25 C
Medan
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 41

Ketua Tim Posyandu Dairi Tinjau Posyandu Melati

SERAHKAN: Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Dairi, Rita Puspita Situmorang didampingi Wakil Ketua, Sri Dewi Manik, menyerahkan bantuan sarana.
SERAHKAN: Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Dairi, Rita Puspita Situmorang didampingi Wakil Ketua, Sri Dewi Manik, menyerahkan bantuan sarana.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Dairi, Rita Puspita Situmorang, didampingi Wakil Ketua Sri Dewi Manik, melakukan kunjungan kerja ke Posyandu Melati di Dusun V Lae Meang, Desa Lae Nuaha, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, Jumat (13/2).

Kunjungan ini bertujuan untuk memantau pelayanan posyandu sekaligus menyerahkan bantuan mobiler dan sarana Posyandu berupa meja, kursi, tenda, dan alat edukasi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

“Posyandu adalah ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa. Keberhasilan Posyandu sangat bergantung pada semangat kadernya. Saya mengapresiasi kerja keras seluruh kader yang tidak kenal lelah mengabdi demi kesehatan masyarakat,” ujar Rita Puspita.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Pembina Posyandu menekankan pentingnya pelayanan bagi ibu hamil, balita, dan lansia, sekaligus memaksimalkan posyandu sebagai pusat edukasi gizi untuk mendukung program pemerintah dalam penurunan angka stunting di Dairi.

Kegiatan kunjungan kerja ini juga dihadiri Camat Siempat Nempu Hulu, Koko Angkat, Kepala Desa Lae Nuaha, Riduan Hasbi Sagala, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Imelda Purba, serta jajaran terkait lainnya, menandai komitmen TP PKK Kabupaten Dairi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. (rud/ila)

Wakil Ketua DPRD Sumut Sambut Komitmen TPID, Minta Kawal Stabilitas Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri

MEDAN, SumutPos.co- Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Salman Alfarisi menyambut positif kesepakatan komitmen tindak lanjut yang dihasilkan dalam high level meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sumatera Utara Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) di Aula Raja Inal Siregar Kantor Gubernur Sumut, Jumat (6/2/2026) lalu.

Menurut Salman, kesepakatan tersebut menjadi langkah penting karena secara tegas menekankan perlunya peningkatan frekuensi dan efektivitas pengendalian pasokan serta keterjangkauan harga komoditas pangan strategis menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.

“Tentu kita menyambut baik komitmen yang disepakati dalam forum TPID ini. Terutama poin-poin yang menekankan penguatan pengendalian pasokan dan stabilisasi harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Ini momentum yang selalu sensitif terhadap gejolak harga,” ujar Salman kepada awak media usai kegiatan.

Salman menilai, kesepakatan tersebut sangat relevan mengingat tren inflasi dalam beberapa bulan terakhir masih menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, inflasi year-on-year (y-on-y) Sumut pada November 2025 tercatat sekitar 3,96 persen, meningkat pada Desember 2025 yang berada di kisaran 4,66–4,97 persen, kemudian menurun namun tetap tinggi pada Januari 2026 yang tercatat sekitar 3,81 persen.

Sementara itu, inflasi year-on-year di Kota Medan pada Januari 2026 tercatat sekitar 3,70 persen, yang menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa pada pusat konsumsi terbesar di Sumatera Utara. “Kita tidak bisa menutup mata, dalam tiga bulan terakhir inflasi di Sumut masih berada pada level yang relatif tinggi. Terutama komoditas pangan dan kebutuhan pokok. Situasi ini pasti akan semakin terasa menjelang Idul Fitri ketika permintaan meningkat tajam,” tegasnya.

Penguatan Bulog dan Kerja Sama Pelaku Usaha Harus Nyata

Salman juga menilai komitmen penugasan Bulog untuk menambah pasokan daging sapi/kerbau, serta kerja sama dengan produsen daging ayam dan telur merupakan langkah strategis dan tepat waktu. Menurutnya, intervensi pasokan merupakan salah satu kunci agar lonjakan harga pangan tidak membebani masyarakat.

“Komitmen penguatan Bulog dan kerja sama dengan pelaku usaha jangan hanya jadi formalitas rapat. Ini harus menjadi langkah nyata di lapangan untuk mengendalikan harga pangan yang selama ini paling besar memberi tekanan inflasi, apalagi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri,” kata Salman.

Early Warning System dan Sinergi TPID–Satgas Pangan Harus Diperkuat

Dalam kesempatan itu, Salman juga mengapresiasi poin kesepakatan yang menekankan penguatan Early Warning System (EWS) dan sinergi antara TPID dengan Satgas Pangan. Ia menilai sistem monitoring harga dan distribusi harus berjalan secara rutin, termasuk memperkuat respons cepat apabila terjadi gejolak harga di pasar tradisional maupun pasar modern.

“Tanpa sistem monitoring yang kuat, tanpa deteksi dini dan respon cepat, kabupaten/kota akan kesulitan menahan lonjakan harga. Karena itu Early Warning System harus benar-benar dipakai, bukan sekadar istilah,” ujarnya.

Launching Roadmap Harus Diikuti Eksekusi, Bukan Seremonial

Salman juga menekankan bahwa launching Peta Jalan (Roadmap) Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Sumatera Utara 2025–2027 harus diikuti dengan implementasi program yang terukur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan seluruh stakeholder. “Kita menyambut baik Roadmap ini. Tapi jangan berhenti pada launching. Roadmap harus diterjemahkan dalam program nyata, indikator yang terukur, serta penganggaran yang disiplin. Jangan sampai hanya seremonial,” tegasnya.

DPRD Siap Kawal Agar Komitmen Tidak Berhenti di Atas Kertas

Salman menegaskan DPRD Sumut akan terus mengawal agar seluruh rencana aksi pengendalian inflasi yang disepakati lintas sektor benar-benar dijalankan, terutama dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok. Menurutnya, pengendalian inflasi bukan hanya persoalan angka statistik, tetapi menyangkut langsung kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Kita sedang menghadapi situasi di mana tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang. Karena itu komitmen ini harus dijalankan dengan koordinasi kuat antara pemerintah daerah, Bulog, Bank Indonesia, Satgas Pangan, hingga pelaku pasar. Pengamanan harga kebutuhan pokok bukan sekadar data, tapi soal daya beli rakyat Sumut menjelang Idul Fitri 2026,” pungkas Salman. (adz)

Keberadaan Tiang Rig di Perairan Pangkalansusu Rusak Kapal dan Ancam Nyawa Nelayan

TIANG: Keberadaan tiang rig di perairan laut Pangkalansusu, Langkat, yang ancam keselamatan nelayan.(Istimewa/Sumut Pos)
TIANG: Keberadaan tiang rig di perairan laut Pangkalansusu, Langkat, yang ancam keselamatan nelayan.(Istimewa/Sumut Pos)

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Perairan Pangkalansusu, Langkat, kembali menelan korban setelah tiang rig yang tertancap di jalur kapal nelayan merusak kapal milik Zulkifli, seorang nelayan berdomisili di Kelurahan Berasbasah. Peristiwa ini terjadi pada malam hari, dan bukan kali pertama terjadi di lokasi yang sama.

Menurut Zulkifli, kapalnya hancur setelah menabrak tiang rig, dan ia harus berjuang bertahan hidup di tengah laut selama tujuh jam, dari pukul 22.00 WIB hingga 05.00 WIB, sebelum akhirnya bisa lepas dari bahaya. “Kurang lebih dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi, kapal baru bisa lepas dari situ,” ungkapnya.

Zulkifli menambahkan, ada sekitar sembilan tiang rig yang tersebar di jalur keluar masuk kapal nelayan dan boat sewa. Banyak rekan nelayannya juga mengalami kerusakan kapal akibat benturan dengan tiang-tiang besi raksasa tersebut. “Bukan saya saja, ada sekitar 10 kapal nelayan rusak. Bahkan ada yang kepalanya copot, ada juga yang karam,” katanya.

Masalah utama yang memicu kecelakaan berulang, menurut nelayan, adalah tidak adanya lampu penerangan dan rambu-rambu di lokasi pengeboran. “Kalau malam hari saat cuaca buruk, tiang tersebut tidak terlihat sama sekali. Itu sangat membahayakan,” jelasnya.
Para nelayan berharap perusahaan migas terkait dapat memasang lampu navigasi dan rambu peringatan agar tidak terjadi korban lain.

Zulkifli menegaskan, laporan ini disampaikan demi keselamatan bersama, meski banyak rekannya yang enggan melapor karena takut terkena prosedur hukum laut.

Menanggapi hal ini, Humas PT Pertamina, Wahyu, menyatakan tiang rig yang menyebabkan kerusakan kapal bukan milik Pertamina. “Sepertinya tidak ada kewenangan saya menyikapi permasalahan ini. Memang ada tiga perusahaan migas di Langkat, salah satunya PT EMP. Jadi ini bukan di bawah naungan Pertamina,” jelasnya.

Hingga saat ini, nelayan masih harus melaut di malam hari dengan rasa was-was demi mencari nafkah keluarga. Mereka berharap pihak berwenang dan perusahaan terkait segera menyediakan lampu navigasi dan pengamanan tiang rig untuk mencegah kecelakaan berikutnya. (ted/ila)

Pantau Hilal di OIF UMSU, Rico Waas Ajak Warga Medan Menghormati Perbedaan Awal Puasa

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Wass saat mantau hilal.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Wass saat mantau hilal.

MEDAN – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, Pemko Medan bekerjasama dengan Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU menggelar Rukyatul Hilal penentuan awal Ramadan 1447H/2026 M.

Pemantauan hilal awal Ramadan itu dilakukan langsung oleh Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama tokoh agama dan alim ulama kota Medan di lantai 7 Laboratorium OIF UMSU, jalan Denai, Selasa (17/2/2026).

Dalam sambutannya, Rico Waas menekankan bahwa potensi perbedaan waktu mulainya awal puasa tidak boleh menjadi pemicu perpecahan. Sebaliknya, justru harus dipandang sebagai kekayaan perspektif dalam beragama.

“Kita sudah berpuluh-puluh tahun hidup dalam saling pengertian. Mau mulainya barengan atau berbeda kita tetap saling menghormati sebagai satu bangsa Indonesia yang saling menyayangi dan menguatkan,” kata Rico Waas.

Maka dari itu, Rico Waas mengimbau agar energi masyarakat tidak habis hanya untuk memperdebatkan masalah teknis penanggalan. Fokus utama seharusnya dialihkan pada persiapan mental dan spiritual dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan perbedaan hingga kualitas ibadah kita justru berkurang,” ujar Rico Waas.

Selain membahas persiapan Ramadan, Rico Waas juga memberikan apresiasi tinggi kepada UMSU yang memiliki fasilitas observatorium kelas dunia. OIF UMSU disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik dan menjadi kebanggaan warga Medan dalam pengembangan ilmu falak di Indonesia.

Sementara itu, berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia, pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut berbeda dengan penetapan PP Muhammadiyah yang lebih dahulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan Impun Siregar, Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum, Rektor UMSU Agussani, pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemko Medan serta ormas keislaman. (map/ila)

Eks Gudang PTPN II Kini Jadi Kawasan Modern dan Produktif

MEDAN, SumutPos.co– Eks gudang PTPN II di kawasan Simpang Helvetia Pasar V, Jalan Kapten Sumarsono, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Deli Serdang, kini berubah menjadi kawasan bisnis dan perumahan modern bernama CiputraLand Helvetia.

Kawasan tersebut kini dipenuhi berbagai tenant seperti Indomaret, restoran makanan Jepang, Kopi Kenangan, Fore Coffee, toko sepeda listrik Pacific dan U-Winfly, restoran ayam khas Arab, Juragan Seblak, serta gerai Eraphone.

Aris, warga Helvetia menyebut, kawasan tersebut menjadi tempat favorit untuk bertemu rekan kerja. “Saya sering ke tempat ini. Selain dekat dari rumah, beberapa mitra kerja juga sering bertemu di Ciputra Land. Di sini lumayan lengkap, ada kopi, dan jajanan makanan, serta swalayan, Indomaret,” ujarnya.

“Jadi teman-teman saya juga sering ke sini, kalau saya sore lebih nyaman lagi, semilir anginnya juga segar, meski di pinggir jalan,” imbuhnya.

Anissa, warga Tanjung Mulia, Medan Deli, juga memanfaatkan kawasan tersebut untuk berkumpul bersama teman. “Di sini dekat rumah, dan estetik untuk foto-foto sama kawan,” katanya.

Selain menjadi pusat aktivitas baru, kawasan ini juga membuka ratusan peluang kerja di sektor ritel dan kuliner. Pengamat Ekonomi Pembangunan Sumatera Utara DR Pangeran SE MSP menilai, perubahan ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah. “Setiap tahunnya terjadi pertambahan penduduk, sedangkan tanah tidak akan bertambah, maka hukumnya adalah kawasan tanah kosong akan dibangun menjadi kawasan bisnis serta perumahan,” terangnya.

Saat terlaksananya pembangunan, lanjut Pangeran, seharusnya multiplayer efeknya adalah tumbuh nilai perdagangannya sebagai entitas bisnis, dan terbukanya lapangan kerja. “Saya yakin juga terjadi pertambahan pendapatan pemerintah dari pajak yang diperoleh dari setiap perdagangan di pusat bisnis Ciputra Land Helvetia. Inilah yang dinamakan ekonomi pertumbuhan, dari setiap pembangunan memiliki dampak luas,” pungkas Pangeran. (adz)

Senator M Nuh Ajak Masyarakat Jaga Danau Toba dengan Menanam Pohon

Anggota DPD RI KH Muhammad Nuh menanam pohon di pinggiran Danau Toba, tepatnya di Lombang Nabagas, Desa Huta Ginjang, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Senin (16/2/2026).
Anggota DPD RI KH Muhammad Nuh menanam pohon di pinggiran Danau Toba, tepatnya di Lombang Nabagas, Desa Huta Ginjang, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Senin (16/2/2026).

SAMOSIR, SumutPos.co– Anggota DPD RI asal Sumatera Utara, KH Muhammad Nuh MSP, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kelestarian Danau Toba sebagai wujud syukur atas kekayaan alam danau vulkanik terbesar di dunia tersebut. Ajakan ini disampaikan dalam aksi penanaman pohon bersama di Lombang Nabagas, Desa Huta Ginjang, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Senin (16/2/2026).

Kegiatan yang diprakarsai Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Park ini menjadi momentum penting dalam mempertahankan predikat internasional Danau Toba. “Danau Toba adalah karunia Tuhan yang tercipta dari letusan dahsyat 74.000 tahun silam. Sebagai bentuk kesyukuran, mari kita hijaukan kembali kawasan ini. Menanam pohon adalah langkah nyata menjaga warisan dunia ini,” ujar M. Nuh di sela-sela aksi penanaman.

Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Nuh yang juga menjabat sebagai Ketua Persis Sumatera Utara, mengenang kembali perjuangan panjang memulihkan citra Geopark Toba. Ia mengingatkan saat Danau Toba sempat menerima peringatan “lampu kuning” (Yellow Card) dari UNESCO pada evaluasi di Maroko, September 2023 lalu.

Merespons kondisi kritis tersebut, Nuh bergerak cepat menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) di Kantor DPD RI Medan pada Oktober 2023 untuk menyinergikan seluruh pemangku kepentingan. “Alhamdulillah, kerja keras kolektif itu membuahkan hasil. Pada Konferensi Global Geopark Network di Chile, September 2025, Danau Toba resmi kembali meraih status Green Card. Keberhasilan ini adalah buah sinergi antara pemerintah daerah, pengelola, dan masyarakat,” tambahnya.

Aksi lingkungan ini turut dihadiri tokoh-tokoh penting, di antaranya Ketua Komite II DPD RI Dr. Badikenita Sitepu, General Manager Caldera Toba Geopark Dr. Azizul Kholis, serta aktivis lingkungan kawakan Dr. Wilmar Simanjorang. Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, SE, MM, beserta para pencinta lingkungan juga tampak hadir memberikan dukungan penuh.

Kehadiran para tokoh ini mempertegas komitmen bersama bahwa menjaga kelestarian Kaldera Toba bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab moral seluruh warga Sumatera Utara.

Senator M. Nuh menutup pernyataannya dengan memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan semua pihak yang konsisten menjaga ekosistem Danau Toba agar tetap diakui dunia. (adz)

Sapa Warga di Bantaran Sungai Babura, Rico Waas Tegaskan Komitmen Respons Cepat dan Tepat Sasaran

SUSUR SUNGAI: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Wass menaiki perahu karet untuk susur sungai Babura.
SUSUR SUNGAI: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Wass menaiki perahu karet untuk susur sungai Babura.

MEDAN – Program gotong royong dan sapa warga yang digagas Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas kembali digelar, di Taman Beringin, Sabtu (14/2/2026) pagi.

Sebelum menyapa warga kegiatan ini diawali dengan gotong royong massal di seputaran sungai Babura mulai dari jembatan jalan Mogonsidi hingga bantaran sungai Taman Beringin.

Berbeda dengan biasanya Wali Kota Medan Rico Waas meninjau gotong royong dengan menggunakan perahu karet.

Peninjauan itu dilakukan untuk melihat langsung kondisi sungai sekaligus memastikan titik-titik yang berpotensi menimbulkan persoalan, terutama pasca banjir yang sempat melanda beberapa waktu lalu.

Usai menyusuri sungai dan meninjau gotong royong, Rico Waas melakukan kegiatan sapa warga dan membuka sesi dialog terbuka. Sapa warga ini menjadi ruang dialog langsung antara pemimpin dan masyarakat.

“Kita berkeliling ke kecamatan-kecamatan untuk gotong royong bersama dan sapa warga. Fungsinya menyerap aspirasi secara langsung. Kita duduk, tanya jawab, apa kira-kira harapan Bapak dan Ibu sekalian, apapun itu kita serap,” kata Rico Waas.

Dalam sapa warga tersebut, hadir Anggota DPRD Medan Iswanda Nanda Ramli dan Rizki Lubis, unsur Forkopimda dan jajaran Pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemko Medan.

Salah seorang warga Kelurahan Anggrung, Hutahean, ketika sesi dialog terbuka mengatakan warga mengeluhkan pohon tumbang di sekitar sungai Babura, tepatnya di belakang Gereja Elim.

“Pohon tumbang yang sudah terjadi berbulan-bulan tersebut sampai saat ini belum diangkat sehingga menyebabkan penumpukan sampah dan bisa berakibat banjir. Kami mohon Pak Wali untuk dapat dinas terkait membereskan persoalan tersebut,” pinta seorang warga.

Selain itu, Rehana warga lainnya juga menyampaikan keluhannya dengan meminta perbaikan jalan rusak di kawasan Teuku Umar, belakang Sun Plaza hingga tembus ke Pasar Muara Takus. “Jalan tersebut rusak Pak Wali, kami mohon diperbaiki,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rico Waas mengatakan bahwa keluhan dari warga telah dicatat dan segera menginstruksikan kepada dinas terkait agar mengecek dan melakukan perbaikan.

