31 C
Medan
Saturday, March 28, 2026

Kisah Arika, Korban Kecelakaan di Padangtualang, Dari Melawan Penyakit hingga Rencana Pernikahan

Suasana duka menyelimuti Dusun I Tambusai, Desa Besilam, Kecamatan Padangtualang. Rumah sederhana milik Rustam Efendi dipadati warga yang datang silih berganti. Mereka ingin mengantar kepergian Arika Sahfitri (24), perempuan muda yang tutup usia dalam kecelakaan tragis di Jalan Padangtualang–Tanjungpura.

Teddy Akbari, Langkat

Isak tangis tak terbendung saat jenazah Arika diberangkatkan usai Salat Jumat. Ia dimakamkan di Perkampungan Babussalam, berdampingan dengan pusara sang ibu, Rahmah, yang telah lebih dulu berpulang pada 2008 silam.

Bagi Rustam, kepergian anak keduanya itu meninggalkan duka mendalam baginya. Di matanya, Arika adalah sosok pejuang perempuan yang sejak kecil sudah ditempa ujian hidup. “Kenangan anak saya ini terlalu banyak. Waktu masih sekolah dasar, dia pernah sakit parah sampai mengeluarkan banyak darah. Saya sangat cemas waktu itu,” ujar Rustam dengan suara bergetar, Jumat (27/3/2026).

Namun takdir kala itu masih memberi waktu. Arika perlahan sembuh, kembali tumbuh, dan melanjutkan hidup seperti anak-anak lainnya. Meski begitu, ujian tak sepenuhnya pergi. Saat mulai bekerja, ia kembali diuji dengan penyakit usus buntu yang sempat membuat keluarganya kembali diliputi kekhawatiran.“Waktu itu dia kerja, tiba-tiba sakit lagi. Saya benar-benar sedih dan kewalahan,” kenangnya.

Di balik semua perjuangan itu, Arika ternyata tengah menata masa depan. Ia sempat mengutarakan niat untuk menikah di tahun 2026. Bahkan, rencana itu disusunnya dengan menunggu sang kakak lebih dulu menikah setelah Lebaran. “Dia bilang, setelah kakaknya menikah, baru dia menyusul. Itu terakhir kali dia cerita sama saya,” kata Rustam lirih.

Sosok laki-laki yang disebut-sebut akan menjadi pendamping hidupnya adalah Rizki Setiawan (25), yang juga menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Meski belum ada pembicaraan resmi antar keluarga, niat itu telah tumbuh di antara keduanya. Namun, rencana itu kini tinggal kenangan.

Bagi Rustam, kepergian Arika tidak ada berfirasat apapun. Sama halnya waktu kepergian ibunya wafat pada 2008 silam. “Ibunya meninggal Tahun 2008 tepat 12 Idulfitri, sedangkan Arika 7 Idulfitri. Memang Arika yang sering ingat sama ibunya,” katanya.

Peristiwa nahas terjadi Kamis siang (26/3/2026). Arika dan Rizki berboncengan mengendarai sepeda motor menuju undangan temannya di Lubuk Tapah. Saat itu, Rustam tengah menunaikan Salat Zuhur di masjid kampung.

Sebuah pesan singkat menjadi kenangan terakhir yang ditinggalkan Arika. “Dia sempat kirim SMS, bilang kunci rumah dititipkan. Itu saja,” tutur Rustam.

Tak lama setelahnya, kabar duka datang. Dari keluarga di samping rumah, ia mendapat informasi bahwa anaknya mengalami kecelakaan. Dengan langkah tergesa, ia menuju lokasi kejadian di kawasan Bukit Rejo.

Sampai di lokasi, tubuh Arika telah terbaring kaku di jalan. Rustam bahkan tak sempat memastikan sendiri, karena warga sudah lebih dulu mengenali identitas putrinya melalui KTP yang ditemukan di tempat kejadian. “Perasaan saya hancur. Tidak ada firasat apa pun sebelumnya,” ucapnya pelan.

Kecelakaan itu sendiri melibatkan sepeda motor yang ditumpangi korban dengan sebuah dump truk dan mobil dari arah berlawanan. Berdasarkan keterangan Budi Sihotang, peristiwa terjadi saat korban diduga hendak mendahului truk di jalan sempit dan berkelok. Ruang gerak yang terbatas membuat sepeda motor kehilangan kendali, hingga akhirnya kedua korban terjatuh dan terlindas ban truk.

“Karena jalan yang sempit, tidak ada ruang gerak yang cukup untuk untuk sepeda motor Honda Beat bergerak, sehingga pada saat sudah berada di samping kanan dump truk, sepeda motor Honda Beat oleng ke kiri dan bersentuhan dengan bagian samping kanan dum truk,” kata Budi.

Rizki sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Ia lebih dulu dimakamkan pada Kamis malam. Sementara Arika mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian. Kepergian keduanya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar yang mengenal mereka sebagai pribadi baik. (*)

Suasana duka menyelimuti Dusun I Tambusai, Desa Besilam, Kecamatan Padangtualang. Rumah sederhana milik Rustam Efendi dipadati warga yang datang silih berganti. Mereka ingin mengantar kepergian Arika Sahfitri (24), perempuan muda yang tutup usia dalam kecelakaan tragis di Jalan Padangtualang–Tanjungpura.

Teddy Akbari, Langkat

Isak tangis tak terbendung saat jenazah Arika diberangkatkan usai Salat Jumat. Ia dimakamkan di Perkampungan Babussalam, berdampingan dengan pusara sang ibu, Rahmah, yang telah lebih dulu berpulang pada 2008 silam.

Bagi Rustam, kepergian anak keduanya itu meninggalkan duka mendalam baginya. Di matanya, Arika adalah sosok pejuang perempuan yang sejak kecil sudah ditempa ujian hidup. “Kenangan anak saya ini terlalu banyak. Waktu masih sekolah dasar, dia pernah sakit parah sampai mengeluarkan banyak darah. Saya sangat cemas waktu itu,” ujar Rustam dengan suara bergetar, Jumat (27/3/2026).

Namun takdir kala itu masih memberi waktu. Arika perlahan sembuh, kembali tumbuh, dan melanjutkan hidup seperti anak-anak lainnya. Meski begitu, ujian tak sepenuhnya pergi. Saat mulai bekerja, ia kembali diuji dengan penyakit usus buntu yang sempat membuat keluarganya kembali diliputi kekhawatiran.“Waktu itu dia kerja, tiba-tiba sakit lagi. Saya benar-benar sedih dan kewalahan,” kenangnya.

Di balik semua perjuangan itu, Arika ternyata tengah menata masa depan. Ia sempat mengutarakan niat untuk menikah di tahun 2026. Bahkan, rencana itu disusunnya dengan menunggu sang kakak lebih dulu menikah setelah Lebaran. “Dia bilang, setelah kakaknya menikah, baru dia menyusul. Itu terakhir kali dia cerita sama saya,” kata Rustam lirih.

Sosok laki-laki yang disebut-sebut akan menjadi pendamping hidupnya adalah Rizki Setiawan (25), yang juga menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Meski belum ada pembicaraan resmi antar keluarga, niat itu telah tumbuh di antara keduanya. Namun, rencana itu kini tinggal kenangan.

Bagi Rustam, kepergian Arika tidak ada berfirasat apapun. Sama halnya waktu kepergian ibunya wafat pada 2008 silam. “Ibunya meninggal Tahun 2008 tepat 12 Idulfitri, sedangkan Arika 7 Idulfitri. Memang Arika yang sering ingat sama ibunya,” katanya.

Peristiwa nahas terjadi Kamis siang (26/3/2026). Arika dan Rizki berboncengan mengendarai sepeda motor menuju undangan temannya di Lubuk Tapah. Saat itu, Rustam tengah menunaikan Salat Zuhur di masjid kampung.

Sebuah pesan singkat menjadi kenangan terakhir yang ditinggalkan Arika. “Dia sempat kirim SMS, bilang kunci rumah dititipkan. Itu saja,” tutur Rustam.

Tak lama setelahnya, kabar duka datang. Dari keluarga di samping rumah, ia mendapat informasi bahwa anaknya mengalami kecelakaan. Dengan langkah tergesa, ia menuju lokasi kejadian di kawasan Bukit Rejo.

Sampai di lokasi, tubuh Arika telah terbaring kaku di jalan. Rustam bahkan tak sempat memastikan sendiri, karena warga sudah lebih dulu mengenali identitas putrinya melalui KTP yang ditemukan di tempat kejadian. “Perasaan saya hancur. Tidak ada firasat apa pun sebelumnya,” ucapnya pelan.

Kecelakaan itu sendiri melibatkan sepeda motor yang ditumpangi korban dengan sebuah dump truk dan mobil dari arah berlawanan. Berdasarkan keterangan Budi Sihotang, peristiwa terjadi saat korban diduga hendak mendahului truk di jalan sempit dan berkelok. Ruang gerak yang terbatas membuat sepeda motor kehilangan kendali, hingga akhirnya kedua korban terjatuh dan terlindas ban truk.

“Karena jalan yang sempit, tidak ada ruang gerak yang cukup untuk untuk sepeda motor Honda Beat bergerak, sehingga pada saat sudah berada di samping kanan dump truk, sepeda motor Honda Beat oleng ke kiri dan bersentuhan dengan bagian samping kanan dum truk,” kata Budi.

Rizki sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Ia lebih dulu dimakamkan pada Kamis malam. Sementara Arika mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian. Kepergian keduanya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar yang mengenal mereka sebagai pribadi baik. (*)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru