LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Perairan Pangkalansusu, Langkat, kembali menelan korban setelah tiang rig yang tertancap di jalur kapal nelayan merusak kapal milik Zulkifli, seorang nelayan berdomisili di Kelurahan Berasbasah. Peristiwa ini terjadi pada malam hari, dan bukan kali pertama terjadi di lokasi yang sama.
Menurut Zulkifli, kapalnya hancur setelah menabrak tiang rig, dan ia harus berjuang bertahan hidup di tengah laut selama tujuh jam, dari pukul 22.00 WIB hingga 05.00 WIB, sebelum akhirnya bisa lepas dari bahaya. “Kurang lebih dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi, kapal baru bisa lepas dari situ,” ungkapnya.
Zulkifli menambahkan, ada sekitar sembilan tiang rig yang tersebar di jalur keluar masuk kapal nelayan dan boat sewa. Banyak rekan nelayannya juga mengalami kerusakan kapal akibat benturan dengan tiang-tiang besi raksasa tersebut. “Bukan saya saja, ada sekitar 10 kapal nelayan rusak. Bahkan ada yang kepalanya copot, ada juga yang karam,” katanya.
Masalah utama yang memicu kecelakaan berulang, menurut nelayan, adalah tidak adanya lampu penerangan dan rambu-rambu di lokasi pengeboran. “Kalau malam hari saat cuaca buruk, tiang tersebut tidak terlihat sama sekali. Itu sangat membahayakan,” jelasnya.
Para nelayan berharap perusahaan migas terkait dapat memasang lampu navigasi dan rambu peringatan agar tidak terjadi korban lain.
Zulkifli menegaskan, laporan ini disampaikan demi keselamatan bersama, meski banyak rekannya yang enggan melapor karena takut terkena prosedur hukum laut.
Menanggapi hal ini, Humas PT Pertamina, Wahyu, menyatakan tiang rig yang menyebabkan kerusakan kapal bukan milik Pertamina. “Sepertinya tidak ada kewenangan saya menyikapi permasalahan ini. Memang ada tiga perusahaan migas di Langkat, salah satunya PT EMP. Jadi ini bukan di bawah naungan Pertamina,” jelasnya.
Hingga saat ini, nelayan masih harus melaut di malam hari dengan rasa was-was demi mencari nafkah keluarga. Mereka berharap pihak berwenang dan perusahaan terkait segera menyediakan lampu navigasi dan pengamanan tiang rig untuk mencegah kecelakaan berikutnya. (ted/ila)

