32 C
Medan
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 107

Cegah Gagal Ginjal, BPJS Kesehatan dan USU Dorong Deteksi Dini Lewat Prolanis

PAPARKAN:Peneliti Universitas Sumatera Utara sekaligus Ketua Umum Persatuan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Isti Ilmiati Fujiati saat menyampaikan materi terkait deteksi dini Penyakit Ginjal Kronis (PGK), khususnya melalui pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Kota Medan, Selasa (11/11).
PAPARKAN:Peneliti Universitas Sumatera Utara sekaligus Ketua Umum Persatuan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Isti Ilmiati Fujiati saat menyampaikan materi terkait deteksi dini Penyakit Ginjal Kronis (PGK), khususnya melalui pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Kota Medan, Selasa (11/11).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dalam upaya memperkuat sistem pencegahan penyakit kronis di Provinsi Sumatera Utara, BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah I bersama Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan kolaborasi strategis untuk meningkatkan deteksi dini Penyakit Ginjal Kronis (PGK), khususnya melalui pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Kota Medan, Selasa (11/11).

Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan partisipasi peserta dalam pemeriksaan Prolanis yang dilaksanakan dua kali dalam setahun, mengingat penderita diabetes melitus dan hipertensi merupakan kelompok utama yang berisiko tinggi mengalami kerusakan ginjal.

Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang komprehensif, baik itu preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.
Peneliti Universitas Sumatera Utara sekaligus Ketua Umum Persatuan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), Isti Ilmiati Fujiati menyampaikan bahwa pemeriksaan Prolanis dua kali dalam setahun memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk memastikan ketepatan diagnosis dan intervensi dini terhadap gangguan fungsi ginjal.

“Hasil pemeriksaan pertama sering dipengaruhi oleh faktor sementara seperti dehidrasi, penggunaan obat tertentu, infeksi saluran kemih, atau fluktuasi tekanan darah dan gula darah. Oleh karena itu, pemeriksaan kedua setelah 3–6 bulan menjadi penentu utama untuk memverifikasi apakah terjadi gangguan fungsi ginjal yang persisten. Inilah alasan ilmiah mengapa Prolanis wajib dilaksanakan dua kali setahun,” ujar Isti.

Isti juga menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga mengintegrasikan pendekatan edukasi dan perubahan perilaku melalui inisiatif Prolanis Jempol yaitu sebuah model intervensi berbasis bukti yang dikembangkan oleh tim peneliti USU bersama peserta Prolanis dari sejumlah puskesmas dan klinik di Kota Medan.

“Melalui Prolanis Jempol, kami memperkenalkan pendekatan 7 Keterampilan Perilaku Perawatan Diri (7 Skills Self-Care Behavior) yang melibatkan keluarga dalam proses pendampingan. Tujuh keterampilan tersebut meliputi: pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, pemantauan gula darah mandiri, kepatuhan minum obat, pemecahan masalah kesehatan, manajemen stres, serta upaya pengurangan risiko komplikasi,” jelas Isti.

Hasil awal penelitian menunjukkan bahwa peserta yang aktif mengikuti kelas edukasi, menerapkan keterampilan perawatan diri, serta menjalani pemeriksaan berkala secara konsisten, mengalami stabilitas fungsi ginjal yang lebih baik, penurunan tekanan darah dan gula darah, serta perlambatan progresivitas kerusakan ginjal.

Deputi Direksi Wilayah I BPJS Kesehatan, Nuim Mubaraq menyampaikan bahwa Prolanis menjadi fondasi penting dalam upaya deteksi dini berbagai penyakit termasuk PGK. Program Prolanis sendiri menyediakan rangkaian layanan komprehensif yang mencakup pemeriksaan laboratorium (urine dan kimia darah), pemantauan parameter klinis (tekanan darah, gula darah), konsultasi dengan tenaga kesehatan, edukasi kesehatan, serta aktivitas fisik terstruktur seperti Senam Prolanis.

“Prolanis bukan sekadar rangkaian pemeriksaan rutin. Ini adalah intervensi menyeluruh yang dirancang untuk mencegah komplikasi berat, termasuk gagal ginjal stadium akhir yang memerlukan hemodialisis. Sayangnya, masih banyak peserta yang hadir pada pemeriksaan pertama, namun tidak kembali pada sesi lanjutan. Padahal, pemeriksaan kedualah yang memberikan gambaran klinis yang valid untuk pengambilan keputusan medis selanjutnya,” tegas Nuim.

Lebih lanjut, Nuim menekankan bahwa seluruh biaya pemeriksaan Prolanis dijamin oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tanpa beban tambahan bagi peserta.

“BPJS Kesehatan memastikan akses layanan ini ditanggung sepenuhnya tanpa biaya tambahan bagi seluruh peserta JKN,” ujarnya.
Lebih lanjut, disampaikan juga bahwa kolaborasi ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang yang signifikan, antara lain: penurunan kejadian gagal ginjal terminal, peningkatan kualitas hidup penderita penyakit kronis, efisiensi belanja kesehatan nasional, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan berbasis deteksi dini.

“Kolaborasi antara penyelenggara JKN dan lembaga pendidikan tinggi menjadi salah satu bentuk sinergi dalam memperkuat fondasi sistem kesehatan kita. USU menyediakan keilmuan dan riset berbasis bukti, BPJS Kesehatan menyediakan akses dan pendanaan, sedangkan fasilitas kesehatan menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan di lapangan,” ujar Isti.

Masyarakat Sumatera Utara, khususnya peserta JKN dengan diagnosis diabetes dan hipertensi, diimbau untuk memanfaatkan fasilitas Prolanis secara aktif dan konsisten di FKTP tempat mereka terdaftar. BPJS Kesehatan telah menyediakan fasilitasnya, Lembaga Penelitian USU menyediakan keilmuannya, kini masyarakat diharapkan menjadi pihak yang mengambil langkah nyata.

“Ginjal tidak pernah berhenti bekerja, tetapi sering kali kita lupa menjaganya. Pemeriksaan berkala adalah bentuk penghargaan kita terhadap organ yang bekerja tanpa henti untuk menyaring racun dari tubuh. Mari jadikan Prolanis sebagai benteng pertama dalam menjaga kesehatan jangka panjang,” pungkas Isti. (ila)

Momentum Hari Pahlawan, PLN Dorong Guru SMK Jadi Pelopor Konversi Motor Listrik di Kota Medan

PELATIHAN: PT PLN (Persero) UID Sumatera Utara saat melakukan pelatihan dan Workshop Konversi Motor Listrik bagi Tenaga Pendidik SMK, yang diikuti oleh 20 guru dari 10 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Medan.
PELATIHAN: PT PLN (Persero) UID Sumatera Utara saat melakukan pelatihan dan Workshop Konversi Motor Listrik bagi Tenaga Pendidik SMK, yang diikuti oleh 20 guru dari 10 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dalam semangat memperingati Hari Pahlawan, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara mengambil langkah nyata melahirkan “pahlawan-pahlawan energi baru” dari dunia pendidikan.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN meluncurkan “Pelatihan dan Workshop Konversi Motor Listrik bagi Tenaga Pendidik SMK”, yang diikuti oleh 20 guru dari 10 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Medan.

Program ini menjadi simbol perjuangan baru, bukan di medan pertempuran, melainkan di ruang pendidikan dan teknologi hijau. Para guru SMK dibekali kemampuan untuk mengonversi motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik, sebagai bagian dari percepatan transisi energi bersih sekaligus pengembangan kompetensi vokasi di bidang kendaraan listrik (electric vehicle).

Selama empat hari pelatihan intensif mulai dari 10 November hingga 13 November 2025, para peserta mendapatkan pembelajaran teori dan praktik langsung bersama PT Braja Elektrik Motor yang telah memiliki sertifikat nasional di bidang kelistrikan otomotif. Dalam praktiknya, peserta diharapkan mampu melakukan konversi motor konvensional menjadi motor listrik.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Creating Shared Value (CSV) PLN dalam bidang pendidikan dan lingkungan hidup. Melalui pelatihan ini, PLN tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan jiwa kepahlawanan baru bagi para pendidik, menjadi agen perubahan, inspirator generasi muda, dan penggerak kurikulum energi terbarukan di sekolah.

General Manager PLN UID Sumatera Utara Mundhakir, menyampaikan bahwa semangat kepahlawanan masa kini dapat diwujudkan melalui keberanian berinovasi dan kontribusi nyata bagi bumi yang lebih hijau.

“Kami percaya bahwa semangat Hari Pahlawan tidak berhenti pada perjuangan masa lalu. Hari ini, guru-guru SMK adalah pahlawan masa depan yang menyalakan kesadaran energi bersih di ruang-ruang kelas. PLN akan terus menjadi katalis perubahan itu,” ujar Mundhakir.

Mundhakir menambahkan, melalui program ini PLN turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya seperti TPB 4 (Pendidikan Berkualitas), TPB 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), TPB 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) serta TPB 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 9 Medan Fadhli Hazmi Arifin, ST, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian PLN terhadap peningkatan kompetensi guru SMK di bidang kendaraan listrik. Ia menegaskan bahwa hasil pelatihan ini akan langsung diimplementasikan di sekolah, baik dalam bentuk teori maupun praktik bagi siswa.

“Kami sangat berterima kasih kepada PLN atas kesempatan yang luar biasa ini. Pelatihan konversi motor listrik membuka wawasan baru bagi kami para guru untuk menyiapkan peserta didik menghadapi era transisi energi. Ke depan, kami akan mengintegrasikan materi ini dalam pembelajaran, agar siswa tidak hanya memahami teori kelistrikan otomotif, tetapi juga mampu mempraktikkan konversi motor listrik secara langsung,” ujar Fadhli.

Menurutnya, inisiatif PLN ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri, sehingga lulusan SMK memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan masa depan sektor energi hijau.

Program konversi motor listrik ini juga menjadi wujud nyata penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam bisnis PLN, yakni: Lingkungan (Environment): Berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dan percepatan penggunaan energi hijau menuju Net Zero Emission 2060.

Lalu, Sosial (Social): Memberdayakan guru SMK sebagai trainer of trainers dan pencipta peluang ekonomi baru melalui bengkel konversi listrik di sekolah. Kemudian, Tata Kelola (Governance): Pelaksanaan kegiatan sesuai standar keselamatan, perizinan resmi, dan sertifikasi kompetensi pemerintah.

Ke depan, PLN menargetkan terbentuknya bengkel listrik percontohan di SMK-SMK yang mampu memproduksi motor konversi bersertifikasi laik jalan, sekaligus membuka peluang kerja baru di sektor teknologi hijau. Dengan dukungan PLN, Sumatera Utara berpotensi menjadi daerah pionir ekosistem konversi kendaraan listrik berbasis pendidikan di Indonesia.

Program CSR Konversi Motor Listrik bagi Guru SMK ini membuktikan bahwa PLN bukan sekadar penyedia energi, tetapi motor penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Di momentum Hari Pahlawan ini, PLN mengajak semua pihak untuk menyalakan semangat juang baru menjadi pahlawan bagi bumi melalui energi bersih dan pendidikan berkelanjutan. (rel/ila)

Deli Husada Deli Tua Cegah Anemia Lewat Inovasi Biskuit Biwa dan Pemberdayaan Kader Posyandu

DELI SERDANG, SUMUTPOS.CO – Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program pengabdian masyarakat (PKM). Kali ini, tim dosen dan mahasiswa melaksanakan kegiatan bertema

“Pencegahan Anemia Melalui Pemberdayaan Kader dengan Pemanfaatan Biwa”, yang menyasar kelompok Posyandu Kutabuluh selama enam bulan.

Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi pemanfaatan buah biwa (Eriobotrya japonica) dan pembuatan biskuit biwa sebagai inovasi pangan fungsional yang kaya zat besi untuk membantu mencegah anemia, terutama pada ibu hamil dan remaja putri.

Selain edukasi, acara juga dikemas menarik dengan berbagai kegiatan interaktif seperti lucky draw, games, dan kuis kesehatan, agar para peserta lebih antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Dalam sosialisasi tersebut, tim PKM membahas berbagai topik penting, mulai dari penyebab anemia, kandungan dan manfaat buah biwa, hingga cara pengolahan biskuit biwa yang sehat dan mudah diterapkan di rumah.

Antusiasme para kader posyandu dan ibu hamil terlihat tinggi. Mereka aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan seputar penyakit anemia serta manfaat biwa. Bahkan, tim sempat memberikan penjelasan mendalam terhadap salah satu pertanyaan, untuk memastikan pemahaman peserta benar-benar menyeluruh.

“Kami senang melihat semangat para kader yang ingin belajar dan menerapkan pengetahuan ini di masyarakat. Ini bukti nyata bahwa edukasi kesehatan bisa diterima dengan baik jika disampaikan secara kreatif dan relevan,” ujar salah satu anggota tim PKM Deli Husada.

Dari kegiatan ini, para kader memperoleh wawasan baru mengenai pola hidup sehat dan pentingnya mencegah anemia sejak dini. Tim PKM juga menilai kegiatan semacam ini menjadi sarana efektif menyalurkan ilmu sekaligus menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan kesehatan.

Program pengabdian masyarakat ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dan diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun generasi sehat dan bebas anemia melalui inovasi pangan lokal.

Semangat Pahlawan Jadi Inspirasi ASN Pemko Membangun Kota

Pahlawan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Semangat perjuangan para pahlawan menjadi sumber inspirasi bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Medan dalam melanjutkan pembangunan kota yang lebih maju dan sejahtera. Hal ini disampaikan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, usai memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan tahun 2025 di Balai Kota Medan, Senin (10/11/2025).

Upacara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap, Sekda Kota Medan Wiriya Alrahman, perwakilan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Medan, pimpinan perangkat daerah, serta para camat se-Kota Medan.

Dalam amanatnya, Wali Kota Medan menegaskan bahwa makna Hari Pahlawan harus menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat pantang menyerah dan dedikasi dalam bekerja, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para pejuang bangsa.

“Kita harus mencontoh apa yang dilakukan para pahlawan terdahulu, kesabaran, strategi yang matang, semangat pantang menyerah, dan berpikir jauh ke depan demi kemajuan Kota Medan,” ujar Rico Waas.

Ia juga mengajak seluruh ASN Pemko Medan untuk mengamalkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormat, Rico Waas turut menyerahkan bingkisan kepada perwakilan veteran yang hadir dalam upacara tersebut. Ia menyebut, pemberian itu merupakan simbol penghargaan tertinggi kepada para pejuang yang telah berkontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia.

“Kita ingin memberikan penghormatan kepada para veteran yang telah berjuang tanpa pamrih. Mereka adalah inspirasi bagi kita untuk terus bekerja dengan hati demi bangsa dan Kota Medan tercinta,” pungkasnya.

Zulkarnaen Ajak Warga Jadi Pahlawan Pembangunan
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Medan, H. Zulkarnaen SKM, mengajak seluruh masyarakat Kota Medan untuk memaknai peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 2025 secara luas.

Selain mensyukuri nikmat kemerdekaan atas perjuangan para pahlawan terdahulu, Zulkarnaen juga mengajak masyarakat Kota Medan untuk menjadi ‘pahlawan’ bagi pembangunan kota.

“Alhamdulillah berkat jasa para pahlawan, kita bisa menikmati indahnya kemerdekaan. Saat ini, kita harus bisa menjadi ‘pahlawan’ bagi Kota Medan, bagi pembangunan Kota Medan,” ucap Zulkarnaen kepada Sumut Pos, Senin (10/11/2025).

Dikatakan Zulkarnaen, ada banyak cara untuk menjadi pahlawan bagi pembangunan Kota Medan. Salah satunya, dengan menjadi warga Kota Medan yang taat membayar pajak. “Dengan membayar pajak tepat waktu, pembangunan kota akan lebih cepat terealisasi. Artinya dengan taat membayar pajak, kita juga sudah ikut menjadi pahlawan bagi pembangunan Kota Medan,” ujarnya.

Selanjutnya, para pemuda di Kota Medan juga dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kondusifitas di tengah-tengah masyarakat. Mengingat saat ini aksi pencurian, begal, tawuran dan berbagai aksi kriminalitas lainnya cukup marak terjadi di Kota Medan.

“Para pemuda harus bisa menjadi pahlawan bagi keamanan Kota Medan. Hentikan aksi pencurian, begal, dan tawuran. Dengan terciptanya Kota Medan yang aman, maka percepatan pembangunan akan lebih mudah terwujud,” katanya.

Kemudian, Zulkarnaen juga mengajak seluruh masyarakat Kota Medan untuk menjadi pahlawan yang dapat menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya narkoba.

“Stop peredaran narkoba di sekitar kita, jadi lah pahlawan untuk menyelamatkan generasi bangsa. Semua warga Kota Medan harus peduli dan siap berperang melawan narkoba,” pungkasnya. (map/ila)

Penrad Siagian Desak Mendes Jadi Leading Sector Bebaskan Desa dari Kawasan Hutan dan HGU

JAKARTA, Sumut Pos.co– Anggota Komite I DPD RI Pdt Penrad Siagian menyampaikan pandangan mengenai nasib ribuan desa yang berada di dalam kawasan hutan dan Hak Guna Usaha (HGU). Hal itu disampaikannya saat Komite I DPD RI menggelar rapat bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Jakarta, Senin, 10 November 2025.

Rapat ini dihadiri Mendes PDT Yandri Susanto dan Wamendes PDT Ahmad Riza Patria, beserta jajaran Kemendes PDT. Dalam rapat tersebut, Penrad mengaku mendukung visi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun Indonesia dari desa.

Namun ia mengingatkan, kondisi di lapangan sangat memprihatinkan dan berpotensi menggagalkan cita-cita Indonesia Emas 2045. “Kita mendukung penuh visi Presiden bahwa membangun Indonesia adalah membangun dari desa. Namun menuju ke sana tantangannya sangat berat. Sudah terlalu lama Indonesia meninggalkan pola pembangunan dari pinggiran atau desa,” ujar Penrad.

Ia menyoroti fakta, masih terdapat ribuan desa berstatus tertinggal, dengan kualitas pendidikan yang jauh tertinggal dari wilayah perkotaan. Merujuk data BPS tahun 2024–2025, ia mengungkapkan bahwa rata-rata lama sekolah anak-anak di desa hanya 9 tahun atau setara tidak tamat SMA.

“Kalau anak-anak di desa rata-rata hanya sekolah 9 tahun, artinya tidak tamat SMA. Sementara di kota seperti DKI Jakarta atau Medan sudah 14–15 tahun. Saya khawatir desa-desa itu tidak akan ikut menjadi bagian dari Indonesia Emas, padahal masyarakat desa adalah mayoritas penduduk Indonesia,” tegasnya.

Menurut Penrad, kondisi rendahnya pendidikan ini disebabkan oleh minimnya infrastruktur sekolah, kesehatan, akses jalan, dan fasilitas dasar lainnya. Pada aspek regulasi, Penrad mengkritik tumpang tindih aturan terkait dana desa yang melibatkan sedikitnya empat kementerian, sehingga membuat kepala desa ragu mengambil langkah untuk pembangunan desa.

Senator asal Sumut ini mencontohkan rendahnya tingkat keberhasilan Bumdes, khususnya di Sumut. “Berdasarkan data saya, di Provinsi Sumatera Utara ada sekitar 20-22 persen Bumdes itu ada, yang lain tidak ada. Dari keseluruhan desa yang ada di Sumut, dan saya pikir teman-teman di provinsi lain lebih parah dari persentase itu. Sumut masih cukup lumayan maju, katakanlah begitu. Artinya, ada problem regulasi,” katanya.

Penrad mendorong Komite I untuk mengevaluasi dan menyelaraskan seluruh regulasi terkait dana desa agar tidak terjadi tumpang tindih dan dana dapat terserap optimal. Ia juga menyoroti tingginya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) dana desa karena minimnya ruang penggunaan anggaran akibat status desa yang berada di kawasan hutan dan HGU.

“Inilah akar persoalan. Sekitar 60 persen desa berada di atas kawasan hutan dan HGU. Di sana dana desa tidak boleh dipakai untuk membangun infrastruktur, jalan, dan fasilitas dasar. Akibatnya dana desa itu hanya terpakai sekitar 30 persen. Sia-sia kalau seperti ini,” ungkapnya.

Penrad kemudian menyoroti persoalan tata kelola dana desa. Ia menegaskan bahwa desa juga terbebani oleh terlalu banyak program titipan dari pemerintah pusat.

“Masalah lain adalah terlalu banyak program titipan dalam penggunaan dana desa. Program-program titipan dari pusat ini mengakibatkan berkurangnya ruang bagi desa untuk menggunakan dana desa sesuai dengan kebutuhan riil desa tersebut. Pemerintah pusat harus tahu bahwa desa-desa itu beragam dan tentu memiliki konteks masing-masing atas kebutuhan bagi desa tersebut yg tidak selalu sama dengan desa yang lainnya,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Penrad mendesak pembentukan desk khusus lintas kementerian. Ia meminta Menteri Yandri menjadi leading sector untuk mempercepat pelepasan atau penataan status desa-desa dalam kawasan hutan dan HGU, serta menggandeng Kemendagri, Kementerian ATR/BPN, dan Kementerian Kehutanan.

“Kami berharap ada desk bersama antara Komite I dan kementerian terkait. Minimal dalam satu periode Presiden Prabowo, 30 persen dari desa-desa yang berada di atas kawasan hutan dan HGU dapat kita keluarkan dari status itu,” tegasnya.

Selain itu, Penrad menyoroti tumpang tindih program pemerintah seperti food estate dan Koperasi Merah Putih yang dinilai membingungkan desa karena berjalan di luar Bumdes. “Kalau misal sudah ada Bumdes-nya kemudian akan dibentuk Lagi Koperasi Merah Putih, bagaimana relasi antara kedua ini apalagi keduanya menggunakan anggaran negara,” ujar Penrad.

Ia juga memperingatkan ancaman terhadap desa akibat maraknya program ekstraktif, proyek strategis nasional, serta korporasi yang mengantongi HGU dan konsesi di atas kawasan desa.

“Desa-desa kita semakin terancam akibat berbagai program atau program-program ekstraktif yang berada di atas kawasan desa, baik dalam bentuk program strategis nasional maupun korporasi-korporasi yang kemudian mendapatkan HGU dan konsesinya. Kita sudah melihat bagaimana kerusakan alam dan itu dialami oleh desa-desa. Saya berharap bagaimana kemudian ada regulasi dari Kementerian Desa yang melindungi kawasan-kawasan desa ini,” katanya.

Dia menekankan bahwa program ketahanan pangan harus memberi ruang kepada desa untuk menjadi pelaksana utama, bukan menyerahkannya kepada korporasi seperti yang terjadi pada proyek food estate sebelumnya.

Ia menegaskan, food estate berbasis korporasi terbukti gagal seperti yang terjadi di Sumut. “Di kampung saya di Sumut, dengan pola korporasi-food estate dalam bentuk ketahanan pangan gagal. Dan masyarakat desa akhirnya merasa tidak memiliki karena melihat program food estate dalam bentuk ketahanan pangan sebagai program luar, bukan program desa. Saya berharap program itu melibatkan desa, memberikan skema sehingga desa menjadi pelaksana program ketahanan pangan itu,” tutup Penrad. (adz)

Pelantikan Sekda dan 12 Pejabat Baru, Wali Kota Tebingtinggi Serukan Integritas

SERAHKAN: Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih, menyerahkan surat keputusan pelantikan kepada Erwin Suheri Damanik yang resmi menjabat Sekdako Tebingtinggi, Senin (10/11).(Azan Purba/Sumut Pos)
SERAHKAN: Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih, menyerahkan surat keputusan pelantikan kepada Erwin Suheri Damanik yang resmi menjabat Sekdako Tebingtinggi, Senin (10/11).(Azan Purba/Sumut Pos)

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih resmi melantik Erwin Suheri Damanik sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tebingtinggi dalam upacara pelantikan yang berlangsung khidmat di Aula Gedung Sawiyah, Jalan Sutomo, Senin (10/11).

Pelantikan ini menjadi momentum penting bagi Pemko Tebingtinggi dalam memperkuat jajaran birokrasi, setelah melalui proses asesmen terbuka yang digelar beberapa waktu lalu.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan pembacaan Surat Keputusan Wali Kota oleh Kepala BKPSDM Abdul Halim Purba, dilanjutkan dengan pengucapan sumpah/janji jabatan, penandatanganan berita acara, dan pembacaan naskah pelantikan oleh Wali Kota Tebingtinggi.

Dalam sambutannya, Iman menyampaikan apresiasi dan kepercayaan kepada Sekda yang baru, agar mampu menjalankan tugas secara profesional, berintegritas, dan menjadi motor penggerak birokrasi yang efisien.

“Saya percaya saudara akan menjalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi demi kemajuan Tebingtinggi,” ungkap Iman.

Usai pelantikan Sekda, Iman juga melantik 12 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama yang akan menempati posisi strategis di lingkungan Pemko Tebingtinggi. Pelantikan ini menandai komitmen pemko dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berbasis kinerja.

Pelantikan turut dihadiri unsur Forkopimda, pejabat struktural, serta perwakilan dari berbagai OPD. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan khidmat.

Dalam arahannya setelah seluruh pejabat dilantik, Iman menegaskan, agar para pejabat segera bekerja dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Saya minta kepada seluruh pejabat yang baru dilantik, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, jalankan pemerintahan dengan baik, dan layani masyarakat dengan sepenuh hati,” tegasnya.

Dia juga menegaskan komitmennya terhadap pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik korupsi.

“Saya pastikan tidak ada satu Rupiah pun atau dalam bentuk apapun dalam hal ini (praktik korupsi). Saya berani bersumpah demi Allah Subhanahu wa Taala, Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya hanya minta kepada bapak dan ibu, jalankan tugas dengan baik,” tegas Iman lagi.

Iman menutup sambutannya dengan menekankan pentingnya integritas dan tanggung jawab moral dalam memimpin.

“Pejabat yang baik bukan yang pandai menyenangkan atasan, tapi yang berani bekerja jujur untuk rakyat. Tegakkan integritas, karena jabatan adalah amanah, bukan komoditas,” pesannya.

Kegiatan pelantikan berakhir sekitar pukul 12.30 WIB yang ditutup dengan doa bersama. Suasana penuh khidmat dan semangat baru menuju pemerintahan yang bersih, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (mag-3/saz)

Bereskan Kendaraan Dinas Tunggak Pajak, BPKPAD Binjai Kucurkan Rp1 Miliar

Kantor BPKPAD Binjai di Jalan Jambi, Binjai Selatan.(Teddy Akbari/Sumut Pos)
Kantor BPKPAD Binjai di Jalan Jambi, Binjai Selatan.(Teddy Akbari/Sumut Pos)

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah (BPKPAD) Kota Binjai sudah menindaklanjuti temuan auditor terkait kendaraan dinas yang tunggak pajak. BPKPAD Binjai pun sudah membereskan beberapa kendaraan bermotor aset pemerintah kota yang tunggak pajak tersebut.

Kepala Bidang Aset Kota Binjai, Umrizal Ginting menegaskan, pihaknya menganggarkan Rp1 miliar untuk menindaklanjuti temuan auditor terhadap kendaraan bermotor dinas yang tunggak pajak. Hal itu disampaikannya saat ditanya, apakah Pemko Binjai tidak memiliki anggaran atau kekurangan dalam menuntaskan tunggakan pajak kendaraan dinas?

Penganggaran Rp1 miliar itu, kata Umrizal, atas perintah dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

“Anggaran kita juga besar, bukan karena kekurangan anggaran, sedikit pun tidak ada kekurangan anggaran, dikasih Rp1 miliar,” ungkap Umrizal, Senin (10/11).

Umrizal menegaskan, pihaknya sedikit terkendala kemarin lantaran organisasi perangkat daerah (OPD) yang menguasai aset kendaraan bermotor belum melaporkan kepada bidang aset. Karenanya, pendataan masih terus dilakukan agar tidak ada aset kendaraan yang masih menunggak pajak di 2026 nanti.

Menurutnya, proses pembayaran pajak itu butuh waktu. Dia menambahkan, tanggung jawab pembayaran pajak kendaraan bermotor itu adalah OPD terkait yang menguasainya.

“Sudah kami buat surat edaran, kami kirim ke OPD agar segera memberikan data,” bebernya.
Selain soal tunggak pajak, juga mengenai kendaraan bermotor yang tidak dilengkapi dokumen utuh. Hal tersebut juga menjadi temuan auditor.

“Persentasenya sudah ada 50 persen anggaran yang terserap,” ujarnya.

Kata Umrizal, pembayaran pajak terhadap kendaraan bermotor yang menunggak itu juga membantu dongkrak pendapatan asli daerah. Dia menyebut, OPD terkait yang menguasai aset itu yang membayarkan pajaknya.

“Harusnya OPD (yang bayar pajak) tapi karena sudah ada perintah TAPD, menaruh anggaran di kami, ya kami kerjain. Ini (bayar pajak kendaraan bermotor) tanggung jawab OPD, yang pakai kendaraan kan OPD, harusnya yang bayar pajak tu mereka,” ujarnya.

“Dalam Perpres diatur dalam minyak, pemeliharaan. Tapi OPD tidak prioritaskan anggaran itu, sudah sering kita sampaikan dan imbauan melalui surat edaran,” pungkas Umrizal.

Diketahui dalam temuan auditor, ada 300-an kendaraan bermotor telah jatuh tempo pembayaran pajaknya dengan tunggakan tahun yang bervariasi. Ratusan aset milik Pemko Binjai itu dikuasai oleh sejumlah organisasi perangkat daerah hingga kelurahan dan kecamatan serta puskesmas. (ted)