Home Blog Page 13870

UNPAB Gelar Porseni

MEDAN- Belakangan ini aksi geng motor di kalangan remaja, penyalahgunaan narkoba sering kita dengar. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya wadah remaja untuk menyalurkan bakat mereka.

“Saya berharap ada kegiatan positif yang bisa dilakukan institusi ataupun lembaga terutama pendidikan untuk menyediakan wadah penyaluran bakat para remaja. Karena dengan begini kita membantu anak-anak bukan hanya mencari jati diri, namun membangun jati diri mereka sendiri,” kata Dr M Rajab Lubis Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan pada acara pembukaan Porseni Gemilang Prestasi Panca Budi ke-7 Tahun 2012, Kamis (23/2).

Dikatakannya Pemko Medan sangat mendukung kegiatan Porseni Gemilang Prestasi yang digelar Yayasan Perguruan Panca Budi. Sebab, kegiatan ini dianggap mampu membawa manfaat besar bagi siswa dan mahasiswa, baik dari segi kesehatan dan peningkatan kreatifitas maupun dari segi peningkatan rasa solidaritas siswa-siswi Panca Budi.

“Melalui kegiatan ini, Wali Kota Medan berharap dapat dijadikan wadah bagi siswa untuk berprestasi dan berkreasi dan menumbuhkan jiwa sportif,” sebut Rajab.

Sementara itu, Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ketika membuka secara resmi Porseni Gemilang Prestasi tersebut, berharap Porseni ini memberikan semangat baru yang dapat memancarkan energi dasar yang mampu mengukir berbagai prestasi.

“Semangat merupakan sebuah potensi hidup yang dapat melahirkan tekad energi,” ujar Plt Gubsu diwakili Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian (Balitbang) Sumatera Utara Ir H Alwin MSi.

Masih menurut Alwin, prestasi sesungguhnya juga erat kaitannya dengan pencarian jati diri seseorang dan pemahaman hakikat hidup.
Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab) HM Isa Indrawan mengaku, Unpab telah menetapkan dirinya sebagai perguruan tinggi swasta terkemuka berbasis religius dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat.(uma)

Daftar Haji, Tunggu 8 Tahun Lagi

JAKARTA-Usulan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyetop sementara pendaftaran haji kian menghangat. Kementerian Agama (Kemenag) sudah menghitung jika usulan tersebut benar-benar dijalankan, maka moratorium atau penghentian pendaftaran haji bisa berdurasi delapan tahun. Perkiraan ini muncul karena sampai sekarang Kemenag mencatat panjang antrean haji mencapai 1,6 juta calon jamaah haji (CJH).

Ditemui usai penandatanganan MoU dengan Kejaksaan Agung di Jakarta Rabu (22/2), Sekretaris Jendral (Sekjen) Kemenag Bahrul Hayat menuturkan, masyarakat pasti bisa heboh andai keputusan moratorium ini digulirkan. Dia masih beralasan, usulan moratorium haji ini merupakan langkah mundur dalam pengelolaan haji. ‘’Masyarakat pasti nanti ada yang bertanya, kenapa saya punya niat kok tidak boleh mendaftar haji,’’ katanya. Dia khawatir moratorium haji nantinya malah melanggar hak masyarakat untuk beribadah.

Analisis sementara, ada dua alasan yang menyebabkan munculnya ide moratorium pendaftaran haji ini. Yaitu terkait panjang antrean yang tidak karuan dan potensi penyelewengan bunga simpanan dari setoran awal para jamaah. Alasan kedua yang memicu desakan moratorium adalah tata kelola duit setoran CJH. Bahrul mengatakan, setiap tahun ada audit khusus oleh BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan) untuk anggaran haji. Pada penyelenggaraan haji 2010, Kemenag mendapatkan opini disclaimer oleh BPK. Sementara audit penyelenggaraan haji 2011 belum dikeluarkan.

Bahrul mengatakan urusan penggunaan dana simpinan beserta bunga simpanannya sudah sesuai aturan. Bahkan, penggunannya juga sudah mendapatkan persetujuan DPR. ‘’Kita tidak bisa serta merta menggunakan dana itu tanpa persetujuan DPR,’’ kata dia.

Selama ini, dana hasil bunga simpanan menurut Bahrul dikembalikan lagi ke CJH. Dana hasil bunga simpanan ini digunakan diantaranya untuk mensubsidi ongkos pemondokan di tanah suci. Selain itu juga untuk menalangi biaya pembuatan paspor. Kemudian dana hasil bunga simpanan ini juga digunakan untuk biaya kesehatan dan operasional jamaah selama transit di asrama haji.

Menurut Bahrul, biaya yang ditanggung 100 persen oleh CJH adalah tiket pesawat dan sebagian kewajiban ke pemerintah Arab Saudi. Tahun lalu, setiap CJH membayar USD 100 untuk pemerintah kerajaan Arab Saudi. Sisanya sejumlah USD 177 per CJH ditalangi oleh dana hasil bunga simpanan. ‘’Intinya dana hasil simpanan itu kita kembalikan lagi untuk kepentingan jamaah,’’ kata dia.

Menag Suryadharma Ali mengatakan, kementeriannya memilih untuk menguji dulu usulan yang dilontarkan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas itu. “Ya terserah KPK punya pandangan mana yang baik. Kami uji dulu,” kata Suryadharma sebelum sidang kabinet di Kantor Presiden, kemarin. Termasuk yang akan diuji, kata dia, adalah upaya untuk menghindari penyelewenangan dana yang disetor para calon jamaah haji.
Suryadharma mencontohkan, calon jamaah haji bisa menyetor dananya pada saat mau berangkat ke tanah suci. “Barangkali ya untuk menghindari penyelewengan jangan sampai ada uang satu rupiah pun di kementerian agama. Bisa jadi ada pikiran seperti itu,” tuturnya.

Di bagian lain, Ketua MUI Bidang Fatwa Ma’ruf Amin mengatakan usulan moratorium perlu dikaji lebih mendalam. ‘’Harus dikaji maslahat dan mudhorotnya (keuntungan dan kerugian, Red),’’ katanya. Ma’ruf menjelaskan, secara kelembagaan MUI belum menentukan sikap resmi terkait usulan moratorium tad.

Sementara itu, Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim merespon positif usulan KPK untuk menggelar moratorium pendaftaran haji. Kalau dinilai moratorium bisa membuat penyelenggaraan haji lebih baik dan mengurangi korupsi, lebih baik dilakukan. “Langkah itu tidak melanggar HAM karena tidak mencabut hak untuk beragama,” ujarnya kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos) kemarin.

Menurutnya, untuk melindungi kepentingan yang lebih besar pemerintah boleh melanggar hak-hak itu. Apalagi, jika langkah antisipasif tidak dilakukan kerugian yang ditimbulkan bagi calon jamaah haji bisa lebih besar. Jamaah, lanjutnya, butuh kepastian dalam beribadah haji termasuk uang mereka bakal dikorupsi atau tidak.

Itulah mengapa kalau KPK merasa moratorium penting untuk dilakukan, ada baiknya segera dikomunikasikan. Diatur dengan detail apa saja yang perlu dilakukan dengan menggandeng instansi terkait. Ifdal juga meminta agar masyarakat mengerti kalau langkah itu memang perlu dilakukan. “Bukan mencabut hak beragama kok,” tegasnya.

Dari Medan, moratorium pendaftaran haji dianggap tak relevan oleh anggota Komisi E DPRD Sumut. Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumut ini menilai, jika kebijakan itu diberlakukan akan menimbulkan kekisruhan. Alasannya adalah menjalankan ibadah haji merupakan satu Rukun Islam yang wajib dilakukan bagi umat muslim, dengan catatan bagi yang memiliki kemampuan. “Ini kebijakan yang tidak tepat, kendati memang banyak dugaan penyelewengan yang terjadi dalam prosesi penyelenggaraan ibadah haji. Kita juga miris, bila urusan ibadah saja harus dimanipulasi atau diselewengkan. Dan oknum yang melakukan itu, harus diproses secara hukum,” tegasnya. (wan/fal/dim/jpnn/ari)

Hari ini, Konven Pendeta Ditutup

Muspida Plus Hadiri Sinode Tahunan GPIB

MEDAN-Dua hari bersidang, dimulai Selasa (21/2), konven atau pertemuan pendeta Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) ditutup hari ini. Bahan konven yang digodok selama Selasa dan Rabu, akan dibahas dalam sidang pleno di hari ketiga. Hasilnya, akan dibawa sebagai materi yang kemudian dibahas dalam Pertemuan Sinode Tahunan (PST) 2012.

Pelaksanaan PST yang juga dilaksanakan di Convention Hall Hotel Danau Toba (HDTI) di Jalan Imam Bonjol No 17 Medan, akan diharidi utusan dari 300 jemaat mandiri (gereja) yang terdiri dari pendeta dan non pendeta serta. Selain itu ada petugas dari Unit Misionari yang berfungsi sebagai badan pembantu.

Sejumlah Muspida Plus pun diharapkan hadir dalam PST yang dijadwalkan berlangsung siang hari, usai penutupan konven. Kita harapkan kehadiran Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, Pangdam I BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus, Kapolda Sumut Irjen Pol Drs Wisjnu A Sastro, Wali Kota Medan Rahudman Harahap, serta pejabat terkait lainnya.

Ketua Umum Majelis Sinode (MS) Pdt Markus Frits Manuhutu MTh yang ditemui di sela-sel konven kemarin menjelaskan, dalam konven dibicarakan masalah yang timbul dalam pelayanan dan dicarikan solusinya. Dengan demikian, pemimpinan dan jemaat diharapkan mampu membangun persekutuan jemaat yang menjadi berkat untuk masyarakat sekitarnya. “Ini kita lakukan supaya dalam pelayanan bisa lakukan yang terbaik,” sebut Pdt Markus.
Ketua MS itu mengungkapkan, GPIB yang tersebar di 25 provinsi, terdiri dari 300 jemaat mandiri (gereja) dan lebih dari 200 pos pelayanan kesaksian (Pelkes). Sekretaris Umum MS, Pdt Adriaan Pitoy STh MMin mengurai lebih lanjut beberapa materi penting dalam pertemuan tahunan di Medan tahun ini.

Pertama, kepemimpinan dari sisi teologi. Menurutnya, Setiap pemimpin mesti jadi benih dalam kepemimpinan yang dimulai dari keluarga, melebar ke masyarakat sekitar hingga bidang-bidang lainnya.

“Bagi kami (tugas, Red) sebagai pemimpin, bagaimana memberdayakan masyarakat yang dipimpinsupaya agar bisa berkontribusi untuk masyarakat,” papar Pdt Adriaan.

Kedua adalah masalah spiritualitas. Untuk mencapai kematangan dalam kepemimpinan dari sisi teologi, dibutuhkan kematangan spiritualitas. “Kami bicara spiritualitas, semangat yang menggerakkan dalam pelayanan gereja dan masyarakat. Semuanya berporos pada Yesus Kristus,” sebut pendeta yang pernah melayani di GPIB Immanuel pada 1986 hingga 1992 ini.

Selanjunya adalah soal etos kerja. “Kita lihat ada masalah dalam kepemimpinan di sekitar kita, di masyarakat Indonesia,” ujarnya lagi.
Diungkapkan unsur pemimpin GPIB itu, penceramah Yansen Sinamo dalam konven kemarin mengutip ucapan Mochtar Lubis tentang suburnya kemunafikan, sloganisme, kemalasan dan lain-lain.

Apakah dalam konven juga membahas politik? “Ya. Ini politik moral yang menekankan nilai-nilai moral yang patut dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi kita tidak bicara soal kepemimpinan nasional. Biarlah jemaat kita yang terjun ke bidang politik yang menyuarakan itu,” sebut Pdt Adriaan. (tms)

Usulan Pemerintah ke DPR RI, BBM Naik Rp1.500

Pemerintah sepertinya sulit untuk menghindari kebijakan tidak populis: menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan pun diperkirakan mencapai Rp1.500 per liternya.

JAKARTA- Hal ini diperkuat olah Menteri Energi Sumber Daya Mineral Jero Wacik yang akan bertemu dengan Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat pada Selasa (28/2) mendatang. Dalam pertemuan nanti Jero Wacik membawa opsi kenaikan harga BBM bersubsidi. “Usulan antara Rp500, Rp1.000, dan Rp1.500. Tiga angka itu yang masuk,” kata Jero Wacik di Istana Negara, Rabu (22/2).

Jero menjelaskan berdasarkan usulan masyarakat, opsi kenaikan harga BBM itulah yang paling mungkin untuk diambil dalam jangka pendek. Masyarakat saat ini sudah biasa dengan kenaikan harga BBM.

“Menurut suara-suara yang ada di masyarakat, memang opsi itulah (kenaikan harga) yang paling mungkin diambil,” kata mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ini.

Sebelumnya, dalam pengantar sidang kabinet paripurna, Presiden Susilo Bambang Yuhoyono (SBY) mengatakan, kondisi perekonomian global, termasuk melonjaknya harga minyak dunia menjadi alasan bakal naiknya harga BBM. “Harga BBM mau tidak mau tentu mesti disesuaikan dengan kenaikan yang tepat,” kata SBY dalam pengantar sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, kemarin (22/2).

SBY menjelaskan, asumsi yang ada dalam APBN 2012 perlu disesuaikan seiring dengan kecenderungan naiknya harga minyak dunia. Saat ini, harganya menyentuh USD 115 per barel. “Tidak mungkin lagi kita mematok harga USD 90 per barel,” katanya.

Penyesuaian juga dilakukan terhadap komponen pertumbuhan. SBY mengungkapkan, banyak negara sudah merevisi target pertumbuhan lebih rendah dari yang ditetapkan semula.

Pemerintah, lanjut SBY, dalam waktu dekat akan mengajukan APBN-P kepada DPR. Biasanya, pengajukan APBN-P baru dilakukan pada pertengahan tahun. “Tapi dengan perkembangan situasi dunia, ada krisis baru, ada kontigensi, pemerintah berpendapat dan akan kami ajukan untuk percepatan penetapan APBN-P,” katanya.

Begitu juga untuk menetapkan kembali asumsi yang realistis, termasuk kebijakan subsidi dan kebijakan tentang BBM dan TDL (tarif dasar listrik). Meski bakal melakukan penyesuaian, di antaranya kenaikan harga BBM, pemerintah juga akan memikirkan dampak atas kenaikan BBM dan inflasi yang terjadi, terutama bagi masyarakat miskin. Misalnya Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). “Bantuannya bisa kita pikirkan, yang dulu pernah kita lakukan atau kita modifikasi atau tambahan-tambahan baru yang itu memang tepat,” urainya.

Untuk keperluan itu, mau tidak mau anggaran dari kementerian/ lembaga harus dikurangi. Misalnya dari anggaran belanja gedung, operasional, atau pembangunan proyek. “Memang agak rumit sedikit tapi harus kita ambil karena kita memerlukan sumber untuk BLSM,” ujar SBY.
Sementara terkait dengan rencana jangka menengah dan panjang, kata SBY, hal itu akan tetap dilakukan. “Konversi dari BBM ke BBG (bahan bakar gas) terus kita lakukan,” kata SBY.

Setelah sidang kabinet, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengaku belum ada keputusan mengenai kisaran kenaikan harga BBM. Presiden baru memberikan instruksi kepada menteri terkait skenario kenaikan harga BBM. Sebab, itu tidak mungkin dilakukan dalam APBN 2012. “Apakah itu nanti dinaikkan, berapa inflasi, dan growth (pertumbuhan), itu baru dilakukan exercise,” kata Hatta.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya secepatnya membahas mengenai APBN-P. Itu sebagai respon dari perkembangan ekonomi dunia. Namun dia enggan menjelaskan bagian yang akan dipangkas. Agus hanya menyebut kombinasi antara penerimaan negara yang akan ditingkatkan, belanja yang dikurangi, dan pembiayaan dalam bentuk surat utang yang dikaji. “Kombinasi dari ketiga itu,” katanya.

Terkait dengan skema bantuan bagi masyarakat miskin, Agus mengaku memiliki beberapa alternatif. Namun lagi-lagi dia enggan memberikan bocoran. “Yang bisa saya sampaikan, ada bentuk kompensasi, ada stimulus, ada juga optimalisasi penerimaan dan pengurangan belanja,” ujar mantan dirut Bank Mandiri itu. (fal/jpnn)

SBY: Geopolitik di Timur Tengah Penyebabnya

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengkhawatirkan situasi geopolitik di Timur Tengah akan berdampak pada perekonomian nasional. Pasalnya, situasi tersebut melambungkan harga minyak dunia. Ujung-ujungnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara menanggung beban subsidi bahan bakar.

“Benturan kepentingan antara negara-negara tertentu, melibatkan Amerika Serikat, Eropa, dan Iran dengan berbagai aksi politik, sanksi, dan embargo mengakibatkan harga minyak mentah naik sangat cepat dalam beberapa minggu ini,” kata SBY, kemarin.

SBY menjelaskan, dalam dua bulan terakhir, perkembangan perekonomian global penuh dengan ketidakpastian. Krisis ekonomi Eropa belum dapat diatasi sepenuhnya, lalu muncul geopolitik baru di Timur Tengah. Apalagi, Amerika Serikat juga telah memberikan sanksi kepada Iran. “Inilah salah satu titik didih yang mengakibatkan sentimen sedemikan negatifnya sehingga harga minyak naik,” katanya.

Dari Iran, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ramin Mehmanparast, mengancam akan terus menghentikan ekspor minyak ke negara-negara Uni Eropa. Namun, Iran berjanji akan membuka kembali keran ekspor jika negara-negara UE memberi jaminan. Jaminan tersebut berupa pembayaran harga dan menandatangani kontrak pembelian minyak jangka menengah dan panjang.

“Mereka (anggota Uni Eropa) juga harus menandatangani kontrak menengah atau jangka panjang yang mencakup periode tiga sampai lima tahun untuk mengimpor minyak Iran dan melarang pembatalan sepihak kontrak mereka,” katanya, seperti dikutip Press Tv.

Ia menambahkan,  keputusan Uni Eropa untuk melarang impor minyak Iran tidak logis dan bertentangan dengan kepentingan bersama Iran dan Uni Eropa. “Tampaknya negara-negara Eropa telah dipaksa untuk membuat pilihan dibawah tekanan politik dari AS dan rezim Zionis Israel,”katanya.
Sebelumnya, menteri luar negeri Uni Eropa melarang impor minyak Iran dalam pertemuan pada bulan Januari.  Iran juga tak segan memangkas ekspor minyak ke enam negara Eropa, yakni Belanda, Spanyol, Italia, Perancis, Yunani, dan Portugal.

Menteri Energi dan Perminyakan Iran, Rostam Qasemi juga mengancam  kemungkinan penghentian penjualan minyak ke negara Eropa. Qasemi menegaskan bahwa sanksi antiminyak Iran akan merugikan negara Eropa karena Teheran memiliki pembeli lain yang cukup banyak. (bbs)

Daftar Haji, Tunggu 8 Tahun Lagi

JAKARTA-Usulan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyetop sementara pendaftaran haji kian menghangat. Kementerian Agama (Kemenag) sudah menghitung jika usulan tersebut benar-benar dijalankan, maka moratorium atau penghentian pendaftaran haji bisa berdurasi delapan tahun. Perkiraan ini muncul karena sampai sekarang Kemenag mencatat panjang antrean haji mencapai 1,6 juta calon jamaah haji (CJH).

Ditemui usai penandatanganan MoU dengan Kejaksaan Agung di Jakarta Rabu (22/2), Sekretaris Jendral (Sekjen) Kemenag Bahrul Hayat menuturkan, masyarakat pasti bisa heboh andai keputusan moratorium ini digulirkan. Dia masih beralasan, usulan moratorium haji ini merupakan langkah mundur dalam pengelolaan haji. ‘’Masyarakat pasti nanti ada yang bertanya, kenapa saya punya niat kok tidak boleh mendaftar haji,’’ katanya. Dia khawatir moratorium haji nantinya malah melanggar hak masyarakat untuk beribadah.

Analisis sementara, ada dua alasan yang menyebabkan munculnya ide moratorium pendaftaran haji ini. Yaitu terkait panjang antrean yang tidak karuan dan potensi penyelewengan bunga simpanan dari setoran awal para jamaah. Alasan kedua yang memicu desakan moratorium adalah tata kelola duit setoran CJH. Bahrul mengatakan, setiap tahun ada audit khusus oleh BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan) untuk anggaran haji. Pada penyelenggaraan haji 2010, Kemenag mendapatkan opini disclaimer oleh BPK. Sementara audit penyelenggaraan haji 2011 belum dikeluarkan.

Bahrul mengatakan urusan penggunaan dana simpinan beserta bunga simpanannya sudah sesuai aturan. Bahkan, penggunannya juga sudah mendapatkan persetujuan DPR. ‘’Kita tidak bisa serta merta menggunakan dana itu tanpa persetujuan DPR,’’ kata dia.

Selama ini, dana hasil bunga simpanan menurut Bahrul dikembalikan lagi ke CJH. Dana hasil bunga simpanan ini digunakan diantaranya untuk mensubsidi ongkos pemondokan di tanah suci. Selain itu juga untuk menalangi biaya pembuatan paspor. Kemudian dana hasil bunga simpanan ini juga digunakan untuk biaya kesehatan dan operasional jamaah selama transit di asrama haji.

Menurut Bahrul, biaya yang ditanggung 100 persen oleh CJH adalah tiket pesawat dan sebagian kewajiban ke pemerintah Arab Saudi. Tahun lalu, setiap CJH membayar USD 100 untuk pemerintah kerajaan Arab Saudi. Sisanya sejumlah USD 177 per CJH ditalangi oleh dana hasil bunga simpanan. ‘’Intinya dana hasil simpanan itu kita kembalikan lagi untuk kepentingan jamaah,’’ kata dia.

Menag Suryadharma Ali mengatakan, kementeriannya memilih untuk menguji dulu usulan yang dilontarkan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas itu. “Ya terserah KPK punya pandangan mana yang baik. Kami uji dulu,” kata Suryadharma sebelum sidang kabinet di Kantor Presiden, kemarin. Termasuk yang akan diuji, kata dia, adalah upaya untuk menghindari penyelewenangan dana yang disetor para calon jamaah haji.
Suryadharma mencontohkan, calon jamaah haji bisa menyetor dananya pada saat mau berangkat ke tanah suci. “Barangkali ya untuk menghindari penyelewengan jangan sampai ada uang satu rupiah pun di kementerian agama. Bisa jadi ada pikiran seperti itu,” tuturnya.

Di bagian lain, Ketua MUI Bidang Fatwa Ma’ruf Amin mengatakan usulan moratorium perlu dikaji lebih mendalam. ‘’Harus dikaji maslahat dan mudhorotnya (keuntungan dan kerugian, Red),’’ katanya. Ma’ruf menjelaskan, secara kelembagaan MUI belum menentukan sikap resmi terkait usulan moratorium tad.

Sementara itu, Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim merespon positif usulan KPK untuk menggelar moratorium pendaftaran haji. Kalau dinilai moratorium bisa membuat penyelenggaraan haji lebih baik dan mengurangi korupsi, lebih baik dilakukan. “Langkah itu tidak melanggar HAM karena tidak mencabut hak untuk beragama,” ujarnya kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos) kemarin.

Menurutnya, untuk melindungi kepentingan yang lebih besar pemerintah boleh melanggar hak-hak itu. Apalagi, jika langkah antisipasif tidak dilakukan kerugian yang ditimbulkan bagi calon jamaah haji bisa lebih besar. Jamaah, lanjutnya, butuh kepastian dalam beribadah haji termasuk uang mereka bakal dikorupsi atau tidak.

Itulah mengapa kalau KPK merasa moratorium penting untuk dilakukan, ada baiknya segera dikomunikasikan. Diatur dengan detail apa saja yang perlu dilakukan dengan menggandeng instansi terkait. Ifdal juga meminta agar masyarakat mengerti kalau langkah itu memang perlu dilakukan. “Bukan mencabut hak beragama kok,” tegasnya.

Dari Medan, moratorium pendaftaran haji dianggap tak relevan oleh anggota Komisi E DPRD Sumut. Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumut ini menilai, jika kebijakan itu diberlakukan akan menimbulkan kekisruhan. Alasannya adalah menjalankan ibadah haji merupakan satu Rukun Islam yang wajib dilakukan bagi umat muslim, dengan catatan bagi yang memiliki kemampuan. “Ini kebijakan yang tidak tepat, kendati memang banyak dugaan penyelewengan yang terjadi dalam prosesi penyelenggaraan ibadah haji. Kita juga miris, bila urusan ibadah saja harus dimanipulasi atau diselewengkan. Dan oknum yang melakukan itu, harus diproses secara hukum,” tegasnya. (wan/fal/dim/jpnn/ari)

Jangan Takut Intervensi Mantan Kajatisu

Dugaan Korupsi Dishub Medan Rp24 M

MEDAN-Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) kembali mengumbar janji soal komitmen pengusutan dugaan korupsi retribusi parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Medan 2010-2011 sebesar Rp24 miliar. Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Yani, meminta Kejatisu tidak takut diintervensi siapapun, termasuk anggota DPR RI atau mantan Kajatisu.

Kepada wartawan koran ini, kemarin (22/2), Kasi Penkum Kejatisu, Marcos Simaremare mengatakan, dugaan korupsi Dishub Medan merupakan salah satu prioritas Kejatisu untuk dituntaskan hingga ke pengadilan. “Pokoknya harus sampai ke pengadilan,” tegasnya.

Dia mengatakan, dugaan korupsi Dishub Medan merupakan kasus besar. Ini bisa dilihat dari besarnya uang rakyat yang diduga ditelap dalam kasus ini. Karena kasus itu merupakan kasus besar, Kejatisu tidak akan menghentikan kasus itu di tengah jalan. Penegasan Simaremare ini merupakan jawaban atas informasi yang berkembang bahwa kasus ini bakal dihentikan Kejatisu karena intervensi mantan Kajatisu yang masih memiliki pertalian darah dengan Kadishub Medan, Syarif Armansyah Lubis.

Informasi itu beredar sejak akhir pekan lalu saat gelar perkara kasus itu ditunda Kejatisu. Pada saat yang bersamaan mantan petinggi Kejatisu itu memang sedang berada di Medan untuk mengunjungi beberapa daerah di Sumut. “Tidak ada itu intervensi. Kita masih melakukan penyelidikan. Kita berusaha maksimal untuk mengungkap kasus itu,” tegasnya.

Jadi kapan gelar perkara kasus Dishub Medan dilakukan? Marcos tidak langsung menjawab pertanyaan itu. “Tim kita sudah bekerja. Bahkan beberapa pejabat dinas itu sudah diperiksa sebagai saksi. Maka untuk penelusurannya kita membutuhkan pengecekan lapangan. Rencana gelar perkara (ekspos, Red) yang akan kita lakukan, kemarin memang batal. Namun pasti akan kita gelar untuk mencari dan memutuskan soal kelanjutan penyelidikan hingga menjadi penyidikan,” tegasnya.

Sementara itu, sebelumnya anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Yani, kepada wartawan koran ini mengatakan, Kejatisu jangan takut diintervensi oleh siapapun, termasuk oleh anggota DPR RI atau pejabat dari pusat untuk menghentikan kasus yang sedang ditangani. “Saya kira Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, harus berjalan melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus korupsi yang saat ini tengah ditangani.Apalagi ada dugaan intervensi yang dilakukan oleh anggota dewan (DPR RI, Red) itu yang mencoba menyelamatkan keluarganya dari jeratan hukum. Karena anggota dewan tidak dibolehkan untuk melakukan intervensi dalam penegakan hukum, apalagi dalam perkara korupsi,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan Yani, kalau Kejatisu takut dan mengaminkan akan permintaan pemberhentian penyelidikan kasus korupsi atas permintaa anggota dewan itu, maka wibawa dan marwah kejaksaan akan terus terkangkangi. “Kejatisu tidak perlu takut dalam mengungkap kasus korupsi soal retribusi parkir seperti yang disangkakan. Silahkan saja laporkan anggota dewan yang mencoba melakukan intervensi dalam penanganan kasus korupsi. Saya kira tidak ada kepentingan anggota dewan dalam melakukan intervensi. Sedangkan pejabar negara lainnya saja bisa masuk penjara, tanpa ada yang bisa melakukan intervensi, apalagi menyangkut penanganan korupsi di Sumatera Utara,” tegas A Yani.

Untuk itu, sambungnya, bukan hanya Kejaksaan saja yang bertanggungjawab dalam pemberantasan korupsi, komponen masyarakat juga bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja kejaksaan dalam melakukan pengusutan korupsi.”Masyarakat harus ikut memantau kasus perkembangan dugaan korupsi Dishub Medan, apakah dilanjutkan atau tidak. Karena ini menyangkut anggaran milik masayarakat dan negara. Jadi tidak perlu takut akan intervensi anggota DPR RI yang mencoba meminta pemberhentian perkara kasus retribusi parkir di Kota Medan,” tegas fungsionaris DPP PPP ini.

Dalam hal ini, sambung Yani, Kejatisu harus tegas dalam melakukan pengusutam kasus ini. Kalau Kejatisu mencoba menghentikan perkara tersebut, maka Kejatisu sendiri yang akan tersandung. “Apalagi yang mencoba melakukan intervensi itu mantan Kajatisu. Dalam hal urusan menyangkut penyelidikan korupsi, DPR-RI tidak bisa melakukan intervensi. Anggota dewan saja banyak yang tersandung kasus hukum. Untuk itu Kejatisu jangan coba-coba hentikan penyelidikan kasus korupsi yang saat ini tengah ditangani,” tandasnya. (rud)

Hipnotis Lin

Oleh: Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

SAAT ini nama Jeremy Lin benar-benar mendunia. Itu karena sosok pemuda berdarah Taiwan itu mampu menghipnotis lewat bakatnya yang aduhai di arena NBA (kompetisi bola basket professional di Amerika).

Dampak dari apa yang dilakukannya itu, keluarga Lin di Taiwan menjelma menjadi public figure, termasuk sang nenek yang masih  berstatus sebagai warga negara Taiwan.

Betapa kita, anak bangsa ini pantas cemburu mendapati fakta yang sedemikian. Pasalnya, ketika seorang pemuda bernama Jeremy Lin telah membulatkan tekadnya untuk berkecimpung di olahraga, yang konon katanya milik bangsa Amerika, Lin justru membuktikan jika ungkapan itu hanya sebuah propaganda untuk terus mengakui kehebatan bangsa Amerika. Syukurnya, Lin telah membuktikan jika dirinya atau pemain dari bangsa lain pun bisa juga menjadi yang terbaik di sana.

Membandingkan apa yang dilakukan Lin dengan para pemuda di Kota Medan, rasanya sungguh tidak adil, karena jelas ini merupakan dua buah kubah dengan kultur dan tingkat popularitas yang berbeda. Namun setidaknya kita berharap agar kisah sukses Lin di Amerika bisa menginspirasi para pemuda di sini.

Jika Lin bekerja dengan hati demi menggapai apa yang diinginkannya, sementara sebagian kelompok pemuda dengan dalih mencari jati diri terus melakukan berbagai aksi kerusuhan yang merugikan dan membahayakan orang lain.

Ya, geng motor… meski komunitas ini tak sebesar kumunitas pemuda  yang gemar berolahraga (atlet) ataupun komunitas lainnya, namun sepak terjang mereka justru telah meredam popularitas dan berbagai kegiatan positif dari komunitas lainnya.

Sebuah popularitas yang diraih dengan cara yang kebablasan tadi ironisnya justru membuat kelompok ini kian tumbuh dan berkembang kian pesat.
Jumlah anggota yang tak lagi sedikit, dengan gampangnya merubah  rasa takut menjadi sebuah keberanian tanpa batas. Tak peduli wanita atau pria, atau malah orang-orang setua bapak atau kakek mereka pun kerap menjadi korban keganasan geng motor tadi.

Kalau sudah begini, siapakah yang pantas dipersalahkan? Jadi teringat ungkapan seorang teman yang dengan entengnya berkata, bagaimana pemuda bisa bagus, jika pemimpinnya pun tak bagus. Ups….

Ya, kini beragam kasus milik para pemimpin di negeri ini mulai terungkap ke permukaan. Dari mulai kasus korupsi, pelecehan seksual hingga penyalahgunaan narkoba.

Begitupun, tetap ada harapan jika kelak para pemuda kita tak mencontoh sikap para pemimpin yang sontoloyo, sehingga mampu menjadi  simbol kebesaran Kota Medan, sebagaimana Lin yang telah menjadi maskot bagi bangsa Taiwan.

Ingat, sifat masyarakat kota Medan yang pekerja keras, cinta keluarga dan sederhana, nyaris tak berbeda bangsa Taiwan, tempat nenek moyang Jeremy Lin berada. Artinya, jika Lin bisa melakukan sesuatu yang hebat, maka para pemuda kita pun pasti bisa. Yakin. (*)

Istri AKBP Apriyanto: Biar Tuhan yang Balas…

Terkait Wadir Narkoba Poldasu Tersangkut Kasus Narkoba

MEDAN-Pencopotan AKBP Apriyanto Basuki Rahmat dari jabatannya sebagai Wakil Direktur (Wadir) Narkoba Poldasu menuai banyak tanya. Pasalnya, Apriyanto tersangkut masalah narkoba, sesuatu yang memang harus diberantasnya.

Kasus ini tak pelak membuat Rinawandini (40), istri Apriyanto, buka mulut. Menurut Rina, suaminya Apriyanto malam itu hendak menukar mata uang Bath (mata uang Thailand) untuk dirupiahkan sebanyak Rp10 juta. Bahkan, suaminya itu sempat meminta tolong kepada Jhonson Jingga (bos D’Core Paramount)  untuk menukarkan uangnya.

“Suami saya permisi sama saya mau menukar uang Bath. Karena suami saya mau ke Bangkok mewakili BNN dalam acara seminar narkoba. Jadi suami saya meminta tolong Jhonson Jingga,” kata Rina – panggilan Rinawandini – dalam jumpa pers di kantor pengacara Marudut Simanjuntak, di Jalan Mangkubumi Medan pada  Rabu (22/2) sore.

Rina pu mengaku, suaminya memang mengenal Agustina. “Suami saya banyak kenalan. Jadi, suami saya jam 21.00 WIB keluar rumah dan pulang dari D’cure Paramount pukul 23.30 WIB,” kata Rina.

Rina mengaku heran,  kenapa penggerebakan itu dikaitkan dengan suaminya. Pasalnya, penggerebekan itu terjadi setelah suaminya pulang. “Kan aneh, suami saya dibilang memesan pil Happy Five sama Jhonson melalui si Ade. Lalu, saat dirazia polisi ada menemukan pil itu dari Jhonson. Kenapa suami saya dilibat-libatkan,” kata Rina.

Karena ada yang tidak beres dalam kasus yang menimpa suaminya, Rina meminta kepada Kepala Kepolisian Daerah (Kapoldasu) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro agar menegakkan keadilan, dan suaminya AKBP Apriyanto terbebas dari fitnah.

Tak hanya itu, Rina sangat menyesali tuduhan terhadap suaminya. “Biarlah Tuhan yang membalasnya. Yang saya sangat sesali, tuduhan penyalahgunaan narkoba dan perselingkuhan. Itu fitnah,” ujar Rina.

Sementara itu, Dir Narkoba Poldasu Kombes Pol Andjar Dewanto yang ditemui Sumut Pos di kantornya mengatakan, Apriyanto memang saat penggerebekan sedang tidak berada di lokasi. “Wadir memang sudah pulang dengan teman wanitanya bernama Wina,” terang Andjar, kemarin.
Ditanyakan apakah AKBP Apriyanto tidak mengetahui bakal ada razia, Andjar membantah. “Wadir Narkoba tahu memang ada razia di tempat itu, sekaligus dengan lokasi razianya.Tapi, ya saya tidak tahu apa kepentingannya datang ke sana,” kata Andjar.

Terkait pemeriksaan, Andjar menerangkan kalau Apriyanto membantah kalau dia menerima dan memesan pil Happy five dari tersangka Ade Hendrawan. Namun, dirinya mengakui memang benar sedang berada di tempat tersebut sebelum dilaksanakan razia.

“Intinya, kasus ini masih dalam proses penyidikan, kita akan tetap dalami, sesuai dengan kronologis yang sudah saya sampaikan kemarin,” terang Andjar.
Andjar menambahkan, bahwa pemeriksaan terhadap Aprianto ini statusnya masih sebagai saksi. Sedangkan terkait pencopotan jabatan AKBP Aprianto sebagai Wadir Narkoba, Andjar mengatakan hal itu adalah pemindahanan jabatan yang sifatnya masih sementara.

“Ini untuk mempermudah  melakukan penyidikan. Soalnya yang akan memeriksa  anggotanya, biar tak ada rasa sungkan dan agar penyidikan ini lancar, makanya sementara waktu beliau dicopot dari jabatanya,” kata Andjar.

Sementara itu, kasus yang menyeret nama Apriyanto menjadi perhatian Ketua Komisi A DPRD Sumut, Isma Fadly Ardhya Pulungan. “Citra polisi, sangat bergantung pada prilakunya. Ini menjadi tugas berat Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, untuk membangun loyalitas dan polisi yang bersih terhadap segala tindak kriminal termasuk narkoba,” tegasnya.

Untuk membuktikan itu, lanjut Politisi dari Partai Golkar ini, sebaiknya dilakukan sebuah tes untuk membuktikan kebenaran hal itu, serta membuktikan benar atau tidanya personel polisi di Sumut ini bersih dari namanya narkoba.

“Saya pikir, diperlukan tes urine, jadi tahu siapa pemakai, pecandu atau mungkin penjual. Bagaimana polisi mau memberantas narkoba, kalau di tubuh kepolisian sendiri masih ada yang seperti itu,” tambahnya lagi.

Ade Baru Dua Kali Bertemu Apriyanto

Kemarin, Sumut Pos berhasil menjumpai Ade Hendrawan (29) , sang kapten di D’Core Paramount Di Jalan Merak Jingga, Medan. Ade berada di dalam sel tahanan Narkoba Poldasu yang ada di gedung Direktorat Reser Narkoba Polda Sumut.

Ade saat ditemui memakai baju kaos merah dan celana ponggol. Dari keterangannya, ia mengaku baru dua kali bertemu dengan sang wadir. Pertemuan pertama saat ia dikenalkan dengan AKBP Apriyanto. Dalam perkenalan pertama, Ade hanya sebatas mengetahui nama, jabatan dan tugas. Ini seperti kewajiban terhadap para manejer dan kapten di setiap hiburan malam.

Jadi, kata Ade, pada malam petaka itu, saat mengetahui kedatangan sang Wadir Narkoba, ia langsung menyambutnya, yang saat itu diakui Ade datang bersama seorang wanita bernama Sri.

Selang beberapa menit duduk, Ade mengatakan ia dipanggil Apriyanto untuk meminta Happy Five kepada sang manejer. “Dia nyuruh aku minta sama Jhonson manejerku Happy Five. Aku jumpai manejerku dan memberitahukan permintaan Wadir. Trus aku dikasih satu papan. Dan langsung kukasih dengan wadir yang saat itu duduk bersama seorang wanita,” cerita Ade dari balik jeruji besi.

Setelah memberikan pil yang dilarang oleh hukum di Indonesia, Ade mengaku, karena jam kerjanya habis ia langsung pulang ke rumahnya. “Saya hanya mengantarkan, kenapa saya diginikan,” kata Ade yang akan terus berjuang dengan nasibnya melawan ketidakadilan hukum terhadap dirinya. (mag-5/ari)

Citra Scholastika: Kuliah? Nanti Dulu

Jalur sukses tengah ditapaki musisi jazz belia ini. Namun, Citra tetap mawas diri. Ia tak ingin Ujian Akhir Sekolah (UAS) nya berantakan.
“Aku SMA kelas 3. Citra lagi fokus ke sekolah dulu. Sampai nanti benar-benar lulus baru fokus ke nyanyi,” ujarnya.

Kalaupun ia masih bisa membagi waktu, itu lebih karena berbagai kemudahan dan fasilitas. Sesuatu hal yang selalu ia syukuri. “Kebetulan aku home schooling. Jadi aku bisa bantu semuanya Citra juga punya tim yang promo,” bebernya.

Namun sayangnya, finalis Indonesian Idol 2010 itu memilih menunda kuliah setelah lulus sekolah nanti. Ia masih menimbang beratnya tuntutan kuliah sambil dikejar karir.

“Sepertinya pending dulu, karena Citra lagi ada kesempatan untuk karir. Karena Citra melihat peluang itu ada. Tapi, ya Citra masih mau kursus, Inggris, public speaking dan lain-lain,” terangnya.

Setelah sukses dengan Everybody Knew, Citra kembali hadir dengan single Pasti Bisa. Citra pun baru saja merampungkan syuting video klip itu di Jogjakarta. “Ingin mengangkat budaya Jogjakarta. Kebetulan Citra juga orang Jogjakarta. Jadi biar lebih warna-warni,” katanya.

Citra bersama timnya mengambil beberapa lokasi populer di Jogjakarta seperti Malioboro, Taman Sari, Keraton dan Alun-alun Kidul. Ia juga sempat mengunjungi salah satu candi yang terletak di sebelah timur kota Jogjakarta. “Aku ke Merapi, terus ke salah satu candi yang jarang terekspose namanya Candi Ijo,” ucapnya.

Di Jogjakarta, Citra tidak hanya syuting video klip Pasti Bisa saja. Penyanyi kelahiran 1993 ini juga menjalani syuting untuk single ketiga judulnya 3G (Galau Galau Galau).

“Capek sih, bolak-balik Jakarta-Jogyakarta. Tapi, capeknya seru. Bisa berkolaborasi sama musisi lain terutama yang lebih senior,” pungkasnya. (ins/rm/jpnn)