29 C
Medan
Wednesday, February 4, 2026
Home Blog Page 13806

Dikejar-kejar Istri

Pengadilan Negeri (PN) Medan mendadak heboh, Kamis (16/02) siang. Pasalnya, Tio Maida Manulang, tiba-tiba mengamuk dan mengejar suaminya yang sedang menggandeng wanita idaman lain bernama Saor Holong br Sipayung, saat hendak sidang perceraian digelar.

Peristiwa itu bermula ketika Tio Maida Manulang hendak mengikuti sidang perceraian dengan suaminya Usaha Tarigan SH.

Tio yang didampingi mertuanya, Dalan Malem br Karo-karo Ujung merasa kesal, dengan sikap suaminya tanpa alasan ingin menceraikannya, langsung mengamuk dan mengejar Usaha hingga ke tengah jalan tepat di depan gedung PN Medan.

“Sini kau, jangan lari. Dulu kau makan tempe sama aku. Sekarang udah berdasi mau kau ceraikan pulak aku,” teriak Tio.
Tak hanya itu, saat kejar-kejaran, Usaha juga sempat mendorong ibu kandungnya hingga hampir terjatuh.

“Dari tahun 2005 nya aku tahu dia itu sering main sama perempuan simpanannya itu. Cuma aku diamkan, tapi aku enggak terima dia mau menceraikan aku. Lihatlah anak kami udah tiga. Gara-gara perempuan itu dia mau meninggalkan kami,” kata Tio.

“Alasan dia mau menceraikan aku karena udah tidak cocok lagi. Padahal, aku enggak pernah ngapa-ngapain. Malah anakku Aldi Jumat Agung yang laki-laki ini, pernah melihat bapaknya bawa perempuan itu ke rumah,” ucap Tio.

Ibu kandung Usaha, Dalan Malem membela menantunya itu. “Baiknya si Tio ini. Gara-gara perempuan itu mau diceraikannya isterinya,” ucap Malem. (rud)

Peneror Mengaku Polisi

Bank BTN Pulo Brayan Diancam Bom

MEDAN-Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Pulo Brayan Medan diteror melalui sambungan telepon, yang diterima oleh costumer service bernama Fona, Kamis (16/2) siang.

Penelepon seorang pria mengaku polisi itu mengatakan di dalam gedung BTN sudah diletakkan perangkat bom segera dikosongkan. Kemudian selang beberapa menit pelaku teror bom kembali menelepon Fona mengaku sebagai manajer Bank BTN meminta untuk mengosongkan ruang Bank BTN.
Mendapatkan telepon, Fona langsung memberitahu kepada petugas keamanan Bank BTN. Selanjutnya petugas keamanan melaporkan  ke polisi.

Tim Gegana Brimob Polda Sumut pun datang dan melakukan penyesiran di setiap ruang bangunan Bank milik BUMN itu dengan alat metal detektor. Setelah dilakukan penyisiran sekitar 60 menit akhirnya petugas Gegana Polda Sumut tidak menemukan barang yang dicurigai sebagai bom maupun perangkat bom. Akibat kejadian itu aktifitas pelayanan dan transaksi tunai di bank tersebut sempat terhenti beberapa jam.

Kapolsekta Medan Barat Kompol Nasrun Pasaribu usai pengecekan mengatakan tidak ada ditemukan barang-barang yang diduga bahan peledak di kantor tersebut dan telepon itu hanya merupakan teror dari orang yang tidak bertanggung jawab.(gus)

Pengaduan tak Ditanggapi Polisi, Ancam Bakar Diri

MEDAN-Masih ingat dengan kasus Menanti Panggabean (66), yang tewas akibat tertimpa tembok milik PT Sicanang Indah 30 November 2011 yang lalu. Kasusnya masih dalam proses penyelidikan di Poldasu. Hingga Kamis (16/2), pengadua itu tak juga ditanggapi.

Buntutnya, anak korban, Riko Panggabean berang dan mengancam akan bakar diri di depan Presiden SBY.

“Saya bicara ini bukan di tempat biasa. Ini di kantor polisi. Saya akan bakar diri di depan SBY, saya berani buat pernyataan hal ini pasti akan saya lakukan,” teriak Riko di hadapan wartawan saat di lantai 2 gedung Ditreskrim Polda Sumut, Kamis (16/2).

Riko menceritakan kejadian yang menimpa ayahnya, saat itu ayahnya bersama adiknya hendak pulang ke rumahnya setelah seharian bekerja di ladang. Namun, tiba-tiba mesin boat milik mereka mati dan terombang-ambing di bawa arus. Kemudian adik Riko yang ikut bersama ayahnya membetulkan mesin boat yang mogok di dekat tembok milik PT Sicanang Indah. Namun, tembok runtuh dan menimpa ayahnya hingga tewas.(mag-5)

Kekasih Briptu Leonardo Sitanggang Belum Bisa

Terima Cinta Berawal dari Sebuah Bank

Briptu Leonardo kini masih disemayamkan di rumah duka, di Jalan Melinjau Jati Karya Tandam Hulu Binjai. Sementara sang kekasih, Martina Br Sinaga, terus bersembunyi di kamar.

Dia belum juga bisa menerima kepergian kekasih yang telah berjanji akan menikahinya tanggal 12 bulan 12 dan tahun 2012 itu.
Begitulah, Martina terus menutup diri. Bahkan, ketika Sumut Pos mencoba mencari tahu tentang hubungannya dengan Briptu Leonardo Sitanggangn

“Saya belum bisa,” ujar Martina melambaikan tangannya sembari mengunci pintu kamar.

Ratapan Martina ketika melihat jasad Briptu Leonardo pada Selasa (14/2), lalu memang memilukan. Karena itulah, kisah cinta pasangan yang terpisah oleh maut ini memunculkan kepenasaran yang hebat.

Beruntung, rekan-rekan Briptu Leonardo yang hadir di rumah duka mau bercerita. Saiful, kawan sejak kecil Briptu Leonardo mengatakan, kisah cinta pasangan tersebut berawal dari sebuah bank di Medan. “Pacarnya itu (Martina, Red) pegawai bank, tapi saya tidak tahu pasti Bank apa dan di mana. Yang jelas bank yang ada di Medan. Waktu itu, almarhum menjaga bank tempat pacarnya bekerja. Nah, di sanalah awal perkenalan almarhum dan pacarnya itu,” terang Saiful.

Syaiful pun membenarkan rencana pernikahan temannya itu dengan Martina. Namun ketika ditanyai lebih dalam, Syaiful tidak bisa memberikan jawaban yang lengkap. “Soal almarhum dengan pacarnya ini, saya tidak terlalu banyak tahu. Sebab, almarhum sangat jarang bercerita soal pacarnya. Boleh dikatakan, mengenai pacarnya ia tertutup,” ungkapnya.

Namun, yang jelas, keterangan Syaiful tentang kisah cinta yang berawal dari sebuah bank diamini rekan kerja Briptu Leonardo. “Kalau mengenai pacarnya saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, dia bertemu dan berkenalan dengan pacarnya saat ia menjadi pengaman di Bank BRI (Cabang Medan Putri Hijau, Red). Sebab, pacarnya itukan pegawai Bank BRI,” ujar teman almarhum.

Perbincangan dengan rekan kerja Briptu Leonardo tidak bisa dilanjutkan. Rumah duka begitu sesak. Warga sekitar seakan berkumpul di rumah tersebut. Pun, pihak keluarga, mereka masih menyimpan pilu yang sangat dalam.

Sumut Pos memilih meninggalkan rekan Briptu Leonardo tadi dan menjumpai sang ayah, David Sitanggang. “Saya meminta agar kepergian anak saya ini dapat diusut tuntas. Apakah anak saya meninggalkan karena ditembak atau tertembak,” ujar David Sitanggang didampingi istrinya, T Br Sinaga yang masih terus menangis.

David Sitanggang juga menegaskan, kalau benar anaknya ditembak oleh temannya, maka berikan tindakan atau sanksi hukum yang sesuai. Tak hanya itu, David Sitanggang juga dengan tegas mengatakan, petugas kepolisian hendaknya lebih profesional dalam memegang serta menggunakan senjata api (senpi). “Polisi jangan seperti tukang becak yang seakan belum pernah memegang senjata api. Saya sendiri kalau memegang senjata api, mungkin sangat berhati-hati agar orang yang di sekitar kita tidak terkena tembakan,” ucapnya.

Hari ini, setelah disemayamkan beberapa hari, Briptu Leonardo yang merupakan lulusan SMA N 5 tersebut akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Binjai. Apa yang menimpa Briptu Leonardo memang mengenaskan. Dia tewas di tangan rekannya sendiri, Briptu Ikhsan Fuadi. Kabarnya tidak ada perselisihan antara keduanya. Bahkan, keduanya sama-sama lulusan bintara tahun 2006. “Maaf lah Bang. Nggak ada permasalahan, hanya silapnya ini Bang,” kata Briptu Boni usai diperiksa di Mapoldasu, Selasa (14/2) lalu. Briptu Boni tak lain adalah saksi kejadian naas tersebut. Selain Boni, saksi lainnya adalah Briptu Rogan Naibaho.

Sementara Briptu Ikhsan Fuadi yang merupakan warga Komplek Polri di Jalan Sri Gunting Blok H itu langsung dimasukan ke dalam sel tahanan Polda Sumut tak lama setelah kejadian. Kasubdit III AKBP Andre Setiawan yang menangani kasus ini saat dikonfirmasi Sumut Pos mengatakan, tersangka sudah melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam mengunakan senjata. “Tersangka sudah salah. Melanggar SOP. Tersangka lalai. Tersangka juga lalai meletakkan peluru. Kita lihat di dalam magazen tersangka, peluru karet berada di bawah. Peluru tajam di atas. Ini juga melanggar SOP,” kata Andre.
Kemarin, Ikhsan resmi jadi tersangka atas tewasnya Briptu Leonardo. Pantauan Sumut Pos di Mapoldasu, Rabu (15/2) siang, Ikhsan kembali dikeluarkan dari sel tahanan Poldasu yang ada di lantai 1 Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum. “Untuk tes psikologis. Kalau pemeriksaan sudah selesai,” ujar Andre, kemarin.

Usai melakukan tes psikologis. Ikhsan kembali digiring petugas ke dalam sel tahanan. (dan/mag-5/gus/ila)

Pameran Otomotif Terbesar di Medan

Mau Lihat Harus Beli Tiket

MEDAN-Pecinta hingga penggila dunia otomotif di Medan beberapa hari ini benar-benar dimanjakan. Bagaimana tidak, pameran otomotif terbesar telah digelar mulai tanggal 15 hingga 19 Februari di Hotel Santika Dyandra yang terletak di jalan Kapten Maulana Lubis.
Lucunya, pameran mobil mewah ini malah mengutip tiket masuk. Harga tiket masuk berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. “Ini yang terbesar diselenggarakann

di kota Medan. Bagi kita sebuah kesuksesan besar bila mampu menarik pengunjung,” ujar Division Manager Dyandra Promosindo, Lia Indriasari.
Pameran otomotif ini memajang 16 merek kendaraan terkemuka. Dari enam belas merek itu, 13 passenger car dan 3 commercial car. Satu di antara mobil yang menarik perhatian adalah Grand Cherokee, keluaran Jeep. Mobil yang berasal dari Eropa didesain dengan bodi atletis sekaligus aerodinamis. Tentunya tidak melupakan ciri khas Jeep, seperti grille depan dengan tujuh slotnya.

Berkat desain yang aerodinamis tersebut, mobil ini tetap stabil walau dikendarai dengan cuaca ekstrem, seperti angin kencang. Bahkan, kini mobil dengan bentuk sporty ini memiliki nilai aerodinamika sebesar 0,37n yang berkonstribusi terhadap pengurangan konsumsi BBM (Bahan Bakar Minyak). “Walau memiliki tampungan bensin besar, tetapi mobil ini hemat, karena itu tadi, ada nilai aerodinamika,” ujar Chief Marketing Officer Jeep, A Rieva Muchsin.

Mobil untuk kelas menengah ke atas ini, dipatok dengan harga sekitar Rp1,2 miliar. Dengan kemewahan yang ditawarkan, harga tersebut termasuk cocok. “Dengan harga yang diberikan sangat cocok dengan fasilitas yang diberikan. Yang pasti mobil ini memberikan segala yang dibutuhkan oleh para konsumen,” tambah Rieva. (ram)

Urus Akta Lahir tak Perlu Pengadilan

Masa Pengurusan di Disdukcapil Diperpanjang

MEDAN-Keresahan warga yang harus mengurus akta kelahiran hingga ke pengadilan tampaknya  akan segera berakhir. Pasalnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi mengeluarkan Surat Edaran perpanjangan masa pengurusan akta kelahiran di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) seluruh Indonesia.

Sebelumnya, keluhan masyarakatn Medan dan Sumatera Utara (Sumut) soal pengurusan akta kelahiran cukup banyak. Setidaknya, pesan pendek yang masuk ke ruang Publik Interaktif seakan tiada henti Semua ini tak terlepas dari panjangnya birokrasi dan ketidakmengertian warga soal penguruan akta kelahiran tersebut. Apalagi, soal pengurusan akta yang harus dilakukan di pengadilan.

Seorang warga yang mengalami langsung adalah Mariani (37). Warga Kecamatan Medan Area ini mengeluh dengan pengurusan penetapan surat dari pengadilan untuk pesyaratan pembuatan akte kelahiran di Disdukcapil Medan. Bagaimana tidak, dari hasil pengurusan yang dilakukan Mariani dari Kantor Pos sampai ke Pengadilan Negeri Medan menghabiskan waktu sampai 1 bulan setengah dan biaya mencapi Rp200 ribu.

“Kalau di kantor pos tidak terlalu lama, hanya satu jam saja selesai. Karena di kantor pos hanya meleges surat lahir dari rumah sakit, surat nikah dan kartu keluarga saja dengan memakai materai Rp6000 setiap surat. Setelah itu langsung selesai,” ucap Mariani di kantor Disdukcapil Medan, belum lama ini.

Dikatakannya, untuk pengurusan di Pangadilan Negeri Medan sangat lama dan mengeluarkan biaya berdasarkan tempat tinggal dan batas umur untuk yang di atas satu tahun. “Untuk mengurus saja sampai setengah hari, dari proses leges dan membayar administrasi sebanyak Rp30 ribu untuk mendapatkan blanko. Kemudian, masukkan surat ke ruang perdata untuk menunggu pemanggilan sidang dengan waktu lamanya satu bulan menunggu,” jelasnya.

Nah, bak gayung bersambut, Mendagri Gamawan Fauzi mengeluarkan Surat Edaran yang ditujukan ke seluruh bupati/walikota. Isinya, memperpanjang masa pengurusan akta kelahiran di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) seluruh Indonesia, hingga setahun ke depan.
Dalam SE yang diterbitkan tiga pekan lalu itu, ditegaskan bahwa pengurusan akta kelahiran tidak perlu melalui penetapan pengadilan. “Surat Edaran telah memperpanjang pengurusan akta kelahiran, pada Disdukcapil Kabupaten/Kota, dengan tidak harus mengurusnya ke pengadilan manakala terjadi keterlambatan,” ujar Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek, kepada koran ini di kantornya, Rabu (15/2).

Reydonnyzar menjelaskan, proses lewat pengadilan tidak perlu lagi karena hanya memperpanjang rantai birokrasi pelayanan pembuatan akta kelahiran. “Proses lewat Pengadilan hanya menimbulkan jenjang birokrasi dan biaya yang tidak kecil. Itu sudah ditiadakan Mendagri,” ujarnya.
Hanya saja, hingga kemarin sore, koran ini belum bisa mendapatkan kopian SE dimaksud. Saat Reydonnyzar mencoba menghubungi pejabat di Ditjen Adminduk untuk dikirimi kopian SE, para pejabat di sana masih sedang rapat.

Mendagri Gamawan Fauzi pernah mengatakan, “Saya perpanjang pengurusan akta kelahiran di kantor kependudukan dan catatan sipil setahun lagi. Segera disiapkan surat edarannya. Kasihan kita masyarakat yang sudah jauh-jauh datang, bolak-balik dan berlama-lama menunggu di kantor kependudukan, tapi tidak terlayani,” kata Gamawan, beberapa waktu lalu, sebelum mengeluarkan SE.

Sebelumnya, Kadisdukcapil Medan Darussalam Pohan mengatakan surat penetapan dari pengadilan adalah penting. Pasalnya, pengadilan yang menyebutkan bahwa si A merupakan anak dari ayah A dan ibu B.”Surat keputusan pengadilan ini wajib disertakan jika akta baru diurus setelah anak berumur satu tahun. Ketentuan harus menyertakan surat keputusan pengadilan itu sudah tertera jelas, makanya kalau tidak mau kena sanksi dan denda harus mengurus sebelum usia satu tahun,” jelas Darussalam.

Dikatakannya, akte kelahiran merupakan dokumen catatan sipil yang membuktikan identitas seseorang yang terkait secara individual. “Jadi, untuk pengurusan akte kelahiran hanya membutuhkan waktu selama 5-6 hari, “ jelasnya.

Sementara, dari Pengadilan Negeri Medan diketahui kalau belum ada sidang terkait pengurusan surat penetapan. Bahkan, hingga Senin (13/2) lalu, belum diketahui data pemohon surat penetapan untuk akta kelahiran. “Saat ini belum ada sidang untuk akta kelahiran di PN Medan. Kita juga belum tahu, sudah berapa banyak pemohon akta kelahiran itu,” ujar Humas PN Medan Jonny Sitohang SH pada Sumut Pos saat itu. (adl/sam/rud/mag-11)

Dasar Hukum

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2006
TENTANG  ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

BAB V
PENCATATAN SIPIL

Bagian Kesatu
Pencatatan Kelahiran

Paragraf 1
Pencatatan Kelahiran di Indonesia

Pasal 27
(1) Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana di tempat terjadinya peristiwa kelahiran paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak kelahiran.

Paragraf 4
Pencatatan Kelahiran yang Melampaui Batas Waktu

Pasal 32
(2) Pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan negeri.

Ssst… Ada Video Mesum Siswi SMA di Tebingtinggi

TEBINGTINGGI-Video mesum sepasang remaja, satu di antaranya siswi SMA hebohkan masyarakat Kota Tebingtinggi. Video berdurasi sekira tiga menit itu diperkirakan telah diunduh ribuan kali dan saat ini diperkirakan telah beredar luas dari Hanphone (HP) ke HP khususnya di kalangan remaja dan orang dewasa.

Dari keterangan berhasil dihimpun Posmetro Medan (grup Sumut Pos), Rabu (15/2) pelaku hubungan orang dewasa di video itu, disebut-sebut sebagai siswi kelas II salah satu SMA di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu. Remaja berusia sekira 17 tahun itu adalah warga Dusun II Desa Bah Sumbu Kecamatan Tebing Syahbandar Kabupaten Serdang Bedagai. Sedangkan sang pria, disebut-sebut warga Linkungan 05 Kelurahan Bagelen Kecamatan Padang Hilir Kota Tebingtinggi.

Lokasi perbuatan mesum yang direkam orang tak dikenal, kemudian disebarkan secara luas, kabarnya pada salah satu bangunan lokasi wisata ‘Lubuk Indah’ di Kelurahan Lubuk Baru Kecamatan Padang Hulu, Kota Tebingtinggi. Dalam video itu, perbuatan layaknya suami istri tersebut dilakukan dengan pakaian lengkap, baik pria maupun wanita. Yang terlihat hanya gerakan dan ‘erangan’ kedua manusia berlainan jenis itu. Video berdurasi sekira tiga menit itu berakhir ketika ada suara teriakan memanggil pelaku. Dan, kedua remaja itu mengetahui ada yang merekam perbuatan mereka.

Menanggapai video itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tebingtinggi Drs H Pardamean Siregar MAP membenarkan adanya perbuatan haram yang dilakukan oleh siswi salah satu SMA di kota itu. “Ya benar itu anak SMA kita, tapi sudah kita pecat. Tak ada poin kata maaf untuk tindakan asusila yang demikian,” tegasnya.

Beberapa keterangan lainnya, menyebutkan perbuatan mesum itu terjadi beberapa hari lalu. Namun, rekaman videonya sudah tersebar luas bahkan hingga dikirim ke situs Youtube. Informasi lain, kejadian kedua remaja itu telah diketahui kedua belah pihak, sehingga keduanya telah dinikahkan. Sedangkan pihak kepolisian kabarnya tengah mencari siapa penyebar video mesum itu. (awi/smg)

Silap

Oleh: Ramadhan Batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Pasti ada yang ingat ketika Indonesia mampu mengalahkan Malaysia dalam penyisihan  Grup A Piala AFF 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Bagaimana tidak, dalam laga yang digelar pada 1 Desember 2010 itu Indonesia menang dengan skor 5-1.

Ya, meski di laga kemudian, tepatnya pada partai final gelar Piala AFF malah jadi milik Malaysia. Yang menjadi catatan saya kali ini bukan kekalahan Indonesia atas Malaysia di final, namun lebih pada kemenangan saat penyisihan grup tadi. Dan, bukan pula pada euforia kemenangan tadi, melainkan pada jawaban pelatih Malaysia setelah kalah.

Entah karena perbedaan arti kata atau karena memang tinggi hati, Pelatih Malaysia K Rajagopal, memberi jawaban yang menarik usai kalah. Katanya, timnya kalah karena silap. “Gol pertama yang bersarang di gawang kami karena kesilapan pemain. Gol kedua, pemain kami melakukan kesilapan,” begitu kalimat si Ragopal saat itu.

Jawaban ini sempat sempat bahan perbincangan yang ramai. Bagaimana tidak, ada kesan Rajagopal tidak mengakui kekalahan tersebut, padahal kalah telak. Ya, semua bermuara pada kata ‘silap’ tadi.

Nah, kata ‘silap’ tiba-tiba menyergap kepala saya setelah membaca berita Briptu Leonardo Sitanggang yang tewas karena keteledoran Briptu Ikhsan Fuadi dalam menguasai senjata laras panjang jenis V2. Bagaimana tidak, hilangnya nyawa Briptu Leonardo dianggap sebagai buah kesilapan. Setidaknya hal ini diungkap oleh seorang saksi, Briptu Boni, usai diperiksa di Mapoldasu. “Maaf lah Bang. Nggak ada permasalahan, hanya silapnya ini Bang,” kata Boni kepada para peliput yang mengejarnya.

Tentu, kata ‘silap’ menjadi kata kunci dalam kasus ini. Persis dengan Rajagopal, kesan sepele juga tergambar saat kata ‘silap’ terdengar atau terbaca. Masalahnya, Briptu Leonardo telah tiada, niat menikah pada tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 pun tinggal rencana. Apakah ini peristiwa sepele hingga saksi bisa mengatakan semuanya hanya karena silap?

Karena itulah, saya mencari kamus bahasa Indonesia. Dan, yang saya dapati adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cetakan ketiga tahun 1990. Dari kamus ini, kata ‘silap’ diartikan sebagai salah penglihatan (penglihatan atau perasaannya berlainan dengan keadaan sebenarnya). Selain itu, ‘silap’ juga bersinonim dengan khilaf. Nah, menurut kamus itu lagi, khilaf berarti keliru; salah (yang tidak disengaja).

Pertanyaannya, dari arti kata tersebut, kasus Rajagopal dan Briptu Boni berada di mana? Tentu, Rajagopal mengatakan ‘silap’ karena mengakui anak didiknya salah mengantisipasi serangan Indonesia dan sebagainya. Yang namanya salah, tentu tidak sengaja. Namun, kesan sepele muncul karena Rajagopal tidak langsung menggunakan kata ‘salah’. Mungkin, atas nama perbedaaan kultur bahasa, maka dia lebih memilih kata silap daripada salah. Hingga, ketika membaca kamus, kata ‘silap’ yang diungkapkan Rajagopal pun bisa dipahami.

Sementara, untuk apa yang diungkapkan Briptu Boni lumayan menyesakkan dada. Silap yang digunakan cenderung sangat sepele karena ini berhubungan dengan nyawa orang. Apalagi, ada kata ‘hanya’ sebelum kata ‘silap’. Bisa bayangkan, nyawa seseorang hilang hanya gara-gara ‘silap’? Mengacu pada arti kata sesuai kamus, apa yang diungkapkan Briptu Boni malah tambah mengerikan bukan? Ayolah, berarti apa yang dilakukan Briptu Ikhsan Fuadi hanya karena salah (yang tidak disengaja). Luar biasa. Seorang penegak hukum berlindung pada kata ‘tak sengaja’.

Tapi sudahlah, setidaknya, ‘silap’ yang dikeluarkan olah Rajagopal akhirnya tertebus. Dia membawa timnya menang di final dan mengalahkan Indonesia yang sebelumnya telah menundukkan mereka dengan telak. Rajagopal benar-benar membuktikan ‘silap’ itu. Lalu, bagaimana dengan ungkapan Briptu Boni, benarkah ‘silap’ itu juga bisa dibuktikan di kemudian hari? Ya, semoga saja para pemberi hukuman tidak mengatakan ‘silap’ ketika Briptu Ikhsan Fuadi hanya dihukum ringan atas ‘kesilapannya’ itu. (*)

Tunggu Pembeli Sambil Main Catur

Pasar Senen, Pasarnya Orang Batak di Jakarta

Bagi warga Batak yang sudah lama tinggal di ibu kota, pastilah sudah cukup akrab dengan keberadaan Pasar Senen. Bagaimana tidak, khusus blok Pasar Inpres Senen, hampir seluruh pedagangnya merupakan warga Batak.

Soetomo Samsu, Jakarta

Jenis dagangannya pun sarat dengan barang khas Batak, termasuk teri Medan. Otomatis, pembelinya pun mayoritas warga Batak.

Dengan luas sekitar 80 meter kali 70 meter, kawasan Pasar Inpres Senen ini terasa sumpek. Persis di sisi samping terminal angkutan kota Senen, merupakan kios-kios penjual buku dengan harga miring. Jauh dibanding harga toko. Agak masuk ke dalam, penjual kain dan tas. Sedang ke ujungnya, penjual beragam ikan asin, di lapak-lapak kaki lima. Tapi, bukan itu yang menarik.

Suasana kental Batak yang terasa unik, di tengah ramainya kawasan Senen, salah satu pusat keramaian Jakarta. Logat Batak mendominasi suara orang berbincang. Kain-kain yang dijual pun kain tradisional Batak, termasuk beragam jenis ulos berdasar daerah asal. Ikan asinnya pun, terutama teri, khusus didatangkan dari Medan.

“Yang ini buku cerita dari kampung saya, Bang,” ujar Alex Jhonson, dengan logat Batak sembari menunjukkan buku cerita anak-anak karya MB Rahimsyah AR berjudul ‘Asal Mula Danau Toba’.  Mungkin karena menyangkut cerita tentang ‘kampungnya’ itu, pria asal Tarutung itu berulang-ulang menawarkan buku cerita tentang asal-usul Danau Toba itu.

Padahal, beragam jenis buku cerita anak-anak, juga Al Quran, buku Iqra, dan beberapa jenis buku lainnya, bertumpuk-tumpuk memenuhi kios yang dijaga Alex. Ada sekitar 20 kios buku ukuran besar di blok itu, yang semua pedagangnya orang Batak.

Berjalan menyusur lebih ke dalam, sejumlah pedagang menunggu pembeli sambil main catur. Sebagian yang lain duduk-duduk di depan kios, bercengkerama dengan sesama pedagang, sambil ikut mendendangkan lagu-lagu Batak yang terdengar dari kaset yang diputar.
“Ini ulos sadum dari Taput. Ini ulos Hati Rongga dari Simalungun. Ini ulos sadum Angkola dari Sipirok, yang ini wis nipes dari Karo,” ujar Tiorina Siagian, pedagang di pasar itu asal Perdagangan, Siantar.

Ibu-ibu yang ramah dan ‘ramai’ saat ngomong ini, cerita, kain-kain ulos dagangannya dipasok langsung dari pengerajin ulos yang ada di daerah, sesuai jenisnya. “Untuk satu jenis ulos sebulan rata-rata 10 lusin,” ujarnya, sembari mengaku berjualan di Pasar Senen Inpres itu sejak 1975.
Dia cerita, sebagian besar pembeli ulos dagangannya adalah warga Batak di Jakarta. “Sudah banyak langganan kita,” pamernya.

Sebelah kios Tiorina adalah lapak ikan asin. “Teri Medan Bang…teri Medan, asli,” ujar Umar, si penjual, tatkala penulis mendekat. Teri Medan, katanya, merupakan dagangannya yang paling laris. “Setiap hari pasokan datang dari Medan,” imbuhnya mulai membuka pembicaraan.

Sudah 10 tahun Umar berdagang di Pasar Senen. Dia bisa ‘masuk’ ke situ, karena dibawa oleh kenalannya yang sudah lama jualan di pasar terkenal itu. “Saya orang Medan, di sini sudah banyak saudara. Di sini hampir semuanya orang Batak,” katanya.

Umar mengaku tidak tahu persis bagaimana ceritanya hingga bisa hampir semua pedagang di Pasar Senen Inpres itu orang Batak. Dia hanya menduga, model saling membawa kenalan sesama orang Batak, secara berantai, yang menjadikan pasar itu seolah menjadi milik orang Batak.

Pelacakan koran ini dari data tertulis,  Pasar Senen dibuka oleh Yustinus Vinck pada 1733. Selain Pasar Senen, Vinck juga membuka Pasar Tanah Abang. Setelah zaman kemerdekaan hingga 1975, Senen menjadi pusat perdagangan terkemuka di Jakarta. Pada 1974 terjadi tragedi Malari yang memporakporandakan Pasar Senen. Aksi mahasiswa yang dipimpin Hariman Siregar saat itu, marah atas kebijakan ekonomi Indonesia yang dinilai bergantung pada Jepang. Saat itu, Pasar Senen merupakan simbol dari penjualan produk-produk Jepang. Tidak ada data sejarah yang pasti, mengapa Pasar Senen Inpres, yang merupakan bagian dari kawasan besar Pasar Senen, hingga saat ini ‘dikuasai’ orang Batak.

Cerita menarik justru datang dari P Panjaitan, seorang sopir angkot, yang kebetulan sedang nongkrong di kios kerabatnya di pasar itu. Menurutnya, dari awal berdirinya pasar itu, hampir seluruh jenis barang dagangan, dipasok dari Belawan, Medan.

“Dulu kain dari Singapura dan Batam, dikirim ke sini dari Belawan, setiap hari Senin, sehingga dinamai Pasar Senen. Nah, yang memasok kain itu orang Batak,” cerita Panjaitan, pria asal Tebingtinggi, serius.

Setelah kain, jenis-jenis makanan khas Medan menyusul, mulai dari teri, markisa, hingga andaliman. Sekarang, seiring kemajuan sarana transportasi, pasokan tidak hanya hari Senin saja.

“Penjualnya juga sudah ada dari Padang dan Jawa. Tapi, tetap terbanyak Batak,” imbuh Marta, ibu-ibu yang jualan minuman di kawasan itu. Mirip dengan cerita Umar, perempuan asal Siantar itu juga mengaku bisa jualan di situ karena diajak kerabat.

“Orang Selatan juga sudah banyak di sini,” ujarnya. “Dari Padangsidimpuan, Sipirok, juga ada di sini,” katanya memberikan penjelasan maksud kata ‘Selatan’ itu.

Sungguh menarik. Di tengah-tengah pasar, serasa berada di kawasan Tano Batak, bukan di Jakarta. “Kalau saya pengen rasakan andaliman, saya belanja di sini. Mau cari jeruk purut saja saya ke sini, karena asli dari Medan,” ujar Kartini, ibu-ibu asal Balige, yang berdomisili di Jatinegara, Jakarta Timur sejak 1970, saat sedang belanja.

“Pokoknya bumbu-bumbu Batak ada semua di sini,” imbuhnya lagi. Soal teri, dia juga tak mau beli di pasar lain. “Kalau yang di sini benar-benar asli Medan. Tapi kalau tak pinter beli, dikasih teri Lampung,” ujarnya sembari terkekeh. Penjual teri di depannya pun ikut terkekeh. (*)

Jadi Saksi dalam Sidang Nazaruddin Angie Berbelit

JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal sedikit kerepotan saat mendalami kasus suap wisma atlet dengan tersangka Angelina Sondakh. Pasalnya, janji dia untuk kooperatif dan terbuka dalam kasus ini sepertinya hanya janji belaka.

Pasalnya, kemarin (15/2) saat dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Nazaruddin dalam kasus yang sama, Angie terus berbelit dan menyangkal semua fakta-fakta yang sudah ‘terang’ di dalam persidangan.

Puteri Indonesia 2001 itu lebih banyak menjawab saya tidak tahu saat dicecar para perangkat sidang yang menanyakan perihal hubungannya dengan perusahaan Nazaruddin dan uang-uang yang diduga mengalir kepadanya.

Bahkan saat disinggung tentang hubungannya dengan Direktur Keuangan PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang, Angie hanya menerangkan, perkenalannya hanya sebatas kenal dan tidak terlalu akrab. “Saya tahu kalau Rosa (Mindo Rosalina Manulang) Direktur Marketing PT Anak Negeri (anak perusahaan Permai Grup) setelah ada pemberitaan ini,” kilah Angie saat ditanya tentang Rosa.

Kepada majelis hakim yang dipimpin Dharmawati Ningsih itu, Angie lantas menceritakan tentang perkenalannya dengan Rosa sekitar tahun 2010. Saat itu, dia tiba-tiba ditelepon Nazaruddin untuk menemuinya di ruangan untuk membahas masalah politik. Nah, usai pertemuan tersebut dan saat Angie hendak meninggalkan ruangan Nazaruddin, Rosa tiba-tiba masuk ke ruangan Nazaruddin.

“Nazaruddin lalu memperkenalkan Rosa kepada saya sebagai sahabatnya,” kata Angie. Keduanya lantas bertukar nomor telepon. Kata Angie, saat itu Nazaruddin sama sekali tidak memperkenalkan Rosa sebagai anak buahnya di Permai Grup dan apalagi berkomunikasi lebih lanjut tentang proyek-proyek di DPR.

Nah sejak saat itu, Angie mengaku empat kali bertemu dengan Rosa di berbagai kesempatan tapi tidak pernah terlibat pembicaraan yang panjang dan serius.

Tentu saja keterangan Angie itu sangat bertentangan dengan dengan keterangan Rosa sebelumnya. Rosa mengaku, dirinya begitu akrab dengan istri mendiang Adjie Massaid itu. Bahkan, kata Rosa, Angie merupakan salah satu politisi yang intens berhubungan dengannya agar menggolkan anggaran proyek-proyek Kemenpora di Banggar. Dan dalam kepentingan mendapatkan proyek itulah perusahaan Nazaruddin terus mengalirkan uangnya sebagai pelicin.

Yang terungkap adalah penyerahan uang Rp5 miliar oleh Luthfi Ardiansyah, supir Yulianis pada 5 Mei 2010 ke ruangan I Wayan Koster. Uang itu diduga sebagai pelicin atas permintaan Angie yang kemudian akan dibagi-bagikan ke banggar. “Kalau tidak diberi, Bu Angie mengancam akan mempersulit pembahasan anggaran,” kata Rosa saat menjadi saksi Nazaruddin.

Jaksa penuntut umum (JPU) pun lantas mencecarnya tentang komunikasinya dengan Rosa melalui blackberry messenger (BBM). “Apakah Anda mengetahui tentang istilah Apel Washington? Apel Malang? Semangka?” cecar Jaksa Penunutu Umum. Angie dengan tenang menjawab, “Tidak tahu, tidak tahu, tidak tahu.”

JPU belum menyerah. Mereka lantas menunjukkan bukti tentang transkrip percakapan Rosa dan Angie via BBM dimana tertulis jelas, Angie meminta Semangka, Apel Washington dan Apel Malang yang menurut Rosa adalah istilah untuk menyebut rupiah dan dollar sebagai pelicin. Ternyata Rosa tetap bergeming. Dia lantas berkilah saat itu dirinya belum menggunakan Blackberry.

“Anda tidak mengenali pin 20E342D9 yang menurut Rosa adalah pin Blackberry saksi?” tanya JPU lagi. “Saya tidak tahu,” jawabnya. Perempuan yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka pada Jumat (3/2) lalu itu berkilah dirinya baru menggunakan Blackberry pada akhir 2010. Sedangkan percakapan antara dirinya dengan Rosa yang ditunjukkan JPU terjadi pada pertengahan 2010.

Selama itu Angie menggunakan HP merek Nokia, hingga akhirnya pada Desember 2010 HP itu tercebur di kolam renang rumahnya yang terletak di Perum Taman Cilandak. “Yang mulia, anak saya masih kecil, jadi waktu main-main HP saja tercebur di kolam renang. Akhirnya saya HP Nokia dan Blackberry,” ujarnya.

Selanjutnya JPU menanyakan tentang penyerahan uang Rp5 miliar dari Permai Grup yang diberikan secara bertahap ke ruangan Koster oleh supir Yulianis atas permintaannya. Angie kukuh mengaku tidak mengetahuinya. Bahkan dia mengaku sama sekali tidak pernah datang ke ruangan Koster. Bahkan JPU pun menyindir bahwa sudah tiga orang saksi yang diperiksa dan mengungkapkan hal tersebut. Yakni Rosa, Yulianis dan Luthfi sendiri. Tapi Angie tetap mengaku tidak mengetahuinya.

Lama-kelamaan JPU pun geram terhadap ulah Angie yang dianggap terus berbelit. Bahkan tim JPU pada KPK ini pun menyindir bahwa Angie saat ini menempuh program doktor di UI yang seharusnya tidak berbohong.

Tak hanya JPU yang dibikin kesal oleh Angie. Pengacara Nazaruddin pun juga kesal atas ‘ketidaktahuan’ Angie. Elza Syarief pun mengancam akan melaporkan Angie ke Polda Metro Jaya lantaran memberikan keterangan palsu. Tapi perempuan yang baru saja dipindahkan dari Komisi X ke Komisi III DPR pun tetap tenang dan masih dalam pendiriannya.

Seorang kuasa hukum Nazaruddin lainnya, Hotman Paris Hutapea pun akhirnya menjalankan trik khusus. Awalnya Hotman menanyai tentang kepergiannya ke Belanda pada Agustus 2010 bersama Adjie. Kemudian tentang tempat tinggal Angie di Apartemen Belleza dan tentang perayaan ultahnya pada 28 Desember 2010 di Hotel Sultan. “Ya semuanya benar,” kata Angie.

Ternyata apa yang ditanyakan Hotman itu semuanya tertuang dalam percakapan Angie dengan Rosa via BBM dengan pin yang lainnya. Yaitu 21CCF231 juga milik Angie. Tapi Angie kembali membantah bahwa dirinya kala itu sudah memiliki Blackberry.

Pihak Nazaruddin pun kesal. Mereka akhirnya menunjukkan sebuah foto dokumen tahun 2009. Dimana dalam foto tersebut tampak jelas gambar Angie mengenakan pakaian hitam yang di depannya terdapat sebuah Blackberry warna putih. “Benar itu foto saya tapi saya tidak punya Blackberry,” kilah Angie lantas diteriaki pengunjung sidang “huuuuu”.

Akhirnya tiba saatnya Nazaruddin bertanya langsung ke Angie. Nazaruddin pun menainya tentang bagi-bagi uang saat Kongres Partai Demokrat di Bandung. “Anda ingat saat itu kita dan alhmarhum (Adjie) membagi-bagikan amplop kepada ketua DPC untuk mengarahkan suaranya ke mas Anas (Anas Urbaningrum)” tanya Nazaruddin. “Tidak ada itu. Saya tidak tahu,” jawab Angie.

“Padahal tangan Anda sendiri yang membagikan itu!” ujar Nazaruddin dengan nada tinggi. Jawaban Angie sama. Akhirnya Nazaruddin mengalihkan pertanyaannya.

Kali ini dia menanyai tentang beberapa pertemuan yang digelar para petinggi Partai Demokrat setelah kasus suap wisma atlet meledak dan menyebut-nyebut petinggi partai tersebut menerima uangnya. Nazaruddin menyebutkan, itu adalah pertemuan tim pencari fakta (TPF).

Angie mengaku hanya sekali mengikuti pertemuan. Tapi pertemuan tersebut bukanlah pertemuan TPF dan tidak membahas tentang aliran dana wisma atlet. Memang Nazaruddin menjelaskan, dalam beberapa kali pertemuan Angie mengaku telah menerima uang Rp9 miliar dari Kemenpora yang kemudian diserahkan ke pimpinan Banggar dari Partai Demokrat Mirwan Amir. Mirwan pun meneruskannya ke Anas sebanyak Rp2 miliar, Djafar Hafsah Rp1 miliar dan sisanya dinikmati bersama. “Tidak benar itu. Tidak ada pertemuan itu,” ujarnya.

Tapi meski begitu Nazaruddin juga mendapatkan angin segar dari keterangan Angie. Sebab, perempuan berdarah Manado itu mengaku, dirinya sama sekali tidak pernah membicarakan proyek wisma atlet dengan Rosa. Dia juga mengaku bahwa Rosa tidak pernah menyerahkan uang kepadanya atas perintah Nazaruddin.

Terpisah Ketua KPK Abraham Samad menanggapi entang pemngakuan Angie yang berbelit sebagai saksi. “Kalau penjahat ngaku, penjara penuh,” celetuk Abraham saat ditemui di sela-sela pembahasan kasus Bank Century di DPR kemarin.

Menurutnya, dalam menetapkan seorang sebagai tersangka harus berdasarkan dua alat bukti yang kuat. Jadi tidak hanya berdasarkan pengakuan yang bersangkutan saja.

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menambahkan, pihaknya akan mendalami fakta-fakta yang terungkap di persidangan. “Jadi semua informasi yang berkembang di pengadilan itu akan menjadi alat untuk keterangan konfirmasi, klarifikasi, pengayaan dan pendalaman,” imbuhnya.(kuh/bay/jpnn)