Damkar

5 Kabupaten dan Medan Terendam, BPBD Sumut Minta Warga Waspada Banjir Susulan

MEDAN – Gelombang cuaca ekstrem menerjang wilayah Sumatera Utara (Sumut) sejak Sabtu (26/9) hingga Minggu (27/9). Curah hujan tinggi yang mengguyur tanpa henti memicu serangkaian bencana hidrometeorologi secara masif, mulai dari banjir, banjir bandang, hingga terpaan angin puting beliung.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut per Minggu (27/9) pukul 08.00 WIB, sedikitnya lima kabupaten dilaporkan terdampak parah, yakni Deli Serdang, Simalungun, Tapanuli Utara, Samosir, dan Tapanuli Tengah. Tak hanya itu, Kota Medan juga kembali dikepung banjir di sejumlah titik vital akibat meluapnya sungai-sungai utama. Rangkaian bencana ini menyebabkan puluhan rumah warga terendam, bangunan fasilitas publik dan pemukiman rusak, serta puluhan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal untuk mengungsi demi keselamatan jiwa.

Amukan cuaca buruk membawa dampak yang meluas di berbagai kawasan. Di Kabupaten Deli Serdang, banjir melanda Dusun V, VI, dan VI A di Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, sejak Sabtu (26/9) pukul 10.00 WIB. Meluapnya Sungai Anak Baru akibat hujan deras merendam 20 unit rumah warga yang dihuni oleh 20 kepala keluarga (KK) atau sekitar 80 jiwa. Tim gabungan yang turun ke lokasi menemukan bahwa luapan air diperparah oleh penyempitan gorong-gorong serta pendangkalan aliran sungai. BPBD Deli Serdang langsung merekomendasikan langkah normalisasi sungai dan pembangunan tanggul sepanjang 500 meter di sepanjang aliran Sungai Anak Baru agar permukiman tidak terus menjadi langganan banjir.

Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Simalungun. Hujan intensitas tinggi yang mengguyur Kecamatan Haranggaol Horison pada Sabtu sore hingga malam membuat Sungai Siboro tak sanggup menampung debit air. Meluapnya sungai ini menerjang Kelurahan Haranggaol dan merendam lima rumah warga. Satu rumah dilaporkan mengalami rusak berat akibat dinding dan lantainya roboh diterjang arus, sedangkan empat rumah lainnya terendam air bercampur lumpur tebal. Petugas bersama warga bergerak cepat menyingkirkan material lumpur dan mengevakuasi penghuni rumah yang rusak berat ke permukiman kerabat terdekat.

Sementara itu, bencana di Kabupaten Tapanuli Utara dipicu oleh angin kencang. Fenomena angin puting beliung menerjang Desa Siabal-abal V, Kecamatan Sipahutar pada Sabtu (26/9). Atap sembilan rumah warga dilaporkan terbang dan rusak dihantam angin kencang. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden tersebut. Pemerintah kabupaten setempat bersama unsur desa langsung melakukan pendataan dan penanganan darurat bagi bangunan yang mengalami kerusakan.

Ancaman banjir bandang juga melanda Kabupaten Samosir, tepatnya di Dusun I Sitobu, Desa Garoga, Kecamatan Simanindo pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 18.00 WIB. Hujan deras di kawasan hulu memicu bah menerjang area permukiman warga. Satu unit rumah milik warga bermarga Harianja mengalami rusak ringan setelah bangunan gudangnya hancur serta tembok penahan tanah (TPT) di sekitar lokasi ambrol. Guna menghindari risiko susulan, sebanyak empat kepala keluarga terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Tapanuli Tengah menjadi daerah dengan dampak paling meluas. Banjir mengepung sedikitnya tujuh kecamatan, yakni Tukka, Kolang, Pandan, Tapian Nauli, Sarudik, Badiri, dan Pinangsori, yang mencakup dua desa dan delapan kelurahan. Di Kecamatan Tukka, banjir bahkan mencapai ketinggian dada orang dewasa hingga melumpuhkan akses transportasi. Sementara itu, di Kecamatan Sarudik, genangan air berkisar 50 sentimeter. Sebanyak 5 KK atau 14 jiwa terpaksa dievakuasi ke lokasi pengungsian di SMP Negeri 3 Tukka. Tim Penanganan Cepat (SRC) bersama BPBD disiagakan di berbagai titik rawan untuk memantau ketinggian air dan membantu proses evakuasi warga.

Dampak cuaca ekstrem tak berhenti di kawasan daerah. Kota Medan pun ikut diterjang banjir pada Sabtu malam akibat tingginya curah hujan di wilayah hilir maupun kiriman dari kawasan pegunungan. Beberapa ruas jalan utama dan permukiman padat tergenang air dengan ketinggian bervariasi antara 10 hingga lebih dari 20 sentimeter. Kawasan terdampak melingkupi Jalan Gatot Subroto, Jalan Juanda, Jalan Letjen Suprapto, Jalan Kapten Muslim, Jalan Bunga Raya di Kelurahan Asam Kumbang, Kelurahan Aur di Kecamatan Medan Maimun, hingga sejumlah titik di Medan Utara.

Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari mengonfirmasi, kenaikan tinggi muka air di Sungai Deli dan Sungai Babura secara keseluruhan mencapai 50 sentimeter, sedangkan Sungai Belawan naik sekitar 10 sentimeter. Yunita memastikan kondisi di ibukota provinsi tersebut sejauh ini masih aman dan terkendali tanpa ada warga yang perlu dievakuasi karena sejak Minggu pagi genangan air sudah mulai surut. Meski demikian, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat potensi hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu pegunungan masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Pemerintah Pemprov Sumatera Utara memastikan seluruh instansi terkait di tingkat kabupaten dan kota terus bergerak aktif bersama unsur TNI, Polri, dan masyarakat untuk melakukan langkah tanggap darurat. Kepala BPBD Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih, menegaskan bahwa seluruh daerah terdampak masih dalam penanganan intensif. Walaupun di beberapa lokasi debit air mulai surut, kesiapsiagaan penuh tetap diberlakukan guna mengantisipasi ancaman luapan susulan.

Dari sisi meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem di Sumatera Utara masih akan berlangsung hingga tiga hari ke depan. Prakirawan BBMKG Wilayah 1 Medan, Putri Diana, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini menunjukkan pertumbuhan awan hujan yang sangat masif di wilayah Sumut. Adanya konvergensi dan belokan angin memicu pertumbuhan awan hujan secara intens. Aktifnya gelombang atmosfer Kelvin, Rossby, dan MJO spasial di Pulau Sumatera turut menambah aktivitas konvektif secara signifikan.

Suhu muka laut di perairan Selat Malaka serta Samudera Hindia barat Sumatera teramati cukup hangat dengan kelembapan udara yang tinggi di setiap lapisan. Kondisi atmosfer yang labil ini menyuplai uap air dalam jumlah besar untuk pembentukan awan hujan. BMKG mengimbau masyarakat untuk ekstra waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, khususnya di kawasan pantai timur, pantai barat, pegunungan, serta lereng barat dan timur Sumut karena risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor masih tergolong tinggi. (san/map/dwi/adz)

MEDAN – Gelombang cuaca ekstrem menerjang wilayah Sumatera Utara (Sumut) sejak Sabtu (26/9) hingga Minggu (27/9). Curah hujan tinggi yang mengguyur tanpa henti memicu serangkaian bencana hidrometeorologi secara masif, mulai dari banjir, banjir bandang, hingga terpaan angin puting beliung.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut per Minggu (27/9) pukul 08.00 WIB, sedikitnya lima kabupaten dilaporkan terdampak parah, yakni Deli Serdang, Simalungun, Tapanuli Utara, Samosir, dan Tapanuli Tengah. Tak hanya itu, Kota Medan juga kembali dikepung banjir di sejumlah titik vital akibat meluapnya sungai-sungai utama. Rangkaian bencana ini menyebabkan puluhan rumah warga terendam, bangunan fasilitas publik dan pemukiman rusak, serta puluhan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal untuk mengungsi demi keselamatan jiwa.

Amukan cuaca buruk membawa dampak yang meluas di berbagai kawasan. Di Kabupaten Deli Serdang, banjir melanda Dusun V, VI, dan VI A di Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, sejak Sabtu (26/9) pukul 10.00 WIB. Meluapnya Sungai Anak Baru akibat hujan deras merendam 20 unit rumah warga yang dihuni oleh 20 kepala keluarga (KK) atau sekitar 80 jiwa. Tim gabungan yang turun ke lokasi menemukan bahwa luapan air diperparah oleh penyempitan gorong-gorong serta pendangkalan aliran sungai. BPBD Deli Serdang langsung merekomendasikan langkah normalisasi sungai dan pembangunan tanggul sepanjang 500 meter di sepanjang aliran Sungai Anak Baru agar permukiman tidak terus menjadi langganan banjir.

Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Simalungun. Hujan intensitas tinggi yang mengguyur Kecamatan Haranggaol Horison pada Sabtu sore hingga malam membuat Sungai Siboro tak sanggup menampung debit air. Meluapnya sungai ini menerjang Kelurahan Haranggaol dan merendam lima rumah warga. Satu rumah dilaporkan mengalami rusak berat akibat dinding dan lantainya roboh diterjang arus, sedangkan empat rumah lainnya terendam air bercampur lumpur tebal. Petugas bersama warga bergerak cepat menyingkirkan material lumpur dan mengevakuasi penghuni rumah yang rusak berat ke permukiman kerabat terdekat.

Sementara itu, bencana di Kabupaten Tapanuli Utara dipicu oleh angin kencang. Fenomena angin puting beliung menerjang Desa Siabal-abal V, Kecamatan Sipahutar pada Sabtu (26/9). Atap sembilan rumah warga dilaporkan terbang dan rusak dihantam angin kencang. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden tersebut. Pemerintah kabupaten setempat bersama unsur desa langsung melakukan pendataan dan penanganan darurat bagi bangunan yang mengalami kerusakan.

Ancaman banjir bandang juga melanda Kabupaten Samosir, tepatnya di Dusun I Sitobu, Desa Garoga, Kecamatan Simanindo pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 18.00 WIB. Hujan deras di kawasan hulu memicu bah menerjang area permukiman warga. Satu unit rumah milik warga bermarga Harianja mengalami rusak ringan setelah bangunan gudangnya hancur serta tembok penahan tanah (TPT) di sekitar lokasi ambrol. Guna menghindari risiko susulan, sebanyak empat kepala keluarga terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Tapanuli Tengah menjadi daerah dengan dampak paling meluas. Banjir mengepung sedikitnya tujuh kecamatan, yakni Tukka, Kolang, Pandan, Tapian Nauli, Sarudik, Badiri, dan Pinangsori, yang mencakup dua desa dan delapan kelurahan. Di Kecamatan Tukka, banjir bahkan mencapai ketinggian dada orang dewasa hingga melumpuhkan akses transportasi. Sementara itu, di Kecamatan Sarudik, genangan air berkisar 50 sentimeter. Sebanyak 5 KK atau 14 jiwa terpaksa dievakuasi ke lokasi pengungsian di SMP Negeri 3 Tukka. Tim Penanganan Cepat (SRC) bersama BPBD disiagakan di berbagai titik rawan untuk memantau ketinggian air dan membantu proses evakuasi warga.

Dampak cuaca ekstrem tak berhenti di kawasan daerah. Kota Medan pun ikut diterjang banjir pada Sabtu malam akibat tingginya curah hujan di wilayah hilir maupun kiriman dari kawasan pegunungan. Beberapa ruas jalan utama dan permukiman padat tergenang air dengan ketinggian bervariasi antara 10 hingga lebih dari 20 sentimeter. Kawasan terdampak melingkupi Jalan Gatot Subroto, Jalan Juanda, Jalan Letjen Suprapto, Jalan Kapten Muslim, Jalan Bunga Raya di Kelurahan Asam Kumbang, Kelurahan Aur di Kecamatan Medan Maimun, hingga sejumlah titik di Medan Utara.

Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari mengonfirmasi, kenaikan tinggi muka air di Sungai Deli dan Sungai Babura secara keseluruhan mencapai 50 sentimeter, sedangkan Sungai Belawan naik sekitar 10 sentimeter. Yunita memastikan kondisi di ibukota provinsi tersebut sejauh ini masih aman dan terkendali tanpa ada warga yang perlu dievakuasi karena sejak Minggu pagi genangan air sudah mulai surut. Meski demikian, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat potensi hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu pegunungan masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Pemerintah Pemprov Sumatera Utara memastikan seluruh instansi terkait di tingkat kabupaten dan kota terus bergerak aktif bersama unsur TNI, Polri, dan masyarakat untuk melakukan langkah tanggap darurat. Kepala BPBD Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih, menegaskan bahwa seluruh daerah terdampak masih dalam penanganan intensif. Walaupun di beberapa lokasi debit air mulai surut, kesiapsiagaan penuh tetap diberlakukan guna mengantisipasi ancaman luapan susulan.

Dari sisi meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem di Sumatera Utara masih akan berlangsung hingga tiga hari ke depan. Prakirawan BBMKG Wilayah 1 Medan, Putri Diana, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini menunjukkan pertumbuhan awan hujan yang sangat masif di wilayah Sumut. Adanya konvergensi dan belokan angin memicu pertumbuhan awan hujan secara intens. Aktifnya gelombang atmosfer Kelvin, Rossby, dan MJO spasial di Pulau Sumatera turut menambah aktivitas konvektif secara signifikan.

Suhu muka laut di perairan Selat Malaka serta Samudera Hindia barat Sumatera teramati cukup hangat dengan kelembapan udara yang tinggi di setiap lapisan. Kondisi atmosfer yang labil ini menyuplai uap air dalam jumlah besar untuk pembentukan awan hujan. BMKG mengimbau masyarakat untuk ekstra waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, khususnya di kawasan pantai timur, pantai barat, pegunungan, serta lereng barat dan timur Sumut karena risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor masih tergolong tinggi. (san/map/dwi/adz)

Artikel Terkait

Damkar

Terpopuler

Artikel Terbaru