Home Blog Page 13621

Pengangkatan Honorer tak Memenuhi Syarat Harus Dibatalkan

MEDAN-Ada ditemukan manipulasi data dari 251 tenaga honorer yang diumumkan menpan lolos verifikasi tetapi kenyataannya tak sesuai dengan aturan, maka BKN harus segera membatalkan proses pengangkatannya menjadi CPNS.

“Masyarakat bisa melaporkannya ke Pemko Medan dan dari komplain masyarakat ini kita akan tindaklanjuti untuk melaporkannya ke pusat. Kita akan minta agar BKN tidak memproses pengangkatannya menjadi CPNS,” kata Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri, kepada wartawan di kantor Balai Kota Medan, Senin (1/4).

Dikatakannya, dirinya tak membantah jika saat ini ditemukan adanya dugaan manipulasi data dalam proses pengajuan pengangkatan tenaga honorer ke BKN pada 31 Agustus 2010 lalu.

“Saya tidak akan membantah temuan itu. Ini saatnya untuk uji publik. Silahkan saja dilaporkan, supaya tidak seenaknya. Masyarakat yang tahu itu tidak benar. Itu kan penetapannya dari pusat dan sekarang diuji publik. Makanya silahkan masyarakat untuk melaporkan apa yang mereka ketahui,” terang Syaiful.

Disebutkannya, sebaiknya saat ini tidak perlu mencari di mana terjadinya dugaan manipulasi data tersebut.
“Sekarang ini saatnya kita uji, kalau ada data yang tidak sesuai segera dilaporkan supaya bisa kita ajukan agar BKN membatalkan pengangkatannya,” tegas Syaiful.

Sebelumnya, dari penelusuran wartawan ditemukan dari 251 tenaga honorer yang lolos verifikasi, terdapat 24 tenaga honorer yang diduga memanipulasi data pengangkatan. Tenaga honorer yang bermasalah itu rata-rata berasal dari Dinas Pertamanan Medan.

Ketika dikonfirmasi ke BKD Medan, Kasubag Penerimaan dan Pensiunan BKD Medan, Andrian Saleh menyebutkan hingga saat ini pihaknya baru menerima satu pengaduan yang berasal dari Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran (P2K) Medan.

“Hingga saat ini baru satu pengaduan yang kita terima dari Dinas P2K yang lainnya seperti dari Dinas Pertamanan belum ada kita terima,” terang Andrian.
Dijelaskannya, pengaduan yang diterima dari Dinas P2K Medan itu masuk ke BKD Medan tanggal 10 April 2012. Pengaduan atas nama Rasiadi, yakni seorang tenaga honorer yang dinyatakan tak lolos verifikasi oleh Menpan. “Di Dinas P2K Medan kan kita usulkan tiga orang tenaga honorer ke Menpan, namun yang lolos verifikasi dua orang dan satu orang yakni Rasiadi tak lolos. Makanya, dia melakukan pengaduan dan akan kita tindaklanjuti ke BKN,” terang Andrian.

Andiran juga menjelaskan, pihaknya sudah dua kali menyurati BKN sebagai upaya untuk melakukan klarifikasi ke BKN terkait 162 tenaga honorer yang tak lolos verifikasi.

“Pertama kita surati tanggal 12 Desember 2011. Saat itu memang menpan belum mengumumkan secara resmi, tapi saat ada pertemuan di Bali kita sudah diberitahui bahwa dari 413 tenaga honorer di Pemko Medan yang diusulkan hanya 251 yang lolos. Kita sudah mengetahui ketika itu jumlahnya ada 162 yang tak lolos meski nama-namanya belum diumumkan. Makanya, setelah itu kita langsung mengajukan klarifikasi,” jelas Andrian.

Begitupun, hingga saat ini surat klarifikasi yang diajukan itu belum juga mendapat respon dari BKN. Bahkan, setelah diumumkan menpan tenaga honorer yang lolos verifikasi secara resmi, BKD Medan kembali mengirimkan surat klarifikasi ke BKN tanggal 9 April 2012. (adl)

Demo Korban Lapindo Rusuh

SURABAYA – Merasa tidak didengar, warga korban lapindo yang berdemo di depan kantor Gubernur Jatim berulah. Mereka merusak pagar berduri dan melempari petugas kepolisian yang berjaga dengan air mineral. Beberapa kaca juga pecah terkena lemparan.

Para demonstran ini datang ke kantor Gubernuran di Jalan Pahlawan sekitar pukul 14.00. Ratusan warga korban lumpur ini ingin bertemu dengan Gubernur Jatim Seokarwo. Sayangnya, di saat yang bersamaan Soekarwo sedang berada di acara Musrenbang Pemprov Jatim bersama seluruh Bupati/Walikota se-Jatim dan para menteri yang diundang. Otomatis, ia tidak bisa menemui para demonstran.

Awalnya, pengunjuk rasa ditemui oleh Asisten III Sekdaprov Jatim Edy Purwinarto.  Namun mereka merasa masih belum puas jika belum ketemu dengan Soekarwo. Selain itu, pengunjuk rasa juga meminta bertemu dengan Vice President PT Minarak Lapindo Jaya Andi Darussalam Tabussala. Karena permintaan ini tidak kunjung dituruti, warga yang berada di luar akhirnya memanas.

Korban lumpur yang marah ini akhirnya melemparkan botol dan gelas air mineral ke arah polisi. Bahkan ada yang melemparkan batu dan kayu ke arah petugas kepolisian. Lemparan warga ini membuat salahsatu kaca gedung yang berada di bagian depan pecah.
Melihat situasi tidak terkendali, polisi kemudian menyiramkan air melalui water cannon. Namun hal tersebut tidak membuat warga berhenti menyerang. Akhirnya polisi menembakkan gas air mata. Warga sempat menyerang balik, namun mereka akhirnya kocar-kacir.

Koordinator aksi Yudho Wintoko menyayangkan apa yang dilakukan polisi.Sebab demonstran yang datang bukan hanya laki-laki. Melainkan juga wanita dan anak-anak. Karena itu tindakan tersebut dianggap tidak manusiawi. Banyak anak-anak kecil yang mengeluh kesakitan dan perih di bagian wajahnya. “Seharusnya tidak perlu menggunakan gas air mata,” ujarnya.

Di sisi lain, Gubernur Jatim Soekarwo menegaskan bahwa Pemprov tidak bisa berbuat banyak. Sebab pemprov hanya bersifat sebagai jembatan saja antara warga dan PT MLJ serta pemerintah pusat. “Kami tidak bisa menekan PT MLJ, itu bukan kewenangan kami,” ujarnya. “Yang punya otoritas kan pemerintah pusat,” tambah Soekarwo.

Pemprov sendiri, ujar Soekarwo, sudah mengirimkan surat pada pemerintah pusat. Termasuk diantaranya ke Kementraian Pekerjaan Umum (PU). Saat ini pemprov sedang menunggu balasan dari surat tersebut. Jika nantinya para pengunjuk rasa meminta untuk difasilitasi ke Jakarta, maka akan dituruti. Namun hanya perwakilan saja. “Tapi janganlah merugikan (menutup jalan dan anarki Red),” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa PT MLJ tidak bisa meminjam uang ke Bank Jatim untuk membayar korban lumpur. Sebab ada isu bahwa PT MLJ berjanji membayar dengan menunggu uang pinjaman dari Bank Jatim. Karena itu warga kerap meminta pemprov untuk menyetujui rencana PT MLJ agar uang mereka segera terbayarkan. PT MLJ rencananya meminjam Rp 900 miliar dengan anggunan hanya Rp 200 miliar saja. “Bisnis itu antara jaminan dan pinjaman ada ilmunya sendiri, Bank Jatim sudah pasti tidak akan meminjamkan (uang pada PT MLJ Red). Jadi tidak perlu itu dipertanyakan lagi,” tegasnya. (sha/jpnn)

Naskah UN Kurang, Gandakan Sendiri

LUBUK PAKAM- Hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional, Senin (16/4) di Deliserdang diwarnai kekurangan naskah soal. Hal ini terjadi di SMA Negeri 1 Tanjungmorawa.

Untuk memenuhi naskah soal itu, pihak penyelenggara terpaksa menggandakan naskah soal yang ada dengan cara foto copy. Penggandaan itu langsung disaksikan Ketua Tim Pengawas Independen Unimed di SMAN 1 Tanjungmorawa, Maryati Salmiah MHum.

“Penggandaan soal tidak menyalahi juknis, karena khusus tahun ini, naskah soal dicetak sesuai jumlah  peserta UN,” ujarnya.
Hal ini bertujuan agar muridnya tidak ketinggalan dalam mengikuti UN karena kendala kurangnya naskah soal.

Terpisah, Kabid Dikdasmenjur Dispora Deliserdang, H Idris mengatakan kekurangan naskah UN dapat digandakan sesuai dengan petunjuk teknis UN.
Kemudian, penggandan itu dibuat berita acaranya. “Kekurangan itu mungkin salah hitung saat memasukan ke dalam amplop, itu kesilapan saat memasukan naskah,” katanya.

Ketika ditanyakan, berapa jumlah kekurangan naskah soal UN untuk Deliserdang H Idris tidak menjawabnya, dengan alasan pihak sekolah penyelenggaran UN belum memberikan laporan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga.

“Belum ada laporan dari pihak sekolah, mungkin setelah UN mereka akan membuat laporan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga,” katanya. (btr)

Siswa dan Guru Takut Jadi Sasaran

Konflik Sengketa Lahan Ganggu Pelaksanaan UN

LABUHAN DELI- Siswa SMA Negeri I Labuhan Deli yang mengikuti ujian nasional (UN) dihantui rasa ketakutan, Senin (16/4). Soalnya di sekitar sekolah puluhan massa yang membawa senjata tajam berseliweran mempertahankan tanah garapannya.

“Ujian kali ini suasananya tegang. Kami cemas karena takut menjadi sasaran bentrokan. Apalagi mereka sering sweeping di sekitar sekolah,” keluh salah seorang siswa yang mengaku bernama, Wahyudi.

Senada dengan Wahyudi para siswa lainnya juga mengaku kurang konsentrasi pada saat mengikuti UN. Di samping takut pada ancaman keselamatan jiwa mereka, banyaknya polisi yang melakukan pengamanan di lahan tersebut justru kian membuat para peserta UN menjadi kurang nyaman. “Konsentrasi agak terganggu aja tadi bang, soalnya pak polisi yang jaga di sini banyak kali,” ucap seorang siswi yang tak mau menyebutkan namanya.
Tak cuma para siswa saja yang merasa khawatir atas adanya keributan soal obyek lahan sengketa itu, para guru di sekolah negeri milik Pemkab Deliserdang juga diwarnai kecemasan. Bahkan para guru tak berani jika berjalan sendirian saat hendak datang maupun pulang dari SMA Negeri I Labuhan Deli.
“Kalau bentrok, tidak hanya siswa yang takut. Kami, guru-guru di sini, juga takut. Anak-anak terpaksa pulang ada yang dijemput orang tua mereka,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri I Labuhan Deli, Mulyadi saat ditanyai Sumut Pos.
Dia mengatakan, SMA Negeri I Labuhan Deli merupakan salah satu sekolah yang berada di dekat lokasi konflik antara warga dari kelompok petani dan massa dari kelompok developer “Dalam pelaksanaan UN ini sudah kejadian yang kedua kalinya, UN tahun lalu juga terjadi keributan soal sengketa lahan yang sepertinya tak ada habisnya. Dan ini jelas sangat mengganggu guru serta para siswa,” ungkap Mulyadi.

Sementara jumlah siswa yang mengikuti UN di sebanyak 80 orang. Ia berharap dalam pelaksanaan UN selama tiga hari ke depan nantinya tidak terjadi gejolak yang justru akan menimbulkan kerugian bagi para peserta UN dan para guru. “Semoga saja tak terjadi lagi bentrokan, sehingga anak-anak kami bisa tenang mengikuti ujian nasional,” imbuhnya.  Sementara, pantauan Sumut Pos di sekitar lokasi, seratusan pria dari pihak developer perumahan PT Agung Cemara Realty (ACR) dengan mempersenjatai dirinya tampak berjaga-jaga di sekitar lahan seluas 74 hektar tersebut.

Penempatan para pria tersebut untuk mengantisipasi kedatangan massa dari kelompok petani penggarap yang menuding pihak developer telah melakukan penyerobotan lahan milik mereka. Melihat situasi mulai kembali memanas, sejumlah personel Kepolisian dari Polres Pelabuhan Belawan dan Polsekta Medan Labuhan yang melakukan penjagaan ditambah. Bahkan akses jalan utama menuju ke SMA Negeri I Labuhan Deli dijaga ketat oleh petugas. Setiap warga yang akan memasuki areal lahan tak luput dari pemeriksaan polisi baik berseragam dinas maupun berpakaian preman.

Seperti diberitakan sebelumnya, perseteruan sengketa lahan seluas 74 hektar itu terjadi sebelumya setelah massa mengatasnamakan dari kelompok petani penggarap menuding PT Agung Cemara Realty (ACR) selaku perusahaan developer menyerobot lahan yang diklaim sebagai kepunyaan mereka. Sementara pihak developer yang rencananya akan membangun seribu unit perumahan di lahan dimaksud mengklaim tanah itu merupakan milik perusahaan yang telah membayar ganti rugi disebut-sebut kepada, Titin Cs selaku kelompok petani yang merupakan ahli waris terhadap lahan tersebut.

Namun, belakangan pada saat pihak developer mendirikan bangunan tiba-tiba seratusan massa yang juga mengatasnamakan dari kelompok petani penggarap, Selasa (10/4) lalu, melakukan penyerangan dan meruntuhkan bangunan pagar pembatas tanah yang telah dibangun PT ACR. (mag-17)

Kurir Sabu Dibekuk, Bandar Diburu

MEDAN- Petugas Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sumut menciduk Legiso Satpam Villa Jati Mas, yang merangkap sebagai kurir sabu- sabu.

Penangkapan warga Jalan Suluh, Kelurahan Siderejo, Kecamatan Percut Sei Tuan itu dilakukan dengan cara penyamaran oleh petugas di kediamannya, Sabtu (14/4) pagi, sekitar pukul 06.00 WIB.

Dalam penggerebekan itu turut juga disita 90,24 gram sabu, satu buah telepon genggam dan satu buah Surat Izin Mengemudi (SIM C)  sebagai barang bukti.

Setelah mengamankan tersangka, petugas kemudian melakukan pengembangan ke rumah yang diduga menjadi bandar sabu berinisial IC. Walau tak berhasil menangkap IC, dari kediamannya di Jalan Sering (dekat Jalan Suluh), petugas juga menyita dua paket sabu seberat delapan gram.
Kepada wartawan Legiso mengaku mendapat barang haram tersebut dari seorang pria bernama IC. “Barangnya dari IC, aku bertugas mengantar aja,” akunya. Ayah tiga anak ini mengatakan mendapat Rp25 ribu dari setiap satu gram sabu yang terjual.  “Aku dapat Rp25 ribu setiap satu gramnya,” bebernya sembari menyebut per gram sabu dijual dengan harga Rp850 ribu.

Menurutnya bekerja sebagai Satpam di Villa Jati Mas Jalan Perintis Kemerdekaan hanya bergaji Rp1 juta per bulannya. Sehingga tidak cukup membiayai tiga anak dan istrinya. “Hasilnya sebagai tambahan biaya bang. Mana cukup gaji satu juta dengan tiga orang anak,” ucapnya mengaku baru tiga bulan jalankan usaha sampingannya itu.

“Sudah kita amankan satu orang tersangka sebagai kurir,” kata Kombes Pol Andjar Dewanto, Direktur Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut.
Kata Andjar, saat ini pihaknya masih melakukan pengembangan untuk mengungkap keterlibatan Icang. “Masih kita kembangkan ya. Kuat dugaan dia (IC) terlibat dalam kepemilikan sabu itu,” sebutnya. Legiso dijerat pasal 114 Ayat (2) sub pasal 112 ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. (gus)

Siswa SD Tenggelam

LUBUK PAKAM- Angga (7) ditemukan tewas tenggelam di kolam renang milik PTPN III Sei Karang, Desa Tanah Merah, Kecamatan Galang, Minggu (15/4) sore, sekira pukul 14.30 WIB.

Jasad korban pertama kali ditemukan oleh warga. Sementara itu, ibu korban Halimah serta kerabat keluarga lainnya tengah duduk santai di kantin Kolam Renang.

Diduga korban tenggelam ke dasar kolam karena terjatuh. Jasad Angga ditemukan setelah tak bernyawa lagi.

Penemuan itu, lantas membuat Halimah sontak menangis. Lalu jasad Angga dibawa ke klinik perobatan terdekat untuk divisum. Kemudian jasad korban dimakamkan di rumah orangtuanya Desa Purwodadi, Kecamatan Pagar Marbau, Deliserdang.(btr)

Nyenggol, Pengemudi Avanza Dipukuli Massa

PANCURBATU- M Indrawan Satria Putra  (22) warga Jalan Semarang Lingkungan III Kelurahan Rambung Dalam, Kecamatan Binjai Selatan, Binjai babak belur dihajar massa setelah mobil Avanza BK 1743 GV warna hitam yang dikemudikannya bersenggolan dengan pengendara sepeda motor di Jalan Setiabudi Kelurahan Simpang Selayang, Medan Tuntungan, Minggu (15/4) malam sekira pukul 23.00 WIB.

Informasi yang dihimpun di Mapolsek Pancurbatu menyebutkan, malam itu Indrawan mengemudikan mobil Avanza  datang dari arah simpang Selayang menuju arah simpang Pemda, Tanjung Sari, Medan.

Saat melintas di lokasi kejadian di  depan salah satu gang jalan, mobilnya bersenggolan  dengan sepeda motor jenis Suzuki Spin tanpa  plat nomor polisi yang dikendarai Alam Yordan Tarigan (16) warga Jalan Jamin Ginting Gang Pancur Siwah Kelurahan Kwala Bekala, Medan Johor berboncengan dengan teman nya, Desfin Ginting (18) warga yang sama, yang saat itu baru ke luar dari simpang Pancur Siwah, Medan Selayang.

Akibat nya pengendara sepeda motor dan teman boncengannya terjatuh ke aspal. Begitu  kejadian, Indrawan  pun diduga hendak melarikan diri  tancap gas menuju arah simpang Pemda. Teman-teman Alam yadan warga sekitar yang  melihat,  langsung mengejar mobil Avanza tersebut. Pengejaran yang dilakukan teman-teman Alam dan warga membuahkan hasil. Mereka menghadang dan menyuruh mobil yang dikemudikan Indrawan berhenti di sekitar simpang Pemda.

Mungkin karena kesal dengan ulah si pengemudi mobil yang diduga tak mau bertangggung jawab itu, massa pun langsung main hakim sendiri. Pengemudi mobil Avanza tersebut dipukul hingga babak belur.

Bahkan, mobilnya juga tak luput jadi sasaran amuk massa sehingga mengakibatkan kaca depan dan belakang mobil pecah, dinding kanan mobil nya juga bonyok serta kaca spion juga rusak. Namun aksi main hakim sendiri itu tidak sampai berlanjut fatal, menyusul kedatangan petugas polisi dari Polsek Delitua Pos Simpang Selayang yang malam itu sedang melakukan razia.(roy/smg)

Nyenggol, Pengemudi Avanza Dipukuli Massa

PANCURBATU- M Indrawan Satria Putra  (22) warga Jalan Semarang Lingkungan III Kelurahan Rambung Dalam, Kecamatan Binjai Selatan, Binjai babak belur dihajar massa setelah mobil Avanza BK 1743 GV warna hitam yang dikemudikannya bersenggolan dengan pengendara sepeda motor di Jalan Setiabudi Kelurahan Simpang Selayang, Medan Tuntungan, Minggu (15/4) malam sekira pukul 23.00 WIB.

Informasi yang dihimpun di Mapolsek Pancurbatu menyebutkan, malam itu Indrawan mengemudikan mobil Avanza  datang dari arah simpang Selayang menuju arah simpang Pemda, Tanjung Sari, Medan.

Saat melintas di lokasi kejadian di  depan salah satu gang jalan, mobilnya bersenggolan  dengan sepeda motor jenis Suzuki Spin tanpa  plat nomor polisi yang dikendarai Alam Yordan Tarigan (16) warga Jalan Jamin Ginting Gang Pancur Siwah Kelurahan Kwala Bekala, Medan Johor berboncengan dengan teman nya, Desfin Ginting (18) warga yang sama, yang saat itu baru ke luar dari simpang Pancur Siwah, Medan Selayang.

Akibat nya pengendara sepeda motor dan teman boncengannya terjatuh ke aspal. Begitu  kejadian, Indrawan  pun diduga hendak melarikan diri  tancap gas menuju arah simpang Pemda. Teman-teman Alam yadan warga sekitar yang  melihat,  langsung mengejar mobil Avanza tersebut. Pengejaran yang dilakukan teman-teman Alam dan warga membuahkan hasil. Mereka menghadang dan menyuruh mobil yang dikemudikan Indrawan berhenti di sekitar simpang Pemda.

Mungkin karena kesal dengan ulah si pengemudi mobil yang diduga tak mau bertangggung jawab itu, massa pun langsung main hakim sendiri. Pengemudi mobil Avanza tersebut dipukul hingga babak belur.

Bahkan, mobilnya juga tak luput jadi sasaran amuk massa sehingga mengakibatkan kaca depan dan belakang mobil pecah, dinding kanan mobil nya juga bonyok serta kaca spion juga rusak. Namun aksi main hakim sendiri itu tidak sampai berlanjut fatal, menyusul kedatangan petugas polisi dari Polsek Delitua Pos Simpang Selayang yang malam itu sedang melakukan razia.(roy/smg)

Rp472 M Untuk Tunjangan Guru yang Mengajar di Swasta

MEDAN- Untuk tahun 2012 sedikitnya Rp472 miliar dana tunjangan yang telah digelontorkan pemerintah kepada guru swasta, yang tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Sumatera Utara.  Tunjangan tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yakni, tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan insentif guru.

Sehingga dengan nilai anggaran yang cukup besar itu tidak ada alasan bagi guru swasta, tidak mampu meningkatkan kualitas dan kompetensinya sebagai guru karena ketiadaan anggaran.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pendidik Tenaga Kependidikan (PMPTK), Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Eduard Sinaga, saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.

“Dengan jumlah anggaran yang besar itu, harusnya bisa sebanding dengan mutu dan kualitasnya,” ujar Eduard.

Adapun jumlah tunjangan yang diberikan yakni, untuk tingkat SMA/SMK, penerima tunjangan profesi guru sebanyak 3.346 orang dengan total anggaran Rp65,1 miliar.  Tunjangan fungsional diberikan kepada 5.558 guru dengan total anggaran Rp20,1 miliar. Serta tunjangan khusus untuk 101 guru dengan  total anggaran Rp3,3 miliar. Sedangan untuk tingkat SD/SMP, penerima tunjangan profesi 5.410 guru dengan total anggaran Rp141,2 miliar.

Tunjangan fungsional diberikan kepada 17.152 guru dengan total anggaran sebesar Rp61,7 miliar dan tunjangan khusus diberikan kepada 1.334 guru dengan total anggaran sebesar Rp39,7 miliar.

Selain itu bilang Eduard, guru swasta ini juga mendapatkan insentif yang bersumber dari APBD Provinsi yang diberikan kepada 194.345 guru dengan total anggaran mencapai Rp139 miliar lebih.

“Jumlah ini cukup besar, dan kemungkinan bisa terus bertambah untuk kedepannya sesuai anggaran pemerintah yang yang tersedia,” sebutnya.
Masih menurut Eduard, perhatian pemerintah terhadap hak-hak guru sudah sangat baik, namun masih ditemui sejumlah guru yang belum secara profesional menjalankan profesinya.

Hal ini jugalah menurut Eduard yang membuat kelulusan uji kompetensi awal (UKA) guru di Sumut beberapa waktu lalu itu merosot.
“Seandainya guru bisa dengan baik menjalankan tugasnya mengajar dan membimbing siswa, serta terus menerus meningkatkan kemampuannya, maka saya yakin kompetensinya akan meningkat lagi,” sebutnya.

Untuk itu, Eduard menghimbau, guru lebih aktif dalam melakukan kajian-kajian atau metode pembelajaran, sehingga siap dalam menghadapi perkembangan pendidikan yang semakin pesat.

Sementara saat disinggung mengenai anggaran tunjangan bagi guru Negeri yang PNS, Eduard mengaku data dipegang oleh Dinas Kabupaten/Kota masing-masing. Sehingga, pihaknya tidak bisa mendapatkan data atau menghitung jumlah anggaran yang tersedia bagi guru.
“Kalau guru negeri datanya tidak ada di Provinsi, semuanya ada di kabupaten/kota karena dananya masuk dalam belanja langsung daerah,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang lain, Ketua PGRI Sumut Yustini Amnah Lubis mengakui, banyaknya anggaran yang tersedia, menunjukkan perhatian pemerintah yang semakin tinggi terhadap guru.

“Sudah lama sebenarnya para guru mengharapkan seperti ini, namun baru bisa terealisasi sejak anggaran pendidikan 20 persen,” ungkapnya.
Masih menurut Yustini, penigkatan kualitas tidak bisa menyalahkan guru semata. Sebab, pengalaman dan tuntutannya sudah berbeda dengan jamannya.
“Untuk itu kedepannya, para pengelola perguruan tinggi yang menghasilkan guru juga harus benar-benar mempersiapkan lulusannya. Sehingga akan dihasilkan guru yang berkualitas,” ucapnya. (uma)

Gemapala FIB USU Tanam 1.000 Pohon

Jelang Peringatan Hari Bumi

LANGKAT- Hari Bumi Sedunia yang diperingati 22 April setiap tahunnya, merupakan satu hal yang penting dijadikan momentum bagi penggiat dan pemerhati lingkungan dalam upaya melestarikan lingkungan hidup. Cuaca yang panas pada siang hari merupakan hal biasa di daerah tropis, tapi panas yang dirasakan berlebihan merupakan bagian dari dampak pemanasan global.

Untuk itu, Generasi Muda Pencinta Alam (Gemapala) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara, menggelar tanam pohon di Lembaga Pendidikan Amaliyah, Desa Secanggang, Kabupaten Langkat, Minggu (15/4).

“Kita menanam pohon mahoni sebanyak 500 pohon di beram jalan menuju ke lembaga pendidikan Amaliyah Secanggang dan 500 pohon bakau di bantaran Sungai Secanggang, yang bibitnya kita peroleh dari Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah II,” ujar Ketua umum Gemapala FIB USU Dian Gunawan.

Gunawan menambahkan, kegiatan ini merupakan salah satu program FIB USU yaitu, ‘Gemapala Goes To School 2012’, dengan tema Bumi Kita Satu.
Dalam acara ini, juga diadakan bakti sosial tanam pohon, lomba lukis, lomba nyanyi dan mewarnai bagi siswa SMP/ sederajat yang bertemakan tentang lingkungan hidup. Ratusan pelajar sangat antusias mengikuti semua kegiatan yang di gelar.

“Kegiatan ini digelar untuk pelajar SMP, agar sedini mungkin mereka dapat memahami betapa pentingnya arti lingkungan hidup sehingga mereka bisa mencintai lingkungan,” tegas Gunawan.

Sementara itu, Ketua Forum Komunitas Perempuan Pemerhati Masyarakat Sumatera Utara, Ir. Sumarti Yasmun, menjelakan, Indonesia memiliki hutan yang sangat potensial, ada hutan lindung, hutan suaka, dan juga hutan mangrove, namun akhir-akhir ini telah terjadi perambahan dan alih fungsi di luar kendali sehingga kondisi hutan sekarang mengalami kerusakan yang sangat parah.(ndi)