Home Blog Page 13618

Tak Ada Bunga Melati di Pajak Melati

Ramadhan Batubara

Kali ini soal nama. Ada banyak nama tempat di Indonesia ini yang tidak sesuai dengan namanya. Di Medan, nama Pajak Melati menggugah penasaran saya. Maka, kemarin saya datangi tempat itu.

Pukul setengah tiga sore. Saya pacu Lena membelah jalanan kota. Saya sangat percaya diri dengan kondisi si Lena. Pasalnya, sepeda motor keluaran tahun 2004 itu sehari sebelumnya telah saya servis.

Dari Jalan Panglima Denai (tempat tinggal saya) hingga Jalan Brigjen Katamso perjalanan sangat lancar. Begitu juga ketika berbelok ke Jalan Avrost. Bahkan, saya sempat membeli lima potong tahu yang ramai dijual di seputaran jembatan yang ada di Jalan itu.

Tapi, begitu melewati pos penjagaan dan berbelok ke kiri menuju Jalan SMA 2, si Lena tiba-tiba merajuk. Dia mogok. Sial. Saya cek bensin masih penuh. Saya lihat busi, tak bermasalah. Ampun, mendorong pun jadi langkah terakhir.

Sekira 500 meter dari SMA 2, ada bengkel. Saya mampir di sana dan berharap Lena dapat disembuhkan. Pajak Melati tujuan saya masih jauh. Ah…tukang bengkelnya kurang menjanjikan. Dia tak mendengar keluhan saya, dia malah sibuk membongkar Lena hingga bugil. Mau jam berapa lagi tiba di Pajak Melati!

Dua puluh ribu ongkos obati si Lena. Fiuh. Kata sang tukang bengkel, tenggorokan Lena agak sakit, jadi kurang lancar dia minum bensin. Sudahlah.

Berangkat. Tiba di Pajak Melati pukul lima. Sudah mulai sedikit pengunjungnya. Namun, para penjaja barang-barang bekas dari luar negeri itu tetap saja semangat. Saya masuk gang yang penuh dengan baju. Terus masuk ke dalam dan saya dapati berbagai barang yang menggoda. Bayangkan saja, di atas baju yang ditumpuk, terpampang harganya: sepuluh ribu tiga.

Saya masuk ke subgang; ada banyak gang di gang yang saya masuki tadi. Dan, saya memilih duduk di sebuah lapak yang telah tutup. Di sinilah saya menulis lantun ini. Menarik. Ada suasana yang menyenangkan; di samping saya ada dua bapak main catur. Hahahah… Mereka kurang fokus, langkah mereka beberapa kali terhenti karena ada pembeli.

Begitulah, duduk di jantung Pajak Melati, saya kembali berpikir soal nama tempat ini. Pasalnya, sejak tadi saya tak melihat ada yang menjual bunga melati. Pajak ini — bahasa Indonesianya, pasar — hanya menjual barang bekas impor. Berbagai barang terpampang, semuanya dijual dengan harga miring. Suasananya mirip Pasar Ular di Jakarta, bedanya di sana cenderung menjual barang elektronika dan parfum impor. Di sini, ya itu tadi, baju dan sepatu.

Persis dengan Pasar Ular, beberapa kali ke sana, saya memang tak menemukan pedagang yang menjual ular. Jadi, saya pun paham kalau di sini tak ada yang jual melati.

Soal nama yang berbeda dengan apa yang dijual memang tidak asing lagi. Selain Pajak Melati, di Medan juga ada Pajak Ikan yang sama sekali tidak menjual ikan: suatu saat saya akan ke sana.

Nah, ada juga nama tempat — yang menggunakan nama ‘pasar’ — yang cenderung sesuai dengan barang yang dijual. Contohnya, di Solo. Di sana ada Pasar Kembang dan yang dijual memang kembang. Tidak aneh bukan? Tapi, selang beberapa puluh kilometer ke arah barat, ada juga Pasar Kembang tepatnya di Jogja. Di kota itu, Pasar Kembang juga menjual kembang, tapi kembang yang dimaksud adalah ‘kembang’. Hehehehe, perempuan maksudnya. Ya, Pasar Kembang di Jogja memang dikenal dengan wisata seksnya.

Tapi, itulah nama pasar atau pajak yang menggoda pikiran saya. Pajak Melati adalah ruang yang menarik di kota ini. Kemunculannya sebagai tempat barang bekas impor memang terhitung baru. Sebelumnya, Jalan Mongonsidi adalah raja barang-barang itu. Bahkan, ruang jual di sana begitu indentik dengan barang bekas. Hingga, barang bekas impor pun dinamakan dengan Monza yang merupakan akronim dari Mongonsidi Plaza.

Nah, kehadiran Pajak Melati, secara langsung atau tidak telah menggeser keberadaan ‘plaza’ di Jalan Mongonsidi. Di jalan itu, kini hanya tinggal beberapa kios. Dan barang yang dijual pun semakin terbatas, hanya tas dan ambal.

Tapi sudahlah, kunjungan saya ke Pajak Melati memang harus berakhir. Ada batasan waktu. Kalau saja Lena tak mengulah, mungkin saya bisa lebih lama ‘mengobrak-abrik’ pajak itu. Saya pulang. Ada nasi goreng dengan andaliman yang menunggu saya di Kafe Tradisi di Jalan Setia Budi. Ada yang mau ikut? (*)

Curang, SSB PTP Wil-I Batal Juara DNC

MEDAN- SSB PTP Wil-I gagal berlaga di Jakarta dalam ajang kualifikasi Danone Nation Cup (DNC) 2012 tingkat nasional. Pasalnya, panitia DNC 2012 mendiskualifikasi SSB PTP Wil-I setelah menerima pengakuan dari pengurus SSB tersebut terkait pemalsuan dokumen yang dilakukan orangtua siswa pada rapat mediasi antara pengurus SSB PTP Wil-I dengan pengurus SSB Mabar Putra di Sekretariat PSSI Sumut, Sabtu (21/4).

“Kami tetap menghargai niat baik pengurus SSB PTP Wil-I yang mengakui kesalahan itu, tapi kami tetap mendiskualidfikasinya,” kata Suryadi, ketua panitia pelaksana kepada wartawan usai rapat. Adapun dokumen siswa SSB PTP Wil-I yang dipalsukan adalah milik Benny Wahyudi, Waizul Fahri Purba dan M Prayoga Tarigan.

Suryadi juga menambahkan, untuk kelanjutannya panitia akan menyerahkannya ke Pengurus PSSI Sumut. “Kita akan menyerahkan berita acara ini kepada PSSI Sumut, dan Panitia Pusat DNC terkait siapa yang akan menggantikan SSB PTP Wil-I mewakili Sumut ke Jakarta,” katanya.

Ruslan Manajer SSB Mabar Putra mengatakan, jerih payah mereka dalam mengumpulkan bukti-bukti pemalsuan dokumen itu adalah untuk mewujudkan kebenaran. “Hal ini kami lakukan bukan semata-mata ambisi kami untuk ikut ke tingkat nasional, tapi untuk membuktikan adanya kecurangan ini,” katanya.

Ahmad Harris Siregar Manajer SSB PTP Wil-I meminta maaf kepada semua pihak yang dirugikan. “Tapi kami mohon kepada PSSI Sumut, jangan gara-gara tiga orang anak yang berbuat, SSB yang kena imbasnya. Karena, tidak mudah untuk mendirikan sebuah SSB,” katanya.(mag-10)

RSU Pirngadi Siap Digugat

Terkait Meninggalnya Bayi 7 Bulan

MEDAN- Terkait dengan meninggalnya Anastasya F Situmeang, bayi perempuan berusai tujuh bulan, anak pasangan Mualtua Situmeang (33) dan Rini Oktaviani Sinaga (25), warga Jalan Pelajar Ujung Gang Sederhana, Medan, pihak keluarga rencananya kembali mendatangi RSU Pirngadi Medan.

“Lusa atau Selasa (24/4) kami akan mendatangi RSU Pirngadi Medan untuk mempertanyakan kasus yang menimpa anak kami, Anastasya alias Tasya ini,” kata Mualtua Situmeang didampingi Rizal Sihombing SH, pengacara keluarga korban dari Kantor Hukum Hombing Rizal & Rekan serta Pengurus Marga Situmeang se-Sumut, Sugianto Situmeang dan Pengurus Marga Situmeang se-Kota Medan, Israel Situmeang, Sabtu (21/4).
Rizal Sihombing menambahkan, pihaknya tak terima dengan sikap dari manajemen rumah sakit yang meninggalkan ruangan rapat begitu saja.

“Ini jelas-jelas penghinaan karena mereka meninggalkan ruang rapat begitu saja. Kalau tak ketemu jalan keluar, seharusnya rumah sakit jangan meninggalkan ruangan,” sebutnya.
Dia berpendapat, sepertinya ada unsur sengaja dan kelalaian yang memang terjadi. Sehingga, kasus ini akan tetap dibawa ke ranah hukum.

Hal senada diucapkan Sugianto Situmeang. Sugianto mengaku, itikad baik dari rumah sakit tak ada sama sekali.

“Rumah sakit dinilai sesuka hatinya dan sudah jelas pihak Marga Situmeang dan Sinaga datang ke rumah sakit, malah mereka meninggalkan ruangan begitu saja. Kalau pun tak ada ketemu jalan penyelesaian, setidaknya mereka jangan pergi begitu saja,” sebutnya.

Ditambahkannya, mereka akan datang Selasa lusa dengan jumlah yang lebih banyak lagi. “Kami akan datang kembali Selasa lusa mempertanyakan ini kepada pihak rumah sakit. Jika tetap mereka tak ada itikad baik dan permintaan maaf, kita akan tetap membawa kasus ini ke ranah hukum,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak RSU Pirngadi Medan menyerahkan sepenuhnya apa yang dilakukan pengacaranya keluarga Situmeang, Jumat (20/4) semalam. Demikian diutarakan Kasubbag Hukum & Humas RSU Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin, Sabtu (21/4).

Dia menerangkan, untuk lebih pastinya, silahkan tanyakan langsung kepada pengacara keluarga bayi tersebut. “Untuk lebih pastinya, silahkan tanya langsung saja kepada pengacaranya karena semua sudah saya jelaskan kepada pengacaranya,” ujarnya.

Sementara itu, Rizal Sihombing SH, pengacara dari pihak keluarga dari Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PERADI, saat dihubungi via telepon selulernya mengatakan, pihak RSU Dr Pirngadi Medan memang sudah ada menyampaikan kepada dirinya bahwa mereka tak mau bertemu kembali dengan keluarga Tasya. “Pihak rumah sakit yang diwakili oleh Kasubbag Hukum dan Humas mengatakan, mereka tak mau ketemu lagi. Tak hanya itu, mereka juga siap jika ini dibawa ke ranah hukum,” jelasnya.(jon)

Berlusconi Gelar Pesta Seks Lagi

MILAN – Kebanyakan para politisi mulai kehilangan pamor gara-gara skandal seks. Namun, tidak bagi mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Bos AC Milan ini mengatakan, dirinya akan menggelar lagi “Pesta Bunga-Bunga” yang sering disebut media sebagai pesta seks.

Pria berusia 75 tahun itu melontarkan komentar yang cukup mengejutkan di pengadilannya yang digelar di Kota Milan, Italia.
Berlusconi sebelumnya menepis tuduhan dari seorang saksi mata yang mengatakan, “Pesta Bunga-Bunga” yang digelar di villa Berlusconi adalah pesta seks. Mantan Perdana Menteri itu mengatakan dengan lantang, dirinya akan menggelar lagi “Pesta Bunga-Bunga”.

“Saya akan menggelar pesta itu untuk yang kesekian kalinya,” ujar Berlusconi, seperti dikutip Daily Mail, Sabtu (21/4).

Seorang model bernama Imane Fadil menceritakan kesaksiannya saat dirinya datang ke pesta yang digelar oleh Berlusconi. Fadil mengklaim, banyak penari telanjang di pesta yang digelar di ruang bawah wanah vila milik Berlusconi itu.
Fadil menjelaskan secara detil, aksi perempuan yang mengenakan seragam tim sepak bola AC Milan melucuti seluruh pakaiannya, hingga mereka hanya mengenakan pakaian dalamnya.
Dalam prosesi pengadilan, Berlusconi juga diserang dengan pertanyaan mengenai uang yang ditransfer olehnya kepada para perempuan yang hadir di pestanya.

“Ya, saya mengurus perempuan-perempuan yang hidupnya sudah dirusak karena dakwaan. Satu-satunya kesalahan mereka adalah menerima undangan dan datang ke rumah saya. Beberapa di antara mereka kehilangan kekasihnya,” imbuh Berlusconi.

Berlusconi mengaku, perempuan-perempuan itu menari-nari di ruang bawah tanah rumahnya karena tempat itu merupakan diskotik milik Berlusconi. (net)

Emas Raib Ditemukan Luka Wanita Tua Tewas Telungkup

MEDAN- Refina br Lumbangaol (79), warga Gang Darmo Ujung Dusun X Desa Bangunsari Kecamatan Tanjungmorawa Kabupaten Deliserdang ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumahnya, Jumat (20/4) 09.00 WIB. Diduga korban tewas dibunuh karena saat ditemukan bagian kening terdapat luka, sedang kedua kaki tertekuk. Selain itu sejumlah perhiasan milik korban, berupa cincin, gelang dan kalung hilang.

Disebutkan, sebelumnya Refina Br Lumbangaol tinggal sendiri di rumahnya. Jumat pagi kemarin, tetangga korban curiga karena korban yang disapa dengan Op Jonson itu tak kunjung keluar dari rumah seharian.
Warga mencoba memperhatikan isi rumah Op Jonson.

Setelah diintip dari celah pintu belakang kamar mandi terlihat adanya kaki dengan keadaan tergelatak, namun tidak bergerak.

Kecurigaan itu membuat tetangga memanggil anaknya untuk membuka pintu rumah korban. Anak keempat dari korban, P Nainggolan (42) warga Desa Bangun Sari, selanjutnya mendatangi rumah korban dan mendobrak pintu, sehingga diketahui bahwa Refina Br Lumbangaol tewas tergeletak di dalam kamar mandi. Saat ditemukan, tubuh korban telungkup, dan bagian kening terdapat luka, sedang kedua kaki tertekuk.

Namun setelah disemayamkan, pihak keluarga curiga dengan raibnya perhiasan emas Refina Br Lumbangaol. Setelah berdiskusi, akhirnya pihak keluarga membuat pengaduan ke Polsek Tanjung Morawa, Jumat (20/4) pukul 23.30 WIB. Dalam pengaduan itu disebutkan, kematian korban dinilai tidak wajar dan diduga dibunuh, sedang perhiasan emas yang biasa dipakainya berupa cincin, gelang dan kalung seberat 100 gram, raib dari tubuh korban.
Mendapat pengaduan itu, pihak Polsek Tanjung Morawa kewalahan untuk melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), karena jenazah korban sudah dimandikan, sedang tempat ditemukannya Refina Br Lumbangaol tewas, sudah rusak. Untuk membuktikan kecurigaan itu, pihak Polsek menganjurkan agar jenazah Refina Br Lumbangaol di otopsi saja.

Akhirnya Sabtu (21/4) pagi, oleh pihak keluarga, jenazah Refina Br Lumbangaol diotopsi di RSU Pirngadi Medan. Kapolsek Tanjung Morawa AKP Telly Alvin SiK bersama Kanit Reskrim Iptu Adi Alfian, Sabtu (21/4) membenarkan bahwa jenazah Refina Br Lumbangaol akhirnya diotopsi untuk membuktikan kecurigaan itu. (jon/btr)

Korban Linglung, Perhiasan Asli Ditukar Emas Palsu

Hipnotis di Dalam Angkot Kembali Terjadi di Medan

MEDAN- Aksi penipuan dengan cara menghipnotis kembali terjadi di Medan. Kali ini korbannya, B boru Sirait (50) warga Jalan Sunggal. Sirait tanpa sadar memberikan 16 gram emas miliknya kepada pelaku dengan imbalan mendapat gelas emas palsu.

Menurut pengaduan korban di Polsekta Medan Sunggal, Sabtu (21/4) siang sekitar pukul 14.00 WIB itu Sirait menumpangi angkot dari Jalan Gaperta menuju tempatnya bekerja di Jalan Asrama. Di dalam angkot karyawan PT Satria Padang Teritis ini dikerumuni 3 penumpang lainnya. Ketiga penumpang itu mengajak nya mengobrol.

“Mereka bertiga terus mengajak aku ngobrol lalu menyebutkan kalau ada emas di bawah kaki ku,” kata B Sirait menceritakan koronoligis penipuan yang dialaminya itu.

Sirait awalnya tidak menggubris apa yang disebutkan ketiga orang itu. Lama kelamaan wanita tua ini penasaran. Lalu ia mengambil gulungan kertas di bawah kakinya dan membukanya. Sirait sempat kaget begitu mengetahui dalam bungkusan yang dibukanya itu terdapat gelang emas lengkap dengan surat pembeliannnya sebesar Rp16 juta.

“Aku lihat dan buka gulungan kertasnya ternyata ada emas di dalam nya, seketika itu aku kaget dan lupa semuanya,” akunya.

Melihat B Sirait merasa panik, kesempatan itu dimanfaatkan ketiga orang tadi menghipnotisnya. Mereka menyarankan kepada B Sirait untuk membagi temuannya itu kepada mereka. Caranya, emas 16 gram yang dipakai B Sirait diberikan kepada mereka bertiga untuk dibagi sedangkan emas dalam bungkusan itu menjadi milik korban. Tawaran itu jelas tidak disia-siakan B boru Sirait. Ia langsung menyerahkan emas perhiasannya masing-masing 10 gram perhiasan kalung, 5 gram perhiasan gelang dan 1 gram anting-anting yang ditotal bernilai puluhan juta rupiah.

“Kalung ku dan gelang serta antingku hilang semuanya, oalah..! tuhan di mana ku!” rintih wanita tua ini.

Kanit Shabara Polsekta Medan Sunggal AKP P Bangun yang menyaksikan B Siarit menangis mencoba menenagkan korban. “Udah lah bu, sabar kita akan kejar pelaku nya di mana pun mereka berada,” kata perwira berkumis ini.
Sedikit mengingatkan, aksi hipnotis di atas angkot seperti ini sudah sering terjadi. Masyarakat harus lebih waspada bila mengalami kejadian aneh seperti yang dialami B boru Sirait.

“Masyarakat harus waspada dengan orang-orang yang belum kita kenal saat menaiki angkot, dan lihat gelagatnya, jika mencurigakan segera melapor ke kantor polisi terdekat atau petugas lainnya, ” saran Kasi Humas Medan Sunggal, Aiptu P Sirait.(cr-5/smg)

Megawati Soekarnoputri Ingin Putrinya Jadi Presiden

KETUA Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berharap putrinya, Puan Maharani, mengikuti jejaknya dalam berpolitik. Termasuk nantinya bisa jadi Presiden seperti dirinya.

“Tentu harapan seorang ibu kepada anak-anaknya menjadi yang terbaik. Bukan Puan satu-satunya, tapi saya berkeinginan kaum perempuan lainnya yang bisa jadi kandidat (presiden),” kata Mega di gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Sabtu (21/4).

Dia juga berharap, perempuan mendapat dukungan penuh agar bisa maju sebagai pemimpin. Faktor lain yang tak kalah penting adalah kemauan perempuan sendiri untuk maju.

Kata dia, kalau hanya sekadar menunggu agar ada ruang untuk terbuka maju tentu tidak akan terjadi.

“Nah, sekarang ini dominasi masih ada di kaum laki-laki, ini yang harus bisa jadi sebuah mitra untuk bekerja sama,” ungkapnya.

Memanfaatkan momen perayaan hari Kartini, Mega menaruh harapan besar kepada perempuan Indonesia. Tidak hanya menjadi pemimpin pada 2014 mendatang, namun juga untuk masa-masa selanjutnya. Dia menilai, kaum perempuan saat ini harus lebih dimaksimalkan.

“Kalau gerakan untuk membangun kaum perempuan masih kurang. Sasarannya wanita di pedasaan yang ruangnya masih sangat sempit, ekonomi, sosial, culture, dan adat istiadat,” pungkasnya. (net)

 

Tuan Rumah Tumbang, Harapan v Mikroskil di Final

Turnamen Basket UMSU Cup 2012

MEDAN- Pil pahit harus ditelan UMSU. Tim basket putra dan putrinya gagal memenuhi asa untuk meraih titel juara Turnamen Basket UMSU Cup 2012. Tim putra gagal meraih tiket final setelah pada laga tunda di Lapangan Basket UMSU ditundukkan Harapan 65-66, Sabtu (21/4). Sementara tim putri menyerah di tangan Cendana 31-41.

Pada final putri, UMSU sempat mendominasi. Di kuarter awal, dua kali three point shoot Ayu mengejutkan Cendana. Tuan rumah bahkan sempat unggul 12-3 di kuarter awal. Namun pasca Devi cedera, UMSU keteteran. Kuarter kedua menjadi awal kebangkitan Cendana. Bergantian Angelina, Vivia dan Flo menyumbangkan angka hingga Cendana mulai menipiskan selisih angka. Tembakan tiga angka Yulia semakin memantapkan semangat Cendana.
Begitupun UMSU masih mampu menjaga keunggulan 25-18 di akhir kuarter kedua lewat aksi Kiki. Sial bagi UMSU, Kiki justru terkena foul trouble sehingga membuatnya bermain hati-hati. UMSU semakin lengah di dua kuarter sisa. Pressing ketat tim besutan Edy membuat Ayu dkk kerap melakukan kesalahan sendiri. Cendana berbalik unggul 28-27 lewat lay up Elisabeth.

Di kuarter penentu, UMSU masih menyimpan semangat untuk bangkit. Wenny sempat menipiskan selisih leeway lay upnya 31-36. Permainan all out Cendana berbuntut cederanya tiga pemain kunci Cendana yang beberapa kali harus ditarik keluar. Namun UMSU tak mampu mengejar defisit angka hingga laga berakhir 41-31.

Pelatih Cendana Edi mengatakan kunci kemenangan timnya ada pada semangat dan mental juara. “Anak-anak semangat. Meskipun beberapa pemain kita sempat cedera. Mental juara kita punya. Apalagi kita terus menekan di dua kuarter sisa. Saya sangat puas,” katanya.

Sementara Pelatih UMSU, Adi mengaku cederanya Devi sangat mempengaruhi performa anak asuhnya. “Kita sempat leading 12 angka. Tapi sejak Devi cedera anak-anak keteter. Nelly dan Wenny juga tidak fit. Tapi secara keseluruhan saya puas karena ini final pertama tim kami. Pemanasan yang baik untuk Libama,” katanya.

Pertarungan dramatis terjadi pada perebutan tiket final putra yang sebelumnya harus ditunda karena hujan. Harapan langsung menggempur dengan tiga angka Hardi yang membuat selisih 39-34 di kuarter kedua. Harapan bahkan semakin percaya diri dengan beberapa tembakan tiga angka Johanes dan Hardi hinggs meninggalkan UMSU 10 angka di kuarter ketiga.

UMSU nekat memasukkan kapten tim Irwan Fahmi yang terkena foul trouble. Benar saja Irwan menjadi kunci dilengkapi beberapa aksi ciamik Dani dan Fadil dalam mengejar defisit. Ketegangan memuncak saat Irwan yang sukses melakukan lay up mendapat satu free throw saat laga tersisa 27 detik. UMSU berbalik unggul 65-64. Tapi Irwan akhirnya tak dapat menghindari foul out. Aksi Suharto secara dramatis membuat UMSU tertunduk lesu dengan keunggulan setengah bola 66-65.
Pelatih Harapan, Ruben mengakui materi pemain UMSU lebih baik dari timnya. “Dari beberapa kali sparing kami juga kalah. Tapi dengan motivasi kami bisa memenangkan pertarungan ketat ini. Untuk final kami harus jaga stamina dan kami yakin bisa mengatasi Mikroskill,” tandasnya. (mag-18)

Juara, SSB Generasi Kosek ke Jakarta

Manchester United Premier Cup 2012

MEDAN- SSB Generasi Kosek akhirnya berhak mewakili Sumatera Utara untuk berlaga di ajang Manchester United Premier Cup 2012 yang akan digelar di Jakarta, Mei mendatang. Pasalnya, pada laga final kualifikasi yang digelar di lapangan Lanud Polonia Medan, Sabtu (21/4), SSB Generasi Kosek berhasil menundukkan SSB Gumarang lewat drama adu penalti dengan skor 5-3.

Sebelumnya, partai final ini sempat tertunda pada Jumat (20/4), karena tidak adanya lampu penerangan di lapangan Lanud Medan. Saat itu, pertandingan baru menyelesaikan babak pertama dengan skor 0-0.
Pada babak kedua yang digelar Sabtu (21/4) siang pukul 14.00 WIB, kedua tim kembali menuai hasil imbang, sehingga pertandingan terpaksa dilanjutkan dengan adu penalti.

Kelima algojo SSB Generasi Kosek yakni Handoko, Eki Fadlin, Andre Beazi, Ahmad Fauzi, serta Idris berhasil menjaringkan bola ke gawang SSB Gumarang. Sementara algojo SSB Gumarang, cuma tiga yang mampu menciptakan gol yakni Rico, Rizal dan Faisal, sehingga skor akhir 5-3.

Sumitro selaku pelatih kepala SSB Generasi Kosek, mengaku bangga atas prestasi yang ditorehkan anak asuhnya. Apalagi, sepanjang turnamen mereka tak sekalipun mengalami kekalahan. Dari tujuh pertandingan, mereka menang enam kali dan seri satu kali.

“Kami belum puas sampai di sini, karena masih banyak sisa pertandingan yang akan diselesaikan untuk meraih gelar jaura nasional mendatang,” katanya.

Sementara Nunuk selaku ketua panitia, mengucapkan selamat kepada SSB Generasi Kosek yang memenangkan kualifikasi Piala Manchester United Premier Cup itu.
“Rencananya Mei mendatang tim yang lolos akan diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti kualifikasi tingkat nasional,” terangnya.

Di Jakarta, SSB Generasi Kosek akan bersaing kembali dengan sembilan SSB se-Indonesia, yakni dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Padang, Pekanbaru, Balik Papan dan Papua Barat.(mag-10)

Teh Kelat di Ujung Sekarat

Teh Sidamanik yang dikenang sebagai “teh sumatera” sempat bakal tinggal sejarah. Pulau Jawa boleh bangga punya teh beraroma “wah”, tapi siapapun penikmat teh sulit lupa teh asal Sidamanik yang mendunia. Untungnya rencana konversi teh ke sawit cepat digagalkan. Menteri BUMN Dahlan Iskan kukuh mengerem niat mengonversi kebun teh yang dibuka sejak tahun 1900-an tersebut. Jika itu terjadi mungkin pencinta teh di dunia tak lagi bisa menyeduh teh yang kondang dengan rasa kelat di lidah ini.

ADA cerita menarik saat seorang pencinta teh yang “curiga” dengan kemasan merek “SIDAMANIK” yang dikemas oleh sebuah perusahaan bernama CV Bintang Timur Laut. Apakah teh merek itu hasil produk pabrik teh Sidamanik milik PTPN IV? Bagi penikmat teh sejati, merek teh kemasan itu bagai melempar ingatan atas sesuatu. Siapa pencinta teh yang tak tahu kebun teh di Sidamanik? Spontan ditanya, spontan jawabannya merujuk nama wilayah perkebunan teh di Simalungun.

Belakangan hari baru diketahui teh kemasan itu bukan produksi PTPN IV. Pengusaha yang melabelkan “Teh Sidamanik” sebagai cap produksinya itu membeli bahan baku teh hasil kebun Sidamanik milik PTPN IV melalui Kantor Pemasaran Bersama. Lewat kantor yang mengurusi dan menampung hasil produksi perkebunan negara untuk dilemparkan ke pasar domestik dan internasional itulah, si pengusaha membeli bahan baku teh kemasannya.

Jangan kaget bila merek “Teh Sidamanik” adalah magnet bagi para penikmat teh sejati. Wajar saja bejubel dari mereka yang langsung menanyakan kesahihannya. Tak ada yang salah bila sebatas “bertanya-tanya” karena para penikmat teh itu sebetulnya juga mencecap rasa khas teh Sidamanik dari merek kemasan tersebut. “Rasa kelat teh itu tak didapatkan dari teh asal manapun,” ujar seorang penikmat teh. Toh faktanya produsen teh kemasan itu juga tak asal mencomot merek, karena bahan utama dari teh yang mereka jual berasal dari jenis BOPF, RBO, dan Vessel yang tak lain produksi pabrik teh Tobasari dan Sidamanik.

Cerita teh asal Sidamanik barangkali tak pernah akan habis digali. Tapi cerita itu hampir saja menemui akhirnya bila rencana konversi teh ke kebun sawit tidak lekas digagalkan. Bagai rasanya yang langka, kisah perkebunan teh ini juga sudah melegenda bagi masyarakat Simalungun. Sebab tak semua perkebunan di Sumatera yang ditanami teh pada masa Kolonialisme Belanda. Teh adalah tanaman produksi yang mensyaratkan ketinggian dan kelembaban (humidity) tertentu agar terjaga sebagai tanaman yang sehat dan berproduksi bagus. Bila salah satunya tak bisa dipenuhi alamat mutunya akan anjlok.

Alih-alih bisa dijual mahal, daun teh malah bisa menumpuk di gudang. Keterpurukan inilah yang dialami PTPN IV sehingga terpicu rencana mengonversi kebuh teh menjadi komoditas sawit yang punya harga jual yang menggiurkan. Pengelola kebun teh di PTPN IV sadar betul karakteristik teh amat ditentukan oleh tanah dan iklim tempat tanaman tersebut tumbuh. Idealnya teh ditanam di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Teh di dataran tinggi Simalungun ditanam di ketinggian 800 meter dpl hingga 900 meter dpl. Daun teh yang ditanam di atas ketinggian 1.200 meter dpl sudah diteliti punya kualitas di atas rata-rata. Syarat itu pula yang dipunyai kebun teh di Pulau Jawa yang relatif menghasilkan teh berkualitas tinggi karena rata-rata ditanam di ketinggian lebih dari 1.200 meter dpl. Kendati tanah dan iklim yang berbeda juga diyakini bikin karakter teh di setiap perkebunan akan berbeda.

Apa yang bikin manajemen PTPN IV berpikir mengonversi kebun teh yang legendaris ini? Data menyebut PTPN IV kini tinggal mengelola tiga kebun teh di dataran tinggi Simalungun, yakni Kebun Bah Butong, Sidamanik, dan Toba Sari. Letak ketiga kebun ini berdekatan. Umumnya masyarakat Sumut mengenal produk teh dari tiga kebun itu sebagai teh Sidamanik. Asal sebutan itu tak lain karena secara geografis letaknya berada di Sidamanik, kecamatan di Kabupaten Simalungun. Akan tetapi sejak kecamatan itu dimekarkan, Kebun Toba Sari secara administratif berada di wilayah Kecamatan Pematang Sidamanik.

Sejarah mencatat Kebun Bah Butong adalah kebun paling tua yang dibuka oleh Nederland Handel Maatschappij pada 1917. Hanya saja pabrik tehnya bukanlah yang tertua. Pabrik tertua ada di Kebun Sidamanik yang dioperasikan pada 1926 atau lima tahun lebih dulu ketimbang pabrik di Kebun Bah Butong. Adapun Kebun Sidamanik justru baru dibuka oleh Handles Vereniging Amsterdam pada 1924. Dari seluruh kebun teh itu, teh Bah Butong boleh jadi paling terkenal di antara seluruh produksi teh dari kebun yang ada. Salah satu jenis teh produksi kebun itu yang dibanggakan adalah ‘Dust I Bah Butong’. Teh ini punya konsumen fanatik di Malaysia. “Saking fanatiknya, konsumen di sana nggak mau minum teh kalau bukan teh Bah Butong,” ujar seorang staf PTPN IV.

Kini kebun teh yang dibanggakan itu tinggal tiga areal saja. Dirasa cocok, dulunya pemerintah Kolonial Belanda membuka enam kebun teh di kawasan tersebut. Tiga kebun teh lainnya yakni Kebun Sibosar, Bah Birung Ulu, dan Marjandi, sudah beralihfungsi menjadi kebun sawit.

Menurut MA Pulungan, Manager Group Unit Usaha (GUU) V PTPN IV, yang menjadi bos dari para manajer kebun di Sidamanik, opsi mengalihkan kebun teh menjadi sawit itu lantaran perkebunan teh terus merugi. “Biaya produksi tak sebanding keuntungannya,” ungkap Pulungan. Biaya tinggi ditambah merosotnya harga teh dunia membuat pengelola PTPN IV memutar akal. Kebijakan mengganti teh menjadi sawit menjadi pilihan akhir. Alhasil luas kebun teh terus berkurang dari tahun ke tahun.

Jika pada 2000 masih ada 8.475 hektar yang menghasilkan 16.519 ton, lima tahun berselang tinggal 5.397 hektar dengan produksi sekitar 13.286 ton. Tak berhenti di situ, pada 2009 kebun teh yang ada tinggal 4.595 hektar dengan jumlah produksi 9.604 hektar. Pulungan menyimpulkan penurunan harga teh tahun 1990-an dipicu banyak hal. Faktor paling berpengaruh adalah membanjirnya teh bermutu rendah asal Vietnam. “Vietnam saat itu baru tumbuh sebagai negara produsen teh dunia,” tukasnya.

Kondisi inilah yang memicu kenapa produksi kebun teh kebanggaan Sumut ini dari tahun ke tahun semakin turun akibat konversi lahan. Begitupun tak yang banyak tahu bila teh yang mulai langka itu tetap diincar pembeli asal Eropa. Ini bukan retorika semata. Coba simak alasannya: teh kebun Sidamanik punya rasa yang kuat dan khas yang cocok menjadi komponen utama produk teh yang dijual prinsipal di Eropa. (Baca: “Dari Sidamanik ke Eropa”)

Banyak pula penggemar teh yang mengaku rasa teh asal perkebunan Sidamanik tak tertandingi teh dari kebun manapun. Rasa teh yang sepat di lidah alias kelat, serta menyisakan rasa yang begitu kuat, yang tak dimiliki teh dari perkebunan teh di Jawa sekalipun. (valdesz/candra/jpnn)

Dari Sidamanik ke Eropa

Siapa yang menyangka bila teh asal kebun Sidamanik sudah langganan produsen teh kemasan Eropa. Boleh jadi tak banyak yang tahu teh yang ditanam di kebun Bah Butong pernah menjadi komponen dari merek teh keluaran prinsipal Jerman, Hyllson and Lyon. Teh ini mulai mendapat tempat di hati penikmat teh asal Eropa pada 1986. Keunikan rasa teh Bah Butong membuat produsen teh kemasan itu mengikat kontrak panjang sebagai pelanggan teh Bah Butong. Sayang, entah apa sebabnya, kontrak itu diakhiri Hyllson and Lyon empat tahun kemudian.

Dari berbagai sumber dalam literatur sebelumnya, kemungkinan pemutusan kontrak itu lantaran mutu teh yang diproduksi kebun Bah Butong mulai tak terjaga mutunya. Ada sejumlah hal yang menjadi penilaian utama, yakni kualitas aroma, kekuatan rasa, dan warna teh. Uji kualitas yang ketat atau biasa diistilahkan quality control biasa diterapkan oleh para produsen asal luar negeri. Apalagi teh yang akan masuk ke Inggris. Negara yang amat dikenal sebagai negeri para peminum teh ini punya tradisi kuat minum teh. Saking mengakarnya tradisi itu, Inggris pula yang memopulerkan istilah “afternoon tea” sebagai penggalan waktu untuk minum teh sore hari. Inggris adalah kiblat teh dunia. Pengimpor terbesar bulk teh (teh yang belum dikemas) sekaligus eksportir terbesar teh kemasan. Inggris menjadi tempat di mana teh menempati kedudukan tertinggi sebagai jenis minuman.

Dari wawancara dengan media nasional beberapa tahun silam, Manajer Kebun Sidamanik Bambang Wisnu Wardoyo mengungkapkan, teh asal Sumut punya rasa kuat dan khas, yakni kelat tetapi tak terlalu pahit. Teh kualitas nomor satu dari tiga kebun yang ada jika diseduh dengan air hasil destilasi biasanya berwarna merah dunhill. “Ini yang tak ada di teh asal Pulau Jawa yang aromanya biasanya lebih unggul. Teh dari Sumut kuat di rasa,” ujarnya. Menurut Bambang, dengan cita rasa khas yang hanya dimiliki teh asal Sumut, sangat mungkin produk teh kualitas kelas satu dari ketiga kebun yang ada menjadi komponen merek dagang teh kemasan dari prinsipal di Eropa.

Kualitas teh secara umum terbagi dua, outer quality (warna, bentuk, dan berat) dan inner quality (aroma, kekuatan rasa, kesegaran, dan warna seduhan). Kualitas teh yang baik dihasilkan dari lapangan (kebun) yang baik. Dari pabrik, pengolahan teh terbagi menjadi dua metode, secara ortodoks dan curly teary crushing (CTC). Metode ortodoks menghasilkan teh jenis leafy (biasanya berupa kumpulan daun teh muda yang akan menjadi teh kualitas tinggi, khas aromanya), broken (berupa pucuk kedua dan ketiga daun teh, menghasilkan keseimbangan aroma, kekuatan rasa, dan kesegaran), serta smallgrade (berupa potongan terkecil pucuk daun teh, menghasilkan komponen warna teh seduhan). Sedangkan metode CTC biasa digunakan untuk bahan kemasan teh celup.

Indonesia menjadi salah satu produsen teh dunia yang khas (selain India) karena punya dua karakter teh berbeda. “Sama seperti teh India yang punya karakter teh India Selatan dan Utara. Menurut pembeli dari Eropa, teh Indonesia juga punya dua karakter berbeda, teh Jawa dan teh Sumatera,” ujar Bambang yang pernah sekolah “tester” teh di Inggris.

Sidamanik Dulu

Sidamanik adalah sebuah wilayah yang memiliki potensi hebat. Tanahnya subur, udara sejuk, air melimpah, dikelilingi oleh pegunungan yang di sebelah utara dikenal dengan pegunungan Dolok Simbolon. Di sebelah selatan dikenal dengan pegunungan Dolok Simanuk-manuk, dan di sebelah barat terletak pegunungan Simarjarunjung. Sidamanik dikelilingi oleh perkebunan raksasa milik PTPN IV, perkebunan milik negara yang hasil komoditinya banyak diekspor ke luar negeri. Ada teh, kakao, dan kelapa sawit. Paling dikenal adalah teh.

Bahkan pada masa Kolonialisme Belanda kawasan Sidamanik adalah areal perkebunan teh terbesar di Sumatera. Di kecamatan ini berdiri 4 pabrik teh yang mempekerjakan ribuan karyawan di Pabrik Teh Sidamanik, Bah Butong, Toba Sari, dan Bah Birong Ulu. Sayangnya setelah reformasi dan privatisasi BUMN, kebun teh ini dimerger dengan kebun Bah Jambi yang memproduksi kelapa sawit. Ribuan karyawannya terkena rasionalisasi alias pemutusan hubungan kerja, pensiun dini, dan ada juga yang dipindahkan ke kebun lain di daerah Kerinci.

Dulunya empat kebun teh banyak menyerap tenaga kerja pemetik teh. Tapi sekarang pekerjaan itu sudah digantikan mesin. Tak cuma itu pekerjaan menyemprot pupuk dan pembasmi hama juga menggunakan mesin. Semua sudah serba mesin. Jadi tak heran Pasar Sidamanik (atau orang setempat menyebutnya “pekan”) kini tak seramai dulu. Di Simalungun, Pasar Sidamanik yang satu-satunya punya tradisi “pekan” dua kali seminggu yakni Jumat dan Minggu. Para pedagang memanfaatkan kebiasan perkebunan teh yang menerapkan sistem dua kali gajian dalam seminggu. Gajian tiap dua minggu adalah “gajian kecil”. Gajian kecil dan gajian besar itu pula yang membuat banyak karyawan kebun berbelanja di Pasar Sidamanik. Apalagi saat gajian besar tiba. Pasar Sidamanik tumpah ruah oleh karyawan kebun yang didominasi oleh etnis jawa.

Sidamanik memiliki satu akses jalan raya yang membentang membelah dua kecamatan. Jalan raya adalah batas kecamatan dengan daerah Panei Tongah. Tak heran bila masyarakat di Pangkalan Buntu sebelah timur Sidamanik saling berhadapan rumah tetapi berbeda kecamatan. Jalan raya Sidamanik yang menuju barat akan melalui desa-desa kecil mulai dari Baharen, Sinaman, Kebun Tobasari, Sait Buttu, Manik Saribu hingga tiba di persimpangan jalan alternatif Parapat dan Kabanjahe (Tanah Karo). Jarak tempuh antara Sidamanik dan kota Parapat sekitar 40 kilometer. Bila jalan tetap terpelihara Anda bisa tiba tak lebih dari sejam di Danau Toba. (val/*)

Kebun Teh Simalungun Dipertahankan

BALIGE- Rencana PTPN IV untuk mengkonversi tanaman teh menjadi kelapa sawit di Kabupaten Simalungun kandas sudah. Soalnya Menteri BUMN Dahlan Iskan secara tegas menyatakan konversi tidak dilakukan melainkan akan mereflanting (penanaman ulang) teh kembali.

“Dari tiga unit kebun yang ditanami teh saat ini, ada 450 hektar di kebun teh Sidamanik sudah terlanjur ditumbang. Rencananya lahan ini akan kita uji coba dulu untuk menanam bibit teh jenis gambung 7 dan gambung 9,” ungkap Dahlan Iskan di sela-sela kunjungannya ke museum TB Silalahi Balige, Sabtu (14/4).

Dari hasil pertemuan Dahlan Iskan dengan jajaran Direksi PTPN IV di Hotel Tara Bunga Balige, Dahlan mendapat masukan bahwa tanamah teh yang ada di Kebun Sidamanik, Kebun Bah Butong dan Kebun Toba Sari usianya hampir mencapai 100 tahun. Dampaknya saat ini dua teh yang semula diharapkan bentuknya tipis sehingga mudah digulung sekarang menjadi tebal. Tak hanya itu rasanya juga sudah berbeda dari harapan. Dari hasil penelitian, hal ini disebabkan kerana pengaruh perubahan iklim sehingga dicari bibit teh yang sesuai dengan kondisi saat ini.

Kemudian dari sisi bisnis sambung Dahlan nilai jual teh yang dihasilkan harganya anjlok di pasaran. Hal ini tentunya membuat perusahaan merugi. “Kita sudah putuskan teh ini direplanting saja, kemudian kita tukar dengan tanaman baru. Sebab tanaman teh ini harus dilestarikan dan sudah menjadi ikon Kabupaten Simalungun,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu juga terungkap bahwa saat ini bibit teh gambung 7 dan gambung 9 sudah diperoleh. Sehingga akhir tahun ini atau paling lambat awal tahun depan sudah bisa ditanam.

“Jadi kita uji coba saja dulu mudah-mudahan empat tahun ke depan sudah nampak hasilnya. Jadi kalau ke depan hasilnya baik maka bisa saja Kebun Sawit Marjandi dan Kebun Sawit Bah Birong Ulu yang semula ditanami teh akan ditukar menjadi teh kembali,” tutur Dahlan.

Hasil yang diharapkan sambung Dahlan selain mendapatkan teh yang lebih baik sesuai dengan ciri rasa teh di daerah masing-masing, produksi teh secara keseluruhan bisa dicapai. Jika selama ini rata-rata produksi teh dua ton per hektar per tahun maka hasil yang diharapkan ke depan bisa mencapai empat ton per hektar per tahun.

“Inilah harapan kami, soalnya PTPN IV merupakan perusahaan milik negara yang orientasinya adalah menggali keuntungan sebanyak mungkin. Jadi kalau tidak kita reflanting dan perusahaan merugi, tetapi kami akan disalahkan oleh masyarakat,” katanya bercanda.

Sosialisasi reflanting teh akan terus dilakukan Dahlan. Soalnya akhir-akhir ini banyak kalangan yang menolak rencana PTPN IV yang akan mengkonversi teh menjadi kelapa sawit mendapat penolakan dari berbagai kalangan. Buntutnya terjadi demo dimana-dimana.
“Pak TB Silalahi lewat sambutan ini, saya juga menyampaikan kepada bapak dan undangan bahwa kebun teh yang ada di Simalungun tidak akan dikonversi dengan kelapa sawit tetapi kita replanting kembali,” ungkap Dahlan saat didaulat memberikan sambutan pada ulang tahun ke-4 museum TB Silalahi Center.

Dahlan bilang TB Silalahi sebagai tokoh batak banyak tahu tentang sejarah keberadaan kebun teh ini. Keputusan ini kata Dahlan semata-mata untuk mensejahterakan masyarakat batak terutama yang berada di sekitar kebun.

Seperti diketahui saat ini dari tiga kebun teh di Simalungun yakni Kebun Teh Sidamanik, Bah Butong dan Toba Sari. Luas keseluruhan mencapai sekitar 5.000 hektar. Untuk kebun teh Sidamanik dan Kebun Teh Bah Butong ditanam di ketinggian antar 800 hingga 900 meter di atas permukaan laut. Sedangkan Kebuh Teh Toba Sari berada antara 1050 – 1100 meter di atas permukaan laut.

Sebelumnya Kebun Teh Bah Birong Ulu dan Kabupaten Teh Marjandi sudah dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit sejak tahun 1996 dengan luas areal sekitar 4000 hektar. Di kedua kebun ini ketinggian tanah mencapai 700 meter di atas permukaan laut. Hasilnya, kini tanaman tersebut sudah berproduksi. (dra)