28 C
Medan
Tuesday, February 10, 2026

MTQ 2026 Dinilai Menutup Ruang Anak Daerah, Aktivis IMM Soroti LPTQ Sergai

SEI RAMPAH, SumutPos.co- Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) Tahun 2026 menuai sorotan serius. Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Muhammad Andrian menilai, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Sergai telah keluar dari ruh pembinaan dan justru menjadi faktor penghambat lahirnya qari dan qariah terbaik dari daerah sendiri.

Alih-alih membuka ruang pembinaan, MTQ tahun ini dinilai berubah menjadi ajang penyaringan administratif yang menyingkirkan anak-anak daerah, sebelum mereka sempat menunjukkan kemampuan membaca Al-Quran. Salah satu kebijakan yang disorot adalah kewajiban kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) sebagai syarat mutlak pendaftaran peserta. Kebijakan ini berdampak langsung pada gagalnya banyak anak mengikuti MTQ, meskipun telah memiliki dokumen resmi negara lain seperti Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga.

Menurut Andrian, kebijakan tersebut menunjukkan cara pandang sempit penyelenggara MTQ yang lebih mengutamakan kelengkapan berkas dibandingkan misi utama pembinaan Al-Quran. “Ini namanya gugur sebelum bertanding. Kita matikan semangatnya belum lagi dia tampil. Ini menunjukkan penyelenggara ini berpikir terlalu sempit,” kata Andrian.

Ini bukan sekadar persoalan teknis, lanjut Andrian, ketika anak yang siap berkompetisi digugurkan hanya karena tidak punya KIA, maka yang dikorbankan adalah hak mereka untuk berkembang dan berprestasi. “KK kan ada, Akta Kelahiran juga ada. Administrasi diperlakukan seperti palu godam, bukan alat bantu. Bisa mati minat dan semangat generasi Qurani begini terus,” tegasnya.

Tak hanya soal administrasi, Andrian juga mengkritisi minimnya gaung MTQ di tengah masyarakat. Kegiatan yang seharusnya menjadi agenda keagamaan terbesar daerah justru berlangsung tanpa denyut syiar yang terasa. “Kami mencoba bertanya ke masyarakat di beberapa titik, banyak yang bahkan tidak tahu sedang berlangsung MTQ. Ini ironi. Padahal kegiatan ini menggunakan anggaran daerah yang tidak kecil,” ujarnya.

Kalau hendak melaksanakan kegiatan besar itu, matang dulu. Jangan serabutan, tujuannya gak jelas. Kita mau syiar dan kita mau meningkatkan minat anak-anak belajar Al Qur’an di tengah arus internet yang dahsyat ini. Tapi kalau begini gaungnya ya cuma itu-itu saja yang tahu, apalagi sebagiannya sudah tereliminasi lebih dulu karena KIA. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait efektivitas penggunaan anggaran MTQ di tengah tuntutan efisiensi keuangan daerah, tambahnya.

Ia bahkan menduga adanya kepentingan oknum tertentu yang bermain di balik kebijakan-kebijakan tersebut. “Kami menduga ada oknum-oknum yang sengaja mengatur peserta, bahkan tidak menutup kemungkinan ada kepentingan bisnis. Jika ini dibiarkan, MTQ hanya akan menjadi agenda seremonial tidak sesuai dengan tujuan pelaksanaan MTQ itu sendiri. Jika pembiaran terus terjadi, yang hilang bukan hanya panggung MTQ, tapi masa depan anak-anak Serdang Bedagai sendiri “ tutupnya. (rel/adz)

SEI RAMPAH, SumutPos.co- Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) Tahun 2026 menuai sorotan serius. Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Muhammad Andrian menilai, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Sergai telah keluar dari ruh pembinaan dan justru menjadi faktor penghambat lahirnya qari dan qariah terbaik dari daerah sendiri.

Alih-alih membuka ruang pembinaan, MTQ tahun ini dinilai berubah menjadi ajang penyaringan administratif yang menyingkirkan anak-anak daerah, sebelum mereka sempat menunjukkan kemampuan membaca Al-Quran. Salah satu kebijakan yang disorot adalah kewajiban kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) sebagai syarat mutlak pendaftaran peserta. Kebijakan ini berdampak langsung pada gagalnya banyak anak mengikuti MTQ, meskipun telah memiliki dokumen resmi negara lain seperti Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga.

Menurut Andrian, kebijakan tersebut menunjukkan cara pandang sempit penyelenggara MTQ yang lebih mengutamakan kelengkapan berkas dibandingkan misi utama pembinaan Al-Quran. “Ini namanya gugur sebelum bertanding. Kita matikan semangatnya belum lagi dia tampil. Ini menunjukkan penyelenggara ini berpikir terlalu sempit,” kata Andrian.

Ini bukan sekadar persoalan teknis, lanjut Andrian, ketika anak yang siap berkompetisi digugurkan hanya karena tidak punya KIA, maka yang dikorbankan adalah hak mereka untuk berkembang dan berprestasi. “KK kan ada, Akta Kelahiran juga ada. Administrasi diperlakukan seperti palu godam, bukan alat bantu. Bisa mati minat dan semangat generasi Qurani begini terus,” tegasnya.

Tak hanya soal administrasi, Andrian juga mengkritisi minimnya gaung MTQ di tengah masyarakat. Kegiatan yang seharusnya menjadi agenda keagamaan terbesar daerah justru berlangsung tanpa denyut syiar yang terasa. “Kami mencoba bertanya ke masyarakat di beberapa titik, banyak yang bahkan tidak tahu sedang berlangsung MTQ. Ini ironi. Padahal kegiatan ini menggunakan anggaran daerah yang tidak kecil,” ujarnya.

Kalau hendak melaksanakan kegiatan besar itu, matang dulu. Jangan serabutan, tujuannya gak jelas. Kita mau syiar dan kita mau meningkatkan minat anak-anak belajar Al Qur’an di tengah arus internet yang dahsyat ini. Tapi kalau begini gaungnya ya cuma itu-itu saja yang tahu, apalagi sebagiannya sudah tereliminasi lebih dulu karena KIA. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait efektivitas penggunaan anggaran MTQ di tengah tuntutan efisiensi keuangan daerah, tambahnya.

Ia bahkan menduga adanya kepentingan oknum tertentu yang bermain di balik kebijakan-kebijakan tersebut. “Kami menduga ada oknum-oknum yang sengaja mengatur peserta, bahkan tidak menutup kemungkinan ada kepentingan bisnis. Jika ini dibiarkan, MTQ hanya akan menjadi agenda seremonial tidak sesuai dengan tujuan pelaksanaan MTQ itu sendiri. Jika pembiaran terus terjadi, yang hilang bukan hanya panggung MTQ, tapi masa depan anak-anak Serdang Bedagai sendiri “ tutupnya. (rel/adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru