Home Blog Page 13230

Dream Team Jinakkan Inggris

MANCHESTER – Tim basket bertabur bintang NBA Amerika Serikat melanjutkan tren kemenangan pada persiapan menjelang turnamen Olimpiade 2012. Inggris Raya menjadi korban setelah dibekuk dengan skor 118-78.
Dalam pertandingan yang berlangsung di MEN Arena, Jumat (20/7) WIB, Deron Williams dan Carmelo Anthony masing-masing mengemas 19 poin.  Sedangkan Luol Deng menjadi top skorer Inggris Raya dengan torehan 25 poin.
Tim AS yang diperkuat para pemain basket yang berkarier di NBA, memang sangat terkenal sekali di Inggris. Bahkan, para penggemar yang memadati Manchester Arena lebih sering meneriaki nama pemain seperti Kobe Bryant dan LeBron James ketimbang pemain tuan rumah.

Joel Freeland, yang berlaga di Portland Trailblazers sempat membawa tim tuan rumah memimpin pada awal pertandingan. Namun, pertandingan selanjutnya menjadi milik Kobe Bryant dkk, yang mana berhasil menutup kuarter pertama dengan keunggulan 33-20 atas Inggris Raya.

Dominasi Dream Team (julukan AS) semakin terlihat di kuarter kedua. Bryant dkk semakin memperlebar jarak keunggulan menjadi 55-37. Sejak saat itu, skuad besutan Mike Krzyzewski ini tidak terkejar lagi oleh tim tuan rumah.
“Jika kami tidak datang bermain, bila kami tidak siap, maka kami bakal dikalahkan tim lain. Spanyol dan Brasil merupakan salah satu tim yang bisa mengalahkan kami dan begitu juga dengan Argentina,” ujar Williams.

“Kami akan berhadapan dengan mereka di laga pemanasan, jadi saya berharap itu cukup membantu mereka,” pungkas pemain yang memperkuat Brooklyn Nets tersebut, seperti dilansir Eurosport, Jumat (20/7).
Perlu diketahui, ini merupakan kemenangan ketiga skuad Krzyzewski di laga uji coba. Pada turnamen Olimpiade nanti, Dream Team tergabung di Grup A dan akan berhadapan dengan Prancis, Tunisia, Argentina, Nigeria dan Lithunia. (bbs/jpnn)

Sistem Pendidikan yang Berorientasi Pasar

Oleh: Jhon Rivel Purba

Pada awal abad ke-20 pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan politik etis di tanah jajahannya (Indonesia). Salah satu isi kebijakan politik etis itu adalah memberikan pendidikan (edukasi) kepada penduduk pribumi. Dalam praktiknya, pendidikan yang hanya bisa dikecap oleh segelintir masyarakat pribumi (kalangan priyayi) ini ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah demi kepentingan kolonial Belanda.

Meskipun Indonesia telah merdeka hampir 67 tahun, namun sistem pendidikan kita masih sama dengan sistem yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda satu abad yang lalu di Indonesia.  Di mana produk (pengecap) pendidikan diarahkan untuk bekerja di administrasi pemerintahan dan perusahaan  kapitalis.

Kita sangat menyayangkan ketika lulusan-lulusan perguruan tinggi berlomba-lomba menjadi pegawai negeri sipil (PNS), bekerja di perkebunan besar, pertambangan milik asing, dan perusahaan-perusahaan kapitalis. Sangat jarang lulusan perguruan tinggi yang siap berkarya dan mengabdi untuk kepentingan rakyat. Warisan sistem pendidikan kolonial yang terus diterapkan hingga kini hanya menghasilkan generasi-generasi pengagum kekuasaan, kekayaan (uang), dan kemapanan.

Sangat memprihatinkan ketika jumlah lulusan pendidikan tinggi semakin banyak, tetapi persoalan bangsa juga semakin kompleks. Bagaimana tidak, lulusan-lulusan perguruan tinggi tersebut  justru merusak bangsa, ketika mereka menjadi pemimpin yang korup, anasionalis, pelanggar hak asasi manusia (HAM),  penjual aset-aset negara, perusak lingkungan, agen-agen kepentingan asing, dan pembuat kebijakan anti-rakyat.

Mengapa mereka berbuat demikian? Bukankah koruptor kelas kakap adalah lulusan perguruan tinggi? Bukankah pemimpin yang membuat kebijakan anti-rakyat adalah lulusan perguruan tinggi? Jawabannya adalah karena sistem pendidikan kita telah membentuk manusia-manusia yang berorientasi pada uang. Sehingga demi uang, mereka tidak mendengar nurani dan derita rakyat.

Pada umumnya orang-orang mengambil jurusan kedokteran, teknik, pertanian, ekonomi, hukum, tujuan utamanya adalah kemudahan mendapatkan pekerjaan (uang). Ketika uang menjadi tujuan, maka tidak mengherankan ketika dokter-dokter kita sangat jarang mengabdi kepada orang miskin yang sakit. Lulusan jurusan teknik lebih “asyik” merancang dan membangun gedung-gedung pencakar langit daripada membangun jembatan atau produk teknologi untuk kepentingan rakyat.

Kemudian lulusan jurusan pertanian lebih nyaman bekerja di perkebunan asing daripada memberdayakan petani. Lulusan jurusan ekonomi berlomba-lomba menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan swasta asing dan nasional, sementara pengembangan ekonomi kerakyatan ditinggalkan. Demikian juga lulusan jurusan hukum yang mencari lahan “basah” misalnya menjadi kuasa hukum para koruptor, sementara pembelaan terhadap rakyat kecil sangat jarang.
Kita tidak perlu heran ketika pemimpin (kita) sendiri yang merusak bangsa ini. Lihatlah, kementerian pendidikan sendiri yang merusak pendidikan. Aparat dan penegak hukum yang justru melanggar hukum. Kementerian kehutanan yang ikut merusak hutan. Kementerian kelautan dan perikanan yang justru meminggirkan nelayan dan merusak laut. Kementerian agama yang mencoreng agama.

Itu semua karena sistem (pendidikan) yang dibangun di negeri ini adalah sistem yang mengabdi pada uang dan kekuasaan serta menjadi sekrup kapitalisme. Para pemimpin yang lahir dari sistem seperti ini pada gilirannya menjadi pengagum harta dan kekuasaan. Demi harta dan kekuasaan, dia rela menjadi perpanjangan tangan asing di negeri ini. Kebijakan-kebijakan yang dibuat pun hanyalah “proyek” jangka pendek yang rapuh dan sarat dengan kepentingan sesaat. Bahkan kebijakan itu adalah untuk melayani selera pemilik modal.

Selain itu, sadar atau tidak, tidak sedikit warga negara di negeri ini yang justru menjadi “mata-mata” atau agen-agen kepentingan asing. Mereka bisa saja lewat mengecap pendidikan di negara lain atau melalui pendirian dan keaktifan NGO di tanah air. Mereka-mereka inilah yang melaporkan data-data penting di Indonesia kepada pihak asing. Ditambah lagi, lulusan-lulusan luar negeri inilah yang akan mempengaruhi kebijakan di negeri ini demi kepentingan pasar. Memang tidak semua demikian.

Hingga kini, sistem pendidikan pasar ini semakin berkembang. Kampus-kampus pun tidak ada bedanya lagi dengan pabrik. Pabrik yang mencetak produk, yakni “robot-robot” yang siap diserap pasar. “Robot-robot” inilah yang disiapkan menjadi buruh-buruh (kasar maupun halus). University for industry, itulah visi kampus sekarang.

Masuk akal ketika jurusan-jurusan yang berkembang adalah jurusan yang sangat diminati pasar (indstri), misalnya: jurusan kedokteran, teknik, pertanian, ekonomi, komputer dan hukum. Pandangan masyarakat yang mengganggap bahwa mereka yang belajar jurusan itu akan memiliki masa depan yang cerah, semakin memperkokoh sistem pendidikan pasar.

Masyarakat pun (sadar atau tidak) ikut terjebak dalam sistem ini. Mereka menginginkan anak-anaknya mengecap pendidikan dengan jurusan-jurusan yang diminati pasar. Pada umumnya mereka menginginkan anaknya bisa bekerja nantinya sebagai PNS, aparat berseragam, pengajar, dan karyawan di perusahaan besar. Memang wajar setiap orangtua mengharapkan masa depan anaknya agar cerah. Tetapi persoalannya adalah lagi-lagi berorientasi pada uang dan jabatan.
Kondisi masa lalu tentu berbeda dengan sekarang dan masa yang akan datang. Awal-awal kemerdekaan hingga era 1980-an memang masih banyak lowongan pekerjaan, sehingga lulusan perguruan tinggi relatif mudah mendapatkan pekerjaan yang “mapan”. Tetapi seiring membludaknya lulusan perguruan tinggi yang berorientasi pekerjaan, maka muncul persoalan besar karena lapangan pekerjaan makin sempit. Akhirnya semakin banyak penganggur terdidik. Era otonomi daerah yang membuka lapangan pekerjaan di birokrasi bukanlah solusi.

Jika sistem pendidikan kita tetap berorientasi ke pasar, maka bisa dipastikan akan hadir persoalan yang lebih besar. Pengangguran, kemiskinan, korupsi, upah yang murah, dan kekerasan akan menghiasi negeri ini. Karena semakin banyak lulusan perguruan tinggi di tengah-tengah sempitnya lapangan pekerjaan, maka semakin terbuka pintu kecurangan (suap) agar bisa mendapatkan pekerjaan.

Semakin banyak lulusan perguruan tinggi, maka semakin deras arus persaingan. Demi bertahan hidup, mereka akan siap menjadi buruh-buruh yang digaji dengan upah murah dan dengan jam kerja yang berat. Demi bertahan hidup, mereka akan mencari jalan bahkan menghalalkan segala cara misalnya dengan kejahatan dan menjadi agen-agen imperialis. Menjadi pemangsa bagi manusi lainnya. Sisanya, menjadi pengemis di negeri sendiri.
Oleh sebab itu, sistem pendidikan yang berorientasi pasar ini harus segera dihentikan. Kita harus menghadirkan pendidikan yang berkarakter dan mengabdi untuk kepentingan bangsa sesuai dengan konstitusi. Pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan manusia (humanisasi). Demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Penulis: adalah alumnus ilmu sejarah USU

Isori FC Juara LFAI Sumut

LUBUKPAKAM- Isori FC berhasil menjuarai Kompetisi Liga Futsal Amatir (LFAI) Sumatera Utara setelah di partai puncak mengalahkan Pelindo I Bict dengan skor telak 6-1. Sementara diperebutan tempat ketiga, Black Pearl mengalahkan Asahan FC dengan skor 5-2.

Dominasi Isori FC dipartai puncak yang digelar Rabu (18/6) lalu di GOR Lubukpakam, langsung terlihat sejak menit-menit awal pertandingan. Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan pemain Isori membuat pertahanan Pelindo I Bict kesulitan. Terbukti enam gol berhasil disarangkan, sedangkan Pelindo hanya mampu membalas dengan sebuah gol.

Seperti Isori, di perebutan tempat ketiga, serangan yang dibangun pemain Black Pearl pun sulit diimbangi oleh Asahan FC. Akibatnya, lima gol berhasil bersarang ke gawang Asahan FC. Sementara Asahan hanya mampu membalasnya dengan dua gol. Dengan hasil dua laga ini, maka juara pertama diraih Isori FC, juara kedua Pelindo I Bict, juara ketiga Black Pearl FC dan juara keempat, Asahan FC.

Menanggapi hasil LFAI Sumut yang telah digulirkan selama tiga hari, 16-18 Juli, Wakil Direktur LFAI Pusat, Borgo Pane, menyampaikan apresiasi positif atas respons masyarakat Sumut terhadap olahraga futsal. “Semoga dengan bergulirnya Liga Futsal Amatir, bisa menjadikan olahraga futsal lebih memasyarakat di Sumut. Kedepannya, kita harapkan kompetisi ini bisa melahirkan pemain-pemain timnas, tak hanya dari Sumut tapi seluruh daerah LFAI digulirkan,” ucap Borgo.
Dalam kesempatan ini, Borgo juga menyampaikan kabar gembira, soal pagelaran LFAI Tingkat Wilayah Sumbagut yang diisi tim-tim perwakilan dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Riau dan Kepri, akan di gelar di Sumut. “Untuk tingkat Wilayah Sumbagut yang rencananya digelar Oktober, Sumut akan menjadi tuan rumah. Dan ditetapkan kuota klub Sumatera Utara ditingkat Wilayah adalah enam klub,” terang Borgo.

Sementara itu, Koordinator Wilayah LFAI Sumatera Utara, Ricky Fahreza Syafi’i SH, menyambut gembira keputusan LFAI Pusat menetapkan Sumut sebagai tuan rumah tingkat Sumbagut. “Sebagai Koordinator LFAI Sumut, kita menyambut positif keputusan LFAI Pusat menunjuk Sumut sebagai tuan rumah wilayah, karena  hal itu merupakan keuntungan bagi tim-tim asal Sumut karena bermain di rumah sendiri,” tandas Ricky. (ful)

SMPN 7 Medan Tradisi Juara Karate di O2SN

MEDAN- SMP Negeri 7 Medan mempunyai tradisi juara nasional karate Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), yang digelar di Palembang awal Juli lalu. Kepsek SMPN 7 Medan, Mahmud Rangkuti SPd mengungkapkan hal tersebut, Kamis (19/7). Sejak 2006 sampai 2011, sudah 5 kali gelar juara nasional karate O2SN menjadi milik siswa SMPN 7 Medan.

Tiffany Hadi tiga kali merebut gelar juara O2SN yaitu pada 2006, 2007 dan 2008. Dua gelar juara lainnya dipersembahkan Yayuk D Safitri pada 2009, kemudian M Zaki Abdullah pada 2011.
Pada 2012 ini, siswa SMPN 7 Medan atas nama Dwi Fadillah (13), kembali mengukir prestasi untuk sekolahnya dengan meraih dua medali sekaligus yakni medali perak dan perunggu karate O2SN.

“Prestasi siswa kami cukup membanggakan dalam kejuaraan karate O2SN, bisa dikatakan gelar juara dan medali karate O2SN sudah menjadi tradisi bagi kami,” kata Mahmud Rangkuti SPd didampingi Dwi Fadillah.
Sebelum tampil dalam kancah O2SN tingkat nasional, karateka SMPN 7 Medan merupakan juara Seleksi O2SN tingkat Sumut, sehingga atlet pelajar yang benar-benar berkualitas yang dikirim tampil pada persaingan O2SN tingkat nasional, kata Mahmud SPd.

Dwi Fadillah merupakan siswa kelas VIII/5 yang penyandang sabuk coklat Inkanas dan berlatih di Dojo Sena Medan. Melihat potensi dan prestasi siswanya dalam cabang karate, pihak sekolah merasa terpanggil untuk membuka dojo karate khusus untuk siswa SMP Negeri 7 Medan, dalam waktu dekat.(jun)

Ompong

Apa jadinya singa tanpa gigi? Apakah dia bisa makan daging-seperti kodratnya sebagai binatang karnivora-dengan leluasa? Hm, tampaknya dia butuh bubur daging agar bisa bertahan hidup.
Begitulah, saya awali catatan ini tentang daging karena biasanya jelang Ramadan orang-orang heboh dengan daging. Lihatlah, di berbagai media, berita soal harga daging begitu mencolok. Intinya, soal daging memang menyita perhatian. Lalu, kenapa harus singa yang saya jadikan analoginya?

Begini ceritanya, singa itu ‘kan raja hutan. Dia memiliki gigi yang tajam. Dan, makanannya adalah daging. Beberapa kalangan malah menganggap karena daginglah singa bisa dikatakan sebagai raja hutan. Nah, bagaimana jika dia ompong? Singa saya pilih memang untuk menunjukan sebuah situasi yang memang dramatis. Jika dihubungkan dengan Ramadan, bagaimana jika ada warga yang tak mampu membeli daging. Bukankah hal itu juga mirip dengan singa ompong?
Tapi terus terang, soal singa ompong tidak hanya untuk warga yang tidak mampu membeli daging. Saya terkejut dengan pernyataan dari pihak Kejatisu terkait kasus dugaan penyimpangan penyaluran kredit fiktif di Bank Negara Indonesia (BNI) 46 Cabang Jalan Pemuda Medan senilai Rp129 miliar yang masih mengambang. Kata pejabat di lembaga itu, mereka terkendala dana dalam menguak kasus itu. Ceritanya, mereka tak punya uang untuk membayar ahli penilai agunan. Katanya lagi, honor ahli itu jumlahnya Rp175 juta. Wow!

Sesaat saya bingung juga dengan keadaan itu. Seratus tujuh puluh lima juta rupiah angka yang besar bukan? Benarkah honor ahli sebesar itu? Namun, setelah berpikir lagi, saya tambah bingung lagi. Bagaimana tidak, lembaga hukum yang tugasnya menguak ketidakbenaran kenapa tidak punya uang sebanyak itu? Bukankah kasus yang diusut juga tidak kecil; penyelewengan itu mencapai seratus dua puluh sembilan miliar!
Bagi saya, hal ini bak singa ompong. Bagaimana tidak, pengakuan pejabat itu secara jujur mengatakan pada khalayak kalau Kejatisu tak punya senjata untuk mengusut kasus hingga tuntas. Dengan kata lain, kegagahannya ternyata tidak diimbangi dengan gigi yang tajam.

“Mengenai biaya penyelidikan biasanya berkisar Rp7 juta dalam satu tahun untuk satu pengaduan. Mana cukup biaya sekecil itu? Tapi nanti kalau itu kita sampaikan, nantinya kita dianggap cengeng. Begitupun dengan segala keterbatasan yang ada, tetap kita manfaatkan,” ungkap si pejabat tadi. Bah!

Baiklah jika dana menjadi alasan utama; bisa saja karena tidak ada anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun, kenapa Kejatisu tidak memiliki ahli penilai agunan. Bukankah ahli agunan bisa dipekerjakan di Kejatisu dan kenapa tidak ada rekrutmen untuk posisi itu. Pertanyaan lainnya: apakah posisi ahli agunan dianggap tidak penting oleh Kejatisu hingga tidak mengusulkan pada pemerintah?
Lucu bagi saya ketika Kejatisu ternyata tidak memiliki senjata dalam menjerat oknum-oknum yang bersalah. Bak polisi tanpa pistol. Bak fotografer tanpa kamera. Bak mobil tanpa bensin. Dan, bak singa tanpa gigi. OMPONG!
Ya, ompong. Jadi, wajar saja kasus yang sudah cukup lama terjadi itu tetap tak bergerak. Tambah menarik ketika diketahui beberapa tersangka kasus itu masih bebas berkeliaran. Sementara, mereka yang dirugikan tetap berharap. Bah, uang Rp129 miliar itu tidak kecil bukan?

Ada apa ini, kenapa kerugian sedemikian besar terbiarkan saja. Jangan-jangan, singa ini sengaja diompongkan. Ya, biar dia tidak bisa menggigit. Seperti warga yang tak mampu membeli daging, dia hanya bisa menghirup aroma rendang dan gulai milik tetangga. Syukur-syukur kalau tetangga ingat, kalau tidak dia hanya bisa berharap bukan?  (*)

Pecatur Putri Sumut Optimis Juara

Medan- Para atlet catur putri Sumut optimis meraih juara di PON ke-18 yang digelar di Riau, September mendatang. Rasa optimis ini diungkapkan pelatih catur putri, Erhan Tarmizi kepada wartawan di sela-sela latihan di Pemondokan Asrama Haji, Jalan AH Nasution Medan, kemarin (18/7).

“Kita sudah menyusun program kerja pembinaan untuk TC penuh ini, kontingen Putri yang gagal meraih juara pada PON musim lalu menjadi pelajaran berharga bagi tim Sumut tentunya,” bilang Erhan.
Dikatakan Erhan, anak asuhnya itu sudah dibekali dengan berbagai pembinaan seperti pelaksanaan try out. “Selain melakukan pembinaan yang terorganisir, tim kita diperkuat Mater Nasional Wanita (MNW) Tuti Rahayu Sinuhaji yang pernah meraih peringkat 40 di Olimpiade dan pernah memperkuat Timnas di Sea Games lalu, yang menjadi salah satu modal tim Sumut,” harapnya.

Erhan menambahkan, selain itu, kontingen catur putri Sumut juga diperkuat pecatur muda yakni Charlely Esi Perangin-angin, Yola Yolanda, Tri Handayani MNW.
Tuti Rahayu Sinuhaji mengaku sudah mempunyai bekal untuk bertanding di PON mendatang. “Untuk saat ini belum ada halangan pada pelatda tahun ini dan masih lancar dari setiap bidang, baik di bidang penginapan, makanan dan lain-lain,” tutur Tuti.(mag-10)

Walikota Tebingtinggi Sidak Pasar Swalayan

Antisipasi Barang Kedaluarsa Selama Ramadan

TEBINGTINGGI-Wali Kota Tebingtinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai Pasar Swalayan dan Super Market di Kota Tebingtinggi,Jumat pagi (20/7). Sidak yang dilakukan orang nomor satu di Pemerintahaan Kota Tebingtinggi itu bertujuan untuk memantau kebutuhan pokok warga Tebingtinggi selama Ramadan serta mengantisipasi peredaran barang kedaluarsa.

Dalam sidak tersebut, Wali Kota Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Asisten Pemerintahan Agus Salim Purba, Kadis Kouperindag Asmali dan Kabag Humas Pemko Ahdi Sucipto  mengunjungi pasar swalayan Ramayana Departemen Store di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Tebingtinggi.

Di Ramayana,Umar Zunaedi Hasibuan bersama rombongan langsung melihat tanggal kedaluarsa barang-barang atau bahan kebutuhan yang sering diserbu warga ketika datangnya bulan suci Ramadan, seperti minuman sirup, roti, susu dan lainnya. Dalam sidak tersebut, Wali Kota tidak menemukan adanya barang kadaluarsa.

“Yang perlu kita jaga saat ini adalah stabilitas bahan pokok agar tidak terlalu melonjak drastis, yang kedua adalah melihat stok (ketersediaan) barang cukup dan tidak terjadi spekulasi harga, hingga saat ini, kondisi seperti itulah sedang kita cermati agar kebutuhan dan kenyamanan masyarakat selama Ramadan tetap terjaga,” papar Wali Kota kepada Sumut Pos.

Umar Zunaedi berpesan kepada pedagang agar jangan mengambil kesempatan dengan maraup keuntungan lebih tinggi tanpa mengindahkan segi keamanan dan kesehatan konsumen. Apalagi saat ini warga banyak membutuhkan barang seperti gula dan beras. “ Saya himbau kepada konsumen agar dalam membeli barang terlebih dahulu mempertimbangkan dari aspek kebutuhan dari pada keinginan,”jelasnya.

Sementara Manager Ramayana Cabang Tebingtinggi, Ridho Sirait mengatakan, pihaknya akan tetap mengupayakan harga supaya tidak mengalami kenaikan, walaupun dalam minggu-minggu ini, walalu jumlah pembeli saat ini mengalami peningkatan. “Meskipun jumlah konsumen relatif cukup tinggi menjelang bulan Ramadan tapi kami tetap berusaha agar harga-harga tetap murah dan stabil,” katanya. (mag-3)

Pulang dari China, Target tak Berubah

MEDAN- Sembilan atlet Sumut yang sejak April lalu “berguru” di Guangzhou, China, untuk persiapan menghadapi PON XVIII/2012 tiba kembali di Medan, Kamis (19/7) pagi. Kedatangan para atlet diantaranya Zulkarnaen Purba, Edy Hariyanto, Nyai Prima Agita (atletik), Denny Zulfendri, Ricky Ramadhani (judo), Dian Ramayati, Jihan Siska  (anggar), Heka Mayasari dan Sumurung Siregar (gulat), disambut Ketua Umum KONI Sumut Gus Irawan Pasaribu, Bidang Luar Negeri Iwan Kwok dan Humas Tji Pik.

Gus Irawan di hadapan para atlet, menyampaikan terimakasih atas dedikasi dan pengorbanan para patriot olahraga meninggalkan anak istri dan orang-orang tercinta untuk “berguru” ke Guangzhou demi meningkatkan kemampuan dalam meraih prestasi di PON 2012.

Gus yang telah memastikan diri maju menjadi calon Gubsu pada Pilgub 2013 menyebutkan, KONI Sumut semula memprogramkan 26 atlet “berguru” di China hingga jelang pelaksanaan PON September 2012. Namun, khusus bagi atlet yang berlatih di Guangzhou, terjadi perubahan. Ini berkaitan dengan faktor kesulitan yang dihadapi khususnya terhadap atlet yang akan menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan.
Tapi, tegas Gus lagi, kepulangan para atlet hanyalah perubahan tempat latihan. Sementara target semula, meraih prestasi di PON Pekanbaru, tidak berubah.

“Para atlet selanjutnya mengikuti Pelatda Penuh di Asrama Haji, melanjutkan program latihan yang telah dirancang dari Guangzhou. Dengan langkah ini, para atlet bisa menjalani latihan dan tidak tertinggal menunaikan ibadah puasa,” tambah Gus. Secara terpisah Denny Zulfendri mewakili para atlet kepada wartawan membenarkan, saat ini hanya Mari Yusuf Gulo (atletik) yang bertahan di China.

Dijelaskan, faktor makanan merupakan kendala paling utama dihadapi para atlet. Terlebih di bulan Ramadhan. Karena itulah, sesuai persetujuan KONI Sumut, mereka memutuskan untuk melanjutkan latihan di Medan.
“Yang pasti kita melanjutkan program latihan dari China bang, dikolaborasikan dengan program pelatih di Medan,” ujar Denny. (jun)

Bupati Labuhanbatu Tolak Panggilan Mendagri

Ogah Bayar Rp40 Miliar ke Labura dan Labusel

RANTAU– Bupati Labuhanbatu dr Tigor Panusunan Siregar menolak membayar  dana hibah kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Labuhanbatu Selatan (Labusel) Rp20 miliar dan Rp20 miliar untuk Labuhanbatu Utara (Labura) pascapemekaran.

Bahkan Tigor mengaku dirinya tak akan menghadiri panggilan Mendagri untuk membahas masalah dana hibah tersebut.
Menurut Tigor, kendati Labura dan Labusel tetap menuntut pembayaran dana hibah yang diamanatkan dalam UU No 22 tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Labusel, dan UU No 23 tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Labura, namun Pemkab Labuhanbatu tak akan membayar dana hibah tersebut.

Alasannya, Pemkab Labura dan Labusel memiliki hutang untuk pembayaran gaji pegawai negeri sipil (PNS). Di mana pada tahun 2009, Pemkab Labuhanbatu membantu Pemkab Labura Rp23 miliar dan Rp22 miliar kepada Pemkab Labusel. “Jadi di sini sudah jelas siapa yang berhutang. Kita punya bukti pembayaranya, jadi saya tegaskan saya tidak akan membayar tuntutan itu,” kata Tigor, Jumat (20/7).
Bahkan Tigor menegaskan dirinya tak akan menghadiri panggilan Mendagari untuk dipertemukan. (smg)

Ramadan, Durasi Latihan Atlet Dikurangi

MEDAN- Selama Bulan Suci Ramadan, durasi latihan para atlet yang akan berlaga di PON ke-18 di Riau, September mendatang, akan mengalami pengurangan waktu. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga ketahanan fisik para atlet.
“Kesimpulan dalam rapat, kita sudah mengusulkan kepada semua Pengprov tiap cabang olah raga supaya latihan atlet dikondisikan dengan jadwal ibadah di Bulan Ramadan. Hal itu untuk menjaga ketahanan fisik para atlet,” kata John Lubis, Ketua Kontingen PON Sumut kepada wartawan usai mengadakan rapat teknis dengan Pengprov tiap cabang di kantor Komite Olahraga Nasional (KONI) Sumut, Jalan William Iskandar, Medan Estate, Kamis (19/7).

Jhon menambahkan, untuk teknis pelaksanaannya tergantung dari pelatih cabor masing-masing. “Kita memberikan kebebasan terhadap setiap pengurus termasuk pelatih dari tiap cabor untuk mengurangi atau mempertehankan waktu latihannya, karena tidak semua cabor harus mengurangi jam latihan,” pungkasnya. (mag-10)