Home Blog Page 13820

Mengalir seperti Air

Pahala PS Napitupulu, Aktivis Buruh dan Kaum Marjinal

agi sebagian orang, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menjadi pekerjaan yang paling dicari diantara pekerjaan-pekerjaan lainnya. Selain jaminan masa depan, status sosial di masyarakat diharapkan ikut terangkat. Apalagi bila diterima di BUMN, kesejahteraan dan berbagai fasilitas penunjang lain sudah pasti didapatkan.

Tetapi bagi Pahala Napitupulu, dua pekerjaan itu bukan menjadi pilihan. Pada 1984, ia sudah tercatat sebagai honorer di Kanwil Kehutanan Sumut. Sebulan sebelum diangkat menjadi PNS, dia malah mengundurkan diri. Setahun kemudian, dia melamar pekerjaan di PTPN V. “Waktu itu, mencari kerja tidak sesulit sekarang. Apalagi bagi alumni USU, selalu ada pertimbangan khusus,” ungkap pria 53 tahun ini.

Saat lamaran diterima pihak perkebunan, seorang petinggi di PTP V memberikan nota di atas lamaran Pahala. Isinya kira-kira berbunyi demikian: “Saudara ini alumni USU. Tolong Ditempatkan sesuai keahliannya”. Tak lama kemudian Pahala diterima menjadi staf pembukuan di PTPN V dan ditempatkan di Kebun Sei Garo di Provinsi Riau.

Sebagai staf perusahaan perkebunan, Pahala yang waktu itu masih melajang, dijejali dengan berbagai fasilitas. Selain rumah dinas dan beberapa orang pembantu, upah yang diterimanya lebih dari cukup.

“Gaji saya Rp375 ribu. Bandingkan dengan gaji PNS golongan IIIA waktu itu yang cuma Rp95 ribu,” sebut Pahala menggambarkan kondisinya saat itu.
Puaskan Pahala? “Tidak. Dari awal-awal, suasana dan sistem kerja di kebun sangat feodalis, luar biasa. Bertentangan dengan batin saya. Ingin keluar, orangtua melarang dan menyarankan bertahan,” ujarnya.

Pahala bertahan dan mencoba memaklumi keadaan di kebun. Hingga pada 18 Juni 1987, ia menikahi Dra Yuliawati Maduwu, gadis pujaan yang dia kenal ketika menjadi aktivis semasa mahasiswa. Yuliawati yang kala itu mengajar di IKIP Nias di Gunung Sitoli, diboyong ke perkebunan.
Setahun kemudian, anak pertama mereka lahir. Oleh Pahala, putranya diberi nama Bani Praseto. “Bani artinya Batak Nias, perpaduan ayah dan ibunya. Kalau Praseto, putra Riau aseli Toba. Ha ha ha ha…,” Pahala tergelak.

Ternyata dia ingin agar putranya kelak tidak melupakan tanah kelahiran serta akar budayanya.
Memiliki pekerjaan dengan upah dan fasilitas yang terbilang lumayan, serta istri dan seorang anak, belum membuat Pahala tenang. Batinnya tertekan dengan sistem feodal di perkebunan. Pemimpin berbicara sesuka hati dengan menyebut si kebun binatang, sementara di depan mata, karyawan hidup dengan kemiskinan. “Tak sanggup saya lihat itu. Semua serba penzoliman,” sebutnya.

Pahala juga risau karena tidak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki kondisi di sekitarnya. Sebagai pengurus Persatuan Karyawan perkebunan Negara (PERKAPPEN), sistem membuatnya tidak mampu berbuat banyak. “Saya terkungkung, tidak bisa menyalurkan pikiran dan menuangkan ide kreatif,” katanya berargumen.

Pada 17 Juli 1989, sebuah keputusan besar diambilnya. Perabotan dan barang-barang dijualnya. Dia dan sang istri dan anak hanya menyisakan pakaian, surat-surat dan barang-barang berharga yang bentuknya kecil. Menumpang truk Mitsubishi Colt Diesel, Pahala membawa Dra Yuliawati Maduwu dan putranya yang baru berusia setahun, dibawa pulang ke rumah orangtuanya di Medan. Mereka tiba Minggu pagi dan sangat mengagetkan orangtuanya.
“Hanya orang gila yang keluar dari pekerjaanya di PTP.” Demikian ungkapan kekecewaan ayahnya , Gr Saidin Napitupulu, kepada Pahala. Bukannya menyesal, Pahala malah membalas ucapan orangtuanya. “Hanya orang gila yang mau bekerja di PTP dengan kondisi seperti itu,” kembali Pahala tertawa menceritakan pengalamannya tersebut.

Hidup harus berlanjut. Anak dan isteri harus makan. Pahala mulai bergerilya mencari pekerjaan. Keahlian dan pengalamannya sebagai akunting di PTP V menjadi bekal berharga baginya. Mujur, hanya tiga hari setibanya di Medan, dia diterima sebagai akunting di PT Mesary Trading Co yang bergerak di bidang kontraktor dan transportasi CPO (minyak sawit). Setahun kemudian, 27 November 1990, pasangan Pahala-Yuliawati dikaruniai seorang putri dan diberi nama Melati Elisabet.

Di sisi lain, sejak kembali ke Medan, Pahala bertemu dengan rekan-rekannya sesama aktivis mahasiswa dulu. Pertemuan itu membawanya kembali ke dunia aktivis.

Sibuk memperjuangkan hak buruh dan kaum marjinal lainnya menghantarkan Pahala menjadi pengurus di sejumlah organisasi, khususnya yang memperjuangkan kaum marjinal.

Di PT Mesary, Pahala tidak bertahan lama. Di penghujung 1991, ia kembali memutuskan untuk mencari tantangan di perusahaan lain. Awal 1992, ayah dua anak ini sudah menjadi akunting di PT Healty Corporation.

Bertahan selama 3 tahun, ia membuka jasa konsultasi administrasi dan manajemen dengan bendera Pahala & Partner pada 1995. Hingga sekarang Pahala praktis hanya berkegiatan di organisasi perburuhan sebagai Ketua DPD Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) 1992 Sumatera Utara dan menjalankan usaha jasa konsultasinya.

Tak betah menjadi PNS, pekerja BUMN dan swasta, lantas apa yang dicari? Pahala mengaku tak punya target khusus dalam menjalani hidupnya. “Saya mencari kepuasan batin. Saya puas kalau bisa menolong orang lain,” katanya dengan yakin.

Uniknya, sekitar 50 persen dari penghasilannya dialirkan kepada kaum marjinal atau untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Dan itu masih terjadi hingga saat ini.

Keyakinan dan perjuangan itu pula yang membuat Pahala sampai lebih dari 30 kali keluar masuk penjara di masa Orde Baru dan sekali di masa reformasi. Pahala dan beberapa aktivis di Medan pun pernah dikenal dan sangat dicari-cari petugas keamanan dan tercatat sebagai anggota OTB (organisasi tanpa bentuk).

Bersama sesama aktivis lain yang sering disebut OTB, Pahala juga menjadi motor gerakan 14 April 1994. Gerakan ini terjadi di 32 kota di Indonesia. “Aksi paling besar terjadi di Medan,” aku Pahala.

Gerakan ini kelak menjadi cikal bakal standarisasi upah (upah minimum regional/UMR) serta standarisasi tunjangan hari besar (tunjangan hari raya/THR).

Pahala tidak tahu sampai kapan ia mejalani hidup seperti keadaannya sekarang. “Mengalir saja, seperti air,” ujarnya berpilosofi.
Pahala kemudian teringat pesan para mentor dan pembimbingnya. “Almarhum Profesor Toga Tobing, guru besar di Fakultas Ekonomi USU pernah bilang ke saya, ‘Apa yang kamu perjuangkan hari ini belum tentu kamu nikmati. Berjuanglah untuk anak cucu kita’. Ucapan itu selalu saya ingat,” kata Pahala sambil mengenang sejumlah nama yang selama ini mempengaruhi cara perpikirnya.

Diantaranya, ia menyebut nama Jhon Tafbu Ritonga yang saat ini menjadi Dekan Fakultas Ekonomi USU serta Profesor Bahtiar Hassan Miraja. “Pandangan dan peran ketiganya sangat mempengaruhi pandangan dan jalan hidup saya,” ujarnya. (tms)

Balon Independen Pilgubsu 2008

Pahala telah mengukirkan namanya sebagai satu-satunya bakal calon independen untuk pemilihan gubernur pada 1998. Hal itu dicatatkannya saat dia diamanatkan oleh kongres buruh (SBSI 1992) se Sumut untuk menjadi calon gubernur dari jalur independen. Amanah ini diperkuat lagi dengan dukungan Buruh Bersatu, gabungan organisasi para buruh, petani dan nelayan se Sumut.

Dukungan dituangkan dalam sebuah surat yang ditandatangani Dewan Presidium GSBBuP (Gabungan Suara Buruh Bersatu untuk Perseorangan) dan ditandatangani 9 perwakilan organisasi paling berpengaruh di Sumut ketika itu.

Pendaftaran pasangan Pahala Napitupulu dan Job Rahmad Purba pada Pilgub dari jalur independen ini dianggap sebagai kebangkitan kaum buruh. Sejumlah media massa nasional menurunkan laporan khusus tentang pencalonan ini. Kepada sebuah media nasional, Pahala menuturkan apa yang menjadi tujuannya serta kaum buruh, hingga mau dicalonkan.

“Tujuan utama kami sebenarnya bukan kemenangan, tetapi kami ingin menunjukkan jika buruh mempunyai kekuatan politik. Buruh bisa juga mencalonkan diri sebagai gubernur. Apalagi peluang itu sekarang terbuka lebar,” ujarnya ketika deklarasi tokoh buruh sebagai calon gubernur dari jalur independen pada Agustus 2008.

Ketika itu, pasangan Pahala-Job didukung para buruh se Sumut, petani dan nelayan serta kaum marjinal lainnya. “Bayangkan, suara yang mendukung kami,” sebut Pahala.

Nama mereka memang dicoret dari pendaftaran dengan alasan pencalonan tidak dapat diproses KPU Provinsi karena belum ada petunjuk dari pusat.
Tidak jera berjuang lewat jalur politik? “Tidak. Supaya efektif, memang harus ada orang yang berjuang dari jalur politik Siapapun itu, kalau memperjuangkan hak buruh dan kaum marjinal, pasti kita dukung,” ujar Pahala.

Ketika ditanya niatnya untuk meramaikan Pilgubsu 2013, Pahala hanya tersenyum. “Butuh dana besar untuk kampanye. Sebagai gambaran, pada 2008 lalu, dana kampanye kami yang didukung buruh mencapai Rp900 juta lebih,” ujarnya berdiplomasi. (tms)

Menang Mental

PSMS vs DELTRAS

MEDAN-PSMS berhasil mempecundangi Deltras FC di Stadion Gelora Delta Sidoarjo dengan skor tipis 1-0, pada lanjutan laga kompetisi ISL, Sabtu (3/3) malam. Atas hasil ini, skuad berjuluk Ayam Kinantan ini akhirnya mematahkan rekor sebelumnya yang tak pernah menang pada lima partai tandang terakhir. Dan pada laga tandang keenam ini, PSMS akhirnya mampu meraih poin penuh.
Gol PSMS tercipta dengan apik pada masa injury time babak pertama.

Dan gol ini dihasilkan dari kerjasama wing back PSMS Wawan Widiantoro yang memberikan assist sempurna kepada striker PSMS Arie Supriatna. Melalui umpan lambung dari sisi kiri sepertiga lapangan, bola umpan Wawan tepat jatuh ke depan Arie. Dengan tenang Arie melewati gelandang Deltras Khoirul yang mencoba memotong pergerakannya, dan kemudian melesakkan bola ke tiang jauh yang tak mampu diantisipasi kiper Deltras FC Wawan Hendrawan.
Selama babak pertama, pertandingan berjalan dengan tempo yang tak begitu cepat. Namun, serangan demi serangan yang dilancarkan kedua kubu, masing-masing merepotkan barisan pertahanan lawan. Tak banyak peluang yang didapat kedua skuad, hingga Arie mampu membobol gawang Wawan pada menit 45. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Berbeda di babak kedua, tim berjuluk The Lobster yang mengejar ketertinggalan dari tim tamu, mempertinggi tempo permainan. Terhitung ada empat peluang matang yang harusnya bisa berbuah gol bagi tim tuan rumah. Hingga laga berakhir skor tak berubah 1-0 untuk kemenangan PSMS.

Atas hasil ini, PSMS merangsek ke posisi sembilan klasemen sementara ISL di atas Persisam Samarinda dan Persegres Gresik yang sama-sama mengoleksi 17 poin. Dari 14 pertandingan yang dilakoni PSMS, skuad besutan Suharto AD ini telah berhasil memenangi pertandingan empat kali, lima kali seri serta menderita kekalahan lima kali.

Menanggapi kemenangan perdana pada laga tandang yang dilakoni anak-anak asuhannya, pelatih PSMS Suharto AD menuturkan, kemenangan tersebut merupakan kemenangan mental. “Mereka berhasil membuat frustrasi pemain lawan. Kita memang memaksakan agar tim lawan frustrasi menyerang. Dan dengan kesempatan bagus, kita melakukan counter attack yang mematikan. Dan itu berhasil,” akunya usai laga.

Setelah unggul,pelatih berkepala plontos ini mengaku menginstruksikan pemain-pemainnya memaksimalkan penguasaan bola. “Dengan menguasai bola kita bisa mengatur tempo permainan, dan istruksinya adalah memperlambat tempo. Saat kehilangan bola, pemain lebih banyak berkumpul di tengah lapangan sehingga menyulitkan lawan melakukan penyerangan,” tutur Suharto.

Mengenai keberhasilan memperbaiki rekor tandang, menurut Suharto hal itu disebabkan semangat pantang menyerah yang dipertontonkan anak-anak Medan sepanjang pertandingan. “Alhamdulillah, ini berkat perjuangan anak-anak. Mereka tak mau ngalah hingga menit terakhir,” katanya. (saz)

Fashion Show di Medan

Elma Theana Keluarkan Label

Elma Theana pun tidak ketinggalan mengeluarkan baju trendy untuk wanita yang menggunakan jilbab. “Ini memang biasa kan, bila artis yang telah menggunakan jilbab, pasti akan mengeluarkan pakaian dengan namanya, banyak contohnya kan,” ujar Elma.

Karena masih dalam tahap percobaan, fokus rancangan Elma juga masih dalam hal pakaian, belum pada jilbab atau lainnya. “Kalau untuk usaha kita kan harus fokus, untuk saat ini belum bisa (rancang jilbab), karena masih bintangin sinetron striping,” ujar Elma saat ditemui di Garuda Plaza Hotel Medan, dalam acara pemilihan bintang IMM Parfi kemarin.

Sesuai trend, Elma lebih memilih perpaduan gambar dan warna. Karena pada umumnya pakaian muslimah hampir mirip, maka Elma lebih bermain pada motif untuk menghasilkan perbedaan, antara baju rancangannya dengan yang lain.

Permainan warna pada pakaian label Elma, disesuaikan dengan warna kulit wanita Indonesia. Untuk fashion show kali ini pun didominasi oleh warna coklat, yang memberi kesan mewah. Sementara pakaian yang memiliki warna dasar cerah, akan ditambahkan dengan corak yang berwarna netral. “Kulit kita warnanya tidak cerah, dan tidak gelap juga. Karena itu, lebih bagus bila kita gunakan warna cerah tetapi jangan terlalu cerah,” ujar Elma.

Elma mengaku bahwa baju yang saat ini menggunakan label namanya, tetapi bukan berarti merupakan rancangannya. Melainkan kerjasama dengan sang kakak. “Sebagian ada yang jahit sendiri sama kakak, sebagian lagi, bekas jualan MLM kemarin,” ujar Elma. Nah, untuk memastikan produk jualanannya dikenal oleh masyarakat, maka Elma pun menabalkan namanya ke berbagai pakaian tersebut.

Sebagai pemula, Elma juga menyadari pengaruhnya masih sangat kecil dalam hal fashion. Karena itu, pangsa pasar yang diambilnya pun masih kelas menengah. Hal ini terlihat dari harga baju yang berkisar Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. “Saya sadar bahwa saya masih kecil dan belum terlalu fokus. Nanti kalau sudah fokus saya pasti akan mencoba professional,” tambah Elma. (ram)

Dikasihi ketika Masih Berdosa

Oleh:   Pdm. Edison Sinurat STh

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati —. Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:6-8

Sebuah tindakan yang mungkin sukar dimengerti dan sulit dimengerti oleh kebanyakan orang, itulah yang telah dilakukan oleh Allah yang telah mengorbankan Putra-Nya Yesus Kristus, yang diperuntukkan bagi orang-orang bersalah, pendosa bahkan durhaka.

Dalam pelayanan di Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan di berbagai tempat, saya menjumpai beragam kasus kejahatan yang menyebabkan mereka meringkuk di tempat tersebut. Bagaimanakah nasib mereka-mereka ini? Tetapi untuk seperti merekalah Yesus datang ke dalam dunia. Dan tidak jarang dari mereka yang mengakui bersyukur masuk ke dalam penjara sebab di dalam penjara itulah mereka memperoleh pengenalan yang akan karya kasih dan keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Sebelumnya mereka tidak menganggap pengorbanan Yesus sebagai sesuatu yang special. Justru di dalam keadaan sebagai orang berdosalah orang-orang dapat mengakui bahwa mereka membutuhkan belas kasihan.

Seseorang mungkin bersedia berkorban – dengan syarat – bagi orang yang layak dibela, misalnya bagi orang yang karena hubungan keluarga, atau bagi orang karena jasa-jasanya, atau juga karena hubungan kekasih (percintaan) seperti kisah Romeo dan Juliet.

Tetapi Yesus Kristus mati bagi kita, KETIKA KITA MASIH BERDOSA. Artinya, pengorbanan Yesus Kristus tersebut dilakukan bagi manusia yang sama sekali tidak layak untuk mendapatkannya. Itulah kasih karunia atau anugerah. Sesuatu yang sukar dipahami oleh manusia itu sendiri, tetapi kita harus mengerti bahwa itu dilakukan oleh Allah untuk sebuah alasan, ALLAH BEGITU MENGASIHI KITA. Siapanyakah kita sehingga Yesus bersedia dan taat kepada Allah untuk mati bagi kita? Bukan karena hubungan darah, bukan karena satu bangsa, terlalu besar pemisah antara kita dengan Dia, terlalu jauh untuk dihubungkan, seperti langit dan bumi. Tetapi karena kasih-Nya, kasih Allah kepada saya dan saudara, jarak yang begitu jauh itu tersambungkan oleh darah Anak Domba Allah yang menebus dosa seluruh dunia.

Paket keselamatan itu telah dilakukan, telah dikerjakan untuk saya bukan ketika saya sudah sadar dari dosa. Kasih-Nya kepada setiap orang berdosa, apa pun dosanya, sebesar apa pun kejahatannya, hanya dengan mengakui dosa itu kepada-Nya, mau menerima dan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, selamatlah ia. Tidak peduli apakah manusia itu seorang pembunuh, seorang koruptor, seorang tuna susila dlsb, dengan mengakui dosa itu di hadapan Allah – tidak berdalih, tidak menutup-nutupi, tidak berbohong – dengan mulut di dalam dosa dan mengakuinya di dalam hati lalu meminta belas kasihan Tuhan dengan rendah hati karena kesadaran bahwa kita sebenarnya tidak layak menerimanya, maka Allah akan menyelamatkannya. Puji Tuhan. Sungguh besar kasih Allah bagi kita. Itulah yang dialami oleh seorang penyamun yang disalibkan di sebelah kanan Tuhan Yesus di Golgota, yang memang layak dihukum mati, tetapi dia tahu bahwa seorang yang disalibkan bersamanya itu adalah Seorang Benar, Raja yang akan datang itu, ia memohon agar Tuhan mengingatnya kelak, maka Yesus membenarkannya dan membawanya ke Firdaus. Perhatikan dialog antara penyamun itu dengan Yesus ketika mereka sedang sama-sama tergantung di kayu salib seperti tertulis dalam Lukas 23: 39-43. “Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatknalah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbutan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkaud atang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkta kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau aka nada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Keberuntungan yang diperoleh penyamun tersebut dapat diterima oleh siapa saja yang menyadari diri sebagai pendosa dan layak menerima hukuman tetapi bersedia dengan rendah hati mengakui dosa-dosanya dan memohon belas kasihan-Nya. Allah begitu besar mengasihi kita. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus.(*)

Sosialisasi Hari Doa Sedunia 2012, GPdI Nyatakan Dukung

Sosialisasi pelaksanaan World Prayer Assembly (WPA) 2012 atau Hari Doa Sedunia di Sumut yang puncaknya digelar pada Mei mendatang kembali dilakukan panitia WPA Sumut yang dipimpin Ketua Umum Panitia WPA Sumut 2012 Pdt Paul F Wakkary dengan beraudensi ke kantor Majelis Daerah GPdI Sumut-NAD di kantornya Jalan Orion Medan, Selasa (28/2). Rombongan diterima Ketua Majelis Daerah GPdI Sumut-NAD Pdt Dr DY Surbakti MA.
Dalam kesempatan itu, Pdt Paul F Wakkary membuka audensi dengan doa. Setelah itu Pdt Paul Wakkary membeberkan bahwa World Prayer Assembly atau Hari Doa Sedunia di Sumut digelar 16-17 Mei mendatang. Pada 16 Mei, WPA 2012 di Sumut digelar di Lapangan Benteng Medan dan dihadiri puluhan ribu anak sekolah minggu. Pada 17 Mei akan dihadiri puluhan ribu  para orangtua dan pemuda di Pardede Hall, Medan.

Ditambahkan, pada 14-18 Mei mendatang juga digelar konferensi doa di SICC Sentul, Jakarta dan dilanjutkan Konser Doa pada 17 Mei mendatang di SICC Sentul dan Gelora Bung Karno, Jakarta bersamaan dengan puncaknya.

Lalu pada 18 Mei mendatang digelar pertemuan para pemimpin gereja di SICC Sentul, Jakarta. Acara ini diperakirakan dihadiri ratusan ribu umat kristiani dari berbagai interdenominasi gereja di tanah air yang merupakan gerakan doa sedunia yang juga dilaksanakan di 220 negara dan 200 kota di Indonesia. Pdt Paul F Wakkary mengharapkan dukungan dan partisipasi Majelis Daerah
GPdI Sumut-NAD dalam ikut menyukseskan Hari Doa Sedunia di Sumut 2012 tersebut.

Dalam rombongan panitia WPA, turut hadir Ketua Panitia WPA Sumut 2012 Drs Penyabar Nakhe, Anita Hutahuruk dari PWKI Sumut dan Salomo Pardede SE selaku Ketua Terang Indonesia di Sumut.

Pdt Dr DY Surbakti MA menyambut baik sosialisasi WPA 2012 ini. Pihaknya ikut mendukung dan berpartisipasi dalam menyukseskan hari doa sedunia ini. Surbakti yang didampingi sejumlah pendeta GPdI sekaligus menyarankan agar dalam doa bersama WPA 2012 di Sumut nantinya, penyakit masyarakat seperti HIV/AIDS yang telah meresahkan masyarakat Sumut menjadi salah satu topik doa. (*/ra)

Panah Beracun Berterbangan

Konflik Lahan Eks HGU PTPN 2 Sei Semayang Kembali Memanas

BINJAI-Konflik lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 Sei Semayang, tepatnya di Kelurahan Tunggurono, Kecamatan Binjai Timur, kembali memanas. Tiga kubu yang terdiri dari pihak PTPN 2 Sei Semayang, dan dua kubu warga tani terlibat bentrok di atas lahan eks HGU PTPN 2 Sei Semayang, Sabtu (3/2), sekitar pukul 11.30 WIB.

Dalam bentrok fisik tersebut, puluhan anak panah beracun yang dilepaskan salah satu kelompok. Sehingga, Remi (22), seorang warga tani terluka di bagian bahu kirinya akibat terkena anak panah beracun tersebut. Remi kemudian dilarikan ke Klinik Lena, KM 18, Binjai Timur, guna mendapatkan perawatan.

Menurut keterangan Remi yang ditemui saat terbaring di Klinik Lena, sebelum kejadian, ia dan puluhan warga tani lainnya ingin menanami batang ubi di atas lahan eks HGU PPN 2 Sei Semayang. “Kami berangkat dengan mengendarai mobil Pick Up BK 8631 BP yang mengangkut batang ubi, serta sejumlah sepeda motor. Namun, belum lagi sampai di lokasi lahan yang akan kami tuju. Kami terlebih dahulu bertemu dengan ratusan karyawan PTPN 2,” ungkapnya.

Ratusan karyawan PTPN 2 itu, lanjutnya, datang menggunakan tiga mobil Cold Diesel warna putih, yang biasa diturunkan saat melakukan okupasi atau pembersihan tanaman warga tani di atas lahan eks HGU PTPN 2 Sei Semayang itu. “Kami gak tahu apa tujuan karyawan PTPN 2 itu. Mungkin ingin melakukan okupasi, karena jumlah mereka terlihat begitu banyak. Bahkan, kami memilih untuk mundur dari pada berhadapan dengan mereka. Sebab, jumlah kami sudah kalah banyak,” terang Remi.

Begitu Remi dan puluhan warga tani lainnya mundur, dari arah belakang datang puluhan pemuda dengan menggunakan 5 unit sepeda motor melakukan penyerangan dengan senjata tajam (sajam) dan panah. “Karena posisi kami sudah terkepung. Saya dan warga tani lainnya terpaksa berpencar demi menyelamatkan diri. Sementara, pemuda yang berjumlah sekitar 10 orang itu, langsung menyerang kami dengan panah. Karena jarak yang cukup dekat, akhirnya saya terkena panah di bagian bahu kiri ini,” ujarnya sembari menahan rasa sakit luka panah yang dideritanya itu.

Remi yang didampingi sejumlah temannya, juga mengungkapkan, puluhan pemuda yang menyerangnya itu tak lain adalah Cetut, warga yang diduga bekerja sama dengan PTPN 2. “Memang selama ini, Cetut selalu menjadi kendala saat kami melakukan penanaman. Sebab, ia kerap mengusir kami dan ia seakan sudah bekerja sama dengan pihak PTPN 2,” cetusnya.

Sebelumnya, Jumat (3/2), pihak PTPN 2 juga melakukan penyerangan terhadap warga tani yang melakukan penanaman di lahan eks HGU PTPN 2, tepatnya di Korem. “Mereka (PTPN 2-red) menyerang kami agar keluar dari lahan eks HGU PTPN 2. Karena jumlah kami kalah banyak, akhirnya kami membubarkan diri. Namun, dalam aksi itu tidak ada korban jiwa,” bebernya.

Sementara itu, Syahrul Efendi, supir yang mengangkut batang ubi untuk ditanam, mengaku nyaris dibacok puluhan pemuda itu. “Saya dan ibu-ibu yang ingin menanam batang ubi dikepung. Beruntung, saat saya dibacok, jendala kaca mobil langsung saya tutup. Sehingga kelewang yang sudah disabetkan ke arah saya meleset,” kata Syahrul.

Tak hanya itu, ketika berada di dalam mobil, Syahrul juga mengaku sangat ketakutan. Pasalnya, puluhan pemuda yang menyerang mereka, terus melayangkan anak panah. “Saya menundukan kepala sembari menjalankan mobil secara perlahan. Anak panah terus dilayangkan kearah mobil saya. Lihatlah itu, dua buah anak panah yang dilayangkan mereka melakat di mobil saya,” ujar Syahrul sembari menunjuk anak panah yang melekat di mobilnya tersebut.

Setelah bentrok fisik ini usai, petugas kepolisian Polres Binjai dan Polsek Binjai Timur, tiba dilokasi dan berkumpul sejenak di persimpangan Jalan Gajah Mada, dan kantor Rayon C PTPN 2, di Jalan P Ponogoro, Kecamatan Binjai Timur, guna mengantisipasi kejadian ini terulang kembali.

Kapolres Binjai, AKBP Musa Tampubolon, saat dikonfirmasi via selulernya terkait bentrok ini, mengatakan, pihaknya akan tetap melakukan penyelidikan guna mengamankan orang-orang yang terlibat dalam bentrok tersebut. “Siapa yang terlibat akan kita amankan. Kalau dari hasil laporan, orang yang terlibat bentrok tadi pihak Cetut dan Suyono,” kata AKBP Musa Tampubolon.

Kapolres mengakui Cetut pernah diamankan di Polres Binjai karena kasus pengancaman petugas polisi yang sedang tugas pengamanan di Tunggurono. “Kasus Cetut tetap berlanjut, tapi untuk saat ini dia (Cetut-red) kita tangguhkan,” ujar Musa Tampubolon.
Kapolres tak mau menyebut siapa yang menangguhkan penahanan Cetut. “Itu rahasia. O, yang menjaminnya keluarga, istri Cetut itu sendiri,” kata Kapolres.

Kalau nanti dalam penyelidikan ini Cetut kembali terlebibat, sambungnya, maka polisi akan kembali mengamankannya. “Untuk orang yang telah menjaminya, akan kita periksa sebagai saksi dan tidak akan pernah kita izinkan untuk menjaminnya kembali,” ucap Musa Tampubolon.

Warga Sandera Truk TBS

Di Langkat, ratusan warga Dusun Pembangun Leukirik, Desa Bekiun, Kecamatan Kuala, Langkat, berunjuk rasa di lahan perkebunan milik PTPN II Bekiun yang kini statusnya dikontrak PT LNK. Aksi tersebut merupakan protes warga sekitar terhadap keputusan sepihak dari PT LNK yang tetap memanen hasil perkebunan di lokasi tersebut. Padahal, sebelumnya sudah ada kesepakatan antara warga dengan pihak perkebunan untuk tidak beraktivitas di areal seluas 150 hektar yang statusnya masih sengketa. Warga yang emosi menyandera tiga unit truk pengangkut sawit.

Areal seluas 150 hektar di perkebunan PTPN I Bekiun diklaim pengunjuk rasa sebagai milik mereka. Sekitar tiga pekan yang lalu, pihak perkebunan akhirnya sepakat dengan warga untuk tidak melakukan aktivitas diareal tersebut menunggu hasil keputusan sengketa kepemilikan yang sah. Namun, belakangan ini pihak perkebunan diketahui kembali melakukan aktivitasnya dengan cara memanen hasil perkebunan.

Ir Zulkarnaen Sembiring, ketua Kelompok Tani Leukirik menjelaskan kalau pihaknyatetap akan menduduki lahan perkebunan sampai persoalan ini  diselesaikan.

Kapolsek Kuala, AKP SR Tambunan mengaku sudah berupaya melakukan mediasi dengan pengunjuk rasa. “Sampai hari ini kita masih melakukan pengawalan ketat dilokasi tersebut,” tegas Tambunan. (dan/wis/smg)

PA Sahabat Keluarga Indonesia, Butuh Bantuan

Pelayanan anak-anak terlantar kian mendapat perhatian dari gereja. Hamba Tuhan yang memberi perhatian pada nasib anak, mengambil bagian dalam pelayanan tersebut.

Seperti yang digeluti Pdt Eliver Jony Hutahaean SH MMin dengan mendirikan Yayasan Sahabat Keluarga Indonesia.
Bishop Gereja Kristen Pentakosta Pusat di Medan menjelaskan latarbelakang keterbebanan mereka dalam mengasuh puluhan anak-anak terlantar di sebuah rumah sederhana di Jalan Jermal 7, Medan Denai.

Sekarang, pihaknya sedang mengupayakan agar anak-anak yang ditampung dalam panti asuhan sederhana tersebut dapat mengecap pendidikan meski dalam biaya yang cukup tinggi.

“Sering kali uang sekolah anak-anak itu nunggak, tapi kita selalu berdoa agar ada pihak-pihak yang mengulurkan tangan untuk membantu,” ucap Ketua Panti Asuhan Sahabat Keluarga Indonesia, Immanuel Ginting DTh.

Tidak hanya itu, kehidupan anak-anak tersebut masih sangat memprihatinkan. Anak-anak masih tidur di lantai dan makan ala kadarnya.
Tapi kita percaya sama Tuhan Yesus yang dapat membantu mencukupkan segala kebutuhan. Dan bila pembaca punya perhatian dan ingin sharing pelayanan kami dapat menghubungi Pdt  Hutahaean dengan No HP 081362429456. Tuhan Memberkati. (*/ra)

Pdt Eka Darmaputera, Tokoh Gerakan Ekumenis

Eka Darmaputera adalah seorang pendeta dan teolog Indonesia yang banyak menuliskan buah pikirannya di berbagai surat kabar nasional. Ia juga sering menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya di dalam maupun di luar negeri.

Lahir Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, 16 November 1942 Eka diberi nama The Oen Hien. Ia adalah sulung dari dua bersaudara dalam sebuah keluarga sederhana pemilik warung kecil yang hidupnya pas-pasan. Kadang-kadang selama berminggu-minggu mereka hanya makan singkong.
Pada 1953 ia lulus dari SD Masehi di Magelang, lalu melanjutkan ke SMP BOPKRI dan lulus 1957. Setelah lulus SMA Negeri Magelang pada 1960, ia mengesampingkan cita-cita masuk Akademi Militer dan memilih mendaftar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STT Jakarta) untuk menjadi pendeta. Pertimbangannya, belajar di STT Jakarta ia dapat meminta bantuan beasiswa.

Setelah lulus ujian masuk, Eka tinggal di asrama STT Jakarta. Meskipun mendapat bantuan beasiswa, kesulitan keuangan ternyata tidak begitu saja selesai. Dalam keadaan terdesak, Eka dan  dan teman-temannya malah pernah mencuri barang dari gudang asrama untuk dijual. Masalah keuangan kemudian sedikit teratasi setelah dia diterima mengajar di SMA BPSK Jakarta, dengan gaji Rp1.500 sebulan.

Sejak kuliah, Eka sudah aktif berorganisasi dan bergereja. Di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dia menjabat anggota Pengurus Pusat (1962-1966). Di Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) menjabat Sekretaris Jenderal periode 1962-1966. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), yang kini telah berubah nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Keaktifannya di DGI membuat ia mendapatkan beasiswa tambahan. Di luar itu, ia aktif sebagai anggota Front Pemuda Pelajar pada 1965-1966.

Pada 1966 Eka lulus dari STT Jakarta dan melayani sebagai pendeta di sebuah jemaat GKI Jawa Barat di daerah Jakarta Timur. Di sini bakat kepemimpinan dan pemikiran-pemikirannya kembali mendapatkan penghargaan dari rekan-rekannya, sehingga pada usia yang masih sangat muda, pada 1968, ia diangkat menjadi Ketua Sinode di Gerejanya.

Sebelas tahun melayani penuh, Eka mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di Boston College di Boston dan Seminari Teologi Andover Newton, di Newton Center, kedua-duanya terletak di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat, dan lulus pada 1982 dengan gelar PhD. dalam bidang Agama dan Masyarakat. Eka menulis disertasinya dengan judul Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society – An Ethical and Cultural Analysis. Dalam disertasinya ini, Eka berargumentasi bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi yang sangat tepat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk, karena ideologi ini bersifat inklusif. Pemikiran ini berbeda dengan penafsiran Pancasila yang muncul di masa pemerintahan Orde Baru, khususnya pada tahun-tahun terakhirnya, yang justru mengharamkan perbedaan pendapat dan kemajemukan budaya Indonesia.

Pemikiran-pemikiran Eka tidak luput dari perhatian pendidikan teologi di dunia, sehingga pada Desember 1999, Seminari Teologi Princeton di New Jersey, AS, menganugerahkan Kuyper Prize for Excellence in Reformed Theology and Public Life.

Sejak awal kariernya sebagai seorang pendeta dan teolog, Eka telah aktif sebagai penganjur gerakan ekumenis antara pihak Protestan dan Katolik, dan antara pihak Kristen dengan agama-agama lainnya bersama Abdurrahman Wahid, Gedong Bagus Oka, dll. Eka adalah tokoh di balik pembentukan Dian/Interfidei, organisasi yang aktif bergerak dalam dialog antar iman dan berkedudukan di Kaliurang, Sleman.

Eka juga pernah menjadi anggota Majelis Pekerja Harian PGI dan mengajar di STT Jakarta dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Eka juga dosen di Southeast Asia Graduate School of Theology di Manila, Filipina.

Pada 1999 Eka berkiprah dalam ajang politik, bergabung dengan PDIP tetapi gagal duduk di parlemen.
Pada 29 Juni 2005, ia menghembuskan napasnya yang terakhir, meninggalkan seorang istri, Evang Meyati Kristiani, dan seorang anak laki-laki Arya Wicaksana.(*/wikipedia)

Marini Terancam 5 Tahun Penjara

Belajar Mobil di Medan,  SIM Dikeluarkan Polres Tanjung Balai

MEDAN- Guru TK Yayasan Perguruan Buddhis Bodhicitta Medan, Marini (24) resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Satlantas Polresta Medan. Perempuan asal Tanjung Balai yang menabrak 16 orang murid TK dan seorang guru di sekolah itu dikenai Pasal 359 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. “Dari hasil penyidikan sementara kecelakaan terjadi akibat human error. Pelaku dikenai Pasal 359 dengan ancaman 5 tahun penjara,” ungkap Kasat Lantas Polresta Medan Kompol M Risya Mustario di ruang Satlantas, Sabtu (3/3).
Berdasarkan hasil pengembangan Satlantas, Risya menjelaskann

pelaku diketahui baru bisa mengendarai mobil setelah melewati kursus belajar mobil di ‘Sumatera Jadi Jaya’ pada Agustus tahun lalu. Hanya saja Surat Izin Mengemudi (SIM) milik pelaku tidak diterbitkan di Medan, melainkan oleh Satlantas Polres Tanjung Balai. “Dari pengakuannya dia baru bisa mengemudikan mobil setelah selesai kursus mobil Agustus tahun lalu. SIM dikeluarkan Polres Tanjung Balai, di Medan kan dia kost saja,” tukas mantan Kasat Lantas Polres Langkat tersebut.

Dari pengakuan tersangka, Risya mengatakan, tabrakan massal itu bermula dari inisiatif pelaku memindahkan mobilnya dari lokasi kecelakaan karena arealnya cukup sempit untuk tempat senam siswa. Saat memindahkan mobil, menurut petugas, pelaku tidak melihat kaca spion sehingga menabrak anak-anak yang berkerumun di belakang mobilnya. Menurut Risya, dari hasil penyelidikan kepolisian, sekolah juga diindikasikan tak memiliki Standar Operasi Prosedur Keselamatan (SOPK) sebagaimana layaknya institusi pendidikan. Alasannya, pekarangan sekolah yang semestinya dimanfaatkan sebagai arena bermain dan olahraga juga difungsikan sebagai tempat parkir mobil sekolah, guru, dan kantor yayasan. Ditanya rincian ketentuan SOPK yang dimaksud kepolisian, Risya mengelak. “Coba kalian tanyakan kembali soal SPOK itu kepada pihak sekolah. Lha masak lapangan olahraga dan parkir dijadikan satu,” katanya.

Semestinya, lanjut Risya, pihak sekolah menata areal sekolah secara proporsional sehingga ada pembagian yang jelas antara lapangan olahraga dan lokasi parkir. “Kalau lokasinya sempit ya, sedari awal dipikirkan untuk membangun parkir basement atau bawah tanah, atau menyewa areal kosong untuk parkir mobil guru dan karyawan,” dia menegaskan.

Risya berjanji segera menuntaskan kasus ini secara transparan. Dia juga mengungkapkan kasus tabrakan yang nyaris merenggut nyawa anak-anak TK itu menjadi atensi khusus Ditlantas Mabes Polri. Risya mengaku dirinya sempat didatangi seseorang pascaperistiwa agar kasus tersebut diselesaikan secara damai, namun dirinya menolak karena tak mau ambil risiko. “Saya katakan pelaku sudah dilakukan BAP (Berita Acara Perkara, Red) dan proses hukumnya terus berlanjut hingga pengadilan,” kata Risya. “Kasus ini menjadi perhatian penuh Mabes Polri jadi harus ditangani serius. Pak Kapolda sudah menginstruksikan agar seluruh korban didata secara lengkap,” dia menambahkan.

Disinggung hasil tes urin pelaku, Risya menyatakan, sampel air seni sudah diserahkan kepada Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polresta Medan, namun hasilnya baru diketahui Senin besok. “Kita tunggu saja sampai Senin,” tukasnya.

Sementara itu, Sabtu (3/3) siang atau sehari setelah insiden kecelakaan itu, pihak Satlantas berencana melakukan peninjauan kembali lokasi kejadian dengan menyertakan langsung pelaku. Di lokasi kejadian pihak sekolah memperketat pengamanan dari berbagai pintu sehingga wartawan yang menunggu di luar lokasi sempat mengalami kesulitan melakukan peliputan. “Maaf Bang, ini tak terbuka untuk umum, tapi kalau media ya, boleh masuk,” ujar sekuriti berpakaian preman.

Dari pantauan Sumut Pos siang itu, sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari warga keturunan Tionghoa tersebut berjalan tidak normal. Siswa dipulangkan lebih awal dari biasanya lantaran polisi hendak melakukan peninjauan kembali. Dalam kesempatan itu wartawan sempat melihat Marini, pelaku tabrakan, di ruang administrasi Yayasan Perguruan Buddhis Bodhicitta. Marini yang tampak tenang terlihat mengenakan celana jeans biru dibalut jaket abu-abu. Pelaku mengenakan masker di mulutnya.

Ketika petugas Satlantas mengukur titik lokasi kejadian, perempuan yang tinggal di Jalan Beo No 10 A Medan Sunggal itu, tiba-tiba keluar dari ruang persembunyiannya. Kehadiran Marini yang keluar dari ruang administrasi Perguruan Buddhis Bodhocittia sontak membuat perhatian wartawan tertuju kepada dirinya. Para wartawan yang tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung menghampiri pengendara Toyota Avanza Matic warna silver dengan plat nomor BK 1272 VQ tersebut. Namun tak sepatah kata pun keluar dari mulut Marini. Insiden keluarnya pelaku dari ruang administrasi sekolah itu membuat Kanit Lakalantas Polresta Medan AKP Juwita terkejut dan menyuruh pelaku kembali masuk ke ruangan administrasi.
“Siapa yang suruh keluar itu, masuk lagi, masuk lagi itu,’” teriak AKP Juwita.
Mendengar perintah AKP Juwita, sejumlah petugas Satlantas dan sekuriti sekolah kembali menggiring pelaku ke ruang adminstrasi dengan pengawalan ketat. Pihak Satlantas akhirnya membatalkan prarekonstruksi pagi itu dan membawa pelaku kembali ke Satlantas Polresta Medan menumpang mobil Jazz warna hitam.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Perguruan Buddhis Bodhocittia, Piter Liem mengaku tak tahu-menahu kenapa prarekontruksi pagi itu dibatalkan tiba-tiba. “Saya tak tahu,” katanya.

Ditanyai lebih rinci soal pelaku, dia menjelaskan, pelaku sudah dua tahun bekerja sebagai guru di sekolah tersebut dengan status guru pendamping di TK A3. Sebelumnya pelaku sempat bekerja sebagai staf administrasi di sekolah tersebut.

Alasan pemindahan menjadi guru pendamping di TK A3, menurut Piter, lantaran mahasiswi semester VI IT&B itu dinilai berperangai baik dan memiliki sifat penyayang kepada anak-anak. “Kami lihat orangnya penyayang sekali kepada anak-anak,” katanya.

Terkait penataan lahan parkir yang disinggung pihak kepolisian, Piter mengatakan pihak sekolah akan memikirkan secara serius. “Kami segera evaluasi. Setiap bulan kami memang ada evaluasi,” ucapnya.

Hingga Sabtu (3/3)  kondisi seluruh korban yang dirawat di RS Columbia Asia berangsur membaik. Tercatat 17 siswa TK dan seorang guru yang belakangan diketahui bernama Husin Siagian menjadi korban kecelakaan massal tersebut. Kabar terakhir menyebutkan tujuh siswa masih dirawat secara intensif, sementara siswa dan guru Husni Siagian yang mulai pulih sudah dibolehkan pulang. Ketujuh korban yang masih dirawat intensif adalah Angelia Lucia, Zesica Halim, Sherly Tanglim, Sheren, Josephin, Verenince, dan Kezia. Pihak RS Colombia Asia yang diwakili dr Kianto mengatakan lima korban mengalami patah tulang. Seluruh biaya medis korban di rumah sakit elit yang dulunya bernama RS Gleni itu  ditanggung sepenuhnya oleh pihak sekolah. (gus/jon)

Marini Terancam 5 Tahun Penjara
//Baru 6 Bulan Pegang SIM

Ujung-ujungnya Ketemu di Toilet

Travel Tour Hongkong-Macau (5)

Oleh: DAME AMBARITA
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Hari kelima, semangat berfoto-foto peserta tour sudah mulai menurun. Jadwal tidur nyaris tiap tengah malam, sedangkan morning call saat masih pukul 5 pagi, membuat seluruh peserta kurang tidur. Alhasil, dalam perjalanan Guangzhou-Zhuhai keesokan harinya, sebagian peserta tidur di atas bus. Banyak pemandangan yang terlewat. Termasuk Zhuhai Lover Road, termpat para kawula muda memadu kasih.

Untunglah, sekilas Zhuhai Lover Road ini masih sempat terekam di benak penulis. Taman ini ditata di tepi laut, dengan penataan bunga-bunga cantik, pohon-pohon palem, rumput-rumput hijau, bangku-bangku taman, dan areal untuk pejalan kaki atau pesepeda. Udara yang sejuk bersih dan hembusan angin dari laut membuat suasana romantis. Tak hanya pasangan kekasih yang bersantai, sejumlah keluarga pun terlihat duduk-duduk atau jalan-jalan di taman itu. Sejumlah anak-anak naik sepeda double dengan 2 atau 3 pengayuh pun ikut meramaikan taman. Jadi berkhayal punya lokasi serupa di kota ini.
Bus terus meluncur dan membawa peserta ke restoran untuk makan siang. Lagi-lagi dari 7-8 jenis menu makanan yang dihidangkan, bebek peking termasuk salahsatunya. Beda restoran di Shenzhen dan Guangzhou dengan di Hong Kong (dan Macao) adalah, Shenzhen dan Guangzhou menyediakan dua botol bir dan sebotol besar soft drink tiap meja. Sementara Hong Kong dan Macao lebih pelit. Birnya produk China, tidak pahit dan keras seperti bir yang dijual di negeri kita. Sedap diminum saat makan.

Usai makan siang, Aming membawa peserta ke Taman Shijingshan. Di sini ada fasilitas cable car (kereta gantung). Tapi ini tidak termasuk paket tour. Jadi bagi yang ingin naik cable car, wajib membayar 60 yuan (sekitar Rp88 ribu).

Naik cable car di sini barangkali tidak seistimewa naik cable car di Eropa atau di Ngongping 360 Cable Car Hong Kong. Di Hong Kong, naik cable car bisa memandang seluruh kota Hong Kong selama 25 menit, mulai kawasan bandara udara, laut Cina Selatan dan Pulau Lantau –pulau terbesar di Hong Kong. Di Zhuhai, naik cable car-nya hanya naik ke bukit dengan tempo sekitar 10 menit. Yang dilihat pun hanya hutan dan bebatuan sekira 20 meter di bawah.
Untuk turun, boleh memilih naik cable car atau seluncuran yang… ternyata tidak terlalu menakutkan. Tapi dari atas, kita dapat memandang lautan gedung kota Zhuhai, yang lagi-lagi sayang… terbatas oleh kabut.

Dari Taman Shijingshan, peserta dibawa ke tempat shopping di Gong Bei. Cerita unik adalah, selama tour di sejumlah kota, hampir tiap 30 menit peserta mencari toilet. Maklum, cuaca dingin antara 13-20º Celsus. Jadi, sekalipun peserta berpisah secara berkelompok di areal pertokoan untuk melihat-lihat barang dagangan dalam kelompok-kelompok, pasti ketemu di toilet. Akhirnya muncul joke: “Orang Indonesia tour ke luar negeri, ujung-ujungnya ketemu di toilet”, hehehehehe…

Karena semua kota yang dikunjungi tidak menyediakan air di toilet, bahkan ada sebagian yang tidak menyediakan (atau kehabisan?) tisu, peserta harus siap dengan persediaan tisu. Kalau risih ‘membersihkan’ hanya dengan tisu, siapkan saja tisu basah. Untuk berjaga-jaga, sebagian peserta suka mengambil tisu banyak-banyak di toilet yang ada tisunya, sebagai persediaan mana tau di toilet lain tak ada tisu.

Usai belanja dan makan malam, peserta tour naik bus berikut seluruh bagasi dan turun sebuah pusat perbelanjaan, perbatasan Zhuhai dan Macao. Di sini, peserta harus berjibaku menyeret koper masing-masing naik turun eskalator, menuju Imigrasi Macao di gedung yang sama lantai 3. Peserta yang sebelumnya sudah banyak berbelanja, benar-benar berjuang menyeret seluruh barangnya. “Datang 1 koper, pulang dengan koper yang beranak cucu. Hasilnya, capek menyeret ke sana sini,” keluh sepasang suami istri yang penuh dengan belanjaan. Bagasi bus lebih sesak lagi dengan koper yang sudah beranak pinak.

Perpisahan dengan Aming cukup mengharukan. Sejak hari kedua sampai hari kelima, nyaris Aming selalu bersama peserta tour. Rasa tanggung jawabnya yang tinggi untuk kenyamanan dan keamanan para tamunya, membuat seluruh peserta sayang padanya. Apalagi dia bersedia menyanyi saat didesak peserta, meski sudah berkali-kali mengaku tak pintar bernyanyi. Dan benarlah, suaranya meski tak fals, temponya lari tak tentu juntrungan. Begitupun tepuk tangan tetap membahana. Jadilah, muncul niat dari peserta mengumpulkan ‘angpao’ untuk Aming. Aming pun tersenyum haru.  (dame)