Home Blog Page 13894

Demo Anti FPI Ricuh, Enam Orang Ditangkap

JAKARTA- Demo menolak kekerasan sekaligus menuntut pembubaran Front Pembela Islam (FPI) berakhir antiklimaks. Acara justru berlangsung ricuh, tegang dan kacau. Rupanya, ada enam orang yang diduga sebagai provokator yang menyusup.

“Ini masih diperiksa penyidik, jadi status mereka belum ditentukan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto pada koran ini tadi malam pukul 21.30 WIB. Enam orang itu dibawa dari Bundaran Hotel Indonesia menggunakan mobil tahanan yang sudah disiapkan.

Aksi semula berlangsung damai, diikuti sekitar 60 orang dan dikawal sekitar 250 personel gabungan kepolisian Daerah Metro Jaya. Massa menamakan diri Koalisi Rakyat Indonesia Tanpa FPI. “Kami menolak kekerasannya bukan nama FPI-nya,” kata sutradara Hanung Bramantyo yang juga ikut aksi.
Tampak pula Ulil Absar Abdalla, Guntur Romli, Nong Darul Mahmada dari Jaringan Islam Liberal. Lalu, ada Anis Hidayah dari Migrant Care. Nia Dinata, Jajang C Noer dan beberapa komunitas seni.

Saat Anis Hidayah sedang orasi, tiba-tiba ada seseorang yang merebut spanduk yang dibawa massa. Sontak, terjadi baku pukul dan keributan. Polisi tampak kewalahan mengamankan karena berebutan dengan kameramen dan fotografer yang mengabadikan kericuhan. “Mundur semua, mundur semua,” teriak polisi berupaya menghalau massa yang hendak menghakimi dua orang yang jatuh.

Setelah enam orang dibawa pergi, massa sempat melanjutkan aksi selama sekitar satu jam. Mereka lantas bubar karena ada pemberitahuan dari polisi bahwa FPI akan datang. Rupanya, info ini palsu. “Kami kecewa karena polisi tidak profesional. Mereka seolah-olah takut pada FPI,” kata Nong Mahmada dari JIL.

Desakan pembubaran FPI bermula dari penolakan ratusan massa dari adat Dayak di Kalteng. Mereka mengepung pesawat Sriwijaya Air yang membawa empat delegasi Front Pembela Islam (FPI) saat mendarat di Bandara Cilik Riwu, Palangkaraya, Kalimatan Tengah. Peristiwa tersebut terjadi, Sabtu (11/2).
Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab sudah melaporkan secara resmi kasus ini ke Bareskrim. Rizieq mendesak Kapolda Kalteng dicopot karena terlibat dalam pengerahan massa mengepung pesawat.

Namun, tampaknya tuntutan FPI itu akan kandas. Mabes Polri memastikan tidak akan ada mutasi apapun terkait peristiwa itu. “Kalau laporan kita hormati. Tapi, harus proporsional melihat akar masalahnya,” kata Kadivhumas Polri Irjen Saud Usman Nasution kemarin.
Mantan Kadensus 88 itu menyebut Kapolda Kalteng sudah bertindak cepat dengan melakukan antisipasi bersama pemerintah daerah setempat. “Kami menghimbau sekarang pihak-pihak terkait mohon cooling down. Jangan sampai isu ini dikembangkan dan ujungnya nanti menjurus ke kasus sara,” katanya.

Sementara Mendagri Gamawan Fauzi memberikan sinyal bakal mengeluarkan teguran keras ke FPI. Teguran ini terkait aksi anarkis yang dilakukan massa FPI terhadap gedung Kemendagri pada 12 Januari 2012 lalu. Jika teguran ini keluar, maka merupakan teguran kedua ke FPI. Teguran pertama dikeluarkan tatkala terjadi aksi anarkis massa FPI di Monas, 1 Juni 2008 silam.

