28 C
Medan
Friday, January 16, 2026
Home Blog Page 13852

Kenaikan Tarif Listrik Bertahap

JAKARTA- Kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) bakal dibebankan secara bertahap. Pilihan mungkin dipertimbangkan karena selain memperhatikan kesehatan fiskal, pemerintah juga menimbang beban inflasi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, kenaikan tarif listrik bisa dibebankan tiga kali sebesar 3 persen hingga mencapai kenaikan maksimal rata-rata 10 persen di tahun ini. “Kita kan intinya biar masyarakat tidak terlalu berat. Kita akan usahakan kalaupun ada beban, jangan ditumpuk,” kata Jero di Kantor Kemenkeu, Jakarta, kemarin.

Jero mengatakan, opsi kebijakan itu bakal turut dibahas dalam RAPBN Perubahan 2012. “Nanti tergantung DPR-nya,” kata Jero. Presentase di tiap golongan konsumen juga bakal diputuskan pemerintah bersama parlemen.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo pemerintah akan mengatur agar fiskal tetap sehat namun inflasi tetap terkendali. “Ini supaya kesejahteraan rakyat jangan terdampak. Bahkan kita harus siap mengelola tingkat kemiskinan kita,” kata Menkeu.

Agus mengatakan, kenaikan harga BBM dan TTL tidak bisa ditunda karena subsidi bisa makin membengkak. Pengajuan RAPBNP bakal dilakukan di depan Rapat Paripurna DPR Selasa depan. Menkeu mengatakan, jika harga tak dinaikkan,  subsidi listrik bisa bertambah Rp53 triliun. “Itu kalau situasinya terus seperti ini,” katanya.(sof/jpnn)

Telkomsel Hadirkan T-Cash di Indonesia

Metode pembayaran tidak lagi identik dengan pembayaran konvensional berupa uang tunai. Selain kartu debit dan kartu kredit yang lazim digunakan masyarakat, media lain yang kini dapat dipakai sebagai metode pembayaran adalah ponsel.

Munculnya beberapa alat pembayaran alternatif ini dilatarbelakangi berkembangnya teknologi yang dapat memudahkan pelanggan dalam melaksanakan berbagai aktivitas pembayaran. Prospek yang menjanjikan dalam industri ini memunculkan banyaknya pemain baru, tidak hanya dari sektor perbankan, melainkan juga dari non perbankan seperti sektor telekomunikasi.

Menurut Head of Corporate Communications Division Telkomsel Ricardo Indra, sebagai operator telekomunikasi selular terbesar di Indonesia yang telah dipercaya 107 juta pelanggan, Telkomsel telah menghadirkan T-Cash sebagai wujud keseriusan dalam menggarap bisnis uang elektronik (e-money).

“Telkomsel merupakan operator selular pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi dari Bank Indonesia pada 2007 untuk menjalankan bisnis e-money,” ungkapnya. Telkomsel siap mengembangkan bisnis ini karena telah memilkiki server yang dapat mengelola account e-money.(rel)

Sumut Butuh 700 MW Listrik

Tunjang Percepatan Pertumbuhan Ekonomi

MEDAN- Lima tahun ke depan Sumatera Utara (Sumut) membutuhkan tambahan daya listrik sekitar 700 MegaWatt (MW) untuk menunjang laju perekonomian.

Hal itu diungkapkan Plt Gubernur Sumut Gatot Pudjo Nugroho dalam kata sambutan yang dibacakan Plt Kabid Listrik dan Pertambangan Energi Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Sumut, Gembira Sebayang, Rabu (29/2).

Guna memenuhi kebutuhan listrik itu, kata Gembira, Pemprovsu sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait, juga menjajaki calon investor untuk melaksanakan pembangunan di sektor kelistrikan.

Gembira Sebayang mengungkapkan, sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi, pemakaian daya listrik juga mengalami pertumbuhan. Laju pertumbuhan daya listrik di Sumut sekitar 7 persen per tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan daya listrik tersebut, kini sedang dilakukan pembangunan beberapa pembangkit tenaga listrik baru, baik yang diprakarsai Perusahaan Listrik Negara (PLN) maupun perusahaan swasta. Antara lain, PLTU Sumut 1 dengan kapasitas 2×200 MW di Langkat dan beberapa PLTM di Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi dan Simalungun.

“Dalam waktu dekat ini, diharapkan pembangkit segera beroperasi dan akan menambah pasokan daya listrik di Sumut,” ujarnya diacara pembukaan Musda I Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia (AKKLINDO) Sumut di Hotel Danau Toba International.

Lalu, sambungnya, untuk program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap kedua di Sumut, telah direncanakan pembangunan PLTA Asahan III sebesar 174 MW, PLTP Sarulla 1 & 2 sebesar 440 MW, PLTP Sorik Merapi sebesar 55 MW, PLTU Nias sebesar 14 MW dan PLTU Sumut 2 sebesar 2×200 MW.

Selain itu, program pembangunan listrik pedesaan juga terus dilanjutkan, baik melalui anggaran APBD maupun APBN. Dijelaskannya, rasio elektrivikasi di Sumut pada tahun 2010 telah mencapai 78,84 persen, jumlah desa berlistrik sekitar 4.874 desa atau 84,85 persen dari jumlah desa yang ada, yakni 5.744 desa.

“Berarti, sekitar 870 desa lagi yang belum berlistrik. Di sini akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH),” tuturnya.

Menurutnya, dari tahun 2003 hingga 2010, melalui APBD dan APBN, telah dibangun PLTS sebanyak 2.213 unit dan melalui APBN dibangun sebanyak 5.063 unit, serta PLTMH sebanyak 4 unit yang tersebar di beberapa desa di Sumut.
Sementara itu, Ketua DPP AKKLINDO Janto Dearmando mengatakan, asosiasi siap menjadi mitra strategis pemerintah Sumut dari sektor swasta dalam pengembangan kelistrikan. (ram)

Manfaatkan Sosial Media dengan XL KL1K

MEDAN-Kemajuan teknologi menawarkan fasilitas berkomunikasi melalui Sosial media yang semakin mampu menembus batas ruang dan waktu, juga murah dan simple.

Dalam rangka meningkatkan edukasi atas manfaat layanan XL KL1K, layanan yang mempermudah pelanggan memanfaatkan Sosial media, di kalangan remaja.

Vice President Corporate Communication XL, Turina Farouk mengatakan, melalui layanan XL KL1K, PT XL Axiata Tbk (XL) telah membuka kesempatan bagi setiap pelanggan, termasuk kalangan remaja.

“Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari beragam layanan Sosial media dengan hanya satu kali klik. Banyak manfaat yang tentunya bisa mereka dapatkan dari Sosial media, antara lain dalam menjalin persahabatan dan memperluas pergaulan,” ujarnya.

Pada acara ini, XL mengundang 50 remaja perempuan dan 50 remaja laki-laki yang belum saling mengenal. Kepada mereka antara lain XL memberikan kesempatan untuk mencoba memanfaatkan XL KL1K guna merasakan kemudahan berkomunikasi di Sosial media dalam membangun persahabatan.
XL KL1K adalah kartu perdana pertama dan satu-satunya di Indonesia yang banyak memberikan kemudahan untuk chatting dan bermain games. Dengan XL KL1K, pelanggan featured phone bisa pengalaman menggunakan aplikasi Sosial networking bagaikan menggunakan smartphone. Hanya dengan sekali klik, pelanggan dapat terhubung dengan 6 aplikasi, yaitu Facebook, Yahoo Messenger, Blaast Messenger, mig33, Sosial games Monster Fight dan Twitter.
XL KL1K juga memungkinkan pelanggan untuk melakukan update status ke berbagai aplikasi Sosial networking dengan satu kali update. XL KL1K merupakan hasil kerjasama dengan Blaast, partner yang ditunjuk XL untuk mengembangkan berbagai aplikasi, termasuk aplikasi lokal, sekaligus merupakan bagian dari inisitatif XL untuk menunjukkan komitmen dalam membantu masyarakat menjadi XLangkah lebih maju dengan kemudahan akses layanan data.

Komitmen XL dalam memberikan layanan data yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, ditunjukkan melalui tarif XL KL1K yang lebih murah, yaitu gratis untuk 14 hari pertama setelah aktivasi dan setelah itu hanya Rp1/KB. Bila pelanggan sudah menggunakan paket internet, pelanggan tidak akan dikenakan tarif (charging) lain. (ila)

Samsung Galaxy S II Terbaik di Dunia

Hajatan Mobile World Congress (MWC) 2012 akhirnya ditutup. Salah satu pagelaran gadget paling prestisius di dunia itu memilih beberapa produk yang terbaik.

Tahun ini, nampaknya masih menjadi milik Samsung, sebab, vendor asal Korea Selatan tersebut berhasil menyabet dua dari empat penghargaan yang penting di MWC 2012. Penghargaan yang disabet oleh Samsung, adalah smartphone of the year yang dimenangi oleh Galaxy S II, dan Samsung menjadi Produsen Device of The Year.

Dengan dilengkapi layar Super AMOLED 4,3 inch dan prosesor dual-core, Galaxy S II yang ramping tampil sebagai penyempurnaan dari versi sebelumnya.
Produk ini juga menjadi pesaing terberat dari iPhone milik Apple yang pernah menjadi raja di pasar smartphone. Jika dilirik, Galaxy S II telah menjajal iPhone 4S dari sisi spesifikasi, fitur, hingga harga.

Bahkan, kedua produk tersebut pernah diuji ketahanan dengan dijatuhkan. Dalam sebuah tayangan video di You Tube yang dirilis tahun lalu, nampak Galaxy S II lebih kokoh.

Dalam video tersebut, kedua gadget dijatuhkan dari ketinggian 1,5 meter atau sepundak orang dewasa. Keduanya hanya terlihat lecet sedikit di bagian yang jatuh.

Hanya saja, pada saat dijatuhkan dalam posisi monitor menyentuh tempat benturan, iPhone 4S terlihat retak-retak dan bagian belakangnya ikut lecet. Tapi Galaxy S II yang menggunakan layar Gorila Glass lebih tahan benturan.

Sementara itu, Nokia dihibur dengan penghargaan yang didapatkan melalui Nokia C3 yang menyabet kategori Feature Phone of The Year. Ini setidaknya cukup untuk mengobati kekecewaan setelah Nokia Lumia 800 gagal mendapatkan kategori sebagai ponsel terbaik. (net/bbs/jpnn)

Ubah Status, Pegadaian Siap Ekspansi

MEDAN- Melalui Peraturan Pemerintah nomor 51/2011 yang diterbitkan pada 13 Desember 2011, Pegadaian resmi berubah Badan hukum, dari perum menjadi persero pada 1 April mendatang.

Dengan perubahan status ini, Pegadaian akan melakukan ekspansi optimalisasi dengan aset yang mereka miliki, dan tentu saja menambah produk pegadaian untuk menambah target yang telah diberikan.

Pemimpin Wilayah Pegadaian I Medan, Agus Priyambodo mengatakan, ekspansi yang akan dilakukan ini bila badan hukum sudah berubah total, dan kegiatan ini akan mengoptimlisasikan aset yang dimiliki oleh Pegadaian. “Perubahan status ini akan membuat kita mengembangkan sayap, seperti property, mall, hotel, dan lainnya. Tetapi ini hanya boleh dengan menggunakan aset, tidak dengan membeli,” ujar Agus.

Dirinya menerangkan, standart operating procedur (SOP) yang berlaku untuk ekspansi Pegadaian dengan mengandalkan aset, bukan membeli. “Sebagai salah satu BUMN yang tertua, aset yang dimiliki Pegadaian cukup banyak dan luas. Jadi, kita optimalkan dulu aset kita,” tambah Agus.
Lebih dari 5 titik aset berupa tanah dimiliki Pegadaian Kanwil I Medan, di mana daerah operasinya dari Sabang hingga Sibolga. Untuk saat ini, aset yang sedang dikembangkan terletak di daerah Pangkalan Brandan.

Menurut Agus, daerah ini cukup potensial, karena terletak di daerah pasar dan pinggir jalan.

“Di sini, luas tanah yang kita miliki sekitar 3.000 hektar, sedangkan yang kita gunakan hanya 250 hektar. Masih banyak lahan kosong, karena itu rencana ke depannya, akan kita bangun kios kecil-kecil, dan kita sewakan untuk pedagang,” ujar Agus.
Harapannya, bila kios disewakan, maka pedagang dapat melakukan pegadaian. Sementara di daerah lain, aset yang bakal dikembangkan seperti, di Pancur batu, Dolok Masihul, Sibolga, dan lainnya.

Selain melakukan ekspansi, perubahan badan hukum pada 1 April mendatang, juga akan menambah produk gadai. Seperti gadai efek (saham) dan jasa G Lab.  “Gadai efek seperti gadai saham, jadi kita terima saham, tetapi secara online. Sedangkan G Lab adalah taksiran untuk menentukan kualitas batu cincin,” terangnya.

Tekhnologi G lab ini untuk menentukan kualitas batu cincin. Apa jenis batu itu, berapa kualitasnya. Nah, G lab ini nanti dapat dibawa-bawa, seperti lab traveller. (ram)

Gus Irawan vs RE Nainggolan

Jelang Pilgubsu 2013

JAKARTA –Pilgubsu 2013 diprediksi bakal menjadi ajang pertarungan tiga kandidat, yakni Gus Irawan, RE Nainggolan, dan Gatot Pujo Nugroho. Untuk kandidat lain, seperti AY Nasution, tidak masuk dalam perhitungan dalam rivalitas itu.

Demikian disampaikan pemerhati politik lokal, DR Umar Syadat Hasibuan kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin (1/3). Pria asal Labuhanbatu yang cukup dekat dengan pusat kekuasaan di Jakarta ini menilai, dari ketiga kandidat kuat itu, pertarungan nantinya mengerucut pada Gus Irawan lawan RE Nainggolan.

Umar berkeyakinan, Gus Irawan bakal diusung Partai Golkar. Ini lantaran Gus sudah punya kedekatan dengan Golkar, antara lain karena abangnya, Bomer Pasaribu, merupakan politisi senior Golkar. “Posisi Gus Irawan juga diuntungkan dengan kondisi saat ini dimana tokoh Golkar Sumut tidak ada yang menonjol,” ujar Umar Hasibuan.

Dia juga yakin, RE Nainggolan bakal ikut maju sebagai cagub. Peluang RE Nainggolan juga sama besar dengan Gus. Alasannya, mantan sekdaprov Sumut ini merupakan satu-satunya tokoh yang saat ini bisa mewakili masyarakat Tapanuli bagian utara.

RE Nainggolan, kata Umar, bisa saja nanti diusung oleh Partai Demokrat. “Karena saya tahu Pak RE Nainggolan itu punya kedekatan khusus dengan Pak TB Silalahi, yang saat ini ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat yang juga sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat,” ujar Umar, yang juga merupakan aktivis muda yang dekat dengan jajaran petinggi Demokrat.

Bahkan, lanjutnya, PDI Perjuangan sangat berpeluang ikut mengusung RE Nainggolan. “Karena sampai saat ini PDIP juga terlihat belum punya calon. Nyaris hanya PKS yang sudah jelas calonnya, yakni Gatot,” imbuhnya.

AY tak Ada Peluang

Bagaimana dengan AY Nasution? Umar dengan enteng menjawab,”tidak punya peluang.”

Terkait dengan itu, kemarin Mabes TNI mengeluarkan siaran pers mengenai langkah Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengeluarkan Surat Telegram (ST) Nomor: ST /175/2012 tanggal 17 Februari 2012 yang berisi instruksi agar untuk menjaga kenetralitasan itu.

Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl Minulyo Suprapto menjelaskan, surat perintah itu dikeluarkan sebagai sikap TNI yang menjunjung tinggi netralitas dalam Pemilu dan Pemilukada serta mengantisipasi gejolak sosial yang mungkin timbul di wilayahnya.

Surat juga memerintahkan kepada setiap pimpinan atau komandan atau atasan berkewajiban untuk memberikan pemahaman tentang netralitas TNI dengan mempedomani buku netralitas TNI tahun 2008 kepada anggota atau bawahannya dan bertanggung jawab atas pelaksanaannya di lapangan.
Pengamat politik yang juga Koordinator Komite untuk Pemilih Indonesia (TepI), Jeirry Sumampouw, menduga, keluarnya surat perintah dari Panglima TNI itu terkait dengan langkah-langkah Pangkostrad Letjen TNI AY Nasution yang sudah bergerak mempersiapkan diri maju sebagai calon gubernur Sumut.

Menurut Jeiry, surat itu pula yang membuat AY Nasution berubah sikap. Seperti diberitakan,  usai mengikuti acara temu ramah dengan Wali Kota Medan Rahudman Harahap dan berbagai elemen lainnya di Wisma Benteng, Jalan Kapten Maulana Lubis, Rabu (29/2), AY menyatakan tidak pernah punya niat maju sebagai calon gubernur Sumut.

“Saya tidak pernah berkomitmen di Pilgubsu 2013. Saya tidak pernah. Saya tidak pernah berkomitmen untuk maju di Pilgubsu 2013,” kata pria kelahiran Medan, 26 Maret 1954 itu.

Padahal, sepekan sebelumnya AY Nasution, begitu semangat menyatakan akan maju sebagai salah satu calon pada Pilgubsu. “Saya siap maju, siap memenuhi panggilan mengabdi di Sumut,” ujar AY Nasution saat menerima award sebagai ‘Tokoh Militer Peduli Pers’n dan ‘Tokoh Low Profile di Hotel Grand Antares, Rabu (22/2) lalu.

Jeirry menduga, langkah-langkah AY Nasution yang mulai ancang-ancang maju sebagai cagub, belum seizin atasannya, dalam hal ini Panglima TNI. Terlebih, kata pria asal Manado itu, TNI merupakan institusi yang sangat ketat menjaga netralitas.

Meski demikian, Jeirry tetap yakin, pada akhirnya nanti AY Nasution tetap akan maju, terlepas apakah nantinya punya partai pengusung atau tidak. Pasalnya, saat pemilukada nanti, AY Nasution sudah tidak lagi menjadi jenderal aktif, alias sudah pensiun.

Apa yang disampaikan AY Nasution bahwa dirinya tidak pernah punya komitmen maju di pilgubsu, hanyalah bahasa diplomatis. “Karena saat ini masih terikat dengan aturan internal TNI.  Saya menduga belum ada perintah maju sebagai calon, tapi dia sudah maju. Tapi nanti kalau sudah tidak aktif, dia pasti lebih terbuka lagi,” urai Jeirry.

“Ulang tahun Kostrad dengan menggelar terjun payung di beberapa titik di Sumut itu saya kira tak lazim,” imbuh Jeirry, memberikan alasan mengapa dirinya yakin AY Nasution nantinya tetap akan maju.

Seperti diketahui, AY Nasution tidak lama lagi akan melakukan serah terima jabatan sebagai Pangkostrad, kepada penggantinya, Mayjen TNI Muhamad Munir, yang saat ini sebagai Pangdam III/Siliwangi.

AY Nasution selanjutnya akan menjadi pati Mabes TNI AD. Mutasi AY Nasution ini berdasar Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/96/ II/2012 tanggal 20 Februari 2012 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI. (sam)

Forum Tapanuli: Kita tak Boleh Ikut Campur

Polemik Nama untuk Bandara di Kualanamu

MEDAN-Forum Tapanuli Sumatera Utara, mendukung sepenuhnya aspirasi masyarakat di Kabupaten Deliserdang sebagai calon nama Bandar Udara (Bandara) Internasional yang berada di Kualanamu. Pernyataan tersebut dikatakan Ketua Dewan Pembina Forum Tapanuli Sumatera Utara Daulat Manurung pada wartawan Kamis (1/3) di Jalan SM Raja Medan.

“Kami dari Forum Tapanuli Sumut, mendukung sepenuhnya masyarakat di Kabupaten Deliserdang, untuk mencantumkan nama Bandara Kualanamu Deliserdang di bandara itu. Alasan kami mengingat lokasi ataupun areanya,” tegas Daulat.

Penabalan nama Bandara Kualanamu Deliserdang adalah kebanggaan masyarakat sekitar. Nama Bandara Kualanamu tersebut akan membawa dampak ekonomi yang baik bagi masyarakat. “Pemberian nama Kualanamu Deliserdang ini untuk menghindari efek-efek negatif, adanya ketidaksenangan dari yang mengajukan nama-nama bandara untuk kepentingan satu individu,” tegas Daulat.

Alasannya, ucap Daulat lagi, agar tidak timbulnya kesenjangan atas pemberian nama bandara itu kalau dibuat nama orang nama tokoh ataupun nama pahlawan. “Itu hak progratif masyarakat setempat untuk memberikan nama, kita tidak boleh ikut campur karena itu hak mereka karena itu bagian dari hak mereka,” tegas Daulat.

Sebelumnya, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sumut pun buka suara. Bagi mereka, nama yang pas adalah nama pahlawan. “Menurut saya, pemberian nama Bandara Sultan Sulaiman untuk bandara dalam waktu dekat ini akan rampung sudah cocok. Nama itu memang sudah cocok karena Sultan Sulaiman itu merupakan sosok pahlawan di daerah Deliserdang dan Serdangbedagai (Sergai) karena beliaulah yang memperjuangkan daerah itu saat zaman penjajahan Belanda,” kata Muhammad TW, Kepala Biro Generasi Penerus Perjuangan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sumut, Kamis (1/3) siang.

Muhammad TW menuturkan, pada massa penjajahan Belanda, beliau tak mau bekerja sama dengan Belanda dan memilih melawan penjajah itu. “Wajar saja jika masyarakat Deliserdang dan Sergai sekitarnya menginginkan nama itu karena nama itu merupakan sosok pahlawan bagi mereka,” jelasnya.
Disinggung mengenai pahlawan-pahlawan nasional lainnya, Muhammad TW mengaku, memang sempat ada sejumlah nama Pahlawan Nasional muncul di antaranya Raja Sisingamangaraja XII, Adam Malik, dan Tengku Amir Hamzah. “Sultan Sulaiman memang baru mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra, tapi menurut saya, nama beliau yang cocok sebagai nama bandara baru nanti,” ucapnya.

Disambung orang yang suka membedah-bedah buku dan tokoh-tokoh kepahlawanan ini, sosok Sultan Sulaiman pada massa penjajahan Belanda semasa hidupnya terkenal dengan sosok yang tak mau menyerah dan beliau berjuang penuh. “Pemberian gelar dan Bintang Mahaputra itu diberikan berdasarkan perjuangan beliau dalam mempertahankan daerah itu pada massa penjajah Belanda dengan penuh dan ikhlas. Ada nama tokoh-tokoh yang lain, tapi tak diberikan gelar dan Bintang Mahaputra karena dalam perjuangannya yang penuh dan tak berhenti,” pungkasnya. (rud/jon)

Kembalinya Guru Para Jenderal

Dari Buku ‘TB SILALAHI (bercerita tentang pengalamannya)’ (1)

Bagi yang penasaran mengapa SBY menunjuk TB Silalahi menjadi ketua Dewan Pengawas Partai Demokrat yang lagi di puncak kesulitannya, bacalah buku ini: TB SILALAHI (bercerita tentang pengalamannya). Jangankan mengurai benang kusut yang ruwet, Pak Harto yang begitu berkuasa pun berhasil TB  (begitu dia akrab dipanggil) ‘tundukkan.

Oleh: Dahlan Iskan

Dalam buku yang ditulis dengan gaya bahasa yang sangat menarik, lancar, dan mengalir oleh wartawan senior Atmadji Sumarkidjo ini, berbagai kisah penundukan TB diceritakan: menundukkan Jenderal Rudini, Jenderal Edy Sudradjat, dan banyak jenderal lainnya yang sebenarnya adalah atasannya. TB juga berhasil menundukkan para analis perang, berbagai universitas, para tokoh agama, dan yang hebat TB juga berhasil menundukkan dirinya sendiri.

TB berhasil pula menundukkan wilayah-wilayah berat seperti Sulsel dan Papua. TB yang Kristen Batak begitu berhasil merebut hati masyarakat di dua provinsi itu. Sampai-sampai, saat TB diangkat menjadi menteri di Kabinet Pembangunan VI, doa syukur bersama untuknya justru dilakukan oleh jamaah masjid di Enrekang, Sulsel, sesaat setelah TB dilantik. Bahkan, seorang gubernur Papua yang terkenal polos, Ishak Hindom, pernah berani menyampaikan kepada Pak Harto bagaimana kalau Papua merdeka saja: presidennya orang Papua asli dan perdana menterinya T.B. Silalahi!

TB memang brilian. Dia selalu lulus terbaik untuk jenis pendidikan apa saja yang pernah dijalaninya selama menjadi tentara. Mulai AMN sampai kursus-kursus yang begitu banyaknya. Termasuk saat mengikuti Sekolah Komando dan Lemhanas. Bahkan, ketika Seslapa, TB lulus dengan cum laude. Hanya sekali dia menjadi juara dua. Yakni, sewaktu menjalani tes masuk Seskoad (Sekolah Komando Angkatan Darat). Itu pun akhirnya dia juga menjadi juara satu karena juara pertamanya rupanya ada masalah, lalu dicoret.

Kalau ada yang dia sesalkan adalah mengapa ditakdirkan tidak pernah mendapat kesempatan bersekolah di Amerika Serikat. Ini gara-gara hubungan Indonesia-AS memburuk tahun itu yang diingat melalui ucapan Presiden Soekarno: go to hell with your aid. Tapi, TB berusaha menundukkan dirinya sendiri: Dia pinjam semua buku yang dibawa pulang oleh perwira-perwira yang lebih dulu berkesempatan bersekolah militer di AS. Dia lalap semua buku itu. Tanpa bersekolah ke AS pun, penguasaan ilmunya bisa lebih unggul.

TB memang hobi membaca. Sebab, TB menyenangi tugas mengajar. Itu sempat membuat komandannya kaget ketika dalam mengisi formulir penempatan, TB memilih mengajar. Lulusan terbaik setiap jenjang pendidikan selalu mendapat prioritas untuk memilih ditempatkan di mana. TB memilih mengajar! Yang umumnya dijauhi perwira lain. Padahal, dia perwira kavaleri yang tangguh. Yang sangat menonjol di berbagai operasi, baik di Garut, Malangbong, Tasikmalaya (operasi penumpasan Kartosuwirjo), maupun operasi di Sulsel (penumpasan Kahar Muzakkar).

Menarik membaca alasan TB: Saya sudah cukup di pasukan, lama-lama di pasukan bisa bodoh! Maka, berangkatlah TB ke Pusat Pendidikan Kavaleri di Purabaya. Satu daerah pegunungan kapur di Jabar yang jauh dari Bandung. Sepanjang perjalanan ke kampus itu, TB harus melewati debu kapur sehingga sang guru sering tiba di kampus sebagai kera putih Hanoman.

Sebagai guru, TB tidak ada tandingannya. TB selalu terpilih sebagai pengajar terfavorit di setiap pemilihan pengajar oleh para siswanya. Tidak heran bila TB belakangan juga dikenal sebagai gurunya para jenderal. Tidak ada jenderal yang pada masa pendidikannya tidak pernah diajar dengan menarik oleh TB. Setidaknya, gelar itu diberikan Jenderal Wiranto.

Saat itu, Wiranto menjadi ajudan Presiden Soeharto. Ketika Pak Harto mulai tertarik dengan TB dan menanyakan siapa itu TB, Wiranto dengan singkat mengatakan bahwa TB itu gurunya para jenderal. Wiranto-lah yang selalu menjadi pintu bagi TB untuk bertemu Pak Harto. Belakangan, ketika hubungan TB dan Pak Harto sudah istimewa, justru Wiranto yang minta bantuan TB untuk memperlancar tugasnya sebagai ajudan presiden. Terutama kalau mood Pak Harto lagi mendung. TB-lah yang mampu mencairkan pikiran Pak Harto.

