25 C
Medan
Wednesday, April 1, 2026
Home Blog Page 5

Dua Pengedar Ekstasi Divonis 8 Tahun Penjara

SIDANG: Dua terdakwa kasus kepemilikan ekstasi, saat menjalani sidang di PN Medan. (Ist)
SIDANG: Dua terdakwa kasus kepemilikan ekstasi, saat menjalani sidang di PN Medan. (Ist)

Pengadilan Negeri Medan, menghukum terdakwa Iswahyudi (38) dan Ahmad Ramadhan (25), masing-masing 8 tahun penjara. Kedua warga Medan Marelan dan Medan Sunggal itu, terbukti bersalah atas peredaran 50 butir ekstasi.

Hakim ketua Frans Effendi Manurung, menyakini perbuatan para terdakwa telah memenuhi unsur sebagaimana Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

“Menjatuhkan pidana kepada para terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara masing-masing selama 8 tahun,” ujarnya sebagaimana dikutip dari website PN Medan, Jumat (27/3/2026).

Selain itu, terdakwa dihukum membayar denda sebesar Rp1 miliar. Dengan ketentuan apabila dalam waktu satu bulan pidana denda tidak dibayar, maka pendapatan atau harta kekayaan terdakwa disita dan dilelang jaksa. “Apabila tidak mencukupi, maka diganti dengan pidana penjara selama 190 hari,” katanya.

Namun atas putusan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Medan, mengajukan langkah hukum banding yang di ikuti kontra memori banding kedua terdakwa ke Pengadilan Tinggi Medan.

Diketahui, peristiwa bermula pada 30 Juli 2025. Saat itu terdakwa Iswahyudi berada di rumahnya ketika dihubungi terdakwa Ahmad Ramadhan yang menyampaikan adanya pesanan ekstasi sebanyak 50 butir.

Iswahyudi kemudian menghubungi seorang pria bernama Kumar (dalam penyidikan) untuk memesan ekstasi tersebut. Kumar menawarkan harga Rp140 ribu per butir, sehingga total transaksi mencapai Rp7 juta. Harga tersebut disetujui, meski uang yang tersedia baru Rp6,7 juta.

Selanjutnya, terdakwa Ahmad Ramadhan meminta Iswahyudi datang ke kosnya di Apel Kost, Jalan Sei Batu Gingging Pasar X, Padang Bulan Selayang, Medan. Dilokasi tersebut, Iswahyudi bertemu Ahmad Ramadhan dan seorang pria bernama Ozi yang disebut sebagai pembeli.

Ozi kemudian menyerahkan uang tunai sebesar Rp5,8 juta kepada Iswahyudi. Uang tersebut selanjutnya ditransfer ke rekening yang diberikan Kumar melalui layanan BRILink di Jalan Setia Budi, Kota Medan.

Sekitar pukul 17.45 WIB, seorang pria tak dikenal yang mengaku suruhan Kumar datang ke kos tersebut dan menyerahkan 50 butir ekstasi yang dibungkus plastik hitam kepada Iswahyudi. Barang haram itu kemudian diserahkan kepada Ozi.

Namun saat para terdakwa meminta uang keuntungan sebesar Rp500 ribu, tiba-tiba 4 petugas Polrestabes Medan, datang ke lokasi dan melakukan penangkapan. Ozi melarikan diri, sementara Iswahyudi dan Ahmad Ramadhan diamankan.

Dalam penggeledahan, petugas menemukan barang bukti berupa 50 butir ekstasi, uang tunai Rp500 ribu yang diduga hasil kejahatan, serta beberapa unit telepon genggam yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam transaksi narkotika tersebut.

Para terdakwa beserta barang bukti kemudian dibawa ke Polrestabes Medan untuk proses hukum lebih lanjut. (man/ila)

Deliserdang Kirim Kontingen Pesparawi Nasional ke Manokwari

AUDIENSI: Bupati Deliserdang, dr H Asri Ludin Tambunan menerima audiensi pengurus dan kontingen Pesparawi Kabupaten Deliserdang di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bupati Deliserdang, Jumat (27/3).
AUDIENSI: Bupati Deliserdang, dr H Asri Ludin Tambunan menerima audiensi pengurus dan kontingen Pesparawi Kabupaten Deliserdang di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bupati Deliserdang, Jumat (27/3).

LUBUKPAKAM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang optimistis mampu mempertahankan prestasi pada ajang Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) tingkat nasional, seiring dengan penguatan pembinaan yang terus dilakukan sejak tingkat daerah.

Optimisme tersebut disampaikan Bupati Deliserdang, dr Asri Ludin Tambunan, saat menerima audiensi pengurus dan kontingen Pesparawi Kabupaten Deliserdang di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bupati Deliserdang, Jumat (27/3/2026), dalam rangka persiapan menghadapi Pesparawi ke-XIV tingkat nasional di Manokwari, Papua Barat, pada 23–28 Juni 2026.

Ia menegaskan bahwa capaian prestasi nasional yang telah diraih sebelumnya menjadi modal kuat untuk terus ditingkatkan melalui sistem pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan di tingkat daerah.

“Kalau sudah menjadi prestasi nasional, ini harus diteruskan. Pesparawi daerah harus dijadikan agenda rutin, pola pembinaan diperbaiki dan diperkuat mulai dari tingkat daerah,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi pembinaan yang didukung dengan perencanaan dan penganggaran yang berkelanjutan, sehingga prestasi yang telah menjadi tradisi dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan.

“Jika ini sudah menjadi tradisi dan menghasilkan prestasi, maka harus terus ditingkatkan. Pembinaan harus berkelanjutan dan masuk dalam perencanaan tahunan,” lanjutnya.

Ia menambahkan, keikutsertaan dalam Pesparawi nasional bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi sarana pembinaan karakter, penguatan nilai spiritual, serta pengembangan seni dan budaya keagamaan di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, ia mendorong agar kegiatan keagamaan serupa juga dapat dikembangkan pada pemeluk agama lain sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai budaya dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Deliserdang.

“Saya berharap kontingen dapat memberikan penampilan terbaik dan mempertahankan prestasi yang telah diraih,” pungkasnya.

Diketahui, kontingen Pesparawi Deliserdang mencatatkan prestasi nasional, khususnya pada kategori paduan suara wanita (PSW) yang turut mengantarkan Sumatera Utara menjadi juara umum pada ajang nasional di Yogyakarta tahun 2022. Tahun ini Deli Serdang dipercaya mengikuti dua kategori yakni PSW dan Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC). Kedua kategori ini sebelumnya telah memenangkan Pesparawi tingkat Provinsi yang digelar pada tahun 2024 silam.

Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Deliserdang, Janji Hadameon Sinambela, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan penguatan persiapan guna mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian di tingkat nasional.

“Kami dari LPPD Deliserdang terus berupaya membawa nama baik kabupaten, dan hal itu telah dibuktikan pada ajang nasional ke-XIII. Terima kasih atas dukungan dan perhatian yang diberikan. Tahun ini, kami menargetkan peningkatan capaian dengan mengikuti dua kategori di tingkat nasional,” terangnya.(btr/azw)

Lansia Tewas di Kamar Mandi Rumah

OLAH TKP: Tim Inafis Polres Tebingtinggi ketika melakukan pengamanan Olah TKP di lokasi Gang Becek, Lingkungan III Kelurahan Pasar Baru, Kamis (26/3).(Azan Purba/ Sumut pos)
OLAH TKP: Tim Inafis Polres Tebingtinggi ketika melakukan pengamanan Olah TKP di lokasi Gang Becek, Lingkungan III Kelurahan Pasar Baru, Kamis (26/3).(Azan Purba/ Sumut pos)

TEBINGTINGGI-Warga Kota Tebingtinggi digegerkan dengan penemuan seorang pria lanjut usia yang meninggal dunia di dalam kamar mandi rumahnya, Kamis malam (26/3). Korban tewas diduga akibat penyakit yang dieritanya.

Peristiwa tersebut sempat menghebohkan warga Lingkungan III Kelurahan Pasar Baru Kecamatan Tebingtinggi kota, Gang Hidayah 02 atau yang biasa di kenal Gang Becek.

Menurut kepala lingkungan (kepling) setempat dan jiran tetangga mengatakan korban diketahui bernama Abdul Somad (71), yang sehari-hari tinggal seorang diri di rumahnya.

Saat berada di lokasi, warga sekitar membenarkan bahwa korban ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya. Kecurigaan muncul karena Abdul Somad, yang biasanya beraktivitas seperti biasa, tidak terlihat selama dua hari terakhir.

“Kami merasa heran, biasanya Pak Somad terlihat beraktivitas, tapi sudah dua hari ini tidak pernah terlihat,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga kemudian berupaya memanggil korban, namun tidak mendapat respons. Karena khawatir, mereka akhirnya berinisiatif membuka pintu rumah yang terkuci dari dalam dan sepakat mendobrak pintu rumah untuk memastikan kondisi korban.

Warga dibuat terkejut saat memasuki rumah dan mencium aroma tidak sedap. Setelah dilakukan pengecekan, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dalam kamar mandi yang terkunci dari dalam.
Korban ditemukan tanpa busana dalam posisi telentang, dengan kondisi tubuh yang telah membengkak dan mulai membusuk.

Peristiwa tersebut langsung ditangani pihak Polsek Padanghulu AKP Rudi Asman, bersama Piket Pawas Iptu Thomson Simanjuntak. Mereka langsung ke lokasi kejadian bersama personel untuk melakukan penanganan awal.
Petugas kemudian melakukan pengamanan di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) serta menggelar olah TKP bersama Tim Inafis Polres Tebingtinggi guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Berdasarkan keterangan keluarga, korban diketahui memiliki riwayat penyakit seperti asam urat, sakit pinggang, dan katarak. Dugaan sementara, korban meninggal dunia akibat terjatuh di kamar mandi. Saat ini, Polres Tebingtinggi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut guna memastikan penyebab kematian korban. (mag-3/azw)

NT Corp Akan Bangun PLTMH di Dairi, Serahkan 5.000 Bibit Pohon Produktif

TERIMA: Bupati Dairi Vickner Sinaga (kiri) didampingi jajaran, saat menerima kunjungan salahsatu investor yakni Komisaris Utama NT Corp, Nurdin Tampubolon di Pendopo Bupati Dairi, Jumat (27/3.RUDY SITANGGANG/SUMUT POS.
TERIMA: Bupati Dairi Vickner Sinaga (kiri) didampingi jajaran, saat menerima kunjungan salahsatu investor yakni Komisaris Utama NT Corp, Nurdin Tampubolon di Pendopo Bupati Dairi, Jumat (27/3.RUDY SITANGGANG/SUMUT POS.

DAIRI-Pemerintah Kabupaten Dairi menerima dukungan pembangunan dari NT Corp berupa rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dan penanaman 5.000 bibit pohon produktif.

Bupati Vickner Sinaga menyambut kunjungan Presiden Komisaris NT Corp, Nurdin Tampubolon, di Pendopo Bupati, Jumat (27/3/2026). Pertemuan tersebut dihadiri jajaran Pemkab Dairi, termasuk Wakil Bupati Wahyu Daniel Sagala dan Sekretaris Daerah Surung Charles Bantjin.

Dalam pertemuan itu, Vickner memastikan NT Corp akan membangun satu hingga dua PLTMH di Dairi untuk mendukung ketersediaan energi berkelanjutan di wilayah tersebut.

Selain itu, Nurdin Tampubolon menyerahkan 5.000 bibit pohon produktif yang akan ditanam dan dirawat di berbagai lokasi di Dairi. “Kehadiran NT Corp di Dairi merupakan dukungan nyata bagi pembangunan daerah. Semoga ini membawa dampak positif bagi masyarakat,” kata Vickner.

Nurdin menyampaikan bahwa kunjungannya bukan sekadar wisata, tetapi ingin melihat potensi Dairi lebih dekat dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan. “Kami ingin mendukung kemajuan Dairi, terutama melalui pengembangan energi dan lingkungan,” ujarnya.

NT Corp sendiri merupakan kelompok usaha yang bergerak di berbagai sektor, termasuk perkebunan kelapa sawit, media, properti, energi, nikel, dan teknologi, dengan beberapa anak usaha seperti PT BUM dan Nusantara TV.

Pemkab Dairi optimistis dukungan NT Corp akan mempercepat pembangunan energi berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (rud/ila)

Kisah Arika, Korban Kecelakaan di Padangtualang, Dari Melawan Penyakit hingga Rencana Pernikahan

JENAZAH: Jenazah Arika Sahfitri saat mau dibawa ke tempat peristirahatan terakhir dari rumah duka, Dusun I Tambusai, Desa Besilam, Padangtualang, Langkat.(Teddy Akbari/Sumut Pos)
JENAZAH: Jenazah Arika Sahfitri saat mau dibawa ke tempat peristirahatan terakhir dari rumah duka, Dusun I Tambusai, Desa Besilam, Padangtualang, Langkat.(Teddy Akbari/Sumut Pos)

Suasana duka menyelimuti Dusun I Tambusai, Desa Besilam, Kecamatan Padangtualang. Rumah sederhana milik Rustam Efendi dipadati warga yang datang silih berganti. Mereka ingin mengantar kepergian Arika Sahfitri (24), perempuan muda yang tutup usia dalam kecelakaan tragis di Jalan Padangtualang–Tanjungpura.

Teddy Akbari, Langkat

Isak tangis tak terbendung saat jenazah Arika diberangkatkan usai Salat Jumat. Ia dimakamkan di Perkampungan Babussalam, berdampingan dengan pusara sang ibu, Rahmah, yang telah lebih dulu berpulang pada 2008 silam.

Bagi Rustam, kepergian anak keduanya itu meninggalkan duka mendalam baginya. Di matanya, Arika adalah sosok pejuang perempuan yang sejak kecil sudah ditempa ujian hidup. “Kenangan anak saya ini terlalu banyak. Waktu masih sekolah dasar, dia pernah sakit parah sampai mengeluarkan banyak darah. Saya sangat cemas waktu itu,” ujar Rustam dengan suara bergetar, Jumat (27/3/2026).

Namun takdir kala itu masih memberi waktu. Arika perlahan sembuh, kembali tumbuh, dan melanjutkan hidup seperti anak-anak lainnya. Meski begitu, ujian tak sepenuhnya pergi. Saat mulai bekerja, ia kembali diuji dengan penyakit usus buntu yang sempat membuat keluarganya kembali diliputi kekhawatiran.“Waktu itu dia kerja, tiba-tiba sakit lagi. Saya benar-benar sedih dan kewalahan,” kenangnya.

Di balik semua perjuangan itu, Arika ternyata tengah menata masa depan. Ia sempat mengutarakan niat untuk menikah di tahun 2026. Bahkan, rencana itu disusunnya dengan menunggu sang kakak lebih dulu menikah setelah Lebaran. “Dia bilang, setelah kakaknya menikah, baru dia menyusul. Itu terakhir kali dia cerita sama saya,” kata Rustam lirih.

Sosok laki-laki yang disebut-sebut akan menjadi pendamping hidupnya adalah Rizki Setiawan (25), yang juga menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Meski belum ada pembicaraan resmi antar keluarga, niat itu telah tumbuh di antara keduanya. Namun, rencana itu kini tinggal kenangan.

Bagi Rustam, kepergian Arika tidak ada berfirasat apapun. Sama halnya waktu kepergian ibunya wafat pada 2008 silam. “Ibunya meninggal Tahun 2008 tepat 12 Idulfitri, sedangkan Arika 7 Idulfitri. Memang Arika yang sering ingat sama ibunya,” katanya.

Peristiwa nahas terjadi Kamis siang (26/3/2026). Arika dan Rizki berboncengan mengendarai sepeda motor menuju undangan temannya di Lubuk Tapah. Saat itu, Rustam tengah menunaikan Salat Zuhur di masjid kampung.

Sebuah pesan singkat menjadi kenangan terakhir yang ditinggalkan Arika. “Dia sempat kirim SMS, bilang kunci rumah dititipkan. Itu saja,” tutur Rustam.

Tak lama setelahnya, kabar duka datang. Dari keluarga di samping rumah, ia mendapat informasi bahwa anaknya mengalami kecelakaan. Dengan langkah tergesa, ia menuju lokasi kejadian di kawasan Bukit Rejo.

Sampai di lokasi, tubuh Arika telah terbaring kaku di jalan. Rustam bahkan tak sempat memastikan sendiri, karena warga sudah lebih dulu mengenali identitas putrinya melalui KTP yang ditemukan di tempat kejadian. “Perasaan saya hancur. Tidak ada firasat apa pun sebelumnya,” ucapnya pelan.

Kecelakaan itu sendiri melibatkan sepeda motor yang ditumpangi korban dengan sebuah dump truk dan mobil dari arah berlawanan. Berdasarkan keterangan Budi Sihotang, peristiwa terjadi saat korban diduga hendak mendahului truk di jalan sempit dan berkelok. Ruang gerak yang terbatas membuat sepeda motor kehilangan kendali, hingga akhirnya kedua korban terjatuh dan terlindas ban truk.

“Karena jalan yang sempit, tidak ada ruang gerak yang cukup untuk untuk sepeda motor Honda Beat bergerak, sehingga pada saat sudah berada di samping kanan dump truk, sepeda motor Honda Beat oleng ke kiri dan bersentuhan dengan bagian samping kanan dum truk,” kata Budi.

Rizki sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Ia lebih dulu dimakamkan pada Kamis malam. Sementara Arika mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian. Kepergian keduanya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar yang mengenal mereka sebagai pribadi baik. (*)