Rico juga menyampaikan bahwa dirinya baru saja menghadiri undangan dari Kemendagri, Mensos, dan Menpan RB terkait bantuan sosial. Ia memastikan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Dinas Sosial akan terus berkoordinasi dengan kementerian guna memastikan bantuan tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.

Menanggapi keluhan yang disampaikan Hutahean, Rico Waas menyatakan persoalan tersebut akan segera ditindaklanjuti dan pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Wilayah Sungai (BWS) Medan, dan berencana menurunkan alat berat dari dinas SDABMBK untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di sungai.

“Saya juga mengingatkan masyarakat, untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memperparah penyumbatan aliran sungai,” jelas Rico Waas sembari menanggapi keluhan Rehana yang berjanji akan mengecek langsung kondisi jalan yang dilaporkan warga tersebut.

Usai menyapa dan berdialog dengan warga, Wali Kota Medan Rico Waas melakukan aksi penanaman pohon di bantaran sungai Babura. (map/ila)

Terungkap di Ruang Sidang: PTPN Tetap Pemilik Lahan, Bukan Jual Beli

MEDAN, SumutPos.co– Fakta menarik terungkap dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengelolaan lahan eks PTPN di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (13/2/2026). Dalam agenda pemeriksaan saksi, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan enam orang saksi dari internal PTPN II.

Mereka adalah Wisnu Budi Prasetyo, PM Silalahi, Jhon Ismet, Kamarudzaman, Dhanil SE, dan Dinda Ashari Siregar. Keterangan para saksi mengurai latar belakang kebijakan pengelolaan lahan yang kini menjadi pokok perkara.

Dari fakta yang mengemuka di ruang sidang, skema yang dijalankan disebut sebagai kerja
sama operasional (KSO), bukan transaksi jual beli aset. Kuasa hukum PT Nusa Dua Propertindo (NDP), Julisman, menegaskan, tidak ada penjualan tanah PTPN kepada pihak pengembang sebagaimana isu yang berkembang.

“Di dalam persidangan, dari keterangan para saksi, tidak ada penjualan tanah seperti
yang diberitakan. Yang ada adalah skema KSO (Kerja Sama Operasional),” tegas Julisman.

Menurut Julisman, dalam skema tersebut PTPN tetap sebagai pemilik lahan dan menjalin kerja sama pengelolaan dengan pihak pengembang dari Ciputra Group. PTPN memperoleh nilai atas kontribusi tanah yang dikerjasamakan serta bagian keuntungan dari hasil pemasaran sebesar 25 persen.

“PTPN tetap pemilik lahan. Tidak ada pengalihan hak milik. Kerja sama ini memberi kontribusi nilai dan bagi hasil bagi perusahaan,” ujarnya.

Julisman menekankan pentingnya membedakan antara kerja sama pengelolaan dan pelepasan aset. Ia menyebut dari seluruh keterangan saksi yang diperiksa, tidak satu pun menjelaskan adanya akta jual beli atau pemindahan kepemilikan tanah.

“Tidak tergambar sedikit pun dalam persidangan adanya jual beli tanah kepada pihak pengembang. Itu tidak pernah ada dalam fakta persidangan,” katanya.

Ia juga menambahkan, kebijakan tersebut diambil dalam konteks kondisi keuangan perusahaan yang saat itu sedang menghadapi tekanan. Dari keterangan saksi terungkap perusahaan memiliki beban utang besar dan mengalami kendala operasional.

“Fakta yang muncul di persidangan justru memperlihatkan latar belakang kebijakan ini adalah upaya memperbaiki kondisi perusahaan dan mengoptimalkan aset yang selama ini menjadi beban,” ujarnya.

Salah satu saksi, Wisnu Budi Prasetyo yang menjabat Direktur Produksi PTPN II periode 2012–2015, memaparkan kondisi perusahaan pada masa itu. Ia menyebut produksi menurun dan sejumlah lahan tidak lagi produktif serta berkonflik dengan masyarakat.

“Kondisinya sulit penyebabnya ada persoalan hasil produksi turun dan lahan yang berkonflik dengan masyarakat. Jadi akhirnya dengan kondisi itu ada harapan agar perusahaan lebih berkembang, solusinya kerjasama dengan pihak lain,” ujar Wisnu.

Menurut Wisnu, keputusan untuk menjajaki kerja sama diambil melalui rapat direksi dan pembahasan bersama pemegang saham. Optimalisasi aset dinilai sebagai langkah korporasi agar lahan yang tidak produktif dapat memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi perusahaan.

Sementara itu, tim kuasa hukum Irwan Peranginangin, Ahmad Firdaus, menyampaikan bahwa proyek tersebut telah ada sebelum kliennya menjabat sebagai direktur. “Para saksi menjelaskan proyek ini sudah ada sebelum Pak Irwan menjabat,” ujarnya.

Firdaus menambahkan, proyek tersebut telah mendapatkan persetujuan Menteri BUMN selaku pemegang saham dan tidak pernah dihentikan, melainkan hanya sempat tertunda. Menurut dia, dalam persidangan, tak ada satu pun saksi yang memberikan keterangan bahwa proyek tersebut atas inisiatif Irwan Peranginangin selaku Direktur PTPN.

Sidang akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi berikutnya. (adz)

Yayasan Pendidikan Harapan Berikan 1.546 Paket Natura

MEDAN, SumutPos.co- Yayasan Pendidikan Harapan (Yaspendhar) kembali memberikan paket Natura kepada 1.546 penerima manfaat yang berasal dari kaum dhuafa, fakir miskin, dan yatim-piatu di sekitaran lingkungan sekolah. Selain di lingkungan Yaspendhar, paket ini juga didistribusikan ke panti panti asuhan dan rumah tahfiz yatim piatu.

Adapun isi dari paket Natura yakni beras, gula putih, minyak goreng, mie instan, teh kotak dan uang tunai. “Untuk di kampus II, Jalan Karya Wisata Ujung, disalurkan sebanyak 779 paket Natura. Sedangkan di kampus I, Jalan Imam Bonjol, disalurkan sebanyak 767 paket,” kata Ketua 1 Yaspendhar, Najmi kepada wartawan di Kampus II, Jalan Karya Wisata Ujung, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Najmi, Natura ini adalah hasil sumbangsih dari para siswa Yaspendhar, mulai dari jenjang TK, SD, SMP dan SMA, baik itu di kampus I dan kampus II.

“Kami ingin terus melanjutkan tradisi baik ini. Selain sebagai pembelajaran bagi kita semua, pemberian Natura juga sebagai bukti nyata kepedulian siswa-siswi terhadap sesama. Anak-anak didik juga akan kami libatkan dalam pembagian paket Natura ke panti panti asuhan dan rumah yatim Tahfiz,” sebut Najmi.

Lebih lanjut Najmi mengatakan, yayasan juga berkomitmen untuk terus membantu sesama. “Seperti pada bulan Desember lalu ,kami juga telah memberikan bantuan kepada korban banjir di Aceh Tamiang sebanyak 600 paket. Bantuan juga kami salurkan ke Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan,” lanjut Najmi.

Pemberian paket Natura di Kampus II ini dihadiri para pengurus yayasan yaitu Irhas, SE selaku koordinator Kampus II dan Kampus III, serta Edi Nuradi selaku Koordinator Bidang Olahraga, Siswa, Guru, Karyawan dan Satpam.

Diketahui l, Yayasan Pendidikan Harapan (YASPENDHAR) adalah lembaga pendidikan yang sudah eksis sejak tahun 1967, menyelenggarakan pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. (adz)