical Yearbook” yang telah disampaikan kepada Paus Benediktus XVI pekanlalu oleh Kardinal Tarcisio Bertone dan anggota dari Kantor Pusat Statistik Gereja. Buku ini berisi informasi tentang semua wilayah hukum gereja dan organisasi-organisasi, lembaga agama dan budaya dan struktur di seluruh dunia.

Dalam siaran persnya terkait buku tersebut Vatikan mengatakan bahwa dalam tahun 2010, Paus Benediktus mendirikan 10 keuskupan baru, sehingga saat ini terdapat 2.956 jumlah keuskupan dan yurisdiksi gereja di dunia.

Hal paling menonjol dari laporan buku tahunan tersebut adalah peningkatan jumlah umat Katolik yang dibaptis selama periode dua tahun yakni sekitar 1,18 miliar, atau meningkat sebesar 15 juta dari 1,16 miliar yang dilaporkan tahun sebelumnya Vatikan juga menyebutkan peningkatan jumlah imam dan uskup di dunia dari 5.002, menjadi 5.065 Uskup. Sedangkan jumlah imam dari 405.178 menjadi 410.593. peningkatan ini terjadi di beberapa tempat kecuali di Eropa.
Kendati laporan-laporan tersebut telah disampaikan ke media, namun buku “The 2011 Pontifical Yearbook” secara resmi belum dirilis oleh Vatikan Publishing House untuk umum, tetapi dalam waktu dekat akan segera diluncurkan. (ref/net)

Senggol Bus, Digilas Truk

SERGAI- Kecelakaan lalulintas kembali terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) KM 70-71, persisnya di Desa Sukadamai, Kecamatan Sei Bamban, Sabtu (26/2) pukul 06:30 WIB. Suheri (26), warga Desa Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah, Serdang Bedagai (Sergai) mengendarai sepeda motor Revo BK 3081 XAA tewas ditabrak truk BB 8494 EA.
Korban yang sehari-hari berjualan ikan emas, datang dari arah Tebing Tinggi menuju Medan. Sesampainya di lokasi kejadian, dia menyalip mobil yang kemudian menyenggol bagian belakang bus sehingga oleng dan terjatuh kesisi kanan jalan.

Saat bersamaan, dari arah berlawanan meluncur truk Cold Diesel BB 8494 EA yang dikemudikan Sahrul (30), warga Desa Cempedak Lobang, Sei Rampah. Saat kejadian, ia tidak dapat mengelak dan menabrak korban hingga Suheri tewas di tempat. Sedangkan truk yang menabraknya masuk ke parit.

Selanjutnya, Polisi Lalulintas di lokasi segera mengevakuasi korban ke Klinik Pirma dan membawa kedua kendaraan ke Pos Lantas Sei Bamban untuk pengusutan lebih lanjut.

Pengemudi truk, Sahrul kepada Sumut Pos mengatakan, dirinya sama sekali tidak  menabrak korban. Justru ia berupaya menghindari tabrakan dengan mobil Avanza yang mengambil jalur kanan.

“Waktu kejadian aku berupaya menghindari korban, sehingga banting setir ke kiri yang akhirnya masuk ke parit,” katanya ketika diperiksa di Pos Lantas Sei Bamban.(mag-15)

Dipukul Selingkuhan, Polisi Obral Peluru

MEDAN- Gara-gara bertengkar dengan selingkuhannya, Bripka Ismanto personel Satreskrim Polsekta Patumbak melepaskan tembakan ke udara. Akibatnya, warga Jalan Selambo yang tak jauh dari kejadian panik. Bahkan, seorang lansia yang menderita sakit jantung, syok mendengar suara tembakan tersebut.

Menurut informasi yang diterima wartawan koran ini, Sabtu (26/2), peristiwa ini terjadi pada Selasa (22/2) sore lalu, sekira pukul 16.00 WIB. Saat itu, Iswanto bersama selingkuhannya A bi (40) berada di rumah Pardan (50) di Jalan Selambo, Gang Bi. Tanpa sebab yang jelas keduanya terlibat pertengkaran. Karena tak sanggup menahan emosi, wanita Tionghoa itu pun langsung memukuli Iswanto.

