25.6 C
Medan
Sunday, May 19, 2024

Menurut Pengamat, Edy Rahmayadi Mulai Ramah

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Lima tahun menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara (Sumut), ada perubahan dalam cara Edy Rahmayadi berkomunikasi. Hal itu, diungkapkan oleh Pengamat Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara (USU) DR. Iskandar Zulkarnain, M.Si. dari amatannya, perubahan itu terlihat usai serah terima jabatan Edy Rahmayadi.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat Edy Rahmayadi menyalami para ASN, masyarakat yang berkumpul. Tak hanya itu saja, ia juga melambaikan tangannya.

“Ada perubahan sedikit. Kemarin sampai diarak, dia salam, dia lambai tangan itu yang saya lihat perubahannya,” jelas DR. Iskandar Zulkarnain, M.Si, Jumat (8/9/2023).

Dibandingkan diawal menjabat, komunikasi mantan Pangdam I Bukit Barisan itu dengan masyarakat dan jurnalis terlihat kurang komunikatif.

Menurut Iskandar, kemungkinan hal itu disebabkan latar belakang Edy sebagai Prajurit TNI dan memiliki pangkat yang tinggi. “Setelah purnawirawan, kemudian jadi orang nomor satu di Pemerintahan Sumut. Punya kuasa, jadi terbawa komunikasi TNInya,” papar Iskandar.

Menurutnya, hal yang lumrah apabila komunikasi publik mantan Pangkostrad itu kurang luwes. Karena komunikasi sebagai TNI tentu berbeda dengan masyarakat umum.

“Tapi gak bisa juga kita salahkan secara total. Karena dia puluhan tahun bertugas di militer. Jadi prilakunya sudah tertempa. Dengan perubahan itu, ya kita hargai juga mau berubah,” kata Iskandar yang saat ini jabat Ketua Prodi S2/S3 Ilmu Komunikasi USU.

“Kebiasaan puluhan tahun itu mau diubah sekejab mata kayak balikkan telapak tangan ya susah. Upaya Edy untuk merubah komunikasi publiknya patut diapresiasi,” imbuh Iskandar.

Lebih lanjut, Zulkarnain juga mengungkapkan, Edy merupakan sosok pemimpin yang baik. Penilaian itu, ia lihat dari kacamata akademis. Dalam artian, pemimpin itu ketika berbicara harus di barengi dengan data.

Maka dari itu, dari segi keilmuan akan terlihat dan dapat dinilai kerja nyata seorang pemimpin.”Dari segi keilmuan saya melihat, dia sosok yang baik. Sedikit komunikasinya aja yang kurang pas dengan harapan masyarakat,” paparnya.

Apa lagi, penjelasan data saat sampaikan soal pembangunan jalan di sumut yang multi years Rp 2,7 T. Edy dengan jelas mengungkapkan data jalan secara detail dan rinci. Dari mulai status jalan, panjang jalan provinsi, pendanaan dari pusat dan lainnya.

“Dan Sumut dengan pendekatan dia ke pusat, termasuk provinsi yang banyak dapat porsi bantuan. Walau pun, tetap gak cukup porsi untuk perbaikan jalan di Sumut. Kalau gitu kan kita gak bisa apa-apa juga. Apapun data yang kita terima itu ya benar,” terang Iskandar.

“Kemudian kerja yang lain. Misalnya, pembagian hasil pendapatan daerah. Dengan data seperti itu, saya rasa dia pemimpin cukup berhasil. Ada sisi positifnya. Cuma itu, dikabuti dengan komunikasi yang kurang efektif tadi,” ujar Iskandar.

Ia pun menyarankan, kalau Edy mau kembali maju di Pemilihan Gubernur Sumut dia harus lebih luwes lagi komunikasi publiknya.

Harus lebih santai, karena jika komunikasinya berlangsung tegang tanpa diiringi canda tentu saja seperti komandan dengan prajurit.

“Jadi porsi canda-canda tadi lebih diperbanyak. Sehingga gak nampak kayak komandan dan prajurit lagi. Kan beda masyarakat sama prajurit,” tandasnya.(gus/ram)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Lima tahun menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara (Sumut), ada perubahan dalam cara Edy Rahmayadi berkomunikasi. Hal itu, diungkapkan oleh Pengamat Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara (USU) DR. Iskandar Zulkarnain, M.Si. dari amatannya, perubahan itu terlihat usai serah terima jabatan Edy Rahmayadi.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat Edy Rahmayadi menyalami para ASN, masyarakat yang berkumpul. Tak hanya itu saja, ia juga melambaikan tangannya.

“Ada perubahan sedikit. Kemarin sampai diarak, dia salam, dia lambai tangan itu yang saya lihat perubahannya,” jelas DR. Iskandar Zulkarnain, M.Si, Jumat (8/9/2023).

Dibandingkan diawal menjabat, komunikasi mantan Pangdam I Bukit Barisan itu dengan masyarakat dan jurnalis terlihat kurang komunikatif.

Menurut Iskandar, kemungkinan hal itu disebabkan latar belakang Edy sebagai Prajurit TNI dan memiliki pangkat yang tinggi. “Setelah purnawirawan, kemudian jadi orang nomor satu di Pemerintahan Sumut. Punya kuasa, jadi terbawa komunikasi TNInya,” papar Iskandar.

Menurutnya, hal yang lumrah apabila komunikasi publik mantan Pangkostrad itu kurang luwes. Karena komunikasi sebagai TNI tentu berbeda dengan masyarakat umum.

“Tapi gak bisa juga kita salahkan secara total. Karena dia puluhan tahun bertugas di militer. Jadi prilakunya sudah tertempa. Dengan perubahan itu, ya kita hargai juga mau berubah,” kata Iskandar yang saat ini jabat Ketua Prodi S2/S3 Ilmu Komunikasi USU.

“Kebiasaan puluhan tahun itu mau diubah sekejab mata kayak balikkan telapak tangan ya susah. Upaya Edy untuk merubah komunikasi publiknya patut diapresiasi,” imbuh Iskandar.

Lebih lanjut, Zulkarnain juga mengungkapkan, Edy merupakan sosok pemimpin yang baik. Penilaian itu, ia lihat dari kacamata akademis. Dalam artian, pemimpin itu ketika berbicara harus di barengi dengan data.

Maka dari itu, dari segi keilmuan akan terlihat dan dapat dinilai kerja nyata seorang pemimpin.”Dari segi keilmuan saya melihat, dia sosok yang baik. Sedikit komunikasinya aja yang kurang pas dengan harapan masyarakat,” paparnya.

Apa lagi, penjelasan data saat sampaikan soal pembangunan jalan di sumut yang multi years Rp 2,7 T. Edy dengan jelas mengungkapkan data jalan secara detail dan rinci. Dari mulai status jalan, panjang jalan provinsi, pendanaan dari pusat dan lainnya.

“Dan Sumut dengan pendekatan dia ke pusat, termasuk provinsi yang banyak dapat porsi bantuan. Walau pun, tetap gak cukup porsi untuk perbaikan jalan di Sumut. Kalau gitu kan kita gak bisa apa-apa juga. Apapun data yang kita terima itu ya benar,” terang Iskandar.

“Kemudian kerja yang lain. Misalnya, pembagian hasil pendapatan daerah. Dengan data seperti itu, saya rasa dia pemimpin cukup berhasil. Ada sisi positifnya. Cuma itu, dikabuti dengan komunikasi yang kurang efektif tadi,” ujar Iskandar.

Ia pun menyarankan, kalau Edy mau kembali maju di Pemilihan Gubernur Sumut dia harus lebih luwes lagi komunikasi publiknya.

Harus lebih santai, karena jika komunikasinya berlangsung tegang tanpa diiringi canda tentu saja seperti komandan dengan prajurit.

“Jadi porsi canda-canda tadi lebih diperbanyak. Sehingga gak nampak kayak komandan dan prajurit lagi. Kan beda masyarakat sama prajurit,” tandasnya.(gus/ram)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/