Home Blog Page 13698

Sulit Diselesaikan Badan Arbitrase

JAKARTA-Langkah untuk membawa permasalahan kisruh PSSI ke badan arbitrase olahraga di Indonesia dinilai tak akan berjalan mulus. Pasalnya, dua kubu yang sedang berkonflik masih belum memiliki kesamaan dalam menentukan badan Arbitrase yang dipakai.
“Permasalahan akan sulit selesai selama tak ada kesepakatan antara dua pihak yang berseteru untuk menentukan ke mana mereka akan memberikan mandat dalam penyelesaian konflik,” kata Ketua BAKI Mohamed Idwan Ganie saat ditemui dalam peresmian pembentukan BAKi oleh KOI di Jakarta, kemarin (27/3).

Ya, pernyataan Idwan tersebut cukup beralasan karena selama ini memang masih terjadi polemik pelik sampai dalam urusan kepercayaan kepada badan arbitrase yang dipilih. Dua pihak yang berkonflik sama-sama bersikeras menggunakan dua arbitrase berebda yang ada di tanah air.
Pihak PSSI versi Nyalla yang sebelumnya terbentuk dari Kongres Luar Biasa Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) memercayakan kepada arbitrase KONI, BAORI (Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia). Sedang PSSI versi Djohar lebih percaya kepada BAKI (Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia) yang dibentuk oleh KOI (Komite Olimpiade Indonesia)

Menurut Idwan, jika Baki yang dipilih, dirinya pun belum bisa langsung bekerja. Alasannya, BAKI bersifat mandatory, dan baru mengurus sengketa setelah kedua belah pihak yang bertikai menentukan memilih BAKI untuk menyelesaiakan konflik yang terjadi.
“Kita badan yudikatif, harus memelihara obyektivitas. Kami tak bisa berbicara jika sengketa belum masuk. Begitu masuk pun juga tidak bisa begitu saja karena kami harus mengedepankan obyektivitas,” ucapanya.

Sejauh ini, sikap kedua kubu yang berkonflik masih belum berubah. PSSI pun kemarin langsung melakukan konferensi pers pasca BAKI diumumkan terbentuk. Melalui ketua Komisi Disiplin, Bernhard Limbong, PSSI menegaskan akan lebih memilih BAKI. (aam/jpnn)

PSSI Berharap Rekonsiliasi

JAKARTA- PSSI segera melakukan langkah lanjutan setelah kongres tahunan PSSI mengamanatkan untuk memberikan pengakuan kepada klub Indonesia Super League (ISL).  Mereka akan kembali melakukan pertemuan dengan 12 klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL).
“Kami harus segera menjalankan hasil kongres. Kami terbuka dan siap merangkul seperti yang disepakati,” kata ketua tim rekonsiliasi PSSI, Bernhard Limbong di kantor PSSI, kemarin petang (27/3).

Rencananya, pertemuan dengan klub-klub ISL tersebut akan digelar besok (29/3) sore bertempat di salah satu hotel di Jakarta. Menurut dia, pasca kongres PSSI, kedudukan klub Indonesia premier League (IPL) dan ISL  sama sehingga akan lebih mudah melakukan pembicaraan.

Langkah yang dilakukan PSSI ini sebenarnya mengulang apa yang pernah dilakukan sebelum kongres Palangakaraya 18 Maret lalu digelar. Saat itu, tawaran rekonsiliasi dari PSSI tidak terlalu dihiraukan oleh klub-klub ISL. Terbukti, dari 13 klub yang diundang, hanya Persib Bandung yang hadir.
Saat disinggung kenyataan itu, Limbong menegaskan bahwa peluang untuk bisa merangkul klub-klub tersebut saat ini semakin besar. Dia optimistis jaminan dari hasil pertemuan di kongres akan membuat klub-klub ISL kembali ke PSSI.

“Ada dasar yang berbeda, kemungkinan mereka juga berpikir. Kami pun siap membicarakan mengenai alternatif syarat jika klub ISL juga mengajukan. Kami sudah mengalah,” tegas Jenderal bintang satu tersebut.

Limbong memaparkan bawha surat undangan pertemuan sudah dikirim ke klub-klub mulai kemarin. Meski belum mendapat respon sampai tadi malam, dia yakin kondisinya akan berbeda dan bukan hanya Persib lagi yang datang.

“Ada yang datang itu sudah bagus. Jika sebelumnya satu klub, mudah-mudahan sekarang bsia tiga atau lebih banyak klub. Kami harus sabar, kami juga siap mendatangi mereka door to door. Ini demi sepak bola Indonesia,” tuturnya. (aam/jpnn)

ASSBI Sumut Kembali Gelar Seleksi Timnas

MEDAN-Setelah mengirimkan 13 pemain mengikuti seleksi timnas U-14, Assosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia (ASSBI) Sumut kermbali menggelar seleksi pembentukan timnas U-15 dan U-16 yang dilaksanakan, Sabtu (31/3) di Stadion Teladan Medan.

Ketua Umum Komisariat Daerah (Komda) ASSBI Sumut H Sumantraji, SH bersama Penanggungjawab Seleksi Drs Azam Nasution dan Ketua Panitia Seleksi Heri Haryanto kepada wartawan, Selasa (27/3) menyebutkan, ASSBI Sumut dalam waktu dekat ini dihadapkan tiga even yang sangat penting yakni Kejuaraan Piala Menegpora di Jakarta pada akhir Mei mendatang, mengikuti Kejurnas ASSBI di Jakarta Juni mendatang, serta membentuk tim untuk melakukan pertandingan persahabatan di Malaysia 18-19 Mei mendatang.

“Dari ketiga even tersebut ASSBI Sumut langsung melakukan seleksi untuk mencari pemain yang sesuai dengan usia yang dipertandingkan. Oleh karena, ASSBI Sumut akan mencari pemain yang benar-benar berkualitas,” sebut Sumantraji.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Seleksi Heri Haryanto menjelaskan, yang ikut dalam seleksi tersebut merupakan sekolah se pakbola yang terdaftar dan tergabung di ASSBI Sumut, dengan mengirimkan maksimal 4 pemain masing-masing kelompok umur yakni U-15 untuk Kejuaraan Piala Menegpora, dan U-16 untuk pembentukan ke pertandingan persahabatan di Malaysia dan Kejurnas ASSBIdi Jakarta.

“ Oleh sebab itu,ASSBI Sumut sesegera mungkin melakukan seleksi pemain untuk mengikuti ketiga even tersebut,” ujarnya.

Tim yang akan melakuan seleksi itu (talent scouting) merupakan tim yang benar-benar berpengalaman dan sering melakukan seleksi pemain, yang dikomandoi oleh Roberto Bianci serta Parlin Siagian.

Heri menyampaikan,  peserta yang ingin mengikuti seleksi itu wajib mengikuti persyaratan yang ditentukan oleh ASSBI Sumut yakni bagi U-15 merupakan pemain kelahiran 1997 dan U-16 kelahiran 1996.

Setiap pemain wajib juga membawa membawa foto kopi STTB/Ijazah, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga dan pas foto berwarna 3×4 sebanyak 3 lembar dan 4×6 sebanyak 2 lembar. Jika sudah memiliki kartu identitas ASSBISumut cukup membawa foto kopi atau yang asli, serta membawa rekomendasi SSB yang bersangkutan dan telah terdaftar di ASSBI Sumut, ke kantor Sekretariat ASSBISumut Jalan SM Raja Km 6,5/ Stasiun Bus Kurnia. (jun)

SMK Raksana Tekuk Harapan Mekar

Pengurus PSSI Medan dan Sumut Rangkap Jabatan

MEDAN- Tim sepakbola SMK Raksana berhasil memetik kemenangan 3-2 atas SMK Harapan Mekar dengan skor 3-1 pada laga perdana penyisihan Liga Pendidikan Indonesia (LPI-Kota Medan) tingkat SMP dan SMA/SMK memperebutkan Piala Wali Kota Medan di Stadiun Unimed Medan, Selasa (27/3).
Ketiga gol miliK SMK Raksana tercipta di babak kedua oleh Ewin Sitohang (41’), serta dua gol berturut-turut diciptakan oleh Genta Surya  (45’, 74’).  Sementara gol semata wayang SMK Harapan Mekar diciptakan oleh Roni Anddi Yoga pada masa injury tim babak pertama.

Usai pertandingan, pelatih SMK Rakasana M Dolok Saribu didampingi Anton Siagian, Kepala Sekolah mengaku cukup bangga dengan kemenangan yang diraih timnya.

“Namun begitu saya merasa belum puas, karena masih panjang perjalanan untuk menjadi yang terbaik di even ini sekaligus menjadi wakil Medan di tingkat provinsi,” katanya.

Sebelumnya even ini dibuka oleh Kadisdik Medan Rajab Lubis. Dalam sambutannya Rajab mengatatakan bahwa tujuan dari even ini adalah sebagai wadah pembinaan olahraga pendidikan yang dikelola secara berjenjang dan berkesinambungan.
Sementara itu perwakilan PSSI Medan Asrul Batubara menguraikan bahwa peserta LPI putaran kedua terdiri dari 12 tim masing-masing dari kelompok SMP dan SMA/SMK.

Sayangnya, meski even yang bertujuan meningkatkan pembinaan, namun ternyata beberapa penonton yang menyaksikan even ini masih ada juga berkomentar miring.

Betapa tidak, ternyata beberapa unsur panitia yang berasal dari PSSI Medan juga menajabat sebagai pengurus PSSI Sumut. Ini sungguh ironis, sebab pada statuta PSSI diterangkan secara tegas bahwa jangankan pengurus PSSI, pengurus klub saja pun tidak dibenarkan memiliki jabataan rangkap di dua klub yang berbeda.

Aturan itu tertulis pada Pasal 19 tentang  statuta klub, liga, pengprov dan kelompok klub lainnya, yang berbunyi bahwa dalam keadaan apapun, tidak seorangpun atau badan hukum termasuk induk perusahaan dari anak perusahaannya dapat mengendalikan lebih dari satu klub atau grup yang menyebabkan integritas pertandingan sepak bola diragukan. (jun/mag-10)

Ingin Berlatih di PTM Sahabat atau PTM Angsapura namun tak Ada Biaya

Muhammad Swandi, Petenis Meja yang Membantu Orang Tuanya Bekerja Sebagai Pengumpul Barang Bekas

Rumah kecil dengan dinding separuh tembok, separuh tepas bambu di Jalan Roso Gg Melati IV, no. 9 Kecamatan Medan Deli Tua itu menggambarkan dengan jelas keadaan yang serba tidak berkecukupan. Pasangan Tumingan dan Supiyah dengan penuh kehangatan mempersilahkan wartawan koran ini duduk di kursi plastik yang tersedia. Keadaan yang memprihatinkan itu kontras dengan semangat putra ketiga mereka, Muhammad Swandi untuk menapaki jalan terjal meraih cita-cita sebagai atlet tenis meja.

DONI HERMAWAN-MEDAN

Swandi saat ini masih duduk di bangku kelas 6 SD. Di usianya yang masih sangat belia itu, Swandi sudah memberikan kebanggaan untuk kedua orang tuanya. Bakat dan latihan kerasnya menghadirkan deretan prestasi yang tidak layak disepelekan. Menjuarai Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Deli Serdang dua kali berturut-turut di tahun 2010 dan 2011 tentu membanggakan. Lalu menjuarai Olimpiade Olahraga Sains Nasional (OOSN) di Binjai 2011 yang mengantarkankannya ke Surabaya untuk OOSN tingkat nasional. Sayang, Swandi hanya bisa menembus delapan besar ketika itu.

“Dulu saya main bulutangkis dan dapat juara III waktu kelas 3 di Lubuk Pakam. Tapi guru saya bilang karena tubuh saya pendek lebih baik saya pindah ke tenis meja. Setelah itu saya serius menekuni tenis meja,” ujar Swandi memulai cerita saat disambangi di kediamannya (27/3) kemarin.

Sayang bakat Swandi tidak terpantau. Dengan kesulitan ekonomi keluarganya, ia hanya bisa latihan di klub kecil, Persatuan Tenis Meja (PTM) Marendal. Meski dari hati kecilnya terbesit keinginan untuk memperkuat klub tenis meja yang besar seperti PTM Sahabat atau PTM Angsapura. “Pengen sih masuk Angsapura atau Sahabat. Tapi tidak ada biaya. Paling kadang-kadang kesana hanya lihat-lihat mereka latihan. Jadi saya latihan di PTM Marendal saja tiga kali seminggu. Selebihnya kadang di sekolah,” timpal Swandi.

Begitupun kondisi itu tak mengurangi semangatnya untuk serius menekuni olahraga ini.Dalam waktu dekat ini akan merupaya mengawali mimpinya sebagai atlet tenis meja Sumut maupun nasional.  April mendatang ia akan mengikuti seleksi Pekan Olahraga Pelajar (Popwil) Sumut di Mandailing Natal untuk memperkuat Deli Serdang. Dari situ awal jejaknya untuk membahagiakan orang tuanya yang selalu mendukung niatnya. “Mudah-mudahan bisa lolos untuk memperkuat Deli Serdang. Saya harus jadi atlet. Agar nantinya bisa  buat bapak dan Ibu bahagia,” katanya.

Lembaran sertifikat juara dan medali yang hadir di rumah kecil itu tentulah menghadirkan senyum Tumingan dan Supiah. Sejenak melupakan kesusahan ekonomi mereka. Tumingan hanya tukang botot, namun ia berusaha keras untuk mendukung tekad anaknya itu.

“Iya beginilah pekerjaan saya membotot. Tidak setiap hari bisa dapat penghasilan. Kadang 50 ribu sehari. Tapi bisa hari-hari berikutnya tidak ada. Kadang-kadang saya juga diminta tetangga untuk membetulkan listrik atau sumur bor. Tapi itu pun saya tidak pernah mematokkan harga. Namun saya akan berusaha mendukung Swandi untuk bisa terus bermain tenis meja,” kata Tumingan.

Dukungan kuat itu bukan asal membual. Saat Swandi berlaga di OOSN tingkat nasional di Surabaya pertengahan tahun lalu, ia rela menumpuk hutang untuk bisa menyaksikan putranya bertanding. Memberikan semangat dari dekat. “Waktu ke Surabaya itu saya terpaksa ngutang sama tetangga dan teman-teman. Gak apalah yang penting bisa lihat Wandi main disana. Lagipula disana banyak saudara di Surabaya, hitung-hitung pulang kampung,” ujar pria kelahiran Januari 62 tahun silam itu.

Selain itu Tumingan juga harus merogoh koceknya yang tipis untuk memberi peralatan tenis meja untuk Swandi. Tak tanggung untuk sebuah bet ia pernah harus mengumpulkan uang sebesar 1 juta rupiah. Jumlah yang terlampau besar untuk keluarga dengan ekonomi lemah sepertinya. “Peralatan tentu saya beli sendiri. Bet ini saja seharga satu juta. Baru-baru ini juga ganti karet sudah 250 ribu. Itu pun untuk sebelah saja,” katanya sembari menunjukkan bet tenis meja itu kepada wartawan koran ini.

Tumingan sedikit kecewa dengan pihak sekolah yang terkesan kurang peduli dengan prestasi anaknya. Padahal Swandi kerap turun bertanding dan mengharumkan nama sekolahnya SDN 101801, Deli Tua.

“Pernah waktu dia juara, sekolah itu memberi peralatan meja tenis baru dan bet. Tapi itu bukan untuk Swandi. Ya semua peralatan Swandi saya yang beli. Meski dia sering juara tapi hanya dapat medali atau piagam saja. Hanya sekali dulu pernah dapat uang 800 ribu. Tapi itupun dibagi dua dengan anak pelatih karena disuruh bermain ganda. Padahal biasanya dia main tunggal,” lanjutnya.

Namun Tumingan tentu hanya bisa pasrah sembari terus memperjuangkan biaya untuk anaknya. Untuk sekolah Swandi saja, sebenarnya ia kesulitan membiayai. Beruntung ia untuk SD Negeri tidak dipatok biaya sekolah. “Kalau SD negeri kan memang gratis uang SPPnya. Ya tetap saja harus cari uang untuk beli uang bukunya dan biaya lainnya. Yang saya pikirkan sebentar lagi dia harus masuk SMP. Harapan saya dia bisa dapat beasiswa dari prestasinya di tenis meja,” ujarnya.

Satu hal lain yang membuat Tumingan dan Supiah tetap mendukung minat anaknya pada cabang tenis meja itu, Swandi tidak lantas melupakan pelajaran sekolahnya. “Di sekolah nilainya tidak ada masalah. Padahal dia tidak pernah belajar di rumah. Pendidikan juga harus diperhatikan,” tandasnya. (*)

Lahan Garapan Tambak Rejo Dikosongkan Sementara

Buntut Bentrok Kelompok Tani

MEDAN-Muspika Percut Seituan dan kedua kelompok tani penggarap, yang bentrok di lahan Pasar II, Dusun Tambak Rejo, Percut Seituan sepakat mengosongkan lahan tersebut hingga ada penyelesaiannya.

Dalam pertemuan di Balai Desa Amplas Selasa (27/3) siang,  kelompok tani Mempertahankan Alas Hak berjanji tidak akan memasuki lahan tersebut sebelum ada penyelesaian. Mereka tidak akan bercocok tanam atau kegiatan lainnya.

Begitu kelompok tani Smart juga tidak akan melakukan aktivitas di lahan garapan yang disengketakan. Kepala Dusun Tambak Rejo, Sarwan menjelaskan kondisi lahan garapan tersebut kini masih berstatus dikosongkan sementara hingga tercapainya kesepakatan antar dua kelompokn
Seorang warga di lokasi lahan garapan menyebutkan, selama ini aksi kelompok Senen sangat meresahkan warga penggarap lainnya, karena sering menjual lahan garapan milik warga kepada orang lain sehingga terjadi konflik. Sementara, aparat Polsekta Percut Seituan dinilai enggan menyelesaikan permasalah ini secepatnya.

“Seharusnya polisi bersikap adil dalam menyikapi permasalahan. Kalau kelompok Senen mengadu ke polisi, maka aparat Polsekta Percut Seituan terus meresponnya, kalau kami melapor lama diproses.” keluh warga.

Kanit Reskrim Polsekta Percut Seituan, AKP Faidir Chan mengatakan lokasi lahan garapan tersebut untuk sementara sengaja dikosongkan, sebelum adanya penyelesaian dari kedua kelompok tani.

Saat ditanya tudingan keberpihakan petugas Polsekta Percut Seituan kepada kelompok Senen, Faidir Chan menepisnya.

“Siapa pun yang mengadu ke Polsek akan ditindak lanjuti dan diproses. Saya tidak ada berpihak kepada siapapun,” tutur Faidir Chan.
Kalaupun kelompok Senen mengadu ke Polsek Percut Seituan karena rumah Senen telah dibakar orang,  tambah Faidir, maka laporan pengaduan Senen akan ditindaklanjuti.

“Semua orang berhak membuat pengaduan ke kantor polisi,”ujarnya.

Seperti diberitakan, dua kelompok penggarap terlibat bentrok di lahan garapan Pasar II-B, Dusun Tambak Rejo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Seituan, Senin (26/3). Akibatnya, empat penggarap menderita luka-luka akibat terkena lemparan batu dan seorang menderita luka tembak  serta 1 rumah dibakar. Keempat penggarap yang terkena lemparan masing-masing Wanda (27) dan Supran (26) dari kelompok Tani Smart, sementara Deni Sipayung (35) dan Erwin Hutauruk (37) dari kelompok Tani Mempertahankan Alas Hak.

Sedangkan yang terkena tembakan S Harahap (47), warga Dusun Tambak Rejo. Rumah yang dibakar adalah milik Senen, Ketua Kelompok Tani Smart. Motif bentrokan karena masing-masing kelompok tani mengklaim lahan garapan tersebut adalah milik kelompoknya.(gus)

Finansial PD Pasar Sakit

Secara finansial PD Pasar sedang sakit. Kondisi itulah membuat manajemen PD Pasar yang baru perlu menaikkan nilai kontribusi bagi 52 pasar tradisional di Kota Medan. Seperti apa? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Adlansyah Nasution dengan Direktur Utama PD Pasar, Benny H Sihotang.

Apakah secara finansial PD Pasar sakit?

Memang perusahaan sedang sakit tetapi begitupun tanpa penyertaan modal kami bisa melakukan pembenahan.

Berapa pasar tradisional yang sudah dibenahi?
Dari 52 pasar tradisional yang kita kelola ada sekitar 18 pasar  seperti di Glugur, Petisah, Helvetia, Pusat Pasar, Titi Kuning dan lainnya. Dua tahun lagi kami menargetkan pembenahan pasar tradisional itu selesai semuanya.

Bagaimana sistem pembenahannya?
Kita tak memiliki jalan lain selain mengusulkan kenaikan nilai kontribusi 100 persen terhadap 52 pasar tradisional. Kita paham kalau kenaikan kontribusi itu akhirnya mendapat tantangan dari banyak pedagang tradisional. Namun, kita yakin agar kenaikan nilai kontribusi itu tetap direalisasikan cepat atau lambat. Karena sampai saat ini, PD Pasar belum mendapatkan kucuran dana dari penyertaan modal sebesar Rp10 miliar.

Apakah cukup?
Dana yang hanya sebesar Rp10 miliar itu tidak akan cukup untuk membenahi 52 pasar yang ada. Kami tahu dana belum cukup untuk membenahi semua pasar, karena itu kami minta kenaikan kontribusi. Tetapi sampai saat ini, manajemen PD Pasar sudah melakuklan perbaikan manajemen, perbaikan pasar, serta memiliki skala prioritas lainnya. Dengan kondisi seperti ini kami bisa mendapatkan keuntungan walau nilainya kecil. Kami bertekad akan memberikan deviden bagi Pemko Medan untuk tahun anggaran 2012 sebesar Rp1,5 miliar.

Berapa deviden yang disumbang ke Pemko Medan per tahaun?
Kalau untuk tahun 2011 kita menyumbang deviden sebesar Rp300 juta. Jadi kita tak bisa pukul rata dalam menyumbang deviden ke Pemko Medan. Tahun ini kita pastikan menyumbang deviden sebesar Rp1,5 miliar. Sampai saat ini kita terus melakukan pembenahan tanpa ada penyertaan modal dan kenaikan retribusi. Yang harus kami lakukan adalah pembenahan dengan memberikan kenyamanan yang sudah memiliki pangsa pasarnya sendiri. Jadi kalau sudah kita benahi dengan benar pasar tradisional tidak akan lari.(*)

Situs Porno tak Bisa Diblokir 100 Persen

MEDAN-Situs porno sulit diblokir hingga 100 persen selama umat belum benar-benar menerapkan ajaran agama dengan benar. Karena hanya dengan iman dan akidah lah situs porno itu dapat diblokir seluruhnya.

Hal ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring saat menyampaikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), dengan tema Undang-Undang ITE dan Pemberantasan Pornografi, di Aula kampus UMSU, Selasa (27/3).
“Artinya selama akidah kita masih jauh dari norma-norma agama akan sangat mudah dipengaruhi oleh keinginan-keinginan yang tidak baik termasuk untuk membuka situs porno,” ungkapnya.

Tifatul juga mengatakan, dewasa ini perkembangan teknologi informasi sudah semakin cepat, yang menjadikan dunia seolah menjadi kecil hanya dalam satu ruangan saja. Namun, pesatnya perkembangan ini menurutnya, juga harus diimbangi dengan proteksi yang baik pula.

“Proteksi tersebut salah satunya adalah dalam bentuk pengawasan yang intensif dari orangtua. Jangan biarkan anak-anak bermain sendiri di dunia internet, karena kemungkinan untuk membuka situs-situs porno akan sangat terbuka,”ucapnya.

Dalam kesempatan itu ia juga mengungkapkan, jika pada tahun 2009, pernah dilakukan riset oleh salah satu lembaga terhadap 3.500 siswa SMA dan SMP di dua belas kota besar di Indonesia termasuk Medan.

Dari hasil riset tersebut diketahui bahwa sebanyak 92,1 persen siswa SMP dan SMA yang menjadi responder pernah melakukan kissing. Dari 92,1 persen tersebut pernah melakukan zinah dan 22,3 persen pernah melakukan abortus.

“Kondisi ini tentunya harus menjadi perhatian semua pohak karena sudah sangat membuat miris hati kita. Ini juga menjadi tanggungjawab kita bersama bagimana kedepan hal ini dapat kita tekan,” katanya.

Dalam hal itu, Tifatul juga mengajak seluruh civitas akademika UMSU untuk tetap menjadi yang terdepan dalam upaya memberantas segala yang berbau porno baik porno aksi maupun porno grafi.

“Karena selaku kaum intelektual, sudah menjadi kewajiban untuk menjaga moral anak bangsa. Umat Islam juga harus bermutu dan untuk itu  harus memahami Al-Quran dan hadist dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Rektor UMSU, Agussani MAP mengatakan, pihaknya bersyukur Tifatul berkenan hadir ke UMSU menyampaikan pemikiran-pemikiran yang cemerlang mengenai persoalan bangsa ini melalui kuliah umum yang disampaikannya.

“Apa yang disampaikan Tifatul tentunya dapat menjadi masukan bagi mahasiswa. Kami juga sangat berharap kedepannya Tifatul bersedia menjadi dosen tamu UMSU, karena kami tahu Tifatul juga adalah seorang akademisi,” katanya. (uma)

Minta PKL Jalan Sutomo Ditertibkan

Pedagang Pasar Penampungan Serbu Kantor Wali Kota

MEDAN-Puluhan pedagang formal Pasar Penampungan di Jalan Sutomo Baru, Jalan Seram, Jalan Sei Kera, Jalan RRI, dan Jalan Veteran melakukan aksi unjuk rasa di kantor Pemko Medan, Selasa (27/3) sekitar pukul 10.00 WIB.

Para pedagang sayur-mayur yang didominasi ibu-ibu tersebut berteriak di depan halaman Pemko Medan, meminta Wali Kota Medan memerhatikan nasib mereka yang terus mengalami penurunan pendapatan, karena keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Sutomo.
Dengan membawa spanduk bertuliskan PD Pasar.

Tidak Sportif’ dan Kami adalah Korban Taat Peraturan PD Pasar, pedagang menuding PKL di Jalan Sutomo bermain dengan preman dan PD Pasar melakukan pembiaran berjualan di luar dari Pasar Penampungan yang dikelola PD Pasar.

“Kami ini patuh pada peraturan. Disuruh jualan di daerah ini kami patuh, dijanjikan perbaikan kami juga mau bersabar. Tetapi sampai sekarang kondisi kami semakin memprihatinkan,” ujar seorang ibu yang meminta namanya tidak ditulis.

Dijelaskan ibu yang sudah 10 tahun berjualan di Pasar Penampungan, sebelum berjualan di Jalan Sutomo, tepatnya di badan jalan, dia bersama pedagang lainnya sempat pindah ke dalam atas intruksi Pemko Medan.

“Sekarang semakin banyak PKL yang berjualan di badan jalan di luar kawasan pasar resmi. Mereka (PD Pasar) tidak berani menegur para PKL karena terkesan dilindungi oleh preman. Kalau begitu kami meminta untuk pindah berjualan ke badan jalan juga sampai saat ini kondisi insfratruktur jalan saja tidak mendukung. Akibat dari jalan yang rusak, pembeli saja tidak mau masuk ke dalam. Apalagi becak untuk mengangkut barang mereka takut terjebak lumpur yang sudah seperti lumpur Lapindo,” jelasnya.

Menurutnya, pihak PD Pasar harus bersikap adil terhadap pedagang yang sama-sama mencari nafkah dengan berjualan sayur-sayuran. Sementara pedagang sudah pernah menyurati PD Pasar untuk menertibkan PKL di badan jalan untuk ditertibkan. Namun, sampai saat ini tidak ditanggapi.
“Hal ini lah yang membuat kami mendatangi kantor Wali Kota Medan meminta kepada Wali Kota Medan Rahudman Harahap menurunkan Satpol PP menertibkan seluruh pedagang untuk berjualan ke dalam Pasar Penampungan. Seharusnya, pemerintah harus bersikap adil kepada masyarakat kecil untuk menentukan pedagang berjualan di dalam apa di luar dari Pasar penampungan,” jelasnya.

Dikatakannya, lokasi di dalam Pasar Penampungan sangat luas dan masih banyak lokasi untuk dijadikan lapak berjualan.
“Jadi, kenapa PKL itu tidak mau berjualan ke dalam. Bila tidak ada hasilnya bagi pedagang, kami pedagang sudah berencana akan berjualan juga di badan jalan sebagai bentuk protes yang tidak dipedulikan,” pintanya.

Direktur Utama PD Pasar, Benny Harianto Sihotang yang menerima perwakilan pedagang di ruangan Humas Pemko Medan menjelaskan, secara hukum PD Pasar tidak punya kewenangan mengatur keberadaan PKL karena berada di luar pasar tradisional yang dikelola PD Pasar. Namun berdasarkan etis dan moral, Benny mengaku keberadaan PKL itu juga karena efek keberadaan pasar tradisional.

“Karena itu, kita meminta pihak pedagang agar bersabar dalam mengatasi persoalan ini. Sebab kita perlu melakukan koordinasi bersama dinas terkait dalam mengatasi para PKL itu, terutama koordinasi dengan Satpol PP, Dinas Perhubungan, kepolisian, kelurahan dan kecamatan setempat,” jelasnya.
Ketika para pedagang terus menagih realisasi waktu, Benny menyebutkan paling lambat hari Jumat (30/3), PD Pasar bersama dinas terkait akan melakukan penertiban kepada para PKL untuk masuk ke dalam Pasar Penampungan. Sedangkan kondisi jalan yang rusak berat, Benny mengatakan itu bukan wewenang PD Pasar. Tetapi pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga untuk mengatasi hal itu. Ia lalu segera menghubungi pejabat SKPD Bina Marga guna mengetahui realisasi perbaikan Jalan di Pasar Penampungan.

“Dari informasi yang saya peroleh secara bersama-sama dari Dinas Bina Marga kalau perbaikan jalan akan dimulai paling lambat selama dua minggu sejak hasil tender sudah dumumkan pada tanggal 28 Maret ini. Sebab hal itu harus melalui tender dahulu, lalu setelah itu bisa direalisasikan perbaikan jalan di kawasan pasar penampungan yang ada,” tegas Benny.

Ketika disinggung para PKL yang nantinya ditertibkan akan kembali lagi, Novi Zulkarnain selaku Humas PD Pasar menambahkan kalau pihaknya akan membuat perjanjian dengan petua adat PKL di Jalan Sutomo bersama PKL Pasar Penampungan disaksikan PD Pasar.

“Dalam perjanjian itu, akan dibuat larangan bagi PKL berjualan di badan jalan sesuai dengan Perwal yang mengatur. Jika mereka tetap berjualan, kita akan melaporkannya kepada pihak kepolisian karena sudah melanggar perjanjian yang sudah dibuat,” bebernya.

Pedagang Pajak Dame Mau Ngadu ke Polisi

Sementara pedagang pakaian di Pajak Dame mengancam akan mengadukan pemilik Toko Tayan Jaya, Mardiana Sianipar  ke Mapolresta Medan, karena menutup akses jalan.

“Hampir seminggu kami menunggu agar pemilik Toko Tayan Jaya Mardiana Sianipar membuka pagar yang telah menuntupi akses jalan ke toko-toko milik pedagang yang berada di belakang tokonya. Namun apabila upaya secara kekeluargaan tidak dipedulikannya kami akan mengadukannya ke kantor polisi,”terang seorang pedagang kain, Agustina Hutabarat ketika ditemui sejumlah wartawan di Pajak Dame.
Wanita berusia 51 tahun itu mengaku belasan pedagang kain yang berada persis di belakang Toko Tayan Jaya sangat menyesalkan tindakan penutupan akses jalan. Sebab menurut pengakuan dari pemiliknya kalau toko miliknya itu statusnya masih dikontrak  dan bukan milik Mardian.
“Kami merasa tidak senang dan rencananya seluruh pedagang yang telah dirugikan akan membuat laporan pengaduan ke Mapolresta Medan,”ancam Agustina.

Diceritakannya, pemagaran itu membuat para pedagang yang berada di bagian belakang Toko Tayan Jaya menjadi tertutup. Otomatis dagangan yang mereka jajakan tidak laku. Ditambahkan Agustina,kalau lahan yang berada persis dibelakang Toko Tayan lebarnya hanyalah 1 meter. Namun Mardiana sudah mengklaim lahan belakang tokonya itu selebar sekitar 2 meter. (gus/adl)

Penjambret Babak Belur

Apes menimpa Beny Manurung (19), warga Jalan M Said Medan. Beny babak belur dihajar warga karena ketangkap menjambret tas mahasiswa Universitas HKBP Nomesen Juforida Nainggola (22), di Jalan Rakyat Persimpangan Jalan Pelita, Senin (26/3) malam.

Informasi yang dihimpun, Juforida Nainggola bersama temannya Lusi Febrian Sinaga (21)mengendari sepeda motor dari Plaza Ramayana di Jalan Aksara Medan.

Saat Lusi yang mengendari sepeda motor melintas di Jalan Ahmad Yamin, Beny Manurung dan Anes Siregar yang mengendarai sepeda motor menyalip dan langsung menjabret tas milik Juforida. Korban tidak mau melepaskan tasnya. Korban menjerit.

Kedua pelaku gugup dan menabrak pengendara sepeda motor yang lainnya di Jalan Rakyat Simpang Jalan Pelita Medan.  Warga sekitar yang mendengar teriakan itu langsung menangkap Beny dan menghajarnya hingga babak belur. Sedangkan temannya Anes berhasil meloloskan diri.
Polisi yang mendapatkan informasi langsung turun ke lokasi dan memboyong pelaku.

Kapolsekta Medan Timur Kompol Patar Silalahi melalui Kanit Reskrim Polsekta Medan Timur AKP Ridwan membenarkan kejadian itu.
“Pelakunya sudah kita amankan dan sudah kita periksa,” kata Ridwan. (gus)