31 C
Medan
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 13737

Kembalikan Harga Kebutuhan Pokok

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) batal naik. Namun, harga kebutuhan bahan pokok tetap naik. Menyikapi itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho, sudah menginstruksikan agar harga-harga kebutuhan bisa distabilkan lagi. Bisakah? Berikut petikan wawancara wartawan Harian Sumut Pos, Ari Sisworo dengan Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Farid Wajdi SH.

Apa dampaknya bagi konsumen, bila harga kebutuhan pokok tetap naik kendati harga BBM tidak jadi naik?
Mengelola dampak ikutan, baik langsung dan tak langsung, yang muncul dari rencana pengurangan subsidi BBM, meskipun pemerintah menunda, tetaplah sulit.

Harga-harga kebutuhan pokok yang terlanjur naik harusnya kembali ke posisi normal. Tetapi pengalaman menunjukkan mengembalikan harga yang terkerek naik karena BBM memerlukan waktu untuk harga stabil seperti semula. Tanpa komitmen yang kuat, beban sosial ekonomi kebijakan berdimensi publik memakan ongkos yg cukup mahal.

Kenapa seperti itu?

Masalah itu terjadi karena pemerintah selama ini tak pernah bisa secara terbuka menggambarkan, mengelola dan mengendalikan efek langsung dan tak langsung dari kenaikan harga BBM itu ke sektor-sektor lainnya. Ditambahi lagi pemerinth tak pernah transparan dalam membuat rencana besarnya.Termasukpun rencana penaikan BBM tak secara terus terang dijelaskan kepada segenap masyarakat.

Apa solusinya?

Politisasi rencana penaikan BBM juga begitu melelahkan. Dari awal masyarakat telah dibuat bingung, karena dihadapkan pada isu rencana pembatasan maupun subsidi, atau konversi minyak ke gas (BBG).

Energi dan potensi masyarakat cukup banyak tercurah sekedar menunggu kebijakan penting dari negara. Ketidaksiapan pemerintah dalam memutuskan penaikan BBM memiliki dampak psikologi yg cukup serius, yakni krisis kepercayaan. Mengembalikan kepercayaan perlu waktu. Dengan kondisi yang ada, dalam hal ini pemerintah khususnya Pemko Medan butuh komitmen kuat agar harga-harga kebutuhan pokok kembali stabil. (*)

Kepling Tuding Lurah Pungli

Gaji Dipotong untuk Biaya Perpanjang SK

MEDAN-Kepling menuding Lurah Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor, Enoh P Tavip melakukan pungutan liar (pungli) terhadap 20 kepling di lingkungannya sebesar Rp600.000 per kepling, dengan dalih untuk biaya perpanjangan Surat Keputusan (SK) Kepling.

Kutipan itu diminta oleh Sektretaris Lurah Kwala Bekala berinisial N atas perintah Lurah, dengan cara langsung memotong gaji atau honor kepling  bulan Maret.

Bukan itu saja, Sekretaris Lurah juga meminta kutipan uang kemanan dan kebersihan di lingkungannya masing-masing.

“Lurah membebani para kepling uang keamanan dan kebersihan sebesar Rp100 ribu per bulannya, yakni Rp50 ribu untuk kemanan dan Rp50 ribu untuk kebersihan,” kata seorang kepling yang meminta namanya tak ditulis kepada wartawan Sumut Pos.

Warga Kelurahan Kwala Bekala, R Sihalo sangat menyayangkan tindakan Lurah yang melakukan pungli kepada keplingnya. Sebab, tindakan tersebut akan berimbas kepada masyarakat.

“Akhirnya warga yang menjadi sasaran. Bisa saja nanti kepling melakukan kutipan macam-macam sama warga. Kita minta Wali Kota Medan Rahudman Harahap memberikan tindakan tegas kepada Lurah itu,” pinta Sihaloho.

Lurah Kwala Bekala, Enoh P Tavip saat dikonfirmasi wartawan mengaku tidak mengetahui kutipan itu.
“Sekali lagi maaf itu tidak ada. Terima kasih,” tulisnya melalui SMS kepada wartawan Sumut Pos. (adl)

Gara-gara Handphone Dipukuli Suami

Akibat diperlakukan kasar oleh suami, Dewi (35), warga Komplek Johor, Medan Johor terpaksa mendapatkan perawatan di RSUD dr Pirngadi  Medan, Minggu (1/4).

Pengakuan Dewi, tindak kekerasan yang dilakukan suaminya sudah terjadi berulang kali sejak pernikahan mereka 5 tahun yang lalu.
Kali ini, kata Dewi, dia tidak mampu lagi menahan siksaan yang dilakukan suaminya Jhoni Silalahi (42), Sabtu (31/3) malam lalu.

Pengakuan Dewi,puncak kekerasan yang dialaminya terjadi di Warnet Crown milik suaminya yang berlokasi di Jalan Pasar Merah, Medan Area.
Penyebabnya karena sepuluh hari yang lalu salah seorang pelanggan warnet menggadaikan handphone kepada Dewi. Selanjutnya Dewi menyerahkan handphone yang digadai tersebut kepada suaminya untuk disimpan.

“Setelah sepuluh hari kemudian pemilik handphone itu datang menemuinya untuk menebus handphonenya. Waktu ku tanyakan sama suamiku dimana handphone itu diletakkannya, ternyata handphone tersebut telah digadaikannya ke orang lain,”ujarnya.

Merasa dipermalukan di depan orang ramai, suaminya Jhoni tega memukuli Dewi sampai babak belur.
Beruntungnya, kejadian tesebut bisa dilerai pengunjung warnet yang menyaksikan hal tersebut.

Tidak terima dipukuli suaminya hingga babak belur, Dewi selanjutnya mengadukan kejadian tersebut pada ibu angkatnya, Minggu (1/3), dan selanjutnya mengadukan kasus tersebut ke Mapolresta Medan.

Kejadian memilukan itu tidak hanya membuat Dewi trauma, namun juga membuat seluruh wajahnya luka lebam serta perutnya mual akibat dipijak suaminya. (uma)

Megalia Bisa Di-PAW

Istri Borkat Sesalkan BKD

MEDAN-Istri Borkat Hasibuan, Cut Dian Satrianimengaku kecewa dengan Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPRD Sumut. Pasalnya, BKD DPRD Sumut masih akan mengklarifikasi bukti perselingkuhan suaminya kepada anggota DPRD Sumut dari Fraksi Demokrat, Megalia Agustina.

“Sepertinya mereka berharap ada bukti lain. Hasilnya setelah mereka klarifikasi, kita disuruh menunggu proses berikutnya. Namanya BKD-nya yang juga anggota DPR, ya tetap sajalah membela sesamanya,” ungkapnya.

Dikatakannya, pihak BKD DPRD Sumut yang menerima klarifikasi dan bukti-bukti antara lain, Parluhutan Hasibuan (PAN), Tonies Sianturi (PDS), Amsal Nasution (PKS) dan Guntur Manurung dari Demokrat.

Kemarin (1/3), Cut Dian kembali mengaku kepada Sumut Pos, Suaminya Borkat Hasibuan mengirimkan berita yang telah dimuat media, terkait Cut Dian yang memberikan klarifikasi dan bukti-bukti ke BKD DPRD Sumut, Jumat (30/3) lalu.

“Iya, dia (Borkat, Red) menshare berita yang telah terbit di media ke saya,” akunya.

Sementara itu, secara terpisah salah seorang anggota BKD DPRD Sumut, Guntur Manurung saat dikonfirmasi Sumut Pos, Minggu (31/3) menyatakan, hasil dari upaya klarifikasi tersebut nantinya akan diserahkan ke pimpinan dewan.

Dari pimpinan dewan, akan diserahkan ke fraksi dan partai dimana Megalia bernaung, yakni di Fraksi dan Partai Demokrat.

Secara sanksi, jika nantinya ditemukan kebenaran dan pada akhirnya partai atau fraksi merasa menganggap itu merupakan kesalahan yang fatal, bukan tidak mungkin bisa dilakukan Penggantian Antar Waktu (PAW), terhadap Megalia.

“Kita masih mempelajari, dan rencananya akan kembali memanggil pihak yang dilaporkan, dalam hal ini Megalia sebagai anggota DPRD Sumut. Kita tidak memanggil dari pihak di luar dewan, atau pihak laki-lakinya,” katanya.

Rencananya bulan ini, Megalia akan dipanggil untuk memberikan klarifikasi atas masalah itu, menunggu diagendakan di Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Sumut. Hasil itu semua, akan diserahkan ke pimpinan dewan. Pimpinan dewanlah nanti yang merumuskan sanksinya. Nanti juga pimpinan dewan yang menyerahkan hasil itu ke fraksi atau partai.

“Bisa saja, jika masalah ini nantinya dianggap merupakan kesalahan fatal oleh fraksi ataupun partai, bisa dilakukan PAW,” tegas pria yang juga berasal dari Fraksi Demokrat DPRD Sumut ini.

Dikatakannya, pada saat Cut Dian datang ke BKD DPRD Sumut, BKD sem pat mempertanyakan kenapa tidak dibawa ke jalur hukum. Namun, sambungnya, Cut Dian masih ingin proses ini dilakukan oleh BKD DPRD Sumut.

“Kami sempat menanyakan itu, kan dia juga orang hukum selaku notaris. Tapi waktu itu jawabannya, dirinya (Cut Dian, Red) masih ingin menyelesaikan masalah ini di BKD. Katanya agar ada pembelajaran bagi yang lain,” terangnya.

Diketahui, Cut Dian Satriani memberikan klarifikasi dan barang bukti dugaan perselingkuhan suaminya, Borkat Hasibuan dengan anggota DPRD Sumut yang duduk di Komisi E, Megalia Agustina sekira pukul 14.00 WIB, Jumat (30/3) lalu, berdasarkan undangan dari Sekretariat DPRD Sumut No 556/18/Sekr, tertanggal 28 Maret 2012 yang ditandatangani Wakil Ketua DPRD Sumut, Sigit Pramono Asri.(ari)

Tujuh Bulanan Dikawal Ketat

Selain menggelar acara tujuh bulanan, Nia Ramadhani turut merayaka hari ulang tahun pernikahannya dengan Ardi Bakrie. “Acara hari ini Alhamdulillah baru saja kita selesai acara syukuran tujuh bulanan saya sekaligus ulang taahun perkawinan kami berdua,”

kata Nia usai menggelar acara Syukuran di kediaman mertuanya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (1/4).
Tidak hanya itu, pada kesempatan tersebut, turut digelar acara pengajian mendoakan nenek Ardi Bakrie.

“Tadi juga diberikan kesempatan untuk mendoakan nenek saya yang baru meninggal,” jelas Ardi.
Menurut Nia, tidak banyak yang diundang dalam acara tersebut.

“Yang jelas keluarga teman-teman dekat. Kita enggak pakai adat, kita cuma pengajian saja,” tandas Nia.

Acara prosesi tujuh bulanan Nia Ramadhani yang digelar di kediaman mertuanya, Aburizal Bakrie dijaga ketat oleh petugas keamanan.
Berdasarkan pandangan wartawan, beberapa petugas tersebut berada di setiap titik jalan di rumah tersebut. Yakni Jalan Solo, Jalan Garut, dan Jalan Mangung Sangkoro, Menteng, Jakarta Pusat.

Beberapa mobil tamu undangan tampak terparkir di sepanjang jalan tersebut.

Sesekali Nia terlihat di dalam rumahnya. Dan tidak lama kemudian, Aburizal Bakrie baru terlihat menyambangi kediamannya. Sementara di tempat lain, terlihat kesibukan pihak katering menyiapkan hidangan untuk acara tersebut.

Beberapa tamu undangan tampak sudah mulai berdatangan, di antaranya pasangan selebriti Marshanda dan Ben Kasyafani.
Bagaimana persiapan Ardi Bakrie menyambut kedatangan anak pertamanya?

Ya, putra Aburizal Bakrie itu mengaku telah menyiapkan diri menjadi seorang ayah dengan belajar dari sebuah buku. “Dalam buku anak sejuta bintang itu banyak norma-norma bunda menjaga dan mengajari anaknya. Itu menjadi panutan saya. Saya mungkin tidak bisa sesempurna kedua orangtua saya, tapi saya berusaha sebaik mungkin untuk anak saya,” kata Ardie usai melakukan syukuran di kediamannya.

Selain menyiapkan mental memiliki momongan, Ardi dan Nia pun telah menyiapkan nama untuk buah hati mereka yang berjenis kelamin perempuan.
“Sudah disiapkan nama tengah dan belakangnya. Tapi untuk nama depan belum,” kata Ardi.

Sementara untuk proses kelahiran, pasangan tersebut berharap bisa melakukan dengan cara normal. Dan akan dilakukan di Indonesia.
“Di Indonesia, maunya sih normal. Habis operasi saya pernah kontraksi, ternyata sakit banget. Saya enggak mau lagi ngerasain sakit itu,” tutup Nia. (net)

Berbau Seks, Lagu Julia Perez Dicekal

Dua lagu Julia Perez yaitu ‘Belah Duren’ dan ‘Paling Suka 69’ dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Pencekalan ini disebabkan lirik lagu tersebut mengandung muatan seks secara eksplisit.

Ternyata bukan hanya lagu Jupe yang dicekal. Ada tiga lagu dangdut lainnya yang disinyalir liriknya mengandung unsur seks. Lagu-lagu itu adalah ‘Cinta Satu Malam’ Melinda, ‘Pengen Dibolongi’ Aan Annisha dan ‘Mobil Bergoyang’ Lia MJ feat Asep Rumpi.

Hal ini diungkapkan, Ezki Suyanto, Wakil Ketua KPI bidang pengawasan isi siaran kepada wartawan di Hotel JW Marriot Surabaya, Minggu (1/4).
“Kelima lagu tersebut resmi kita cekal pada 2011 setelah mendalami dan menganalisa lirik dan judul lagunya,” katanya.

Ezki menegaskan pihaknya hanya melakukan pencekalan judul lagunya saja. Sedangkan pihaknya tidak melakukan pencekalan terhadap penyanyi atau artis yang membawakannya.

“Yang kita cekal hanya judul lagunya saja. Tapi akan kita beri peringatan bagi stasiun televisi ataupun radio yang menayangkannya,” tegasnya.
Ketika ditanya, lagu ‘Iwak Peyek’ Ezki mengaku pihaknya tidak mencekal judul lagu yang sempat dibawakan Trio Macan. Pihaknya hanya mencekal penampilan penyanyinya yang membawakannya.

“Setelah kita teliti liriknya tidak mengandung seksual. Yang kita cekal hanya penampilan artisnya saat membawakan,” pungkas Ezki.(net/jpnn)

Asha Shara-Syafiq Resmi Menikah

Tetap Jadi Artis

Kebahagiaan sedang menyelimuti perasaan Asha Shara dan Syafiq. Pasalnya, hari ini keduanya telah resmi menikah. Asha dipersunting Syafiq dengan mas kawin uang sebesar 100 real. “Proses akadnya jam 9.30 WIB. Pakai adat Arab, jadi pakai bahasa Arab,” kata Asha di hotel Crown, Jakarta Pusat, Minggu (1/4).

Menjadi pengalaman pertama baginya, Asha mengaku tak dapat memungkiri sempat dilanda perasaan takut.

“Deg-degan juga takut, tapi untungnya enggak salah. Alhamdulillah lancar sekali. Mas kawinnya uang 100 real,” kata Asha.
Rencananya, Asha akan melangsungkan resepsi pernikahan di Hotel Crown Plaza, Jakarta Selatan, pukul 19.00 WIB.

Setelah resmi menjadi seorang istri, Asha Shara tetap mendapat izin dari sang suami, Syafiq untuk bekerja di dunia hiburan.
“Semua terserah Asha. Mau jadi entertaint, silakan, mau jadi ibu rumah tangga silakan. ang penting dia ingat punya suami,” kata Syafiq.
Mendengar hal itu, Asha pun mengiyakannya. “Ya sekarang lebih tahu waktu, enggak bisa pulang seenaknya,” jelasnya.

Untuk rencana bulan madu, mereka mengaku belum merencanakannya, karena jam kerja Syafiq yang padat. “Nanti juga bulan madu terus,” tandas Asha.(net)

Sania Kebelet Menikah

Sudah 4 tahun penyanyi R&B Sania menjalin asmara dengan Marcell Nikijulu. Sania pun sudah tidak sabar untuk mengajak Marcell melangkah ke pelaminan.
Perempuan berusia 36 tahun itu sudah mantap untuk menjalani mahligai rumah tangga bersama Marcell. Segala usaha agar pernikahan cepat terwujud pun dilakukan.

“Keinginan kita ke sana, tapi belum dikasih izin. Kita berharap secepatnya. Nggak pengen pacaran terus,” ujar Sania ditemui di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Sabtu (31/3) malam.

Kedua keluarga sudah saling kenal dan merestui mereka. Sania pun berharap agar pernikahannya dengan Marcell yang berprofesi sebagai pengusaha itu bisa digelar tahun ini.

“Sementara ini kita begini saja terus. Pengennya ke pelaminan. Insya Allah kalau tahun ini ya doakan saja,” tuturnya melirik sang pacar. (net)

Beri Maaf bagi Perampok

Alexandra Gottardo

Beberapa bulan lalu aktris Alexandra Gottardo mengalami perampokan di kediamannya. Dua orang pemuda ditetapkan sebagai pelaku. Ia pun ingin hukuman pelaku diperingan.

Perempuan yang akrab disapa Xandra itu merasa kasihan dengan nasib para perampok. Dua pemuda yang merampoknya masih tergolong remaja.
“Menurut pengacara saya tuntutan nggak bisa cabut atau ringankan. Saya sih kasihan, masih 19 tahun,” ujar Xandra ditemui di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Sabtu (31/3).

Xandra pun tak mau melihat mereka menghabiskan waktu di penjara. Ia ingin mereka punya masa depan yang lebih baik setelah menerima bimbingan.
“Saya minta ada nggak penjara yang ada bimbingannya gitu. Biar agamanya dibagusin, lebih dididik. Bukan penjara yang universal,” jelasnya.(net)

Intaian Maut Penikmat Cinta Sejenis

Medan Rawan HIV/AIDS

BEBERAPA waktu lalu Sumut Pos berbincang panjang dengan Marsudi Budi Utomo, Pengelola Program KPA Kota Medan. Dia mengatakan, soal HIV/AIDS di Medan memang sangat memprihatinkan. Untuk bukti, dia pun memberikan data yang dimiliki KPA hingga akhir tahun 2011.

Data itu menggambarkan bila nyaris seluruh kecamatan di Kota Medan berpotensi penularan HIV/AIDS. Contohnya penularan penyakit itu melalui jarum suntik alias pemakai jarum suntik atau penasun. Dari data yang ada, di Medan sedikitnya 354 penasun. Dan para penasun itu menyebar di berbagai kecamatan (lihat grafis). Kecamatan penyumbang penasun terbanyak adalah Medan tuntungan dengan 75 orang diikuti Medan Sunggal sebanyak 40 orang. “Memang penularan HIV melalui jarum suntik sangat riskan. Untungnya, pada 2012 penasun mulai berkurang,” jelas L Marsudi Budi Utomo.

Lelaki tinggi yang mulai terjun ke KPA sejak 2009 lalu ini kemudian menjelaskan, pihaknya memang fokus untuk mengurangi penularan penyakit tersebut. “Untuk itulah, seperti saat ini kami mensosialisasikan bahaya penyakit tersebut kepada kaum gay dan waria,” terangnya.

Ya, saat itu, pihak KPA memang menggelar diskusi dengan kaum gay dan waria di Medan dengan pembicara dr Eva Meutia Harun dari Bestari. Kaum ini dianggap rawan HIV karena perilaku seksual yang cenderung menggunakan anus alias anal seks. “Penggunaan kondom yang kami sosialisasikan pada mereka,” tambah Tomo, panggilan akrab L Marsudi Budi Utomo.

Tomo menjelaskan kembali kalau tugas pihaknya adalah untuk mengurangi potensi penularan. Mereka tidak bicara soal keberadaan gay dan waria dalam arti sebagai kaum yang ‘aneh’. Tapi, seks melalui anal memang berisiko tinggi.

“Bagaimana lagi, gay dan waria memang ada. Dan mereka hidup dengan dunia mereka. Kami melihat risiko yang mereka emban, makanya kami sosialisasikan penggunaan kondom. Ketika mereka sadar, maka potensi penularan semakin sempit,” jelas Tomo.

Diskusi tempo hari memang tampak menarik. Ada beberapa perwakilan gay dan waria.

Asiong, perwakilan waria, mengatakan pada Sumut Pos kalau pihaknya sudah lama sadar dengan itu. Bahkan, dia sebagai koordinator menegaskan pada anggota untuk serius soal kondom. “Sekarang sudah serius semuanya. Kalau ada yang bandel ya kita tegur. Kan untuk kesehatan mereka sendiri. Setelah diingatkan, semuanya juga paham kok,” jelas waria berbadan tinggi besar itu.

Sang pemateri, dr Eva Meutia Harun, saat diskusi menggambarkan soal bahaya anal seks. Katanya, selaput di anus sangat rentan saat terjadi penetrasi. “Jadi tidak seperti vagina yang memiliki pelumas,” ucapnya yang langsung sambut sorak oleh peserta yang rata-rata masih usia produktif tersebut. “Nah, ketika selaput itu rusak, maka akan ada cela bagi virus untuk masuk. Setelah itu, kita tahu sendiri kan?” tambah dr Eva lagi.

Usai diskusi, dr Eva mengatakan pada Sumut Pos, Medan dalam posisi rawan terkait HIV/AIDS. Gaya hidup metropolis adalah tantangan tersendiri. “Kaum gay memang makin banyak di Medan. Kita khawatir dengan itu. Tapi, ini bukan pada pilihan mereka, ini soal perilaku seksual mereka,” jelasnya.

“Kalau soal pilihan menjadi gaya, sudahlah. Meski, saya prihatin karena semakin banyak remaja yang beralih orientasi seksnya menjadi suka sesama jenis,” tambahnya.

Kembali lagi dr Eva menekankan, soal penyebaran HIV/ AIDS terletak pada kelakukan seksual dan bukan pilihan seksual. “Bukan berarti kaum gay dan waria saja yang harus diingatkan, kaum heteroseksual juga cukup berisiko jika tidak bersih. Misalnya, seorang bapak yang ‘jajan’ dan wanita pekerja seksnya sudah positif, maka dia berpotensi menularkan pada istri dan calon anaknya kan?” jelas dr Eva.

Untuk itulah, dr Eva yang berasal dari klinik Bestari ini langsung menyambut baik ketika KPA Medan memintanya menjadi pemateri. “Ya, ini semua untuk masa depan, jika tidak kita mulai Medan bisa bahaya,” ucapnya. “Medan dalam kepungan penyakit mematikan,” timpal Tomo yang duduk di samping dr Eva.

Dari data Komisi Penganggulangan (KPA) AIDS Kota Medan per Desember 2011 yang diterima Sumut Pos diketahui dalam enam tahun terakhir, tercatat sudah 2.904 penderita. Dan, dari jumlah itu, 538 di antaranya meninggal dunia. Nah, dari 1.191 WPS yang ada di Medan, penderita HIV/AIDS 155 orang.

Jumlah WPS yang terdata ini menyebar di dua puluh kecamatan yang ada di Medan. Dan, wilayah kecamatan penyumbang WPS terbanyak adalah Medan Selayang dengan 193 WPS. Peringkat kedua diduduki Medan Tuntungan 171 WPS dan ketiga, Medan Timur dengan 125 WPS (jumlah WPS per kecamatan lihat grafis).

Itulah sebab, Project Officer Global Fund Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Andi Ilham Lubis mengingatkan, para lelaki hidung belang harus mengambil pelajaran. Jika tidak, bukan tidak mungkin dia menambah daftar penderita HIV/ AIDS di Medan. “Satu WPS bisa melayani hingga 8 orang pelanggannya, jika HIV positif, maka virus tersebut tentu akan tertular. Karena perilaku berganti-ganti pasangan dan tidak mengenakan pengaman saat berhubungan menyebabkan orang tersebut lebih berisiko tertular HIV/ AIDS,” kata Andi Ilham.

Namun, katanya, jika menggunakan kondom, risiko tertular HIV/AIDS semakin kecil. “Sebenarnya penularan HIV/ AIDS melalui hubungan seksual tidak sampai 0,1 persen. HIV/ AIDS lebih cepat tertular jika tidak menggunakan kondom saat berhubungan. Karena luka pada alat kelamin yang dialami lebih berpotensi menularkan HIV/AIDS,” jelasnya lagi.

KPA Kota Medan juga menemukan kaum lelaki memang paling rentan terjangkit HIV/AIDS. Dari 2.904 penderita, 2.216 adalah lelaki. Dan, kelas umur yang paling banyak menderita adalah usia 25 hingga 34 tahun. “Diharapkan para remaja jangan sampai berisiko. Apalagi WPS itu banyak yang usia produktif. Kita tidak bisa memastikan berapa jumlah pastinya WPS yang usia produktif, tapi dari survei di lapangan memang kebanyakan remaja,” ucap Andi Ilham.

Sambungnya, jika tidak dilakukan pencegahan sejak dini, maka jumlah kasus HIV/AIDS akan terus meningkat.

“Pencegahan dengan meningkatkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS sangat penting dilakukan. Itu bukan semata- mata tugas kita. Tapi dari semua pihak terutama instansi terkait. Sejauh ini, kita selalu melakukan pengobatan, sosialisasi dan pembinaan,” ucapnya.

Ketua LSM Medan Plus, Totonta Kaban mengatakan estimasi WPS cenderung meningkat setiap tahunnya. Bahkan, bisa mencapai dua kali lipat tingginya. “Penularan HIV/AIDS juga semakin tinggi karena melihat perilaku seks yang masih belum berubah. Artinya, banyak ditemukan pekerja seks yang berhubungan tanpa menggunakan kondom,” katanya.

Pihaknya sendiri, melakukan program pendampingan, penyuluhan hingga pemberian kondom secara gratis. “Potensi penularan HIV/AIDS semakin besar karena didukung penyakit kelamin lainnya seperti shipilis. Tapi, banyak WPS yang mengeluhkan pelanggannya yang tidak mau berhubungan kalau menggunakan kondom. Karena katanya nggak enak. Kalau sudah begini, mereka biasanya nggak bisa menolak,” ujarnya. (her/rmd/mag-11)

Lelaki Suka Lelaki Picu HIV/AIDS

HOMO seksual khususnya Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau gay ditengarai bisa mempercepat laju pertumbuhan penderita HIV/AIDS di Kota Medan; begitu juga dengan kaum waria. Apalagi, di Medan jumlah kaum gay sudah mencapai 1.699 orang, sedangkan waria berjumlah 664 orang.

Dari data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Medan yang diterima Sumut Pos, Kecamatan Medan Kota menjadi wilayah subur gay dengan 295 orang. Di peringkat kedua ditempati Kecamatan Medan Sunggal dengan 245 gay, dan peringkat ketiga diduduki Medan Petisah dengan 208 gay.

Untuk waria, Medan Baru menduduki tempat pertama dengan 161 waria. Medan Johor di posisi kedua dengan 134 warianya dan Medan Petisah di posisi tiga dengan 93 waria (daftar lengkap lihat grafis).

“Komunitas ini (gay) termasuk tertutup, namun ketika dipetakan jumlahnya 1.699 orang dengan profesi beraneka ragam.

Banyak juga yang memiliki keluarga (anakistri) namun memiliki pasangan gay,” terang L Marsudi Budi Utomo, Pengelola Program KPA Kota Medan, kemarin.

Kecenderungan gay dan waria menularkan HIV/AIDS ditekankan oleh oleh dr Yulia Maryani, selaku dokter praktik penanganan masalah infeksi menular seksual (IMS).

“Kelompok gay cenderung melakukan hubungan seksual lewat anus (anal seks, Red). Seperti diketahui anus adalah tempat pembuangan yang banyak ditemui pembuluh darah di daerah sekitar anus. Sehingga dengan seksual yang rutin dilakukan lewat anus akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah yang mengakibatkan luka pada bagian tersebut. Luka inilah yang nantinya akan menjadi pintu masuknya virus HIV melalui darah,” terang Yulia di ruang praktiknya, di kawasan Jalan Veteran Medan, Kamis (8/3).

Tidak hanya rentan tertular HIV, sambung Yulia, gay juga rentan terhadap penularan penyakit IMS, dan untuk diingat, seseorang yang terkena IMS memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi HIV. Bahkan, menurut Yulia dari pengalaman yang ditemui terhadap sejumlah pasiennya dari kelompok gay, banyak dari mereka yang tidak mengetahui jika mereka telah terinfeksi IMS maupun HIV.

Akibat ketidaktahuan inilah yang akhirnya menyebarkan virus ke orang lain, apalagi para pelaku seks yang dominan berganti-ganti pasangan.

“Tidak ada cara lain untuk mencegah penularan IMS dan HIV melalui hubungan seksual kecuali dengan menggunakan kondom secara rutin dan harus benar-benar memperhatikan tentang cara penggunaannya agar tidak terjadi kesalahan,”ungkapnya.

Berangkat dari pengalaman praktiknya, Yulia mengakui, ada beberapa perbedaan prilaku seks antara gay dengan para waria. Meskipun sama-sama berhubungan dengan sesama jenis, namun untuk kelompok gay, masih sering menggunakan penisnya sesama pasangan secara bergantian ketika melakukan hubungan seksual. Bahkan tak jarang, sebagian gay ini juga memiliki isteri dan anak.

“Namun, hal ini tidak akan dilakukan para waria. Selain tidak mau disebut sebagai seorang gay, para waria juga tidak akan menggunakan penisnya dengan sesama jenis saat melakukan hubungan seksual. Selain itu, waria juga mengakui jika dirinya murni seorang wanita dan tidak akan berpikir memiliki isteri apalagi anak meskipun keduanya tergolong kelompok homoseksualitas,” ungkap Yulia.

Selain itu, Yulia juga mengungkapkan jika sering menangani pasien yang terinfeksi IMS dan memiliki risiko besar tertular HIV, dari kalangan para pelajar. Dan biasanya para pelajar ini, menurut pengakuannya, cenderung sebagai pemuas nafsunya para gay atau sering disebut sebagai ‘kucing’.

“Setidaknya sampai saat ini ada sekitar 25 pasien kita yang masih berstatus pelajar yang tengah berobat atas keluhan penyakit IMS yang dideritanya. Bahkan tak jarang mereka juga datang berobat ke klinik dengan menggunakan baju sekolah. Hal ini juga yang menjadi keprihatinan bagi kita, mengingat penyakit IMS memiliki risiko besar untuk terkena HIV,” ungkapnya. (uma)

Ketika Homoseksual Jadi Lifestyle

Tak heran bila para pria banyak melakukan seks menyimpang, dalam hal ini menjadi homoseksual. Salah satu dominan penyebab tersebarnya karena homoseksual saat ini dianggap kalangan remaja pria sebagai tren life style. Begitulah pendapat Direktur Biro Psikologi PERSONA, Irna Minauli.

“CUKUP mengkhawatirkan! Sekarang perilaku homoseksual dianggap sebagai trend atau life style karena mengikuti gaya hidup para selebritis, misalnya Ricky Martin yang menikah dengan seorang dokter yang tampan,” ujarnya , belum lama ini.

Menurutnya, di Sumatera Utara jumlah gay tidak tertutup kemungkinan mengalami peningkatan. Bahkan kaum gay sudah semakin berani menampilkan diri secara terbuka ke khalayak.

Gerakan yang dilakukan oleh kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual) ini pun menjadi lebih terorganisir.

Tak lain karena banyaknya dukungan dari foundation di luar negeri yang memperjuangkan kesamaan hak mereka.

