30 C
Medan
Tuesday, January 27, 2026

DPD PDIP Sumut Beri Bantuan Rp1 Juta per KK, Warga Tukka Berterima Kasih ke Rapidin dan Doakan Megawati

TAPTENG, SUMUTPOS.CO- DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara (Sumut) menyalurkan bantuan kemanusiaan di posko pengungsian Desa Hutanabolon, Kelurahan Tukka, Sabtu (24/1/2026) siang. Bantuan ini didistribusikan langsung oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Drs Rapidin Simbolon MM bersama Sekretaris Dr Sutarto Msi, dan Bendahara Meriahta Sitepu.

Pantauan wartawan di lokasi, warga korban bencana berkumpul di ruang kecil yang lantainya beralaskan tikar. Pendistribusian bantuan dibuka melalui tiga gerai yang dipantau langsung oleh Rapidin dan Sutarto.

Bantuan tersebut dikategorikan dalam dua jenis, yakni warga yang rumahnya mengalami rusak berat menerima Rp1 juta, sedangkan warga dengan rumah rusak ringan menerima Rp500 ribu. Bantuan itu diserahkan Ketua Komisi B DPRD Sumut dari Fraksi PDI Perjuangan Sorta Ertaty Siahaan bersama Bendahara DPD PDIP Sumut Meriahta Sitepu.

Agar masyarakat penerima bantuan tertib, dua kader PDIP yakni Ahokli Marpaung dan Agus Hutagalung.mengatur antrean. Meski mereka berdua juga menjadi korban bencana, namun tak terlihat lelah di wajah mereka saat memanggil nama warga satu per satu untuk menerima bantuan.

Di antara warga yang menunggu dalam antrean, Ratna Juita berdiri sambil menggenggam kertas kecil dari kepala lingkungan. Kertas itu begitu berarti baginya untuk mendapatkan bantuan. “Saya dipanggil Kepling untuk datang ke sini,” katanya lirih.

Setelah namanya dipanggil dan mendapatkan bantuan, Ratna mengaku sangat berterima kasih kepada Ketua Umum DPP PDIP dan Ketua DPD PDIP Sumut. “Terima kasih kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan Bapak Rapidin Simbolon dari kami masyarakat Hutanabolon. Walaupun rumah kami rusak ringan, diterjang lumpur dan banjir, terima kasih banyak bantuannya,” katanya.

“Bukan cuma uang yang kami dapat, tapi juga air minum bersih dan perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu, buku, topi, dasi,” imbuh Ratna.

Tentang Megawati Soekarnoputri yang baru saja berulang tahun ke-79, Ratna pun mendoakan Presiden ke-5 Republik Indonesia tersebut. “Terima kasih atas bantuannya, Ibu Mega, karena masih mengingat kami di sini. Mudah-mudahan ibu panjang umur dan selalu sehat,” ujarnya.

Ia tak menyembunyikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan. “Ini sangat membantu. Selama ini kami cuma dapat sembako. Sekarang ada uang, bisa kami pakai untuk kebutuhan penting. Mata pencaharian sudah tidak ada, suami tidak ada pekerjaan. Modal mau jualan juga tidak ada,” ungkap Ratna.

Warga lainnya, Ronda Sitompul juga menyampaikan terima kasih. “Yang rusak ringan dapat lima ratus ribu, yang rusak berat dapat satu juta. Ini sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih kepada Bapak Rapidin Simbolon dan Ibu Megawati. Rumah saya memang rusak parah,” tuturnya.

Di sudut posko, Siti Aslina Panggabean berdiri dengan tatapan yang masih menyimpan sisa malam panjang itu. “Di sini saya menjemput bantuan dari Rapidin Simbolon. Terima kasih saya ucapkan karena rumah saya rusak,” ujar Aslina.

Ketika mengingat hari banjir, kalimatnya pecah menjadi kejujuran paling sederhana. “Dengan menangis saya lari. Saya pikir saya tak hidup lagi,” ucapnya lirih.

