27 C
Medan
Friday, January 9, 2026

Edukasi Kebencanaan Dinilai Kunci Pengurangan Dampak Banjir

Oleh: Muhammad Putra Rezky Fakhriannoor dan Rezha Tri Atmaja
(Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNISKA Banjarmasin)

Banjir dinilai tidak semata-mata sebagai bencana alam, melainkan juga mencerminkan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan dan lemahnya kesiapsiagaan masyarakat. Hampir setiap musim hujan, bencana banjir kembali melanda berbagai wilayah di Indonesia, menyebabkan ribuan warga terdampak, aktivitas ekonomi terganggu, serta kerugian materi yang terus berulang.

Penguatan edukasi kebencanaan dipandang sebagai faktor penting dalam menekan dampak banjir. Masyarakat yang memahami penyebab serta langkah penanganan banjir dinilai lebih siap, lebih tenang, dan lebih sigap dalam menghadapi situasi darurat. Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air tetap bersih, serta mengenali tanda-tanda awal banjir diharapkan dapat menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.

Sejumlah kejadian banjir di berbagai daerah menunjukkan bahwa faktor manusia masih menjadi pemicu utama, antara lain tumpukan sampah di saluran air, alih fungsi lahan resapan, serta pembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa solusi banjir tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, tetapi harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat melalui pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah didorong menjadikan edukasi kebencanaan sebagai program prioritas. Program tersebut dinilai perlu dilaksanakan secara sistematis dengan melibatkan sekolah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, relawan, hingga dunia usaha. Edukasi sejak dini kepada pelajar dianggap penting untuk membentuk generasi yang lebih sadar lingkungan dan memiliki pemahaman tentang risiko bencana.

Selain edukasi, kegiatan simulasi bencana juga dinilai perlu digiatkan. Melalui latihan rutin, masyarakat diharapkan mampu bertindak cepat dan tepat saat banjir terjadi, seperti mematikan aliran listrik, menyelamatkan dokumen penting, membantu kelompok rentan, serta menuju lokasi evakuasi yang aman. Pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat yang terlatih mampu menekan risiko korban jiwa dan kerugian.

*Kewaspadaan Pascabanjir Menentukan Keselamatan Masyarakat*

Fase pascabanjir dinilai sebagai tahap krusial dalam penanganan bencana yang kerap kurang mendapat perhatian. Meski air telah surut, lingkungan masih menyimpan berbagai risiko, baik dari sisi kesehatan, keselamatan, maupun keamanan.

Pembersihan lumpur, sampah, dan sisa material pascabanjir dipandang sebagai langkah penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot, sarung tangan, dan masker dianjurkan untuk mencegah paparan bakteri dan zat berbahaya yang terbawa air banjir.

Ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian utama. Sumber air yang sempat terendam banjir disarankan tidak langsung digunakan tanpa proses pembersihan dan sterilisasi. Kebiasaan merebus air sebelum dikonsumsi dinilai sebagai langkah efektif dalam mencegah penyakit menular.

Dari sisi keselamatan, warga diimbau memastikan kondisi instalasi listrik dan peralatan elektronik benar-benar aman sebelum kembali digunakan guna menghindari risiko sengatan listrik maupun kebakaran. Pemeriksaan struktur bangunan, termasuk dinding, pondasi, dan kerangka rumah, juga perlu dilakukan untuk menjamin keselamatan penghuni.

Masa pascabanjir juga merupakan periode rawan munculnya berbagai penyakit seperti diare, infeksi kulit, demam, dan gangguan pernapasan. Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit.

Selain itu, semangat gotong royong dalam membersihkan lingkungan dan menghilangkan genangan air dinilai berperan penting dalam mempercepat pemulihan serta memperkuat solidaritas sosial.

Keberhasilan pemulihan pascabanjir pada akhirnya sangat ditentukan oleh kesadaran kolektif dan kerja sama seluruh pihak, baik masyarakat, pemerintah, maupun relawan, guna membangun wilayah yang lebih aman dan tangguh menghadapi bencana di masa depan.

Oleh: Muhammad Putra Rezky Fakhriannoor dan Rezha Tri Atmaja
(Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNISKA Banjarmasin)

Banjir dinilai tidak semata-mata sebagai bencana alam, melainkan juga mencerminkan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan dan lemahnya kesiapsiagaan masyarakat. Hampir setiap musim hujan, bencana banjir kembali melanda berbagai wilayah di Indonesia, menyebabkan ribuan warga terdampak, aktivitas ekonomi terganggu, serta kerugian materi yang terus berulang.

Penguatan edukasi kebencanaan dipandang sebagai faktor penting dalam menekan dampak banjir. Masyarakat yang memahami penyebab serta langkah penanganan banjir dinilai lebih siap, lebih tenang, dan lebih sigap dalam menghadapi situasi darurat. Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air tetap bersih, serta mengenali tanda-tanda awal banjir diharapkan dapat menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.

Sejumlah kejadian banjir di berbagai daerah menunjukkan bahwa faktor manusia masih menjadi pemicu utama, antara lain tumpukan sampah di saluran air, alih fungsi lahan resapan, serta pembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa solusi banjir tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, tetapi harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat melalui pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah didorong menjadikan edukasi kebencanaan sebagai program prioritas. Program tersebut dinilai perlu dilaksanakan secara sistematis dengan melibatkan sekolah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, relawan, hingga dunia usaha. Edukasi sejak dini kepada pelajar dianggap penting untuk membentuk generasi yang lebih sadar lingkungan dan memiliki pemahaman tentang risiko bencana.

Selain edukasi, kegiatan simulasi bencana juga dinilai perlu digiatkan. Melalui latihan rutin, masyarakat diharapkan mampu bertindak cepat dan tepat saat banjir terjadi, seperti mematikan aliran listrik, menyelamatkan dokumen penting, membantu kelompok rentan, serta menuju lokasi evakuasi yang aman. Pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat yang terlatih mampu menekan risiko korban jiwa dan kerugian.

*Kewaspadaan Pascabanjir Menentukan Keselamatan Masyarakat*

Fase pascabanjir dinilai sebagai tahap krusial dalam penanganan bencana yang kerap kurang mendapat perhatian. Meski air telah surut, lingkungan masih menyimpan berbagai risiko, baik dari sisi kesehatan, keselamatan, maupun keamanan.

Pembersihan lumpur, sampah, dan sisa material pascabanjir dipandang sebagai langkah penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot, sarung tangan, dan masker dianjurkan untuk mencegah paparan bakteri dan zat berbahaya yang terbawa air banjir.

Ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian utama. Sumber air yang sempat terendam banjir disarankan tidak langsung digunakan tanpa proses pembersihan dan sterilisasi. Kebiasaan merebus air sebelum dikonsumsi dinilai sebagai langkah efektif dalam mencegah penyakit menular.

Dari sisi keselamatan, warga diimbau memastikan kondisi instalasi listrik dan peralatan elektronik benar-benar aman sebelum kembali digunakan guna menghindari risiko sengatan listrik maupun kebakaran. Pemeriksaan struktur bangunan, termasuk dinding, pondasi, dan kerangka rumah, juga perlu dilakukan untuk menjamin keselamatan penghuni.

Masa pascabanjir juga merupakan periode rawan munculnya berbagai penyakit seperti diare, infeksi kulit, demam, dan gangguan pernapasan. Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit.

Selain itu, semangat gotong royong dalam membersihkan lingkungan dan menghilangkan genangan air dinilai berperan penting dalam mempercepat pemulihan serta memperkuat solidaritas sosial.

Keberhasilan pemulihan pascabanjir pada akhirnya sangat ditentukan oleh kesadaran kolektif dan kerja sama seluruh pihak, baik masyarakat, pemerintah, maupun relawan, guna membangun wilayah yang lebih aman dan tangguh menghadapi bencana di masa depan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru