25 C
Medan
Monday, July 15, 2024

Jepang Ahli Tangani Gempa

JAKARTA-Gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang, Jumat (11/3) mengingatkan rakyat Indonesia pada musibah yang sama, 26 Desember 2004 lalu. Namun meski sama-sama negara yang rawan bencana, harus diakui Jepang jauh mengalahkan Indonesia. Kesiapsiagaan Jepang menghadapi bencana gempa dan tsunami, tentu dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk meminimalisir korban jiwa.

Tahun 2004, saat gempa berkekuatan 9,3 Skala Richter (SR) di 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer terjadi, Indonesia harus berduka untuk waktu yang lama. Gempa disusul tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas, 140.000 orang hilang dan 1.126.900 orang kehilangan tempat tinggal akibat disapu ombak tsunami setinggi 9 meter dalam waktu sekejap.

Bencana ini merupakan tragedi kematian terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Tsunami di Samudera Hindia inipun memakan korban jiwa hingga ke negara tetangga seperti Sri Langka, India, dan Thailand serta negara pesisir lainnya. Korban jiwa tak terhindari karena kurangnya peringatan dini dari pemerintah.

Namun dari catatan beberapa kali sejarah gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang, jumlah korban jiwa bisa jauh ditekan. Gempa yang terjadi Jumat (11/3), masih dilaporkan ‘hanya’ memakan korban jiwa dalam hitungan puluhan. Bahkan gempa yang terjadi dua hari sebelumnya, Rabu (9/3) dengan kekuatan awal 7,3 SR, tidak berhasil membawa korban jiwa.

Untuk mewaspadai gempa dan tsunami, Jepang memang patut dijadikan guru. Jepang selalu belajar dari kesedihan akibat gempa Kanto yang terjadi tahun 1891. Gempa 120 tahun lalu yang berkekuatan 7,9 SR itu, menewaskan sekitar 140.000 orang di wilayah sekitar Tokyo.

Sejak itulah, dalam perkembangan kota bahkan negaranya, Jepang yang kemudian dikenal sebagai negara gempa dan angin Topan akhirnya membuat skema pembangunan mengikuti alam. Mungkin di dunia, hanya Jepang yang memiliki Kementrian Penanganan Bencana (Disaster Management Ministry) yang setiap tahunnya memiliki anggaran beratus-ratus miliar. Karena di Jepang, 5 persen dari APBN mereka wajib untuk antisipasi bencana guna melindu-ngi sekitar 127 juta rakyatnya dari dampak bencana yang bisa terjadi kapan saja.
Bandingkan dengan Indonesia, meski berada di jalur bencana dan memiliki penduduk hampir 229 juta jiwa, anggaran antisipasi bencana hanya dianggarkan Rp100 miliar di 2011. Sebelumnya pada 2010, anggaran bencana malah cuma Rp50 miliar. (afz/jpnn)

JAKARTA-Gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang, Jumat (11/3) mengingatkan rakyat Indonesia pada musibah yang sama, 26 Desember 2004 lalu. Namun meski sama-sama negara yang rawan bencana, harus diakui Jepang jauh mengalahkan Indonesia. Kesiapsiagaan Jepang menghadapi bencana gempa dan tsunami, tentu dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk meminimalisir korban jiwa.

Tahun 2004, saat gempa berkekuatan 9,3 Skala Richter (SR) di 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer terjadi, Indonesia harus berduka untuk waktu yang lama. Gempa disusul tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas, 140.000 orang hilang dan 1.126.900 orang kehilangan tempat tinggal akibat disapu ombak tsunami setinggi 9 meter dalam waktu sekejap.

Bencana ini merupakan tragedi kematian terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Tsunami di Samudera Hindia inipun memakan korban jiwa hingga ke negara tetangga seperti Sri Langka, India, dan Thailand serta negara pesisir lainnya. Korban jiwa tak terhindari karena kurangnya peringatan dini dari pemerintah.

Namun dari catatan beberapa kali sejarah gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang, jumlah korban jiwa bisa jauh ditekan. Gempa yang terjadi Jumat (11/3), masih dilaporkan ‘hanya’ memakan korban jiwa dalam hitungan puluhan. Bahkan gempa yang terjadi dua hari sebelumnya, Rabu (9/3) dengan kekuatan awal 7,3 SR, tidak berhasil membawa korban jiwa.

Untuk mewaspadai gempa dan tsunami, Jepang memang patut dijadikan guru. Jepang selalu belajar dari kesedihan akibat gempa Kanto yang terjadi tahun 1891. Gempa 120 tahun lalu yang berkekuatan 7,9 SR itu, menewaskan sekitar 140.000 orang di wilayah sekitar Tokyo.

Sejak itulah, dalam perkembangan kota bahkan negaranya, Jepang yang kemudian dikenal sebagai negara gempa dan angin Topan akhirnya membuat skema pembangunan mengikuti alam. Mungkin di dunia, hanya Jepang yang memiliki Kementrian Penanganan Bencana (Disaster Management Ministry) yang setiap tahunnya memiliki anggaran beratus-ratus miliar. Karena di Jepang, 5 persen dari APBN mereka wajib untuk antisipasi bencana guna melindu-ngi sekitar 127 juta rakyatnya dari dampak bencana yang bisa terjadi kapan saja.
Bandingkan dengan Indonesia, meski berada di jalur bencana dan memiliki penduduk hampir 229 juta jiwa, anggaran antisipasi bencana hanya dianggarkan Rp100 miliar di 2011. Sebelumnya pada 2010, anggaran bencana malah cuma Rp50 miliar. (afz/jpnn)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/