26 C
Medan
Friday, May 31, 2024

Viky Sianipar Ke Samosir untuk Syuting

Sebagai musisi berdarah Batak yang konsisten mengusung nama Danau Toba dalam karya-karyanya, Viky Sianipar justru tidak ambil bagian dalam pagelaran Pesta Danau Toba (PDT) yang akan dimulai hari ini (27/12).

“Saya nggak ikut pentas. Memang saya besok (hari ini, red) di Samosir, tapi bukan untuk Pesta Danau Toba. Saya kebetulan lagi syuting klip album terbaru saya, Tobatak, yang akan dirilis 6 Januari mendatang,” ujar Viky Sianipar saat dihubungi Sumut Pos dari Jakarta, Senin (26/12).

Meski tak terlibat langsung dalam PDT, musisi Batak kelahiran Jakarta, 26 Juni 1976, itu, tampaknya mengikuti betul perkembangan PDT dari tahun ke tahun. Dia juga mencermati kritikan-kritikan terkait PDT yang menurut sejumlah kalangan tidak punya greget itu. “Saya juga mendengar banyak sekali keluhan (terkait PDT),” ujar Viky yang sudah menelorkan album Toba Dream (2002), Toba Dream II-Didia Ho (2003), dan Toba Dream III (2008) itu.

Lantas, apa kritikan Viky sendiri terhadap PDT? “Ah, saya tak mau kritik, karena saya belum tentu bisa mengurusinya,” ujar musisi yang pada 2004 merilis album Datanglah KerajaanMU itu, merendah.
Hanya menurutnya, rangkaian acara PDT dari tahuh ke tahun tidak ada kemajuan. “Variasi kegiatannya juga tidak menarik,” ujarnya.

Mungkin lantaran gemas juga, Viky akhirnya keluar omongan mengenai bagaimana PDT seharusnya dikembangkan. “Mestinya, ada salah satu kegiatan di Pesta Danau Toba yang bisa menumbuhkan rasa demam masyarakat. Misal seperti publik yang demam SEA Games karena ada tim U-23. Misal orang Jakarta, mau datang karena ada ini, itu di Pesta Danau Toba. Warga Bandung mau datang ke sana karena ada yang memang ditunggu-tunggu. Tapi selama ini, kegiatan-kegiatannya begitu-begitu saja. Tak ada kegiatan yang dijadikan ikon,” bebernya.

Lantas, apa dong yang bisa menumbuhkan demam PDT? Sebagai seniman, Viky usul, bisa saja selama PDT dibuat acara kontes vokal lagu-lagu Batak. “Ya semacam Indonesia Idol, AFI, buat saja Danau Toba Vocal Kontes. Pasti meriah karena peserta kontes seperti itu bawa massa pendukung,” kata Viky.

Masukan lain dari Viky, agar pada acara penutupan PDT nantinya dibuat spektakuler. “Jangan hanya parade musik Batak saja. Tapi lighting-nya harus baik, bertaraf internasional, sehingga media massa juga tertarik memberitakan. Kalau tak ada yang menarik, ya sudah tentu media tak mau memberitakan,” ujarnya.

Mengenai album Tobatak-nya sendiri, kata Viky, merupakan kolaborasi dengan Hermann Delago, musisi World Music asal Austria.Album ini diproduksi oleh BSC Music, Germany. Segmen pasar album ini akan menyasar kalangan penikmat musik tradisional di Eropa, Jepang, dan sejumlah negara lain. (sam)

Sebagai musisi berdarah Batak yang konsisten mengusung nama Danau Toba dalam karya-karyanya, Viky Sianipar justru tidak ambil bagian dalam pagelaran Pesta Danau Toba (PDT) yang akan dimulai hari ini (27/12).

“Saya nggak ikut pentas. Memang saya besok (hari ini, red) di Samosir, tapi bukan untuk Pesta Danau Toba. Saya kebetulan lagi syuting klip album terbaru saya, Tobatak, yang akan dirilis 6 Januari mendatang,” ujar Viky Sianipar saat dihubungi Sumut Pos dari Jakarta, Senin (26/12).

Meski tak terlibat langsung dalam PDT, musisi Batak kelahiran Jakarta, 26 Juni 1976, itu, tampaknya mengikuti betul perkembangan PDT dari tahun ke tahun. Dia juga mencermati kritikan-kritikan terkait PDT yang menurut sejumlah kalangan tidak punya greget itu. “Saya juga mendengar banyak sekali keluhan (terkait PDT),” ujar Viky yang sudah menelorkan album Toba Dream (2002), Toba Dream II-Didia Ho (2003), dan Toba Dream III (2008) itu.

Lantas, apa kritikan Viky sendiri terhadap PDT? “Ah, saya tak mau kritik, karena saya belum tentu bisa mengurusinya,” ujar musisi yang pada 2004 merilis album Datanglah KerajaanMU itu, merendah.
Hanya menurutnya, rangkaian acara PDT dari tahuh ke tahun tidak ada kemajuan. “Variasi kegiatannya juga tidak menarik,” ujarnya.

Mungkin lantaran gemas juga, Viky akhirnya keluar omongan mengenai bagaimana PDT seharusnya dikembangkan. “Mestinya, ada salah satu kegiatan di Pesta Danau Toba yang bisa menumbuhkan rasa demam masyarakat. Misal seperti publik yang demam SEA Games karena ada tim U-23. Misal orang Jakarta, mau datang karena ada ini, itu di Pesta Danau Toba. Warga Bandung mau datang ke sana karena ada yang memang ditunggu-tunggu. Tapi selama ini, kegiatan-kegiatannya begitu-begitu saja. Tak ada kegiatan yang dijadikan ikon,” bebernya.

Lantas, apa dong yang bisa menumbuhkan demam PDT? Sebagai seniman, Viky usul, bisa saja selama PDT dibuat acara kontes vokal lagu-lagu Batak. “Ya semacam Indonesia Idol, AFI, buat saja Danau Toba Vocal Kontes. Pasti meriah karena peserta kontes seperti itu bawa massa pendukung,” kata Viky.

Masukan lain dari Viky, agar pada acara penutupan PDT nantinya dibuat spektakuler. “Jangan hanya parade musik Batak saja. Tapi lighting-nya harus baik, bertaraf internasional, sehingga media massa juga tertarik memberitakan. Kalau tak ada yang menarik, ya sudah tentu media tak mau memberitakan,” ujarnya.

Mengenai album Tobatak-nya sendiri, kata Viky, merupakan kolaborasi dengan Hermann Delago, musisi World Music asal Austria.Album ini diproduksi oleh BSC Music, Germany. Segmen pasar album ini akan menyasar kalangan penikmat musik tradisional di Eropa, Jepang, dan sejumlah negara lain. (sam)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/