28 C
Medan
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 13660

Pulau Larangan

Adi Zamzam

Langit penuh jingga ketika Mbak Runi melangkah riang ke pantai. Cakrawala malah sudah mulai berjelaga. Langkah Mbak Runi yang terus ke utara menumbuhkan benih kekhawatiran dalam benakku.

“Katakan saja kalau aku ke rumah Rohmah!” jawabnya ketika kutanya hendak ke mana.
“Nanti Bapak marah!” teriakku, yakin bahwa ia membohongiku.

“Aku ke rumah Rohmah!” suaranya hampir tertelan debur ombak.
Entah mengapa aku merasa ombak terlihat tak seperti biasanya. Aku seperti mendengar riuh suara Bapak dan Emak di debur ombak. Bapak tengah mencari utangan ke beberapa juragan ikan. Sedang Emak mungkin juga nanti malam baru pulang. Ikan sulit didapat kala musim angin barat tiba. Hujan selalu membuat Emak dan Bapak sibuk sehingga jarang di rumah.

Kekhawatiranku membesar ketika di ujung mataku Mbak Runi terlihat bercakap riang dengan Dayat—seorang pemuda yang selalu berbau jelek di mulut Bapak.  Seorang pemuda yang baru saja menamatkan pendidikannya di kota namun kini lontang-lantung setelah pulang ke desa. Kulihat mereka naik ke perahu itu.

“Nanti Bapak marah!!” teriakku sekuat tenaga.
Mbak Runi hanya memberi senyum. Sementara itu Dayat telah mengayuh perahu menuju lautan warna emas. Mereka menuju utara, arah kekhawatiranku berasal. Cerita-cerita keangkeran Pulau Larangan kembali terngiang.
***

Pulau Larangan adalah pulau kecil tak berpenghuni tak jauh di muka perkampungan kami. Cuma butuh satu setengah jam berperahu untuk ke sana. Ada mitos-mitos mengerikan bersemayam di pulau itu, yang selama ini amat diyakini oleh semua orang di perkampungan nelayan sepanjang pantai kami.
Sejak aku masih SD, Bapak selalu mengulang cerita bahwa pulau itu amat terlarang bagi muda-mudi untuk menyinggahinya. Pulau itu hanya boleh disinggahi oleh orang-orang yang sudah bersuami ataupun beristri.
“Memangnya kenapa, Pak?” Mbak Runilah yang paling penasaran. Meski  perempuan, ia paling suka bertualang. Perangai bengalnya tak kalah dengan anak lelaki.

“Siapa yang melanggarnya, akan terkena kutukan.”
“Seperti apa kutukannya, Pak?” cecar Mbak Runi.
“Pokoknya jangan sekali-kali ke pulau itu.”

Tak ada yang tahu persis tentang kutukan seperti apa yang bakal didapat. Tapi kurasa Mbak Runi pun pernah mendengar juga dari orang-orang bahwa si pelanggar pantangan itu hidupnya akan dipenuhi kesedihan dan kesulitan. Bencana demi bencana akan menghampirinya.
“Bapak bohong,” ujar Mbak Runi suatu ketika.
“Bohong apa?” keningku berkerut.

“Tentang kutukan itu.”
Aku terpaku. Kulihat ada binar kemenangan di kedua matanya.
“Aku sudah pernah ke sana. Pemandangannya amat menakjubkan. Semuanya masih belum terjamah. Benar-benar mirip surga,” ceritanya, berbisik.
“Mbak sendirian ke sana?”

Menggeleng, “Dengan Dayat.”
Ya, kupikir siapa dia yang berani melanggar larangan turun-temurun itu? Orang-orang sini lebih senang mencari pekerjaan sampingan daripada melakukan hal yang tidak-tidak. Kecuali Dayat, yang terkenal berani dan sering melakukan hal-hal yang tak pernah dilakukan kebanyakan pemuda sini.
“Mau ikut jika aku ke sana lagi?”
Aku buru-buru menggeleng.
“Takut kena kutukan?” bersungut-sungut menahan tawa.
Aku hanya diam.

“Jangan bilang siapa-siapa,” ujarnya kemudian.

Ya, tentu saja aku akan terus diam. Aku menunggu kebenaran cerita itu—kutukan apakah yang akan datang menimpa Mbak Runi?
Sebenarnya ingin kuhilangkan ketakutan tak beralasan itu. Kenapa Mbak Runi justru menceritakan kenyataan berbeda tentang keadaan di sana?
“Kamu masih tak mau ikut?” sepertinya Mbak Runi telah ketagihan. Dua kali dalam seminggu dia selalu diam-diam menyelinap ke sana. Tentu saja saat Bapak Emak tak di rumah.

Aku menggeleng. Aku benar-benar masih menunggu hal buruk apakah yang akan terjadi dengan kakak sulungku. Mengapa semua orang begitu memercayai sebuah pantangan jika hal itu tak terbukti kebenarannya?
“Kamu cuma akan jadi kembang lapuk kalau terus berada dalam rumah.”

Lima bulan silam aku memang pernah marah dengan Bapak lantaran beliau tak mendukung keinginanku melamar bangku SMA. Kini jadilah aku seorang gadis rumahan yang kesehariannya harus mati-matian melawan bosan membelah ikan-ikan untuk diolah menjadi ikan asin, atau kadang juga membuat terasi.
***
“Ke mana?!” amarah Bapak memuncak, karena mulutku yang masih juga merapat. Emak baru saja pulang dari rumah Rohmah, membuktikan kebohonganku.

“Apa aku harus memukulmu agar kau mau bicara?!” tangan kiri Bapak terangkat.
“Pu… Pulau Larangan, Pak,” membuat desisan kecil itu terpaksa keluar.
Kulihat dada Bapak semakin naik turun mengais nafas.
“Dengan pemuda tengik itu?!”
Aku mengangguk kaku.

Langsung saja Bapak membalikkan tubuh, “Kamu harus ikut aku mencari anak keparatmu itu,” menoleh Emak.
Sepertinya malam ini Bapak takkan pergi melaut. Ada api yang akan segera membesar.
***

Hingga pagi mengantar burung-burung keluar sarang, perahu Dayat belum juga nampak menepikan Mbak Runiku. Bapak semakin sibuk menanyakan keberadaan Mbak Runi setelah semalam tak menemukan jejak siapapun di Pulau Larangan.

“Ya, semalam aku melihat perahu itu. Tapi cuma kulihat seorang saja di atasnya. Ke Pulau Larangan,” ujar Pak Rozar
Bapak menolehku dengan binar kemarahan di mata. Ingin kuutarakan bahwa Bapak seharusnya tenang-tenang saja dengan keadaan Mbak Runi. Toh Mbak Runi sebenarnya telah lama diam-diam melanggar larangan itu dan tak terjadi apa-apa.

“Tapi sepertinya orang di atas perahu itu tak berambut panjang. Aku tak yakin itu anakmu.”
“Tapi kau yakin bahwa itu perahu berandal tengik kan?”

“Iya. Aku tak mungkin salah. Bapaknya membeli perahu itu dariku,” Pak Rozar geleng-geleng kepala.
“Oh iya, aku melihat bayangan orang berambut panjang di atas perahu itu,” ujar Pak Rikin, menambahi keterangan.
“Sebaiknya kau nikahkan saja setelah mereka pulang,” tambah Pak Rikin. “Kau tahu pantangan pulau itu kan? Daripada mereka mengajakmu kucing-kucingan seperti ini.”

Dan keterangan-keterangan yang didapat dari orang-orang yang melaut malam itu memang membentuk sebuah kisah yang utuh. Ada perahu yang dikayuh menuju Pulau Larangan. Sesekali terlihat bayang orang berambut pendek di atasnya. Sesekali juga terlihat bayang orang berambut panjang di atasnya. Apa yang dilakukan bayang yang tampak dan yang tak tampak di atas perahu itu langsung menjadi menu utama pergunjingan di kampung ini.
“Hei, Sani! Apa tak pernah kau didik anak lelakimu itu, ha?!” meledaklah amarah Bapak di depan rumah orangtua Dayat.
“Ada apa dengan anakku?” Pak Sani, yang sama-sama seorang nelayan itu, menampakkan ketidaktahuan.

“Bapak apa kau ini, tak mengetahui ulah anaknya, ha?! Anakmu melarikan anakku ke Pulau Larangan! Ayo cari mereka sebelum langit kembali gelap! Atau kuseret kau ke Pengadilan jika cuma diam!”

Ombak kembali terdengar riuh di telingaku,.membisikkan bahwa akan terjadi sesuatu yang besar setelah ini. Bahkan hingga langit berjelaga, Bapak dan Pak Sani sama-sama tak menemukan jejak siapapun di Pulau larangan. Daun-daun cemara yang berjatuhan mengabarkan gelisah tak berkesudahan.
***

Pencarian demi pencarian akhirnya dihentikan ketika memasuki hari keempat. Aku tahu, dalam diamnya Bapak masih menyimpan bara. Karena itulah tak kuceritakan apa-apa yang aku ketahui tentang Pulau Larangan yang pernah diceritakan Mbak Runi.

Yang membuatku tak tega adalah Emak. Sering kulihat perempuan itu terisak jika lamunannya telah penuh dengan Mbak Runi.
“Apa benar pulau itu sangat mengerikan, Mak?” ujarku, sambil sibuk merendam belahan ikan petek, layur, kadalan, dan abangan ke dalam air garam.
Emak menoleh.

“Kata Mbak Runi, pulau itu malah seperti surga.”

“Tidak, mbakyumu bohong. Mungkin itu adalah ulah para penunggu pulau itu. Mereka menjebak mbakyumu dengan memperlihatkan alam khayalan. Kini kau sudah tahu akibatnya kan? Lihatlah, mbakyumu jadi lupa rumah, lupa orangtua.”
***

Pagi itu hari ketujuh setelah kepergian Mbak Runi. Aku tak bermimpi apapun  yang kiranya bisa kusebut sebagai firasat pertanda. Semuanya serba sepi dan hening. Hanya ayam-ayam yang tedengar riuh bersahut-sahutan di halaman rumah. Khas bau tanah sehabis hujan menguar di hidung tatkala sosok itu kulihat berjalan lesu.

“Mbak, dari mana?! Bapak marah besar!”

Gadis itu tersenyum, “Dari pulau itu,” kulihat kebahagiaan di kedua matanya.  Meski tubuhnya kulihat kuyu dan lebih kurus dibanding delapan hari silam.
“Mbak bohong. Bapak bilang Mbak tak ada di pulau itu.”

“Oya? Bapaklah yang telah bohong. Kenapa mesti malu kalau semua orang tahu aku telah pergi ke pulau itu? Toh aku bukan gadis ingusan lagi.”
***

Bapak meledak-ledak sejak saat itu. Berkali-kali beliau membawa amarahnya ke rumah Pak Sani—menuntut pertanggungjawaban segera dilaksanakan. Pak Sani bilang ia tak keberatan menebus kesalahan itu. Beliau meminta waktu untuk mengumpulkan segala persiapan upacara penebusan. Bapak bilang ia tak peduli lagi dengan pemuda tengik yang masih pengangguran itu. Bapakpun tak peduli dengan nasib Mbak Runi kelak. Pokoknya upacara penebusan harus segera ditunaikan sebelum bencana demi bencana beruntunan datang.

Berjalan hari aku mulai menyaksikan sendiri perihal apa yang selama ini dikhawatirkan. Kulihat, perut Mbak Runi membuncit dan semakin membuncit seiring bertambahnya hari. Entah apa itu yang tumbuh di dalamnya. Wajah ayunya yang semakin terlihat pucat dan kuyu dalam pingitan membuat Bapak semakin hilir-mudik menagih janji ke rumah Pak Sani. Bapak bilang, inilah buahnya melanggar pantangan itu.

Namun yang membuatku heran, tak pernah kulihat kesedihan di kedua mata Mbak Runi. Malah sering kudengar nyanyian-nyanyian riang dari dalam kamarnya. Membuatku semakin penasaran tentang kebenaran cerita-cerita tentang Pulau Larangan. Apalagi kini diam-diam ada seorang pemuda yang terus membujukku berlayar bersama ke sana.*****

HKBP Binjai Baru, Terlantar 5 Tahun

Pemko Binjai Diminta Keluarkan Izin Pembangunan

Lima tahun sudah pembangunan gereja HKBP Binjai Baru, Sumut terlantar. Gereja yang pernah mengalami kekerasan tahun 2007 silam kini dihiasi ilalang. Tragis memang kejadian itu karena sekelompok orang pernah pula mencoba memaksa menghentikan pembangunan gereja yang telah berdiri megah di tengah persawahan Jalan Wahidin, Binjai Baru itu. Kala itu kelompok masyarakat yang terdiri dari pemerhati rumah ibadah, pimpinan gereja, tokoh gereja dan umat kristiani di Sumut mengadakan perlawanan dalam mempertahankan agar pembangunan rumah ibadah tidak dihentikan. Tapi sampai kini pembangunan gereja tersebut masih terlantar.

Merasa kurang nyaman karena selama 5 tahun terus menumpang beribadah di gereja sahabat, kini ratusan jemaat gereja HKBP Binjai Baru mendesak kelanjutan pembangunan gereja tersebut. Desakan ini disampaikan pada Praeses HKBP Distrik XXIII Binjai-Langkat, Pdt SL Simanjuntak yang disampaikan di ruang kerjanya di Jalan Cuk Nyak Dien, Binjai yang didampingi oleh Ketua Panitia Pembangunan HKBP Binjai Baru Pdt Sirait, belum lama ini.

Menurut Praeses, hendaknya semua pihak mendukung keinginan jemaat untuk melanjutkan pembangunan HKBP Binjai Baru. Selain itu Pemko Binjai hendaknya memberikan solusi pada pembangunan HKBP Binjai Baru bukan malah menelantarkannya, tegasnya.

Anggota DPRD Binjai, Peterus, menyesalkan ketidaktegasan Pemko Binjai dalam menyingkapi pembangunan HKBP Binjai Baru dengan alasan demi kekondusifan kota Binjai yang menyebabkan gereja tersebut terlantar 5 tahun. Ratusan jemaat merasa kurang nyaman dalam beribadah karena menumpang terus di gereja sahabat merupakan tindakan yang sulit diterima.

“Oleh sebab itu, Pemko Binjai dan Muspida Plus harus segera memberikan izin untuk melanjutkan pembangunan rumah ibadah itu,” ujar Ketua Sumatera Berdoa, JA Ferdinandus.

Selain itu jemaat diimbau tenang dan dalam waktu dekat akan digelar rapat internal bersama majelis dalam menjaga kekompakan untuk menyingkapi pembangunan gereja HKBP Binjai Baru tersebut, tegas mantan Ketua PGI Sumut ini.

Sementara itu salah seorang pimpinan gereja aliran kharismatik, Bishop Gereja Kristen Pentakosta (GKP) Pusat di Medan, Pdt Eliver Jony Hutahaean SH MMin menyarankan jemaat HKBP Binjai Baru untuk mengadukan persoalan pembangunan gereja yang sudah terlantar selama 5 tahun tersebut pada Mahkamah Konstitusi. “Salah satu solusi persoalan ini hendaknya dilaporkan pada Mahkamah Konstitusi, biar pihak MK yang memberikan solusi terbaik,” ujar gembala gereja kharismatik itu. (rs/*)

Watimpres Usul Bangun Mesjid di Samping GKI Yasmin

Kisruh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin akan kembali memasuki babak baru. Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) akan turun langsung untuk mempertemukan GKI Yasmin dan Walikota Bogor minggu depan.

“Kami mengundang GKI yasmin dan Walikota Bogor minggu depan datang ke kantor ini untuk membicarakan hal-hal yang bisa menyelesaikan masalah. Maksud dan penyelesaiannya antara lain membicarakan konsep jalan tengahnya,” kata anggota Wantimpres bidang hukum dan hak asasi manusia Albert Hasibuan, Rabu (11/4).

Salah satu usulan yang mengejutkan adalah rencana pembangunan Masjid tepat disebelah GKI Yasmin. “Wantannas meminta agar keputusan MA (Mahkamah Agung) ditaati oleh Walikota Bogor sehingga gereja tetap berdiri disitu dan GKI yasmin tetap beribadat. Tapi disamping gereja dibangun mesjid, dengan begitu ada semacam simbol kerukunan beragama dan toleransi beragama,” terang Albert.

Menurutnya, pembangunan itu merupakan solusi jalan tengah untuk keadilan bagi semua pihak. Setahun sudah kisruh GKI Yasmin berlangsung tanpa adanya penanganan yang memadai. Jelas kita sedih ketika saudara seiman kita dilanggar hak-nya. Lebih daripada itu, hanya kasih dan pemahaman tulus yang harus terus kita tunjukan.

Pihak GKI Yasmin menerima usulan yang diajukan Watimpres Juru Bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging menyebutkan bahwa upaya ini memang sesuai dengan amanah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengedepankan solusi non hukum.

Selain itu, Bona juga menyatakan “Kita tidak berkeberatan dengan usulan itu. Karena usulan tersebut tidak bertentangan dengan keputusan Mahkamah Agung dan Ombudsman yang menyatakan bahwa pembangunan tempat ibadah GKI Yasmin tidak melanggar hukum,” ungkap Bona.

“Usulan tersebut merupakan solusi non hukum yang tidak melanggar hukum. Kami tidak berkeberatan, karena hanya orang-orang yang tidak siap hidup dalam keberagaman yang menolak usulan tersebut,” tandasnya.

Usulan pembangunan tempat ibadah, seperti mesjid, dianggap sebagai tanda bahwa umat-umat beragama dapat bersatu padu dan rukun bertetangga. Indonesia dengan berbagai umat percaya yang berbeda agama maupun aliran kepercayaan dapat hidup rukun dan GKI Yasmin telah menjawab dan membuktikannya. (mi/*)

Lupakan Sakit di Kantin Rumah Sakit

Ramadhan Batubara

Sabtu siang di Rumah Sakit Haji, Medan. Ada tatapan syahdu. Ada gerak yang kaku. Ada rintihan. Ada tangis. Saya malah duduk di kantin sambil berbincang dan asyik tertawa.

Bukan maksud untuk mengejek mereka yang sakit. Perbincangan kami memang asyik. Apalagi, suasana di kantin ini sama sekali tak mencerminkan rumah sakit. Ada keriuhan. Ada celoteh panjang. Dan, ada tawa yang tak harus ditahan.

Selain itu, di beberapa meja dari kami ada beberapa dokter koas yang asyik merokok. Mereka sibuk menggosip. Entahlah, tak begitu terdengar kalimat mereka. Sesekali tawa mereka membahana. Itu saja. Namun, dari bahasa tubuh mereka tampak kalau perbincangan tidak jauh dari urusan wanita. Setidaknya, pandangan empat lelaki itu sesekali melirik kumpulan wanita di meja yang lain.

Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya muncul. Dia tidak sendiri, dia mendorong lelaki lebih tua di kursi roda, mungkin bapaknya. Mereka memilih meja yang berada tepat di samping gerombolan dokter koas tadi. Kehadiran mereka di posisi itu jelas saja menghalangi pandangan saya pada dokter-dokter koas tadi.

Lalu, sang bapak sudah berada di depan meja. Kursi yang sebelumnya telah ada di sana dipinggirkan. Sang lelaki setengah baya belum duduk juga. Dia berbalik dan menjumpai salah satu penjual; di kantin ini memang cukup banyak penjual; beraneka makanan hingga jajanan ditawarkan; ada juga yang jual majalah dan koran. Dia memesan sesuatu, jelas tidak bisa saya dengar pesanannya itu.
Tak lama kemudian, setelah lelaki itu duduk, datang pelayan. Dia membawa segelas teh manis panas dan sebuah piring yang terbuat dari anyaman rotan. Dia meletakan pesanan itu begitu saja di meja. Lelaki separuh baya tadi memindahkan gelas teh manis ke depan si bapak. Lelaki itu meletakkan piring anyaman rotan tadi di depannya. Terlihat ada daun pisang di permukaan piring itu. Lalu, setumpuk nasi dan ayam goreng tergeletak di sana. Tentu, sambal dan lalapan tidak ketinggalan: pecel ayam. Lelaki tiu pun mulai menyobek ayam tadi; makan.

Tapi, saya lihat, dari balik mereka, asap yang dihasilkan para dokter koas tadi juga belum hilang. Susana riuh pun masih meraja. Sementara, sang bapak di kursi roda sibuk tersenyum. Melihat kiri-kanan, mungkin dia rindu sehat. Mungkin karena itulah, dia memaksa untuk ke kantin. Mungkin, kantin dianggapnya bisa menjadi penyemangat; sesuatu yang hidup memang bisa menjadi sugesti bukan?

Sayangnya, cuaca saya rasa cukup panas. Seandainya saat ini hujan rintik, mungkin akan tambah menyenangkan. Ya, di kantin ini, suasana rumah sakit memang tak ada. Kalaupun ada, hanya terletak pada pakaian dokter koas atau perawat saja. Beruntung jika mendapat beberapa pasien yang lewat. Suasana mirip kantin di Kampus Sastra Universitas Sumatera Utara.

Tapi sudahlah, soal kantin, saya juga teringat dengan kantin di rumah sakit, saya ingat sekita tiga tahun lalu. Ya, saya menikmati kopi di kantin Rumah Sakit dr Pirngadi. Tiga tahun lalu, kantin di rumah sakit itu berada di lantai tiga. Tempatnya tertutup dan tenang. Setengah dindingnya dilapisi kaca, jadi mereka yang berada di dalam kantin bak ada dalam akuarium.

Lain lagi Rumah Sakit Adam Malik Medan. Di rumah sakit itu, kantin cenderung terbuka: beratap langit. Kantin itu hanya dilindungi beberapa pohon rindang. Suasana malah mirip kafe. Bangkunya melingkari meja. Jarak satu meja denga meja pun cukup jauh.

Intinya, ketiga kantin di atas sama sekali tak mencerminkan rumah sakit yang ‘seram’ dan bau obat. Terus terang, saya menikmati hal itu. Saya merasa lenyap sesaat dari saya sedih karena saudara yang dirawat. Ya, persis jam istirahat dalam pertandingan bola.

Mungkin, karena itulah, para dokter koas tadi asyik berbincang sambil merokok dan beberapa kali terbahak. Meski belum menjadi dokter penuh, beban mereka kan berat juga. Setidaknyan kostum yang mereka gunakan sudah mirip dokter.

Sayangnya, ketika saya melihat bapak yang mengenakan kursi roda itu, saya miris lagi. Pasalnya, beberapa kali dia mengibaskan tangannya. Asap rokok dokter koas itu mengganggu hidungnya. Nah, kemirisan saya malah terletak pada ketidakpekaan para dokter koas. Mereka terus saja merokok. Ah, bukankah harusnya mereka mematikan rokok itu? Dan, bukankah mereka adalah bagian dari kaum yang terus melakukan kampanye keburukan dari akibat merokok. Bahkan, mereka bangga mengatakan kalau perokok pasiflah yang paling berbahaya. Lalu, bapak berkursi itu bagaimana?

Tapi sudahlah, seorang penegak hukum juga belum tentu sadar hukum bukan? Seorang pegawai pajak pun bisa mengemplang pajak. Jadi, hal semacam itu sudah biasa di negeri ini.

Pun, soal sakit. Ada kalanya, dokter menyerah. Persis yang dialami saudara saya. Bayangkan saja, dokter yang merawatnya malah membiarkan dia berobat secara alternatif. Saya terkejut. Tapi, kata keluarganya saudara saya, pilihan memakai jasa ‘orang pintar’ sudah diketahui dan disetujui dokter. Bah, jika begitu, kenapa harus ke rumah sakit. Kenapa harus dirawat di ruang Jabal Rahmah. Praktis, rumah sakit hanya menyediakan tempat menginap saja kan? Ya, paling ditambah makanan dan obat kan? Apalagi, sewa kamar per malamnya mencapai Rp300 ribu. Bah, angka itu sudah sama dengan kamar standar hotel berkelas di kota ini kan?

Tapi, sekali lagi, sudahlah. Setidaknya saat ini saya berada di kantin. Dan, saat duduk di sini, tak elok rasanya memikirkan penyakit. Bukankah kantin di rumah sakit diciptakan untuk itu? Ah, entahlah. (*)

Paskah Oikumene Pakpak Bharat Berjalan Hikmad

Perayaan Paskah Oikumene Kabupaten Pakpak Bharat yang digelar di Gedung Serbaguna, Salak, Rabu (11/4) berjalan dengan hikmad. Ratusan masyarakat dan hampir seluruh PNS yang bertugas di lingkungan Pemkab setempat turut hadir mengikuti acara yang dimaksud.

Perayaan Paskah tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, karena perayaan tahun ini  diwarnai dengan pragmen yang menceritakan wafatnya Yesus Kristus di Kayu Salib untuk menebus dosa manusia. Pragmen Viadolorosa tersebut disambut hangat dan mendapat aplus dari para hadirin.

Bupati Remigo Yolando Berutu pada sambutannya mengatakan, kehidupan masyarakat Pakpak Bharat dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini tentunya telah semakin dinamis seiring meningkatnya aktivitas sosial, ekonomi dan pemerintahan di daerah ini. Beberapa kemajuan yang kita capai patut kita syukuri walaupun dalam kenyataannya seiring dinamika yang ada belum sepenuhnya.

Lebih jauh Remigo menyatakan, bahwau untuk mewujudkan kesejahteraan maayarakat, dalam kaitan itu, pola pikir tradisional, yang saat ini masih mendominasi ethos kerja kita dalam membangun Kabupaten Pakpak Bharat perlu kita ubah sedemikian rupa agar selaras dengan visi pembangunan itu sendiri, mari kita berpikir lebih rasional, bekerja keras, ikhlas dan berprestasi untuk mengelola peluang-peluang yang sudah ada dihadapan kita supaya Kebangkitan Kristus Membawa Kehidupan Baru, seperti tertulis dalam Surat Rasul Paulus yang kedua kepada Jemaat di Korintus 5 : 17 : “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, Ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Juga sesuai dengan thema Paskah Oikumene Kabupaten Pakpak Bharat pada tahun ini, yakni “Kasih Paling Besar Adalah Pengorbanan Yesus Kristus” perlu kita jadikan sebagai tuntunan untuk mewujudkan motivasi dan komitmen yang lebih baik lagi dalam melayani masyarakat Pakpak Bharat. (tamba)

Paskah Moment Berbagi untuk Anak Yatim

Panti Asuhan Yayasan Pelita Kasih (Yapeka) di Kota Medan ikut merayakan paskah. Pengorbanan Tuhan Yesus bagi umat manusia dirayakan penuh kidmat di Panti asuhan yang dibangun sederhana bersebelahan dengan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Jemaat Rekhab yang berada di Jalan Sempurna Ujung No 50 Cinta Damai, Kampung Lalang, Medan pada hari Jumat (6/4).

Acara ini diwarnai Jalan Salib anak Yapeka beserta koor anak dan jemat GBIS Rekhab Medan. Acara ini dihadiri puluhan anak Yapeka ditambah sejumlah jemaat GBIS Rekhab beserta rombongan dari Love Carity-Desi dan kawan-kawan beserta Edi yang merupakan pimpinan salah satu Surat Kabar terbitan Medan.

Dalam firmannya Pdt Raju, STh menyampaikan makna paskah dan pengorbanan Tuhan Yesus pada umatnya. Alumni STT William Carey Medan ini menjelaskan Amsal 14 : 21, katanya berbahagialah orang yang menabur belas kasihan kepada orang yang menderita. Sekaligus mengajak yang hadir untuk membagikan kasih pada orang-orang yang kurang mampu dan anak terlantar.

Kata sambutan disampaikan oleh Pimpinan Yapeka Medan, Pdt Ruben Esron Purba MTh didampingi oleh Pdt Lastiur boru Pasaribu STh. Pdt Purba mengucap syukur atas kasih dan pengorbanan Yesus pada umatnya juga pada anak-anak yang diasuhnya kini di Panti Yapeka.

“Awalnya tidak ada niat untuk mengasuh anak-anak terlantar di Yapeka Medan, tapi karena kasihnya rupanya Tuhan percayakan saya untuk mengasuh anak-anak itu sekarang. Tapi tinggal di panti sederhana dengan makan ala kadarnya dan tidur beralaskan tikar kurang nyaman bagi mereka. Untuk itu dalam waktu dekat ada rencana melanjutkan pembangunan di panti sederhana ini untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anak ini. Untuk itu kita doakan supaya rencana itu segera terealisasi,” ujar Pdt Ruben.

Untuk itu bagi pihak-pihak yang memiliki kepedulian pada anak-anak tersebut dapat memberikan saran dan informasi untuk mendukung pelayanan Panti Asuhan Yapeka, Medan dapat menghubungi Pdt Ruben Esron Purba MTh dan Pdt Lastiur boru Pasaribu di nomor 081361149205. (rs/*)

Hidup dalam Buah Roh

Tuhan Yesus telah mengorbankan nyawanya bagi umat manusia. Pengorbanannya di kayu salib di bukit Golgota untuk menebus dosa manusia.
Semua dilakukannya karena kasihnya pada umat manusia dan ia berharap manusia tidak binasa tapi beroleh hidup yang kekal. Paskah adalah melepaskan diri dari dosa atau past over, dimana pengorbanan Yesus dinyatakan bagi umat manusia agar bebas dari segala kutuk dosa dan hidup dalam prinsip salib dengan hidup dalam buah-buah roh dan menjauhkan diri dari sifat duniawi dan kedagingan. Itu sebabnya Tuhan Yesus mati bagi kita supaya kita hidup dalam kemenangan.

Demikian disampaikan oleh Pdt Paul F Wakkary— Gembala Sidang GPdI Filadelphia Medan Polonia dalam renungan Paskahnya pekan ini.
Harapannya tambah Pdt Wakkary, Tuhan Yesus mengorbankan nyawanya supaya umatnya memuliakan Dia melalui hidupnya dan melayani dia.
Dalam renungan paskah tersebut, dilanjutkannya hendaknya umat menguduskan diri dari sifat-sifat duniawi yang menjurus pada kebinasaan. Dalam Galatia 5 : 19 dikatakan perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta  pora dan sebagainya.

Tapi tetap berpegang teguh pada firman dan doa dengan hidup dalam buah roh yang mendatangkan sukacita di bumi dan surga. Ditambahkan buah roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Galatia 5 : 22-23), jelas Ketua Umum Panitia Hari Doa Sedunia-Sumut 2012 ini. (rs/*)

Janji Dahlan Iskan Sejahterakan Warga Batak

BALIGE-Hadiah istimewa diberikan Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan saat masyarakat Batak menggelar Pesta Budaya Tradisional Batak di T.B Silalahi Centre kemarin. Dia berjanji bakal merealisasikan pengubahan Bandara Silangit di Kabupaten Tapanuli Utara menjadi Lapangan Terbang Internasional. Selain itu, dia juga memastikan tidak mengubah kebun teh Sidamanik menjadi kelapa sawit.

Menurut Dahlan, kedua langkah itu perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat Batak. Untuk bandara misalnya, pengubahan menjadi bandara Internasional sudah tidak bisa ditawar lagi. Alasannya, potensi Danau Toba tidak sebanding dengan kesejahteraan warga sekitar yang minim. “Apa hebatnya Danau Toba kalau tidak mampu mengangkat ekonomi rakyatnya,” ujarnya.

Dalam acara yang juga untuk memperingati HUT ke 4 Yayasan T.B Silalahi itu, Dahlan menyebut gagasan pengubahan status bandara sudah pernah dilontarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri. Itulah mengapa, mantan Dirut PLN itu optimistis jika bandara di Siborong-borong, Tapanuli Utara itu bisa segera diubah statusnya.

Terpisah, festival kebudayaan dan HUT T.B Silalahi Centre itu berlangsung meriah. T.B Silalahi sebagai tuan rumah mampu menghadirkan kehangatan diantara ribuan peserta. Termasuk dengan delegasi asing dari Taiwan dan Belanda yang hadir untuk melakukan MoU pengembalian artefak Batak ke Indonesia.

Salah satu buktinya, Dahlan tidak ragu untuk manortor saat berada di lantai dua Museum Batak. Kedua tarian itu dia lakukan setelah salah satu ketua adat Batak mengalungkan kain Ulos ke Dahlan Iskan. “Kain ini sebagai tanda untuk tamu kehormatan,” ujar Silalahi.

Pemilik nama lengkap Tiopan Bernhard Silalahi itu juga menjelaskan kepada masyarakat kalau orang Batak dan Taiwan satu rumpun. Itulah kenapa pakaian adat dan lagu keduanya terdapat kemiripan. Bahkan, pria yang berulang tahun tiap 17 April itu menyebut ada beberapa lagu Batak yang populer di Taiwan.

“Ada yang dinyanyikan dalam bahasa Taiwan, ada yang tetap Batak,” terangnya. Festival budaya tradisional Batak sendiri bakal digelar dua hari dari kemarin hingga hari ini. Beberapa macam lomba dan pertunjukkan budaya terutama tari banyak diperagakan di T.B Silalahi Centre. (dim/jpnn)

PO yang Pakai Otak

Eka Sari Lorena Surbakti

Bermula dari dua unit bus yang melayani transportasi para pekerja di Jakarta yang tinggal di Bogor, Lorena Group berkembang menjadi perusahaan transportasi dan jasa logistik yang menggurita. Eka Sari Lorena Surbakti menjadi saksi hidup pertumbuhan bisnis yang dirintis ayahnya, G.T. Surbakti, pada 1970 dan sudah merambah ke Medan.

EKA Sari Lorena Surbakti tidak pernah melupakan dari mana dahulu Lorena dirintis. Masih jelas ingatannya saat dirinya masih kecil di kantor Lorena di Bogor. ”Dulu kalau ke kamar mandi tidak ada atapnya, jadi harus dipayungi Ibu karena Bogor sering hujan,” kenang Eka saat ditemui di kantornya Rabu.
Kini, Lorena Group telah memiliki dan mengoperasikan 500 bus besar, 250 truk, dan 57 armada busway. Jika ditambah dengan kendaraan-kendaraan kecil, total ada sekitar 1.000 kendaraan yang dioperasikan.

Lorena Group juga telah memiliki 667 kantor di seluruh tanah air. ”Jadi, sekarang dari Sabang sampai Merauke, Lorena ada benderanya,” kata peraih master of business and administration dari University of San Francisco, California, AS, tersebut.

Kesuksesan bisnis transportasi tidak terlepas dari peran strategis sektor tersebut terhadap perekonomian. Eka mengibaratkan sarana transportasi itu darah dalam tubuh. ”Saya percaya transportasi itu seperti da rah. Ketika tersumbat, orang bisa kena stroke,” kata ibu dua anak tersebut. Jika sarana transportasi tidak terbangun dengan baik, menurut Eka, gelombang urbanisasi akan meningkat.

”Orang akan memilih hidup di Jakarta, Surabaya karena pembangunannya tidak dialirkan ke daerahnya,” kata ketua DPP Organda tersebut. Berangkat dari pemikiran itu, Lorena Group mengembangkan diri tidak hanya melayani transportasi orang, namun juga barang. Karena itu, muncul layanan jasa logistik seperti ESL Express. ”Transportasi ini kan memengaruhi bisnis secara menyeluruh. Punya bisnis, tetapi tidak ada yang membawa ya tidak bisa. Punya padi, tetapi tidak ada yang mengantarkan, ya busuk jadinya,” ungkapnya.

Eka menyebutkan, salah satu alasan utama produk pertanian Indonesia yang lebih mahal jika dibandingkan dengan produk impor adalah mahalnya biaya transportasi. ”Itu karena infrastrukturnya yang belum mendukung,” katanya.

Padahal, lanjut dia, 91 persen logistik nasional masih ditopangang kutan jalan raya. Rata-rata di dunia 70 persen hingga 94 persen memang juga dilayani angkutan jalan raya. ”Nah, kalau tidak ada darahnya, numplek semua menjadi urbanisasi,” ujar nya.

Lantas, bagaimana kiat Lorena Group sehingga bisa sebesar sekarang? Menurut Eka, Lorena memiliki prinsip sederhana. ”Dulu kan PO, perusahaan otobus. Itu juga singkatan dari Pakai Otak,” ujar Eka seraya tersenyum. Selain PO, konsep lain adalah menjaga hati dan pantang menyerah.

Dengan memaksimalkan kecerdasan sumber daya manusia, rencana bisnis bisa dijalankan dengan optimal. Eka menyebutkan langkah besar Lorena yang mulai melayani trayek bus ke Jawa Timur pada 1980-an. ”Dulu kami paling jauh itu ke Surabaya,” katanya. Ekspansi ke Jawa Timur tersebut menjadi tonggak pesatnya laju pertumbuhan bisnis Lorena. Menurut Eka, itu juga disebabkan per tim bangan bisnis yang matang. Jawa Ti mur dinilai memiliki pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata. Penduduknya juga berpenghasilan lumayan. ”Selain itu, suka bepergian,” ujar Eka.

Saking besarnya di Jawa Timur, kala itu banyak yang mengira Lorena berpusat diprovinsi tersebut. ”Kami dulu dikira dari Jawa Timur. Dikira arek Suroboyo,” kata Eka. Eka menambahkan, Lorena juga tidak ingin sendirian bertumbuh. Untuk merangsang tumbuhnya minat berbisnis hingga ke daerah-daerah, Lorena membuat franchise untuk ESL Express. ”Jadi, siapapun bisa membuka ESL Express dengan biaya terjangkau,” imbuhnya.

Eka mengatakan bahwa pengembangan bisnis transportasi bukan hal yang mudah. In frastruktur masih menjadi kendala terbesar. Jika masa lah itu ditambah dengan kenaikan harga BBM, beban jasa transportasi akan bertambah. ”Kalau harga BBM naik, ya tinggal dihitung saja nanti untuk bus besar, Rp1.500 kali 120 liter sekali jalan,” kata Eka. Namun, menurut dia, jalan keluar kendala-kendala itu tetap harus dicari. (sof/c6/dos)

TENTANG LORENA GROUP

Lorena Group (berdiri 1970) adalah kelompok usaha yang awalnya bergerak dibidang usaha transportasi. Lorena Group telah berekspansi di industri logistik melalui holding company PT Lorena Karina. Holding ini memiliki sejumlah anak usaha. Di antaranya, PT Eka Sari Lorena Transport dan PT Ryanta Mitra Karina atau lebih dikenal dengan sebutan Lorena-Karina. Itu merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa angkutan darat antarkota antarprovinsi (AKAP). Di industri logistik, ada PT Eka Sari Lorena ESL Express dan PT Eka Sari Lorena Logistics. Ada pula PT Sari Lorena Charter & Rental dan PT Trans Jakarta Busway.

NAMA PEREMPUAN LEBIH MENJUAL

MENJADI anak sulung membuat Eka Sari Lorena memiliki privilege khu sus. Kasih sayang dari orang tua tentu dibagi sama rasa dengan dua adiknya. Tetapi, ada yang beda. Ka rena lahir lebih dahulu, nama Eka menjadi brand perusahaan yang dibangun ayahnya. ”Saya kan ma sih bayi, jadi tidak bisa maksamak sa nama saya dipakai,” ujarnya seraya tersenyum.

Menurut Eka, penggunaan namanya lebih karena anggapan bahwa na ma perempuan cenderung lebihla ku. Lorena juga berkesan dari nama asing. ”Padahal, itu asal ka ta nya dari Batak,” kaya Eka. Kini, Lo rena lebih menonjolkan brand ESL.

Dalam berbisnis, Eka selalu diberi ni lai-nilai dasar oleh ayahnya, G.T. Soerbakti. ”Kami selalu diajarkan bahwa hidup ini seperti lomba lari. Ja di, harus menang. Kalau ka lah melulu, jadi bete,” ujar nya.

Karena sejak kecil terlibat dalam ke seharian usaha ayahnya, Eka lebih mudah menyesuaikan diri ketika menekuni bisnis transportasi. (sof/c6/dos)

Rumah Subsidi Wajib Pakai Lampu Hemat Energi

Promosi Solar Cell, Kemenpera Gandeng Kemenristek

Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz kembali menegaskan penggunaan lampu hemat energi untuk rumah subsidi. Selain mendukung program pemerintah untuk hemat energi listrik, juga meringankan beban masyarakat. “Seluruh rumah yang disubsidi pemerintah harus menggunakan solar cell. Nantinya akan kita usahakan agar solar cell tersebut sudah masuk beban pengembang. Kalau perawatan tanggung jawab konsumen,” katanya kepada wartawan di Kemenpera, Rabu (11/4). Dengan menggunakan lampu hemat energi, masyarakat tidak usah bayar listrik perbulan lagi. Untuk teknologi lampu solar cell (tenaga surya) ini, lanjutnya, Kemenpera akan bekerja sama dengan Kementerian Ristek.

“Kemenristek akan kita gandeng untuk teknologinya. Kalau urusan pembiayaan kita gandeng Bank BUMN. Sedangkan pengembangnya adalah Perumnas,” tandasnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Menpera mengatakan akan mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) yang mengatur penghematan energi untuk rumah tipe 36. Tak hanya rumah tipe 36 yang diminta menggunakan solar cell untuk penerangannya, lampu penerangan jalan pun disarankan menggunakannya. Dengan demikian PLN hanya dijadikan pendukung kalau ada masalah dengan solar cell.

Dijelaskannya, lampu energi tenaga surya ini sangat mudah digunakan. Alatnya tinggal diletakkan di atap rumah sehingga dapat menyerap energi matahari. Setelah itu disambung ke baterei yang dimasukkan di atas plafon. Jika siang hari selama ada cahaya matahari energi akan masuk ke baterei dan malam hari bisa menyalakan lampu hemat energi.

Di sisi lain, pemberlakuan program lampu hemat energi diyakini pemerintah tidak akan berdampak terhadap harga rumah. Selain harga lampu hemat energi tidak terlalu mahal, juga diproduksi dalam negeri. “Harga rumah murah tidak akan menjadi mahal meski pakai lampu hemat energi dari tenaga surya. Karena harga lampu hemat energi sangat murah kok,” kata Djan Faridz.

Ditanya harga lampu hemat energi tersebut, menteri mengaku masih melakukan studi untuk menetapkan angka yang pas. “Survei dan studinya masih jalan. Kami upayakan semurah mungkin serta terjangkau bagi masyarakat. Tidak mungkin saya memberikan rekomendasi untuk harga yang tidak terjangkau,” tuturnya.

Penghematan energi listrik sudah dilakukan di Kantor Kemenpera denganmemakai neon serta  ruangan kantor dibuat terbuka sehingga cahaya matahari dari jendela bisa masuk ke dalam. (esy/jpnn)