Sementara bagi Lesdi Tambunan, bantuan itu adalah jeda kecil dari kepanikan panjang. “Kami menerima bantuan dari Bapak Rapidin Simbolon. Cukup membantu bagi kami bantuan tersebut,” ujarnya.

Sedangkan Salma Tambunan mengucap syukur atas bantuan yang ia terima. “Barang-barang kami sudah hilang, rumah rusak. Saya senang dapat uang dari Ibu Mega. Terima kasih kepada Ibu Megawati dan Bapak Rapidin Simbolon,” katanya.

Sementara Ketua DPD PDIP Sumut Rapidin Simbolon merasa terharu menyaksikan warga yang menerima bantuan tersebut. Mantan Bupati Samosir ini pun tak ingin membangun harapan dengan janji-janji besar. Ia memilih kata-kata yang jujur.

“Kami sadari, uang Rp1 juta tidak mungkin bisa membangun rumah, Tetapi sekecil inipun yang bisa kami serahkan, semoga bisa membantu bapak dan ibu misalnya untuk membeli perlengkapan sekolah, ongkos sekolah, dan kebutuhan lainnya,” ujar Rapidin.

Lalu ia menyemangati para korban banjir agar tetap optimis menatap masa depan yang lebih cerah. “Saya percaya Tukka bisa bangkit. Pelan-pelan, bersama-sama. Warga di sini kuat. Kami akan terus bersama masyarakat agar kehidupan bisa berjalan kembali,” ucapnya.

Tak terasa, matahari mulai tergelincir di ufuk barat pertanda hari mulai petang. Antrean pun mulai berkurang. Anak-anak kembali duduk di tikar. Ibu-ibu merapikan plastik belanja. Duka belum pergi. Trauma masih tinggal di sudut-sudut ingatan.

Bantuan itu tak membangun rumah yang roboh. Tak menghapus malam panjang saat air datang. Tapi hari itu, sejuta rupiah memang penuh makna.

Ia bukan sekadar angka. Ia menjadi simbol kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar, bahwa di tengah kehilangan, masih ada yang datang. Masih ada yang tinggal. Masih ada yang percaya bahwa Tukka layak untuk bangkit. (adz)

TAPTENG, SUMUTPOS.CO- DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara (Sumut) menyalurkan bantuan kemanusiaan di posko pengungsian Desa Hutanabolon, Kelurahan Tukka, Sabtu (24/1/2026) siang. Bantuan ini didistribusikan langsung oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Drs Rapidin Simbolon MM bersama Sekretaris Dr Sutarto Msi, dan Bendahara Meriahta Sitepu.

Pantauan wartawan di lokasi, warga korban bencana berkumpul di ruang kecil yang lantainya beralaskan tikar. Pendistribusian bantuan dibuka melalui tiga gerai yang dipantau langsung oleh Rapidin dan Sutarto.

Bantuan tersebut dikategorikan dalam dua jenis, yakni warga yang rumahnya mengalami rusak berat menerima Rp1 juta, sedangkan warga dengan rumah rusak ringan menerima Rp500 ribu. Bantuan itu diserahkan Ketua Komisi B DPRD Sumut dari Fraksi PDI Perjuangan Sorta Ertaty Siahaan bersama Bendahara DPD PDIP Sumut Meriahta Sitepu.

Agar masyarakat penerima bantuan tertib, dua kader PDIP yakni Ahokli Marpaung dan Agus Hutagalung.mengatur antrean. Meski mereka berdua juga menjadi korban bencana, namun tak terlihat lelah di wajah mereka saat memanggil nama warga satu per satu untuk menerima bantuan.

Di antara warga yang menunggu dalam antrean, Ratna Juita berdiri sambil menggenggam kertas kecil dari kepala lingkungan. Kertas itu begitu berarti baginya untuk mendapatkan bantuan. “Saya dipanggil Kepling untuk datang ke sini,” katanya lirih.

Setelah namanya dipanggil dan mendapatkan bantuan, Ratna mengaku sangat berterima kasih kepada Ketua Umum DPP PDIP dan Ketua DPD PDIP Sumut. “Terima kasih kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan Bapak Rapidin Simbolon dari kami masyarakat Hutanabolon. Walaupun rumah kami rusak ringan, diterjang lumpur dan banjir, terima kasih banyak bantuannya,” katanya.

“Bukan cuma uang yang kami dapat, tapi juga air minum bersih dan perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu, buku, topi, dasi,” imbuh Ratna.

Tentang Megawati Soekarnoputri yang baru saja berulang tahun ke-79, Ratna pun mendoakan Presiden ke-5 Republik Indonesia tersebut. “Terima kasih atas bantuannya, Ibu Mega, karena masih mengingat kami di sini. Mudah-mudahan ibu panjang umur dan selalu sehat,” ujarnya.

Ia tak menyembunyikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan. “Ini sangat membantu. Selama ini kami cuma dapat sembako. Sekarang ada uang, bisa kami pakai untuk kebutuhan penting. Mata pencaharian sudah tidak ada, suami tidak ada pekerjaan. Modal mau jualan juga tidak ada,” ungkap Ratna.

Warga lainnya, Ronda Sitompul juga menyampaikan terima kasih. “Yang rusak ringan dapat lima ratus ribu, yang rusak berat dapat satu juta. Ini sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih kepada Bapak Rapidin Simbolon dan Ibu Megawati. Rumah saya memang rusak parah,” tuturnya.

Di sudut posko, Siti Aslina Panggabean berdiri dengan tatapan yang masih menyimpan sisa malam panjang itu. “Di sini saya menjemput bantuan dari Rapidin Simbolon. Terima kasih saya ucapkan karena rumah saya rusak,” ujar Aslina.

Ketika mengingat hari banjir, kalimatnya pecah menjadi kejujuran paling sederhana. “Dengan menangis saya lari. Saya pikir saya tak hidup lagi,” ucapnya lirih.

Sementara bagi Lesdi Tambunan, bantuan itu adalah jeda kecil dari kepanikan panjang. “Kami menerima bantuan dari Bapak Rapidin Simbolon. Cukup membantu bagi kami bantuan tersebut,” ujarnya.

Sedangkan Salma Tambunan mengucap syukur atas bantuan yang ia terima. “Barang-barang kami sudah hilang, rumah rusak. Saya senang dapat uang dari Ibu Mega. Terima kasih kepada Ibu Megawati dan Bapak Rapidin Simbolon,” katanya.

Sementara Ketua DPD PDIP Sumut Rapidin Simbolon merasa terharu menyaksikan warga yang menerima bantuan tersebut. Mantan Bupati Samosir ini pun tak ingin membangun harapan dengan janji-janji besar. Ia memilih kata-kata yang jujur.

“Kami sadari, uang Rp1 juta tidak mungkin bisa membangun rumah, Tetapi sekecil inipun yang bisa kami serahkan, semoga bisa membantu bapak dan ibu misalnya untuk membeli perlengkapan sekolah, ongkos sekolah, dan kebutuhan lainnya,” ujar Rapidin.

Lalu ia menyemangati para korban banjir agar tetap optimis menatap masa depan yang lebih cerah. “Saya percaya Tukka bisa bangkit. Pelan-pelan, bersama-sama. Warga di sini kuat. Kami akan terus bersama masyarakat agar kehidupan bisa berjalan kembali,” ucapnya.

Tak terasa, matahari mulai tergelincir di ufuk barat pertanda hari mulai petang. Antrean pun mulai berkurang. Anak-anak kembali duduk di tikar. Ibu-ibu merapikan plastik belanja. Duka belum pergi. Trauma masih tinggal di sudut-sudut ingatan.

Bantuan itu tak membangun rumah yang roboh. Tak menghapus malam panjang saat air datang. Tapi hari itu, sejuta rupiah memang penuh makna.

Ia bukan sekadar angka. Ia menjadi simbol kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar, bahwa di tengah kehilangan, masih ada yang datang. Masih ada yang tinggal. Masih ada yang percaya bahwa Tukka layak untuk bangkit. (adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru