31 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 93

Wali Kota Lepas Pawai Ta’aruf MTQ Kota Tebingtinggi

PELEPASAN: Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih bersama Forkopimda melepas peserta Pawai Taaruf MTQ ke-54 Tingkat Kota Tebingtinggi Tahun 2025, Jumat (7/11/2025).
PELEPASAN: Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih bersama Forkopimda melepas peserta Pawai Taaruf MTQ ke-54 Tingkat Kota Tebingtinggi Tahun 2025, Jumat (7/11/2025).

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih melepas peserta Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-54 Tingkat Kota Tebingtinggi Tahun 2025, Jumat (7/11/2025). Acara pelepasan berlangsung meriah di depan Rumah Dinas Wali Kota Tebingtinggi yang diikuti ribuan peserta dari lima kecamatan, kelurahan, OPD, pelajar se-Kota Tebingtinggi, organisasi keagamaan, serta lembaga Pendidikan Islam.

Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan Kementerian Agama Kota Tebingtinggi, dilanjutkan dengan laporan komandan barisan sebagai tanda pembukaan pawai.

Turut hadir mendampingi wali kota, unsur Forkopimda, Sekda, Ketua TP PKK Kota Tebingtinggi Susmira Wanti Iman Irdian Saragih, serta para pejabat Pemerintah Kota Tebingtinggi. Suasana semakin semarak ketika bendera start dikibarkan, menandai dimulainya pawai ta’aruf yang menjadi pembuka rangkaian kegiatan MTQ ke-54 tahun ini.

Dalam sambutannya, Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih menyampaikan harapan agar pawai ta’aruf menjadi momentum mempererat silaturahim dan menumbuhkan semangat untuk lebih mencintai serta mengamalkan ajaran Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebagai salam perkenalan, pawai ta’aruf ini diharapkan dapat memberikan kebaikan kepada kita semua, sehingga tumbuh semangat baru untuk membaca, menggali, dan mengamalkan ajaran Alquran di tengah kehidupan kita,” ujar Wali Kota Tebingtinggi.

Kemeriahan pawai semakin terasa dengan penampilan barisan Paski Barakah yang tampil penuh semangat memimpin jalannya pawai, diiringi penampilan atraktif drumband yang memukau para penonton.

Selain itu, penampilan drumband dari tingkat sekolah dasar dan atraksi tarian reog juga menjadi perhatian masyarakat, menambah warna dan semangat di sepanjang Jalan Sutomo Kota Tebingtinggi.

Para peserta dari berbagai kecamatan tampak antusias mengikuti pawai sambil membawa atribut dari masing-masing instansi dan dinas yang turut memeriahkan acara. Masyarakat pun tampak memadati sepanjang rute pawai yang melintasi Jalan Imam Bonjol, Jalan Kartini, dan Jalan Gereja, hingga finis di Lapangan Merdeka, Kota Tebingtinggi.

Adapun pembukaan resmi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-54 Tingkat Kota Tebingtinggi akan digelar malam ini, Jumat (7/11/2025) pukul 20.00 WIB. Acara pembukaan dijadwalkan di lokasi Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi. (mag-3/azw)

Warga Mengeluh KTP Rusak Akibat Banjir, dr Ade Taufiq: Kami akan Bantu Dapatkan yang Baru!

MEDAN, SumutPos.co – Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi PKS dr Ade Taufiq SpOG menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 4 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di halaman SD Muhammadiyah 23, Jalan Denai Gang Mulajadi, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, Minggu (7/12).

Dalam paparannya, dr Ade Taufiq mengatakan, Perda ini hadir untuk meningkatkan peran sistem kesehatan, seperti fasilitas rumah sakit dan Puskesmas. Juga untuk memastikan pembangunan di Kota Medan berorientasi pada kesehatan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau. “Jadi intinya, tidak boleh lagi ada warga Medan yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik,” ujarnya.

Sedangkan dalam sesi tanya jawab, terungkap masalah-masalah yang timbul paska banjir besar yang melanda warga Medan, baru-baru ini. Di antaranya, dokumen kependudukan seperti KTP dan KK rusak dan hilang.

Seperti yang disampaikan Ummi Siagian. Dia mengaku, KTP-nya rusak akibat banjir. “KTP saya rusak akibat banjir besar kemarin, gimana ini dok solusinya?” tanya Ummi.

Menanggapi hal tersebut, dr Ade yang duduk di Komisi II DRPD Kota Medan mengaku akan membantu Ummi Siagian untuk mendapatkan KTP yang baru. “Kami akan bantu sampai selesai ya Bu,” ujar Ade Taufiq.

Sementara warga lainnya, Maisyarah meminta agar tunggakan BPJS-nya bisa diputihkan. Menjawab hal tersebut, dr Ade mengatakan, saat ini Kota Medan bahkan Sumatera Utara sudah punya program UHC (Universal Health Coverage). Yakni sebuah sistem penjaminan kesehatan yang bertujuan agar setiap penduduk memiliki akses ke layanan kesehatan yang berkualitas, adil, dan terjangkau tanpa mengalami kesulitan finansial.

“Kalau ibu memang ada tunggakan BPJS dan tidak sanggup bayar, diabaikan saja sementara waktu. Ibu tetap bisa berobat dengan program UHC ini,” ujar dr Ade

Namun begitu, sebut dr Ade, saat ini pemerintah sedang mempersiapkan kebijakan untuk pemutihan tunggakan iuran BPJS Kesehatan. “Setahu saya, ada kebijakan dari pemerintah pusat, ada pemutihan untuk warga yang menunggak BPJS,” sebutnya.

Sehari sebelumnya, dr Ade Taufiq juga menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 4 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan AR Hakim Lorong Hormat, Kelurahan Sukaramai I Kecamatan Medan Area, Sabtu (6/12). (adz)

RSUD Pirngadi Medan Alami Kenaikan Pasien Awal Desember

MEDAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Pirngadi Medan mencatat adanya peningkatan jumlah kunjungan pasien pada awal Desember 2025.
Berdasarkan data rumah sakit, jumlah pasien pada Senin (1/12/2025) mencapai 380 orang.

Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUD Pirngadi Gibson Girsang, menjelaskan bahwa meskipun terjadi kenaikan, situasinya masih dalam kategori terkendali.

“Peningkatan pasien ada, tapi tidak signifikan. RSUD Pirngadi tetap siap melayani pasien,” ujar Gibson pada Kamis (4/12/2025).

Sebagai fasilitas kesehatan milik Pemerintah Kota Medan, RSUD Pirngadi melayani berbagai kategori pasien, termasuk pasien berulang yang rutin menjalani pengobatan jalan.

Gibson menuturkan bahwa mayoritas pasien pada awal bulan ini adalah mereka yang menjalani hemodialisa dan fisioterapi.

“Dengan kesiapan tenaga medis dan fasilitas yang ada, kami menegaskan komitmen untuk terus memberikan pelayanan kesehatan optimal bagi masyarakat Kota Medan,” pungkasnya. (ila)

Ketua Partai Gelora Sumut Desak Pemko Medan Siapkan Blueprint Penanganan Banjir

Ketua DPW Partai Gelora Sumut Muhammad Nasir
Ketua DPW Partai Gelora Sumut Muhammad Nasir

MEDAN, SumutPos.co- Musibah banjir yang melanda Kota Medan, telah merenggut 13 korban jiwa. Kondisi ini mengundang rasa perihatin Ketua DPW Partai Gelora Sumut Muhammad Nasir.

Menurut Nasir, banjir yang terjadi pada 27-30 November kemarin menjadi yang terparah dalam sejarah Kota Medan. “Tidak hanya volume air yang luar biasa besar, namun juga korban hingga kerusakan di sepanjang sungai yang menjadi jalur utama aliran banjir terdampak cukup parah,” kata Nasir kepada Sumut Pos, kemarin.

Nasir mengungkapkan, ada enam sungai yang membelah ibukota Provinsi Sumatera Utara ini, yakni Sungai Deli, Sungai Belawan, Sungai Sikambing, Sungai Bedera, Sungai Babura, dan Sungai Denai. “Hampir semua sungai ini, muaranya di kawasan Medan Utara, sehingga kawasan Medan Utara khususnya Medan Marelan dan Medan Labuhan menjadi daerah yang paling parah merasakan dampak banjir yang terjadi,” ungkapnya.

Ketika semua sungai meluap, kata Nasir, daerah aliran sungai (DAS) tidak mampu menahan luapan air. Apalagi kondisi benteng atau tanggul sudah rapuh, sehingga rentan bencana banjir.

Bahkan DAS di kawasan Terjun, Medan Marelan, kondisinya mencapai tahap mengkhawatirkan. Kawasan ini menjadi hilir beberapa sungai, sehingga warga Terjun terdampak parah.

Belum lagi banjir rob yang selalu mengancam, sehingga semua airnya transit di Medan Deli. “Akibatnya, pemukiman warga di Medan Deli merasakan dampak banjir yang paling parah,” sebutnya.

Untuk itu, Nasir meminta Pemko Medan dan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II harus bener-benar peka atas banjir yang terjadi. Politisi senior ini mendesak Pemko Medan segera menyiapkan blueprint tentang penanganan banjir di hulu dan hilir Kota Medan tahun 2026.

“Saat membuat perencanaan blueprint penanganan banjir, perlu melibatkan tokoh, pemerhati lingkungan, akademisi, dan Pemerintah Kota Medan sebagai fasilitatornya,” ujarnya.

Selain itu, Nasir juga mendesak Pemko Medan dan pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR dan BWSS II supaya segera memperbaiki dan menormalisasi seluruh sungai di Kota Medan. “Ini sudah tahap mengkhawatirkan, sehingga harus dilakukan penanganan sesegera mungkin agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi,” tandasnya. (adz)

Tuntut Status Bencana Nasional, Anggota DPD RI Beberkan Kondisi Darurat dan Dugaan Ilegal Logging di Sumatera

MEDAN, SumutPos.co – Anggota DPD RI dari Sumatera Utara Pdt Penrad Siagian, menyampaikan keprihatinan dan evaluasi mendalam terkait penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Sumatera Utara (Sumut), Aceh, dan Sumatera Barat (Sumbar). Penrad secara tegas menyoroti belum ditetapkannya status bencana nasional oleh Pemerintah Pusat.

Melihat kondisi di lapangan, Senator asal Sumut ini menegaskan, status bencana harus segera ditetapkan menjadi status bencana nasional. “Bencana ini sudah meluas, korban jiwa sangat banyak. Hampir seribuan korban jiwa dan ribuan lainnya masih hilang. Banyak kepala daerah yang terdampak telah menyatakan secara resmi melalui surat tentang ketidakmampuan daerah menangani bencana ekologis ini,” tegas Penrad dalam keterangannya, Sabtu, 6 Desember 2025.

Ia menegaskan sejumlah kepala daerah, termasuk bupati-bupati terdampak, sudah resmi menyampaikan ketidakmampuan daerah menangani bencana tersebut. Menurut informasi yang diterimanya, Gubernur Aceh dan Sumbar juga sudah menyatakan hal serupa.

Karena itu, ia mengatakan akan terus mendorong Gubernur Sumut segera mengirimkan pernyataan resmi sebagai salah satu syarat penetapan bencana nasional kepada Pemerintah Pusat..Ia memperingatkan bahwa tanpa status bencana nasional, penanganan bencana alam tersebut menjadi sporadis dan tidak terkoordinasi.

“Akhirnya penanganan bencana ini menjadi sporadik dan tidak terkoordinasi karena statusnya tidak dinaikkan. Padahal dampaknya sangat luas,” ujarnya.

Menanggapi kelayakan penyaluran bantuan, dia menyatakan bahwa hingga hampir dua minggu pasca-bencana (sejak 25 November 2025), masih banyak daerah terisolasi yang belum mendapatkan bantuan dan penanganan layak.

Meski mengapresiasi upaya keras BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan Pemda, namun luasnya dampak dan daerah terdampak membuat penanganan belum optimal. “Tetapi luasnya dampak dan beratnya medan membuat banyak wilayah belum tersentuh. Jadi kalau dibilang semua sudah layak, saya pikir belum. Banyak yang belum tertangani,” tuturnya.

Ia juga menggambarkan tantangan logistik yang sangat berat, terutama di Sumut. “Desa-desa di gunung dan bukit dengan medan berat menyulitkan akses darat maupun distribusi via helikopter. Saya khawatir, jika dalam seminggu ini belum teratasi, akan semakin banyak masyarakat yang kelaparan di daerah terisolir,” katanya.

Lebih lanjut, secara institusional, dia menegaskan lembaganya melalui Ketua DPD RI telah mendorong penetapan status bencana menjadi bencana nasional. “Sebanyak 12 senator dari tiga provinsi ini terus mendesak Presiden dan stakeholder terkait. Kami yakin, dengan status bencana nasional, penanganan keadaan darurat hingga rehabilitasi-rekonstruksi akan lebih terstruktur,” jelasnya.

Terhadap banyaknya kayu gelondongan yang memperparah bencana, Penrad dengan tegas membantah pernyataan pemerintah yang menyebutnya sebagai kayu-kayu itu tumbang secara alami. Dia menegaskan bahwa dari hasil pantauannya selama di lokasi bencana, potongan kayu itu bukan berasal dari pohon tumbang alami.

Penrad menambahkan bahwa kayu-kayu tersebut kemungkinan adalah hasil tebangan yang belum sempat diangkut sebelum bencana melanda, sehingga terseret arus dan menghancurkan permukiman.

“Saya melihat betul fisik kayu gelondongan itu potongannya rapi, ada bekas chainsaw atau gergaji mesin. Itu tidak mungkin karena alam. Saya sangat mensinyalir kuat bahwa ini akibat ilegal logging di hulu. Kayu-kayu yang sudah dipotong rapi itu terbawa air dan menghancurkan permukiman. Tidak benar jika dikatakan muncul secara alami,” pungkasnya.

Kepada pemerintah, Penrad kembali menuntut penetapan status bencana nasional. Ia mengatakan kapasitas fiskal daerah tidak akan mampu menangani bencana sebesar ini, baik dalam tahap emergency maupun rekonstruksi.

“Saya melihat betul bagaimana hancur leburnya infrastruktur publik maupun privat masyarakat, belum lagi kerugian seluruh lahan-lahan pertanian disapu bersih oleh banjir bandang dan longsor ini. Kita tetap menuntut itu agar penanganan emergency, koordinasi yang terstruktur dari atas sampai ke bawah, kemudian rekonstruksi dan rehabilitasi itu bisa ditangani lebih baik ke depan sehingga masyarakat mendapatkan haknya sebagai warga negara yang harus dijamin pemerintah ketika menghadapi bencana, ujarnya.

Ia juga mengingatkan perlunya koordinasi yang lebih baik antar kementerian/lembaga serta pemerintah daerah. Menurutnya, sejauh ini kerja-kerja penanganan masih berjalan sendiri-sendiri.

“Karena saya melihat antar-institusi kementerian-lembaga termasuk sampai ke pemerintahan daerah itu masih sangat sporadik melakukan kerja-kerjanya sesuai dengan ruangnya masing-masing sehingga tidak terkoordinasi. Saya berharap Pemerintah Pusat, Pemprov kemudian sampai ke kepala-kepala daerah Pemkab dalam hal ini, itu bisa membangun koordinasi yang lebih terjalin baik,” ungkapnya.

“Terhadap Pemerintah Daerah tentu saya meminta apa yang bisa kita lakukan ke depan karena ini adalah masyarakat kita, tanggung jawab kita, dan pengabdian moral kita sebagai bagian dari bangsa dan negara ini,” sambungnya.

Kepada masyarakat terdampak, Penrad menyampaikan harapan agar tetap kuat dan saling membantu di tengah keterbatasan. Ia menekankan pentingnya semangat gotong royong untuk melewati masa-masa sulit ini.

“Kepada masyarakat terdampak tentu kita berdoa dan berharap masyarakat terdampak secara langsung bisa tetap kuat dan sabar melewati masa-masa ini sehingga kita bisa menanganinya lebih komprehensif,” tuturnya.

“Sekarang kita juga sangat membutuhkan apa yang disebut dengan spirit gotong royong itu. Di tengah-tengah seluruh kekurangan yang terjadi, kita sangat mengharapkan masyarakat bisa saling dukung, tolong, dan saling membantu mengatasi situasi-situasi yang terjadi saat ini,” ucap Penrad menambahkan. (adz)

Fraksi PDIP DPRD Sumut Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Sumatera sebagai Bencana Nasional

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut, Mangapul Purba
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut, Mangapul Purba

MEDAN, SumutPos.co – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumatera Utara (Sumut), Mangapul Purba mendesak Pemerintah Pusat segera menetapkan bencana longsor dan banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh sebagai bencana nasional. Ia menegaskan, kemampuan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah jauh melampaui batas mengingat skala kerusakan yang sangat parah dan terus meluas.

Mangapul menjelaskan, bencana di Sumatera telah merusak fasilitas umum, memutus akses jalan dan jembatan, memadamkan aliran listrik di sejumlah daerah, hingga membuat stok air bersih langka. Sementara itu, banyak rumah sakit mengalami kerusakan dan kekurangan obat-obatan serta fasilitas kesehatan.

“Masih banyak wilayah terisolasi yang belum tersentuh bantuan. Mobilitas tim kemanusiaan terhambat karena akses yang terputus. Situasinya sangat kritis,” tegas Mangapul, dalam siaran persnya, Sabtu (6/12).

Saat ini Mangapul berada di lokasi bencana terparah di Tapanuli Tengah, Sumut. Ia menyebut kondisi lapangan jauh lebih memprihatinkan dibanding laporan yang beredar. Minimnya kesiapan pemerintah daerah dan provinsi memperburuk keadaan.

“Alat berat sangat terbatas untuk membuka akses. Perahu karet minim. Bantuan logistik daerah juga sangat kurang. Tanpa intervensi pemerintah pusat, mustahil penanganan bencana ini berjalan cepat,” ujarnya.

Ia menilai tidak ada alasan bagi Pemerintah Pusat untuk menunda penetapan status bencana nasional, terutama mengingat ancaman lanjutan yang kini membayangi masyarakat.

“Jika pemerintah pusat tidak segera turun tangan, korban akan terus bertambah bukan hanya karena bencana awal, tetapi akibat kelaparan, penyakit, dan depresi. Rakyat di wilayah terdampak kini berada di ambang bencana kemanusiaan berikutnya,” kata Mangapul.

Mangapul juga mengapresiasi kerja keras jajaran pemerintah daerah, BPBD, dan TNI/Polri yang sudah bekerja dengan maksimal meski kondisi di lapangan sangat berat. Namun, ia menekankan bahwa skala bencana ini tidak mungkin ditangani hanya oleh pemerintah daerah.

Tim di daerah sudah bekerja sampai kelelahan. Ini butuh kekuatan penuh dari pemerintah pusat. Karena itu, kami mendesak agar bencana Sumatera segera ditetapkan sebagai Bencana* Nasional,” tutupnya. (adz)