28 C
Medan
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 13768

Transformasi Pendidikan Tinggi

Oleh:
Dian Syahfitri

Perkembangan pendidikan tinggi dewasa ini telah menimbulkan keprihatinan meluas di tengah masyarakat. Terlebih dihadapkan pada krisis multidimensional yang berkepanjangan. Masyarakat pun mengharapkan kepastian bagaimana bangsa ini akan menghadapi kompetisi global. Demikian berbagai indikator sosial dan ekonomi juga telah menunjukkan bahwa posisi bangsa ini makin tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam kompetisi global.
Bagaimana pendidikan tinggi mencari jalan keluar dan bersama-sama masyarakat menggalang upaya untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini? Bagaimana pula perguruan tinggi meningkatkan mutu akademiknya di tengah keterbatasan sumber daya dan kurangnya perhatian dan dukungan lingkungan?

Kesemuanya ini menjadi latar belakang perlunya transformasi perguruan tinggi pada era kompetisi global sekarang ini. Pemikiran bagaimana menempatkan pendidikan tinggi sebagai ujung tombak perubahan bangsa sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Berulang kali para pembuat kebijakan pendidikan tinggi dihadapkan pada pilihan-pilihan antara pemerataan pendidikan atau pengembangan pusat keunggulan (centers of excellence). Memasuki milenium ketiga tampaknya pilihan telah ditentukan.

Peranan perguruan tinggi dalam mempersiapkan daya saing bangsa mengarungi era persaingan global sudah sangat urgensi. Pada umumnya pendidikan tinggi di negara ini telah tertinggal, bahkan terasing dari kebutuhan dan realitas sosial, ekonomi, serta budaya masyarakatnya. Perguruan tinggi memerlukan otonomi dan independensi untuk dapat memulihkan perannya itu keluar dari menara gading dan terlibat secara langsung sebagai agent of change dalam perubahan masyarakat.

Memosisikan sebuah perguruan tinggi pada barisan perguruan tinggi- perguruan tinggi terbaik memerlukan perubahan yang fundamental sehingga mampu bersaing. Sebuah perguruan tinggi harus memiliki strategic intent. Untuk mewujudkannya, perlu dilakukan transformasi kelembagaan yang lebih kompleks dari sekadar pengembangan organisasi (organization development). Melakukan perubahan fundamental untuk dapat menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi merupakan kata kunci dalam transformasi sebuah perguruan tinggi. Upaya transformasi kelembagaan ini diharapkan dapat merevitalisasi peran perguruan tinggi agar mampu berperan secara optimal dalam mewujudkan academic excellence for education, for industrial relevance, for contribution for new knowledge, dan for empowerment.

Keberhasilan transformasi pendidikan tinggi adalah faktor kunci agar perguruan tinggi dapat berkiprah dalam kompetisi global. Restrukturisasi, rekonstruksi, reposisi, dan revitalisasi berbagai fungsi serta komponen organisasi diperlukan dalam proses transformasi ini. Secara garis besar, ada tiga prasyarat keberhasilan transformasi perguruan tinggi.

Pertama, penyelarasan secara bertahap struktur kelembagaan (program dan sumber daya) dengan perilaku civitas akademikanya untuk mencapai kinerja yang ditargetkan. Setiap anggota civitas akademika harus mempunyai komitmen terhadap target mutu, ketepatan waktu, dan efektivitas program. Kedua, orientasi proses akademik pada pelayanan dan kepuasan stakeholders. Ketiga, kemampuan untuk menerapkan management best practice dalam pengelolaan dan pengembangan perguruan tinggi (Triloka, 2010).

Munculnya kesadaran (awareness) bahwa bangsa ini memerlukan perguruan tinggi yang dapat diandalkan dalam kompetisi global merupakan faktor penting dalam memulai suatu perubahan. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan pendidikan memperoleh 20 persen dari APBN merupakan peluang untuk melakukan transformasi pendidikan tinggi di negara ini.

Selain itu, perguruan tinggi perlu mengupayakan peningkatan kemampuan pendanaan dengan bijaksana dan kreatif. Perguruan tinggi harus menghindari opini komersialisasi yang berlebihan, khususnya dalam penerimaan mahasiswa baru. Sedapat mungkin diupayakan, dirancang sistem penerimaan mahasiswa yang memenuhi prinsip keadilan, menjamin akses, dan ketepatan metode (Alwasilah, 2008: 33).

Sebenarnya bukan hanya pengelolaan keuangan, tetapi juga transformasi para dosen ke arah yang lebih baik sejalan dengan berubahnya status tujuh perguruan tinggi (Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pajajaran Bandung (IPB), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Airlangga) menjadi perguruan tinggi yang berbadan hukum milik negara atau BHMN, maka mereka harus meninggalkan tradisi lama karena dosenlah yang paling kritis perannya.(*)

Penulis adalah Duta Bahasa Sumatera Utara tahun 2008,   Mahasiswa Prodi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas
Pendidikan Indonesia

Sidang Korupsi Dana Kas Pemkab Batubara

Saksi Sebut Nama Marwan Effendy dan Jasman Pandjaitan

JAKARTA- Rupanya kasus dugaan korupsi dan money loundry atas dana kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara, Sumatera Utara, melebar bahkan hingga menyebut-nyebut nama Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Kejaksaan Agung (Kejagung), Marwan Effendi dan Jasman Pandjaitan yang pada Mei 2011 lalu masih menjabat Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).

Adalah terdakwa Direktur PT Pacifik Fortune Management (PFM), Ilham Martua Harahap mengungkapkan hal ini pada persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (26/3), saat menjadi saksi untuk terdakwa lainnya, David Purba.

Ketika itu menurutnya, sebelum 16 Mei 2011 lalu, mantan anak buahnya saat masih bekerja di PT Nobel, Daud Aswan, mengaku memiliki seorang teman. Menurutnya, ia yang dapat membantu mengurus perkara yang tengah dihadapi Martua dan boss-nya di PFM, Rahman Hakim. Sebab ketika itu sejumlah media telah ramai memberitakan bahwa dugaan korupsi dana kas Pemkab Batubara, melibatkan PT.PFM.

“Jadi katanya teman beliau (David Purba), bisa menjembatani. Jadi bantuan mau dilakukan untuk saya dan Bapak Rahman Hakim, untuk bertemu tim Kejaksaan Pak Marwan dan Jasman. Kami di PFM mau dibantu karena katanya tidak terkait langsung dengan uang Pemkab. Hanya sebagai tempat transfer saja,” ungkapnya di persidangan.

Namun tentunya hal tersebut tidak dilakukan dengan cuma-cuma. Bahkan harus menyerahkan uang senilai Rp1,5 miliar. “Selain itu, nama Alex (penyidik yang mencari Martua hingga ke rumah keluarga di Medan), juga disebut-sebut. Makanya saya pikir hal tersebut pasti benar. Hingga akhirnya saya beri uang seperti yang diminta oleh Daud yang katanya diminta terdakwa (David Purba) untuk diberikan ke tim Kejaksaan,” bebernya.

Uang tersebut diberikan dalam tiga tahap. Untuk yang pertama sekitar tanggal 16 Mei 2011 diberikan oleh Martua lewat sekretaris perusahaan, Intan yang ditemani supir perusahaan Fadillah.

“Itu dilakukan di Plaza Indonesia. Lalu selanjutnya Daud bilang, Fadillah nggak usah ikut lagi hingga akhirnya penyerahan keeseokan harinya dilakukan di parkiran Hotel Borobudur. Demikian juga penyerahan uang ketiga kalinya dilakukan di tempat yang sama. Tapi itu Intan yang menyerahkan kepada Daud. Kata Daud, uang yang katanya untuk tim kejaksaan itu tidak disitu,” lanjutnya sembari mengatakan, saat itu di dalam mobil ada Daud dan terdakwa.
Menariknya, jumlah uang yang diberikan tidak hanya Rp1,5 miliar saja. Namun Martua yang mengakui uang tersebut berasal dari uang perusahaan, harus menambah Rp200 juta lagi. “Itu katanya untuk administrasi penangguhan penahanan atas Rahman Hakim,” cetus Ilham. (gir)

Wartawan dan LSM Pertanyakan Penghentian Kasus Hulman Sitorus

SIANTAR- Ratusan wartawan dan LSM yang tergabung dalam Forum Solidaritas Pers dan LSM Siantar-Simalungun, kembali berdemo di kantor Wali Kota Siantar, Polres serta DPRD Pematangsiantar, Senin (26/3).

Aksi ini terkait pernyataan Wali Kota Pematangsiantar Hulman Sitorus yang mengatakan pers dan LSM penghambat demokrasi, serta membahayakan negara. Pendemo menuding Kapolres dan Wali Kota sepakat untuk tidak menindaklanjuti laporan wartawan ketingkat penyidikan.

Dengan suara lantang di depan gedung Mapolres Pematangsiantar, Larham Simaremare selaku Korlap aksi, meneriakkan telah terjadi konspirasi jahat dan busuk antara Wali Kota dan Kapolres Pematangsiantar. Sebab, dirinya selaku pelapor atas pernyataan Wali Kota tersebut menilai penyidik lamban karena sudah dapat perintah atasannya.

Ironinya, lewat surat yang dilayangkan penyidik ke alamatnya menerangkan, laporan yang sudah diterima itu tidak dilanjutkan ketingkat penyidikan. Selain tak cukup bukti, penyidik juga beralasan kalau terlapor dalam hal ini Hulman Sitorus sudah menerbitkan klarifikasi atas pernyataannya itu disalah satu media terbitan Medan. “Ini sangat tak masuk akal. Jelaslah kalau wali kota dan Kapolres sudah main mata,” teriaknya di depan Mapolres Siantar.
Ketua AJI Persiapan Kota Pematangsiantar, Tigor Munthe menilai, penghentian penyelidikan ini bentuk pembungkaman terhadap pers dan LSM atas pernyataan Hulman Sitorus. Terkait pernyataan Kapolres tak ada pencemaran, merupakan pembunuhan karakter pers dan LSM.

Koordinator aksi, Samsudin Harahap, mempertanyakan bukti rekaman pernyataan Hulman Sitorus yang diterima penyidik Polres dari Kasubag Humas Pemko Pematangsiantar hingga akhirnya memberhentikan penyelidikan.

Sementara pelapor dalam hal ini Larham Simaremare sudah memberikan alat bukti berupa dua surat kabar terbitan lokal yang memberitakan pernyataan Hulman Sitorus. Pernyataan itu tersiar ketika Hulman  memberi kata sambutan dalam acara Konsultasi dan Studi Wilayah I Pengurus GMKI di Restoran Internasional Rabu (7/3) lalu.

Kapolres Pematangsiantar, AKBP Alberd Sianipar, lewat telepon selulernya mengatakan, pihaknya terpaksa memberhentikan penyelidikan sebelum dilanjutkan ke penyidikan karena beberapa faktor, termasuk pelapor belum dapat memperbaruhi bukti yang menguatkan sangkaan pencemaran nama baik.

Bahkan, bukti rekaman yang diterima dari Kasubag Humas Pemko Pematangsiantar dianggap sebagai petunjuk pembenaran hingga sudah meminta saksi ahli dari USU, kalau pernyataan terlapor (Hulman Sitorus) tidak mengarah ke pidana.
“Kalau kawan-kawan ada bukti baru atau memang mencurigai rekaman suara terlapor yang sudah diediting itu, silahkan lapor lagi,” ujar Alberd  (mag-5/smg)

Disnaker Binjai tak Punya Data Tenaga Kerja

BINJAI- Banyaknya pengangguran di Kota Binjai, tak membuat Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Binjai turun tangan. Malah, instansi yang dipercaya mengatur ketenaga kerjaan ini, tak memiliki data valid terkait jumlah pengangguran di daerahnya.

“Kita tidak dapat mendata keseluruhan angka atau jumlah pengangguran di Kota Binjai ini. Sebab, kita hanya menunggu warga yang mencari pekerjaan ke Dinas. Untuk tahun 2011 lalu, angka pengangguran yang datang ke Disnaker sebanyak 1.118 orang. Sementara, yang tidak datang tentunya tidak terdaftar,” ucap Zulkani, Kepala Bidang (Kabid) Penempatan dan Pelatahinan Tenaga Kerja di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Binjai, Senin (26/3).
Dilanjutkan Kepala Seksi (Kasi) Industrial dan Pengawasan Disnaker Binjai, M Sitorus, tingginya angka pengangguran di Kota Binjai, akibat kurangnya lapangan pekerjaan dan bertambahnya jumlah penduduk.

“Setiap tahunnya anak sekolah banyak yang tamat. Baik tingkat SMA mapaun perguruan tinggi. Sementara lapangan pekerjaan semakin berkurang. Sehingga, tidak sesuai dengan bertambahnya penduduk atau bertambahnya jumlah anak sekolah yang tamat belajar,” ujar M Sitorus.(dan)

Kapan Dibayar Tunjangan Sertifikasi

085760780xxx

Yth KadisDikBud Sumut, kapan dibayarkan tunjangan serti-vikasi guru yang masih tertunda 4 bulan di 2010. Kami lapor dan perbaiki data rekening yang salah ke kantor Bapak 22 Januari 2011 lalu. Mohon dicairkan, terima kasih.

083199224xxx

Yth Bapak Kadisdikbud Sumut, kapankah pencairan sertivikasi guru + pengawas 2010 yang masih tertunda 4 bulan? Padahal data rekening, nama, NUPTK yang salah sudah diperbaiki Januari 2012. Terima kasih.

Konfirmasi Pihak Terkait

Sertifikasi merupakan program Kementrian Pendidikan melalui APBN. Proses penyaluran dilakukan berdasarkan verifikasi data yang ada di database langsung ke rekening guru yang juga ditentukan pusat. Dinas Pendidik-an dan Kebudayaan Sumut tidak ada kaitannya dengan sertifikasi ini. Mungkin bisa dikonfirmasi ke universitas terkait. Terima kasih.

Drs H Syaiful Syafri MM
Kadis Pendidikan Sumut

Chikungunya Serang 38 Warga Stabat

LANGKAT- Tercatat sedikitnya 38 warga Lingkungan V Asrama Kelurahan Kwala Bingai, Stabat, Langkat, diduga terserang penyakit cikunguya. Virus mewabah pekan lalu, membuat sebagian penderita harus menjalani rawat inap di Puskesmas setempat.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pemkab Langkat, Gunawan, dikonfirmasi wartawan membenarkan tentang adanya dugaan virus cikungunya menyerang warga dimaksud.

“Kita sudah melakukan tindakan penyemprotan dengan fogging di lingkungan perumahan Kwala Bingai, namun belum dapat dikatakan positif cikunguya, baru sebatas dugaan,” kata Gunawan melalui sambungan telepon, Senin (26/3).

Lebih lanjut dijelaskan dia, sampel darah diantara penderita sudah diambil guna pemeriksaan di Jakarta. Nah, dari hasil uji laboratorium jenis penyakit dimaksud dapat diketahui.

“Beberapa penderita sudah kita ambil sampel darahnya guna uji laboratorium, hasil yang diperoleh dapat mengetahui jenis penyakitnya,” seru dia seraya mengakui virus cikunguya dibawa nyamuk Aedes Aegepty dan Aedes Albopictus.

Penyakit ini ditengarai, berkembang biaknya nyamuk pembawa virus tersebut akibat genangan air sekitar pemukiman warga yang saluran pembuangan airnya tidak mengalir. (mag-4)

Penggusuran Tebang Pilih

085361311xxx

Penggusuran PKL di trotoar pemakaman Jalan Halat Medan terkesan tebang pilih. Pasalnya Satpol PP hanya menggusur tiga pedagang bensin eceran saja, sementara PKL dan pedagang bensin yang lain tak tersentuh sama sekali. Bahkan tepat berada di atas trotoar juga berdiri pos OKP dengan bangunan permanen serta beberapa warung kopi yang menjadi tempat tongkrongan Lurah Pasar Merah Timur serta Camat Medan Area.

Parahnya lagi akibat protes yang dilakukan salah seorang pedagang, oknum lurah lantas mencabut jatah raskin pedagang bensin eceran tersebut, padahal warga yang protes itu memiliki kartu raskin sebelumnya. Jelas-jelas ini merupakan bentuk diskriminasi hukum dan sosial terhadap rakyat kecil. Sementara tindakan lurah inipun didukung penuh oleh Camat Medan Area.

Sudah Sesuai Peraturan

Terima kasih atas perhatiannya. Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di trotoar pemakaman Jalan Halat Medan sudah dilaksanakan sesuai peraturan mengenai penggunaan trotoar. Terima kasih.

Khoiruddin
Camat Medan Area

Konfirmasi Kebenarannya

Pemko Medan harus segera mengkonfirmasi kebenaran laporan warga ini. Kalau terbukti agar menindak tegas oknum lurah atau kepling yang terlibat. Begitu juga dengan keberadaan pedagang agar ditata ulang. Sesuai dengan izinnya atau tidak. Kalau tidak sesuai harus sege-ra ditertibkan, jangan ada pilih kasih. Terima kasih

Jumadi
Ketua Komisi C DPRD Kota Medan

Sukseskan Kongres dan Reuni Akbar se-Dunia

Bakti Sosial Ikatan Alumni SMA Negeri 8 Medan di Binjai dan Tanjungmorawa

BAKTI sosial ini dipimpin Ketua Ikatan Alumni SMA Negeri 8 Medan yang juga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut Ir H Riadil Akhir Lubis MSi, Ketua Panitia yang juga Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Deli Serdang Hj Fatmawati, Bupati Deliserdang diwakili Camat Tanjung morawa Drs Zainal Abidin Hutagalung, dan undangan lainnya.

‘’Bakti sosial kita laksanakan buat masyarakat Binjai dan Deli Serdang diantaranya kepada kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) di Binjai. Ada juga sunat massal, pengobatan gratis ceragem, sosialisasi bahaya HIv/AIDS, penyuluhan jaminan persalinan bagi ibu-ibu dan pemberian paketbantuan sosial kepada masyarakat dan anak sekolah, serta lomba masak,’’ kata Ketua Ikatan Alumni SMA Negeri 8 Medan Ir H Riadil Akhir Lubis MSi.
Selain di Deliserdang dan Medan lanjut Riadil, bakti sosial juga dilaksanakan di Binjai yakni kunjungan ke Panti Lansia. ‘’Kita sehari bersama lansia di Binjai dengan memberikan bantuan dan makan bersama dengan lansia,’’ kata Riadil yang juga Ketua Ikatan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU).

Kepala Bappeda Sumut ini mengatakan, bakti sosial dilaksanakan dalam menyambut Kongres dan Reuni Akbar alumni SMA Negeri 8 Medan se-dunia yang akan diadakan di Tiara Convention Hall Jalan Imam Bonjol Medan pada 7 April 2012. ‘’Kita ajak dan undang semua alumni SMA Negeri 8 Medan di manapun berada untuk hadir dalam reuni akbar. SMA Negeri 8 Medan telah menghasilkan alumni sejak 1969 hingga 2011 untuk berpartisipasi dalam reuni akbar,’’ ajaknya.

Berkaitan dengan bakti sosial dan reuni akbar se-dunia, Riadil  mengatakan pendanaan berasal dari dukungan para alumni SMA Negeri 8 Medan yang tersebar di Indonesia. ‘’Kita juga bekerja sama dengan beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprovsu dan Pemkab Deliserdang, Pemko Binjai dan Pemko Medan termasuk Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Palang Merah Indonesia (PMI) dan beberapa sponsor.

‘’Kami dari Ikatan Alumni SMA Negeri 8 Medan dapat membantu pemerintah dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan sebagainya sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari para alumni SMA Negeri 8 Medan yang sudah tersebar di Indonesia dan mancanegara dengan berbagai bidang profesi,’’ terangnya.

Sedangkan Bupati Deliserdang diwakili Camat Tanjung Morawa Drs Zainal Abidin Hutagalung memberi apresiasi atas kiprah alumni SMA Negeri 8 Medan. Menurut Zainal, bakti sosial ini sangat membantu masyarakat kurang mampu terutama di Tanjung Morawa. ‘’Kita sampaikan ucapan terima kasih atas kepedulian alumni SMA Negeri 8 Medan. Bupati menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap para alumni SMA Negeri 8 Medan,’’ katanya.

Zainal menyebutkan bakti sosial yang dilaksanakan SMA Negeri 8 Medan secara terintegrasi dengan beragam kegiatan ini merupakan yang pertama di Tanjung Morawa. ‘’Terima kasih atas kepercayaan menunjuk Tanjungmorawa sebagai lokasi bakti sosial alumni SMA Negeri 8 Medan,’’ ungkap Camat Tanjung Morawa yang juga alumni SMP Negeri 20 Medan yang sekarang menjadi SMP Negeri 22 Medan. (*)

Kesal Jalan Rusak, Warga Ramai-ramai Tanam Pohon Pisang

HAMPARAN PERAK- Puluhan warga Dusun I Desa Pauh, Kecamatan Hamparan Perak, Senin (26/3) siang, menanami Jalan Perintis Kemerdekaan, Hamparan Perak, dengan pohon pisang.

Aksi tersebut dilakukan warga, karena kesal terhadap Pemkab Deliserdang yang tak kunjung memperbaiki infrastruktur jalan tersebut yang sudah rusak parah sejak beberapa tahun terakhir.

Supardi (60), salah seorang warga, mengatakan, aksi tanam pohon pisang ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang yang tak kunjung memperbaiki jalan rusak di wilayahnya itu.

Menurut dia, kerusakan jalan kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Deliserdang dengan Kota Medan ini, sudah cukup lama rusak parah. Hal ini dikarenakan tipe jalan yang dibangun tidak sesuai dengan kendaraan yang melitas di atas badan jalan.
“Pemkab itu jangan hanya pandai memajang spanduk agar warga membayar pajak tepat waktu, tapi juga mesti memperhatikan kondisi parbaikkan jalan ini,” kesalnya.

Kepala Desa (Kades) Pauh, Kecamatan Hamparan Perak, Kholil Munawar, mengaku, pihaknya sudah mengupayakan kepada Pemkab Deliserdang agar jalan penghubung ini segera diperbaiki. “Kita sudah ajukan permohonan ke pemkab, tapi  belum  ada jawaban,” tandasnya.(mag-17)

Pasien Dapat Potongan Harga 50 Persen

Dalam Rangka HUT ke-33 RSIA Rosiva

MEDAN-Sebagai bentuk kepedulian dan perhatian bagi pasiennya, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Rosiva di Jalan Bangka Medan memberikan potongan harga pelayanan rumah sakit dari 10 sampai dengan 50 persen, sejak Jumat(23/5) hingga Minggu (25/3).

Potongan yang harga diberikan kepada pasien itu dalam rangka memperingati hari jadi RSIA Rosiva yang ke 33 tahun yang jatuh pada tanggal 25 Maret 2012.

“Dalam perayaan HUT RSIA Rosiva, sudah 28 pasien mendapat potongan harga dari 10 hingga 50 persen,” kata Direktur sekaligus pemilik RSIA Rosiva Prof. Dr. Djaffar Siddiq, Sp.OG (K) didampingi istrinya Silvia Tantriani Tan, Minggu (25/3).

Djaffar juga mengakui, selama 33 tahun RSIA Rosiva berdiri, rumah sakit itu terus melakukan pembenahan, tidak hanya sisi fasilitas rumah sakit termasuk juga peningkatan pelayanan pasien.

“RSIA Rosiva hingga usia 33 tahun ini mampu bertahan, berkat kerjasama dan peran dari tim yang terdiri dari pemilik, direktur, staf dan seluruh karyawan. Semua karyawan di sini menganggap semuanya penting dan rasa memiliki tinggi. Belum lagi rasa kekeluargaannya, sehingga RSIA Rosiva tetap eksis,” imbuhnya.

Bahkan Djaffar mengaku dalam meningkatkan kualitas mereka lakukan secara lima tahun. Mulai dari melakukan renovasi gedung, tenaga kerja, sistem (akreditasi) dan fungsi sosial. “Ini dipertahankan dengan bekerja keras, disiplin serta berkesinambungan,” ungkapnya.

Apalagi dirinya mengaku tidak pernah berfikir akan takut rugi ketika memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.
“Apapun usaha kita, berikanlah yang terbaik, semua ini demi rasa kepuasan yang didapat konsumen dari Rosiva yang terus mampu memenuhi kebutuhan pasien,” terangnya.

Sementara itu, Ita, selaku Bidang Penanggungjawab Harian,  menambahkan, baiknya pelayanan yang diberikan RSIA Rosiva terhadap pasien dapat dilihat dari rasa nyaman, kepuasan pasien, angka kematian ibu dan anak. “Kematian ibu dan anak hampir tidak ada, dan karyawan yang bekerja di sini pun merasa bahagia dan dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.

Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ini juga, RSIA Rosiva juga menyantuni anak yatim. “Setiap acara besar Islam dan syukuran direktur selalu mengundang anak yatim ke rumah sakit. Ini juga rutin dilakukan,” ungkap Ita.

Hingga saat ini, sedikitnya 120 lebih pegawai di RSIA yang masih aktif. Sedangkan untuk jumlah dokter obgyn (kandungan) ada  24 orang, dan 6 dokter anasthesi untuk melayani 10 hingga 15 persalinan setiap harinya, serta seorang dokter gigi. (*/uma)