Home Blog Page 13152

Jokowi Kagumi Karya Rhoma

CALON gubernur (cagub) DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi diam-diam mengagumi Raja Dangdut, Rhoma Irama. Jokowi mengakui Rhoma sebagai salah satu idolanya.

“Saya penggemar beratnya Bang Haji (Rhoma), “ ungkap Jokowi kepada pers usai acara silaturahmi dengan alumni ITB di Jakarta, Jumat (3/8) malam.
Jokowi mengaku terkesan dengan karya-karya musik Rhoma Irama. Salah satu karya Rhoma yang menjadi favorit Jokowi yakni lagu berjudul “135 Juta”. Jokowi menggemari lagu tersebut karena liriknya yang membahas soal pluralisme di Indonesia.

“Itu tentang kebhinekaan, pluralisme. Agar kita saling menghargai, tidak saling mengejek etnis, dan agama. Lagu itu menginspirasi,” ujar Jokowi yang mengenakan kemeja kotak-kotak andalannya.

Jokowi juga mengaku hafal dengan lagu-lagu ciptaan Rhoma. Untuk membuktikan omongannya, pria penyuka musik rock itu bahkan unjuk gigi menyanyikan lagu Rhoma. Di hadapan wartawan, Jokowi menyanyikan satu bait lagu “135 Juta”.

“Bukan guyonan ini. Saya disuruh nyanyi sepuluh lagunya Bang Haji mungkin bisa,” ujar Jokowi sebelum menyanyi. (dil/jpnn)

Terkait Konflik Tanah Polisi Tetap Tindak Penggarap

LABUHANBATU- Desakan masyarakat dan DPRD Labuhanbatu untuk menangguhkan penahanan terhadap sejumlah masyarakat penggarap di Kabupaten Labuhanbatu dan Labuhanbatu Utara (Labura) tak berhasil. Pasalnya, polisi tetap bersikukuh membawa tersangka ke meja hijau.

Diantara konflik tanah tersebut, Kelompok Tani Karya Lestari dan Penghijauan, Desa Air Merah, Kecamatan Kualuh Ledong, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) bersengketa dengan PT Sawita Leidong Jaya.

Dari persoalan itu, sebanyak 17 orang dari pengurus Koptan ditahan akibat tuduhan dugaan melakukan pencurian tandan buah sawit (TBS) di Blok A-33, A-34 dan Blok B-30 dan 31.

Dalam penangkapan ke 17 orang warga pada minggu kedua bulan Juli lalu, polisi menahan DM, LS, IS, YG, AAM, TSG, SS, ST, Sam, HM, Sap, KM, Jum, Iy, Sah dan Ru dan menyita barang bukti berupa sepeda motor sebanyak 16 unit, 3 buah dodos, 3 buah keranjang gandeng dan 200 kilogram buah sawit yang baru selesai dipanen.

Terpisah, sebanyak 60 orang warga diduga melakukan pembakaran pos pantau milik Polri. Dari insiden itu, sebanyak 10 orang warga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengrusakan dan pencurian sawit.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan melalui Kasubbag Humas AKP MT Aritonang menjelaskan, untuk kasus di PT Sawita Leidong Jaya berkasnya sudah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Rantauprapat.

“Kalau PT Smart Padang Halaban dan Tebing Linggahara belum dimonitor, apa sudah diserahkan atau belum, nanti saya tanyakan dulu, secepatnya dikabari,” tuturnya. (mag-16)

Belajar Sabar dari Motor Tua

Ngobrol dengan Ahmad Bengar Harahap sudah pasti tak akan jauh-jauh dari dunia biker. Utamanya motor tua. Klasik, Eropa, rumit, penuh kesabaran, belajar hidup dan pergaulan serta dunia pendidikan. Itu tak lepas dari perannya saat ini sebagai Ketua Umum Biker Mitra Polri (BMP) Indonesia periode 2010-2012. Abeng, demikian dia biasa disapa, juga tercatat sebagai Plt Ketua Program Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Negeri Medan.

Ahmad Bengar Harahap
Ahmad Bengar Harahap

Sebelum jadi Ketum BMP, Abeng dulunya mendirikan, Old Motorcycle Association (OMA), yakni perkumpulan penggemar motor tua antik asal Eropa. Berikut petikan wawancara Sumut Pos dengan Abeng di Medan belum lama ini.

Bisa diceritakan awal mula jatuh cinta dengan dunia biker?

Bisa dibilang hobi ini turunan dari ayah saya. Sejak kecil kami biasa dibawa kemana-mana dengan motor tua milik ayah. Awalnya saya tidak mengerti. Namun seiring tahun dan sudah lebih dewasa, saya mulai suka. Dari SMA sudah mulai tahu tapi belum suka. Baru pada masa kuliah tepatnya 1993, saya mulai benar suka, setelah dihibahkan ayah motor tua jenis BSA 500 tahun 1948. Dari situlah hobi dimulai hingga saat ini.

Kapan mulai punya motor tua koleksi sendiri?

Tahun 1995. Ketika itu masih kuliah sambil nyambi kerja, punya uang sendiri baru mulai beli. Koleksi saya waktu itu DKW tahun 1961. Kalau tidak salah dulu saya beli Rp200 ribu. Saya memburunya di daerah Sekip, Medan. Bisa hidup tapi kondisinya cukup parah saat itu.

Artinya sudah 20 tahun berkecimpung di dunia biker, khususnya motor tua nan klasik. Sudah sempat punya berapa koleksi?

Kalau total dari dulu hingga kini, sudah lebih 50-an yang sempat saya koleksi. Namun saya berlakukan sistem jual beli. Beli, poles, ada yang suka, saya lepas, lalu saya cari lagi. Jadi saat ini yang masih ada di garasi berjumlah 9 unit.

Apa saja mereknya yang masih ada sekarang?

DKW Jerman, 1960. NSU 1956. BSA Matahari 1958. Lalu ada juga klasik Jepang, CB 200 tahun 1971. CB 125 twin tahun 1975 juga ada. Ada yang saya punya satu merek sampat dua unit.

Dari perburuan motor klasik itu, pernah punya merek paling aneh, paling unik?

Oh, tentu saja pernah. Saya dulu sempat punya Victory buatan Inggris 1943. Hanya 50 cc, tapi paling langka. Jarang ada di sumut. Ada juga merek Pannonia asal Hungaria tahun 1964.

Pada akhirnya, Anda dan kawan-kawan memutuskan mendirikan OMA. Bisa diceritakan?

Ya, OMA adalah Old Motorcycle Association. Kami sebagai penggemar motor tua, saat itu ada tujuh orang, mulai berpikir bagaimana caranya mendirikan sebuah klub untuk bahu-membahu membahas persoalan yang biasa hadir dalam merawat motor tua. Jadi saat itu, tepat 4 April 2005, kami putuskan mendirikan OMA. Pembentukan ini akhirnya memudahkan kami saling memberikan masukan dalam menjalani hobi yang sama. Hingga kini sudah 38 anggota tetapnya.

Lalu ada juga istilah underbow, alias sayap dari OMA ini. Kalau tak salah namanya Germo?

Iya. Benar sekali. Germo itu singkatan dari Gerombolan Motor Tua. Tapi spesifikasinya jelas, yang bisa bernaung di Germo adalah pemilik motor tua non Eropa. Jadi yang punya motor tua keluaran Jepang dan lainnya, bisa gabung di sini. Karena ceritanya, Germo yang didirikan 2009, bertujuan menampung apresiasi kepada pecinta motor tua. Namun karena dari awal OMA itu dikhususkan untuk motor tua keluaran Eropa, jadi yang punya motor Jepang tak bisa masuk. Itulah alasan kami buat sayap di persaudaraan ini. Tapi kalau touring yang kami sama-sama.

Sejak 2010 lalu Anda terpilih menjadi Ketum BMP Indonesia?

Benar. Dulu saya Sekjen di masa pemerintahan 2008-2010, lalu saya juga tak menyangkan kawan-kawan memilih saya di Mubes 2010 lalu. Ya sudah, saya terima amanah ini dan menjalankannya hingga jelang Mubes lagi Desember mendatang. Banyak program yang sudah kami jalankan, dan tentunya demi ketertiban berkendara. Bekerjasama dengan polisi, karena BMP itu sendiri singkatan dari Biker Mitra Polri yang didirikan Pak Safwan Khayat.

Apa sih manfaat menggeluti hobi ini?

Nah, di sini bisa saya terangkan sebisa mungkin. Karena namanya hobi biasanya hanya bisa dinikmati sesama penghobi. Tapi hingga kini saya bisa tegaskan bahwa apa yang saya jalani saat ini banyak manfaatnya. Utamanya sistem persahabatan. Sejak dulu saya berkecimpung di dunia biker ini, saya selalu bertemu dengan orang baru. Teman baru. Sahabat baru. Yang pada akhirnya bisa saling membantu. Tak hanya urusan hobi, lalu bisa beranjak ke urusan profesi. Sudah beberapa bukti yang saya paparkan bahwa saya senantiasa tertolong dengan hobi ini. Dari hobi ini saya bisa bertemu dengan rekan baru yang bisa diajak bekerjasama di dunia pendidikan yang saya jalani.

Pelajaran hidup dari hobi? Seperti itu Anda menyikapinya?

Ya, tentu saja. Saya mulai dari motor tua. Merawat motor tua dengan ketersediaan onderdil yang sudah punah, pun dengan cara membawa, memperlakukannya tak boleh sembarang, saya dan kawan-kawan sudah jelas belajar arti kesabaran. Lalu ketelatenan, dan trik-trik sebagai upaya membuat si motor bisa kembali hidup.

Artinya, jika hobi bisa dibawa positif, tentu saja akan menghasilkan sikap positif. Tapi jika hobi mulai menimbulkan hal negatif, maka tinggalkanlah!

Cara menyelaraskannya dengan profesi Anda sebagai pendidik dan sebagai kepala rumah tangga?

Harus pintar-pintar memang. Dan syukurnya keluarga saya sudah memahami hobi ini. bahkan putri saya tampaknya tertarik menggeluti dunia biker. Sedangkan di dunia pendidikan, saya sudah menerima banyak manfaat dari hobi ini. Itu tadi, sistem persaudaraan yang terjalin memungkinkan saya membangun kerjasama di dunia yang saya geluti. Mudah-mudahan sikap positif yang kita tuai, akan bermanfaat bagi sekitar kita.

Harapan Anda terhadap dunia biker, kita sempat diresahkan oleh ulah kelompok yang disebut geng motor?

Saya bisa pastikan itu bukan geng motor. Geng motor itu punya kriteria seperti di luar negeri. Yang dilakukan oleh kelompok itu adalah ulah anak-anak yang tak mendapat perhatian dan ketegasan. Kami dari BMP terus berkoordinasi kepada pihak berwajib untuk saling menjaga. Karena anggota BMP itu patuh dan bertindak sesuai rambu lalulintas. (ful)

Canangkan Revolusi Belajar

Sehari-hari, Ahmad Bengar  adalah staf pengajar di beberapa universitas. Namun di Unimed, pria 40 tahun itu menjadi Kepala Program Pendidikan (Kaprodi) Bahasa Jerman.

Abeng sudah mencanangkan beberapa revolusi belajar. Mind set adalah target yang ingin diubah. “Acapkali kita melihat sistem perkuliahan monoton. Dosen mengajar, mahasiswa mendengar. Itu saja. full teori,” kata Abeng.

Ke depannya, Abeng ingin gaya belajar mahasiswa diubah menjadi lebih kreatif dan berdaya guna maksimal. Maka itu, di mata kuliah yang diajarkanya kini, semisal mata kuliah sastra Jerman, maka Abeng memilih untuk lebih banyak menggelar praktek. Teori penting, namun pada akhirnya prakteknya yang akan diterapkan sesuai kebutuhannya.

“Jadi kami sekarang sudah menggelar banyak kerjasama dengan berbagai pihak. Ujian kini langsung praktek apa yang sudah dipelajari. Untuk mata kuliah sastra, biasanya kami praktek dengan jurusan lain yang juga butuh praktek dari sekadar teori. Yakin jurusan sendratasik. Jadi makin klop. Sama-sama belajar sama-sama diuntungkan,” terangnya.

Demikianlah manajemen yang coba dibawanya ke lingkungan kampus. Menurutnya, tak baik jika hanya fokus kepada pelajaran di kampus.
“Cobalah berbaur dengan organisasi di kampus atau di tempat lain. Asahla kemampuan di luar jam kuliah. Karena ketika di dunia setelah tamat kita tak dapat kerja sesuai ijazah, setidaknya kita bisa mendalami hal lain.”

Ke depannya, Abeng berharap mampu menciptakan tenaga pendidik yang mahir benar di bidangnya. (ful)

[table caption=”Daftar Riwayat Hidup”]
Nama :, Ahmad Bengar Harahap
Nama Kecil : , Abeng
Umur : , 40 tahun
Alamat : , Komplek Cenderawasih Village Jl. Gasru IV Blok C Medan

HP: ,0815 3333 0900

Email : , mattbeng1@gmail.com
Hobby : , Touring dan Koleksi motor tua
Motto : ,” Hidup ini seperti mengendarai sepeda motor, kalau tidak ditabrak menabrak, jadi konsentrasi dan berhati-hatilah dalam hidup”
Nama orang tua : , alm H Multazam Harahap (Pedagang)
Nama ibu : , Nurhayani (ibu rumah tangga)
Istri : ,” Hayati Sari, S.Pd (Guru SMP)”
Anak ,1. Emir Hazam Fahmi
, 2. Azzahra Zweida
, 3. Walid Rahman Multazam
Riwayat Karir/Pekerjaan[attr colspan=”2″]
1995-2001 , Pelatih Marching Band SMA/MAN
1997-2003 , Guru Bahasa Inggeris SMA/MAN 1
2007-2011 , Kepala Lab Multi Media Bahasa Asing FBS Unimed
2012- 2014 , Plt Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman FBS UNIMED
2005-sekarang , Dosen luar biasa Fak Ilmu Budaya USU
2001-sekarang , Dosen tetap Prodi Bahasa Jerman Jur Bahasa Asing FBS UNIMED
Riwayat Pendidikan:[attr colspan=”2″]
, S1 Pend Bahasa Jerman Jur Bahasa Asing FPBS IKIP Medan (beasiswa)
, S2 Linguistik Sekolah Pasca Sarjana USU (beasiswa)
Riwayat Organisasi:[attr colspan=”2″]
,” Ketua KLDF (Komunitas Lingkar Dokumenter dan Film), didirikan bersama alm Ben M Pasaribu”
, Pembina UKM Marching Band UNIMED (2000-skg)
, Pendiri OMA (Old Motorcycle Association) Sumut (2005-skg)
, ” Ketua Umum BMP (Bikers Mitra Polri) Indonesia (2010-2012), chapter mulai dari BMP Jambi, BMP Bukit tinggi, BMP Formater Pekan baru, dan BMP se kab/kota di Sumut.”

[/table]

 

Edin Dzeko Siap Hengkang

MANCHESTER- Edin Dzeko siap hengkan Manchester City jika tak banyak mendapat kesempatan di tim utama.

Musim lalu, Dzeko memang mencetak 14 gol di Premier League. Namun dia hanya 16 kali turun sebagai starter karena kalah bersaing dengan Sergio Aguero dan Mario Balotelli.

“Di paruh kedua musim lalu, tiba-tiba aku dimainkan lebih sedikit dan aku tidak tahu kenapa,” sahut Dzeko kepada The Sun. “Aku kehilangan ritme. Aku bergabung dengan City supaya bisa bermain.”

Persaingan di lini depan City di musim depan dipastikan akan semakin ketat setelah Carlos Tevez berdamai dengan klub. Dengan kondisi ini, kans Dzeko untuk merebut satu tempat di tim utama akan semakin berat.

Beberapa klub dikabarkan berminat untuk memboyong striker internasional Bosnia-Herzegovina ini, seperti AC Milan dan Juventus. Melihat situasinya itu, Dzeko pun tak menutup pintu untuk hengkang dari Etihad Stadium.

“Aku tidak pernah membayangkan hal itu akan berubah. Aku terlalu bagus untuk dibangkucadangkan. Jika terus seperti ini, maka apapun mungkin terjadi,” tutupnya. (net/jpnn)

Tri Brata Polri Dicederai Pragmatisme

JAKARTA – Pengamat kepolisian Alfons Leomau mengatakan teramat sulit bagi setiap personal kepolisian saat ini untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan asas Tri Brata Polri. Karena sebagian besar anggota kepolisian dari awal sudah akrab dengan fenomena pragmatisme.

“Dalam praktiknya Tri Brata menjadi tri batok. Batok untuk diri sendiri, untuk teman dan terakhir batok untuk komandan,” kata Alfons Leomau, saat dihubungi wartawan, Sabtu (4/8).

Goyahnya Tri Brata menjadi tri batok, lanjut purnawirawan Polri itu antara lain tidak sinkronnya antara prinsip-prinsip dasar kepolisian selaku penegak hukum dengan prkatek yang terjadi misalnya dalam rekrutmen anggota.

“Mulai dari mendaftar, seleksi dan masa pendidikan, tidak satu pihak pun dari kepolisian yang berani memberi jaminan bahwa mekanisme yang dipakai sudah bersih dari fenomena pragmatisme yang ditandai dengan transaksi uang,” ungkap Alfons.

Untuk menutupi praktik pragmatisme tersebut lanjut Alfons Leomau, biasanya pejabat kepolisian mengajukan tantangan berupa ajukan bukti kalau mekanisme yang dipakai rawan diperjual-belikan. “Yang melakukan jual-beli siapa dan yang dimintai bukti siapa? Lucu juga kedengarannya,” ungkap Alfons Leomau.

Terakhir dia juga mengkritisi masalah pengangkatan dan penempatan Kapolda, Kapolres hingga Kapolsek yang masih kental dengan sistem setoran. “Itu lahan subur yang diperjual-belikan. Bukan gerimis lagi, tapi setiap pergantian jabatan itu ada yang basah,” tegasnya.

Menyikapi skandal korupsi di Korlantas Mabes Polri terhadap pengadaan Simulator SIM, Alfons malah menyarankan agar KPK dan Polri masing-masing bentuk tim Penyidik bekerja secara terpisah dengan alat bukti hukum yang sama. “Dengan begitu, publik nantinya bisa menilai mana yang benar-benar menegakkan hukum dan mana yang masih kasak-kusuk membela koruptor,” saran Alfons. (fas/jpnn)

Penyelamatan dari Myanmar Hingga Belawan

Tragedi Etnis Rohingya

Pemberitaan kasus Rohingya muncul diberbagai media. Bahkan, Komisi I DPR RI mendesak Presiden SBY untuk segera membebaskan dan memberikan suaka politik terhadap pengungsi etnis muslim Rohingya di Indonesia. Ada apa dengan etnik Rohingya di Myanmar?

TANGISAN PENGUNGSI: Seorang muslim Rohingya menangis ketika petugas Bangladesh menghentikan kapal,  membawa keluarganya dari Myanmar,  perbatasan Bangladesh  Taknaf. Mereka melarikan diri dari Myanmar  mencari perlindungan.
TANGISAN PENGUNGSI: Seorang muslim Rohingya menangis ketika petugas Bangladesh menghentikan kapal, yang membawa keluarganya dari Myanmar, di perbatasan Bangladesh di Taknaf. Mereka melarikan diri dari Myanmar dan mencari perlindungan.

DALAM beberapa tahun terakhir, perlakuan kejam, brutal, minoritas dan diskriminatif dialami oleh etnis Rohingya. Kondisi kehidupan mereka benar-benar sangat memprihatinkan. Kekerasan kemanusiaan yang dilakukan oleh etnis lain dan Pemerintah Myanmar benar-benar sudah keterlaluan. Karenanya, banyak warga Rohingya yang terpaksa migrasi keluar dari negerinya untuk menyelamatkan diri.

Etnik Rohingya berbeda dengan etnik-etnik lain yang mendiami wilayah Myanmar. Mereka berkulit gelap (kaum Benggali) dan mayoritas beragama Islam. Sedangkan etnik-etnik lain berkulit kuning langsat dan menganut agama Buddha Therravada. Etnik Rohingya mendiami wilayah Arakan, di bagian Barat dan Utara Myanmar. Mereka merupakan suku asli yang mendiami wilayah tersebut sejak abad ke 8 Masehi. Dulu daerah tersebut merupakan wilayah Kerajaan Arakan yang muslim. Namun pada abad ke-17 Masehi, bangsa Burma menginvasi wilayah tersebut dan mengeksekusi ribuan penduduk Arakan sehingga etnis Rohingya yang tersisa menjadi minim. Saat itu banyak warga Rohingya yang melarikan diri meninggalkan wilayah Arakan.

Kedatangan tentara British yang bermaksud menduduki Burma, menimbulkan harapan bagi etnik Rohingya yang tersisa. Sehingga, kaum Rohingya yang dulunya melarikan diri saat invasi bangsa Burma, kembali pulang ke kampung halamannya. Penjajah British mendatangkan imigran Benggali dari wilayah Chittagong yang berbatasan langsung dengan Myanmar bagian barat untuk bekerja sebagai pekerja pertanian dan perkebunan di wilayah Arakan yang subur.

Kebijakan British tersebut memberikan dampak besar kepada populasi bangsa Benggali dan kaum Rohingya di Myanmar yang menjadikan mereka sebagai kaum mayoritas di beberapa kota besar seperti Rangoon (Yangoon), Akyab (Sittwe), Bassein (Pathein), dan Moulmein. Pada masa itu, kaum Burma di bawah penguasaan Inggris merasa tidak berdaya terhadap imigrasi besar-besaran tersebut dan hanya dapat merespons dengan sentimen rasial antara superioritas dan ketakutan.

Keadaan menjadi sulit ketika perang dunia kedua. Inggris yang berusaha mempertahankan eksistensinya di Burma menggunakan pejuang-pejuang Rohingya dan kaum imigran Benggali untuk melawan Jepang dan kaum nasionalis Burma. Namun, pada akhirnya Burma mampu meraih kemerdekaannya pada 1948. Sejak saat itulah konflik dan penderitaan etnik Rohingya kembali terjadi lagi. Terlebih lagi, kebijakan pemerintahan saat itu yang menginginkan populasi yang homogen, yaitu ras indocina yang bewarna kulit sama dan menganut agama yang sama.

Akibat sentimen masa lalu maka kaum Rohingya dimarjinalkan, didiskriminasikan, dan dizalimi. Bahkan, Pemerintah Myanmar tidak memberikan kewarganegaraan kepada warga etnik Rohingya (stateless person), sehingga dapat dikatakan mereka tidak memiliki hak sebagai manusia yang dilindungi oleh negara. Bukan hanya secara legalitas diabaikan, kaum Rohingya juga tidak memiliki hubungan social yang baik dengan etnik-etnik yang lain di Myanmar. Karenanya, seringkali timbul konflik komunal yang berujung pada tindakan-tindakan kejahatan brutal dan tidak berperikemanusiaan.
Konflik yang terjadi antara kaum minoritas Rohingya dengan etnik-etnik lain serta Pemerintah Myanmar merupakan kelanjutan dari sentimen kebangsaan yang berakar dari sejarah kelam mereka. Sehingga, pertikaiannya bukan hanya karena perbedaan warna kulit, bahasa dan kepercayaan semata, namun berasal dari kompleksitas permasalahan yang tidak bisa dengan mudah diselesaikan begitu saja.

Dari perspektif historis, permasalahan Rohingya memiliki persamaan dengan kasus genocide di Rwanda pada tahun 1994. Belgia yang menjajah Rwanda sebelum kemerdekaannya menerapkan kebijakan sistem pemisahan penduduk terhadap dua kaum yang mendiami negeri tersebut: yaitu kaum Hutu dan kaum Tutsi. Kaum Hutu merupakan bangsa asli Rwanda namun memiliki strata sosial lebih rendah. Sedangkan kaum Tutsi merupakan pendatang dari Afrika Timur, memiliki strata social yang lebih tinggi dan menguasai hampir 90% perekonomian Rwanda. Kebijakan pemisahan ini pada akhirnya menimbulkan sentiment akut disertai pembantaian (Genocide) yang dilakukan oleh kaum Hutu terhadap kaum Tutsi. Kaum Hutu bermaksud menguasai Rwanda dari pengaruh kaum Tutsi.

Perbedaan kasus Rwanda dan Myanmar adalah Pemerintah Belgia di Rwanda dengan sengaja menciptakan sistem pemisahan penduduk terhadap kaum pribumi sehingga akan mudah bagi pemerintah jajahan untuk mengatur dan mengelola tanah jajahannya. Sedangkan yang terjadi di Myanmar adalah British meninggalkan Myanmar setelah perang dunia kedua dengan terpaksa melepaskan beberapa tanah jajahannya kepada kaum nationalis tanpa memberikan legalitas perlindungan kepada kaum Rohingya yang banyak membantu British pada perang dunia kedua. Hal ini semakin memberi konstribusi yang besar terhadap krisis kemanusiaan kaum Rohingya hingga sekarang ini.

Sejauh ini sebanyak 300.000 Pengungsi Rohingya ini kita menetap di daerah Kutapalong, di perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Aljazeera English Channel Nicolas Hague melaporkan bahwa kondisi para pengungsi sangat mengenaskan.

Selain tidak mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan. Para pengungsi juga tidak mendapat listrik untuk pencahayaan malam juga kesulitan untuk mendapatkan makanan dan minuman. Anak-anak kecil Rohingya sendiri mengalami gizi buruk dan krisis nutrisi yang serius.

“Seandainya dunia tahu bagaimana mengenaskannya nasib para pengungsi Rohingya, hingga hari ini pemerintah Bangladesh belum memberikan perhatian apa-apa terhadap para pengungsi,” jelas Nicolas seperti yang dikutip oleh Aljazeera.com.

Rumah-rumah para pengungsi hanya dibangun diatas tanah. Yang ketika hujan turun tanah itu menjadi lumpur yang sangat becek. Sedangkan dinding-dinding rumah hanya ditutupi kayu sekedarnya dan plastik-plastik hitam yang dipasang sebagai dinding juga atap rumah.
Saat ini, kondisi cuaca sendiri tidak menentu. Hujan bahkan sering turun didaerah pengungsian. Hal ini, membuat para pengungsi mau tidak mau harus tetap tidur beralaskan lumpur.

Brad Adam salah satu aktivis hak asasi manusia international sendiri menyampaikan rasa keprihatinannya. Adam sangat mengkritisi sikap Pemerintah Bangladesh yang menutup mata terhadap pengungsi Rohingya.

“Tragedi Rohingya adalah tragedi pembantaian etnis yang takkan terlupakan, dan PBB belum juga mengambil tindakan apapun atas apa yang terjadi. Padahal pada saat yang sama, setahun lalu PBB sudah mencairkan dana sebenar 33 milliar US Dollar untuk program sosial pemerintah Bangladesh,” jelas Adam mengkritisi sikap PBB dan Pemerintah Bangladesh yang lambat dalam membantu pengungsi Rohingya.

Hingga hari, pemerintah Bangladesh bahkan sering menyuruh para pengungsi Rohingya kembali ke Myanmar. Padahal di Myanmar pembersihan (baca:pembantaian) etnis Muslim Rohingya masih terus berlanjut.

Permasalahan Rohingya sedemikian kompleks, sehingga pemecahannya bagaikan mengurai benang kusut yang sulit dicari titik pangkalnya. Demokratisasi yang mulai dilakukan junta militer tahun 2010, berhasil membuka tabir tentang keadaan yang sebenarnya terjadi di Myanmar kepada dunia luar. Isu-isu berkaitan HAM Rohingya baru akhir-akhir ini diketahui oleh masyarakat internasional setelah maraknya pemberitaan mengenai kondisi kamp-kamp pengungsian Rohingya yang memprihatinkan di perbatasan Bangladesh dan Thailand.

Adanya boat people (manusia perahu) kaum Rohingya yang melintasi perairan Indonesia dan Malaysia juga menjadi trending topics, akhir-akhir ini yang menjadikan isu Rohingya semakin menginternasional. Namun sayangnya, pada saat pembebasan pejuang HAM Myanmar Aung Saan Suu Kyi dan kedatangan Menlu AS, Hillary Clinton tahun lalu, ternyata tidak menjadikan kasus Rohingya sebagai agenda demokratisasi Myanmar. Walaupun begitu, hemat saya kemajuan signifikan telah dicapai setelah beberapa negara dan forum internasional seperti ASEAN mengangkat isu-isu kaum Rohingya sehingga menarik perhatian publik terhadap krisis kemanusiaan yang tengah terjadi sekarang ini.

Idealnya, pemecahan masalah Rohingya harus pula menjadi fokus perhatian Pemerintah SBY dalam merespons isu-isu internasional. Hal ini sesuai dengan amanat UUD 1945, “maka dibentuklah Pemerintah Negara Indonesia yang … ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Dengan demikian, membantu Rohingya merupakan kewajiban konstitusional yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah RI. (bbs/jpnn)

Rahudman Sambangi Korban Rohingya

Wali Kota Medan Rahudman Harahap, Kamis (2/8), menyambangi sekitar 26 orang pengungsi muslim Rohingya di Rumah Detensi  Imigrasi  (Rudenim) Belawan. Puluhan pengungsi ini terpaksa meninggalkan negara mereka di bagian Rakhine Utara, Myanmar Barat karena tidak tahan menghadapi  perlakuan diskriminatif dan tindakan kekerasan akibat dari terjadinya konflik sara di negara tersebut.

“Kami  diperlakukan sangat diskriminatif, tidak boleh meninggalkan wilayah tempat tinggal kami.  Sudah itu kami juga diperlakukan seperti kuli, setiap harinya disuruh kerja. Jika itu tidak dilaksanakan, kami mendapatkan  tindak kekerasan. Sudah itu di bulan puasa, kami tidak diperkenan puasa dan melaksanakan shalat,”  kata, M Jamin salah seorang warga muslim Rohingya kepada Walikota Medan.

Mendengar penuturan  tersebut, wajah Walikota Medan, Rahudman Harahap tampak terharu. Bersama dengan istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil  dan warga lainnya, M Jamin mengaku terpaksa  angkat kaki  untuk meninggalkan tanah kelahirannya tersebut karena merasa diperlakukan tidak adil.

Akibat tidak tahan menerima perlakuan seperti itu, pria yang mengaku pernah beberapa tahun bekerja di Malaysia sehingga fasih berbahasa Melayu inipun  membawa istri dan keluarganya  mengungsi.

“Kami tiba di Indonesia menggunakan perahu, dan nekat menyeberangi lautan yang ganas  sampai akhirnya tiba ditempat ini,” ungkapnya.
Setelah  di Belawan, mereka pun menyerahkan diri  dengan kesadaran  penuh kepada  pihak imigrasi  agar diberi diperlindungan.
“Kami minta perlindungan di negara ini. Kami sudah tidak tahan lagi menerima perlakuan diskriminatif dan tindak kekerasan di tempat asal kami. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi, saudara-saudara kami sudan dibantai semua sebulan lalu,” paparnya sembari terisak menahan tangis.

Tidak hanya, M Jamin yang mengalami kisah memilukan tersebut, tapi rekan-rekannya  yang  lain juga mengalami hal serupa di negara mereka.  Hanya saja, rekan-rekan M Jamin cuma bisa menunjukan rona wajah kesedihan tanpa dapat menyampaikan sepatah kalimatpun karena  tak  bisa berbahasa Indonesia.

Menurut M Jamin, jumlah mereka  yang  mengungsi  dan saat ini berada di Rudenim Belawan  26 orang, 16 pria dan 5 wanita, selebihnya anak-anak. “Jadi kita sekarang menunggu apa yang akan diputuskan oleh pemerintah Indonesia. Apapun yang diputuskan nanti pasti kita kita terima,” ungkapnya dengan nada lirih.

Wali kota yang didampingi Wakil Wali Kota Dzulmi Eldin, serta Plt Kepala Rudenim Belawan P Sinaga  mengatakan, kunjungan ini dilakukan untuk mengecek kondisi para pengungsi Muslim Rohingya.

Sebagai kepala pemerintahan di Kota Medan, dia  akan mencoba memberikan sedikit perhatian melalui Kepala Rudenim Belawan, terutama bagi yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Kemudian Wali Kota berharap segera dilakukan penyelesaian antar negara, sehingga para pengungsi dapat kembali ke negaranya. Wali Kota mengaku sangat prihatin mendengar kisah pelarian para pengungsi. Dengan berjibaku, mereka menyeberangi lautan hanya menggunakan perahu sehingga sampai Belawan.

“Saya sangat prihatin. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada Kepala Imigrasi yang telah memfasilitasi dengan baik. Mudah-mudahan ini  segera dibawa ke forum yang lebih resmi. Minimal mereka selama berada di sini, kita bantu dan tangani dengan baik, “ harapnya.
Sementara itu, Pemprovsu akan mendukung dan membantu lembaga-lembaga internasional yang mengurusi pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Sumatera Utara.

Diperkirakan jumlah pengungsi Rohingya akan semakin bertambah di Sumatera Utara dimana saat ini jumlahnya sudah mencapai 152 pengungsi.
Hal tersebut dikatakan Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara (Plt Gubsu), Gatot Pujo Nugroho, menyikapi kedatangan para pengungsi Rohingya yang tiba di Sumatera Utara (Sumut) melalui Belawan dalam sepekan terakhir, Rabu (1/8).

Menurut Gatot, dalam memberikan bantuan itu, pihaknya selain bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait juga tetap mempertimbangkan kompetensi serta kemampuan pemerintah provinsi.Apalagi, untuk masalah pengungsi internasional ini sudah ada regulasi yang mengaturnya.

”Pemerintah Provinsi bekomitmen membantu para pengungsi. Kami akan  berkoordinasi dengan lembaga-lembaga internasional yang saat ini menangani para pengungsi, seperti IOM (International Organization Migran: red) dan UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees, red),” kata Gatot.
Gatot mengungkapkan tragedi yag dialami para pengungsi Rohingya sungguh memprihatinkan dan mengusik rasa kemanusiaan, apalagi sebagian kaum pengungsi tersebut adalah kaum ibu dan anak-anak.

Terlebih lagi, kata Gatot, sugguh ironis di saat umat muslim menjalankan ibadah puasa Ramadhan, justeru para pengungsi yang merupakan umat muslim  mengalami penderitaan dan terusir dari negaranya.

“Kita sebagai sesama umat manusia sudah selayaknya membantu saudara-saudara kita yang mengalami musibah,” ujar Gatot.
Beliau menambahkan, dalam waktu dekat segera akan mengunjungi para pengungsi yang saat ditampung di sejumlah titik di Kota Medan bersama tim dari DPR RI.Bentuk bantuan yang diberikan Pemprovsu akan disesuaikan dengan kebutuhan para pengungsi melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Jumlah pengungsi asal Rohingya, Myanmar yang mencari suaka ke Indonesia diperkirakan akan terus bertambah akibat masih belum kondusifnya keamanan di kawasan muslim di Myanmar tersebut.  Saat ini para pengungsi itu menyebar di sejumlah daerah di tanah air.

Mereka terbagi menjadi dua bagian, yaitu pengungsi yang masih ditampung di Rudenim (Rumah Detensi Imigrasi) dan yang di luar Rudenim.   Para pengungsi kini dibiayai oleh IOM dan lembaga donor yang membiayai para pencari suaka.

“Jelas kondisi pengungsi ini sangat memprihatinkan. Kami masih berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait untuk memberikan bantuan semaksimal mungkin. Gelombang eksodus warga Rohingya ke Sumatera Utara yang secara geografis memang cukup dekat dengan Myanmar kita prediksikan akan terus terjadi. Karena itu, kita juga harus meminimalisir dampak-dampak lanjutan dari arus pengungsi ini,” imbuh Gatot.(ari/mag-17)

 Mereka Sudah Ada Sebelum Myanmar Ada

Konflik Myanmar menyita perhatian dunia internasional akhir-akhir ini. Penindasan yang dialami Muslim Rohingya membuka mata atas sejarah mereka sebagai etnis Myanmar yang tidak diakui. Bahkan tidak saja itu, program pembersihan etnis ditengarai dilakukan pemerintah Myanmar (kini Burma, Red) dengan berbagai metode yang kejam. Bagaimana sebenarnya sejarah umat Muslim di Rohingya? Kenapa konflik di Arakan meluas menjadi konflik horizontal? Lantas langkah apa yang tepat untuk menghentikan kekerasan di Arakan?

Heru Susetyo, Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Hukum UI,  pendiri Pusat Informasi  Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA)
Heru Susetyo, Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Hukum UI,
pendiri Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA)

Berikut wawancara bersama Heru Susetyo. Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Hukum UI ini mendirikan Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA). Kunjungannya ke Myanmar banyak menyadarkannya bahwa Myanmar sebenarnya adalah negara yang kaya. Inilah petikan wawancaranya;

Bagaimana Sejarah Awal Muslim Rohingya?

Sejarahnya panjang. Sebagai etnis, mereka sudah hidup di sana sejak abad 7 Masehi. Tapi sebagai Muslim dengan nama kerajaan Arakan, mereka sudah mulai ada sejak tahun 1430 sampai 1784 Masehi. Jadi sekitar 3,5 abad mereka dalam kekuasaan kerajaan Muslim hingga mereka diserang oleh Kerajaan Burma, dan dianeksasi oleh Inggris. Setelah itu mereka dibawa menjadi bagian dari British India yang bermarkas di india. Meski India saat itu juga belum merdeka.

Lantas?

Kemudian berjalan bertahun-tahun lamanya sampai tahun 1940-an. Ketika Burma merdeka tahun 1948, ada 137 etnis yang ada di Burma. Sejak itupun, Myanmar tidak mengakui keberadaan mereka sebagai etnis yang ada di tanah Burma. Padahal ketika merdeka, Burma memasukkan negara bagian Arakan sebagai bagian dari Burma, namun setelah itu orang Rohingya atau Muslim Arakan tidak diakui sebagai etnis yang eksis di sana. Jadi ini masalahnya, padahal mereka sudah ada sebelum negara ada. Mereka dinilai minoritas dari segi warna kulit dan bahasa serta dianggap lebih dekat kepada orang Bangladesh. Walaupun mereka bukan orang Bangladesh.

Mana Istilah yang tepat bagi mereka, Rohingya atau Arakan?

Arakan itu nama propinsi. Kalau dalam Bahasa Inggris disebut Rakhine atau Rakhain. Sedangkan Rohingya adalah istilah yang dikenakan oleh orang luar (peneliti asing) pada abad 18-19 M.  Mereka sendiri menyebut diri mereka sebagai orang Muslim yang tinggal di Propinsi Arakan (Muslim Arakan). Cuma belakangan dikenal sebagai orang Rohingya. Karena ternyata di Arakan ada Muslim yang bukan berasal dari Arakan saja, tapi juga ada Muslim dari Bangladesh, juga dari bagian lain di Burma.

Selain etnis Arakan, ada etnis Muslim lain di sana?

Banyak. Saya pernah mengadakan kunjungan lapangan ke Burma tahun 2008-2009. Saya mengunjungi Burma tiga kali. Saya datang ke tiga kota, Yangoon, Mandalay, dan Pyin Oo Lwin. Dan saya mengunjungi 8 masjid di tiga kota itu. Dan peninggalan berupa masjid di sana banyak. Dan Muslim tidak hanya berasal dari Arakan, ada Muslim Burma, Muslim China, ada juga Muslim imigran dari India dan Bangladesh. Dan jumlahnya cukup signifikan. Bahkan di kota Mandalay, kota terbesar kedua di Burma, saya hitung ada 8 masjid. Di Yangoon lebih banyak lagi. Secara garis besar, mereka hidup lebih baik dari Muslim Arakan. Hanya Muslim Arakan yang hidup tertindas, dipinggirkan, dan tidak pernah diakui oleh pemerintah.

Bagaimana awal konflik Muslim Arakan terjadi?

Sejak sebelum Burma merdeka, tahun 1942, sudah ada aksi kekerasan kepada orang Rohingya. Ribuan orang Rohingya dibunuh. Baik oleh negara maupun etnis mayoritas, karena mereka dianggap minoritas dan bukan bagian dari Burma. Kemudian berulang terus setelah Burma merdeka, ada operasi-operasi tentara yang sering kali dilakukan sejak tahun 1950-an. Yang paling sadis adalah Na Sa Ka Operation di antaranya dengan metode kekerasan, pengusiran, Burmanisasi, halangan untuk menikah, dan pemerkosaan. Jadi ini adalah state violence, di mana negara melakukan genosida, etnic cleansing (pembantaian etnis), tapi kemudian berkembang menjadi kejahatan sipil antar orang Rohingya dengan orang Arakan lainnya yang non Muslim.

Jadi warga Budha dan Muslim relatif tidak pernah terjadi benturan?

Sejauh data-data yang saya miliki, konfliknya selalu vertikal. Tapi menjadi horizontal karena ada-tokoh yang memprovokasi. Karena Budha selama ini sebagai agama cukup peaceful. Saya kenal banyak orang Budha Burma, tidak ada yang namanya sikap perlawanan yang keras.

Kenapa Muslim Rohingya Ditakuti? Bukankah mereka minoritas?

Di manapun mayoritas ingin menghegemoni kepada etnis yang berbeda. Ada istilah Myanmar for Burmese, not for moslem (Myanmar hanya untuk Burma, bukan untuk Muslim). Saya kira itu kurang sehat. Karena sejatinya di Myanmar itu tidak hanya orang Burma, ada banyak etnis di situ. Sementara orang Rohingya ini agamanya sudah beda, dan etnis juga sudah jauh. Sebagai Mus lim dia juga berbeda dengan agama lainnya di Myanmar. Orang Rohingya tidak makan babi, minum minuman keras, menyembah dewa-dewa, itu halangan dari segi kultural. Dari segi jumlah memang tidak menakutkan. Nah ini masalah jum lah juga tidak jelas, sensus selama ini tidak mendapati angka yang sebenarnya. Ada yang 1 juta, ada yang 3.6 juta.

Pulau di Indonesia banyak, apakah mungkin memindahkan mereka ke Indonesia?

Itu mudah saja kalau ada kemauan politik seperti  kasus pengungsi Vietnam yang ditempatkan di Pulau Galang dan Rempang tahun 70-an. Atas nama kemanusiaan memang tidak masalah. Namun masalahnya itu menyenangkan pemerintah Myanmar. Ini tanggung jawab mereka kok malah menimpakan kepada negara lain. Karena Myanmar sendiri masih besar negaranya, cuma mereka dibatasi saja aksesnya. (*)

Dirawat Dukun, 4 Anak Tewas

Kepercayaan warga Haiti terhadap pengobatan dukun harus dibayar mahal dengan tewasnya empat anak yang dirawat oleh sang dukun.
Seperti dikutip dari situs berita AFP, Jumat (3/8), keempat anak itu sebelumnya didiagnosa memiliki penyakit misterius. Karena itu, perlu mendapat perawatan sang dukun. Namun ternyata, kesehatan mereka tak kunjung membaik setelah dirawat cukup lama.

“Ada tiga anak perempuan dan seorang laki-laki. Yang tertua itu usianya 7 tahun dan yang termuda berumur 15 bulan. Mereka menderita karena perawatan dari penyembuh itu,” ucap Wilfrid Brisson, seorang pejabat dari kota Marbial.

Berdasarkan keterangan para tetangga, dukun itu sengaja membujuk orang tua korban agar dirawat mereka. Anak-anak itu disebutkan oleh sang dukun seperti kerasukan dan dia bisa mengusir roh jahat yang bersarang dalam tubuh mereka.

Namun teknik pengobatan mereka di luar kelaziman. Dibantu oleh adiknya, sang dukun itu malah memukuli bocah laki-laki itu berulang-ulang hingga tewas.
Saat ini, sang dukun serta adiknya ditahan kepolisian. Sementara ibu dari anak-anak tersebut terus dimintai keterangan.

Sekadar mengingatkan, saat ini praktik perdukunan masih jadi pengobatan cukup populer di kalangan masyarakat Haiti atau lebih dikenal dengan nama voodoo. (net/jpnn)

DPR RI Soroti Kinerja Dubes dan Konjen

MUMBAI – Ketua DPR RI Marzuki Alie menyatakan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal (Konjen) RI di luar negeri harus lebih kreatif dan cermat dalam melihat peluang yang dapat dimanfaatkan Warga Negara Indonesia (WNI). Menurut Marzuki, ada banyak peluang di luar negeri yang sebenarnya bisa dimanfaatkan, tapi Indonesia selalu terlambat dari bangsa lain.

Hal itu disampaikan Marzuki di sela-sela kunjungan kerjanya ke India, Jumat (3/8). “Kita selalu terlambat melihat peluang di negara-negara yang ada Dubes-nya. Di Belanda kita punya potensi, tapi China dan India lebih cepat. Di Myanmar juga begitu, kita kalah cepat dari China dan Malaysia,” kata Marzuki yang didampingi Ketua Badan Kerjasama Antar-Parlemen (BKSAP) Surahman Hidayat dan wakilnya, Sidharto Danusubroto.
Lebih lanjut Marzuki mengatakan, kedubes-kedubes yang ada sering tidak dimaksimalkan keberadaannya. Padahal, sebut Marzuki, para pengusaha di dalam negeri butuh informasi dari KBRI tentang peluang bisnis di negara lain.

“Jadinya lebih banyak pengusaha kita yang hanya besar di kampung sendiri. Kalaupun besar di luar ya sendirian saja, itu pun karena usaha sendiri, kemampuan sendiri. Tapi selebihnya berkutat di dalam negeri,” ulasnya.

Marzuki yang juga President of ASEAN Inter-Parliamentary Association (AIPA) itu mencontohkan India sebagai negara yang memiliki banyak potensi untuk digarap pengusaha Indonesia. Menurutnya, India dengan penduduk 1,2 miliar adalah pasar dengan potensi besar.

“India ini pasarnya besar. Dengan pasar besar ini harusnya kita bisa keluar dari pasar tradisional di Eropa, Amerika. Terbukti kan, ketika krisis Eropa, ekspor kita jadi rendah. Makanya harus dicari pasar baru agar ada pasar bagi industri di dalam negeri,” ulasnya.

Karenanya pula Marzuki wanti-wanti agar posisi Dubes bisa diisi oleh figur yang bukan hanya tahu persoalan tetapi juga tanggap melihat peluang yang ada. “Dubes itu bukan tempat orang bermasalah atau karena dibuang dari jabatan sebelumnya di dalam negeri,” ucapnya.

Sedangkan Konjen RI di Mumbai, Indra Kusuma Oesman, mengaku hanya memiliki empat home staf. Sedangkan lainnya adalah 10 lokal staf, termasuk memanfaatkan keberadaan mahasiswa Indonesia di Mumbai ataupun WNI yang menikah dengan WN India.

Padahal, sebut Indra, Konjen RI di Mumbai mencakup tujuh negara bagian antara lain Maharastra, Gowa, Kerala, Gujarat, Tamil Nadhi, Andhra Pradesh dan Karnataka, serta dua union territory yaitu Pondicherry dan Daman-Diu.

Indra menambahkan, saat ini terdapat sekitar 500 WNI yang berada di wilayah di bawah Konjen RI di Mumbai. Sebagian besar adalah WNI yang menikah dengan warga India dan pelajar/mahasiswa. “Tapi kami berusaha dengan segala keterbatasannya untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin,” katanya.
Menanggapi paparan Indra tentang kondisi Konjen RI di Mumbai, Marzuki pun meminta Kementrian Luar Negeri agar serius menangani Kedubes ataupun Konjen RI.

“Kita prihatin staf kedubes RI di India minim sekali. Padahal harusnya kita berpikir bagaimana ruang global ini bisa kita manfaatkan,” cetusnya.(ara/jpnn)

Ramadan Bisa Perkokoh Silaturahim

Labuhanbatu- Bulan suci Ramadan dapat memperkokoh tali silaturahim dan ukhuwah islamiah serta tetap menjaga sikap kebersamaan antara pemerintah dengan masyarakat, khususnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Pemkab Labuhanbatu Suhari Pane dalam kunjungan safari Ramadan ke Masjid Ar- Rahmah, Desa Sei Baru, Kecamatan Panai Hilir, Sei Berombang, Jumat (3/8) malam.

Dia membeberkan, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, pemerintahan Tigor-Suhari tahun 2012 telah memberikan peluang sebesar-besarnya bagi warga untuk mendapatkan pendidikan gratis bagi pelajar tingkat SMA dan SMK Negeri.
“Untuk itu jangan lagi takut menyekolahkan anak sampai ketingkat SLTA,” ujarnya.

Suhari mengatakan, pendidikan gratis yang diberikan antara lain untuk biaya les tambahan, biaya ujian sekolah, biaya praktek, pengadaan dan penggandaan buku teks pelajaran, kegiatan lomba akademik, kegiatan olahraga, kegiatan sosial budaya, pembiayaan tenaga honorer dan biaya pendidik dan kependidikan.

Sedangkan kegiatan operasional sekolah, paparnya Pemkab Labuhanbatu membebaskan siswa membayar pengadaan alat tulis kantor sekolah, pengadaan bahan praktek pembelajaran, perawatan sekolah, biaya penerimaan siswa baru dan transportasi.

Lebih lanjut, dia menyampaikan, untuk tahun 2013 pendidikan gratis dibebankan ke APBN. Sehingga, anggaran pendidikan gratis di APBD dialihkan untuk beasiswa ke mahasiswa yang berprestasi di Perguruan Tinggi, baik itu dari keluarga mampu atau tidak.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati menyerahkan bantuan berupa uang sebesar Rp5 juta, 1 unit jam penunjuk waktu salat, 4 buah Al-quran, 1 buah tafsir/terjemahan Alquran, 1 buah buku tentang kisah nabi, 1 buah buku khutbah Jumat, 30 buah buku surat Yasin dan 1 buah sajadah panjang. (mag-16)

Layani 5 Ribu Orang

Pengobatan Gratis di Jubileum 100 Tahun HKBP Sudirman Medan

LAYANI WARGA: Petugas medis memeriksa sejumlah warga  ikut pengobatan gratis  kegiatan Pelayanan Kesehatan Jubelium 100 Tahun HKBP Medan  Jalan Sudirman Medan, Jumat (3/8)//ANDRI GINTING/SUMUT POS
LAYANI WARGA: Petugas medis memeriksa sejumlah warga yang ikut pengobatan gratis pada kegiatan Pelayanan Kesehatan Jubelium 100 Tahun HKBP Medan di Jalan Sudirman Medan, Jumat (3/8)//ANDRI GINTING/SUMUT POS

MEDAN- Pelaksanaan Jubileum 100 Tahun HKBP Medan Sudirman dilaksanakan sebagai bagian dari pembinaan umat kristiani. Karenanya, pesta Jubileum ini diharapkan dapat berlangsung sesuai harapan.

Pendeta Resort HKBP Sudirman Medan, Donald Sianturi MD mengatakan, HKBP Sudirman Medan genap berusia 100 tahun. Pada perayaan Jubileum 100 Tahun ini, berbagai kegiatan digelar, baik itu bersifat kebaktian, olahraga, seni, cerdas cermat juga bakti sosial.

Ketua umum pelaksana Jubileum Ir TB Siringoringo melaporkan kegiatan bakti sosial pelayanan kesehatan secara gratis kepada warga Kota Medan terutama warga yang tidak mampu. Sasaran, 5.000 orang yang ditangani medis kesehatan umum dan spesialis, donor darah, pemberian kacamata baca, penjaringan katarak, pemberian kaki palsu/tangan palsu, kesehatan gigi dan mulut, lab pemeriksaan KGD dan osteoporosis, pangkaas rambut dan pemberian kursi roda.
“Tema dari acara Jubileum 100 tahun HKBP Sudirman ini sendiri sesuai Efesus 4: 13B yang berbunyi ‘Dewasa dan bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Krsitus,” ucapnya.

Sementara itu, Anggota DPD RI asal Sumut, Parlindungan Purba berharap, acara seperti ini bisa rutin dilakukan. “Dalam ajaran Alkitab, Tuhan Yesus saja rela berbagi demi orang yang membutuhkan,” akunya.

Turut hadir dalam bakti sosial dan pembagian kursi tersebut Wali Kota Medan Rahudman Harahap, Ombudsman Sumut Pos Vincet Wijaya Vincet Wijaya dan tamu lain-lannya.

Amatan wartawan koran ini, Jumat pagi di HKBP Sudirman Medan di Jalan Jenderal Sudirman, Medan, ribuan warga Medan dari berbagai suku dan agama mendatangi Gereja HKBP Sudirman Medan. Saat itu, panitia juga membagikan kursi roda kepada yang membutuhkan kursi roda.

Vincet Wijaya menyambut baik acara seperti ini. “Saya sendiri menyerahkan 5 kursi roda dan saya menanggapi ini merupakan hal yang patu diacungi jempol, apalagi acara seperti ini dilakukan di saat bulan puasa,” ucapnya.

Tambahnya, dengan adanya acara Jubileum 100 tahun HKBP Sudirman, dapat dilihat keharmonisan diantara sesama. “Kedepannya, diharapkan lebih harmonis lagi dan tak ada perbedaan. Acara seperti ini merupakan acara yang bagus dimana disini dapat ditunjukan bahwa tak ada perbedaan sama sekali,” pungkasnya.(jon/gus)