Home Blog Page 13786

Sudah Mau Makan, Tak Lagi Muntah Cacing

Dua Kakak Beradik Penderita Bayi Gizi Buruk

MEDAN-Dua balita kakak beradik penderita gizi buruk Alif Sofian Rafsanjani (1 tahun 10 bulan) dan  Melinda (10 bulan) sudah mau makan.
Pengakuan ibu balita, Yulia, anaknya yang sebelumnya tak mau makan sudah mulai makan walaupun hanya sedikit.  “Setidaknya sudah makan karena sebelumnya tak mau makan,” katanya saat ditemui di Ruang Sakura V Kamar 509, RSU Imelda Medan.

Disebutkannya, dirinya sangat senang anaknya mengalami perubahan dan sudah mau makan.

“Saya senang karena anak saya sudah mengalami perubahan. Keinginan semua orangtua pasti sama anaknya mengalami perubahan saat kondisinya sakit,” jelasnya.

Dijelaskannya, dirinya juga senang karena dokter dan petugas medis dengan cepat menangani anaknya.

“Petugas langsung cepat menanganinya. Saya juga senang karena cacing yang keluar dari mulut anak saya sudah tak ada lagi,” bebernya.
Humas RSU Imelda Medan, dr Walman R menuturkan, sudah memberikan pengobatan kepada pasien agar mau makan.

“Kita ingin agar pasien ini cepat ditangani dan dengan begitu kondisi kedua anak ini bisa langsung naik berat badannya walaupun tidak naik secara drastis. Minimal naik 1 ons,” ujarnya.(jon)

Perekaman e-KTP Berakhir April

Perekaman kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yang diberikan oleh pemerintah pusat secara nasional berakhir 30 April 2012. Bisakah Pemko Medan menyelesaikannya tepat waktu? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Adlansyah Nasution dengan Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri.

 Apa yang harus dilakukan Pemko Medan?

Pemko Medan meminta kepada seluruh para camat agar bekerja keras dari sisa jumlah masyarakat yang belum terekam pelaksanakan wajib e-KTP. Sehingga batas waktu yang telah ditetentukan dapat terlaksana. Selain itu, para camat diminta punya inisiatif mencari solusi untuk megatasi permasalahan yang dihadapi. Kota Medan adalah barometer untuk itu mari layani masyarakat dengan baik dan semoga batas waktu yang diberikan oleh pemerintah pusat bisa kita laksanakan.

Dengan sisa waktu yang ada diminta kepada camat untuk bekerja keras, layani masyarakat dengan baik. Karena saya nilai camat belum maksimal melayani masyarakat meskipun sudah bekerja tetapi kurang melayani. Untuk operator jangan terlalu memaksankan dengan bekerja selama 24 jam. Tetapi buatlah aplusan.

Bagaimana dengan disdukcapil?
Kepada dinas kependudukan dan catatan sipil harus punya antisipasi ke depan dengan menganggarkan bila ada hal-hal yang timbul agar dapat segera diatasi dan tidak menunggu lagi. Misalnya seperti penambahan operator bila dibutuhkan. Disdukcapil harus sudah siap dengan anggaran yang ada. Dengan anggaran yang sudah dianggarakan harus dipakai bila yang dianggarkan tidak dipakai dipulangkan. Jadi tidak menunggu.

Apa yang menjadi kendala?
Dari hasil informasi Kepala Dinas Kependukan dan Catatan Sipil Kota Medan, kendala yang dihadapi adalah peralatan yang seharusnya ada 148 set unit peralatan hanya 80 set yang dapat beroperasi. Sedangkan dari 106 set tambahan hanya 51 set yang dapat dioperasikan. Begitu juga dengan 51 set pinjaman, hanya 13 set tidak bisa dioperasikan.

Berapa alat tiap kecamatan?
Untuk kecamatan rata-rata tersedia 4 set peralatan, namun di dalam operasinya masih terkendala dengan kerusakan yang ada dan kurangnya operator. Untuk itulah nantinya kepada kecamatan yang tinggal sedikit proses perekamannya dapat meminjamkan peralatannya kepada kecamatan yang masih banyak proses perekamannya.