Sesuai ketentuan di Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985, sebuah ormas dibekukan setelah mendapat teguran ketiga masih juga melanggar aturan. Setelah dibekukan, selanjutnya bisa dibubarkan.

Mendagri Gamawan Fauzi sendiri belum bisa melupakan aksi anarkis massa FPI saat unjuk rasa menolak evaluasi sembilan Perda Miras 12 Januari 2012. Sejumlah kaca gedung Kemendagri hancur karena aksi anarkis itu.

“Saya juga merasakan. Kaca-kaca ini belum diganti semua,” ujar Gamawan Fauzi kepada wartawan di ruang kerja Kapuspen Kemendagri Reydonnyzar Moenek, Selasa (14/2). Seperti diketahui, ruang kerja Kapuspen juga hancur akibat aksi anarkis FPI.
Gamawan menjelaskan, saat ini pihaknya sedang melakukan kajian dan evaluasi terhadap aksi FPI itu. “Keputusan itu dalam minggu ini mungkin kita ambil,” kata Gamawan.(sam/rdl/jpnn)

Food is The Weapon

Oleh: Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Orang Barat berkata: food is the weapon. Makanan adalah senjata. Orang Batak bilang: tajom piso, untajoman do pe siubeon. Maknanya, perilaku orang lapar bisa lebih tajam dari pisau.

Kisah berikut ini bisa menggambarkan kedua istilah di atas dengan cukup tepat. Pada zaman Raja-Raja sebelum Masehi, tersebutlah Kota Samaria yaitu ibukota Kerajaan Utara, dikepung bangsa Siria di bawah kepemimpinan Raja Benhadad. Pengepungan berlangsung kira-kira 9 bulan. Tujuannya, melumpuhkan Kota Samaria.

Maka terjadilah kelaparan hebat di Samaria selama pengepungan, sehingga sebuah kepala keledai berharga 80 syikal (912 gram) perak dan seperempat kab (kira-kira setengah liter) tahi merpati berharga 5 syikal (57 gram) perak.

Akibat kelaparan hebat itu, dua orang ibu tidak tahan lagi menanggung perih di lambung dan diam-diam bersepakat memasak anak mereka untuk dimakan bergiliran. Hari kesatu, anak ibu pertama dimasak dan lantas mereka makan bersama. Hari kedua, si ibu pertama meminta ibu kedua memberikan anaknya untuk dimakan. Namun si ibu kedua ternyata tidak sudi dan memilih menyembunyikan anaknya. Terang saja ibu pertama marah karena merasa ditipu hingga kasusnya bergulir ke raja.

Seandainya saja kala itu tentara Benhadad tidak kabur meninggalkan perkemahan karena mengira telah mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, dan bunyi tentara berjumlah besar yang datang menyerang mereka, niscayalah Kota Samaria kalah karena kekurangan pangan.

Apa arti kisah itu buat kita? Nah, makanan utama mayoritas orang Indonesia adalah nasi. Tingkat konsumsi beras/nasi per kapita masyarakat Indonesia per tahun mencapai 120 kg. Konsumsi beras masyarakat Sumut lebih tinggi lagi, mencapai 139 kg per kapita per tahun. Angka ini termasuk tinggi. Bandingkan dengan konsumsi beras/nasi orang Malaysia yang di bawah 100 kilogram per tahun.

Tingkat konsumsi beras di Sumut ini cenderung meningkat. Beberapa tahun lalu hanya sekitar 125 kg per kapita per tahun. Berarti kenaikannya mencapai 10 kg per kapita. Bayangkan!

Sementara, ketersediaan beras di Sumut mulai mengkhawatirkan. Dengan kondisi seringnya anomali cuaca dan banyaknya alih fungsi lahan, jumlah produksi beras sangat fluktuatif, bahkan menurun secara bertahap.

Tak hanya Sumut, produksi padi secara nasional pun menurun. Tahun lalu mengalami penurunan 1 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri, pemerintah masih mengimpor beras dari negara tetangga.

Tak perlu menunggu ada tentara luar mengepung negara ini untuk terjadinya kerawanan pangan di tanah air. Seandanya negara tetangga tak mampu atau menolak mengekspor berasnya ke negeri kita, bayangkan saja ancaman pangan yang bakal kita hadapi.

Nah, untuk mengurangi ketergantungan pada beras/nasi ini, pemerintah pun bercita-cita menurunkan tingkat konsumsi beras kita menjadi paling tidak 100 kg per kapita per tahun. Cita-cita itu ditindaklanjuti berbagai daerah dengan berbagai konsep.

Pemko Depok misalnya, memberlakukan program “one day no rice’. Satu hari tanpa nasi. Sementara Badan Ketahanan Pangan Sumut mengampanyekan konsep manggadong. Apa itu manggadong? Manggadong adalah tradisi lama etnis Tapanuli mengonsumsi ubi (biasanya ubi jalar) sebagai makanan pembuka, sebelum menikmati nasi. Dengan manggadong, konsumsi nasi tak lagi terlalu banyak.

Dulu konsep manggadong ini dikenal luas oleh masyarakat Tapanuli. Sayang, seiring dengan meningkatnya kesejahteraan penduduk, ditambah selama ini ubi terposisi sebagai makanan orang miskin, manggadong perlahan dilupakan. Padahal dari sisi asupan, kandungan gizi ubi mampu menggantikan zat yang dibutuhkan tubuh dari nasi. Jika dalam sesuap nasi terkandung 150 karbohidrat, maka ubi mengandung 100 karbohidrat dalam takaran yang sama.
Namun ada yang perlu diperhatikan. Istilah manggadong terdengar agak jadul. Bisa-bisa anak muda ogah melakoninya karena terkesan tak modern. Untuk itu, istilah yang lebih menarik perlu diciptakan. Seperti pilihan Pemko Depok yang terdengar keren. One day no rice.

Kemasan manggadong juga perlu dipermanis, agar jangan terkesan sekadar makan ubi rebus/goreng seperti zaman dahulu. Di sini, ubinya bisa dijadikan kolak, bolu ubi, dan sebagainya. Pengganti nasi juga tak melulu hanya ubi. Bisa talas, jagung, labu, kentang, tahu, dan komoditi lainnya yang tersedia di sekitar kita. Karena itu, namanya tak mesti manggadong.

Jika konsep ini diterima dan dipraktikkan oleh khayalak luas, bisa menurunkan konsumsi beras minimal 1,5 persen per tahun. Dengan demikian, posisi beras sebagai the weapon yang bisa mengguncang ketahanan ekonomi kita saat ini, bertahap bisa dikurangi. Dan kita tidak lagi terpenjara oleh beras. (*)

Daftar Capres di Kantong SBY, Megawati Tetap Santai

JAKARTA- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku mengantongi 26 nama yang selama ini disebut-sebut sebagai calon presiden (capres). Namun Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri cuek saja menanggapinya.
“Untuk bursa capres,  kenapa harus sampai timbul reaksi?    Katanya demokrasi, siapa saja boleh,” kata Megawati dalam jumpa pers usai memberikan arahan kepada anggota Fraksi PDIP di DPR RI, Selasa (14/2).

Menurutnya, siapapun berhak diusung menjadi capres asalkan memenuhi syarat sebagaimana diatur konstitusi dan aturan lainnya. “Mau 100 nama silahkan. Itu dinamika yang wajar,” sambungnya.

Presiden RI kelima itu justru mengingatkan perlunya aturan main yang benar-benar adil dalam penyelenggaraan Pemilu dan Pilpres. Karenanya, Megawati menginstruksikan kadernya di DPR untuk bisa membuat formulasi tentang UU Pemilu yang benar-benar mengedepankan asas jujur dan adil.
Sementara menyinggung wacana yang dilontarkan tentang calon pemimpin mendatang adalah tokoh yang lahir di era 1960-an, putri Proklamator itu tetap memasang syarat.  “Saya bilang lihat dulu. Generasi muda yang akan menerima regenerasi, jangan terus berpikir harus dia. Tapi harus betul-betul melihat abad 21, harus tahu bagaimana cara mengelola Indonesia yang besar,” ucapnya.

Hanya saja Megawati tak menampik bahwa keputusan akhir ada di tangan pemilih. “Apakah pemilih terpesona dengan permainan uang” Kita tahu ada money politics di masa lalu. Saya sendiri inginkan itu dieliminir sehingga pemilu demokratis,” pungkasnya.(ara/jpnn)

Cuci Uang Nazaruddin Ditelusuri Sampai ke Anas

JAKARTA- Setelah menetapkan Muhammad Nazaruddin sebagai tersangka kasus pencucian uang lantaran telah membeli saham Garuda Indonesia, KPK kini terus berupaya mengembangkan kasus tersebut hingga menyentuh semua pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut. Bahkan KPK juga akan menelusuri kemungkinan pencucian uang yang dilakukan Nazaruddin di BUMN lainnya.

Juru bicara KPK Johan Budi mengakui, pihaknya sangat berhati-hati dalam menindaklanjuti kasus pencucian uang Nazaruddin. Pasalnya, KPK baru sekali ini menjerat seseorang dengan pasal pencucian uang. “Saat ini kami masih fokus menuntaskan untuk tersangka Nazaruddin dulu,” kata Johan.
Meski begitu, Johan menegaskan, apabila memang nanti di dalam perkembangan kasus ini pihanya menemukan bukti-bukti baru, maka tidak menutup kemungkinan bahwa KPK akan menetapkan tersangka baru. Apalagi, berdasarkan perkembangan di persidangan, uang yang digunakan Nazaruddin untuk membeli saham perusahaan pelat merah itu berdasarkan dari keuntungan proyek-proyek Permai Grup.

Apalagi nama Anas Urbaningrum juga tercatat di akte PT Anugerah Nusantara yang merupakan salah satu cikal bakal Permai Grup. “Tergantung apakah ada dua alat bukti permulaan yang cukup. Jika nantinya KPK menemukan ada dua alat bukti, pasti akan kami tindak,” kata dia.

Memang meski bukan seorang penyelenggara negara, Anas juga bisa tersangkut apabila dia sebagai pengendali Permai Grup juga ikut andil dalam pembelian itu. Sebab dalam pasal 4 UU No 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) tertuang, pengurus atau kuasa pengurus korporasi bisa ditindak apabila memang terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang. Pengurus korporasi dibatasi sepanjang mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur korporasi. (kuh/dyn/fal)

ATM BCA RSU Latersia Binjai Dibobol

Pelaku Lari ke Arah Medan

BINJAI-Enam kawanan pemuda bersenpi beraksi di Kota Binjai. Kali ini, kawanan pemuda itu membobol ATM BCA di Rumah Sakit Umum (RSU) Latersia, Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Binjai Timur, Selasa (14/2) sekitar pukul 02.15 dini hari. Tak banyak kerugian BCA, namun pelaku yang lari ke arah Medan menggunakan senjata api (senpi) dalam aksinya.

Dalam kejadian itu, seorang satpam yakni Yan Aminullah Harahap (46), warga Km 18,5, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Sumberkarya, Kecamatan Binjai Timur, roboh setelah kepalanya dipukul menggunakan helm dan senpi sebanyak tiga kali. Sementara temannya, Dodi Syahputra (21) warga Jalan dr Wahidin, Gang Pacul, Kelurahan Sumber Mulyorejo, Kecamatan Binjai Timur, tidak dapat melawan setelah mendapat ancaman tembak dari kawanan pemuda tersebut.

