26 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 13653

Wiranto Mau Capres Lagi

MEDAN- Ketua Umum (DPP) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Wiranto, menyatakan siap maju dalam putaran pemilihan presiden (Pilpres) 2014 mendatang. Dia mengaku tidak kapok meskipun pernah gagal pada pencalonan yang sama pada putaran Pilpres 2004 silam saat berpasangan dengan Sholahuddin Wahid. Pun gagal pada Pilpres 2009 menjadi calon wakil presiden mendampingi Jusuf Kala.

Hal ini dikatakan pria yang pernah menjabat sebagai Panglima ABRI itu usai membuka acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I Partai Hanura Sumut, di Lantai V Hotel Soechi, Jalan Sisingamangaraja Medan, Minggu (15/4).

Pada kesempatan itu pula, Wiranto mengaku telah mendapatkan dukungan dari 33 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) serta sekitar 470 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura se-Indonesia. “Sebagai seorang ketua umum, saya sudah diminta 33 pimpinan provinsi dan seluruh DPC untuk bersedia dicalonkan. Ini permintaan, dorongan dan harapan mereka. Mereka itu juga bagian dari suara rakyat yang tentu tidak bisa ditolak. Kapok dan sebagainya itu gak ada. Pejuang itu tidak akan berhenti sampai akhir hayat apalagi saya dari militer. Soal menang kalah itu nanti,” katanya.

sebelumnya, 33 DPC dan DPD Partai Hanura Sumut saat acara pembukaan Rakerda I Partai Hanura tersebut menyatakan, dukungan terhadap Wiranto untuk Wiranto bersedia maju pada Pilpres 2014.

Di kesempatan yang sama Ketua DPD Hanura Sumut Zulkifli Efendi Siregar secara langsung menyampaikan dukungan tersebut. “Kami harapkan agar Bapak Wiranto bisa atau dapat menjadi calon presiden kembali,” ujarnya.

Usai pernyataan tersebut, secara serentak 33 Ketua DPC Hanura se-Sumut maju ke podium untuk mengajukan permintaan yang sama. Secara serempak mereka membacakan ikrar dukungan agar Wiranto tidak menolak untuk dicalonkan kembali menjadi presiden.
“33 DPC se-Sumut meminta Wiranto mencalonkan kembali jadi calon presiden. Kami siap bersatu tak terpecah belah dalam memperjuangkannya,” kata Ketua DPC Hanura Pematangsiantar, Saut Siantar.(ari)

Puluhan Mahasiswa ATKP Keracunan Ikan Tongkol

MEDAN-Puluhan Mahasiswa Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan di Jalan Penerbangan Medan terkapar usai menyantap makan malam di kampus tersebut, Minggu (15/4).  Dari yang tercatat wartawan koran ini, mahasisiwa ATKP yang keracunan itu dirawat di beberapa rumah sakit. Semuanya mengalami pusing dan muntah.

Rumah sakit tempat mahasiswa yang keracunan adalah RS Adam Malik, Balai Pengobatan Medica di Jalan Jamin Ginting (Padang Bulan) Medan, RS Mitra Sejati, dan Mitra Persada.Di RS Adam Malik ada 43 mahasiswa yang dirawat. Namun, dari jumlah tersebutn

8 mahasiswa telah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan. Sisanya, ada 35 mahasiswa lagi yang rawat inap di rumah sakit milik pemerintah tersebut.

Direktur Medik dan Keperawatan RS Adam Malik dr Lukmanul Hakim membenarkan hal tersebut. “Pasien yang masuk ke IGD berjumlah 43 orang. Dari 35 orang masih dalam perawatan dan observasi, serta delapan sudah pulang karena dinyatakan tak apa-apa,” ungkapnya.

Dikatakannya, pasien (mahasiswa ATKP) yang dirawat inap mengalami pusing dan mual serta bibirnya merasa tebal dan menyesak ulu hati. “Keluhannya sesudah makan. Belum kita pastikan keracunan atau tidak. Karena masih dalam pemeriksaan,” jelas Lukmanul lagi.
“Untuk mengurangi keluhan, kita memberikan cairan infus serta obat-obatan kepada korban,” tambahnya.

Sementara, mahasiswa ATKP yang dirawat di Balai Pengobatan Medica Jalan Jamin Ginting (Padang Bulan) Medan ada 15 taruna. Sugiarto yang merupakan korban keracunan mengaku, usai menyantap makan malam, ia mendadak mual, pening dan muntah-muntah. “Makan malam sekira pukul 19.00 WIB. Setelah itu saya muntah-muntah. Dan itu juga terjadi kepada teman-teman yang lain, seperti Rizki, Sadli dan Agus,” ungkapnya saat ditemui di Balai Pengobatan Medica.

Menurutnya, dalam makan malam terebut disajikan lauk pauk serta sayuran.  “Pakai ikan tongkol dan sayuran. Tapi saya tak memakan sayurnya,” ujar Sugiarto.

Awalnya semua korban dilarikan ke Medica, namun karena keterbatasan peralatan dan ruangan akhirnya dirujuk ke RS Mitra Sejati, Mitra Persada, dan RS Adam Malik. Menurut seorang petugas medis Medica, Rini (30), seluruh korban keracunan diduga diakibatkan ikan tongkol yang mereka konsumsi. “Racun yang masuk ke tubuh pasien diduga dari ikan tongkol yang mereka konsumsi,” ungkap Rini (30), seorang petugas medis di Medica.

Masih menurut Rini, puluhan mahasiswa tersebut telah dirujuk ke rumah sakit terdekat lainnya dan ada pula beberapa mahasiswa yang telah diizinkan pulang karena kondisinya sudah pulih. “Yang dirawat disini 10 orang,” jelasnya.

Dokter piket di Media, dr Refi Pinem membenarkan kejadian tersebut. Namun, ia belum memberi keterangan seputar racun yang menjadi penyebab muntah-muntahnya para korban.

Pihak ATKP yang ditemui di RS Adam Malik sama sekali tak mau memberikan keterangan tentang jumlah pasti taruna yang mengalami keracunan tersebut. “Kami hanya mengantar para taruna ini untuk melakukan perawatan,” ujar pria setengah baya dengan jaket kulit dan topi cap itu.

Di RS Mitra Sejati Medan sendiri ada sekitar 23 mahasiswa yang terpaksa menjalani rawat inap dan 4 orang lagi mendapat penanganan di ruang ICU. “Semuanya masih mendapat penanganan oleh dokter. Masing-masing mahasiswanya ada yang dirawat di lantai 4 sebanyak 8 orang, lantai 3 ada 12 orang dan lantai 2 hanya 2 orang, bahkan di ruang ICU juga ada yaitu 4 orang.

“Tadi masuknya sekitar pukul 22.30 WIB. Saya dengar ada yang dirujuk dari Adam Malik. Tapi nggak tahu kenapa bisa dirujuk. Karena mereka masuknya juga banyak, kita nggak sempat mendata nama-nama yang masih dirawat. Tapi sejauh ini, penanganannya berupa pemberian infus,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan, hingga dini hari, keluarga pasien masih terlihat menjenguk para mahasiswa. Namun saat dimintai keterangan lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut, baik keluarga korban, maupun mahasiswa ATKP Medan terkesan tertutup. “Saya juga nggak begitu tahu pasti kejadiannya. Tadi sempat nyari di Adam Malik juga. Ternyata adik saya dirawat di rumah sakit ini (Mitra Sejati),” ujar keluarga korban yang lain.

Sementara salah seorang korban, Krisman Siahaan yang mendapat penanganan di ruang 314 mengaku, kejadian berawal saat makan malam diruang makan sekitar pukul 19.00 WIB. “Saat itu memang lagi makan makan malam. Menu makannya ikan tongkol dan nasi. Habis makan, rasanya agak pusing dan mual. Saya lihat teman-teman yang lain juga sama seperti saya,” terangnya.

Namun, katanya, setelah ditangani oleh medis, kondisinya mulai membaik. “Sudah agak baikanlah. Mungkin karena alergi. Herannya, ada juga teman yang makan dengan kami, tapi nggak keracunan. Belum tahu sampai kapan dirawat. Disini disuruh banyak minum air putih aja,” urainya. (saz/mag-11/adl/wel)

Tak Dapat Apa-apa dari Jerih Payah si Unyil

Pak Raden, Ngamen untuk Perjuangkan Hak Cipta Karya

Boneka si Unyil pernah ngetop pada era 1980-1990-an. Meski kini versi aslinya sudah tidak tayang lagi, sosok Unyil masih laku di layar kaca dengan beberapa modifikasi. Ironisnya, Suyadi, si pencipta tokoh  idola anak-anak itu, kini hidupnya merana.

THOMAS KUKUH, Jakarta

SOL do iwak  kebo, re mi fa sol iwak tongkol//mi re, mi re, gule kare enak dewee. Pria paro baya yang kumisnya tebal hampir memenuhi pipi menyanyikan lagu khas Jawa Timuran itu dengan suara yang menggelegar. Dia bernyanyi riang, hingga alisnya yang lebat turut bergerak-gerak mengikuti ekspresinya yang ceria.

Siapa pun pasti mengenal pemilik suara lantang tersebut. Ya dia adalah Pak Raden, tokoh antagonis dalam serial film boneka si Unyil. Mengenakan kostum kebesaran – baju surjan, kumis tebal, dan blangkon di kepala – seniman yang punya nama asli Suyadi itu turun ke jalan. Dia ‘ngamen’ di teras rumahnya.

Para tetangga dan penggemarnya memadati bangunan mungil di Jalan Petamburan III  No 27, Tanah Abang Jakarta Pusat. Mereka rela berdesak-desakan menyaksikan Pak Raden bernyanyi dan mendongeng. Masih seperti saat membintangi film anak-anak yang disiarkan TVRI itu.

“Terima kasih sudah datang dan mendukung aksi saya,” kata Pak Raden menyapa semua orang yang memenuhi rumahnya yang  berukuran 6 x12 meter itu.

Sebelum nyanyi, Pak Raden sempat curhat. Pria kelahiran Jember, 80 tahun silam  itu menerangkan, acara tersebut digalang atas prakarsa beberapa seniman yang memperhatikan kehidupannya yang memprihatinkan. Salah satu sorotan para seniman muda yang digawangi Prasodjo Chusnato adalah kondisi Pak Raden yang tidak memiliki apa-apa dari karya boneka Unyil yang diciptakannya. Sebab, hak cipta Unyil kini dipegang oleh Perum Produksi Film Negara (PPFN) yang sekarang berubah menjadi Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BPPN).

Padahal, sosok boneka Unyil kian lama kian laku dan kerap menghiasi layar kaca dengan acara-acara baru. Bahkan, Pak Raden mendengar, sekarang serial Unyil sedang diproduksi secara 3D di salah satu rumah produksi di Batam.

“Unyil mau digarap seperti Upin-Ipin. Tapi saya tidak dapat apa-apa,” imbuhnya.

Sebenarnya Pak Raden akan dilibatkan dalam produksi Unyil versi 3D tersebut. Namun, sang pemilik proyek hanya melibatkannya sebagai pengisi suara tokoh Pak Raden. Lantaran hanya sebatas pengisi suara, Pak Raden menolaknya.

Pria yang berulang tahun setiap 28 November ini mengatakan, dulu dirinya tidak mempermasalahkan hak cipta Unyil beserta royalty-nya. Namun, seiring umurnya yang kian menua dan tidak lincah lagi, pria sepuh yang hidup sendirian itu merasa perlu menuntut hak-haknya sebagai pencipta Unyil.
“Matahari saya sudah semakin ke barat dan mau tenggelam. Tapi saya sama sekali tidak dapat apa-apa dari jerih payah menciptakan tokoh Unyil,” curhatnya.

Sejarah serial Unyil bermula sekitar 1970-an. Ketika itu Direktur Produksi Film Negara Drs Gufron Dwipayana mengeluhkan tontonan televisi yang hampir semuanya diisi tontonan luar negeri. Apalagi film anak-anak. Semua film kartun didominasi produksi asing.

“Saya pengen ada film kartun anak-anak produksi dalam negeri. Harus kartun soalnya untuk anak-anak,” kata Pak Raden menirukan Dwipa – panggilan Dwipayana – kala itu.

Pak Raden sebenarnya sepakat dengan ajakan Dwipa. Namun, dia menegaskan bahwa sumber daya manusia lokal kala itu masih belum mampu untuk memproduksi film kartun. Maka, dia lalu mengusulkan untuk membuat film dengan tokoh-tokoh boneka lucu.

“Ah, itu dia, saya setuju,” ujar Dwipa seperti ditirukan Pak Raden.

Pak Raden yang saat itu menjadi dosen Fakultas Seni Rupa ITB memang dekat dengan Dwipa. Setelah berpikir keras, dia akhirnya  menemukan sosok ideal pemeran film boneka itu.  Dipilihlah sosok Unyil yang merupakan anak desa yang sederhana lengkap dengan sarung dan pecinya. Pak Raden lantas menciptakan karakter-karakter lainnya. Cerita pun  dibuat  tidak jauh-jauh dari persoalan sosial masyarakat pedesaan.

“Saya yang mendesain tokoh-tokoh itu. Produksi (boneka) saya juga yang ngawasi,” kata dia sambil sesekali menempelkan kumis tebalnya yang sedikit-sedikit mau jatuh.
Wajah boneka itu pertama-tama dipola dengan tanah liat. Setelah cocok lantas ditempeli kertas dan dikeraskan hingga membentuk tokoh Unyil, Ucrit, Melani, Pak Ogah, Pak Raden, Bu Bariah, dan lainnya.

Ternyata proyek film boneka Unyil  sukses besar. Hampir setiap anak kecil pada era 1970-an hingga 1990-an mengenal dan menggemari sosok Unyil dan tokoh lainnya. Sejak saat itu, sosok Pak Raden melekat dengan Suyadi.

Pada pertengahan 1990-an, produksi film Unyil dihentikan dengan berbagai alasan.  Namun, Pak Raden tetap Pak Raden. Pria yang rela meninggalkan profesi sebagai dosen untuk terjun total mengurusi si Unyil itu pun terus menggeluti dunia dongeng dan kesenian lainnya terutama yang berhubungan dengan anak-anak.

“Ada kepuasan tersendiri terjun di dunia anak-anak. Kalau jadi dosen saya hanya berhubungan dengan mahasiswa. Tapi kalau sama Unyil, saya bisa merangkul seluruh anak-anak Indonesia,” paparnya dengan intonasi tegas khas Pak Raden yang sedang mendongeng.

Pada 1995 Pak Raden menandatangani perjanjian dengan  Direktur Utama Perum Produksi Film Negara (PPFN) Amoroso Katamsi. Dalam surat perjanjian bernomor 139/P.PFN/XII/1995 itu Pak Raden selaku pencipta tulisan Si Unyil dan model boneka tokoh-tokoh dalam film Unyil menyerahkan pengurusan hak ciptanya kepada PPFN selama lima tahun.

Anehnya, PPFN juga menerbitkan surat perjanjian yang sama dengan nomor yang sama, tetapi bedanya surat yang kedua sama sekali tidak disebutkan berapa tahun perjanjian itu berlaku. “Biasanya surat perjanjian kan disebutkan kapan jangka waktunya. Kalau selamanya ya ditulis selamanya. Tapi ini tidak ada,” kata Pak Raden.

Persoalan inilah yang sedang diperjuangkan Pak Raden bersama beberapa seniman muda Jakarta. Acara Pak Raden kemarin digelar sambil menyisipkan agar masyarakat dan pihak-pihak lain berkenan membantu Pak Raden.

“Seluruh hasil dari aksi Pak Raden Ngamen ini akan kami gunakan sebagai biaya pengurusan hak cipta Pak Raden,” kata Suryo Brahmantyo, panitia Pak Raden Ngamen.

Jawa Pos sempat blusukan ke dalam rumah Pak Raden yang sudah tampak kusam dan  kurang terawat. Selain debu tebal yang menempel di meja, lemari, dan sudut-sudut bangunan lain, tembok dan plafonnya mulai berlumut. Udaranya cukup pengap. Di rumah itu, Pak Raden ditemani pembantu dan dua kucing kesayangannya, Pussy dan Kacung.

Sementara itu, di ruang tengah rumahnya terpampang 12 lukisan bertema wayang. “Selain pendongeng, sebenarnya saya juga pelukis dan penyanyi. Kalau ada yang mau beli, saya jual lukisan-lukisan ini,” katanya sambil menunjuk lukisan karyanya.

Sedangkan di ruangan sebelahnya yang lebih kecil, Pak Raden menjadikannya sebagai studio untuk melukis. Di ruangan itu dipenuhi kanvas dan lukisan-lukisan yang sudah jadi maupun setengah jadi. Semua bertema anak-anak. Ada yang bergambar anak-anak menari, mendalang, bermain layangan, dan lainnya.

“Setiap hari saya menghabiskan waktu di dalam sana. Saya mau mengadakan pameran tunggal pada peringatan Hari Anak Nasional, Juli nanti,” kata dia.
Sekilas, kondisi fisik Pak Raden memang masih tampak sehat. “Tapi lulut bapak sudah tidak ada pelumasnya. Jadi nggak bisa jalan jauh. Harus pakai kursi roda,” bisik Nana Ruslana, salah seorang staf Pak Raden. (*)

Amiruddin: Petugas Ini Kurang Cekatan

Kasus di Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Polonia

MEDAN- Ketua DPRD Medan Amiruddin menegaskan bahwa dirinya sudah tidak ada masalah lagi dengan sekuriti Bandara Polonia Medan. Masalah itu juga telah selesai.

“Sekali lagi saya tegaskan, tidak benar saya melakukan penamparan apalagi pemukulan terhadap security Bandara Polonia Medan. Antara saya dan sekuriti sudah tidak ada masalah lagi dan telah selesai,” kata Amiruddin, kemarin.

Dijelaskannya, kejadian itu berawal, Minggu, 8 April 2012 saat mengantar Plt Ketua DPC Partai Demokrat Medan, Sutan Bhatoegana yang hendak bertolak ke Jakarta dari Bandara Polonia. Saat mau masuk ke ruang keberangkatan domestik, ia diperiksa oleh sekuriti bandara.

“Saya mengerti pemeriksaan demi keamanan penerbangan harus dilakukan, dan saya juga tidak menolak saat dilakukan pemeriksaan oleh sekuriti. Namun, sewaktu sekuriti memeriksa, telah terjadi kecerobohan,” ujar Amiruddin.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan securiti itu tidak professional. “Sebagai petugas pemeriksaan yang setiap harinya melakukan pekerjaan pemeriksaan, sangat kecil kemungkinan membuat kesalahan. Tetapi karena petugas ini kurang cekatan dan tidak tangkas serta tidak profesional dalam menjalankan tugasnya. Maka terjadi kecerobohan ketika memeriksa saya,” jelasnya.

Dijelaskannya, petugas yang melakukan pemeriksaan ke tubuhnya seperti curiga dengan adanya benjolan di dalam celana jeans yang dikenakan Amiruddin. “Merasa ada tangan yang menyentuh kemaluan saya, spontan saya bereaksi karena merasa dilecehkan di hadapan publik. Dan saat itu saya tidak ada menampar atau memukul sekuriti bandara,” cetusnya.

Dikatakannya, yang terjadi pada saat itu adalah dorong mendorong antara Amiruddin dengan sekuriti, yang saat itu sedang ramai pengunjung. “Di antara kami hanya terjadi dorong mendorong, dan tak ada penamparan ataupun pemukulan,” tegasnya lagi.

Selanjutnya, paparnya, petugas sekuriti terus mendorongnya hingga terdiam. Saat itulah, mulai muncul petugas pengawas Bandara Polonia Medan, yang juga anggota TNI AU. Hingga akhirnya dikawal dan diantar mengantar Pelaksana Ketua  DPC Partai Demokrat Kota Medan.

Lebih lanjutnya, dia menyatakan, setelah Ketua DPC Partai Demokrat terbang ke Jakarta, maka dirinya kembali pulang melalui pintu yang sama. Di tempat itu, ia kembali bertemu dengan sekuriti yang memeriksa dirinya. Saat itulah petugas tersebut langsung menyalami dan meminta maaf.
“Karena petugas itu sudah minta maaf dan saya juga sudah memaafkan, saya anggap sudah tidak ada masalah apapun,” sebutnya.

Amiruddin mengaku terkejut, keesokan harinya muncul pemberitaan soal itu. “Saya juga sudah mendapatkan telepon dan SMS, tapi saya anggap telepon dan SMS tersebut hanya sebatas merugikan saya secara pribadi, sehingga pada hari ini saya umumkan kronologisnya,” katanya.

Persoalan ini, sebutnya pada Rabu (11/4) pagi, saat pulang dari Jakarta langsung bertemu dengan General Manager Angkasa Pura. Ketika itu berbincang soal insiden saling dorong mendorong pekan lalu. Pada pertemuan tersebut akhirnya disepakati insiden itu dianggap selesai.  “Jadi insiden saling dorong mendorong antara saya dan manajemen PT Angkasa Pura sudah tidak ada masalah lagi, dan dianggap selesai,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, HT Milwan ketika ditemui Sumut Pos mengaku, prihal kejadian yang dialami kadernya, yakni Ketua DPRD Medan sedang dipelajari oleh pihaknya. “Sampai saat ini persoalannya sedang dipelajari,” katanya saat ditemui di kampus USU akhir pekan kemarin. (adl/ril)

Pidato Pertama Cuma 20 Menit

PYONGYANG – Pemimpin baru Korea Utara (Korut) Kim Jong-un, (29) tampil dan berpidato untuk pertama kali di hadapan publik kemarin (15/4).
Dalam kesempatan itu, kepala negara termuda di jagat raya tersebut menegaskan tekadnya untuk memberikan prioritas utama pada militer negaranya dalam setiap kebijakannya ke depan.

Pernyataan putra bungsu (putra ketiga) mantan penguasa Korut, mendiang Kim Jong-il itu, memberikan sinyal soal kemungkinan peluncuran rudal baru jarak jauh Korut dalam waktu dekat. Hal ini terjadi menyusul kegagalan uji coba roket yang membawa satelit milik Korut menuju orbit pada Jumat lalu (13/4).

Pidato Jong-un itu mewarnai puncak dua pekan perayaan seabad kelahiran pendiri Korut sekaligus kakeknya, Kim Il-sung. Pidato tersebut disampaikan di depan ribuan rakyat Korut yang berkumpul di Lapangan Kim Il-sung, pusat Kota Pyongyang, dan secara mengejutkan disiarkan melalui televisi secara nasional.

Terlihat tenang saat membacakan naskah pidato selama 20 menit, Jong-un mengangkat berbagai topik. Mulai dari kebijakan luar negeri sampai masalah ekonomi. Pidatonya tersebut, yang dilanjutkan dengan parade militer, menutup rangkaian acara peringatan seabad kelahiran Kim Il-sung. Momen tersebut menjadi penampilan terbaik yang dapat diperlihatkan Jong-un kepada dunia internasional.

Pesan Jong-un memberikan tekanan bahwa Korut akan terus memprioritaskan anggaran dan menggelontorkan dana di bidang militer. Parade yang digelar seusai pidato juga memamerkan rudal jarak jauh terbaru milik Korut. Tetapi, belum jelas kemampuan rudal tersebut dalam menambah kapabilitas senjata Pyongyang. Sejumlah analis menduga rudal itu hanya samaran untuk mengelabuhi internasional.

Meski peluncuran roket gagal hingga mencoreng citra pemerintahan baru Korut, penampilan Jong-un kemarin dilihat oleh para analis sebagai bentuk kepercayaan diri dari pemimpin muda itu dan pembuktian bahwa saat ini dia memegang kendali penuh kekuasaan.
“Superioritas dalam teknologi militer saat ini tidak lagi dimonopoli oleh para imperialis. Dan, era para musuh yang menggunakan bom atom untuk mengancam dan memeras kita sudah berakhir,” tegas Jong-un dalam pidatonya.

Pesan yang disampaikannya itu kembali menunjukkan bahwa tak ada perubahan yang signifikan dalam kebijakan nasional Korut. Negeri tetangga Korea Selatan (Korsel) itu tetap mengedepankan strategi militer. Strategi military first itulah yang sejak lama menjadi pusat proses pengambilan kebijakan di Korut.

Namun, kini muncul simbolisasi yang kuat dalam bentuk citra pemimpin baru dan muda saat pidato disiarkan televisi dan disaksikan banyak kalangan. Bahkan, dia terlihat sering tertawa dan terlibat pebincangan santai dengan sejumlah pejabat senior Korut di tengah acara parade militer negeri yang memiliki personel aktif 1,2 juta orang itu.

Analis luar sudah seringkali mengkhawatirkan gaya Kim muda dalam memerintah negeri yang diyakini memiliki senjata nuklir tersebut. Sejak ayahnya meninggal Desember tahun lalu, Jong-un tidak kunjung muncul di depan publik. Bahkan, program nuklirnya hampir memicu perang dengan Seoul dan Washington.

Dalam pidatonya itu, Jong-un juga memuji prestasi yang telah dicapai kakek maupun ayahnya sehingga menjadikan Korut sebagai negara kuat dan memiliki militer yang cukup mumpuni. Dia menjamin bahwa semua masalah ekonomi akan bisa diatasi dan menyatakan kepada rakyatnya bahwa mereka tidak perlu lagi mengencangkan ikat pinggang.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada saudara kami di Korea Selatan dan di seluruh dunia yang mendedikasikan diri mereka untuk penyatuan kembali (reunifikasi) maupun kesejahteraan bangsa,” paparnya. “Perdamaian memang penting. Tetapi, harga diri bangsa jauh lebih penting. Kami bergerak maju untuk kemenangan yang sesungguhnya,” serunya.

Pidato Jong-un kemarin menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan di kalangan pemimpin Korut selama ini. Sang ayah berpidato di depan publik hanya sekali seumur hidupnya. Kim Jong-il diketahui merekam terlebih dahulu pidato publiknya pada tahun ke-18 kepemimpinannya. Dan itulah satu-satunya pidatonya di depan publik. (AP/cak/dwi/jpnn)

Benang Kusut KBI dan Interpelasi

Dahlan Iskan

Ada sebuah BUMN yang sebenarnya penting, tapi bernama PT KBI: Kliring Berjangka Indonesia. Bukan karena namanya itu yang salah, tapi memang sejak mendapatkan izin operasional sebagai lembaga kliring berjangka lebih 10 tahun lalu, belum bisa menjalankan fungsinya. Tugasnya sebenarnya mulia, tapi memang  berkelok-kelok jalannya. Misinya jelas, tapi kabur dalam pelaksanaannya.

KBI seharusnya mengurus “integritas perdagangan berjangka, pasar fisik komoditas, dan integritas informasi sistem resi gudang,” tapi sampai hari ini baru 1 persen pelaksanaannya.

Sebenarnya, kalau KBI sukses, sungguh bisa ikut memajukan pertanian dan perkebunan kita. Petani kita tentu juga ikut menikmati. Kita pun tidak akan ketinggalan lagi. Semua negara maju menyelenggarakan perdagangan komoditas berjangka. Kita yang masih belum.

Dengan perdagangan komoditas berjangka ini, fluktuasi harga produk pertanian bisa dicegah. Keluhan harga-harga hasil pertanian seperti jagung dan beras yang anjlok di musim panen bisa teratasi. Lalu lintas fisik hasil pertanian juga tidak terlalu besar. Yang akan lebih mondar-mandir adalah angka-angka.

Yang lebih penting lagi, hasil-hasil pertanian itu sudah bisa dimonetisasi tidak lama setelah panen terjadi. Volume perdagangan kita jadi melonjak. Perhitungan terhadap GDP juga bisa berubah.

Memang tidak gampang membuat sistem perdagangan komoditas ini berjalan. Direksi KBI sudah beberapa kali berganti, tapi jalan juga belum bisa ditemukan. Ide begitu banyak di masa lalu, tapi semuanya kuldesak. Ada benang kusut yang harus diurai. Hari Minggu akhir Maret lalu, diskusi benang kusut itu diadakan di ruang kerja saya di lantai 19 Kementerian BUMN. Hasilnya: kekusutan itu belum akan bisa diurai, tapi sudah kelihatan dari mana mulai menguraikannya.

Pertanyaan menggoda dalam diskusi itu: bagaimana KBI, sebagai perusahaan, bisa hidup lebih 10 tahun di tengah-tengah benang kusut seperti itu?  Rupanya, naluri manusia di mana-mana sama: harus bisa hidup. Seperti apa pun keadaannya. Bagaimana pun caranya. Seberat apa pun kondisinya. Segersang apa pun lahannya. Naluri survival manusia inilah memang modal utama kehidupan.

Tidak terkecuali manusia Surdiyanto Suryodarmodjo yang kini menjabat direktur utama PT KBI itu. Sus, begitu panggilannya, sebenarnya sudah berusaha menghidup-hidupkan perdagangan komoditas berjangka. Berbagai cara dia lakukan. Berbagai upaya dia tempuh. Tapi, karena syarat-syarat hidupnya perdagangan komoditas berjangka itu banyak, tidak mudah menyatukannya. Bayangkan, ada 11 lembaga di luar KBI yang juga harus berjalan kalau mau KBI berfungsi.

Perdagangan komoditas berjangka bisa berjalan baik manakala 12 lembaga ini bergerak bersama dalam satu irama. Ibarat sebuah mobil, harus ada setirnya, gasnya, remnya, mesinnya, speedometer-nya, gardannya, rodanya, dan jalan rayanya. Juga sopirnya dan bahan bakarnya. KBI hanyalah salah satu di antara bagian itu.

Dalam sebuah sistem perdagangan berjangka, harus ada lembaga kliring, asuransi, bank penyelesaian, penjamin, penerbit sertifikat, penjaga mutu, pengelola gudang, sistem informasi real time, stand by seller, stand by buyer, dan harus ada Bappebti (seperti Bapepam-nya pasar modal). Tentu harus ada penjual dan pembeli utama. Yakni, mereka yang mau mengikatkan diri menjadi anggota KBI sekaligus anggota pasar fisik komoditas.

Persoalannya: bagaimana merangkai semua itu dalam satu proses? Salah satu saja tidak berfungsi, bubarlah sistem ini. Tidak berjalannya konsep resi gudang sebagai sarana untuk menolong petani beras kita, misalnya, antara lain karena memang secara keseluruhan, sistem perdagangan komoditas berjangka ini belum berjalan.

Kalau Sus menunggu bersatunya 12 lembaga itu, bisa-bisa PT KBI mati duluan. Agar perusahaan terus hidup dan karyawannya bisa tetap memperoleh gaji, untuk sementara KBI menjalankan bisnis sampingan: perdagangan saham. Hasil main samping ini ternyata sangat lumayan. Bisa-bisa PT KBI keasyikan main samping dan lupa permainan yang menjadi pokok tugasnya. Main-main ini bisa menghasilkan omzet Rp60 miliar/tahun dengan laba Rp40 miliar.

Di satu pihak, saya tentu sangat memuji naluri survival direksi KBI ini. Terima kasih Pak Sus! Anda pahlawan perusahaan dan pahlawan untuk karyawan-karyawan Anda! Di lain pihak, tentu saya prihatin karena 99 persen aktivitas KBI masih di luar tugas pokoknya.

Yang juga menyenangkan adalah Sus masih terus kelihatan gelisah. Dia masih berpikir waras: kalau cara main samping ini diterus-teruskan, lantas apa bedanya KBI dengan perusahaan sekuritas? Dia juga gelisah: kapan KBI bisa berfungsi sesuai dengan bidang usahanya yang mulia itu?

Kesimpulan diskusi di Minggu itu sudah tepat: KBI tidak mungkin jalan tanpa pembenahan di bagian hulunya dulu. Hulunya yang harus disiapkan. Maka, saya putuskan BUMN harus serius bergerak membenahi hulunya. Biarkan KBI tidak berjalan dulu. Biarkan KBI meneruskan permainan sampingnya dulu.
Dalam satu tahun ke depan, pembenahan hulu harus selesai. Agar tidak banyak masalah, biarlah BUMN-BUMN pangan yang menyiapkan hulunya itu. Pelan-pelan, kalau pasar sudah terbiasa, swasta pasti ikut dengan sistem modern ini. Tiga program besar BUMN di bidang pangan bisa sekaligus dijadikan hulu sistem perdagangan komoditas berjangka. Program Pro-Beras BUMN harus sukses dulu. Demikian juga, program Yarnen (bayar utang benih/pupuk BUMN saat panen) dan program perkebunan padi (pencetakan sawah baru) juga harus berhasil.

Jaringan mereka inilah nanti (termasuk pabrik-pabrik penggilingan beras) yang akan menjadi anggota KBI sekaligus menjadi anggota pasar fisik komoditas.

Kalau BUMN pangan calon-calon anggota KBI ini sudah eksis dan tertata, baru kita melangkah ke yang lebih hilir: pergudangan. Tanpa sistem pergudangan yang baik, tidak mungkin sistem perdagangan komoditas berjangka ini berjalan.

Semua komoditas harus masuk gudang. Bukan gudang biasa, tapi gudang bersertifikat. Sekarang ini, jangankan gudang bersertifikat, berapa potensi gudang yang tersedia saja masih belum terkoordinasi. Pergudangan kita harus jadi kekuatan ekonomi yang penting.

Senin lalu saya perlu berkunjung ke Kalibaru Timur. Di situlah PT BGR (Bhanda Ghara Reksa) berkantor. Inilah BUMN yang bergerak di bidang pergudangan. BGR memiliki gudang sendiri sebanyak 160 buah, tapi seluruh gudang yang dikelolanya 615 buah. Itu belum cukup. Gudang-gudang milik BUMN lain harus dalam satu koordinasi. Misalnya, gudang milik Bulog, gudang milik Pertani, dan gudang milik Pusri. Bahkan, gudang-gudang milik pemerintah, seperti milik Kementerian Perdagangan, juga harus tergabung dalam sistem pergudangan nasional.

Kalau tahun ini sektor hulu sudah selesai ditata, giliran tahun depan sektor pergudangan menjadi fokus kita. Sertifikasi gudang harus diurus mulai tahun ini agar tahun depan bisa mengikuti pola pergudangan yang sudah dipelopori PT BGR. Menurut Dirut PT BGR Mulyanto, perbankan kita sudah mulai mengakui pentingnya peran gudang bersertifikat dalam sistem pembiayaan nasional. “Barang yang ada di gudang bersertifikat sudah bisa diagunkan. Kami tinggal mengeluarkan bukti simpan. Bukti simpan ini sudah menjadi surat berharga,” kata Mulyanto.

Karena harus ada dua lini di hulu dan di tengah yang harus dikerjakan dengan serius dan tekun, rasanya sistem perdagangan komoditas berjangka baru bisa dikembangkan di tahun ketiga: 2014. Bersamaan dikembangkannya sistem resi gudang. Kita memang tidak sabar. Tapi, tanpa ketelatenan membenahi hulunya, sampai kapan pun sistem perdagangan komoditas tidak akan terwujud.

Jalan masih panjang, lorong-lorongnya berkelok-kelok, godaannya begitu banyak, tapi kalau langkah sudah diayunkan, tujuan akan tercapai.   Kecuali ada interpelasi. (*)

Pembangunan MIC Ditenggat Sebelum Ramadan

Pengurus Yayasan Medan Islamic Center (MIC) diminta sebelum bulan Ramadan tahun ini, sudah memulai pembangunan gedung Medan Islamic Center di Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan. Desakan ini disampaikan masyarakat Medan bagian utara kepada Pemko Medan, kemarin.

Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM didampingi Sekda Medan Ir Syaiful Bahri Lubis pada saat memimpin rapat persiapan pembangunan Medan Islamic Center mengkatakan, pengurus yayasan MIC agar segera bekerja cepat melakukan berbagai tahapan, termasuk  pembebasan lahan.
“Dana awal pembangunan MIC menggunakan anggaran APBD 2012 sebesar Rp30 miliar. Nantinya, di PAPBD 2013 dan 2014 akan tetap kita tampung,” ujar Rahudman.

Pembina yayasan MIC, Prof Syahrin Harahap menganjurkan agar tahapan-tahapan awal pekerjaan perlu dikaji secara mendalam. Untuk itu, disarankan kepada pengurus yayasan untuk bergerak cepat sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan Wali Kota Medan.

Hal senada juga disampaikan Ketua Yayasan MIC, Prof DR Ir H Basyaruddin, MS yang sependapat dengan arahan Wali Kota Medan. “Untuk itu kami akan segera melakukan pembebasan tanah dari Perumnas, kemudian baru pembebasan dari BPN Medan,” jelasnya.

Masyarakat Medan Utara yang tergabung dalam Presedium Masyarakat Medan Utara (PMMU), Syaharuddin mengatakan, pihaknya sangat mendesak agar Pemko Medan dapat membangun Islamic Center di kawasan Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan. Pasalnya, Pemko Medan selama ini sudah terlalu lama berjanji untuk merealisasikan pembangunan Islamic Center, tapi tak juga direalisasikan.

“Kita ingin Pemko jangan hanya sekadar janji-janji saja. Selama ini kita juga sudah kurang percaya dengan pemerintah karena janji tanpa ada realisasinya. Sama seperti halnya pembangunan Minapolitan di Medan Utara, hingga sekarang belum jelas realisasinya,” terang Syaharuddin.
Dikatakan Syaharuddin, kalau Pemko Medan merealisasikan pembangunan Islamic Center itu di tahun ini, maka pihaknya sangat mengapresiasi.
“Yang penting letakkan saja dulu batu pertamanya, jangan hanya sekadar ngomong dan berwacana. Soalnya rencana itu sudah terlalu lama. Bahkan anggarannya juga sudah mengendap lama yakni bantuan dari Islamic Development Bank (IDB),” terang Syaharuddin.

Sebelumnya, kata Syaharuddin, karena lamanya Pemko Medan merealisasikan pembangunan Islamic Center di kawasan Martubung itu, masyarakat sempat akan mengambil jalur hukum dengan mengugat Pemko Medan melalui class action, karena dengan janji-janji saja, masyarakat selama ini telah merasa dirugikan.

“Kita memang mau melakukan class action, karena selama ini kompensasi pembangunan untuk Medan Utara belum direalisasikan dengan baik, padahal itulah cita-cita kami. Makanya, seharusnya Pemko Medan dapat segera merealisasikan pembangunan itu dengan segera,” pungkasnya. (adl)

The Gunners Pertahankan Wenger

JALINAN kerja sama Arsenal dan Arsene Wenger kemungkinan besar masih akan terus berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. The Gunners sudah menunjukkan sinyal ingin lebih lama ditangani The Professor.

Wenger sudah bekerja di Arsenal sejak 1996 dan kontraknya sekarang akan habis pada Juni 2014 mendatang. Meski pria asal Prancis itu terakhir kali memberi gelar pada tahun 2005, petinggi klub tetap memercayainya.

“Bagi dia, bertahan lebih lama dari itu akan sempurna. Saya tidak bisa memikirkan orang lain yang bisa menangani tim lebih baik darinya,” jelas
Chairman Arsenal, Peter Hill-Wood, seperti dikutip Mirror Football.

Musim ini, ‘Meriam London’ sempat terpuruk beberapa kali dan posisi Wenger sempat digoyang. Namun, Wenger mampu membangkitkan Robin van Persie dkk. hingga kini bertengger di urutan ketiga klasemen Premier League di bawah dua klub Manchester.
“Dia sudah membuktikan bahwa apa yang orang bicarakan pada awal musim cuma sampah. Kami dihantam serangkaian cedera yang buruk dan itu berpengaruh,” kata Hill-Wood.

“Dia punya skuad muda, dengan sejumlah pemain muda yang luar biasa. Dia membangun tim muda dengan masa depan yang cerah dan saya yakin dia akan senang melihat mereka berkembang.”

“Saya ingin dia terus bertahan selama dia merasa bahagia di sini. Dia sudah 14 tahun bersama kami dan sudah melakukan pekerjaan yang hebat.”
“Saya ingin dia bertahan untuk jangka waktu yang lama dan saya sama sekali tidak melihat alasan mengapa dia harus pergi,” tandasnya. (bbs/jpnn)

Medioker Mau Eropa

Getafe vs Sevilla

GETAFE- Perburuan kompetisi kasta kedua Eropa juga menarik untuk diamati. Para pemburunya sangat serius, meskipun rata-rata masuk klub kategori medioker alias menengah. Salah dua yang memburunya adalah Getafe dan Sevilla.

Yang cukup mengejutkan tentu saja kiprah Getafe. Meskipun sebenarnya langkah mereka kesana masih cukup jauh. Berada di posisi 11, Getafe butuh energi ekstra plus keberuntungan untuk duduk di peringkat enam-batas akhir zona Eropa di La Liga.

Tapi yang membuat kubu Getafe berharap adalah jarak poin antara peringkat 11 ke peringkat enam, hanya terpaut empat angka saja. Jika terus menang dan tim lainnya kalah, maka ada peluang duduk di peringkat enam menggeser Osasuna.

Dari situlah Luis Garcia-arsitek Getafe yakin timnya mampu. “Kami punya pilihan untuk tampil di kompetisi Eropa musim depan,” katanya seperti dilansir Marca kemarin.

Nah, langkah optimisme itu sendiri bakal langsung dihalangi oleh Sevilla. Maka itu, Diego Castro dkk harus menjinakkannya kubu Negredo cs dini hari nanti.

“Jika kami mengalahkan Sevilla, maka kami akan mendekati pertarungan ketat untuk satu tempat di kompetisi Eropa,” katanya.
“Dan andai kami gagal, masih ada peluang terakhir yakni melawan Granada,” bebernya.

Kepercayaan diri Garcia memang cukup tinggi. Itu karena catatan menawan Getafe jika main di kandang sendiri di Coliseum Alfonso Perez. “Di kandang kami memenangkan partai penting. Atletico, Valencia hingga Barcelona kami kalahkan. Dan menjamu Sevilla tentu saja ada peluang besar, meskipun pasti bakal sulit,” pungkasnya.

Di sisi lain, kubu Sevilla juga berpeluang masuk zona Eropa musim depan. Dan kans mereka bahkan lebih baik, karena saat ini sedang duduk di peringkat tujuh. Hanya terpaut dua angka dari zona Eropa itu sendiri. Soal performa, Sevilla juga tak buruk-buruk amat. Yang jadi soal adalah partai tandang. Mereka kerap kewalahan jika harus melawat ke markas lawan.

Masalah lain adalah cedera. Ya, beberapa bintang mereka dibalut cedera. Dilansir Marca, peluang Sevilla bakal sulit menang di kandang Getafe dengan cederanya Andre Palop di bawah mistar. Penggantinya bahkan belum pernah diturunkan di kompetisi resmi, yakni Javi Varas. Namun begitu, Juan Cala dikabarkan siap merumput membantu pertahanan bersama Fernando Navarro dkk. (*)

Bukti Antidefensif Mourinho

Real Madrid vs Sporting Gijon

MADRID – Ketika membawa Inter Milan meraih treble winners musim 2009-2010, predikat sebagai pelatih defensif makin melekat pada diri Jose Mourinho. Di awal melatih Real Madrid, imej itu masih terbawa. Fans Real yang dikenal kritis dan mendambakan pertandingan dengan banyak gol sempat khawatir.
Namun, kekhawatiran itu berangsur-angsur tergerus. Apalagi setelah Mourinho berhasil membawa Iker Casillas cs menyamai rekor tim paling produktif Liga Primera milik pendahulunya atau era kepelatihan John Toshack pada musim 1989-1990.

Seiring mengalahkan Sporting Gijon 3-1 di Santiago Bernabeu kemarin, koleksi gol Real kini menjadi 107 gol. Jumlah itu masih bisa bertambah mengingat kompetisi masih menyisakan lima laga lagi.

“Rekor ini untuk orang-orang yang menyebut Jose Mourinho sebagai seorang pelatih defensif, Anda seharusnya melihat statistik,” kata asisten pelatih Real Aitor Karanka saat mewakili Mourinho dalam sesi konferensi pers seusai laga seperti dilansir Marca.

Sukses Real mencetak rekor tim paling produktif berbanding lurus dengan pencapaian gol Cristiano Ronaldo. Sebiji gol yang dicetaknya pada menit ke-74 membuat Ronaldo menjadi koleksinya ke-41 di liga musim ini dan memecahkan rekor 40 gol miliknya musim lalu.

Gol Ronaldo sangat vital karena membuat Real keluar dari tekanan dan memimpin 2-1. Gijon secara mengejutkan memberikan perlawanan sengit sejak menit awal, bahkan unggul dulu melalui penalti Miguel de las Cuevas (30’) sebelum dibalas Sergio Ramos tujuh menit berselang. Sedangkan gol ketiga Real dicetak Karim Benzema (82’) atau tiga menit setelah Gijon kehilangan kapten tim Roberto Canella. (dns/jpnn)