Itu ada ceritanya. Sewaktu TB harus menghadap Pak Harto menyampaikan masalah yang sangat penting, Wiranto mencegahnya. Pak Harto lagi bad-mood. Tapi, TB ngotot karena masalahnya memang penting. Di ruang kerja Pak Harto itu, TB mencari akal bagaimana membuat Pak Harto tidak lagi murung. Berceritalah TB mengenai kisah kehebatan Pak Harto yang pernah dia dengar dari para jenderal yang pernah mendengarnya. Yakni, mengenai pertempuran Ambarawa.

Waktu itu, Pak Harto diperintah Jenderal Gatot Subroto untuk mempertahankan sebuah bukit yang penting. Pak Harto dan pasukannya tidak boleh meninggalkan bukit itu sama sekali. Ketika malam Belanda membombardir bukit itu habis-habisan, Jenderal Gatot Subroto menangis. Dia mengira Pak Harto pasti sudah tewas. Demikian juga pasukannya. Pagi itu, Gatot Subroto mengerahkan pasukan menyisir bukit tersebut untuk mencari mayat Pak Harto. Ternyata, Pak Harto masih hidup. Ternyata, Pak Harto, dengan perhitungannya sendiri, tidak menaati perintah atasannya itu. Pak Harto, sebelum malam tiba, sudah meninggalkan bukit tersebut.

Senjata TB itu sangat ampuh. Baru sebentar TB berkisah, Pak Harto sudah menimpali. Bahkan, Pak Harto-lah yang kemudian meneruskan kisah itu dengan semangatnya. Wiranto yang mendengarkan dari ruang sebelah merasa gembira. Maka, setiap melihat Pak Harto bad mood, Wiranto minta agar TB berpura-pura punya urusan dengan Pak Harto.

Hebatnya, TB menyadari, menjadi anak emas itu banyak tidak enaknya. Dan dia belajar banyak dari situ. Waktu Rudini diangkat menjadi KSAD, TB yang masih paban diminta menjadi orang nomor dua untuk menghadap. Padahal, mestinya para asisten dulu. Itu menimbulkan kecemburuan yang merugikan dirinya. Apalagi ketika akhirnya tahu TB-lah yang diminta membuatkan konsep tujuh perintah harian KSAD yang baru.

TB juga pernah menjadi anak emas Jenderal M. Jusuf. Mulanya dari kunjungan Menhankam/Pangab asli Makassar itu ke Makassar setelah meredanya kerusuhan anti-Tionghoa di sana. Jenderal Jusuf begitu senangnya kerusuhan tersebut berhasil diselesaikan dengan cepat. Karena itu, saat itu juga, di tempat rapat itu juga, Jenderal Jusuf minta pangkat Pangdam Hasanuddin Brigjen Soegiarto dinaikkan menjadi mayor jenderal.

Setelah itu, sang Pangdam dengan rendah hati mengemukakan bahwa kerusuhan tersebut cepat teratasi berkat peran asisten operasinya, Letkol T.B. Silalahi. Kebetulan, pangkat TB itu sudah agak lama tersendat. Mendengar itu, Jenderal Jusuf langsung mengeluarkan perintah yang mengagetkan: Ya sudah, naikkan pangkat Silalahi hari ini juga!

KSAD saat itu, Letjen Poniman, menjelaskan bahwa kenaikan pangkat tidak bisa dilakukan mendadak di tempat seperti itu. Setidaknya, harus dibuatkan dulu surat keputusannya di Jakarta. Setidaknya, harus dicarikan dulu nomor surat keputusan yang akan dibuat. Apa jawaban Jenderal Jusuf” “Tidak usah lah kau cari-cari nomornya. Kalau perlu, pakai nomor mobil saya,” perintah sang Jenderal.

Tentu tidak ada yang berani membantah perintah panglima ABRI. Tapi, ada kesulitan teknis untuk menaikkan pangkat TB saat itu juga. Dari mana bisa mendapatkan tanda pangkat kolonel di kota seperti Makassar yang akan disematkan di pundak TB” Sudah diusahakan dicarikan di toko-toko dan di pasar loak, tapi tidak ditemukan. Akhirnya, memang bisa didapat. Tapi, tanda pangkat itu sudah sangat kusam. Cepat-cepat tanda pangkat itu di-brasso untuk disematkan di pundak TB.