Jika dilihat secara psikologi, kaum homoseksual (lesbian dan gay), khususnya yang mengacu pada DSM (Diagnostic and Statistical Manual) yang dipublikasikan oleh American Psychiatry Association (Asosiasi Psikiater Amerika) yang merupakan buku panduan dalam menegakkan diagnosa, bahwa homoseksual tidak lagi dianggap sebagai abnormalitas.

“Dengan demikian mereka sudah dianggap normal. Ada banyak penyebab homoseksualitas. Biasanya para gay belajar dari pengalaman seksual pertama yang mereka alami. Jika pengalaman seksual pertama yang menyenangkan itu dengan sesama jenis, maka mereka cenderung akan menikmati hubungan tersebut dan menjadi homoseksual,” tambah Irna Minauli.

Menurutnya umumnya, kaum homoseksual juga akan mencari ‘mangsa’ yang berpeluang menjadi homoseksual.

Kaum homoseksual memiliki kemampuan yang cukup jeli dalam melihat mana yang dapat menjadi rekan seksualnya. Karena ada semacam sinyal yang dikenali oleh kaum homoseksual tersebut.

“Banyak dari kaum gay yang kemudian terlibat dengan pernikahan dengan seorang wanita hanya untuk menjaga nama baik keluarga dan sebagainya.

Namun, di sisi lain mereka juga tetap menjalin hubungan sejenis.

Beberapa memiliki kecenderungan biseksual sehingga dapat berhubungan dengan kedua jenis kelamin,” jelas Irna.

Berdasarkan teori Psikoanalisa, masalah homoseksual adalah semacam spektrum dimana pada sisi kiri adalah homoseksual dan sisi kanan adalah heteroseksual, dan di tengahtengahnya adalah biseksual.

“Jadi setiap orang memiliki kecendrungan tersendiri dimana mereka berada.

Sesuai dengan teori sosial belajar maka homoseksual itu merupakan hasil dari proses belajar,” terangnya.

Selain itu, pria yang bergaul dengan kaum homoseksual lebih berpeluang menjadi kaum gay dibandingkan dengan mereka yang tidak sama sekali.

Banyak kaum homoseksual yang kemudian menjadi sangat posesif dengan pasangannya.

“Ini disebabkan karena peluang mereka yang jauh lebih terbatas dibandingkan dengan kaum heteroseksual.

Itu sebabnya tindakan kekerasan dan pembunuhan di kalangan kaum homoseksual jauh lebih banyak jika dibandingkan dari segi proporsional,” ujarnya.

Namun, kondisi rumah tangga yang kurang harmonis juga berkaitan menjadikan seorang pria menjadi gay.

“Banyak diantara mereka yang memiliki ayah yang kurang berperan sehingga mereka tidak memiliki role model.

Proses identifikasi seorang anak lakilaki yang biasanya terhadap ayah. Ketika proses identifikasi itu terganggu, maka mereka berpeluang mengalami gangguan,” tambahnya.

Beberapa di antaranya mungkin pernah mengalami pelecehan seksual seperti disodomi pada masa kanakkanak yang kemudian menimbulkan kesenangan. “Trauma karena dikecewakan oleh lawan jenis juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Sambungnya, kebosanan dengan relasi heteroseksual membuat beberapa orang mencari variasi dengan melakukan homoseksual. Menariknya, dibanyak negara, perjuangan kaum LGBT ini sudah berhasil.

“Misalnya buku-buku pelajaran anak SD di Belanda dan beberapa negara yang mengakui keberadaan LGBT, sudah direvisi. Pembelajaran dari luar negeri ini kemungkinan akan merambah ke Indonesia khususnya Sumut,” bebernya. (mag-11)

Pengguna Jarum Suntik (Penasun) per Kecamatan

KECAMATAN Jumlah
TUNTUNGAN 75
JOHOR 15
AMPLAS 8
DENAI 37
AREA 10
KOTA 15
MAIMUN 15
POLONIA 25
BARU 28
SELAYANG 10
SUNGGAL 40
HELVETIA 9
PETISAH 7
BARAT 5
TIMUR 9
PERJUANGAN 9
TEMBUNG 6
DELI 20
LABUHAN 3
MARELAN 5
BELAWAN 3
Jumlah 354

DATA PENDERITA HIV/AIDS KOTA MEDAN TAHUN 2006-2011

TAHUN 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Total
HIV 215 324 250 584 373 407 2.153
AIDS 81 60 125 77 232 176 751
Total 296 384 375 661 605 583 2.904

JUMLAH PENDERITA AIDS YANG DILAPORKAN MENINGGAL

Jenis Kelamin 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Total
Laki-laki 0 0 32 100 152 164 448
Perempuan 0 0 9 15 24 42 90
Total 0 0 41 115 176 206 538

Sumber data: KPA Medan