Bagaimana dengan masyarakat?
Masalah sisa jumlah yang belum terekam selain warga masih menunggu giliran juga ada warga wajib KTP yang tidak berada di tempat yang tidak jelas keberadaannya. Pindah ke alamat lain, punya KK tapi tidak masuk database. Lama tinggal di Kota Medan tapi tidak memiliki KK, meninggal dan lain sebagainya. Sekali lagi kepada camat diminta untuk mendata dan menginventarisasi data warga di luar yang sedang menunggu perekaman e-KTP untuk segera dimasukkan ke data base dan dikirim ke pusat.(*)

140 Siswa Ikuti Try Out

MEDAN-Sekitar 140 siswa SMP-MTS sederajat, menghadiri pelaksanaan try out Ujian Nasional (UN) yang dilaksanakan Madrasah Aliyah Swasta (MAS)  Miftahussalam, Minggu (11/3) pagi. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB itu diikuti sedikitnya 24 sekolah  tingkat MTS-SMP di Kota Medann
Prof DR Abdul Mukti MA, selaku Divisi Pendidikan Yayasan Miftahussalam saat menyampaikan pengarahan di depan seluruh peserta UN mengaku, kegiatan UN ini diselenggarakan selain menjadi forum silaturahmi, juga bisa dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri, sejauh mana pengetahuan siswa menguasai bidang studi yang di UN-kan.

“Siswa tidak bisa lagi berharap adanya bantuan penyelesaian soal dari guru, pengawas maupun teman sekolahnya. Sehingga dengan seringnya siswa, khususnya SMP sederajat,mengikuti try out UN akan meningkatkan kepercayaan dirinya agar bisa menyelesaikan soal yang diberikan,”ujarnya.
Dia juga mengatakan, siswa yang mengikuti UN ini nantinya juga akan mendapatkan penambahan ilmu dan pengalaman agat tidak canggung untuk mengikuti pelaksanaan UN yang berlangsung dalam waktu dekat ini.

Pelaksanaan UN ini juga, sambungnya, diharapkan mampu memberikan hasil kelulusan yang memuaskan.

Yakni  ditargetkan untuk seluruh peserta bisa meraih kelulusan 100 persen, dengan standar nilai yang memuaskan.
“Karena itu, mulai sekarang siswa harus memahami dan memprioritaskan pendidikan untuk sebuah kemajuan,”ucapnya.

Karena sesuai UU nomor 20, kini madrasah memiliki kesamaan dan kesetaraan dengan sekolah umum. Sehingga tidak perlu lagi membedakan madrasah dengan sekolah umum lainnya, karena standarisasi kualitas yang telah disamakan dengan sekolah umum.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala MAS Miftahussalam, Jamaluddin SPd, menegaskan, untuk kegiatan UN ini diharapkan bisa menunjukkan jika madrasah dan sekolah umum tidak lagi ada perbedaan. Baik dari segi kualitas maupun kuantitas nilai.

“Selain kita ingin memperkenalkan lebih luas tentang madrasah, kita juga ingin menegaskan jika saat ini tidak ada lagi perrbedaan antara madrasah dan sekolah umum terutama tingkat SMP sederajat,”sebutnya.

Kegiatan UN tersebut berlangsung sekita 2 jam, dengan menyelesaikan sekitar 100 soal dari tiga mata pelajaran yang di UN-kan yakni Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Kegiatan itu juga dilaksanakan tanpa ada dikenakan biaya dan berlangsung di sembilan kelas yang diawasi langsung oleh guru sekolah tersebut.
“Bahkan untuk 10 peserta terbaik akan mendapatkan penghargaan dari pihak sekolah dan hasilnya akan kita kirimkan ke seluruh sekolah yang menjadi peserta,”bilang Jamal.

Seperti diketahui, Yayasan Miftahussalam sebagai pelaksana UN, mengasuh beberapa unit pendidikan yakni madrasah diniyah wustha, madrasah tsanawiyah, madrasah Aliyah, SMP, SMA dan SMK TIK. (uma)

Niat Jalan-jalan Jadi Mencuri

Dua anak baru gede (ABG) Alam Raja gukguk (20) dan Jaka Susanto (21), warga Jalan Jati Luhur, Bandar Kalipah babak belur dihajar, karena ketangkap hendak mencuri sepeda motor Yamaha Mio BK 4467 ABK milik Suryani  di  Jalan Makmur, Percut Seituan, akhir pekan lalu.

Keterangan yang dihimpun, keduanya semula berniat jalan-jalan dengan mengendarai sepeda motor Suzuki Smash BK 3996 UB. Melihat sepeda motor korban sedang menyala di depan rumah, keduanya berniat  mencuri sepeda motor tersebut.

Sebelum melakukan aksi pencurian, kedua pelaku menyusun siasat agar aksinya berjalan mulus. Tersangka Jaka pun berpura-pura membeli sebungkus rokok di kedai sebelah rumah korban, sedangkan tersangka Raja stand by di atas sepeda motornya.

Sepeda motor dengan posisi mesin hidup itu pun didekati tersangka Jaka. Namun saat hendak melarikan sepeda motor, korban melihat dari ruang tamu. Tersangka langsung berpura-pura mematikan mesin sepeda motor yang sedang menyala, kemudian kunci sepeda motor tersebut diberikan kepada korban.

Setelah memberikan kunci, tersangka beranjak meninggalkan lokasi. Korban yang sudah mencurigai gerak-gerik pelaku langsung meneriaki maling. Spontan warga keluar dan menangkap pelaku dan memukulinya.

Polisi yang mendapat informasi membekuk dan mengamankan pelaku dari amukkan warga.
Kapolsekta Percut Seituan, Kompol Maringan Simanjuntak membenarkan kejadian itu.
“Saat ini masih kita mintai keterangan,” uangkapnya.(gus)

Jaksa Harus Periksa Aliran Dana Outbound

MEDAN- Direktur Konsultan Pendidikan Indonesia (Kopindo) Sumut, Joharis Lubis, meminta agar jaksa memeriksa aliran dana yang telah digunakan dalam pelaksanaan outbound, yang dilaksanakan Dinas Pendidikan (Disdik)  Kota Medan yang diikuti kepala sekolah di tingkat SD Negeri di Kota Medan, dengan biaya Rp600 ribu per peserta beberapa waktu lalu.

Pasalnya, kegiatan yang dianggap mubazir itu seharusnya tidak harus mengutip uang para kepala sekolah, dan bisa dianggarkan lewat APBD.
“Dari sejumlah informasi mereka telah melakukan outbound ini sebanyak dua kali. Ini harus diumumkan aliran uangnya kemana, agar bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Jauharis juga menganggap keberadaan Kepala Dinas Kota Medan, Rajab Lubis, dalam outbound sebagai pemateri tidak memposisikan dirinya sebagai kadis.

Menurutnya, sebaiknya dalam hal ini, Kadis melakukan koordinasi dengan kasubdis seperti Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) ataupun EO dan LO.

“Dia (Rajab) harusnya memposisikan dirinya sebagai Kadisdik dan menyerahkan tugas ini kepada anggotanya. Jika memang kegiatan ini harus dilakukan, harusnya dianggarkan di dalam APBD jadi tidak melakukan pungutan liar seperti ini, sehingga terjadi kecelakaan administrasi. Sudah sepantasnya Rahudman mencopot Kadisdik yang baru ini,”ucapnya.

Sementara itu Anggota Komisi B Sekaligus ketua Fraksi DPRD Medan, Salman Alfarisi menyayangkan kebijakan yang diambil oleh Kadisdik Medan, Rajab Lubis.

Pasalnya program yang sifatnya institusi dinas pendidikan, meskipun bersifat partisipasi, tidak seharusnya membebankan kepada kepala sekolah.
Karena, menurutnya, hal ini bisa memicu turunan sikap, yakni kepala sekolah akan membebankan anggaran tersebut kepada siswa didiknya.
“Kepala dinas pendidikan yang baru, harusnya hati-hati mengeluarkan kebijakan. Jangan biasakan mengutip uang dengan mengatasnamakan program dinas pendidikan. Jika kegiatan ini positif kan bisa dianggarkan dalam APBD dan pasti akan didukung selama itu positif,”imbuhnya.

Mengenai hal ini, Salman akan mengusulkan Komisi B untuk memanggil Kadisdik Medan Rajab Lubis sesegera mungkin.

Selain mempertanyakan mengenai out bond, menurut Salman pemanggilan ini juga akan membahas mengenai persiapan Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang semakin dekat.

“Ada beberapa hal yang akan kita pertanyakan kepada Kadisdik yang baru ini nantinya. Pemanggilan itu nantinya juga akan mempertanyakan mengenai realisasi anggaran 2012 mengingat ini sudah bulan tiga, terutama bidang pembangunan infrastruktur,”ujarnya. (uma)

Penutupan RS Tembakau Deli, Pensiunan Demo PTPN 2

MEDAN-Puluhan pensiunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II yang tergabung dalam forum silaturahmi pensiunan perkebunan melakukan aksi memasang spanduk keprihatinan atas penutupan RS Tembakau Deli, di Jalan Putri Hijau Medan, Minggu (11/3) siang.

Dengan membawa spanduk sepanjang 10 meter bertuliskan ‘Pensiunan Kesulitan Berobat, Terpaksa Naik Angkot Jauh’ dan ‘Kalau PTPN2 Jual Minyak Sawit Wajar Tapi Kalau PTPN2 Jual Rumah Sakit Sangat Kurang Wajar’.

Selain itu ada juga spanduk lain sepanjang empat meter yang bertuliskan ‘Tolong Selamatkan Satu-satunya Situs Sejarah Tembakau Deli Jangan Sampai Lenyap di Telan Bumi’ dan ‘Tuyul atau Antek-antek Kapitalis Malaysia Itu Pantas di Ganyang Bukan Rumah Sakit Ini Yang Mesti di Lelang’.

“Sudah ada surat pemberitahuan ke kami bahwa tidak bisa berobat lagi ke RS ini. Jadi kami terpaksa pergi jauh ke RS GL Tobing yang ada di Tanjung Morawa dan RS Bangkatan di Binjai,” kata Ketua Forum Silaturrahmi Pensiunan Perkebunan, HM Yusuf Sembiring, di sela-sela pemasangan spanduk di depan RS Tembakau Deli.

Dikatakannya, penutupan RS Tembakau Deli benar-benar menyiksa pensiunan karena selain RS rujukan sangat jauh, pelayanannya sangat berbeda jauh. Pada RS rujukan, tidak ada mesin cuci darah, laboratorium juga harus ke rumah sakit lain.

“Bayangkan saja, kami harus berangkat sekitar pukul 08.00 WIB dan kembali sekitar pukul 16.00 WIB, tapi apa hasilnya hanya mendapatkan obat tetes mata seharga Rp15.000,” ucapnya.(adl)

Pemko Kembali Desak Kementerian PU

Realiasi Fly Over Simpang Pos

MEDAN- Pembangunan jembatan layang (fly over) Simpang Pos di Jalan Jamin Ginting belum terealisasi. Pemko Medan mendesak Kementerian Pekerjaan Umum untuk segera merealisasikannya.

“Kita sudah kembali menyurati menteri, kita sudah bilang ke Pak Menteri kalau Medan sudah siap. Pembebasan lahan juga sudah selesai sehingga tidak akan ada lagi kendala,” kata Wali Kota Medan, Rahudman Harahap.

Dikatakannya, desakan yang dilakukan Pemko sudah kedua kalinya. “Sudah dua kali kita mendesaknya. Sebelumnya kita juga sudah mengirimkan tim ke pusat. Sabarlah,” cetusnya.

Dijelaskannya, Pemko Medan sifatnya hanya menunggu realisasi dari pemerintah pusat, sebab hingga saat ini masih dalam tahapan proses tender.

“Sekarang ini di pusat kan masih proses tender, kita tidak bisa mencapurinya karena untuk pembangunan ini dananya pun dari pusat,” ujar Rahudman.

Kepala Satker Metropolitan Balai Jalan dan Jembatan Wilayah Sumut Kementrian PU Pusat, Mulatua Sinaga enggan berkementar terkait perkembangan proses tender. Beberapa kali wartawan koran ini mencoba menghubungi melalui telepon selulernya tidak diangkat begitu juga ketika di SMS.

Sebelumnya, Pemko Medan juga sudah menurunkan tim untuk mendesak kementerian pekerjaan umum dalam hal ini Ditjen Bina Marga, menentukan kapan tanggal yang tepat untuk peletakan batu pertama pembangunan jembatan layang Simpang Pos.
Hal tersebut dilakukan Pemko Medan sebagai penyedia lahan sudah melakukan pembebasan lahan dalam pembangunan sebanyak 130 persil yang sudah selesai dilaksanakan.(adl)

97 Siswa SMKN 7 Medan Ujian Kompetensi

MEDAN- Sebanyak 97 siswa Jurusan Akomodasi Perhotelan SMK Negeri 7 Medan mengikuti ujian kompetensi yang digelar Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Nusantara di Kampus AKPAR Medan, Jalan Rumah Sakit Haji, kemarin (8/3).

Uji kompetensi itu langsung ditinjau oleh Kepala SMK Negeri 7 Medan Amiruddin SP MM, Direktur LPS Pariwisata Nusantara Drs Imam Hudaya MM, didampingi para asesor dan guru pendamping dari SMK Negeri 7 Medan.

Para siswa yang mengikuti ujian kompetensi itu dites dalam dua bidang keahlian yakni housekeeping dan front oficce. Sehingga begitu selesai mengikuti uji kompensi ini maka siswa akan mendapatkan dua sertifikat sekaligus.

Menurut Direktur LPS Pariwisata Nusantara Drs Imam Hudaya MM, dalam uji kompetensi ini ada tiga hal pokok yang diuji, yakni perilaku, pengetahuan dan keterampilan.

Penilaian perilaku, kata Iman, berkaitan dengan perilaku siswa dalam mengerjakan tugasnya semisal aspek kesopanan, tatakerama dengan tamu dan lain sebagainya. Sedangkan aspek pengetahuan dan keterampilan mencakup aplikasi keilmuan perhotelan yang telah mereka peroleh di bangku belajar.

Dia juga menjelaskan tahun 2014 nanti sertifikat ini akan mendapatkan pengakuan dari 10 negera ASEAN. Hal ini akan mempermudah siswa dalam melamar pekerjaan di luar negeri. Sebab di antara 10 negara ini nantinya akan memiliki ikatan kuat dalam setiap penerimaan tenaga kerja bidang perhotelan.
Sementara itu Kepala SMK Negeri 7 Medan, Amiruddin SP MM menyambut baik pelaksanaan uji kompetensi ini. (dra)

Saya Batak, Horas

Avalon Sinabutar, Warga Australia Pemenang Supermodel Me 2

Avalon Hona Haloho Sinabutar bukan orang Indonesia. Dia adalah warga Australia. Tapi, ayahnya asli Batak dan ibunya asal Inggris. Avalon adalah pemenang Supermodel ME Season 2, program reality show pencarian model se-Asia Tenggara. Saat ini dia berada di Indonesia melakukan pekerjaan.

Pada Senin lalu (5/3) Jawa Pos (Grup Sumut Pos) menemui perempuan kelahiran Paddington, Sydney, itu di Gedung Sophie. Martin Paris, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di Indonesia dia bergabung dengan Victory Talent Management yang berkantor di gedung tersebut.

Nama Avalon cukup asing terdengar. Ketika ditanya tentang arti nama, dia menjawab tidak terlalu mengerti. “Avalon itu English name. Panggil saya Ava saja, teman-teman biasa memanggil saya begitu,” kata perempuan 18 tahun itu ramah.

Ava hanya tahu arti kata Hona. Kata ayahnya, Edward Haloho, Hona berarti kekuatan. “Hona itu kekuatan. Kalau yang lain, saya nggak tahu. Yang pasti, saya ini Batak. Horas!” teriaknya dalam bahasa Inggris lantas tertawa.

Ava dulu pernah tinggal di Indonesia. Dia sekolah di Bali. Saat berusia 8 tahun, dia berpindah ke Perth. Meski begitu, Ava tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Salah satu agenda kedatangannya di Jakarta ialah mengenalkan Supermodelme Season 3 yang tayang di channel KIX mulai 13 Maret mendatang setiap Selasa. Acara itu yang membukakan banyak pintu kesempatan untuknya. “Kompetisi itu sangat amazing buat saya. Sebab, di sana saya mendapat banyak hal yang membuat saya menjadi model yang sesungguhnya,” ucap pemilik postur 170 cm dan berat 57 kg itu.

Ava menjadi model sebenarnya diawali dari malu. Sulung dua bersaudara itu sangat pemalu. Dia bisa mendadak pendiam ketika bertemu dengan banyak orang. Deborah Ryan, ibu Ava, lantas memasukkan dia ke kelas modeling. “Umurku waktu itu 14 tahun. Memang tujuannya membangun rasa percaya diri,” urai perempuan yang menyukai fotografi dan bermain gitar itu.

Beberapa tahun kemudian dia mengikuti kelas akting. Hingga akhirnya, dia mendapat tawaran bekerja sebagai model profesional di Perth. “Saat saya ditawari oleh agency menjadi model, saya langsung bilang mau. Setelah itu, baru saya ikut kompetisi Supermodelme,” ceritanya.

Ketika mengikuti kompetisi itu, Ava berusia 16 tahun. Dia harus tinggal di Singapura kurang lebih dua bulan. Sebab, acara tersebut memang dilangsungkan di sana. “Tahu tidak, saya peserta paling muda. Jadi, kami kan dikumpulkan di sebuah base camp untuk mengikuti karantina. Saya yang paling kecil. Jadi serasa anak bayi deh,” terangnya.

Awalnya, dia agak takut mengikuti kompetisi. Seperti yang pernah dia tonton di TV, acara reality model biasanya diwarnai pertengkaran dan saling iri. “Kalau yang saya lihat, acara seperti ini kan biasanya banyak menguras emosi. Bayangkan saja, kami semua perempuan, semua mau menjadi pemenang. Saya membayangkan itu seperti kucing bertengkar. Ribut. Tapi, ternyata tidak. Saya mencintai teman-teman sesama peserta. Mereka baik semua,” tuturnya.

Bahkan, yang lain sangat memperhatikan dia karena dia peserta paling kecil. Berada dua bulan di Singapura, kata Ava, adalah kali pertama dirinya pergi sendiri tanpa orangtua dalam waktu lama. “Saya sudah takut aja kalau nanti homesick gimana. Eh, nggak tahunya malah tidak ngerasain itu sama sekali. The competition was so much fun,” lanjutnya. Apalagi, dia yang menjadi pemenangnya. Kesempatan melanjutkan karir sebagai model internasional pun semakin terbuka lebar.

Salah satu keunggulan Ava saat mengikuti kompetisi adalah selalu berhasil dalam tantangan photo challenge. Para kontestan harus melakoni foto sesi dengan tema tertentu. Dalam beberapa hasil foto, Ava terlihat begitu pandai bergaya. Terkadang terlihat anggun dan polos, terkadang terlihat liar. Beberapa foto terlihat sangat berbeda seperti bukan dirinya.

“Hahaha… masa sih?  Well, jadi model itu sebenarnya mirip dengan akting. Kita harus mengikuti karakter dari konsep fotonya. Kita bisa berubah menjadi karakter apa pun. Kadang-kadang harus menjadi garang, menjadi cantik, menjadi tomboi,” ucapnya.

Dia sendiri mengaku tidak tahu bagaimana melakukan itu semua. Semua datang secara alamiah saat sudah berhadapan dengan kamera. “Saya nggak tahu, pokoknya itu terjadi begitu saja. Tapi, saya memang sering berlatih sendiri di depan kaca. Coba-coba berbagai macam pose di kaca. Jadi, kalau udah berada di depan kamera, bisa natural,” ungkapnya.

Menjadi pemenang Supermodelme Season 2 sungguh membahagiakan Avalon. Tidak hanya mendapatkan hadiah USD 20 ribu dan kontrak dari agen model di Singapura dan Hongkong, dia berkesempatan untuk bepergian ke luar Perth. “Saya suka traveling. Itu pasti, ya. Kalau tidak, nggak mungkin saya mau menerima kontrak kerja di sini. Semua ini berkat Supermodelme,” katanya.

Ava sekaligus menggunakan kesempatan bekerja di Indonesia untuk mengunjungi saudara-saudara yang banyak tinggal di Depok, Jawa Barat. “Saudaraku banyak yang tinggal di Depok, lho. Jadi, saya sekalian ketemu mereka karena udah lama juga nggak ketemu,” ujarnya.

Tahu Ava menjadi model, saudara-saudaranya menyarankan Ava berkarir di dunia hiburan Indonesia. “Saudaraku bilang, ayo ikut main sinetron aja di sini. Oh, my God,” ungkapnya. Dia bukanlah penikmat sinetron selama tinggal di Jakarta. Beberapa kali dia menonton karena tantenya mengikuti salah satu judul sinetron.

“Pernah beberapa kali nonton karena tante saya nonton. Saya melihat bagaimana para pemainnya berakting dengan sangat drama, dengan tangisan dan ekspresi mata para pemainnya itu,” paparnya, lantas tertawa kecil.

Untuk saat ini, Ava belum memutuskan untuk berkarir di Indonesia. Impiannya adalah menjadi model internasional, mungkin, di New York atau Paris. “Saya rasa, itu ide bagus karena saya juga punya darah Indonesia. Kalau memungkinkan sih, boleh saja. Tapi, kalau sekarang, saya belum memutuskan untuk itu,” tegasnya.

Ava memang masih muda. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Meski menyukai modeling, dia belum yakin bahwa dunia tersebut yang akan jadi profesinya sampai nanti. “Sekarang saya ikuti dulu ke mana modeling akan membawa saya. Saya saat ini menekuni modeling karena memang suka. Tapi, soal nanti bagaimana, saya juga belum tahu,” katanya.

Sebab, Ava tidak hanya tertarik pada modeling. Dia juga bermain gitar dan menyanyi. “Saya suka menyanyi. Keluarga saya sangat suka menyanyi. Kami kan keluarga Batak,” tuturnya. Apalagi, dia bilang bahwa Pay “BIP” adalah pamannya.

“Dia paman saya. Kamu tahu Pay?” tanya Ava. Setelah diberi tahu bahwa Pay merupakan salah seorang produser musik andal di Indonesia, dia terkejut. “Oh ya” Benarkah?” katanya. Kalau mau berkarir di Indonesia sebagai penyanyi, Ava punya kesempatan yang lebih besar.

Boleh kan minta tolong pada Pay? “Ah, nggak. Saya nggak mau. Saya mau jadi model saja. Meski saya suka menyanyi, kalau disuruh menyanyi di depan kamu sekarang, saya malu. Apalagi menyanyi di depan banyak orang,” ungkapnya. (jan/c12/ayi)

Avalon Itu

  1. Mengagumi supermodel Brazil Adriana Lima
  2. Tertarik dengan fashion tidak hanya untuk kepentingan di depan kamera, tetapi juga fashion design dan make-up
  3. Suka sekali dengan durian dan salak
  4. Suka lupa diri kalau bertemu masakan padang dan pecel lele
  5. Keponakan Pay BIP

Rini Idol Tergantung Sikon

Seksi atau tidaknya seseorang itu penilaian subjektif dan beda-beda. Makanya jebolan Indonesian Idol 4 ini menyerahkan aturan larang pakai rok mini pada anggota DPR sendiri.
“Emang semua cewek berhak pakai rok mini. Tapi mesti lihat sikonnya (situasi dan kondisi). Kalau roknya masih pantas dilihat dan nggak vulgar, ya kenapa mesti dimasalahin ya,” ujarnya.
Khusus untuk anggota DPR dari kalangan artis, Rini bilang semua orang perlu melihat dan memperlakukan mereka secara berbeda.

“Mereka mungkin lebih understand about model dan fashionable. Jadi pakai rok mini pun bagian dari berbagai model. Dalam dunia entertainment, rok mini cocok disandingkan baju yang ketat. Tapi nggak mungkin kayak gitu di sana. Mungkin dimodif, pakai yang ketat sama rok mini disandingkan blazer atau manik-manik, aku lihat kebanyakan begitu gayanya,” terang Rini.
Dia paham betul alasan anggota DPR bekas artis nyaman pakai rok mini. Salah satunya untuk meningkatkan kepercayaan diri. (ins/jpnn)