30 C
Medan
Saturday, June 15, 2024

Adik Mimpikan Sastika Berpakaian Serba Putih

Foto: Rizky/PM Foto Sastika di BB dan fotonya bersama ponakan semasa hidup. Cewek Delitua ini tewas setelah kapal Pompong yang ditumpanginya ditabrak, dalam pelayaran ilegal ke Malaysia.
Foto: Rizky/PM
Foto Sastika di BB dan fotonya bersama ponakan semasa hidup. Cewek Delitua ini tewas setelah kapal Pompong yang ditumpanginya ditabrak, dalam pelayaran ilegal ke Malaysia.

DELITUA, SUMUTPOS.CO – Suasana berkabung sangat terasa di Jl. Utama I, Ling. VIII, Desa Mekar Sari, Kec. Deli Tua, Deliserdang. Pihak keluarga tampak gelisah menunggu kedatangan mobil ambulans yang membawa jenasah Sastika.

Di sela penantian tersebut, Suprapti, ibu korban sempat berkisah kalau dirinya sempat mengantar putri sulungnya itu ke stasiun kereta api pada Minggu (18/1) pagi.

Saat pergi, korban membawa koper warna coklat dan hitam berisi pakaian. Selain itu, Sastika juga menyandang tas ransel warna abu-abu berisi kelengkapan dokumen dan benda-benda berharga.

Dari Medan, gadis bertubuh tambun itu rencananya berhenti di Tanjungbalai. Dari dermaga, wanita berambut sebahu tersebut dijadwalkan naik kapal kecil (Pompong) menuju sebuah dermaga. Berikutnya, Sastika akan melanjutkan perjalanan ke Malaysia dengan menumpang kapal tongkang.

Pada Senin (19/1) sekira pukul 07.30 WIB, seseorang mengaku petugas Basarnas menelepon dan memberitahu kalau Sastika tewas dalam kecelakaan di laut.

Menurut petugas, perahu yang ditumpangi korban terdapat 8 penumpang. Sastika tewas dalam kecelakaan itu, karena duduk di posisi paling belakang dekat mesin.

“Kata petugas itu, kapal yang ditumpangi putriku meledak sekitar jam 1 pagi. Setelah memberitahu kecelakaan itu, kami disuruh menjemput jenazah ke RSUD Tanjungbalai,” ujar Suprapti.

Masih di rumah duka, Oding Prayoga (18), adik Sastika menyebutkan kalau korban sebenarnya berat kembali ke Malaysia. “Malaslah aku balik lagi (ke Malaysia) kalo cuma sendiri,” ujar Oding mengulang perkataan Sastika.

Lanjut Oding, korban merupakan panutan dalam keluarga. Sebab, selama bekerja di Negeri Jiran, sang kakak selalu mengirimkan uang untuk membantu orangtua mereka melunasi utang serta membantu biaya sekolah mereka.

Kesedihan mendalam juga dirasakan Retno Larasati (16), adik kedua Sastika. Dikatakannya, malam keberangkatan korban, dirinya bermimpi sang kakak membuka jendela rumah. “Di mimpiku itu, kakak memakai pakaian serba putih,” kenangnya. “Kayak bukan mimpi,” tambahnya.

Seperti itulah, keluarga tak bisa menutupi kesedihannya. Bangku-bangku STM telah tersusun rapi di depan rumah. Tenda hijau telah terpasang membentuk persegi. Bendera merah tertancap di tiang listrik depan gang.

Adzan telah berkumandang, suara sirine ambulan menyusul kemudian. Tangis tak terbendung lagi. “Itu jenazahnya datang,” ujar seorang tetangga yang bertakjiah.

Tak salah. Seorang lelaki berkulit coklat berkumis panjang mengkomadoi turunnya jenazah. Dia adalah Asriadi (41), sang bapak. Curahan air mata memblokade kesunyian saat itu.

