Home Blog Page 11

Rupiah Rp18.000; Kapan Rp19.000?

Oleh: Ilham Mendrofa

TADI malam saya bermimpi bertemu Alan Greenspan. Ya, Alan Greenspan. Ketua Federal Reserve Amerika Serikat yang selama hampir dua dekade menjadi salah satu orang paling berpengaruh dalam sistem keuangan dunia. Dalam mimpi itu, ia sudah sangat tua. Rambutnya putih seluruhnya. Kacamata tebal bertengger di ujung hidungnya. Di hadapannya bertumpuk lembaran dolar Amerika. Ia sedang menghitung. Pelan. Tenang. Seperti seorang petani yang sedang menghitung hasil panen.

Saya berdiri tidak jauh darinya. Di tangan saya ada setumpuk rupiah. Saya tahu ia tidak sedang mengejek saya. Tetapi saya memperhatikan sesuatu yang membuat dada saya sesak. Sesekali ia mengangkat kepala, lalu melirik ke arah saya dari balik kacamatanya.

Bukan tatapan menghina. Lebih menyakitkan dari itu. Tatapan iba. Seolah-olah rupiah yang saya genggam tidak lebih berharga daripada koran Wall Street Journal yang baru selesai dibaca lalu dilempar ke tempat sampah. Saya marah. Saya ingin membantah. Saya ingin menjelaskan bahwa negeri saya besar. Bahwa kami punya nikel, sawit, batu bara, laut yang luas, penduduk lebih dari 280 juta jiwa, dan mimpi menjadi negara maju.

Tetapi sebelum satu kata pun keluar dari mulut saya, saya terbangun. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Di layar telepon genggam, rupiah masih berada di sekitar Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya tidak langsung memikirkan kurs. Saya justru memikirkan kepercayaan.

Sejujurnya, peduli apa sebagian besar rakyat terhadap kurs? Sebagian besar orang Indonesia tak pernah membeli dolar, tak membuka terminal Bloomberg, tak memantau indeks dolar, apalagi mengenal quantitative tightening. Yang mereka kenal jauh lebih sederhana: solar masih harus dibeli dengan barcode, antrean SPBU masih mengular di beberapa daerah, harga tandan buah segar sawit naik turun tanpa kepastian.

Orang tua cemas, apakah anak-anak benar-benar mendapat gizi layak. Bangunan koperasi desa yang dijanjikan megah masih banyak yang belum selesai. Lulusan sekolah masih mencari kerja. Pasien masih mengeluh tentang layanan kesehatan. Dan jutaan keluarga masih menghitung-hati apakah penghasilan bulan ini cukup sampai akhir bulan.

Kita hidup di tengah kegelisahan-kegelisahan itu. Kita ingin pengangguran berkurang, kemiskinan menyusut, sekolah lebih baik, puskesmas lebih layak, jalan lebih mulus, air bersih lebih mudah didapat. Kita ingin negara terasa hadir ketika rakyat membutuhkannya. Maka ketika para ekonom berbicara soal rupiah, banyak orang bertanya: Apa hubungannya dengan hidup saya?

Pertanyaan itu wajar. Namun justru di situlah persoalannya. Sebab rupiah bukan sekadar mata uang. Rupiah adalah ukuran kepercayaan terhadap Indonesia. Ketika rupiah melemah, dunia sedang menilai kemampuan kita mengelola negara. Ketika rupiah menguat, dunia memberi penghargaan bahwa Indonesia punya masa depan yang layak dipercaya.

Maka pertanyaan terpenting hari ini bukanlah berapa kurs rupiah terhadap dolar. Melainkan: tinggal berapa banyak kepercayaan dunia terhadap rupiah? Dan yang lebih menakutkan: tinggal berapa banyak kepercayaan kita sendiri terhadap rupiah?

Dalam ekonomi modern, nilai tukar adalah harga dari kepercayaan. Ia bergerak oleh perdagangan, investasi, dan ekspektasi. Pelemahan rupiah tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa cerita lebih besar tentang bagaimana negara ini dipandang dunia. Hari ini rupiah mendapat tekanan dari ketiga sisi itu.

Di sektor perdagangan, Indonesia masih memikul defisit migas. Ketika harga minyak dunia naik, kebutuhan dolar ikut meningkat. Surplus perdagangan pada April 2026 tinggal sekitar US$89 juta—terendah sejak 2020. Itu tanda bahwa bantalan devisa dari perdagangan semakin tipis. Surplus nonmigas masih ada, tapi nyaris habis ditelan kebutuhan energi.

Di sektor harga, inflasi mulai merangkak naik. Angka 3,08 persen pada Mei 2026 memang belum mengkhawatirkan, tetapi arah pergerakannya penting dicermati. Rupiah yang melemah membuat impor lebih mahal, impor mahal menaikkan biaya produksi, dan pada akhirnya tekanan itu turun ke pasar tradisional serta meja makan rakyat.

Di sektor keuangan, investor tak kenal patriotisme. Mereka menghitung risiko dan imbal hasil. Ketika rupiah melemah lebih cepat dari keuntungan yang mereka peroleh, mereka keluar. Begitu mereka keluar, tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Inilah yang disebut premi risiko: ongkos yang harus dibayar sebuah negara ketika kepercayaan mulai berkurang. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen. Langkah itu penting dan perlu. Namun suku bunga hanyalah rem, bukan mesin. Ia bisa memperlambat tekanan, tapi tak bisa menciptakan kepercayaan sendirian.

Menahan kurs adalah tugas bank sentral. Memperkuat rupiah adalah tugas seluruh negara. Pemerintah kerap mengatakan pelemahan rupiah terutama disebabkan faktor global. Itu tidak salah. Dolar AS memang sedang kuat, harga energi meningkat, ketegangan geopolitik membuat investor mencari tempat paling aman.

Namun penjelasan itu tidak cukup. Sebab badai global tidak memukul semua negara dengan cara yang sama. Brasil masih mampu menarik modal berkat kombinasi suku bunga tinggi dan ekspor komoditas yang kuat. Norwegia untung dari ekspor energi. India ditopang pasar domestik besar dan arus investasi stabil. Tidak semua mata uang kehilangan pijakan dengan tingkat yang sama.

Karena itu pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah mengapa dolar kuat, melainkan mengapa ketika badai yang sama datang, rupiah terlihat lebih rapuh dibanding sebagian negara lain? Jawabannya membawa kita pada persoalan lebih dalam: kredibilitas kebijakan. Pasar ingin tahu apakah kebijakan fiskal dan moneter benar-benar searah. Apakah hilirisasi menghasilkan devisa bersih atau sekadar memindahkan pusat rente. Apakah devisa hasil ekspor benar-benar masuk ke sistem keuangan nasional atau hanya parkir di rekening valas. Apakah proyek-proyek besar negara memperkuat produktivitas atau justru memperbesar kebutuhan impor dan utang.

Pertanyaan-pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan pidato. Hanya data yang mampu menjawabnya. Yang dibutuhkan hari ini bukan lagi konferensi pers yang menenangkan, melainkan transparansi yang meyakinkan: berapa devisa hasil ekspor yang masuk, berapa yang dikonversi ke rupiah, berapa kebutuhan valas BUMN, berapa kebutuhan impor energi, dan berapa devisa bersih yang benar-benar dihasilkan dari hilirisasi. Kepercayaan lahir ketika data lebih kuat dari slogan.

Sejarah rupiah sendiri lahir dari gagasan yang sama. Namanya berasal dari kata Sanskerta rūpya—perak yang ditempa. Ketika Oeang Republik Indonesia mulai beredar pada 30 Oktober 1946, republik yang masih muda itu mengirim pesan kepada dunia: kami punya negara sendiri, pemerintahan sendiri, dan nilai yang kami percaya sendiri. Maka grafik rupiah bukan sekadar grafik ekonomi. Ia adalah rekam jantung republik.

Itulah sebabnya saya ingin menulis judul ini dan sengaja mengganggu. *Rupiah kapan Rp19.000?* Bukan karena kita menginginkan rupiah jatuh lebih jauh. Justru karena kita ingin mencegahnya. Rp19.000 bukan ramalan. Ia adalah pertanyaan moral kepada para penjaga kebijakan fiskal dan moneter: apakah mereka cukup cepat membaca tanda-tanda sebelum persoalan ekonomi berubah menjadi persoalan politik? Apakah mereka cukup jujur mengakui masalah sebelum pasar kehilangan kesabaran? Apakah mereka cukup berani memperbaiki fondasi sebelum rakyat kehilangan kepercayaan?

Kita tidak butuh pemerintah yang sempurna. Kita butuh pemerintah yang dapat dipercaya. Rupiah bukan hanya alat tukar, tapi juga janji. Dan seperti semua janji, nilainya tidak ditentukan oleh kata-kata yang diucapkan, melainkan oleh kemampuan untuk menepatinya. Sebab pada akhirnya, nilai tukar bukan hanya harga mata uang, tapi juga harga dari kepercayaan kita terhadap masa depan.

Adalah Kepala Badan Saksi Nasional DPP Partai Demokrat.

Dukung Swasembada Energi Nasional, Gubsu Dorong Percepatan Legalisasi Sumur Minyak Rakyat

AUDIENSI: Gubsu Muhammad Bobby Afif Nasution menerima audiensi Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kamis (4/6/2026).(Diskominfo Sumut)
AUDIENSI: Gubsu Muhammad Bobby Afif Nasution menerima audiensi Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kamis (4/6/2026).(Diskominfo Sumut)

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong percepatan legalisasi sumur minyak masyarakat sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada energi nasional. Di Kabupaten Langkat sendiri tercatat terdapat 607 sumur minyak masyarakat yang sudah terverifikasi, yang berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan produksi energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Bobby saat menerima audiensi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumbagut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman, Medan, Kamis (4/6/2026).

Menurut Bobby, penerapan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 14 Tahun 2025 menjadi langkah penting dalam menata dan mengelola sumur minyak rakyat secara profesional sekaligus memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

“Ini satu hal yang kami ketahui, tujuannya mencapai cita-cita Pak Presiden mencapai swasembada energi untuk memenuhi target 610 ribu barel per hari, salah satunya dengan melibatkan masyarakat daerah,” kata Bobby.

Selama ini, keberadaan sumur minyak masyarakat kerap dianggap merugikan negara karena belum memiliki payung hukum yang jelas. Namun, melalui implementasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025, aktivitas tersebut kini memiliki dasar legal yang kuat.

“Kita pemerintah daerah melalui BUMD diminta mengakomodir hasil sumur masyarakat, oleh karena itu percepatan cita-cita Pak Presiden harus kita wujudkan segera,” ujar Bobby.

Bobby menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut siap mendukung penuh percepatan legalisasi dan pengelolaan sumur minyak masyarakat melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Kami dari Pemprov Sumut bersemangat untuk terus bersinergi. Kami dari Pemda tentu akan mendukung dan ingin menjadi bagian dari pencapaian tersebut. Oleh karena itu, apa pun hal dan persoalan di Sumut, mari kita sama-sama berkolaborasi mempercepat penyelesaian persoalan di lapangan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Langkat Syah Afandin berharap proses legalisasi dapat segera direalisasikan. Menurutnya, sumur minyak masyarakat merupakan potensi besar yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.“Sebenarnya ini potensi daerah, seperti lapangan pekerjaan, PAD, dan lain-lain,” kata Syah Afandin.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut Sebastian Julius mengatakan pihaknya terus mendorong percepatan implementasi kebijakan tersebut. Ia juga mengapresiasi sinergi yang selama ini telah terjalin dengan Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemerintah Daerah. “Alhamdulillah kerja sama cukup baik, ini yang kami harapkan untuk dipertahankan dan ditingkatkan,” kata Sebastian.(san/*)

Peringati Hari Lansia, 10.000 Lansia Dapat PKH Medan Makmur

HLUN: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat memperingati HLUN di halaman Kantor Camat Medan Petisah, Rabu (3/6/2026)
HLUN: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat memperingati HLUN di halaman Kantor Camat Medan Petisah, Rabu (3/6/2026)

Ribuan lanjut usia (lansia) di Kota Medan mendapat kabar menggembirakan pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 tingkat Kota Medan. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH) Medan Makmur yang ditargetkan menjangkau 10.000 lansia di ibu kota Sumatera Utara tersebut.

Program ini menjadi yang pertama kali dihadirkan Pemerintah Kota Medan sebagai bentuk kepedulian dan keberpihakan terhadap para lansia, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan minim dukungan keluarga.

Di hadapan puluhan lansia yang menghadiri peringatan HLUN di halaman Kantor Camat Medan Petisah, Rabu (3/6/2026), Rico Waas menegaskan bahwa kehadiran PKH Medan Makmur merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, termasuk kelompok usia lanjut yang rentan.

“Banyak lansia kita yang kehidupannya sangat susah. Ada yang keluarganya jauh, bahkan sudah tidak ada, atau anaknya tidak memperhatikan. Bagaimana mereka mau menjalani kehidupan? Pemerintah harus hadir memberikan keadilan tersebut, dari anak-anak, dewasa hingga lansia. Itulah kewajiban kami,” ujar Rico Waas.

Menurut Rico, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kondisi sebagian lansia yang harus menjalani masa tua seorang diri dan dengan keterbatasan ekonomi. Karena itu, melalui PKH Medan Makmur, Pemko Medan berupaya memberikan dukungan agar para lansia dapat menikmati kehidupan yang lebih layak dan sejahtera.

“Ini adalah kebijakan yang kami ambil. Mudah-mudahan bisa bermakna untuk kita semuanya,” katanya.

Tak hanya memperkenalkan program baru, Rico Waas juga mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan HLUN sebagai momentum refleksi. Ia mengingatkan bahwa setiap orang yang saat ini berada pada usia produktif pada akhirnya akan memasuki masa lanjut usia.

“Maka maknailah hidup kita pada saat ini di waktu kita masih prima, masih sehat. Ternyata suatu saat kita akan menjadi lansia. Maka dari itu, sayangilah lansia-lansia kita semuanya,” pesannya.

Suasana peringatan HLUN ke-30 berlangsung meriah dan penuh kehangatan. Berbagai kegiatan digelar untuk mendukung kesehatan dan produktivitas lansia, mulai dari senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), hingga penyerahan paket nutrisi secara simbolis.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, drg. Henny Savitri, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemko Medan dalam meningkatkan kualitas hidup lansia melalui pendekatan promotif dan preventif yang terintegrasi dengan layanan kesehatan primer di puskesmas.

Menurut Henny, Kecamatan Medan Petisah dipilih sebagai lokasi pelaksanaan HLUN karena memiliki sekolah lansia pertama di Kota Medan yang telah menjadi pelopor pengembangan program serupa di kecamatan lainnya.

“Kesuksesan Kecamatan Medan Petisah ini diharapkan menjadi pemicu efek domino, mendorong kecamatan lain yang belum memiliki sekolah lansia untuk segera mengadopsi program serupa. Tujuannya agar pembinaan dan pemberdayaan lansia dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan di seluruh penjuru kota,” jelasnya.

Melalui peluncuran PKH Medan Makmur dan penguatan program pemberdayaan lansia, Pemko Medan berharap para lanjut usia tidak hanya mendapatkan perlindungan sosial, tetapi juga tetap sehat, aktif, dan merasakan perhatian di masa senjanya. (map/ila)

DPRD Medan Dukung BRT Mebidang, Minta Tak Korbankan Ruang Hijau

Ahmad Affandi Harahap.
Ahmad Affandi Harahap.

MEDAN – Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang yang tengah berlangsung di Kota Medan mendapat dukungan dari DPRD Kota Medan. Kehadiran transportasi massal modern tersebut dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan, mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, sekaligus meningkatkan kualitas layanan transportasi publik.

Namun di balik dukungan tersebut, DPRD mengingatkan agar pembangunan infrastruktur tidak mengabaikan aspek lingkungan hidup, terutama terkait penebangan pohon yang dilakukan di sejumlah ruas jalan untuk mendukung proyek strategis tersebut.

Anggota DPRD Kota Medan, Ahmad Affandi Harahap, menilai BRT Mebidang merupakan langkah maju dalam mewujudkan sistem transportasi perkotaan yang lebih modern dan berkelanjutan.

“Saya mendukung upaya pemerintah menghadirkan sistem transportasi yang lebih baik dan berkelanjutan. Namun, dukungan tersebut tidak berarti mengabaikan dampak yang ditimbulkan selama proses pembangunan berlangsung,” ujar Ahmad Affandi, Kamis (4/6/2026).

Menurut politisi Partai Demokrat itu, perhatian serius perlu diberikan terhadap penebangan pohon-pohon yang selama ini tumbuh di median jalan dan menjadi bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Medan. Keberadaan pohon, katanya, memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di tengah pesatnya pembangunan kota.

Di tengah meningkatnya suhu udara, polusi kendaraan bermotor, dan semakin padatnya kawasan perkotaan, pohon berperan sebagai penyerap karbon, penghasil oksigen, penahan panas, hingga penyaring debu yang membantu meningkatkan kualitas udara bagi masyarakat.

“Yang menjadi pertanyaan, apakah sudah ada perencanaan yang matang terkait penggantian pohon-pohon yang ditebang tersebut?” katanya.

Affandi menegaskan pembangunan BRT yang bertujuan menghadirkan kemajuan transportasi tidak boleh mengorbankan kualitas lingkungan hidup masyarakat. Menurutnya, pembangunan infrastruktur dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan agar manfaat yang dihasilkan benar-benar berkelanjutan.

Persoalan tersebut dinilai semakin penting mengingat Kota Medan masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan Ruang Terbuka Hijau. Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah perkotaan idealnya memiliki minimal 30 persen RTH. Sementara kondisi saat ini dinilai masih jauh dari target tersebut.

Karena itu, Affandi meminta pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan penghijauan kembali sebagai bentuk kompensasi ekologis atas pohon-pohon yang ditebang selama pembangunan berlangsung.

“Pohon yang ditebang harus diganti. Bahkan idealnya jumlah pohon pengganti lebih banyak daripada yang ditebang. Penanaman kembali bisa dilakukan di taman kota, kawasan permukiman, bantaran sungai, fasilitas umum maupun lahan milik pemerintah yang memungkinkan untuk penghijauan,” tegasnya.

Selain reboisasi, ia juga mendorong adanya transparansi kepada masyarakat terkait jumlah pohon yang ditebang, mekanisme pelaksanaannya, pemanfaatan hasil kayu, hingga rencana penanaman pengganti yang akan dilakukan pemerintah.

Menurutnya, keterbukaan informasi penting untuk menghindari munculnya persepsi negatif sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap proyek pembangunan yang sedang berjalan.

“Pembangunan Kota Medan harus mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan. Infrastruktur memang penting, tetapi kualitas lingkungan hidup juga tidak kalah penting. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mewarisi jalan-jalan yang megah, tetapi kehilangan pohon-pohon yang selama ini menjadi paru-paru kota,” ujarnya.

Affandi berharap proyek BRT Mebidang tidak hanya menjadi simbol kemajuan transportasi modern di Sumatera Utara, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pembangunan dapat dilaksanakan tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan.

“Sebab kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki jalan yang baik dan transportasi modern, tetapi juga kota yang mampu menjaga ruang hijaunya demi kualitas hidup masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya. (map/ila)

Lapas Binjai Razia Kamar Hunian Wargabinaan

RAZIA: Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Binjai, Rudi Sembiring saat melakukan penyisiran dalam razia ke kamar hunian wargabinaan.(Humas Lapas Binjai/Sumut Pos)
RAZIA: Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Binjai, Rudi Sembiring saat melakukan penyisiran dalam razia ke kamar hunian wargabinaan.(Humas Lapas Binjai/Sumut Pos)

BINJAI – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Binjai, terus menunjukkan komitmennya dalam upaya meningkatkan keamanan dan ketertiban di lingkungannya. Di bawah komando Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Binjai, Rudi Sembiring, kembali dilakukan razia yang menyasar kamar hunian wargabinaan.

Rudi menegaskan, razia ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan Lapas Binjai yang terbebas dari handphone, pungutan liar hingga narkoba serta deteksi dini terhadap gangguan keamanan dan ketertiban, Rabu (3/6/2026) malam.

“Razia dimulai pukul 21.30 WIB sampai dengan selesai,” kata Rudi, Kamis (4/6/2026).

Dia menambahkan, razia ini penting sebagai langkah preventif dalam rangka menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif. “Razia ini dilakukan untuk menekan angka pelanggaran dan memastikan bahwa, setiap wargabinaan mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Selain itu, razia ini juga bertujuan untuk menjaga kondusifitas Lapas Binjai,” ujar mantan Kasi Binadik dan Giatja Lapas Tanjungbalai ini.

Selama razia berlangsung, petugas memeriksa setiap sudut kamar hunian secara teliti. Petugas mencari benda-benda yang tidak diperbolehkan, seperti senjata tajam, alat komunikasi, dan bahan-bahan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Sementara wargabinaan, diminta untuk tetap tenang dan mematuhi instruksi yang diberikan oleh petugas. Razia ini diharap dapat menjadi langkah preventif yang dilakukan secara berkala untuk menjaga ketertiban dan keamanan di Lapas Binjai.

“Lapas Binjai mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan produktif bagi wargabinaan,” pungkasnya. (ted/ila)