Home Blog Page 13600

Emas Raib Ditemukan Luka Wanita Tua Tewas Telungkup

MEDAN- Refina br Lumbangaol (79), warga Gang Darmo Ujung Dusun X Desa Bangunsari Kecamatan Tanjungmorawa Kabupaten Deliserdang ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumahnya, Jumat (20/4) 09.00 WIB. Diduga korban tewas dibunuh karena saat ditemukan bagian kening terdapat luka, sedang kedua kaki tertekuk. Selain itu sejumlah perhiasan milik korban, berupa cincin, gelang dan kalung hilang.

Disebutkan, sebelumnya Refina Br Lumbangaol tinggal sendiri di rumahnya. Jumat pagi kemarin, tetangga korban curiga karena korban yang disapa dengan Op Jonson itu tak kunjung keluar dari rumah seharian.
Warga mencoba memperhatikan isi rumah Op Jonson.

Setelah diintip dari celah pintu belakang kamar mandi terlihat adanya kaki dengan keadaan tergelatak, namun tidak bergerak.

Kecurigaan itu membuat tetangga memanggil anaknya untuk membuka pintu rumah korban. Anak keempat dari korban, P Nainggolan (42) warga Desa Bangun Sari, selanjutnya mendatangi rumah korban dan mendobrak pintu, sehingga diketahui bahwa Refina Br Lumbangaol tewas tergeletak di dalam kamar mandi. Saat ditemukan, tubuh korban telungkup, dan bagian kening terdapat luka, sedang kedua kaki tertekuk.

Namun setelah disemayamkan, pihak keluarga curiga dengan raibnya perhiasan emas Refina Br Lumbangaol. Setelah berdiskusi, akhirnya pihak keluarga membuat pengaduan ke Polsek Tanjung Morawa, Jumat (20/4) pukul 23.30 WIB. Dalam pengaduan itu disebutkan, kematian korban dinilai tidak wajar dan diduga dibunuh, sedang perhiasan emas yang biasa dipakainya berupa cincin, gelang dan kalung seberat 100 gram, raib dari tubuh korban.
Mendapat pengaduan itu, pihak Polsek Tanjung Morawa kewalahan untuk melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), karena jenazah korban sudah dimandikan, sedang tempat ditemukannya Refina Br Lumbangaol tewas, sudah rusak. Untuk membuktikan kecurigaan itu, pihak Polsek menganjurkan agar jenazah Refina Br Lumbangaol di otopsi saja.

Akhirnya Sabtu (21/4) pagi, oleh pihak keluarga, jenazah Refina Br Lumbangaol diotopsi di RSU Pirngadi Medan. Kapolsek Tanjung Morawa AKP Telly Alvin SiK bersama Kanit Reskrim Iptu Adi Alfian, Sabtu (21/4) membenarkan bahwa jenazah Refina Br Lumbangaol akhirnya diotopsi untuk membuktikan kecurigaan itu. (jon/btr)

Korban Linglung, Perhiasan Asli Ditukar Emas Palsu

Hipnotis di Dalam Angkot Kembali Terjadi di Medan

MEDAN- Aksi penipuan dengan cara menghipnotis kembali terjadi di Medan. Kali ini korbannya, B boru Sirait (50) warga Jalan Sunggal. Sirait tanpa sadar memberikan 16 gram emas miliknya kepada pelaku dengan imbalan mendapat gelas emas palsu.

Menurut pengaduan korban di Polsekta Medan Sunggal, Sabtu (21/4) siang sekitar pukul 14.00 WIB itu Sirait menumpangi angkot dari Jalan Gaperta menuju tempatnya bekerja di Jalan Asrama. Di dalam angkot karyawan PT Satria Padang Teritis ini dikerumuni 3 penumpang lainnya. Ketiga penumpang itu mengajak nya mengobrol.

“Mereka bertiga terus mengajak aku ngobrol lalu menyebutkan kalau ada emas di bawah kaki ku,” kata B Sirait menceritakan koronoligis penipuan yang dialaminya itu.

Sirait awalnya tidak menggubris apa yang disebutkan ketiga orang itu. Lama kelamaan wanita tua ini penasaran. Lalu ia mengambil gulungan kertas di bawah kakinya dan membukanya. Sirait sempat kaget begitu mengetahui dalam bungkusan yang dibukanya itu terdapat gelang emas lengkap dengan surat pembeliannnya sebesar Rp16 juta.

“Aku lihat dan buka gulungan kertasnya ternyata ada emas di dalam nya, seketika itu aku kaget dan lupa semuanya,” akunya.

Melihat B Sirait merasa panik, kesempatan itu dimanfaatkan ketiga orang tadi menghipnotisnya. Mereka menyarankan kepada B Sirait untuk membagi temuannya itu kepada mereka. Caranya, emas 16 gram yang dipakai B Sirait diberikan kepada mereka bertiga untuk dibagi sedangkan emas dalam bungkusan itu menjadi milik korban. Tawaran itu jelas tidak disia-siakan B boru Sirait. Ia langsung menyerahkan emas perhiasannya masing-masing 10 gram perhiasan kalung, 5 gram perhiasan gelang dan 1 gram anting-anting yang ditotal bernilai puluhan juta rupiah.

“Kalung ku dan gelang serta antingku hilang semuanya, oalah..! tuhan di mana ku!” rintih wanita tua ini.

Kanit Shabara Polsekta Medan Sunggal AKP P Bangun yang menyaksikan B Siarit menangis mencoba menenagkan korban. “Udah lah bu, sabar kita akan kejar pelaku nya di mana pun mereka berada,” kata perwira berkumis ini.
Sedikit mengingatkan, aksi hipnotis di atas angkot seperti ini sudah sering terjadi. Masyarakat harus lebih waspada bila mengalami kejadian aneh seperti yang dialami B boru Sirait.

“Masyarakat harus waspada dengan orang-orang yang belum kita kenal saat menaiki angkot, dan lihat gelagatnya, jika mencurigakan segera melapor ke kantor polisi terdekat atau petugas lainnya, ” saran Kasi Humas Medan Sunggal, Aiptu P Sirait.(cr-5/smg)

Megawati Soekarnoputri Ingin Putrinya Jadi Presiden

KETUA Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berharap putrinya, Puan Maharani, mengikuti jejaknya dalam berpolitik. Termasuk nantinya bisa jadi Presiden seperti dirinya.

“Tentu harapan seorang ibu kepada anak-anaknya menjadi yang terbaik. Bukan Puan satu-satunya, tapi saya berkeinginan kaum perempuan lainnya yang bisa jadi kandidat (presiden),” kata Mega di gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Sabtu (21/4).

Dia juga berharap, perempuan mendapat dukungan penuh agar bisa maju sebagai pemimpin. Faktor lain yang tak kalah penting adalah kemauan perempuan sendiri untuk maju.

Kata dia, kalau hanya sekadar menunggu agar ada ruang untuk terbuka maju tentu tidak akan terjadi.

“Nah, sekarang ini dominasi masih ada di kaum laki-laki, ini yang harus bisa jadi sebuah mitra untuk bekerja sama,” ungkapnya.

Memanfaatkan momen perayaan hari Kartini, Mega menaruh harapan besar kepada perempuan Indonesia. Tidak hanya menjadi pemimpin pada 2014 mendatang, namun juga untuk masa-masa selanjutnya. Dia menilai, kaum perempuan saat ini harus lebih dimaksimalkan.

“Kalau gerakan untuk membangun kaum perempuan masih kurang. Sasarannya wanita di pedasaan yang ruangnya masih sangat sempit, ekonomi, sosial, culture, dan adat istiadat,” pungkasnya. (net)

 

Tuan Rumah Tumbang, Harapan v Mikroskil di Final

Turnamen Basket UMSU Cup 2012

MEDAN- Pil pahit harus ditelan UMSU. Tim basket putra dan putrinya gagal memenuhi asa untuk meraih titel juara Turnamen Basket UMSU Cup 2012. Tim putra gagal meraih tiket final setelah pada laga tunda di Lapangan Basket UMSU ditundukkan Harapan 65-66, Sabtu (21/4). Sementara tim putri menyerah di tangan Cendana 31-41.

Pada final putri, UMSU sempat mendominasi. Di kuarter awal, dua kali three point shoot Ayu mengejutkan Cendana. Tuan rumah bahkan sempat unggul 12-3 di kuarter awal. Namun pasca Devi cedera, UMSU keteteran. Kuarter kedua menjadi awal kebangkitan Cendana. Bergantian Angelina, Vivia dan Flo menyumbangkan angka hingga Cendana mulai menipiskan selisih angka. Tembakan tiga angka Yulia semakin memantapkan semangat Cendana.
Begitupun UMSU masih mampu menjaga keunggulan 25-18 di akhir kuarter kedua lewat aksi Kiki. Sial bagi UMSU, Kiki justru terkena foul trouble sehingga membuatnya bermain hati-hati. UMSU semakin lengah di dua kuarter sisa. Pressing ketat tim besutan Edy membuat Ayu dkk kerap melakukan kesalahan sendiri. Cendana berbalik unggul 28-27 lewat lay up Elisabeth.

Di kuarter penentu, UMSU masih menyimpan semangat untuk bangkit. Wenny sempat menipiskan selisih leeway lay upnya 31-36. Permainan all out Cendana berbuntut cederanya tiga pemain kunci Cendana yang beberapa kali harus ditarik keluar. Namun UMSU tak mampu mengejar defisit angka hingga laga berakhir 41-31.

Pelatih Cendana Edi mengatakan kunci kemenangan timnya ada pada semangat dan mental juara. “Anak-anak semangat. Meskipun beberapa pemain kita sempat cedera. Mental juara kita punya. Apalagi kita terus menekan di dua kuarter sisa. Saya sangat puas,” katanya.

Sementara Pelatih UMSU, Adi mengaku cederanya Devi sangat mempengaruhi performa anak asuhnya. “Kita sempat leading 12 angka. Tapi sejak Devi cedera anak-anak keteter. Nelly dan Wenny juga tidak fit. Tapi secara keseluruhan saya puas karena ini final pertama tim kami. Pemanasan yang baik untuk Libama,” katanya.

Pertarungan dramatis terjadi pada perebutan tiket final putra yang sebelumnya harus ditunda karena hujan. Harapan langsung menggempur dengan tiga angka Hardi yang membuat selisih 39-34 di kuarter kedua. Harapan bahkan semakin percaya diri dengan beberapa tembakan tiga angka Johanes dan Hardi hinggs meninggalkan UMSU 10 angka di kuarter ketiga.

UMSU nekat memasukkan kapten tim Irwan Fahmi yang terkena foul trouble. Benar saja Irwan menjadi kunci dilengkapi beberapa aksi ciamik Dani dan Fadil dalam mengejar defisit. Ketegangan memuncak saat Irwan yang sukses melakukan lay up mendapat satu free throw saat laga tersisa 27 detik. UMSU berbalik unggul 65-64. Tapi Irwan akhirnya tak dapat menghindari foul out. Aksi Suharto secara dramatis membuat UMSU tertunduk lesu dengan keunggulan setengah bola 66-65.
Pelatih Harapan, Ruben mengakui materi pemain UMSU lebih baik dari timnya. “Dari beberapa kali sparing kami juga kalah. Tapi dengan motivasi kami bisa memenangkan pertarungan ketat ini. Untuk final kami harus jaga stamina dan kami yakin bisa mengatasi Mikroskill,” tandasnya. (mag-18)

Juara, SSB Generasi Kosek ke Jakarta

Manchester United Premier Cup 2012

MEDAN- SSB Generasi Kosek akhirnya berhak mewakili Sumatera Utara untuk berlaga di ajang Manchester United Premier Cup 2012 yang akan digelar di Jakarta, Mei mendatang. Pasalnya, pada laga final kualifikasi yang digelar di lapangan Lanud Polonia Medan, Sabtu (21/4), SSB Generasi Kosek berhasil menundukkan SSB Gumarang lewat drama adu penalti dengan skor 5-3.

Sebelumnya, partai final ini sempat tertunda pada Jumat (20/4), karena tidak adanya lampu penerangan di lapangan Lanud Medan. Saat itu, pertandingan baru menyelesaikan babak pertama dengan skor 0-0.
Pada babak kedua yang digelar Sabtu (21/4) siang pukul 14.00 WIB, kedua tim kembali menuai hasil imbang, sehingga pertandingan terpaksa dilanjutkan dengan adu penalti.

Kelima algojo SSB Generasi Kosek yakni Handoko, Eki Fadlin, Andre Beazi, Ahmad Fauzi, serta Idris berhasil menjaringkan bola ke gawang SSB Gumarang. Sementara algojo SSB Gumarang, cuma tiga yang mampu menciptakan gol yakni Rico, Rizal dan Faisal, sehingga skor akhir 5-3.

Sumitro selaku pelatih kepala SSB Generasi Kosek, mengaku bangga atas prestasi yang ditorehkan anak asuhnya. Apalagi, sepanjang turnamen mereka tak sekalipun mengalami kekalahan. Dari tujuh pertandingan, mereka menang enam kali dan seri satu kali.

“Kami belum puas sampai di sini, karena masih banyak sisa pertandingan yang akan diselesaikan untuk meraih gelar jaura nasional mendatang,” katanya.

Sementara Nunuk selaku ketua panitia, mengucapkan selamat kepada SSB Generasi Kosek yang memenangkan kualifikasi Piala Manchester United Premier Cup itu.
“Rencananya Mei mendatang tim yang lolos akan diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti kualifikasi tingkat nasional,” terangnya.

Di Jakarta, SSB Generasi Kosek akan bersaing kembali dengan sembilan SSB se-Indonesia, yakni dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Padang, Pekanbaru, Balik Papan dan Papua Barat.(mag-10)

Teh Kelat di Ujung Sekarat

Teh Sidamanik yang dikenang sebagai “teh sumatera” sempat bakal tinggal sejarah. Pulau Jawa boleh bangga punya teh beraroma “wah”, tapi siapapun penikmat teh sulit lupa teh asal Sidamanik yang mendunia. Untungnya rencana konversi teh ke sawit cepat digagalkan. Menteri BUMN Dahlan Iskan kukuh mengerem niat mengonversi kebun teh yang dibuka sejak tahun 1900-an tersebut. Jika itu terjadi mungkin pencinta teh di dunia tak lagi bisa menyeduh teh yang kondang dengan rasa kelat di lidah ini.

ADA cerita menarik saat seorang pencinta teh yang “curiga” dengan kemasan merek “SIDAMANIK” yang dikemas oleh sebuah perusahaan bernama CV Bintang Timur Laut. Apakah teh merek itu hasil produk pabrik teh Sidamanik milik PTPN IV? Bagi penikmat teh sejati, merek teh kemasan itu bagai melempar ingatan atas sesuatu. Siapa pencinta teh yang tak tahu kebun teh di Sidamanik? Spontan ditanya, spontan jawabannya merujuk nama wilayah perkebunan teh di Simalungun.

Belakangan hari baru diketahui teh kemasan itu bukan produksi PTPN IV. Pengusaha yang melabelkan “Teh Sidamanik” sebagai cap produksinya itu membeli bahan baku teh hasil kebun Sidamanik milik PTPN IV melalui Kantor Pemasaran Bersama. Lewat kantor yang mengurusi dan menampung hasil produksi perkebunan negara untuk dilemparkan ke pasar domestik dan internasional itulah, si pengusaha membeli bahan baku teh kemasannya.

Jangan kaget bila merek “Teh Sidamanik” adalah magnet bagi para penikmat teh sejati. Wajar saja bejubel dari mereka yang langsung menanyakan kesahihannya. Tak ada yang salah bila sebatas “bertanya-tanya” karena para penikmat teh itu sebetulnya juga mencecap rasa khas teh Sidamanik dari merek kemasan tersebut. “Rasa kelat teh itu tak didapatkan dari teh asal manapun,” ujar seorang penikmat teh. Toh faktanya produsen teh kemasan itu juga tak asal mencomot merek, karena bahan utama dari teh yang mereka jual berasal dari jenis BOPF, RBO, dan Vessel yang tak lain produksi pabrik teh Tobasari dan Sidamanik.

Cerita teh asal Sidamanik barangkali tak pernah akan habis digali. Tapi cerita itu hampir saja menemui akhirnya bila rencana konversi teh ke kebun sawit tidak lekas digagalkan. Bagai rasanya yang langka, kisah perkebunan teh ini juga sudah melegenda bagi masyarakat Simalungun. Sebab tak semua perkebunan di Sumatera yang ditanami teh pada masa Kolonialisme Belanda. Teh adalah tanaman produksi yang mensyaratkan ketinggian dan kelembaban (humidity) tertentu agar terjaga sebagai tanaman yang sehat dan berproduksi bagus. Bila salah satunya tak bisa dipenuhi alamat mutunya akan anjlok.

Alih-alih bisa dijual mahal, daun teh malah bisa menumpuk di gudang. Keterpurukan inilah yang dialami PTPN IV sehingga terpicu rencana mengonversi kebuh teh menjadi komoditas sawit yang punya harga jual yang menggiurkan. Pengelola kebun teh di PTPN IV sadar betul karakteristik teh amat ditentukan oleh tanah dan iklim tempat tanaman tersebut tumbuh. Idealnya teh ditanam di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Teh di dataran tinggi Simalungun ditanam di ketinggian 800 meter dpl hingga 900 meter dpl. Daun teh yang ditanam di atas ketinggian 1.200 meter dpl sudah diteliti punya kualitas di atas rata-rata. Syarat itu pula yang dipunyai kebun teh di Pulau Jawa yang relatif menghasilkan teh berkualitas tinggi karena rata-rata ditanam di ketinggian lebih dari 1.200 meter dpl. Kendati tanah dan iklim yang berbeda juga diyakini bikin karakter teh di setiap perkebunan akan berbeda.

Apa yang bikin manajemen PTPN IV berpikir mengonversi kebun teh yang legendaris ini? Data menyebut PTPN IV kini tinggal mengelola tiga kebun teh di dataran tinggi Simalungun, yakni Kebun Bah Butong, Sidamanik, dan Toba Sari. Letak ketiga kebun ini berdekatan. Umumnya masyarakat Sumut mengenal produk teh dari tiga kebun itu sebagai teh Sidamanik. Asal sebutan itu tak lain karena secara geografis letaknya berada di Sidamanik, kecamatan di Kabupaten Simalungun. Akan tetapi sejak kecamatan itu dimekarkan, Kebun Toba Sari secara administratif berada di wilayah Kecamatan Pematang Sidamanik.

Sejarah mencatat Kebun Bah Butong adalah kebun paling tua yang dibuka oleh Nederland Handel Maatschappij pada 1917. Hanya saja pabrik tehnya bukanlah yang tertua. Pabrik tertua ada di Kebun Sidamanik yang dioperasikan pada 1926 atau lima tahun lebih dulu ketimbang pabrik di Kebun Bah Butong. Adapun Kebun Sidamanik justru baru dibuka oleh Handles Vereniging Amsterdam pada 1924. Dari seluruh kebun teh itu, teh Bah Butong boleh jadi paling terkenal di antara seluruh produksi teh dari kebun yang ada. Salah satu jenis teh produksi kebun itu yang dibanggakan adalah ‘Dust I Bah Butong’. Teh ini punya konsumen fanatik di Malaysia. “Saking fanatiknya, konsumen di sana nggak mau minum teh kalau bukan teh Bah Butong,” ujar seorang staf PTPN IV.

Kini kebun teh yang dibanggakan itu tinggal tiga areal saja. Dirasa cocok, dulunya pemerintah Kolonial Belanda membuka enam kebun teh di kawasan tersebut. Tiga kebun teh lainnya yakni Kebun Sibosar, Bah Birung Ulu, dan Marjandi, sudah beralihfungsi menjadi kebun sawit.

Menurut MA Pulungan, Manager Group Unit Usaha (GUU) V PTPN IV, yang menjadi bos dari para manajer kebun di Sidamanik, opsi mengalihkan kebun teh menjadi sawit itu lantaran perkebunan teh terus merugi. “Biaya produksi tak sebanding keuntungannya,” ungkap Pulungan. Biaya tinggi ditambah merosotnya harga teh dunia membuat pengelola PTPN IV memutar akal. Kebijakan mengganti teh menjadi sawit menjadi pilihan akhir. Alhasil luas kebun teh terus berkurang dari tahun ke tahun.

Jika pada 2000 masih ada 8.475 hektar yang menghasilkan 16.519 ton, lima tahun berselang tinggal 5.397 hektar dengan produksi sekitar 13.286 ton. Tak berhenti di situ, pada 2009 kebun teh yang ada tinggal 4.595 hektar dengan jumlah produksi 9.604 hektar. Pulungan menyimpulkan penurunan harga teh tahun 1990-an dipicu banyak hal. Faktor paling berpengaruh adalah membanjirnya teh bermutu rendah asal Vietnam. “Vietnam saat itu baru tumbuh sebagai negara produsen teh dunia,” tukasnya.

Kondisi inilah yang memicu kenapa produksi kebun teh kebanggaan Sumut ini dari tahun ke tahun semakin turun akibat konversi lahan. Begitupun tak yang banyak tahu bila teh yang mulai langka itu tetap diincar pembeli asal Eropa. Ini bukan retorika semata. Coba simak alasannya: teh kebun Sidamanik punya rasa yang kuat dan khas yang cocok menjadi komponen utama produk teh yang dijual prinsipal di Eropa. (Baca: “Dari Sidamanik ke Eropa”)

Banyak pula penggemar teh yang mengaku rasa teh asal perkebunan Sidamanik tak tertandingi teh dari kebun manapun. Rasa teh yang sepat di lidah alias kelat, serta menyisakan rasa yang begitu kuat, yang tak dimiliki teh dari perkebunan teh di Jawa sekalipun. (valdesz/candra/jpnn)

Dari Sidamanik ke Eropa

Siapa yang menyangka bila teh asal kebun Sidamanik sudah langganan produsen teh kemasan Eropa. Boleh jadi tak banyak yang tahu teh yang ditanam di kebun Bah Butong pernah menjadi komponen dari merek teh keluaran prinsipal Jerman, Hyllson and Lyon. Teh ini mulai mendapat tempat di hati penikmat teh asal Eropa pada 1986. Keunikan rasa teh Bah Butong membuat produsen teh kemasan itu mengikat kontrak panjang sebagai pelanggan teh Bah Butong. Sayang, entah apa sebabnya, kontrak itu diakhiri Hyllson and Lyon empat tahun kemudian.

Dari berbagai sumber dalam literatur sebelumnya, kemungkinan pemutusan kontrak itu lantaran mutu teh yang diproduksi kebun Bah Butong mulai tak terjaga mutunya. Ada sejumlah hal yang menjadi penilaian utama, yakni kualitas aroma, kekuatan rasa, dan warna teh. Uji kualitas yang ketat atau biasa diistilahkan quality control biasa diterapkan oleh para produsen asal luar negeri. Apalagi teh yang akan masuk ke Inggris. Negara yang amat dikenal sebagai negeri para peminum teh ini punya tradisi kuat minum teh. Saking mengakarnya tradisi itu, Inggris pula yang memopulerkan istilah “afternoon tea” sebagai penggalan waktu untuk minum teh sore hari. Inggris adalah kiblat teh dunia. Pengimpor terbesar bulk teh (teh yang belum dikemas) sekaligus eksportir terbesar teh kemasan. Inggris menjadi tempat di mana teh menempati kedudukan tertinggi sebagai jenis minuman.

Dari wawancara dengan media nasional beberapa tahun silam, Manajer Kebun Sidamanik Bambang Wisnu Wardoyo mengungkapkan, teh asal Sumut punya rasa kuat dan khas, yakni kelat tetapi tak terlalu pahit. Teh kualitas nomor satu dari tiga kebun yang ada jika diseduh dengan air hasil destilasi biasanya berwarna merah dunhill. “Ini yang tak ada di teh asal Pulau Jawa yang aromanya biasanya lebih unggul. Teh dari Sumut kuat di rasa,” ujarnya. Menurut Bambang, dengan cita rasa khas yang hanya dimiliki teh asal Sumut, sangat mungkin produk teh kualitas kelas satu dari ketiga kebun yang ada menjadi komponen merek dagang teh kemasan dari prinsipal di Eropa.

Kualitas teh secara umum terbagi dua, outer quality (warna, bentuk, dan berat) dan inner quality (aroma, kekuatan rasa, kesegaran, dan warna seduhan). Kualitas teh yang baik dihasilkan dari lapangan (kebun) yang baik. Dari pabrik, pengolahan teh terbagi menjadi dua metode, secara ortodoks dan curly teary crushing (CTC). Metode ortodoks menghasilkan teh jenis leafy (biasanya berupa kumpulan daun teh muda yang akan menjadi teh kualitas tinggi, khas aromanya), broken (berupa pucuk kedua dan ketiga daun teh, menghasilkan keseimbangan aroma, kekuatan rasa, dan kesegaran), serta smallgrade (berupa potongan terkecil pucuk daun teh, menghasilkan komponen warna teh seduhan). Sedangkan metode CTC biasa digunakan untuk bahan kemasan teh celup.

Indonesia menjadi salah satu produsen teh dunia yang khas (selain India) karena punya dua karakter teh berbeda. “Sama seperti teh India yang punya karakter teh India Selatan dan Utara. Menurut pembeli dari Eropa, teh Indonesia juga punya dua karakter berbeda, teh Jawa dan teh Sumatera,” ujar Bambang yang pernah sekolah “tester” teh di Inggris.

Sidamanik Dulu

Sidamanik adalah sebuah wilayah yang memiliki potensi hebat. Tanahnya subur, udara sejuk, air melimpah, dikelilingi oleh pegunungan yang di sebelah utara dikenal dengan pegunungan Dolok Simbolon. Di sebelah selatan dikenal dengan pegunungan Dolok Simanuk-manuk, dan di sebelah barat terletak pegunungan Simarjarunjung. Sidamanik dikelilingi oleh perkebunan raksasa milik PTPN IV, perkebunan milik negara yang hasil komoditinya banyak diekspor ke luar negeri. Ada teh, kakao, dan kelapa sawit. Paling dikenal adalah teh.

Bahkan pada masa Kolonialisme Belanda kawasan Sidamanik adalah areal perkebunan teh terbesar di Sumatera. Di kecamatan ini berdiri 4 pabrik teh yang mempekerjakan ribuan karyawan di Pabrik Teh Sidamanik, Bah Butong, Toba Sari, dan Bah Birong Ulu. Sayangnya setelah reformasi dan privatisasi BUMN, kebun teh ini dimerger dengan kebun Bah Jambi yang memproduksi kelapa sawit. Ribuan karyawannya terkena rasionalisasi alias pemutusan hubungan kerja, pensiun dini, dan ada juga yang dipindahkan ke kebun lain di daerah Kerinci.

Dulunya empat kebun teh banyak menyerap tenaga kerja pemetik teh. Tapi sekarang pekerjaan itu sudah digantikan mesin. Tak cuma itu pekerjaan menyemprot pupuk dan pembasmi hama juga menggunakan mesin. Semua sudah serba mesin. Jadi tak heran Pasar Sidamanik (atau orang setempat menyebutnya “pekan”) kini tak seramai dulu. Di Simalungun, Pasar Sidamanik yang satu-satunya punya tradisi “pekan” dua kali seminggu yakni Jumat dan Minggu. Para pedagang memanfaatkan kebiasan perkebunan teh yang menerapkan sistem dua kali gajian dalam seminggu. Gajian tiap dua minggu adalah “gajian kecil”. Gajian kecil dan gajian besar itu pula yang membuat banyak karyawan kebun berbelanja di Pasar Sidamanik. Apalagi saat gajian besar tiba. Pasar Sidamanik tumpah ruah oleh karyawan kebun yang didominasi oleh etnis jawa.

Sidamanik memiliki satu akses jalan raya yang membentang membelah dua kecamatan. Jalan raya adalah batas kecamatan dengan daerah Panei Tongah. Tak heran bila masyarakat di Pangkalan Buntu sebelah timur Sidamanik saling berhadapan rumah tetapi berbeda kecamatan. Jalan raya Sidamanik yang menuju barat akan melalui desa-desa kecil mulai dari Baharen, Sinaman, Kebun Tobasari, Sait Buttu, Manik Saribu hingga tiba di persimpangan jalan alternatif Parapat dan Kabanjahe (Tanah Karo). Jarak tempuh antara Sidamanik dan kota Parapat sekitar 40 kilometer. Bila jalan tetap terpelihara Anda bisa tiba tak lebih dari sejam di Danau Toba. (val/*)

Kebun Teh Simalungun Dipertahankan

BALIGE- Rencana PTPN IV untuk mengkonversi tanaman teh menjadi kelapa sawit di Kabupaten Simalungun kandas sudah. Soalnya Menteri BUMN Dahlan Iskan secara tegas menyatakan konversi tidak dilakukan melainkan akan mereflanting (penanaman ulang) teh kembali.

“Dari tiga unit kebun yang ditanami teh saat ini, ada 450 hektar di kebun teh Sidamanik sudah terlanjur ditumbang. Rencananya lahan ini akan kita uji coba dulu untuk menanam bibit teh jenis gambung 7 dan gambung 9,” ungkap Dahlan Iskan di sela-sela kunjungannya ke museum TB Silalahi Balige, Sabtu (14/4).

Dari hasil pertemuan Dahlan Iskan dengan jajaran Direksi PTPN IV di Hotel Tara Bunga Balige, Dahlan mendapat masukan bahwa tanamah teh yang ada di Kebun Sidamanik, Kebun Bah Butong dan Kebun Toba Sari usianya hampir mencapai 100 tahun. Dampaknya saat ini dua teh yang semula diharapkan bentuknya tipis sehingga mudah digulung sekarang menjadi tebal. Tak hanya itu rasanya juga sudah berbeda dari harapan. Dari hasil penelitian, hal ini disebabkan kerana pengaruh perubahan iklim sehingga dicari bibit teh yang sesuai dengan kondisi saat ini.

Kemudian dari sisi bisnis sambung Dahlan nilai jual teh yang dihasilkan harganya anjlok di pasaran. Hal ini tentunya membuat perusahaan merugi. “Kita sudah putuskan teh ini direplanting saja, kemudian kita tukar dengan tanaman baru. Sebab tanaman teh ini harus dilestarikan dan sudah menjadi ikon Kabupaten Simalungun,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu juga terungkap bahwa saat ini bibit teh gambung 7 dan gambung 9 sudah diperoleh. Sehingga akhir tahun ini atau paling lambat awal tahun depan sudah bisa ditanam.

“Jadi kita uji coba saja dulu mudah-mudahan empat tahun ke depan sudah nampak hasilnya. Jadi kalau ke depan hasilnya baik maka bisa saja Kebun Sawit Marjandi dan Kebun Sawit Bah Birong Ulu yang semula ditanami teh akan ditukar menjadi teh kembali,” tutur Dahlan.

Hasil yang diharapkan sambung Dahlan selain mendapatkan teh yang lebih baik sesuai dengan ciri rasa teh di daerah masing-masing, produksi teh secara keseluruhan bisa dicapai. Jika selama ini rata-rata produksi teh dua ton per hektar per tahun maka hasil yang diharapkan ke depan bisa mencapai empat ton per hektar per tahun.

“Inilah harapan kami, soalnya PTPN IV merupakan perusahaan milik negara yang orientasinya adalah menggali keuntungan sebanyak mungkin. Jadi kalau tidak kita reflanting dan perusahaan merugi, tetapi kami akan disalahkan oleh masyarakat,” katanya bercanda.

Sosialisasi reflanting teh akan terus dilakukan Dahlan. Soalnya akhir-akhir ini banyak kalangan yang menolak rencana PTPN IV yang akan mengkonversi teh menjadi kelapa sawit mendapat penolakan dari berbagai kalangan. Buntutnya terjadi demo dimana-dimana.
“Pak TB Silalahi lewat sambutan ini, saya juga menyampaikan kepada bapak dan undangan bahwa kebun teh yang ada di Simalungun tidak akan dikonversi dengan kelapa sawit tetapi kita replanting kembali,” ungkap Dahlan saat didaulat memberikan sambutan pada ulang tahun ke-4 museum TB Silalahi Center.

Dahlan bilang TB Silalahi sebagai tokoh batak banyak tahu tentang sejarah keberadaan kebun teh ini. Keputusan ini kata Dahlan semata-mata untuk mensejahterakan masyarakat batak terutama yang berada di sekitar kebun.

Seperti diketahui saat ini dari tiga kebun teh di Simalungun yakni Kebun Teh Sidamanik, Bah Butong dan Toba Sari. Luas keseluruhan mencapai sekitar 5.000 hektar. Untuk kebun teh Sidamanik dan Kebun Teh Bah Butong ditanam di ketinggian antar 800 hingga 900 meter di atas permukaan laut. Sedangkan Kebuh Teh Toba Sari berada antara 1050 – 1100 meter di atas permukaan laut.

Sebelumnya Kebun Teh Bah Birong Ulu dan Kabupaten Teh Marjandi sudah dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit sejak tahun 1996 dengan luas areal sekitar 4000 hektar. Di kedua kebun ini ketinggian tanah mencapai 700 meter di atas permukaan laut. Hasilnya, kini tanaman tersebut sudah berproduksi. (dra)

Mulan Jameela: Hentikan Pertikaian Si Unyil

Di tengah banyaknya tawaran bekerja dan berkarya, ternyata artis tak mengerti hukum. Hal itu dibuktikan karya selalu ribut dipenghujung hari. Seperti kejadian antara Pak Raden dengan Perum Film Negara (PFN). Kedua belah pihak ribut terkait penguasaan hak cipta si Unyil.

Munculnya prihal itu, sejumlah artis menanggapinya. Termasuk Mulan Jamela mengaku tak mengerti hokum. “Nggak semua ngerti hukum, termasuk saya. Ini terkait hak cipta yang diperjuangkan Pak Raden. Tapi pastinya, anak-anak kenal semua sama Si Unyil. Ini harus diingat pihak yang bertikai.”

Dewi Sandra: Melek Hukum Sebelum Kontrak

Permasalahan hak cipta Si Unyil tak ubahnya masalah lain yang sering terjadi di negeri ini. Itu mengapa Dewi Sandra dingin saja saat tahu Pak Raden berjuang sendiri dapatkan hak cipta Si Unyil.
“Di negara ini banyak masalah yang hitam putihnya kurang jelas. Banyak yang abu-abu. Komitmen dan rasa tanggung jawab nggak ada, entah siapa yang diuntungkan, entah siapa yang dirugikan. Padahal hati nurani yang bicara. Banyak hal yang cukup disayangkan,” ujar penyanyi cantik ini.

Belajar dari kasus ini, Dewi Sandra mengingatkan kepada semua seniman agar didampingi lawyer saat meneken kontrak kerja. Tujuannya agar hak-hak seniman atau pelaku yang terlibat seni bisa dilindungi.
“Belajar lah soal hukum. Minimal cari tahu dan pahami sebelum menandatangani sesuatu. Jaga-jaga agar tidak merugikan di lain waktu,” jelas Dewi.

Pemahaman kontrak kerjasama itu menurutnya sangat penting. Khususnya bagi pekerja seni muda dan belum lama nyemplung. Pasalnya, seni semakin hari identik dengan industrialisme.
“Ini satu pelajaran untuk kami yang muda-muda, semua pekerja seni, bahwa hak cipta ada aturannya dan sebaiknya kita juga memahami. Kadang-kadang kita mem-publish sesuatu tapi kita tidak memahami apa isi kontraknya seperti apa,” kata Dewi.

Pelantun Melayang ini yakin Si Unyil adalah tokoh penting dalam sejarah pendidikan anak-anak di Indonesia. Sebab itu, Dewi merasa heran jika Pak Raden atau pihak lain yang terlibat pada masanya itu sekarang jadi merasa terabaikan.
“Unyil itu hiburan, harus dijaga dan dibuat lagi yang seperti itu. Dimulai dari perhatian terhadap sejarah masa lalu kan,” cetus istri Agus Rahman ini.
Teringat olehnya, saat duduk di bangku SD, ia selalu setia menonton Unyil tiap hari Minggu di televisi.

“Dulu pas kecil aku di Singapura. Dan tiap liburan ke Indonesia aku pasti bilang,’I want watch Unyil. Karena di situ juga pelajarannya luar biasa banget,” kenangnya.
Selain edukatif dan menghibur, dirasanya Si Unyil sangat relevan dengan kehidupan anak-anak masa itu.

“Kan lucu, ada jitak-jitakannya. Ada Pak Ogah yang minta duit cepek, Bu Bariah dan teman-temannya. Filmnya mencerminkan anak-anak masa itu yang mainannya petak umpet, petak jongkok. Sekarang mainannya laptop, dikit-dikit ipad,” keluhnya. (bcg/jpnn)

Arzeti Bilbina: Tak Baik Dilihat Anak

Arzeti minta Pak Raden dan Perum Film Negara tidak berkeras diri paling berhak terhadap hak cipta Si Unyil. Ia minta segera ada urung rembug kedua belah pihak untuk mencari win-win solution.
“Biar lah mereka yang bersengketa dapetin solusinya. Aku nggak mau ikut campur tapi sebaiknya jangan terus diributin ya,” tegasnya.

Diingatkan mantan peragawati papan atas ini, kasus hak cipta Si Unyil sudah ditonton seluruh masyarakat Indonesia. Perhatian yang begitu besar menunjukkan harapan agar kasus itu bisa cepat selesai.
“Tak baik contohkan ini sama anak-anak. Unyil itu kan milik semua anak Indonesia. Daripada ribut nggak jelas, lebih baik mikirin tayangan yang mendidik tapi edukatif,” harapnya.
Seperti kebanyakan orang, Arzeti pun pencinta Si Unyil. Tak cuma rajin nonton tapi juga hafal tokoh dan karakternya masing-masing.

“Apalagi Pak Raden, hafal banget dia kayak apa. Tapi yang kurang baik dicontoh itu Pak Ogah. Dia selalu minta cepek dulu, ngajarin anak kita malas. Nah kalau Pak Raden ngomel melulu itu nandain orangtua suka marah,” tuturnya.
Meski begitu, ibu tiga anak ini merasa Si Unyil kalah dengan Upin-Ipin, serial Malaysia.
“Anak-anakku selalu aku arahkan nonton Unyil (versi baru), tapi sebentar-sebentar ganti Upin-Ipin. Dari situ aku perhatiin. Emang dari gambar (visual), audio, promosi iklan, hingga publikasi lebih sering. Apalagi lebih banyak jual t-shirt Upin-Ipin dibanding Unyil,” jelas Arzeti.

Oleh karenanya, kelebihan dari Upin-Ipin itu jangan malu dicontoh. Sebisa mungkin dibuat lebih baik agar Unyil-Unyil lain-nya bisa lebih bagus dan variatif. “Kita punya talent kesitu kok,” tuntasnya. (ins/jpnn)

Shahnaz Haque: Hanya Satu Pihak Yang Berhak

Dimanapun hanya ada satu pihak yang berhak mendapat hak cipta. Makanya itu, kata Shahnaz Haque, di antara Pak Raden dan PFN ada yang salah atau tidak berkata benar. Pastinya semua harus segera diselesaikan, jangan berlarut.
“Lihat perjanjian sebelumnya, hak milik harus ada di satu pihak. Telusuri dan dipelajari biar beres. Kalau perlu pakai kuasa hukum. Kalau memang Pak Raden nggak sanggup bayar. Seharusnya negara menyediakan. Itu kan warga negara Indonesia juga,” ujarnya.

Artis dan presenter kawakan ini merasa tak pantas Unyil cs diperebutkan. Sebabnya, mereka itu simbol pendidikan bagi anak-anak Indonesia.
“Biarpun mulai berkonsep modern tapi tak meninggalkan eksplorasi seni budaya lokal. Sikap mereka ini selalu mengayomi kita hingga sekarang,” ucapnya.
Meski permasalahannya pelik, Shahnaz minta sengketa hak cipta Unyil tidak sampai ke ranah hukum. Pak Raden atau PFN harus legowo mengalah.

“Nggak usah lah nguasain Unyil, berdermawan lah. Itu kan nggak hanya punya dia aja. Sudah punya rakyat Indonesia. Jangan habiskan waktu buat rebutin itu aja,” cetus istri drummer Gilang Ramadhan ini.
Secara khusus, Shahnaz ingatkan PFN jangan terlalu ambisius. Bila kelihatan terlalu ngotot rebut hak cipta Si Unyil, citra lembaga negara itu bakal makin merosot.
“Aku sebenarnya ngerti juga mereka sangat pertahanin Unyil sebagai harta kekayaan mereka. Mereka kan badan industri, mereka juga ingin cari keuntungan dan balik modal dari keuntungan siaran Unyil yang mulai menggeliat lagi,” tuturnya.
Lebih jauh, Shahnaz ingin melihat Pak Raden eksis lagi di dunia seni, tak berhenti cuma di Unyil.

“Usia boleh tua, tapi Pak Raden masih produktif. Tindakannya perjuangkan Unyil perlu didukung, tapi beliau jangan malah vakum. Bikin tokoh di luar Unyil sebagai sumber inspirasi dan bisa bahagiakan anak-anak, bukan komoditi industri,” sokongnya.

Shahnaz miris dengan nasib seniman tempo dulu yang sekarang hidup berkesulitan ekonomi. Mestinya negara atau pihak terkait tidak melupakan jasa mereka, minimal memberi perhatian kalau tidak bisa secara materi.
“Tak maksud menjustifikasi, Pak Raden nyiptain Unyil cs, nggak mikirin duit, cuma mau bahagiain anak-anak. Itulah kepuasan dirinya,” tutupnya. (ins/jpnn)

Menakertrans RI: Satukan Komitmen Atasi Pengangguran

MEDAN- Diperlukan sebuah komitmen yang diimplementasikan dalam bentuk usaha yang sungguh-sungguh dari seluruh kalangan yakni instansi Pemerintah, dunia usaha dan seluruh komponen masyarakat untuk mengatasi pengangguran. Upaya tersebut dilakukan secara terencana, terkoordinasi, terpadu, dan berkesinambungan.

Demikian diungkapkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Drs Muhaimin Iskandar MSi dalam sambutannya sekaligus membuka secara resmi acara Gerakan Penanggulangan Pengangguran (GPP) dan Job Fair tahun 2012, di Universitas Pancabudi (UNPAB) Medan, Sabtu (21/4).

“Ada empat hal yang dilakukan untuk mengatasi pengangguran, yakni peningkatan kualitas SDM dengan membangun kompetensi, pembangunan sistem pendidikan, memfasilitasi tumbuh dan berfungsinya mekanisme bursa kerja (job fair) dan memprakarsai program pengembangan kewirausahaan,” ujarnya.

Menurut dia, pada tahun 2012, pemerintah berencana menciptakan lapangan pekerjaan baik formal dan informal, yang diharapkan dapat menyerap para pengangguran dan setengah pengangguran.

Di samping, Muhaimin berpendapat, Program Kabinet Indonesia Bersatu II dengan segala upaya dan kebijakannya, bertekad menurunkan angka pengangguran menjadi 5,1 persen pada 2014. Sehingga Gerakan Penanggulangan Pengangguran yang dilakukan bukan hanya bersifat monumental belaka, namun dikembangkan sehingga bisa dijadikan momentum untuk mendorong tumbuh kembangnya budaya kerja (works fare) masyarakat menuju masyarakat Sumatera Utara yang lebih produktif, kreatif, inovatif dan siap bersaing.

Hal senada disampaikan Plt Gubsu, Gatot Pujo Nugroho. Menurut dia, Job Fair adalah langkah strategis dalam penciptaan mutual agreemen, yakni saling berkesinambungan antara pencari kerja dan industri yang membutuhkan tenaga kerja.

Kehadiran Menteri ke Universitas Pancabudi menurut Rektor UNPAB, M Isa Indrawan, adalah sebuah motivasi membuat langkah kongkrit dalam penanggulangan pengangguran.

“Sejauh ini UNPAB telah membuat Satgas penanggulangan pengangguran dengan mengirimkan dua orang ke tiap-tiap kecamatan secara rutin dalam hal melakukan sosialisasi. Target itu sendiri yakni bisa bergerak dalam menanggulangi pengangguran dengan melibatkan seluruh pihak, dan dimulai dari kampus,” sebutnya.

Dalam kesempatan job fair itu, UNPAB setidaknya melibatkan 20 stand untuk memberikan informasi lowongan kerja. (uma)

Leony: Adu Kuat Di Pengadilan

Percuma ributin soal hak cipta di muka umum. Lebih baik segera selesaikan secara hukum. Saran ini disampaikan personil Trio Kwek Kwek, Leony Vitria Hartanti.

“Lihat bukti kepemilikannya. Ada sertifikat, surat atau akta hak milik kan. Ya udah adu sama kuat aja di pengadilan. Ntar terbukti sendiri mana pemiliknya, mana pihak yang fiktif,” ucapnya.
Sebagai informasi, Pak Raden sempat melakukan perjanjian dengan pihak PFN 14 Desember 1995 tentang penyerahan hak cipta sesaat. Dalam perjanjian itu, Pak Raden menitipkan dan mengelola Unyil pada PFN, hanya berlaku sampai lima tahun.
“Ya mungkin karena izin pak Raden itu, PFN seakan diberi hak komersil sepenuhnya. Apalagi sudah ada surat tertandatangan ke PFN, mau gimana lagi. Tapi dalam klausul kontrak itu, Unyil cuma dititipin, beliau (Pak Raden) bisa ambil langkah hukum,” saran Leony.

Selain itu, bintang FTV Jangan Panggil Aku Cina ini menggugah empati PFN sebagai pihak tergugat agar melihat kondisi Pak Raden sebagai creator yang hidup dalam keterbatasan.
“Kalau memang dalih mereka (PFN) gunakan hak cipta Si Unyil semata keuntungan segelintir orang bukan perusahaan, berarti ada penyelewengan hak asuh Unyil. Lihat lah hidup Pak Raden, belum menikah pula. Jangan lah direbut juga haknya,” tegasnya.

Leony bangga masih setia mengikuti Unyil. Mulai dari versi TVRI , sempat vakum 12 tahun sampai hadir lagi di Trans 7.

“Aku tau Unyil dari kecil loh, sampai terbit lagi. Siapapun yang miliki Unyil, keciptratan keuntungan hak siarnya. Makanya saling berebut. Wajarlah ketenaran Unyil bawa banyak sponsor,” terangnya.
“Waktu kecil aku sibuk ngartis jadi nggak mudah nonton TV, apalagi dulu stasiun TV sedikit. Nonton Unyil buat senang-senang sampai sekarang. Anak kecil senang boneka tangan, apalagi tokoh-tokohnya dikenal dengan karakter yang kuat,” tutur bekas pacar Eross ‘Sheila on 7’ ini. INS

Usai Tembak Rekan Bisnis Bandar Sabu Bacok Polisi

MEDAN- Bandar narkoba jenis sabu-sabu dan pil ekstasi dibekuk Polsekta Medan Barat dari Jalan Sei Kata, Gang Madrasah, Kelurahan Karang Berombak, Medan Barat, Sabtu (21/4) sore sekira pukul 14.30 WIB. Dalam penggerebekan itu, ditemukan sabu-sabu seberat 1 ons dan 30 butir pil ekstasi.

Penggerebakan itu dilakukan polisi setelah menerima laporan, Ilham alias Lukem (42), warga Jalan Sei Kata Kelurahan Karang Barombak, Medan Barat. Ilham melapor ke Polsekta Medan Barat karena ditembak Iskandar Zulkarnaean (42) di rumah pelaku sekira pukul 08.30 WIB.

Ilham ditembak dengan air soft gun. Akibat penembakan itu, Ilham mengalami luka di bagian tulang kering sebelah kanannya dan terpaksa menjalani perawatan di RSU Pirngadi Medan.

Usai mendapatkan perawatan di rumah sakit milik Pemko Medan tersebut, Ilham dibawa polisi menggerebek pelaku di rumahnya.

Saat petugas hendak membekuk, ternyata pelaku melawan. Pintu pagar rumah setinggi dua meter digembok. Tak habis akal, polisi membuka gembok pagar dengan paksa menggunakan martril. Setelah gembok pagar terbuka, pelaku berusaha menahan pintu hingga terjadilah aksi saling dorong pintu pagar.

Tak mau kehilangan buruannya, belasan personel yang ketika itu bertugas saling membagi tugas. Seorang polisi, Brigadir Erdianto (32) memanjat pintu gerbang, meloncat hendak menerkam pelaku. Tetapi Iskandar menyambut pelaku dengan sebuah parang, akibatnya Erdianto mengalami luka bacok dan langsung di bawa ke RSU Imelda, Medan. Di rumah sakit itu luka yang dialami Erdianto diketahui sepanjang 9 jahitan di kepala sebelah kanannya,.

Insiden itu langsung membuat kegaduhan. Iskandar masih melakukan perlawanan dengan berteriak rampok. Begitupun, pelaku akhirnya diam setelah dibekuk polisi dan diborgol.

Bersamanya turut diamankan Edwar Nasution (39). Sedangkan Iqbal yang sempat melarikan diri, ditangkap tak lama kemudian.

Dari kamar tidurnya tersangkan ditemukan sepucuk pistol jenis air soft gun, 1 ons lebih sabu-sabu diperkirakan senilai Rp100 juta, 30 pil ekstasi, alat penghisap sabu-sabu, parang, martil dan Honda Jazz hitam plat toko. Akhirnya pelaku bersama barang bukti dibawa ke Mapolsekta Medan Barat untuk pemeriksaan.

Amatan Sumut Pos di rumah pelaku yang diketahui sebagai bandar sabu-sabu itu, penangkapan menjadi tontonan warga. “DIa pemasok (narkoba, red) Bang,” ujar seorang warga yang namanya enggan dikorankan.

Sumber itu juga menyebutkan, pelaku yang memiliki sembilan rumah serta punya mobil mewah itu, selama ini jarang bergaul dengan warga sekitar.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Barat AKP Antony Simamora membenarkan kalau Iskandar merupakan bandar narkoba. Hingga kini, polisi terus mengurai jaringan Iskandar.

Setelah Iskandar dibekuk polisi, istrinya, Yeni (24) menyambangi Malposekta Medan Barat. Wanita bertubuh langsing itu mengungkapkan kalau Ilham yang ditembak suaminya merupakan mitra Iskandar dalam bisnis sabu-sabu. “Dia (Ilham, red) sendiri Bandar sabu,” ucap wanita berparas manis berkulit putih itu.

Ditanya beberapa lama suaminya menjadi bandar sabu, Yeni tidak memberikan komentar lalu bergegas meninggalkan wartawan.(gus)

Kronologi

 08.00

Ilham ditembak dengan air soft gun di tulang kering kaki kanan setelah cekcok di ruang tamu rumah Iskandar, pelaku.

09.00

Ilham berobat ke RSU Pirngadi kemudian membuat laporan pengaduan ke Polsekta Medan Barat.

14.00

Rumah Iskandar yang berpagar setinggi dua meter serta ditutup fiber diincar belasan polisi untuk dilakukan penggerebekan.

14.30

  • – Polisi menggerebekan Iskandar melawan. Brigadir Erdianto memanjat pagar dan menerkam tetapi Iskandar Iskandar melawan dan menebaskan parang.
  • – Iqbal kabur dari rumah Iskandar. Setelah Pintu terbuka, pelaku dibekuk polisi yang berteriak rampok
  • – Rumah digeledah, ditemukan pistol air soft gun, sabu-sabu 1 ons, alat hisap sabu-sabu, dan 30 butir pil ekstasi.
  • – Pelaku dan Edwar dibawa ke Mapolsekta Medan Barat

Sumber Olahan Sumut Pos