Iswanto mencoba untuk menenangkan pacar gelapnya itu. Namun upaya itu tak berhasil. A Bi yang sudah emosi tak menghiraukan Iswanto. Akhirnya, Iswanto pun marah. Dalam keadaan dipukuli A Bi, tiba-tiba Iswanto mencabut senjata yang diselipkan di balik bajunya dan melepaskan tembakan ke udara.

Mendengar letusan pistol itu, A bi pun berhenti memukuli Iswanto dan berusaha menutupi telinganya. Pertengkaran pun terhenti. Namun, akibat letusan senjata api itu, seorang lansia yang tinggal tak jauh dari rumah Pardan sempat syok, apalagi dia menderita penyakit jantung. Beruntung, serangan jantungnya tak kumat.

“Heboh memang kemarin itu. Tapi nggak jelas ribut-ributnya gara-gara apa. Yang jelas ada orangtua yang sempat syok karena letusan senjata itu,” ungkap seorang personel Polresta Medan berinisial I berpangkat Aiptu.
Sementara A Bi saat dikonfirmasi wartawan via ponselnya enggan memberikan keterangan. “Sudahlah, aku kan nggak keberatan. Ngapain lagi dipermasalahkan,” tegasnya sembari menutup telepon.

Sementara, Kasi Propam/P3D Polresta Medan AKP Beno Sidabutar membenarkan peristiwa itu. “Memang ada, tapi kasusnya masih ditangani Polsek Patumbak. Namun, hingga kini tidak ada yang merasa keberetan atas kejadian itu. Tak ada yang membuat LP,” tegasnya.(mag-8)

Jadi Sahabat dan Motivator

Modernitas memang memaksa orang bergerak cepat, atau tertinggal. Rutinitas yang senantiasa bergerak cepat berpengaruh terhadap keluarga yang kemudian menjadikan komunikasi orangtua dan anak
semakin berjarak. Faktanya, hal ini sering dialami para ibu rumah tangga yang bekerja atau ibu rumah tangga sebagai wanita karir.

Tapi itu tak terjadi pada ibu rumah tangga sebagai wanita karir satu ini, Roslinda Marpaung, anggota DPRD Sumut dari Partai PPRN. Baginya, menjadi wanita karir bukan berarti penghalang menjadi ibu rumah tangga yang begitu perhatian dalam mendidik anak-anaknya.

“Sebenarnya, pertumbuhan dan perkembangan anak tidak tergantung atau tidak ada hubungannya antara menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir, tetapi lebih kepada cara mendidiknya. Banyak ibu rumah tangga yang gagal mendidik anaknya, di lain pihak, banyak juga wanita karir yang sukses dalam mendidik anak-anaknya,” ujar anak dari Prof Dr Boloni yang mendirikan RS Boloni di Jalan Mongonsidi Medan ini.

Dikatakan wanita kelahiran 3 Agustus 1969 ini, pilihan menjadi wanita karir adalah sebuah pilihan untuk menjadi wanita super, sukses sebagai diri sendiri, istri, ibu, dan sukses juga sebagai ibu wanita karir.

“Nah, di sinilah letaknya peran si ibu karir dalam mendidik dan memperhatikan perkembangan anaknya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap memberikan perhatian kepada anak meski si ibu sesibuk apapun. Jangan malah lupa memberikan perhatian kepada anak karena kesibukan si ibu. Kasihan kan anak jadinya,” kata anak keempat dari lima bersaudara ini.

Wanita yang akrab disapa dengan nama Linda ini mengaku, ia tak hanya berperan sebagai ibu saja bagi anak-anaknya, tapi juga menjadi teman bagi anaknya. “Ini untuk menjalin hubungan saya bersama dengan anak-anak menjadi menyenangkan. Jadi, anak-anak selalu terbuka komunikasinya kepada saya tentang apapun. Tentang pacarnya atau sahabat-sahabatnya, tentang apapun,” aku ibu dari empat anaknya ini.