Kelak, peristiwa tersebut menyulitkan karir TB. Terutama setelah panglima ABRI-nya diganti. TB dikira “geng”-nya Jenderal Jusuf. Karirnya terhenti sangat-sangat lama dan penempatannya pun tidak di pusat kekuasaan. TB sempat frustrasi lagi. Sampai-sampai, saat berjalan pagi dengan istrinya di kompleks Seskoad Bandung, TB mengambil sikap yang dianggap istrinya sangat aneh. Ketika melewati patung Jenderal Gatot Subroto, TB berhenti: menghadap patung, memberi hormat militer dengan sikap sempurna, dan meneriakkan kata-kata berikut ini: “Pak Gatot, saya ini stres berat. Saya sudah mencoba berbuat yang terbaik untuk Angkatan Darat. Tapi, nasib saya terkatung-katung. Mohon petunjuk?!” (hal 22).
“Kamu ini sudah miring,” kata istrinya. “Lama-lama kamu bisa gila!” tambah sang istri.

Sangat menarik membaca bagaimana TB berhasil menundukkan dirinya sendiri dari rasa frustrasi. Lalu, berhasil bangkit, mencapai pangkat letnan jenderal, dan bahkan menjadi menteri.

Kelihatannya buku ini berisi cerita tentang TB. Tapi, pada dasarnya, inilah buku tentang tokoh-tokoh militer Indonesia. Lengkap dengan sikap, karakter, dan pola kepemimpinan mereka. Hampir di semua bab TB bercerita tentang pertemuannya dengan tokoh militer. Mulai Try Sutrisno sampai SBY. Masing-masing lengkap dengan gambaran gaya dan sikap kepemimpinan mereka. Semua itu menggambarkan bahwa faktor kepemimpinan sangat memengaruhi jalannya sejarah. Termasuk sejarah militer. TB, dengan keseniorannya, bercerita tentang tokoh-tokoh tersebut seperti tidak sungkan, tanpa beban dan tidak perlu menutup-nutupinya.

Sekarang ini, pada usianya yang sudah 72 tahun tapi masih gesit seperti saat berumur 60 tahun, guru segala jenderal ini diminta kembali ke medan laga. Kali ini ke arena politik kekuasaan. Tentu kali ini TB tidak bisa membawa tank kavaleri. (*)

Soal Sirkuit Pancing Pemprovsu kok Aneh

MEDAN-Polemik Sirkuit Multifungsi Pancing, yang ‘dikuasai’ pengembang, terus mengundang kontroversi dan kritikan. Arahnya adalah ketidaktegasan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), dalam mempertahankan lahan yang menjadi milik atau aset Pemprovsu. Dan itu harus diselesaikann
karena memang menjadi tugas dan wewenang dari Pemprovsu.

Anggota Komisi C DPRD Sumut, Mulkan Ritonga yang ditemui Sumut Pos di ruangan Wakil Ketua Komisi C DPRD Sumut menegaskan, apabila lahan atau sebagian lahan sirkuit itu bukan milik atau aset Pemprovsu, tidak akan mungkin pembangunannya diambil dari alokasi dana APBD Sumut.
“Kita balikkan saja, dana pembangunan sirkuit itu berasal dari dana APBD. Kalau itu bukan punya Pemprovsu, dan tidak akan dibangun begitu saja. Jadi, karena dibangun dari dana APBD, sudah pasti itu punya Pemprovsu. Pemprovsu dalam hal ini harus tegas, kok bisa pula diakui atau diklaim sama pihak lain atau swasta,” tegasnya.

Si tempat terpisah, seorang anggota Komisi E DPRD Sumut menganggap kasus sirkuit ini sebagai sesuatu yang aneh. “Sirkuit di Jalan Pancing itu, masalahnya sudah masuk ke Komisi E DPRD Sumut pada bulan lalu dan sudah ditinjau ke lapangan. Menurut Pemprovsu lahan sirkuit tersebut, sebagian memang sudah dijual sekitar 20 tahun lalu, untuk biaya penambahan pembangunan Gedung Kantor Gubsu Jalan Pancing (saat ini jadi Kantor Dinas Tarukim Sumut, Dispora Sumut dan Perkebunan Sumut, Red). Itu kata pihak Pemprovsu,” jelasnya, kemarin.

Nah, atas dasar itulah wakil rakyat ini menganggap ada sesuatu yang mencurigakan pada kasus sirkuit tersebut. “Anehnya? Mengapa di atas lahan milik orang lain, bisa dikeluarkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daera (APBD) untuk pembangunannya? Lalu, kita juga tidak tahu, bagaimana sikap pengembang yang katanya sudah memiliki surat atas tanah lahan sirkuit itu. Paling heran lagi mengapa semua komplain itu munculnya di tahun-tahun belakangan ini. Mengapa tidak dari awal? Kita mohon pihak yang terkait memberikan penjelasan sejelas-jelasnya kepada publik supaya tidak ada salah persepsi. Maka dari itu, Pemprovsu harus segera menyelesaikan masalah itu,” pungkasnya. (ari)