Semua terisak penuh pilu. Jenasah Sastika yang berada di dalam peti langsung dibawa ke dalam rumah. Tak butuh waktu lama, jenazah pun disholatkan dan dibawa ke pemakaman umum Deli Tua. (cr3/cr5/ras)

Foto: Rizky/PM Foto Sastika di BB dan fotonya bersama ponakan semasa hidup. Cewek Delitua ini tewas setelah kapal Pompong yang ditumpanginya ditabrak, dalam pelayaran ilegal ke Malaysia.
Foto: Rizky/PM
Foto Sastika di BB dan fotonya bersama ponakan semasa hidup. Cewek Delitua ini tewas setelah kapal Pompong yang ditumpanginya ditabrak, dalam pelayaran ilegal ke Malaysia.

DELITUA, SUMUTPOS.CO – Suasana berkabung sangat terasa di Jl. Utama I, Ling. VIII, Desa Mekar Sari, Kec. Deli Tua, Deliserdang. Pihak keluarga tampak gelisah menunggu kedatangan mobil ambulans yang membawa jenasah Sastika.

Di sela penantian tersebut, Suprapti, ibu korban sempat berkisah kalau dirinya sempat mengantar putri sulungnya itu ke stasiun kereta api pada Minggu (18/1) pagi.

Saat pergi, korban membawa koper warna coklat dan hitam berisi pakaian. Selain itu, Sastika juga menyandang tas ransel warna abu-abu berisi kelengkapan dokumen dan benda-benda berharga.

Dari Medan, gadis bertubuh tambun itu rencananya berhenti di Tanjungbalai. Dari dermaga, wanita berambut sebahu tersebut dijadwalkan naik kapal kecil (Pompong) menuju sebuah dermaga. Berikutnya, Sastika akan melanjutkan perjalanan ke Malaysia dengan menumpang kapal tongkang.

Pada Senin (19/1) sekira pukul 07.30 WIB, seseorang mengaku petugas Basarnas menelepon dan memberitahu kalau Sastika tewas dalam kecelakaan di laut.

Menurut petugas, perahu yang ditumpangi korban terdapat 8 penumpang. Sastika tewas dalam kecelakaan itu, karena duduk di posisi paling belakang dekat mesin.

“Kata petugas itu, kapal yang ditumpangi putriku meledak sekitar jam 1 pagi. Setelah memberitahu kecelakaan itu, kami disuruh menjemput jenazah ke RSUD Tanjungbalai,” ujar Suprapti.

Masih di rumah duka, Oding Prayoga (18), adik Sastika menyebutkan kalau korban sebenarnya berat kembali ke Malaysia. “Malaslah aku balik lagi (ke Malaysia) kalo cuma sendiri,” ujar Oding mengulang perkataan Sastika.

Lanjut Oding, korban merupakan panutan dalam keluarga. Sebab, selama bekerja di Negeri Jiran, sang kakak selalu mengirimkan uang untuk membantu orangtua mereka melunasi utang serta membantu biaya sekolah mereka.

Kesedihan mendalam juga dirasakan Retno Larasati (16), adik kedua Sastika. Dikatakannya, malam keberangkatan korban, dirinya bermimpi sang kakak membuka jendela rumah. “Di mimpiku itu, kakak memakai pakaian serba putih,” kenangnya. “Kayak bukan mimpi,” tambahnya.

Seperti itulah, keluarga tak bisa menutupi kesedihannya. Bangku-bangku STM telah tersusun rapi di depan rumah. Tenda hijau telah terpasang membentuk persegi. Bendera merah tertancap di tiang listrik depan gang.

Adzan telah berkumandang, suara sirine ambulan menyusul kemudian. Tangis tak terbendung lagi. “Itu jenazahnya datang,” ujar seorang tetangga yang bertakjiah.

Tak salah. Seorang lelaki berkulit coklat berkumis panjang mengkomadoi turunnya jenazah. Dia adalah Asriadi (41), sang bapak. Curahan air mata memblokade kesunyian saat itu.

Semua terisak penuh pilu. Jenasah Sastika yang berada di dalam peti langsung dibawa ke dalam rumah. Tak butuh waktu lama, jenazah pun disholatkan dan dibawa ke pemakaman umum Deli Tua. (cr3/cr5/ras)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/