Kata wanita berkulit putih dan bertubuh langsing ini, kualitas hubungan dan komunikasi yang diberikan ibu pada anak akan menentukan kualitas kepribadian dan moral si anak. “Hubungan yang penuh akrab dan bentuk komunikasi dua arah antara anak dan orang tua merupakan kunci dalam pendidikan moral keluarga. Komunikasi yang saya lakukan adalah komunikasi yang bersifat integrative yang suka mendengarkan pembicaraan anak daripada menguasai pembicaraan saat ngobrol. Ini agar suasananya lebih mengalir,” kata dia.

Bahkan, untuk menjalin kualitas hubungan bersama anak atau keluarganya, Linda selalu memanfaatkan moment weekend bersama anak-anaknya. “Kadang kita kumpul di rumah, kadang pergi bersama. Pokoknya memanfaatkan moment weekend sebaik-baiknya bersama anak-anak saya,” tuturnya.

Lalu, sebagai ibu dari  empat anak, Linda berupaya memberikan motivator bersifat mendorong, penuh penghargaan dan perhatian kepada anak-anaknya. Sebab, ini demi meningkatkan kualitas karakter dan moral anak.

“Dalam membentuk moral anak melalui pendidikan keluarga, saya menjaga kualitas hubungan dan komunikasi, yaitu hubungan dan komunikasi yang ramah tamah dengan suasana demokrasi. Saya tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak. Semuanya dibicarakan secara demokrasi bersama-sama,” kata istri dari Candra Panggabean ini.
Walau orang tua harus bersikap ramah dan menerapkan demokrasi pada keluarga, kata Linda, bukan berarti menunjukan karakter yang lemah dan suka mengalah. “Dalam membuat keputusan, orang tua tetap bersifat demokratis tetapi tegas dan jelas. Sebab orang tua yang tidak tegas dan mudah mengalah pada anak akan membuat anak bermental plin-plan,” bilangnya.

Dalam menentukan pilihan pendidikan, Linda bersama suami juga tak mau memaksakan kehendak mereka kepada anak. Begitu juga saat anak pertamanya meminta menimba ilmu ke Inggris dan anak keduanya meminta menimba ilmu ke Malaysia, Linda dan suami tidak melarangnya, bahkan menjadi motivator dan mendukungnya. “Keempat anak saya semuanya laki-laki. Saat ini anak pertama saya menimba ilmu di Inggris, anak kedua saya juga menimba ilmu ke Malaysia. Walau berjauhan, saya rutin memantau perkembangan anak saya melalui komunikasi dan mengunjungi mereka ” bilangnya.

Tapi paling penting bagi Linda, mendidik anaknya dengan moral agama. Sebab, agama mampu membentengi anak dari pengaruh negatif di era moderen ini.  (laila azizah)

 

Pedagang Simpang Limun Nyaris Bentrok

MEDAN- Para pedagang Pasar Ikan Simpang Limun nyaris bentrok dengan petugas keamanan PT Inatex, Sabtu (26/2) siang pukul 14.00 WIB. Hal ini dipicu aksi petugas keamanan PT Inatex yang ingin membongkar katrol bongkar muat ikan.

Wartawan Posmetro Medan (grup Sumut Pos) yang mendapat informasi langsung turun ke lokasi. Namun, setibanya di lokasi, ternyata bentrokan yang diinformasikan tidak sempat terjadi.

“Bentrokan tidak sempat terjadi, tapi nyaris terjadi,” kata Ketua Persatuan Pedagang Pasar Tradisional (P3T) Rusli Tanjung. Disebutkannya, pihak kemananan PT Inatex yang menurut para pedagang diperbantukan dari TNI dan polisi hendak merobohkan katrol bongkar muat ikan. Namun, petugas keamanan perusahaan dihadang para pedagang dan SPSI. Untungnya, emosi para pedagang dan SPSI dapat dibendung ketuanya masing-masing. Kemudian dilakukan negosiaisi, sehingga bentrok dapat dihindari.(gus/smg)

Pelajaran dari Petani Jagung

James Bender, dalam bukunya How to Talk Well (New York; McGray-Hill Book Company, Inc., 1994) menghubungkan salah satu tulisannya dengan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan selalu memenangkan penghargaan.

Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal mewawancarainya dan belajar sesuatu yang penting rahasia sukses petani tersebut. Wartawan itu menemukan bahwa sang petani membagikan benih jagungnya kepada tetangganya. “Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama tiap tahunnya?” tanya wartawan itu.

“Kenapa?” ucap sang petani, “Apakah Anda tidak tahu? Angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka ketika terjadi serbuk silang akan menurunkan kualitas jagung saya. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula.”

Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.

Demikian juga dalam berbagai aspek kehidupan yang lain. Mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya. Jika Anda ingin hidup makmur, Anda harus memulai dengan menolong orang-orang di sekitar Anda untuk meningkatkan taraf hidupnya. Demikian juga jika Anda ingin bahagia, Anda harus menabur kebahagiaan dalam hidup orang lain. Jika Anda tidak mau menolong orang, Anda juga akan merasakan akibatnya.(hns/jc)

Korban Salah Tangkap Ngadu ke Kapolri

MEDAN- Tak puas dengan kinerja aparat Kepolisian Sumatera Utara (Poldasu), korban salah tangkap kepemilikan sabu-sabu, Yulinar Hadi Yanti alias Nindi (30), warga Jalan Starban Gang Garuda, Medan Polonia mengadu ke Kapolri.

“Kami telah melayangkan surat ke Kapolri di Jakarta, dan sangat berharap kepada Kapolri untuk dapat menindak secara tegas terhadap oknum kepolisian yang terlibat dalam masalah klien kami tanpa terkecuali siapapun juga,” ucap Penasehat Hukum Nindi, Hasbi Sitorus kepada Sumut Pos di Pengadilan Negeri Medan, Sabtu (26/2).

Menurutnya, langkah tersebut diambil setelah Poldasu terkesan lamban dan membela jajarannya. “Terkesan kasus ini tidak dihargai. Apabila Kapoldasu dan Kapolri tidak konsen dalam permasalahan ini, akan menambah daftar panjang kebobrokan aparat kepolisian,” ujarnya lagi. Sebagai bukti keseriusannya sebagai kuasa hukum Nindi, korban salah tangkap, Hasbi tak akan pernah berhenti untuk memperjuangkan hak-hak kliennya sampai ada titik temu dari permasalahan tersebut.(rud)

 

Nanya Botol Minuman, Penjaga Warnet Dipukuli

MEDAN- Seorang penjaga warnet Raymond Aditama Turnip (21), babak belur dipukuli Monang (33), pelanggannya sendiri. Masalahnya sepele. Raymond hanya menanyakan tentang botol minuman ringan yang dipesan Monang.
Saat itu, Raymond penjaga Warnet X-Sun di Jalan Matahari Raya, Perumnas Helvetia, bekerja seperti biasanya. Tak lama, Monang keluar dari bilik tempatnya bermain internet menuju meja opeator. Monang menanyakan biayanya bermain internet. Raymond lalu mengingatkan botol minuman ringan yang sebelumnya dipesan Monang. Tapi entah mengapa, Monang langsung emosi. Ia lalu memaki Raymond.

Tak cuma itu, Monang melemparkan kemasan air mineral ke arah Raymond. Tak puas, Monang pun memukuli pria berambut keriting tersebut. Akibatnya, mata kanan Raymond bengkak dan membiru. Bibir bawahnya juga pecah. “Entah kenapa dia ngamuk. Padahal, aku cuma nanya botol minuman yang dipesannya,” kata Raymond. (mag-8)

Purnama Ketujuh

Cerpen :  Afriyanti

Kubiarkan malam yang pucat gelisah. Lolongan anjing menambah semarak misteriusnya kelam. Kepada malam buta yang menciptakan gerimis. Kepada tangis yang tidak akan merubah keadaan. Di tempat ini, tak ada yang dapat dilakukan selain menunggu kedalaman waktu yang beku. Angin laut menemani gadis itu. Dingin. Wajah yang ditunggu gadis itu, belum juga naik kepermukaan. Bibirnya masih bergetar sambil meniup kedua telapak tangan.

 

Matahari mulai menyembul malu-malu. “Abah pasti kembali,” bisik gadis itu. Ia  masih berjalan mondar-mandir dan sesekali menjengah kepalanya ke arah lautan lepas itu.

Kota yang terkenal dengan kota ikan terubuk itu, tak lagi dapat merasakan nikmatnya daging terubuk yang enak. Dulu sewaktu Datok Laksamana Raja Dilaut masih hidup, daging ikan terubuk berjejer di pasaran. Sekarang, untuk melihat rupa ikan terubuk itu saja sudah susah, apalagi untuk membelinya.   Datok cukup memasukan kakinya ke dalam air, dan ikan-ikan terubuk akan menyerbu kakinya.

Waktu berganti. Hari demi hari bergulir. Sudah tiga kelam, gadis itu menunggu Abahnya. Ia selalu menunggu sampai saat itu tiba. Saat di mana abahnya pulang dengan genggaman ikan terubuk di tangannya. Bukankah cinta perempuan itu cinta yang menunggu?

Desir ombak pantai memukul, tapi hati gadis itu tak pernah terpukul. Ia akan selalu menunggu hingga purnama kembali membawa abahnya.

Hari itu, wajah gadis berparas molek itu lesu. Termenung karena baru saja dapat kabar dari teman abahnya. Tetapi, gadis itu tak pernah mengalah dengan sang waktu. “Abahmu ditelan ombak yang ganas.” Dengus kalimat yang keluar dari mulut teman Abahnya.

“Aku akan tetap menunggumu, Abah!” ia membibirkan kata hatinya. Disertai kicauan burung camar yang menikmati senja. Ia menunggu Abahnya pada sebilah petang. Pagi harinya ia bekerja demi seorang keriput tua yang terbaring lesu di kasur.

Petang hingga rembulan datang, ia menunggu abahnya. Di tangan kanannya ia membawa jahitan baju untuk abahnya. Ia ingin menunjukkan betapa rapinya jahitan baju yang ia rangkai dengan hati dan air matanya.

“Abaaah! Pulanglah!” Dengan air mata ia menatap rembulan di atas lautan itu. Saat renyai hujan mulai turun, ia mendengar bisikan dari arah laut.

Aku heran. Begitu cintanya gadis itu kepada abahnya. Padahal abahnya bukan seorang yang baik. Ia selalu disiksa, terkadang ia ditendang hingga babak-belur. Ia tak pernah memberontak apalagi meneteskan air matanya. Yang ia tahu, abah sangat sayang kepadanya. Ia dipukul bahkan dicaci-maki, mungkin karena ia membuat abah kesal dan kecewa.

Malam kian meninggi dan sunyi. Renyai hujan masih saja membasahi wajah molek gadis itu. Aku mengepakkan sayap hitam meninggalkan gadis itu. Ia pun meninggalkan purnama dan kembali ke gubuk reot milik ia dan abah.
Purnama kelima, ia kembali lagi. Kini ia datang dengan membawa payung biru. Malam ini hujan begitu deras hingga merenggut purnama untuk keluar menemaninya. Di atas pelabuhan kayu, ia tegak menengok lautan lepas. “Begitu bahagiakah di negeri terubuk itu, Abah? Sehingga tidak ingat untuk balik?”

Abahnya seorang nelayan. Sebelum ia pergi, ia bercerita tentang mimpinya melihat negeri ikan terubuk di lautan seberang. Ia nekat untuk pergi walupun angin laut tidak bersahabat malam itu. Ikan terubuk paling mahal saat ini. Ia ingin menangkapnya supaya dapat membelikan bunga untuk isteri tercintanya. Ia ingin menjenguk isterinya sambil membawa bunga lili kuning. Walaupun ia sudah berbeda dunia dengan kekasih hatinya itu.

