RANTAUPRAPAT, SUMUTPOS.CO – Masyarakat kota Rantauprapat menaruh fokus perhatian ke Lapangan Ika Bina di Jalan MH Thamrin, Rantauprapat, Jumat pagi (10/4). Di lokasi berspanduk biru bertuliskan ‘Warung Polri Presisi’ berkibar pelan. Di balik meja panjang, personel Polres Labuhanbatu dengan sigap menyusun ratusan kotak makanan. Inilah wajah lain dari kepolisian yang jarang tersorot bukan sebagai aparat penegak hukum yang tegas dan mengintimidasi, melainkan sebagai tetangga yang peduli.
Sebanyak 500 porsi makanan lengkap dengan minuman bernutrisi disiapkan. Namun, angka itu hanyalah statistik. Yang lebih substansial adalah pesan yang ingin disampaikan: Polri hadir untuk masyarakat, bukan hanya saat ada masalah.
Kapolres Labuhanbatu, AKBP Wahyu Endrajaya, secara resmi meluncurkan program ini sebagai terobosan baru dalam pendekatan sosial kepolisian. “Kami ingin terus berkontribusi positif kepada masyarakat. Tidak ada perbedaan latar belakang, tidak ada pembedaan profesi,” ujarnya dalam sambutan.
Dan benar-benar tidak ada sekat. Dalam antrean yang tertib, tampak berdampingan para pengemudi ojek online yang biasa nongkrong di pinggir jalan, ibu-ibu petugas kebersihan dengan seragam oranye khas mereka, hingga para penarik becak bermotor yang raut wajahnya mulai berseri.
Salah satu aspek yang menarik dari program ini adalah standar keamanan pangan yang diterapkan. Sebelum disajikan, seluruh makanan menjalani pemeriksaan ketat oleh tim Kesehatan (Sidokkes) Polres Labuhanbatu. Pengecekan meliputi kebersihan, kehigienisan, hingga kelayakan konsumsi.
Ini menjadi nilai tambah yang membedakan Warung Polri Presisi dari kegiatan berbagi biasa. “Kami tidak hanya ingin berbagi, tetapi juga memastikan apa yang kami berikan benar-benar sehat dan layak. Ini bentuk tanggung jawab,” jelasnya.
Peluncuran perdana ini bukan sekadar seremoni satu kali. Kapolres Labuhanbatu menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kegiatan secara rutin jika mendapat respons positif dari warga.
“Jika kegiatan ini berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif, maka akan kita lanjutkan secara rutin setiap hari Jumat,” ujar AKBP Wahyu Endrajaya.
Pilihan hari Jumat pun terasa simbolis. Sebagai hari yang sarat berkah bagi sebagian besar masyarakat, momentum ini diharapkan memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Gerakan berbagi yang dilembagakan.
Tak ketinggalan, Ketua Bhayangkari Cabang Labuhanbatu, Ny Fida Wahyu Endrajaya, turun langsung membagikan makanan. Kehadirannya memberikan sentuhan hangat dan keibuan di tengah euforia warga yang antusias.
Ia terlihat menyapa satu per satu penerima manfaat, bahkan sempat menggendong balita seorang pengemudi ojol yang ikut serta. Momen-momen kecil seperti ini yang memperkuat kesan bahwa Bhayangkari bukanlah organisasi yang eksklusif, melainkan mitra perempuan masyarakat yang peduli dengan kesejahteraan bersama.
Di sela-sela pembagian, Kapolres juga menyampaikan imbauan yang menarik. Masyarakat diminta untuk tetap tertib saat antre dan menjaga kebersihan lingkungan setelah kegiatan usai. Pesan ini bukan tanpa alasan.
Di balik aksi sosial, Polres Labuhanbatu tetap menjalankan fungsinya sebagai pembina ketertiban masyarakat. Dengan menyelipkan pesan menjaga kebersihan dan ketertiban, program ini menjadi pengingat lembut bahwa budaya hidup bersih dan sehat adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya aparat.
Warung Polri Presisi mungkin tampak sederhana di permukaan: berbagi makanan gratis. Namun, jika ditelisik lebih dalam, program ini mencerminkan perubahan paradigma dalam pendekatan kepolisian terhadap masyarakat.
Selama ini, hubungan polisi-warga kerap dibingkai dalam relasi kuasa: polisi sebagai pengawas, masyarakat sebagai yang diawasi. Namun, di Warung Polri Presisi, relasi itu berubah. Polisi menjadi pemberi, masyarakat menjadi penerima yang setara. Tidak ada KTP yang diperiksa, tidak ada surat tilang yang dibagikan. Yang ada hanyalah senyuman dan ucapan terima kasih.
“Ini pertama kali saya makan siang dari polisi. Biasanya cuma lihat dari jauh kalau ada razia,” ujar seorang warga.
Pertanyaan besarnya, akankah program ini bertahan dan menjadi gerakan berkelanjutan? Atau hanya akan menjadi dokumentasi kegiatan yang terlupakan begitu momentumnya habis?
Kapolres Labuhanbatu tampaknya sadar akan tantangan itu. Komitmen untuk melanjutkan setiap hari Jumat menunjukkan adanya rencana keberlanjutan. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya tergantung pada kesiapan logistik Polres, tetapi juga pada bagaimana masyarakat merespons dan ikut menjaga semangat kebersamaan ini.
Idealnya, Warung Polri Presisi menjadi model yang dapat direplikasi oleh kepolisian di daerah lain. Bukan sekadar warung makan gratis, tetapi sebagai ruang dialog antara polisi dan warga dalam suasana yang cair dan tidak formal. Di sanalah kepercayaan publik sesungguhnya dibangun. (fdh/azw)

