27 C
Medan
Friday, April 17, 2026
Home Blog Page 118

Operasi Zebra Toba 2025, Poldasu Tekankan Profesionalitas dan Humanis

APEL: Wakapolda Sumut Brigjen Pol Rony Samtana saat memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Kewilayahan 'Zebra Toba 2025', di Lapangan KS Tubun Mapolda Sumut, Senin (17/11). Istimewa/Sumut Pos
APEL: Wakapolda Sumut Brigjen Pol Rony Samtana saat memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Kewilayahan 'Zebra Toba 2025', di Lapangan KS Tubun Mapolda Sumut, Senin (17/11). Istimewa/Sumut Pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kewilayahan ‘Zebra Toba 2025’, di Lapangan KS Tubun Mapolda Sumut, Senin (17/11).

Apel dipimpin Wakapolda Sumut Brigjen Pol Rony Samtana yang hadir mewakili Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto.

Apel tersebut dihadiri jajaran Forkopimda dan berbagai instansi terkait, mulai dari TNI, Jasa Marga, Jasa Raharja, Satpol PP, Dishub Provsu, hingga PT JMKT. Seluruh unsur yang terlibat menegaskan kesiapan penuh dalam mendukung pelaksanaan operasi yang akan berlangsung selama 14 hari, mulai 17-30 November 2025.

Dalam amanat Kapolda Sumut yang dibacakan Wakapolda Rony, disampaikan bahwa situasi keamanan dan keselamatan lalu lintas di Sumut masih memerlukan perhatian serius. “Meski terjadi perbaikan dibanding tahun sebelumnya, potensi kerawanan tetap tinggi,” katanya.

Adapun, data Kamseltibcarlantas dari Januari-Oktober 2025, menunjukkan 73.335 pelanggaran lalu lintas, turun 39 persen dari tahun 2024. Dan 5.475 kecelakaan lalu lintas, turun 3,5 persen dari periode sebelumnya.

“Meskipun terdapat perbaikan, data ini menunjukkan bahwa potensi kerawanan lalu lintas masih cukup tinggi dan memerlukan langkah strategis serta upaya berkelanjutan dalam mewujudkan keselamatan berlalu lintas,” tegasnya.

Operasi Zebra Toba 2025 melibatkan total 1.528 personel, terdiri dari 100 personel Satgas Polda Sumut dan 1.428 personel Satgas Polres Jajaran. Operasi tahun ini mengusung tema ‘Terwujudnya Kamseltibcarlantas yang Aman, Nyaman, dan Selamat Menjelang Pelaksanaan Ops Lilin 2025’.

Apel gelar pasukan ini bertujuan, memastikan kesiapan personel, sarana prasarana, serta penguatan sinergi lintas sektoral. Rony menyebutkan, pentingnya pelaksanaan operasi yang humanis dan transparan sejalan dengan Reformasi Polri.

Beberapa arahan penting Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, yakni penegakan hukum mengedepankan ETLE serta penindakan secara modern. Pelanggaran tertentu cukup diberikan teguran, selama masih dapat dibina.

Selanjutnya, seluruh kegiatan harus sesuai SOP, mulai preemtif, preventif, hingga penindakan. Dan tidak ada toleransi bagi personel yang melakukan penyimpangan atau kontra produktif. “Saya tegaskan, jangan sampai tindakan yang tidak sesuai prosedur mencederai kepercayaan publik dan menghambat tujuan mulia operasi,” tegasnya lagi.

Ia juga mengajak seluruh personel menjadikan pelaksanaan operasi sebagai momentum mendekatkan diri kepada masyarakat melalui edukasi yang berkesinambungan. Tujuannya, meningkatkan kesadaran berlalu lintas masyarakat Sumut.

“Mari kita wujudkan operasi yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan. Keberhasilan menciptakan Kamseltibcarlantas adalah wujud nyata pengabdian kita kepada bangsa dan negara,” ajaknya.

Operasi Zebra Toba menjadi langkah awal penguatan kesiapan Polda Sumut menjelang Ops Lilin 2025. Harapannya, operasi ini mampu memberikan dampak nyata dengan menekan pelanggaran, menurunkan kecelakaan, dan membangun budaya tertib lalu lintas di masyarakat.

Mengakhiri amanat, Rony menyampaikan doa agar seluruh personel diberi perlindungan dan keselamatan dalam menjalankan tugas. “Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan kepada kita semua dalam melanjutkan pengabdian terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya. (dwi/ila)

Dalami Strategi Pertahanan dan Pendidikan di Singapura, Bupati Sergai Dapat Pembekalan dari Menteri Chan Chun Sing

PEMBELAJARAN: Peserta KPPD Lemhannas RI Angkatan II, termasuk Bupati Sergai Darma Wijaya, mengikuti sesi pembelajaran bersama narasumber di Singapura, Sabtu (15/11). ( IST )
PEMBELAJARAN: Peserta KPPD Lemhannas RI Angkatan II, termasuk Bupati Sergai Darma Wijaya, mengikuti sesi pembelajaran bersama narasumber di Singapura, Sabtu (15/11). ( IST )

SERGAI, SUMUTPOS.CO – Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Darma Wijaya bersama peserta Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan II Tahun 2025 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI mendalami strategi pertahanan dan pendidikan di Singapura. Di sana, rombongan mendapat pembekalan langsung dari Menteri Pertahanan Singapura yang juga mantan Menteri Pendidikan, Mr Chan Chun Sing, Sabtu (15/11).

Melalui pesan WhatsApp, Bupati Sergai menyampaikan bahwa Mr Chan merupakan salah satu figur kunci dalam pembaruan sistem pendidikan Singapura.
Saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dari Mei 2021 hingga Mei 2025, ia dikenal sebagai tokoh yang mendorong lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat, serta memperluas akses pendidikan bagi seluruh peserta didik dengan berbagai kemampuan dan minat.

“Beliau memperkuat pengembangan profesional bagi para pendidik dan memperdalam kemitraan antara sekolah dan industri, sehingga dunia pendidikan relevan dengan kebutuhan tenaga kerja masa depan,” ujar Darma Wijaya.

Sebelum memimpin sektor pendidikan, Mr Chan tercatat memegang sejumlah jabatan strategis dalam pembangunan ekonomi Singapura. Dari Mei 2018 hingga Mei 2021, ia menjabat sebagai Minister for Trade and Industry, meratifikasi Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), serta memperkuat kerja sama internasional di bidang ekonomi digital.

Tak hanya itu, Mr Chan juga berperan penting dalam sektor sosial dan ketenagakerjaan. Ia menjabat sebagai Deputy Chairman di People’s Association dari 2015 hingga 2021, memimpin berbagai program yang bertujuan mempererat kohesi sosial masyarakat.
Pada periode yang sama, ia juga menjabat sebagai Secretary-General National Trades Union Congress (NTUC), memperluas jaringan gerakan buruh untuk mewakili seluruh pekerja di Singapura.

“Beliau pernah menjabat sebagai Minister for Social and Family Development, Acting Minister for Community Development, Youth and Sports, Second Minister for Defence, hingga Minister of State for Information, Communications and the Arts,” lanjut Bupati Sergai.

Karier Mr Chan tak bisa dilepaskan dari latar belakang militernya. Mengabdi di Singapore Armed Forces (SAF) sejak 1987 hingga 2011, ia pernah menjabat sebagai Chief of Army sebelum mengakhiri dinas militernya untuk maju dalam Pemilihan Umum 2021. Ia kemudian terpilih sebagai Member of Parliament untuk Tanjong Pagar Group Representation Constituency.

Prestasi Mr Chan juga dibuktikan dengan berbagai penghargaan akademik dan profesional. Ia merupakan penerima SAF (Overseas) dan President’s Scholarship, serta meraih gelar First Class Honours bidang Ekonomi dari Christ’s College, Cambridge University, Inggris. Pada 1998, ia dianugerahi Distinguished Master Strategist Award oleh US Army Command and General Staff College. Tahun 2005, ia menyelesaikan Sloan Fellows Programme di Massachusetts Institute of Technology (MIT) melalui Lee Kuan Yew Scholarship.

Menurut Bupati Sergai, pengalaman dan rekam jejak internasional Mr Chan menjadikannya sosok yang sangat tepat menjadi narasumber bagi peserta KPPD Lemhannas RI.

“Dengan segudang prestasi beliau, peserta KPPD bisa banyak belajar tentang kepemimpinan, strategi pertahanan, pendidikan, dan ekonomi,” ujar Darma Wijaya.

Darma Wijaya juga menyoroti sisi humanis dari pemimpin Singapura tersebut. “Yang tidak kalah menarik, Mr Chan yang lahir pada 1969 memiliki hobi membaca dan olahraga lari. Hobinya tidak jauh berbeda dengan saya yang gemar sepak bola, bersepeda, dan berlari, serta Wakil Bupati Sergai Adlin Tambunan yang juga senang bermain sepak bola dan joging,” pungkasnya. (fad/azw)

Sambut Kajari Tebingtinggi yang baru, Satria Abdi, Pemuka Agama dan Masyarakat Gelar Upah-upah

SAMBUTAN: Kajari Tebingtinggi Satria Abdi foto bersama Ketua MUI dan unsur forkopimda dalam acara sambutan di Gedung Hj Sawiyah, Jalan Sutomo, Kelurahan Rambung, Senin (27/11).
SAMBUTAN: Kajari Tebingtinggi Satria Abdi foto bersama Ketua MUI dan unsur forkopimda dalam acara sambutan di Gedung Hj Sawiyah, Jalan Sutomo, Kelurahan Rambung, Senin (27/11).

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tebingtinggi bersama para pemuka agama dan pemuka masyarakat menyelenggarakan kegiatan Penyambutan dan Upah-upah Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tebingtinggi yang baru, Satria Abdi di Gedung Hj Sawiyah, Jalan Sutomo, Kelurahan Rambung, Senin (27/11).

Kegiatan dihadiri oleh unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat Islam, serta perwakilan KUA dan MUI kecamatan se-Kota Tebingtinggi. Acara itu pun berlangsung aman, tertib, dan kondusif.

Acara diawali dengan tarian persembahan dilanjutkan pembacaan ayat suci Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta laporan kegiatan oleh Sekretaris Umum MUI, Hasbie Ashshiddiqi, selaku ketua pelaksana.

Dalam laporannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan dan dukungan masyarakat terhadap pejabat penegak hukum yang bertugas di Kota Tebingtinggi.

Ketua Umum MUI, Akhyar Nasution, dalam sambutannya menegaskan bahwa MUI mendukung penuh upaya penegakan hukum yang profesional, humanis, dan berintegritas, serta siap bersinergi dengan seluruh unsur pemerintah dan aparat penegak hukum.

Prosesi upah-upah kemudian dilaksanakan sebagai simbol doa dan harapan bagi kelancaran tugas Kajari yang baru.

Dalam sambutannya, Kajari Tebingtinggi Satria Abdi menyampaikan apresiasi atas dukungan dan penyambutan dari para tokoh agama dan masyarakat, serta menegaskan komitmennya untuk menjalankan tugas dengan integritas, profesionalitas, dan menjunjung tinggi penegakkan hukum di Kota Tebingtinggi. Kegiatan ditutup dengan doa dan tarian. (mag-3/azw)

BPK Wilayah II Laksanakan Program Revitalisasi Selendang Manduaro di Tapteng

BERSAMA: Peserta foto bersama usai menyulam Selendang Manduaro menggunakan benang kelingkan, di Desa Pasarsorkam, Kecamatan Sorkam Barat, Tapteng. Istimewa/Sumut Pos
BERSAMA: Peserta foto bersama usai menyulam Selendang Manduaro menggunakan benang kelingkan, di Desa Pasarsorkam, Kecamatan Sorkam Barat, Tapteng. Istimewa/Sumut Pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II sedang melaksanakan Program Revitalisasi Selendang Manduaro di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Hal ini sebagai upaya menghidupkan kembali salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) masyarakat etnik Pesisir yang selama lebih dari tiga dekade tidak lagi diproduksi.

Selendang Manduaro selama ini tetap digunakan dalam berbagai ritus daur hidup, mulai dari kelahiran, prosesi meminang, pernikahan, tujuh bulanan, hingga upacara kematian. Namun proses pembuatannya berhenti sejak awal 1990 an, sehingga masyarakat hanya mengandalkan selendang warisan dari generasi sebelumnya.

Program ini berangkat dari hasil Inventarisasi OPK yang dilaksanakan pada Agustus 2025 oleh tim BPK Wilayah II yang terdiri dari Dharma Kelana Putra, Widiyanto, Ahmed Fernanda Desky, dan Nurdin Ahmad Tanjung.

Inventarisasi tersebut menemukan, bahwa satu-satunya perajin yang masih menguasai teknik sulam Manduaro, yakni Muriati Situmeang dari Rumah Sulam Umak Haftsa, di Desa Pasar Sorkam, Tapteng. Namun, produksi selendang Manduaro tidak dapat dilanjutkan, karena bahan utamanya, yaitu benang kelingkan (dalam Bahasa setempat disebut kalengkang) dan jarum khusus sudah tidak tersedia di Indonesia sejak Tahun 1990 an.

Benang kelingkan merupakan benang logam halus yang dalam tradisi lain dikenal dengan berbagai nama, diantaranya clinquant (Prancis), badla (India), dan keringkam (Serawak). Meskipun bahan dan peralatannya tidak ada, namun pengetahuan tentang teknik penyulamannya masih tersimpan kuat dalam ingatan para perempuan etnis Pesisir.

Berdasarkan temuan tersebut, tim merekomendasikan agar Selendang Manduaro direvitalisasi melalui penyediaan kembali bahan dan peralatan khusus, pembaruan sarana seperti meja pemidangan, penataan ulang merek dan visual, serta penguatan teknik produksi melalui rangkaian pelatihan. Rekomendasi ini direalisasikan pada November 2025 melalui tiga agenda utama, yakni Inventarisasi Pengayaan Motif, Pelatihan Teknik Dasar Sulam Manduaro, serta Pameran Hasil Revitalisasi.

Tahap Inventarisasi Pengayaan Motif berlangsung pada 2-17 November 2025, dan nantinya akan menghasilkan buku motif berbasis pengetahuan pelaku tradisi, dokumentasi selendang lama, temuan lapangan, dan adaptasi motif dari nisan tradisional di Barus dan Sorkam.

Sebelumnya, pelatihan teknik dasar Sulam Manduaro juga telah diselenggarakan pada 12-14 November 2025, di Rumah Sulam Umak Haftsa, Desa Pasarsorkam, Kecamatan Sorkam Barat, Tapteng.

Pelatihan dilaksanakan secara intensif di Rumah Sulam Umak Haftsa selama tiga hari tersebut, dan setelah itu dilanjutkan dengan praktik mandiri di rumah masing-masing selama dua minggu.

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan berdasarkan prinsip pemberdayaan masyarakat (community development), yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pemelihara pengetahuan budaya. Perajin, tokoh adat, dan generasi muda terlibat aktif sejak tahap identifikasi kebutuhan hingga produksi karya. Sehingga proses revitalisasi tidak hanya menghidupkan kembali keterampilan menyulam Manduaro, tetapi juga memastikan keberlanjutannya melalui transfer pengetahuan antargenerasi.

Dalam kerangka itu, intervensi BPK Wilayah II bersifat resusitatif, yaitu mengembalikan nadi tradisi agar dapat berkembang kembali oleh masyarakat pendukungnya. Pembukaan seremonial pelatihan turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, antara lain tokoh adat dan tokoh masyarakat, Kepala Desa Pasarsorkam, Lurah Binasi, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pendidikan (Kabid Kebudayaan), serta perwakilan muspika setempat. Beberapa momen penting terjadi selama pelatihan.

Ketika BPK Wilayah II kembali membawa sampel benang kelingkan, para pelaku tradisi menyambutnya dengan haru. Benang logam berkilau tersebut membangkitkan memori masa ketika sulaman Manduaro masih hidup di tengah masyarakat.

“Sudah lama kami tak membuat ini. Begitu kulihat benangnya, kucari jarum mamakku tapi sudah hilang entah ke mana,” ujar salah seorang peserta, Muriati Situmeang, Senin (17/11).

Sementara itu, Takdir Piliang, suami dari perajin, Muriati Situmeang menuturkan, sejak ia menikah, belum pernah ia melihat istrinya menyulam menggunakan benang kelingkan tersebut. “Sejak aku nikah, belum pernah aku lihat dia menyulam pakai benang ini,” tuturnya dengan rasa haru.

Kemudian, sampel benang tersebut diuji pada kain sifon merah dan menjadi selendang Manduaro pertama yang dibuat kembali setelah lebih dari 30 tahun.

Program ini awalnya menargetkan 20 peserta, namun antusiasme masyarakat sangat tinggi sehingga lebih dari 30 penyulam bergabung, termasuk 16 peserta berusia di bawah 21 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa revitalisasi tidak hanya memulihkan keterampilan, tetapi juga membuka ruang regenerasi bagi kaum milenial dan Gen Z.

Rangkaian revitalisasi ditutup dengan pameran karya selendang Manduaro dan dokumentasi proses, yang menjadi medium diseminasi kepada publik serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai nilai budaya dan potensi pengembangannya.
Seluruh karya dan dokumentasi akan dibawa ke Kantor BPK Wilayah II sebagai bagian dari galeri budaya yang menampilkan OPK dan objek diduga Cagar Budaya di Sumatera Utara (Sumut).

Di tempat terpisah, Kepala BPK Wilayah II, Sukronedi mengaku optimistis dengan antusiasnya peserta menyulam menggunakan benang kelingkan untuk membuat Selendang Manduaro.

“Melalui kolaborasi, komitmen masyarakat, dan regenerasi yang mulai tumbuh, Selendang Manduaro dapat kembali hidup dan berkembang sebagai identitas budaya masyarakat Pesisir Tapteng,” kata Sukronedi. (dwi/azw)

Diminta Tangani Gepeng, Dinsos Binjai Harus Kolaborasi Lintas Instansi

CENDERAMATA: Wakil Wali Kota Binjai Hasanul Jihadi, saat memberikan cenderamata kepada anggota Korpri yang purnatugas.(Dokumen Diskominfo Binjai)
CENDERAMATA: Wakil Wali Kota Binjai Hasanul Jihadi, saat memberikan cenderamata kepada anggota Korpri yang purnatugas.(Dokumen Diskominfo Binjai)

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Binjai diminta untuk menangani gelandangan dan pengemis (gepeng) dengan kolaborasi lintas instansi. Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Binjai Hasanul Jihadi, saat memimpin apel gabungan, Senin (17/11).

Pada kesempatan itu, Jiji, sapaan karib Hasanul Jihadi, menjelaskan, Dinsos Binjai sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat, diharapkan dapat bersinergi lintas instansi untuk penanganan gepeng dan ODGJ. Termasuk bersinergi dengan Satpol PP, Dinas Kesehatan, RSUD Djoelham, dan Disdukcapil.

“Dinsos memegang peran penting dalam perlindungan dan pemberdayaan masyarakat,” ungkap Jiji pada apel yang pelaksananya adalah Dinsos Binjai tersebut.

“Setiap program harus dilakukan dengan hati dan tanggung jawab,” sambungnya.

Dia juga menekankan pentingnya akurasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), agar bantuan sosial tepat sasaran.
“Akurasi data adalah kunci. Bantuan harus diterima warga yang benar-benar berhak,” tegasnya.

Berbagai program lainnya turut disoroti, termasuk graduasi 927 keluarga penerima bantuan yang tidak lagi layak, inovasi Pelayanan Khusus Jumat Berkah (Peluk Sejahtera), bantuan kemalangan kematian, hingga penanganan pengungsi Rohingya.

“Pemko Binjai terus mendukung penuh program-program sosial. Mari bekerja dengan integritas, gotong royong, dan hati nurani demi mewujudkan Binjai yang lebih sejahtera,” imbau Jiji.

Dalam kesempatan tersebut, Jiji juga menyerahkan cenderamata kepada 13 anggota Korpri yang akan memasuki masa purnatugas.

“Masa purnatugas adalah prestasi membanggakan. Terima kasih atas dedikasi dan loyalitas yang telah diberikan,” pungkasnya. (ted/saz)

Inspektorat Binjai Benahi Pelayanan Publik OPD, Dapat Laporan Lurah Tidak di Tempat saat Jam Dinas

Istimewa DAMPINGI: Inspektorat Binjai saat mendampingi Ombudsman di Dinas Pendidikan Kota Binjai.
Istimewa DAMPINGI: Inspektorat Binjai saat mendampingi Ombudsman di Dinas Pendidikan Kota Binjai.

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Inspektorat Kota Binjai yang dipimpin kepala baru, Heny Sitepu, langsung tancap gas membenahi pelayanan publik pada sejumlah perkantoran yang memberikan layanan kepada masyarakat.

Mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Binjai ini, baru menjabat sekitar tiga pekan. Dia pun sudah berkeliling ke sejumlah kantor organisasi perangkat daerah (OPD) dengan memberi penekanan terhadap pelayanan publik.

“Kemarin bersama Ombudsman sudah ke beberapa dinas yang menjadi objek penilaian,” ungkap Heny, Senin (17/11).
Beberapa dinas dimaksud, seperti rumah sakit umum daerah, dinas pendidikan, dan dinas sosial.

“Dengan dinas-dinas ini, kami berkoordinasi untuk membenahi pelayanan publik. Fungsi Inspektorat itu adalah pengawasan, pembinaan, dan audit,” jelas Heny.

Dengan baru menjabat beberapa pekan, Heny sudah menjalankan pengawasannya terhadap sejumlah OPD yang ada di Kota Binjai. Tak ketinggalan, pengawasan melekat juga sudah dilakukan terhadap anggotanya.

Bahkan ke depannya, dia bakal mengawasi sejumlah OPD yang menjadi sorotan dan merealisasikan anggaran yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti dinas pendidikan serta dinas pekerjaan umum dan tata ruang. Pengawasan ini dilakukan dalam rangka meminimalisir penyalahgunaan wewenang dan jabatan serta kerugian negara yang terjadi.

“OPD yang merealisasikan anggaran dengan bersentuhan langsung kepada masyarakat, akan kami awasi dan dampingi,” tutur Heny lagi.
Namun begitu, lanjut Heny, poin utama yakni melakukan pembinaan terhadap OPD yang memberikan pelayanan publik. Sebab dia sering mendapat laporan, kantor kelurahan hanya buka setengah hari. Sementara jam kerja itu berakhir hingga sore.

“Pelayanan publik yang menyentuh masyarakat seperti kantor lurah itu harus dibenahi. Saya mendapat laporan dari masyarakat, lurah tidak di kantor saat jam kerja,” bebernya.

Ketika mendapat temuan seperti itu, Inspektorat Binjai lebih dulu akan melakukan pembinaan.

“Jika pembinaan yang terus menerus dilakukan tidak membuahkan hasil, Inspektorat Binjai akan menindaklanjuti dengan memberi rekomendasi kepada pimpinan,” pungkas Heny. (ted/saz)

Pemkab Karo Dorong Remaja Jadi Agen Perubahan

SELAMAT: Wakil Bupati Karo Komando Tarigan, saat memberi ucapan selamat kepada pemenang.(Istimewa)
SELAMAT: Wakil Bupati Karo Komando Tarigan, saat memberi ucapan selamat kepada pemenang.(Istimewa)

KARO, SUMUTPOS.CO – Wakil Bupati Karo Komando Tarigan mewakili Bupati Karo Antonius Ginting, menghadiri sekaligus membacakan sambutan bupati pada kegiatan Grand Final Apresiasi Pemilihan Duta Generasi Berencana (Genre) Kabupaten Karo 2025 di Aula Kantor Bupati Karo, baru-baru ini.

Dalam sambutan yang dibacakan Komando, disampaikan, Program Genre menjadi sarana penting untuk membina remaja agar mampu melewati masa transisi dengan baik, menghindari Triad Kesehatan Reproduksi (seks bebas, pernikahan dini, dan penyalahgunaan narkoba), serta menjadi generasi yang berkualitas.

Pemkab Karo juga menekankan peran Duta Genre dalam edukasi pencegahan stunting melalui pemahaman tentang 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Komando pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh finalis, dan berpesan agar para pemenang dapat menjadi teladan, pengedukasi sebayanya, serta corong pemerintah dalam menyosialisasikan Program Bangga Kencana. Dia juga menyerahkan secara langsung penghargaan kepada para pemenang.

Pemkab Karo juga memberikan apresiasi kepada seluruh sponsor, mitra, guru, orang tua finalis, serta Forum Genre yang telah mendukung kegiatan ini. Pemkab Karo berharap ajang ini dapat melahirkan generasi muda yang hebat, sehat, berprestasi, dan mampu merencanakan masa depan dengan baik. (deo/saz)

Menara Masjid IKLAB Diresmikan, Simbol Sejarah dan Syiar Islam Warga Labuhanbatu di Medan

Ketua Umum IKLAB Raya Rivai Nasution bersama Ketua Dewan Penasehat IKLAB Raya Prof Dr Ir Hj Sabrina MSi usai menandatangani prasasti peresmian menara Masjid IKLAB di Jalan Jamin Ginting Medan, Minggu (16/11/2025). Foto: Istimewa
Ketua Umum IKLAB Raya Rivai Nasution bersama Ketua Dewan Penasehat IKLAB Raya Prof Dr Ir Hj Sabrina MSi usai menandatangani prasasti peresmian menara Masjid IKLAB di Jalan Jamin Ginting Medan, Minggu (16/11/2025). Foto: Istimewa

MEDAN, SumutPos.co- Suasana haru dan bangga menyelimuti acara peresmian Menara Masjid IKLAB di Jalan Jamin Ginting Medan, Minggu (16/11/2025). Menara yang kini berdiri megah ini bukan sekadar struktur bangunan, tetapi simbol sejarah panjang perjuangan para tokoh Ikatan Keluarga Labuhanbatu (IKLAB) Raya yang telah puluhan tahun menjadi pemersatu warga Labuhanbatu di Kota Medan dan sekitarnya.

Masjid IKLAB sendiri merupakan warisan berharga yang dibangun dari perjuangan tokoh-tokoh Labuhanbatu, di antaranya almarhum (Alm) H Abdul Wahab Dalimunthe, Alm Syahminan Pasaribu, Alm Dr Effendi S Harahap SPA, Alm Iwan Rifai Alam, Alm Ali Murthi Harahap, Alm H Amansyah Nasution. Ridwan Siregar ,Rivai Nasution , Daudsyah Munthe, dr Fatni Sulani, dan Mohd Fitriyus yang saat ini masih tetap berkiprah di IKLAB, dan tokoh-tokoh perantau lainnya yang mendorong terwujudnya rumah ibadah yang kini menjadi pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan silaturahmi masyarakat Labuhanbatu.

Yang tak kalah penting, lahan Masjid IKLAB merupakan tanah wakaf yang diberikan seorang putra Labuhanbatu Selatan dari Sungai Kanan Alm H Syahnan Tinggi Hasibuan melalui keluarga besar pewakifnya. Warga IKLAB menyampaikan penghargaan yang mendalam atas wakaf tersebut, yang hingga kini terus memberikan manfaat luas bagi umat.

Dalam sambutannya, Subhan Saleh Hasibuan, merupakan putra almarhum yang juga salah satu tokoh IKLAB menjelaskan, masjid ini sejak awal diniatkan sebagai tempat persinggahan bagi musafir yang bepergian menuju Berastagi atau kawasan Medan Tuntungan. Ia berharap, dengan rampungnya pembangunan menara, semangat syiar Islam semakin berkobar. “Semoga menara ini menambah semangat kita untuk memakmurkan masjid, memperkuat syiar Islam, dan menjadikannya tempat singgah yang penuh keberkahan,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Dr Ir Hj Sabrina MSi selaku Ketua Dewan Penasehat IKLAB Raya menegaskan, keberadaan Masjid IKLAB adalah kebanggaan tersendiri bagi warga Labuhanbatu di perantauan. “Keberadaan masjid IKLAB ini harus menambah kecintaan kita kepada organisasi IKLAB Raya. Ini satu-satunya organisasi kedaerahan yang memiliki masjid indah dan strategis di Kota Medan. Kalau kita lewat dan sudah masuk waktu salat, cocok kali singgah ke masjid ini,” ujar Sabrina.

Senada dengan itu, Drs H Rivai Nasution MM selaku Ketua Umum IKLAB Raya dan salah satu tokoh senior IKLAB yang cukup lama berkiprah membesarkan organisasi ini, menguraikan perjuangan panjang para pendahulu dalam mewujudkan masjid ini. “Masjid ini penuh sejarah. Ini bukti kesungguhan tokoh-tokoh dan orang tua kita dulu dalam membesarkan organisasi,” ucapnya.

Menurut Rivai, Alm Syahnan T Hasibuan yang pada saat itu sebagai Ketua IKLAB sekaligus Ketua Panitia Pembangunan Masjid IKLAB, sementara Rivai Nasution sebagai wakil sekretaris panitia pembangunan pada pembangunan masjid tersebut.

Acara peresmian menara diawali dengan pembacaan doa untuk pewakif lahan masjid, Alm H Syahnan T Hasibuan dan Hj Ani Suryani, sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka. Suasana religius semakin terasa dengan lantunan shalawat dari Tim Shalawat Muslimat IKLAB, serta tausiyah inspiratif dari KH Sutan Syahrir Dalimunthe, yang menekankan pentingnya menjaga amanah wakaf dan memakmurkan rumah Allah.

Puncak peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan doa bersama yang menandai babak baru bagi Masjid IKLAB sebagai pusat syiar Islam dan kebersamaan warga Labuhanbatu di Medan.
Dengan berdirinya Menara Masjid IKLAB, warga berharap masjid ini terus menjadi ikon persatuan, tempat memperkuat ukhuwah, serta wadah pembinaan generasi penerus agar tetap menjaga nilai-nilai Islam dan identitas Labuhanbatu di perantauan.

Acara ini berlangsung meriah, khidmat, dan penuh makna, menegaskan bahwa Masjid IKLAB bukan sekadar bangunan, tetapi monumen sejarah perjuangan, kebersamaan, dan harapan bagi masa depan. (rel/adz)