31 C
Medan
Wednesday, February 26, 2025
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img

Institut Kesehatan Helvetia Gelar Capping Day

SUMUTPOS.CO – Institut Kesehatan Helvetia mengelar capping day di Gedung Selecta Medan, Selasa (25/2). Kegiatan dihadiri ketua dan anggota senat Institut Kesehatan Helvetia, Pembina Yayasan Helvetia Dr dr Razia Begum Suroyo MKes, Ketua ABP-PTSI Sumut sekaligus Ketua BPH Institut Kesehatan Helvetia Prof Dr H Bahdin Nur Tanjung MM dan Rektor Institut Kesehatan Helvetia Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Turut hadir kepala LLDikti Wilayah I, ketua Aptisi Sumut, pimpinan RSU di Medan, serta ketua program studi, dosen dan keluarga mahasiswa Institut Kesehatan Helvetia.

Rektor Institut Kesehatan Helvetia Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi mengutarakan bahwa capping day merupakan pencapaian besar para mahasiswa keperawatan dan kebidanan yang telah menyelesaikan salah satu tahapan penting untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berkompeten.

”Capping day ini merupakan simbol dari perjalanan panjang Anda, menuju dunia pelayanan kesehatan yang sesungguhnya. Saya ingin mengajak kita semua untuk sejenak merenung dan menyadari betapa pentingnya peran tenaga kesehatan dalam kehidupan masyarakat,” kata rektor.

Sebagai tenaga kesehatan, menurut rektor, tidak hanya berperan dalam memberikan pengobatan atau terapi medis. Tetapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pelayanan yang humanis. Pelayanan kesehatan yang humanis adalah pelayanan yang tidak hanya memperhatikan aspek fisik, tetapi juga psikologis, sosial dan spiritual pasien.

Tenaga kesehatan, khususnya para perawat dan bidan adalah garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan. ”Anda adalah orang pertama yang bertemu dengan pasien saat mereka membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, peran anda sangat menentukan kualitas pelayanan yang diterima oleh pasien,” tegas Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Perawat dan bidan harus lebih dari sekadar keterampilan teknis. ”Anda dituntut untuk memiliki sikap empati, kasih sayang dan pengertian yang mendalam terhadap pasien,” sebut rektor.

Pelayanan kesehatan humanis berarti mengutamakan martabat dan hak asasi manusia dalam setiap tindakan yang dilakukan. Hal ini tercermin dalam cara kita berinteraksi dengan pasien, mendengar keluhan, memberikan informasi dengan jelas dan penuh perhatian serta memberikan dukungan moral yang sangat diperlukan. Terutama dalam kondisi yang penuh ketidakpastian atau saat pasien menghadapi kesulitan,” pesan Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Sebagai tenaga kesehatan, kata rektor, Anda harus selalu mengingat bahwa setiap pasien memiliki cerita hidup yang unik. Seringkali, mereka datang kepada kita dengan beban emosional yang berat.

Oleh karena itu, keahlian dalam memberikan perawatan fisik harus dibarengi dengan kemampuan untuk memberikan perawatan yang bersifat emosional dan psikologis.

Dalam hal ini, lanjut rektor, keterampilan komunikasi menjadi sangat penting. Anda harus mampu berbicara dengan lembut, penuh perhatian serta mendengar dengan penuh empati dan tanpa menghakimi.

Penelitian telah menunjukkan bahwa hubungan yang positif antara tenaga kesehatan dan pasien dapat mempercepat pemulihan dan meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan.

”Anda sebagai mahasiswa keperawatan dan kebidanan Institut Kesehatan Helvetia telah dibekali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat berharga. Namun, ilmu pengetahuan dan keterampilan itu harus terus dikembangkan dan diterapkan dengan penuh dedikasi,” kata Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Rektor yakin bahwa lulusan Institut Kesehatan Helvetia memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif dalam dunia kesehatan.

”Semoga dapat menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya ahli dalam bidang keperawatan dan kebidanan, tetapi juga penuh dengan empati, kasih sayang, dan rasa hormat terhadap sesama,” kata rektor.(dmp/han)

SUMUTPOS.CO – Institut Kesehatan Helvetia mengelar capping day di Gedung Selecta Medan, Selasa (25/2). Kegiatan dihadiri ketua dan anggota senat Institut Kesehatan Helvetia, Pembina Yayasan Helvetia Dr dr Razia Begum Suroyo MKes, Ketua ABP-PTSI Sumut sekaligus Ketua BPH Institut Kesehatan Helvetia Prof Dr H Bahdin Nur Tanjung MM dan Rektor Institut Kesehatan Helvetia Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Turut hadir kepala LLDikti Wilayah I, ketua Aptisi Sumut, pimpinan RSU di Medan, serta ketua program studi, dosen dan keluarga mahasiswa Institut Kesehatan Helvetia.

Rektor Institut Kesehatan Helvetia Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi mengutarakan bahwa capping day merupakan pencapaian besar para mahasiswa keperawatan dan kebidanan yang telah menyelesaikan salah satu tahapan penting untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berkompeten.

”Capping day ini merupakan simbol dari perjalanan panjang Anda, menuju dunia pelayanan kesehatan yang sesungguhnya. Saya ingin mengajak kita semua untuk sejenak merenung dan menyadari betapa pentingnya peran tenaga kesehatan dalam kehidupan masyarakat,” kata rektor.

Sebagai tenaga kesehatan, menurut rektor, tidak hanya berperan dalam memberikan pengobatan atau terapi medis. Tetapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pelayanan yang humanis. Pelayanan kesehatan yang humanis adalah pelayanan yang tidak hanya memperhatikan aspek fisik, tetapi juga psikologis, sosial dan spiritual pasien.

Tenaga kesehatan, khususnya para perawat dan bidan adalah garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan. ”Anda adalah orang pertama yang bertemu dengan pasien saat mereka membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, peran anda sangat menentukan kualitas pelayanan yang diterima oleh pasien,” tegas Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Perawat dan bidan harus lebih dari sekadar keterampilan teknis. ”Anda dituntut untuk memiliki sikap empati, kasih sayang dan pengertian yang mendalam terhadap pasien,” sebut rektor.

Pelayanan kesehatan humanis berarti mengutamakan martabat dan hak asasi manusia dalam setiap tindakan yang dilakukan. Hal ini tercermin dalam cara kita berinteraksi dengan pasien, mendengar keluhan, memberikan informasi dengan jelas dan penuh perhatian serta memberikan dukungan moral yang sangat diperlukan. Terutama dalam kondisi yang penuh ketidakpastian atau saat pasien menghadapi kesulitan,” pesan Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Sebagai tenaga kesehatan, kata rektor, Anda harus selalu mengingat bahwa setiap pasien memiliki cerita hidup yang unik. Seringkali, mereka datang kepada kita dengan beban emosional yang berat.

Oleh karena itu, keahlian dalam memberikan perawatan fisik harus dibarengi dengan kemampuan untuk memberikan perawatan yang bersifat emosional dan psikologis.

Dalam hal ini, lanjut rektor, keterampilan komunikasi menjadi sangat penting. Anda harus mampu berbicara dengan lembut, penuh perhatian serta mendengar dengan penuh empati dan tanpa menghakimi.

Penelitian telah menunjukkan bahwa hubungan yang positif antara tenaga kesehatan dan pasien dapat mempercepat pemulihan dan meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan.

”Anda sebagai mahasiswa keperawatan dan kebidanan Institut Kesehatan Helvetia telah dibekali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat berharga. Namun, ilmu pengetahuan dan keterampilan itu harus terus dikembangkan dan diterapkan dengan penuh dedikasi,” kata Assoc Prof Dr H Ismail Efendy MSi.

Rektor yakin bahwa lulusan Institut Kesehatan Helvetia memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif dalam dunia kesehatan.

”Semoga dapat menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya ahli dalam bidang keperawatan dan kebidanan, tetapi juga penuh dengan empati, kasih sayang, dan rasa hormat terhadap sesama,” kata rektor.(dmp/han)

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_imgspot_img

Terpopuler

spot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru