Home Blog Page 135

3 Rumah Warga Hangus Terbakar di Sidikalang dan Sumbul

TERBAKAR: Rumah warga di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Sumbul, Dairi terbakar, Minggu (1/3).(SUMUT POS/istimewa)
TERBAKAR: Rumah warga di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Sumbul, Dairi terbakar, Minggu (1/3).(SUMUT POS/istimewa)

DAIRI, SUMUTPOS.CO Musibah kebakaran menimpa tiga rumah warga di Kabupaten Dairi, tepatnya di Kecamatan Sidikalang dan Sumbul, Minggu (1/3/2026). Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, meski kerugian materiil diperkirakan cukup besar.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran BPBD Dairi Amudi Situmeang, menjelaskan kebakaran terjadi di Kelurahan Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang, dan Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Sumbul.

Di Sidiangkat, rumah milik K. Sitanggang, istri Boru Nababan, hangus terbakar pada Sabtu (28/2) malam. Sedangkan di Desa Tanjung Beringin, dua rumah warga ikut terbakar, yaitu milik keluarga bermarga Perangin-angin istri Boru Simarmata, dan Simarmata istri Boru Silalahi. “Begitu menerima laporan, kami langsung mengerahkan mobil damkar ke lokasi kejadian untuk memadamkan api,” ujar Amudi Situmeang.

Penyebab kebakaran saat ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian setempat. Warga diminta tetap waspada dan melaporkan jika terjadi hal-hal yang mencurigakan untuk mencegah insiden serupa.

Musibah ini menjadi pengingat pentingnya kesigapan masyarakat dan petugas dalam menghadapi bencana kebakaran, terutama di daerah padat hunian. (rud/ila)

Warga Binjai 47 Hari Ditahan di Kamboja, DPR RI Turun Tangan Jemput Aspirasi Keluarga

KUNJUNGI: Anggota DPR RI, Ahmad Doli Kurnia (dua dari kiri) saat mengunjungi kediaman Badriah (tiga dari kiri) di Jalan Tengku Umar, Kelurahan Nangka, Binjai Utara.(Teddy Akbari/Sumut Pos)
KUNJUNGI: Anggota DPR RI, Ahmad Doli Kurnia (dua dari kiri) saat mengunjungi kediaman Badriah (tiga dari kiri) di Jalan Tengku Umar, Kelurahan Nangka, Binjai Utara.(Teddy Akbari/Sumut Pos)

BINJAI – Bardiah, warga Jalan Teuku Umar, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai, saat ini resah dengan kondisi putranya, Ardiansyah Putra (26), telah mendekam selama 47 hari di penjara Phnom Penh, Kamboja, setelah terjaring dalam operasi pemberantasan kejahatan penipuan daring (online scam) pada Januari 2026.

Ardiansyah menjadi salah satu dari 26 WNI yang diamankan aparat keamanan Kamboja dalam operasi tersebut. Ia kini menghuni satu sel bersama lima WNI lainnya, namun hingga kini keluarga belum memperoleh kejelasan mengenai proses hukum yang dijalani putranya.

Kabar penangkapan itu pertama kali diterima Bardiah melalui sambungan telepon dari seorang pria bernama Roki, yang disebut bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh. Dalam percakapan tersebut, Bardiah diberi tahu bahwa putranya diamankan aparat kepolisian setempat.

“Saya sangat kaget, tidak ada firasat apa-apa, tiba-tiba dibilang anak saya ditangkap dan dipenjara. Saya tidak tahu harus berbuat apa,” ujar Bardiah, Sabtu (28/2/2026). Mendengar kabar itu, Bardiah mengaku cemas, sulit tidur, dan terus memikirkan putranya yang kini mendekam di sel negara lain. Ia bahkan belum mengetahui kondisi kesehatan, kecukupan makanan, dan bagaimana perlakuan yang diterima Ardiansyah selama berada dalam tahanan.

Menurut keluarga, Ardiansyah berangkat ke luar negeri untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun, alih-alih memperoleh pekerjaan yang layak, ia diduga terjerat jaringan yang terkait dengan praktik penipuan daring lintas negara, yang kerap dikaitkan dengan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

“Anak saya tidak pernah macam-macam, dia pergi karena ingin bekerja, membantu keluarga. Kalau memang ada kesalahan, saya yakin itu bukan karena niat jahat,” kata Bardiah sambil meneteskan air mata.

Bardiah berharap Pemerintah Republik Indonesia hadir memberikan perlindungan bagi Ardiansyah dan WNI lainnya yang ditahan. Ia menuntut adanya pendampingan hukum, kejelasan status perkara, dan langkah konkret untuk memulangkan mereka ke tanah air.

Menyikapi kasus ini, anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Ahmad Doli Kurnia, turun langsung ke Kota Binjai, yang masuk daerah pemilihan Sumut III, untuk menjemput aspirasi keluarga korban. Doli datang bersama legislator lain, termasuk anggota DPRD Sumut, mantan Ketua DPRD Binjai, serta sejumlah wakil rakyat setempat.

Di rumah berwarna hijau, Doli duduk dan berkomunikasi langsung dengan Bardiah, mendengar kronologi penangkapan putranya, sekaligus mendiskusikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk membantu Ardiansyah dan WNI lainnya.

“Saya hadir pada hari ini untuk mengkonfirmasi kronologis dan berita yang kita dapatkan. Tadi malam saya sudah berkomunikasi dengan pimpinan Komisi I DPR RI yang menangani urusan luar negeri, dan juga langsung dengan Duta Besar Indonesia untuk Phnom Penh, Pak Santo,” ujar Doli, Minggu (1/3/2026).

Doli menekankan, masyarakat Indonesia yang ingin bekerja ke luar negeri harus menempuh jalur prosedural. Namun, faktanya, banyak WNI yang berangkat dengan paspor biasa atau visa wisata, sehingga ketika masa tinggal habis dianggap ilegal dan terjerat hukum di negara tujuan. Hal ini menjadi faktor risiko yang menimpa Ardiansyah.

“Sebagian masyarakat kita cukup berani datang ke luar negeri pakai paspor biasa dan visa wisata. Begitu masa berlaku habis, mereka dianggap ilegal dan tidak bisa pulang. Akhirnya, mereka terpaksa mencari pekerjaan untuk penghidupan, yang kadang menjerumuskan mereka ke situasi seperti ini,” jelas Doli.

Doli menekankan, pemerintah tidak menutup mata terhadap nasib WNI yang terjerat hukum di luar negeri. “Bagaimana pun, sesalah apapun masyarakat kita, kalau sudah situasi di luar negeri tidak jelas, kita harus pikirkan cara penyelamatannya. Pemerintah juga ikut bertanggung jawab, dan saya sebagai wakil rakyat juga ikut bertanggung jawab,” tambahnya.

Keluarga Bardiah berharap kehadiran DPR RI dapat mempercepat proses hukum dan memfasilitasi kepulangan Ardiansyah. Ia meminta adanya pendampingan hukum dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia, serta kepastian mengenai status hukumnya di Kamboja.

Kasus Ardiansyah menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia tentang risiko bekerja di luar negeri tanpa prosedur resmi. Sebagai bungsu dari empat bersaudara, Ardiansyah pergi ke Kamboja hanya untuk bekerja dan membantu keluarga. Namun, nasibnya kini menjadi korban dari praktik penipuan daring lintas negara, yang terkadang juga dikaitkan dengan tindak pidana perdagangan orang.

“Mohon kepada Pemerintah Republik Indonesia, tolong selamatkan anak saya. Kami hanya rakyat kecil, tidak punya siapa-siapa selain berharap pada negara,” pungkas Bardiah dengan suara bergetar.

Kisah ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat yang hendak bekerja di luar negeri agar selalu menempuh jalur resmi dan prosedural, serta menegaskan peran negara dalam memberikan perlindungan bagi WNI yang menghadapi persoalan hukum di luar negeri.

Kasus ini juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk meningkatkan sosialisasi tentang keberangkatan WNI ke luar negeri, mekanisme perlindungan hukum, dan prosedur legal agar tidak terjerumus dalam jaringan kriminal lintas negara.

Dengan dukungan DPR RI, keluarga Bardiah berharap keadilan dan kepastian hukum segera datang, serta langkah nyata pemerintah untuk memulangkan Ardiansyah Putra ke tanah air sebelum dampak yang lebih besar menimpa putra bungsu tersebut. (ted/ila)

Menjemput Asa di Wilayah 3T, Penrad Siagian Soroti Ketimpangan Pendidikan di Nias Selatan

NIAS SELATAN, SumutPos.co- Anggota Komite I DPD RI Pdt Penrad Siagian, melakukan kunjungan kerja ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, Jumat (27/2). Dalam peninjauan tersebut, ia menemukan kondisi infrastruktur pendidikan yang memprihatinkan dan jauh dari standar kelayakan nasional.

Di lokasi, Senator asal Sumatera Utara ini menyaksikan sekolah-sekolah yang kekurangan ruang kelas hingga fasilitas sanitasi dasar seperti kamar mandi yang layak. Penrad menegaskan, ketimpangan ini tidak boleh dianggap sebagai hal biasa karena menyangkut hak konstitusional anak bangsa.

“Bagaimana mungkin kita berbicara tentang digitalisasi pendidikan dan sekolah unggulan, sementara di sisi lain masih ada sekolah yang bahkan belum memiliki kamar mandi memadai? Ini bukan sekadar soal fasilitas, ini soal keadilan pembangunan,” tegas Penrad saat mengunjungi SD Negeri 078558 Desa Marit Baru dan SMP Negeri 2 Pulau-pulau Batu Utara.

Ketimpangan yang Tak Lagi Biasa

Penrad menegaskan, kondisi di lapangan mencerminkan jurang lebar antara pembangunan di daratan dan wilayah kepulauan. Di saat kota-kota besar mengejar sekolah unggulan, anak-anak di Nias masih harus berjuang dengan ruang belajar yang terbatas dan sarana pendukung yang tidak memenuhi standar minimal.

“Ini bukan sekadar soal kekurangan fasilitas, ini soal keadilan. Negara tidak boleh hanya hadir di kota-kota besar,” tegas Penrad di hadapan masyarakat setempat.

Bukan Sekadar Sembako dan Alat Tulis
Meski dalam kunjungannya Penrad turut menyalurkan bantuan alat tulis, sembako, hingga perlengkapan dapur di tujuh kecamatan di Pulau Batu serta kabupaten lain seperti Nias Barat, Nias Utara, dan Gunungsitoli, ia menyadari bantuan tersebut hanyalah “obat luka luar”.

Akar persoalannya, menurut Penrad, adalah minimnya perhatian terhadap infrastruktur permanen dan distribusi anggaran yang tidak tepat sasaran. Ia mempertanyakan efektivitas alokasi anggaran pendidikan nasional jika sekolah seperti SDN 078558 Desa Marit Baru dan SMPN 2 Pulau-Pulau Batu Utara masih tertinggal jauh.

Menagih Hak Konstitusional
Penrad mengingatkan, setiap anak di Kepulauan Nias memiliki hak konstitusional yang sama berdasarkan UUD 1945. Ia khawatir jika ketimpangan ini dibiarkan, visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi slogan hiasan bagi penduduk di daerah terluar.

“Jangan sampai Generasi Emas hanya milik kota besar. Anak-anak Nias tidak boleh tertinggal hanya karena faktor geografis,” ujarnya.

Mendesak Audit Nasional
Tak tinggal diam, Penrad memastikan temuan miris ini akan dibawa ke meja nasional. Ia mendesak kementerian terkait untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap kondisi fisik sekolah di wilayah 3T.

Kebijakan afirmatif dan alokasi anggaran khusus harus segera dikucurkan agar negara benar-benar hadir secara nyata di Kepulauan Nias—bukan hanya sekadar deretan angka dalam laporan statistik. (adz)

Sediakan Ambulan Gratis, Personel Polres Labuhanbatu Dianugerahi Penghargaan

RAIH PENGHARGAAN: Aiptu M Ikhsan personel Polres Labuhanbatu mendapatkan penghargaan dari Kapolda Sumut dalam dedikasi menyediakan ambulans gratis untuk masyarakat (fajar)
RAIH PENGHARGAAN: Aiptu M Ikhsan personel Polres Labuhanbatu mendapatkan penghargaan dari Kapolda Sumut dalam dedikasi menyediakan ambulans gratis untuk masyarakat (fajar)

LABUHANBATU – Aiptu Muhammad Ikhsan (45) dianggap sangat membantu masyarakat. Yakni, dengan keikhlasan hatinya menyediakan fasilitas  mobil ambulans gratis untuk masyarakat umum.

Layanan antarjemput pasien maupun jenazah itu sudah berlangsung setahun terakhir sejak dilaunching pengoperasian, Jum’at (19/1) lalu. Tentu, pelayanan ke masyarakat Kabupaten Labuhanbatu, khususnya di seputaran Kota Rantauprapat sudah tak terhitung diberikan.

Amal baiknya ini, berbuah dengan berbagai pujian dan penghargaan.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Wahyu Endrajaya,  memberikan reward kepada Aiptu Ikhsan atas dedikasinya menyediakan layanan ambulans gratis bagi masyarakat, Jumat, 6 Februari 2026, lalu.

Harum jasa baiknya juga sampai ke Kapolda Sumut, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto. Dan juga memberi penghargaan kepada Bhabinkamtibmas Polres Labuhanbatu ini.

Penyerahan penghargaan dari Kapolda Sumatera Utara dalam kegiatan Rapat Pimpinan (Rapim) Polda Sumut Tahun 2026 yang digelar di Aula Tribrata Lantai I Mapolda Sumut, Jalan Sisingamangaraja Km 10,5 No. 60, Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (25/2) kemarin.

Penghargaan tersebut diberikan atas inovasi dan dedikasi yang dilaksanakan dalam tugas sehari-hari melalui pelayanan ambulance gratis bagi masyarakat Kabupaten Labuhanbatu yang membutuhkan layanan kesehatan.

Aiptu Muhammad Ikhsan secara konsisten membantu warga dengan mengantarkan pasien ke RSUD Rantauprapat maupun rujukan ke luar kota.

Tidak hanya itu, ia juga memberikan pelayanan kemanusiaan dengan mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (makam) bagi warga yang membutuhkan bantuan.

Inovasi sosial tersebut menjadi wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat.

Kapolres Labuhanbatu menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas penghargaan yang diterima personelnya. Melalui dedikasi Bhabinkamtibmas, Polres Labuhanbatu terus berkomitmen menghadirkan pelayanan humanis serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. (fdh/azw)

Pastikan Harga Stabil dan UMKM Tumbuh, Mendag Tinjau Pasar Kota Tebingtinggi

Mendag Budi Santoso bersama Wagubsu Surya dan Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih meninjau langsung kondisi pasar saat pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di Kota Tebingtinggi, Jumat (27/2).
Mendag Budi Santoso bersama Wagubsu Surya dan Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih meninjau langsung kondisi pasar saat pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di Kota Tebingtinggi, Jumat (27/2).

TEBINGTINGGI-Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso melakukan pemantauan sarana dan prasarana perdagangan sekaligus memastikan ketersediaan serta stabilitas harga barang kebutuhan pokok (bapok) di Kota Tebingtinggi, Jumat (27/2). Kegiatan yang berlangsung di tiga titik tersebut diawali pada pukul 10.20 WIB di Pasar Gambir, Kecamatan Tebingtinggi Kota.

Dalam peninjauan itu, Mendag berdialog langsung dengan para pedagang dan masyarakat untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman serta harga berada dalam kondisi terkendali.

Selanjutnya, rombongan bergerak menuju Irian Supermarket yang berlokasi di Jalan Thamrin, Pasar Gambir. Di lokasi tersebut, Mendag melakukan peninjauan terhadap distribusi serta perkembangan harga sejumlah komoditas strategis di tingkat ritel modern guna memastikan ketersediaan dan stabilitas harga tetap terjaga.

Adapun pemantauan juga dilakukan di distributor telur UD Hasil Ternak, guna memastikan kelancaran distribusi serta kestabilan harga telur di pasaran.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan ke pasar kain sekalian peresmian pusat  konveksi  pasar kain Tebingtinggi yang berada di lantai tiga dan di lanjutkan di halaman pasar kain dengan pelepasan ekspor Pisang Kepok Keling.

Adapun Momentum ini menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan ekspor daerah dan penguatan sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kota Tebingtinggi.

Mendag menyampaikan bahwa kunjungannya ke Kota Tebingtinggi berjalan dengan baik. Dari sejumlah pasar yang ditinjau, harga kebutuhan pokok terpantau stabil dan pasokan mencukupi.

Ia juga mengapresiasi perkembangan UMKM yang dinilai cukup baik dan berperan penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Pemerintah, lanjutnya, akan terus menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan perdagangan di daerah.

Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Surya menyampaikan apresiasi atas kunjungan Mendag ke Kota Tebingtinggi dan memastikan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus bersinergi dengan pemerintah pusat dalam menjaga stabilitas harga serta mendukung penguatan UMKM dan perdagangan daerah ujarnya.

Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri Perdagangan ke Kota Tebingtinggi. Menurutnya, pemantauan langsung ini menjadi bentuk perhatian pemerintah pusat dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok, khususnya menjelang momentum hari besar keagamaan.

“Kami berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah terus terjalin demi menjaga stabilitas harga, memperlancar distribusi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kota Tebingtinggi,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung lancar dan mendapat antusiasme dari pedagang serta masyarakat yang hadir.

Seorang pedagang bawang dan cabai menyampaikan bahwa di tengah kondisi ekonomi saat ini, penjualan mengalami penurunan dan pembeli relatif sepi. Ia berharap pemerintah dapat terus memperhatikan kondisi para pedagang kecil.

“Dengan adanya kunjungan ini saja kami sudah merasa senang dan diperhatikan,” ujarnya. Pada kesempatan tersebut, pedagang juga menerima bantuan beras yang dibeli langsung di lokasi oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Dalam kegiatan tersebut, Mendag turut didampingi Waubsu beserta jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih bersama unsur Forkopimda Kota Tebingtinggi, serta ketua Kadin Kota Tebingtinggi, Muhammad Iqbal. (mag-3/azw)

Datangi Pengadilan Negeri Medan, Hinca Soroti Sidang Korupsi Video Profil Desa Karo

DATANG: Anggota Komisi III DPR RI, Hinca Panjaitan, mendatangi Pengadilan Negeri Medan, Jumat (27/2) pagi.
DATANG: Anggota Komisi III DPR RI, Hinca Panjaitan, mendatangi Pengadilan Negeri Medan, Jumat (27/2) pagi.

MEDAN – Anggota Komisi III DPR RI, Hinca Panjaitan, menyoroti sidang dugaan korupsi video profil desa Karo, yang menjerat Direktur CV Promiseland, Amsal Christy Sitepu. Iapun memberikan perhatian dengan mendatangi langsung ke Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (27/2) pagi.

Dalam perkara tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wira Arizona menuntut Amsal 2 tahun penjara. Amsal dinilai terbukti melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Undang Undang (UU) No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001. Perkara itu disebut merugikan keuangan negara sebesar Rp202 juta.

Hinca yang hadir didampingi istri terdakwa, Lovia Sianipar, menilai terdapat sejumlah hal yang perlu dicermati dari aspek prosedural penanganan perkara. Ia pun mendorong agar terdakwa memanfaatkan hak hukumnya, termasuk mengajukan penundaan sidang guna menyusun nota pembelaan (pledoi) secara maksimal.

“Kami di Komisi III sedang reses untuk memastikan KUHAP baru berjalan sebagaimana mestinya. Saya hadir bukan untuk mengintervensi, tetapi memastikan proses hukum berlangsung sesuai aturan,” ungkap Hinca.

Menurutnya, sejak tahap awal penyidikan hingga pelimpahan perkara ke persidangan, terdapat sejumlah hal yang dinilai tidak lazim. Ia mencontohkan pentingnya menghadirkan saksi ade charge secara optimal guna memberikan gambaran yang utuh di persidangan.

“Terdakwa ini warga Tanah Karo, bagian dari konstituen saya. Sudah menjadi tanggung jawab moral saya untuk mengikuti prosesnya,” tegasnya.

Hinca juga menyoroti kehadiran sejumlah pejabat dari Kejaksaan Negeri Karo dalam sidang pembacaan tuntutan. Ia menilai, di satu sisi hal itu dapat dimaknai sebagai bentuk keseriusan institusi. Namun di sisi lain, kehadiran tersebut dinilai tidak lazim karena secara formil perkara ditangani oleh JPU yang ditunjuk.

“Ini yang ingin kami dalami. Apakah sekadar memastikan perkara berjalan tuntas atau ada hal lain. Semua harus tetap dalam koridor hukum,” katanya.

Ia menambahkan, pengawasan yang dilakukan Komisi III DPR RI tidak menyentuh substansi perkara, melainkan fokus pada kesesuaian prosedur dengan KUHAP baru yang menekankan prinsip kesetaraan hak antara terdakwa, penyidik, dan penuntut umum.

Hinca berharap majelis hakim dapat mempertimbangkan permohonan penundaan sidang agar terdakwa memiliki waktu yang cukup menyusun pembelaan secara komprehensif. Ia juga membuka kemungkinan kembali hadir pada sidang pembacaan pledoi, jika agenda reses memungkinkan.

“Jaksa tugasnya menegakkan hukum, bukan sekadar memenjarakan orang. Kalau tidak terbukti harus dibebaskan, kalau terbukti silakan dihukum. Itu prinsipnya,” pungkasnya. (man/azw)

 

 

Medan Penyumbang Kemiskinan Terbesar di Sumut, Zulkarnaen Desak Kuota Bansos Ditambah

Pimpinan DPRD Kota Medan, H. Zulkarnaen SKM.
Pimpinan DPRD Kota Medan, H. Zulkarnaen SKM.

SUMUTPOS.CO – Kota Medan tercatat sebagai daerah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Provinsi Sumatera Utara. Kondisi ini memicu keprihatinan sekaligus dorongan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret, terutama dalam penambahan kuota bantuan sosial (bansos).

Pimpinan DPRD Kota Medan, H. Zulkarnaen SKM, meminta Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk menambah kuota bantuan sosial bagi warga tidak mampu di Kota Medan.

Wakil Ketua DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Gerindra itu menegaskan, penambahan kuota itu perlu untuk dilakukan mengingat banyaknya jumlah warga miskin di Kota Medan. “Kuota penerima bantuan sosial untuk Kota Medan harus ditambah. Berdasarkan data rilis BPS Sumatera Utara, angka kemiskinan di Sumut per September 2025 mencapai 7,24 persen. Dari angka itu, Kota Medan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak. Kita berharap hal ini bisa menjadi perhatian serius bagi pemerintah,” ucap Zulkarnaen kepada Sumut Pos, Jumat (27/2/2026).

Dikatakan Zulkarnaen, dirinya bersama segenap Anggota DPRD Kota Medan kerap menerima keluhan dari masyarakat tidak mampu di Kota Medan terkait masalah bantuan sosial. “Banyak warga miskin yang mengeluh tidak dapat bansos, sementara Dinsos selalu menyebutkan bahwa kuota terbatas. Kalau memang kuota terbatas sementara masih banyak warga miskin yang tidak dapat bantuan, kenapa tidak tambah kuotanya. Kita akan terus mendorong agar kuota bantuan sosial untuk warga Medan dapat ditambah,” ujarnya.

Zulkarnaen yang merupakan wakil rakyat dari Dapil Medan III (Medan Perjuangan, Medan Tembung, Medan Timur, dan Medan Deli) itu juga mengatakan menekankan pentingnya pendistribusian bansos.

“Kemudian, pendistribusian bansos juga harus tepat sasaran. Kedepan kita tidak ingin lagi ada warga mampu yang mendapatkan bantuan sosial, sementara masih banyak warga miskin yang tidak mendapat bantuan,” tegasnya.

Selain masalah bantuan sosial, Zulkarnaen juga menekankan pentingnya meningkatkan perekonomian masyarakat lewat lapangan kerja yang terbuka lebar.

“Masih banyak warga Kota Medan yang tidak bekerja, kondisi ini tentunya akan terus meningkatkan angka kemiskinan. Lapangan kerja harus terbuka lebar, masyarakat harus dipermudah untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak,” katanya.

Seterusnya, Zulkarnaen juga meminta Pemko Medan untuk terus melakukan pembinaan dan pemberdayaan UMKM. Mengingat, UMKM merupakan tonggak perekonomian masyarakat.

“Kondisi UMKM di Kota Medan harus terus diperhatikan, sebab berkembangnya UMKM sangat berpengaruh terhadap pengentasan kemiskinan. Sementara, UMKM yang berkembang selalu sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat,” pungkasnya.(map/ila)