Akibat terkena pukulan senjata api, Yan Aminullah terpaksa dirawat di RSU Latersia tempat ia bekerja. Sementara, Dodi yang sempat mendapat pukulan di bagian perutnya, juga ikut dirawat guna menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurut keterangan Yan Aminullah, kejadian itu berawal saat ia menjaga di pos satpam tepat di parkiran RSU Latersia. Sekitar pukul 02.15 WIB, dari arah Kota Binjai datang enam pemuda menggunakan sepeda motor bebek, berhenti tepat di depan pintu gerbang RSU Latersia.

“Begitu enam pemuda itu berhenti, dua di antara enam pemuda tersebut turun dan menghampiri saya. Sebelum mereka sampai ke pos, saya terlebih dahulu mendatanginya. Sehingga, terjadilah tanya jawab. Awalnya, mereka hanya meminta untuk menumpang istirahat. Namanya orang ingin menumpang, ya saya silahkan saja,” terang Yan Aminullah.

Namun kata Yan Aminullah, satu orang dari dua pemuda yang masuk ke halam RSU Latersia itu, mendekatinya dan mengeluarkan sebuah senpi. “Begitu pemuda tersebut mengeluarkan senpi, saya langsung memegang tangannya. Hal itu saya lakukan, agar dia tidak menembak saya. Sehingga, terjadilah perkelahian dan akhirnya seorang temannya yang lain memukul kepala korban menggunakan helm. Karena sudah mendapat pukulan, akhirnya saya langung roboh dan tidak dapat melawan,” ujar Yan sembari merintih kesakitan. “Usai melakukan aksi, mereka  melarikan diri ke arah Medan,” tambahnya.

Roy H Sitorus, pihak G4S (perusahaan penyedia jasa keamanan) yang turun ke lokasi mengatakan, uang yang hilang dari ATM itu diperkirakan hanya Rp1 juta sampai Rp 2 juta. “Sebab, pelaku tidak berhasil mengambil kasetnya. Memang, tidak semudah itu mengambil kaset ATM ini. Dari cara kerjanya, saya menduga pelaku belum profesional,” terang Roy H Sitorus.

Sementara itu, Kapolres Binjai, AKBP Musa Tampubolon, melalui Kanit Reskrim Polsek Binjai Timur, Ipda Rudi, saat berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP), mengatakan, dalam melakukan aksinya, pelaku memakai modos untuk beristirahat. “Namun, dari hasil penyelidikan terakhir, para pelaku tidak berhasil membawaa uang, dengan kata lain, pelaku hanya merusak mesin ATM dan pulang dengan tangan kosong,” ujar Ipda Rudi. (dan)
Lebih jauh dikatakan Ipda Rudi, untuk saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih jauh, guna mencari tahu siapa kawanan pemuda bersenpi tersebut. “Kita akan periksa kedua satpam. Dari keterangan keduanya, kita akan tindak lanjuti guna mencari siapa kawanan pemuda itu, serta mencari tahu kemana pelariannya,” ujar Ipda Rudi. (dan)

Pasca Rusuh di Rutan Idi, Seorang Napi Tewas

ACEH TIMUR- Insiden kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Idi Rayeuk, Aceh Timur, Senin (13/2) siang, akhirnya mengambil korban jiwa. Seorang napi tewas setelah lehernya sobek, terkena benda tajam. Namun belum diketahui, luka tersebut akibat pisau atau pecahan kaca dalam kerusuhan itu.
Korban meninggal yakni Hasyim (55), asal Peunaron, usai menjalani perawatan intensif lebih kurang 14 jam di RSUD Idi Aceh Timur. Sementara Iskandar asal Matang Geulumpang Dua Bireun, telah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Langsa.

“Hasyim tewas pada Selasa (14/2) pagi pukul 05.30 WIB setelah menjalani perawatan selama 14 jam. Sedangkan Iskandar mengalami luka di lengan telah dirujuk ke RSUD Langsa, atas anjuran dokter bedah RSUD Idi,” ujar dr Edi Gunawan Direktur RSUD Idi.
Terkait kejadian tersebut, Kepala Rutan Idi Amiruddin SH saat dihubungi Metro Aceh (grup Sumut Pos), mengatakan, kedua korban kerusuhan tersebut tengah menjalani hukuman terkait kasus narkoba.

“Hasyim terpidana hukuman 9 tahun dan sudah menjalani selama 7 bulan. Kalau Iskandar yang sekarang masih dirawat terpidana 7 tahun dan sudah menjalani hukuman selama 2 tahun,” jelas Amiruddin.

Saat ditanyai siapa yang melakukan penusukan benda tajam terhadap Hasyim, dia mengaku tak melihat, karena sedang berada di dalam ruangan. Amiruddin juga menjelaskan, saat ini kondisi rutan sudah mulai aman.

Tewasnya seorang napi akibat kerusuhan yang terjadi Senin (13/2) lalu, dibenarkan Kapolres Aceh Timur AKBP Iwan Eka Putra SIK. “Kasus tersebut masih dalam penyelidikan,” ujar AKBP Iwan Eka Putra SIK. (yas/smg)

TKI Diberi Sisa Makanan Anjing

JAKARTA- Nasib tragis kembali menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Seorang TKI asal Malang, Siti Aminah (29), mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya. Siti dipaksa bekerja tanpa istirahat, bahkan diberi sisa makanan anjing.
“Sita tidak boleh keluar, tidak boleh berkomunikasi, tidur hanya tiga jam. Sehari-hari dikasih makan makanan sisa anjing,” ujar Elly Anita yang mendampingi keluarga Siti, Selasa (14/2).

Menurut Elly, Siti berangkat ke Malaysia pada Oktober 2011 melalui jasa Atie. Sejak itu keluarga sudah tidak bisa menghubungi Siti. Atie yang coba dihubungi tak pernah membalas SMS dan telpon keluarga Siti.

Sekitar Januari 2012, mulai ada titik terang mengenai kondisi Siti. Dari tempatnya bekerja kata Elly, Siti menulis surat yang secara kebetulan ditemukan oleh pekerja asal Indonesia. Selanjutnya surat itu discan dan dikirim ke email Alex ong. Alex aktif di Migrant Care Malaysia dan cukup dikenal oleh para pekerja Indonesia.

Mendapat informasi itu, lanjut Elly, Alex melapor ke Migrant Care di Indonesia. Akhirnya ditemukan keluarga Siti di Malang, Jawa Timur.(net/jpnn)

Hari ini, Gelar Perkara Kasus Biro Umum Pemprovsu

MEDAN-Penyidik Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Tipikor Direskrimsus) Poldasu akhirnya merampungkan penyelidikan dugaan korupsi anggaran rutin di Biro Umum Pemprovsu 2011 sebesar Rp25 miliar. Untuk meningkatkan status kasus tersebut, hari ini Rabu (15/2), penyidik akan melakukan gelar perkara.

Demikian disampaikan Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Raden Heru Prakoso, Senin (13/2) di Mapoldasu. Heru menjelaskan selama penyelidikan pihaknya telah memeriksa 16 pejabat Pemprovsu, termasuk Bendahara Biro Umum, Aminuddin. Hasil gelar perkarana, lanjutnya, akan menjadi penentu apakah kasus itu dinaikkan statusnya ke penyidikan atau tidak.

“Gelar perkara nantinya hanya dilakukan secara internal. Dalam gelar perkara nantinya, seluruh penyidik yang menangani kasus ini memaparkan hasil lidik mereka. Kalau hasilnya rangkum dan ada petunjuk mengarah ke praktik korupsi, proses kasus ini akan naik ke tahap sidik untuk menetapkan siapa yang bertanggung jawab atau tersangka atas kasus ini,” ujarnya.

Saat ditanya ada informasi penyidik telah mengantongi nama calon tersangka, Heru mengaku tidak tahu dan meminta wartawan koran ini menunggu hasil gelar perkara.

Seorang sumber di Poldasu kepada wartawan koran ini mengatakan, setelah dilakukan penyelidikan di pekan pertama, penyidik telah menargetkan siapa calon tersangkanya.

“Tidak perlu cepat-cepat memanggilnya, dia sudah jelas pasti masuk. Dia yang terakhir-terakhir saja kita panggil. Saat ini bawahannya dulu,” kata petugas seorang penyidik. Calon tersangka tersebut, tambah sumber itu, selalu mengulur-ulur waktu saat dipanggil penyidik.
Berita sebelumnya, Kepala Biro Umum Pemprovsu, Hj Nurlela mengakui, dirinya telah diperiksa dalam dua kasus tersebut, baik oleh penyidik Pidsus Kejatisu maupun oleh penyidik Tipikor Poldasu. “Ya, memang sudah dipanggil. Di Kejatisu soal dana bansos yang Rp460 miliar tahun 2010 dan 2011. Kalau di Polda soal dugaan korupsi anggaran rutin 2011 di Biro Umum Pemprovsu,” akunya.

Nurlela mengatakan, pemeriksaan dirinya di Kejatisu dan Tipikor Poldasu hanya sebagai saksi. Materi pemeriksaan sama sekali tak berhubungan dengan dirinya, tapi soal dua mantan pejabat Kepala Biro Umum sebelum dirinya, yakni Razali S Sos (sekarang Kepala Dishub Sumut, Red) dan Ashari. “Kalau saya kan tidak mengetahui itu. (Kasus) itu dengan kepala biro yang lama. Waktu itu, saya ditanya tahu nggak soal kasus dugaan korupsi itu. Jadi saya jawab, saya tidak tahu,” ungkapnya.

Nurlela membenarkan, khusus kasus dugaan korupsi di Biro Umum Pemprovsu yang ditangani di Polda Sumut, arahnya adalah kepada sosok Aminuddin, Bendahara di Biro Umum Pemprovsu. “Iya, waktu memberikan keterangan itu, katanya si Amin sebagai kuncinya,” akunya.
Sedangkan untuk kasus dana Bansos yang ditangani Kejatisu, Nurlela juga membenarkan beberapa pejabat telah diperiksa. Antara lain mantan Kepala Badan Perlengkapan dan Aset, Bondaharo Siregar, Kepala Biro Binsos Shakira Zhandi dan beberapa pejabat lainnya. “Iya, ada beberapa juga yang diperiksa,” ungkapnya.

Diketahui, kasus di Biro Umum Provsu yang ditangani Tipikor Polda Sumut terkait dugaan korupsi anggaran rutin pada APBD 2011. Dugaan korupsi anggaran rutin 2011 di Biro Umum Pemprovsu antara lain, diduga untuk menutupi biaya papan bunga, uang kain, katering di rumah makan, tiket pesawat dan tunjangan tambahan penghasilan (TPP) pegawai di Pemprovsu yang telah lama tertunggak. Akumulasi anggaran yang diduga diselewengkan sekitar Rp25 miliar.

Selain itu, ada juga sinyalemen penggelapan pajak yang tidak disetorkan dari Biro Umum serta pembayaran ke pihak ketiga yang tidak dilakukan, namun uangnya telah digunakan untuk kegiatan yang tak sesuai peruntukkan. Selain tak sesuai peruntukkan, penggunaan anggaran itu juga diduga digelembungkan. (mag-5/ari)

Klambir Lima Juara Turnamen FKPSBSU

LUBUKPAKAM- SSB Klambir Lima Putra berhasil keluar sebagai juara Turnamen Piala Forum Komunikasi Pelatih Sepak Bola Sumatera Utara (FKPSBSU) Seri VI di Lapangan SSB Supra Pasifik, Lubukpakam Minggu (12/2).

SSB besutan Edi Aminoto itu di partai final berhasil menaklukkan SSB Rajawali dengan skor tipis 1-0.

Sementara peringkat ketiga berhasil diraih SSB Kompas setelah di partai final berhasil menundukkan SSB Dispora Binjai lewat adu penalti 2-1.
Gol Klambir Lima Putra  tercipta lewat  Reza Yori Falepi  dengan nomor punggung 35. Permainan berimbang yang ditunjukkan kedua tim begitu terbilang sengit dan alot. Sebab, stamina kedua kesebelasan sudah berkurang dikarenakan pertandingan forum pelatih ini dipertandingan seharian penuh.
Meski demikian, permainan apik serta serangan bertubi-tubi tetap dilancarkan kedua tim. Tapi tak satupun gol yang tercipta di babak pertama.
Kemudian di babak kedua permainan berubah drastis. Dimana, Klambir Lima Putra mendominasi jalannya laga. Alhasil, kebuntuan tim akhirnya terpecahkan oleh kapten Klambir Lima Reza Yori  Falepi yang berhasil mencetak gol.

Sontak, pengurus SSB Klambir Lima Putra menyambut kemenangan tersebut.
“Saya bangga dengan hasil yang didapat para pemain hingga mencapai puncak kesuksesan yang begitu fantastik,” ungkap Rusli Manager SSB Klambir Lima. (mag-10)

Jaga Konsistensi

MEDAN- Setelah PSMS ditangani pelatih Suharto AD pasca hengkangnya Raja Isa, memang belum menunjukkan statistik prestasi yang cukup memuaskan. Praktis, Suharto baru menukangi PSMS dua kali dengan hasil masing-masing satu kali menang dan kalah.

Dari hasil ini Suharto juga mengaku hal tersebut belum bisa menjadi kebanggaan. Dalam perjalanan hingga paruh musim, sampai ada pelatih kepala yang menangani PSMS secara penuh, Suharto bermaksud menargetkan skuad berjuluk Ayam Kinantan ini menang dalam setiap partai kandang di Stadion Teladan.

“Targetnya menang 100 persen di kandang dan curi poin minimal satu tiap partai tandang. Hasil melawan PSAP Sigli memang sangat disayangkan, kita belum beruntung di sana,” ungkapnya, Selasa (14/2).

Konsistensi skuad untuk tetap bertanding maksimal merupakan satu hal yang perlu dipupuk pada diri masing-masing pemain. “Karena itu kita juga akan mendoktrin pemain agar tetap bisa meraih poin penuh di kandang. Tentunya dengan menyiapkan skuad yang padu di setiap lini mejadi awal kesuksesan,” ujar pelatih berkepala plontos ini.

Untuk menjaganya, menurut Suharto, ia akan menerapkan prinsip ‘Tak ada lawan yang tak berat.’ “Prinsip ini bertujuan membentuk mental pemain agar selau siap dalam menghadapi pertandingan. Meski melawan tim yang posisinya jauh di bawah kita, bukan berarti kita harus menyepelekan. Ini yang harus kita hindarkan dari pemikiran pemain,” tuturnya.

“Dengan prinsip ini pula, diharapkan pemain terus memperlihatkan performa maksimalnya. Karena bertanding untuk melawan tim berat dibutuhkan keseriusan dan konsentrasi serta fokus hingga 90 menit berakhir,” tegasnya.

Pada Selasa (14/2) sore, skuad sudah dilatih untuk mempersiapkan laga kontra Persiram Raja Ampat yang bakal dihelat di Stadion Teladan 16 Februari mendatang. “Pemain sudah kita latih taktikal teknik. Kita juga sudah evaluasi kekurangan kita saat melawan PSAP, yakni lini belakang yang rapuh serta finishing touch yang kurang maksimal. Kita harap hal itu tak terjadi lagi saat meladeni Persiram,” tandas Suharto.(saz)