Ketukan hujan begitu menyayat relung. Kayu-kayu bakau juga merintih melihatnya. Gadis itu mendendangkan lagu sumbang tarian ta bale-bale. Sambil menarikan gerakan-gerakan pemanggil ikan terubuk itu. Berharap ikan terubuk akan datang menemuinya pada purnama ini. Dan membawa Abahnya kembali. Mungkin, ia belum mendengar lagu-lagu sumbang gadis itu. Ia pun pulang dalam bisu.

“Kemarilah,” ungkap seorang perempuan tua yang sudah uzur ditelan waktu.
Gadis itu mendekatinya.

“Ambillah ajimat ini. Jika sudah tujuh purnama engkau menunggu abah, dayunglah sampan hingga ke tengah lautan. Dendangkanlah lagu-lagu ini. Iringi dengan biola tua milik kakekmu itu.” Sambil menunjuk ke arah biola tua yang tersangkut di dinding rapuh rumahnya itu.

Gadis itu menuruti tanpa ada kalimatpun keluar dari bibir tipisnya.

Hari ini, purnama ketujuh. Seperti biasa ia ke pelabuhan kayu tempat berlabuhnya sampan-sampan nelayan usai menjaring ikan. Ia turun ke sampan dan perlahan-lahan mendayung hingga ke tengah lautan. Ia mendengar bisik laut dan angin yang bercerita tentang cinta dan sayangnya terhadap abah.

Percakapan akan kegilaannya mendayung sampan seorang diri ke tengah lautan. Semua tidak dihiraukan. Ia tahu abah sangat sayang padanya. Abah sering menyiksanya ia mafhum karena ia adalah pembunuh kekasih abah yaitu emaknya. Emaknya meninggal semenit setelah mencium kening gadis itu setelah ia dilahirkan.
Di tengah laut, pembatas lautan lepas ia berhenti mendayung. Ia menggesekkan biola pemberian neneknya. Lamat-lamat tersayat memilukan alunan sendu yang keluar dari dawai biola itu.
Dalam pekik hati ia bibirkan. “Sudah purnama ketujuh, pulanglah Abah! Tidakkah kau mendengar rerindu dari laguku?”

***

SGS Juara Superliga Bulu Tangkis

SUARABAYA-Tim putra SGS PLN Bandung tidak terbendung untuk merebut gelar juara Superliga Badminton Indonesia 2011, setelah mengalahkan juara bertahan Jaya Raya Suryanaga 3-2 pada laga final di DBL Arena Surabaya, Sabtu (26/2).

Mantan pemain pelatnas Tommy Sugiarto yang turun sebagai tunggal ketiga, menjadi pahlawan SGS melalui kemenangan telak 21-3, 21-12 atas Alrie Guna Dharma pada pertandingan di partai penentuan.
Dua angka lainnya dibukukan pebulu tangkis nomor satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei, dan juara Olimpiade Taufik Hidayat.

Chong Wei menundukkan pemain asal Hong Kong, Chan Yan Kit, dengan dua gim langsung 22-20, 21-16, sementara Taufik Hidayat membekuk Fauzi Adnan 21-16, 23-21.

Sementara itu, Suryanaga seperti target semula mampu mengamankan angka dari dua nomor ganda yakni melalui pasangan Alvent Yulianto/Tri Kusharyanto dan Rian Agung/Tri Kusuma Wardhana.
Sebagai juara, SGS PLN Bandung berhak menerima piala dan hadiah uang sebesar Rp350 juta, sedangkan Suryanaga harus puas mengantongi Rp200 juta.

Sebelumnya, pada perebutan posisi ketiga, Djarum Kudus sukses mengatasi Tangkas Alfamart Jakarta dengan skor 3-2. (net/jpnn)