Pemerintah Kota Medan memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) dengan mendorong pembentukan Kelurahan Siaga Tuberkulosis. Langkah ini dibarengi penguatan pelacakan kontak pasien, skrining kesehatan, serta kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penemuan kasus dan mendukung target eliminasi TBC pada 2030.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Penguatan Pelaksanaan Tracing TBC dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta Pembentukan Kelurahan Siaga Tuberkulosis Kota Medan di Kantor Camat Medan Kota, Senin (12/10/2026).
Dalam rapat itu, Pemko Medan menyoroti pentingnya peran camat, lurah, kepala lingkungan, kader kesehatan, dan puskesmas untuk memastikan masyarakat yang berisiko mendapatkan pemeriksaan sesuai kriteria.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Medan Muhammad Sofyan, menegaskan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Dukungan aparatur kewilayahan dibutuhkan untuk menjangkau masyarakat hingga lingkungan tempat tinggal.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah masih adanya warga yang enggan menjalani skrining karena kurang memahami pentingnya pemeriksaan dini atau merasa ragu terhadap pihak yang mengajak mereka.
Karena itu, kepala lingkungan dan perangkat kelurahan diharapkan menjadi penghubung yang mampu membangun kepercayaan masyarakat sekaligus memberikan edukasi mengenai TBC.
“Penanganannya, rekan-rekan camat, bantu! Bantu dukung rekan-rekan Dinas Kesehatan yang melalui UPT Puskesmas yang ada di wilayah masing-masing,” ujar Muhammad Sofyan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Surya Saputra Pulungan menjelaskan, integrasi pelacakan kontak TBC dengan CKG merupakan salah satu upaya meningkatkan penemuan kasus dan pencapaian indikator penanggulangan penyakit tersebut.
Sasaran pemeriksaan meliputi orang yang memiliki kontak erat atau tinggal serumah dengan pasien TBC, masyarakat yang mengalami gejala batuk, perokok, penyandang diabetes melitus, orang dengan HIV, serta kelompok lain yang memiliki faktor risiko.
Namun, pelaksanaan skrining masih menghadapi kendala. Di antaranya, warga yang diundang tidak hadir karena merasa malu atau terkendala jarak menuju lokasi pemeriksaan. Ada pula peserta yang datang tetapi tidak sesuai dengan kriteria sasaran program.
Kondisi tersebut membuat koordinasi dengan pemerintah kewilayahan menjadi penting agar pendataan, edukasi, dan pendampingan masyarakat dapat berjalan lebih efektif.“Perlu sinergitas, kolaborasi dengan seluruh jajaran ya, termasuk kewilayahan,” kata Surya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Medan Sereiviana Faradillah, turut terlibat dalam penguatan program tersebut. Dukungan kecamatan dan kelurahan diharapkan membantu memastikan warga yang mengikuti skrining benar-benar memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
Dukungan juga datang dari Puskesmas Sentosa Baru, Kecamatan Medan Perjuangan. Perwakilan puskesmas, Dr Hari Putra Darmawan, menyampaikan bahwa koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk meningkatkan capaian pemeriksaan.
Menurutnya, kerja sama yang telah berjalan perlu terus diperkuat, terutama untuk mendorong masyarakat agar bersedia datang dan menjalani skrining.
“Kalau dari kami Puskesmas Sentosa Baru, pada dasarnya tetap melaksanakan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya, koordinasi dengan lintas sektor untuk meningkatkan capaian atau target yang sudah ditentukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, edukasi dan pendekatan kepada masyarakat perlu ditingkatkan agar pelaksanaan skrining dapat menjangkau sasaran secara lebih optimal.
Melalui pembentukan Kelurahan Siaga Tuberkulosis, Pemko Medan ingin memperkuat keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan, penemuan kasus, dan penanggulangan TBC secara berkelanjutan. Kelurahan diharapkan menjadi salah satu garda terdepan dalam menyebarkan informasi, membantu pendataan, serta menghubungkan warga dengan layanan kesehatan.
Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala TBC, memahami pencegahan penularan, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala atau memiliki faktor risiko. Pemeriksaan dan pengobatan TBC tersedia secara gratis melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
Dengan memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan, puskesmas, kecamatan, kelurahan, kepala lingkungan, dan kader kesehatan, Pemko Medan berharap penemuan kasus dapat dipercepat dan penanganan dilakukan sedini mungkin.
Upaya ini menjadi bagian dari langkah bersama untuk menekan penularan TBC sekaligus mendukung target eliminasi TBC di Kota Medan pada 2030. (map/ila)

